Link of Us
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 10
Warning : Gaje, ooc, alur kecepatan, misstypo, Sinetron haha ,dll
Don't read if you don't like this pair!
.
.
"Tou-sama... ini.. siapa?" seorang lelaki dengan mata hitamnya menunjuk ke sebuah foto yang terletak di atas meja. Ia pandangi baik-baik foto-foto yang bertebaran di atas meja dan tertarik dengan salah satunya. Lelaki berumur 6 tahun itu kini menyunggingkan senyumnya kala melihat baik-baik foto yang Ia ambil di tangannya.
"Ah.. dia? Namanya Hyuuga Hinata. Kenapa, Sasuke?"
"Dia cantik." Lelaki itu tetap memandang foto di tangannya. Ia lihat baik-baik wajah gadis kecil yang tampaknya sebaya dengan dirinya itu lekat. "Kenapa Tou-sama memiliki fotonya?"
"Karena.. Dia salah satu pewaris Hyuuga. Dia— salah satu anak yang akan kita culik sebagai tawanan besok." Sang Ayah tersenyum simpul dan mengusap kepala anak lelakinya.
"K-kenapa?"
"Hm? Tentu saja untuk tebusan. Kau tahu pekerjaanku, 'kan? Sasuke."
"J-Jangan! Kenapa harus anak ini? Dia masih seumuran denganku, 'kan? Kenapa Tou—"
"Sasuke." tiba-tiba seorang lelaki berwajah mirip dengan Sasuke datang. Beda dengan adiknya, sang Kakak yang satu ini terlihat masam saat datang dan menghampiri adiknya. "Masuk ke kamar sekarang. Kau mengganggu pekerjaannya."
"Tu—Nii-san!" Sasuke yang tiba-tiba di panggul oleh Kakakknya itu segera memberontak. "Nii-san! Kenapa kau menolongnya? Kenapa kau membiarkan Tou-sama berbuat seperti itu?!"
"Karena—Kita ini 'Uchiha'." Sang kakak yang kini berjalan menuju kamar adiknya segera melempar tubuh adiknya ke lantai setelah sampai tujuan. "Kalau kau tidak mau mengikuti peraturan keluarga ini, keluar dari sini."
"Nii-san.. Kita ini— sebenarnya 'siapa'?"
"Bukan siapa-siapa. Hanya saja.. kau perlu tahu ini, Sasuke. Kita berada di bawah lingkaran kegelapan. Dan kau salah satunya."
.
.
"Kabur?! Semua tawanannya kabur?!" Sasuke yang mendengar berita tersebut segera tertawa senang. Ia lalu segera menuju jendela kamarnya dan melihat sang Ayah dan kakaknya berbicara berdua. Ia lalu segera menoleh ke arah pelayan pribadi-nya. "Ne, kau sungguh-sungguh? Benar-benar tidak ada satupun yang tersisa 'kan?"
"Betul, tuan muda."
"Hmm—" Sasuke tersenyum senang. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba datanglah Kakak semata wayangnya dan berdiri di hadapannya. "N-nii-san?"
"Pergilah dari sini, Sasuke."
"Nii-san? Kenapa? Aku mematuhi peraturan selama ini. Kenapa aku harus per—"
"Pelankan suaramu." Sang Kakak segera menutup mulut adiknya dan menatapnya tajam. "Tou-sama mulai kehilangan akal. Tampaknya berita keluarga kita terdengar dari tawanan yang lepas."
"L-lalu?"
"Mereka akan mengincar keluarga ini cepat atau lambat. Mungkin malam ini, Uchiha bisa jadi tak tersisa."
"Eh? Kenapa? Tapi, tawanannya bebas, bukan?! Itachi-niisan!"
"Dendam tidak bisa terhapus begitu saja. Pergi dari sini sekarang juga. Lewatlah halaman belakang, dan pergi ke alamat ini. Dia temanku." Itachi menyerahkan sebuah kertas dan melipatnya. Dengan segera Ia memasukkannya ke dalam kantung celana Sasuke. "Kau harus hidup."
.
.
.
"Hah..hah..haa.." Sasuke yang sedari tadi berlari kini memberhentikkan langkahnya saat melihat jalanan yang sudah berlumuran darah. Jalanan itu sepi. Hanya saja bagian pinggir jalan penuh dengan lumuran darahnya dan seorang anak kecil berambut pirang yang juga tak sadarkan diri beberapa kaki darinya. "A-apa-apaan ini?"
Sasuke lalu kembali berlari. Ia takut dengan pemandangan yang dilihatnya tadi. Belum 20 langkah, tiba-tiba kakinya terhenti saat melihat seorang wanita yang juga berlumuran darah dan gadis kecil di semak-semak. Keduanya tak sadarkan diri. Jika saja Sasuke tak melihat wajah gadis kecil itu, sudah pasti Sasuke juga akan ikut kabur saat itu. Tapi sudah takdir, Sasuke melihatnya. Ia lalu langsung membandingkan wajahnya dengan foto yang pernah Ia lihat.
"Hyuuga Hinata." bisik Sasuke. Ia lalu mendekat dan menyadari luka parah di kaki sang Hyuuga. Dengan tergesa-gesa Sasuke mengambil saputangan di kantung sakunya dan mengikatkannya di luka gadis kecil itu. "A-anu.."
