Someone who sent the letter
Maolvi Syahdi R.
Disclaimer : kishimoto Masashi
Genre : romance
"matilah.. !" teriak Sakura.
Aku menutup mata menhan rasa takut yang telah memenuhi dada ini. Perasaan yang baru pertama kali kurasakan. Perasaan menatap kematian yang ada di depan mata. Perasaan dimana kematianku yang berada di depan mataku sendiri dibawa oleh sahabat dari orang yang kucintai.
JLEB!
Aku membuka mata. Aku bertaya – Tanya. 'aku hidup ?'. beberapa menit kemudian aku mlihat setetes darah merah menggenangi tanganku. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari tahu asal darah itu. Stelah berhasil sepenuhnya mendongakkan kpaa, aku melihat sebuah pemandangan yang ngerikan dan menyedihkan.
Mata lavenderku membulat dengan menyakitkan ini pernah kurasakan sebelumnya. Pemandangan menyakitkan ini adalah pemandangan dimana aku melihat Naruto yang sedang melingdungiku dari maut dengan mengorbankandirinya sendiri.
Aku bias meihat degan jelas darah merah yang menghiasi mulut Naruto. Tetesan air mata menggenangi pipiku. Aku melihat Naruto yang tersenyum sabil menahan kesakitan ini. Disaat edang terpaku memandangi Naruto,tiba – tiba saja aku mendengar suara teriakkan hiteris. Suara itu berasal dari Sakur yang sedang menusukkan kunai.
"tidak !"triak Sakura.
Sakura membaringkan tubuh Naruto yang sebelumnya berada di atas tubuhku. Setelah berhasil membaringkan Naruto, ia mengeluarkan sebuah suntikkan. Kurasa itu adalah sebuah antidote. Mungkin Sakura melumuri kunai itu dengan sbuah racun berbaaya yang ia racik sendiri.
"Naruto, kumohon jangan mati. Bertahanlah" ucap Sakura dengan tetesan air mata yang mulai menggenangi pipinya.
Ia mendekatkan telinganya kedada bidang yang Naruto miliki. Beberapa detik setelah itu, mata hijaunya membulat sempurna. Ia kembali menggunakkan medical ninjutsu. Aku bias melihat dengan jelas bahwa Sakura sdang berjuangsekeras mungkin agar Naruto bertahan hidup.
"Naruto, kumohon bertahanlah!" teriak Sakura. Sambilmenangis dan semakin memperbanyak penggunaan medical ninjutsu.
Disaat Sakura sedang berusaha keras membuat Naruto bertahan hidup, tiba-tiba saja, Naruto mengenggam tangan Sakura. Sakura menolehkan wajahnya kea rah Naruto dengan tangisan yang masih menghiasi wajah cantiknya.
Naruto menggelengkan kepalanya.
"ti..ti..tidak apa Sakura" ucapnya sembari menahan sakit.
"Naruto bertahanlah" ucap Sakura sambil kembali mengaktifkan medical ninjutsunya.
"Sakura,dengarkanlah kata – kata terakhirku" ucap Naruto
"tidak!" ucap Sakura, erusaha membantah keras fakta bahwa Naruto akan mati.
"sepertinya selama ini aku selalu membuatmu merasa sakithati, maafkan aku. Aku selalu mengira bahwa Sakura lebih ingin bersama Sasuke, karena itu kamu tidak memedulikan perasaanku, karena itu aku berusaha agar aku bias melupkan rasa cintaku padamu agar aku bias bahagia walau ka uterus bersama Sasuke…" Naruto terbatuk
"sudah, jangan banyak bicara, biarkan aku mengobatimu"ucap Sakura dengan tangisannya.
"aku berhasil melupakan rasa cinta itu dan perlahan, aku mulai jatuh cinta pada Hinata. Dan selama itu aku tidak tau bahwa kau ternyata menyukaiku. Maafkan aku, karena aku, kau menjadi kejam seperti ini, karena aku kau selalu menangis. Maafkan aku" ucap Naruto sambil tersenyum.
Setelah berhasil mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan pada Sakura, ia berusaha keras menolehkan wajahnya ke arahku. Setelah berhasil melihatku, ia tersenyum padaku, aku pun mulai menangis.
"aku berharap aku isa terus membahgiakanmu seperti hari itu, dimana kita bersama ditengah kencan yang kurencanakan…" Naruto kembali terbatuk
"Hinata, maafkan aku, karena aku, kau berada di ambang kematian seperti tadi. Mungkin ini adalah yang terbaik bagiku, mati melindungimu… Hinata, aku selalu ingin bersamamu , karena hal itu senang rasanya bias melihatmu diakhir hayatku" ucap Naruto.
Setelah berhasil mengucapkan apa yang ingin ia katakan, Naruto tersenyum dan menutup mata untuk selam- lamanya.
Malam itu, ditengah hutan yang lebat dan mengerikan, bersama sahabat dari orang yang kucintai . aku memandangi kematian Naruto. Salah satuorang yangslalu menjadi pemotivasiku , penyelamatku.
.
.
Pagi ini, aku berdiri tegak di hadapan makam Naruto. Aku mengingat seluruh kenanganku bersamanya, dimulai dari saat aku melihatnya berlatih keras di tengah hutan, hingga aku mendengar kata – kata terakhir yang ia ucapkan untukku.
tanpa kusadari air mataku kini telah membasahi pipiku. Aku mengusapnya.
"naruto, kau memang telah membawaku kedalam suatu keadaan dimana aku akan mati. Tetapi aku telah membawamu kepada kematianmu, yang seharusnya meminta maaf adalah aku, Naruto. Karena itu, kumohon maafkanlah aku. Kuharap, di dunia sana kamu akan bahagia"
Airmataku kembali membasahi pipiku. Dan aku pun mngerakkan tanganku mengusap mataku. Dan disaat mengusap mataku, tiba- tiba saja aku mendengar suara.
"kau ini memang wanita lemah"
Aku menolehkan wajahku kearah suara itu berasal. Dan mendapati Sakura yang sedang berdiri tegak sembari membawa seikat bunga.
"Sakura" celetukku.
Sakura melangkahkan kaknya menuju smakam Naruto yang terletak dibelakangku. Setelah itu ia menaruh bunga yang sebelumnya ia bawa. Dan setelah itu ia bangkit.
"Hinata, aku ingin mengatakan suatu hal padamu" ucap Sakura
"katakan" ucapku
"akan lebih baik apabila kita tidak berbicara didepan makam Naruto"
Tanpa mengucapkan sepatah katapu, aku langsung menjauh dari makam Narutodan Sakurapun menyusul.
.
.
Kini aku dan Sakura berdir di bawah monument Hokage.
"Hinata, kau pernah mendapatkan surat tak bernama dengan mawar merah yang menghiasi amplopnyakan?" ucap Sakura
"bagaimana kau bias tau ?"
"aku melihat pengirimnya saat sedang mengantarkan surat." Ucap Sakura
Mata Lavenderku membulat dengan sepurna.
"siapa yang mengirim surat itu ?" Tanyaku penasaran.
"Shino"
Aku terdiam.
"kau mlukai hatinya dengan dekat dengan Naruto. Apakah kau tau bagaimana rasanya menjadi Shino. Cinta yang bertepuk sebelah tangan" ucap Sakura.
Sekali lagi aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku menyakiti orang lain selain Sakura. Dan ditambah lagi orang itu adalah teman satu timku sendiri.
-the end-