Sang gadis kecil tak menjawab. Tampaknya Ia sudah sangat lemah hingga tak dapat sadarkan diri dengan panggilan Sasuke.
"Ma-ma...ukh."
.
.
"Sasuke! Lagi-lagi kau melamun?"
"Naruto.. Sedang apa kau disini?" Sasuke menatap sahabatnya itu sedikit kesal. Ia memang sengaja datang ke kafe untuk menghindari gangguan temannya seperti yang satu ini.
"Karena aku tahu kau ada disini." Naruto tertawa kecil dan melihat Sasuke serius. "Hei, kau tahu? Gaara menikah."
"Hah? April mop?" tanya Sasuke bercanda.
"Serius! Aku dengar langsung dari Temari!" Naruto lalu menunjukkan sms dari Temari yang membuktikkan kebenarannya. "Kalau tidak salah, nama pasangannya itu Hyuuga Hinata."
Sasuke segera terdiam. Ia bukannya kaget mendengar Gaara benar-benar menikah. Yang Ia kagetkan adalah fakta bahwa gadis itu ternyata masih bisa hidup. Padahal baru saja rencana menjatuhkan Hyuuga berhasil. Ia baru saja bermain dengan Hyuuga yang akhirnya bangkrut besar berkat dirinya. Padahal baru saja Ia mengirim lamaran ke Hyuuga Hinata. Tampaknya ia kalah cepat dengan sahabatnya yang satu itu.
"O,ya? Kalau begitu, aku akan dengan senang hati bertemu dengan mereka. Suatu saat."
.
.
.
.
"Kenapa kau berusaha menyakiti Hinata?!" Sakura yang sudah muak dengan rencana Sasuke kini mulai meledak. Ia lalu berdiri dari duduknya dan menatap Sasuke tajam. "Apa masalahmu dengan Hinata? Kenapa kau membuat dia bangkrut? Kenapa kau mencoba melukai dia? Kenapa?!"
"...'kenapa'? Aku juga tidak tahu."
"Kau bahkan memanfaatkan aku. Kau sudah puas, Sasuke-kun?!"
"Hyuuga Hinata. Dia—" Sasuke lalu mulai diam. Ia tampak kosong kali itu. Pandangan matanya kosong. Tampak tak ada kehidupan yang terefleksikan di matanya.
"Sasuke—"
.
.
.
.
.
"Kau mau menemuinya?! Sekarang?" Naruto yang mendengar perkataan Gaara beberapa detik sebelumnya segera berdiri dan menatapnya tajam. "Hoi, kau tidak main-main?"
"Kalau kau tidak mau ikut, segera pulang dan makan ramenmu." Gaara mendorong tubuh Naruto yang mendekat ke arahnya dan segera menuju pintu. "Kalian— tidak ingin tahu perasaan Sasuke sebenarnya?"
Mendengar pertanyaan Gaara yang kelam segera membuat semuanya ingat. Sasuke sama dengan Gaara. Ia tak menyalurkan kata-katanya dengan baik.
"Gaara, aku akan ikut." Shikamaru lalu mengambil jaket mantelnya dan segera keluar kafe diikuti Gaara. Dengan segera semua di dalam kafe ikut keluar. Shikamaru yang kala itu membawa motornya langsung memakai helm hitamnya dan menyerahkan helm lainnya ke arah Temari. "Cepatlah naik. Aku yakin jika kau naik bersama Gaara saat ini, jantungmu bisa melayang."
"A-apa maksudmu?!" Temari malu-malu mengambil helm di tangan Shikamaru dan memakainya. Dengan segera Ia menaiki motor Shikamaru. Motor RX keluaran terbaru memang, tapi yang membuat Temari sedikit malu adalah, motor ini memiliki desain yang membuat penumpang belakang mau tak mau harus memegang sang pengendara karena tak ada pegangan lain.
"Shikamaru, antar dia pulang. Hinata mungkin akan mencarinya saat terbangun." Ujar Gaara saat membuka kaca mobilnya. Ia lihat jam sudah menunjukkan pukul 2 malam.
"Tenang saja, aku akan ikut. Hinata sudah kuberitahu saat aku juga ikut kesini." balas Temari pelan.
"...Baiklah." Gaara lalu menutup kaca mobilnya lagi dan mulai memegang setirnya.
"Apa lebih baik aku bersamanya?" gumam Temari khawatir.
"Kau lebih baik bersama Shikamaru, Temari. Kau belum lihat, ya? Gaara selalu membawa mobilnya seperti orang gila kalau emosi." Naruto yang juga membawa mobil segera memasukinya bersama Sakura yang juga menghindari menjadi penumpang mobil Gaara.
"Lebih baik aku tidak pernah melihatnya kalau begitu." Jawab Temari yang langsung disambut dengan deruan gas mobil Gaara yang segera melesat kencang meninggalkan mereka semua tanpa basa-basi. Temari yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa membuka matanya lebar tak percaya dengan apa yang Ia lihat. "Kenapa Ia tak pernah di tangkap polisi!?"
"...Kau tahu, dia selalu tertangkap. Berterimakasihlah padaku." Naruto tersenyum pasrah dan ikut menjalankan mobilnya.
"Sasuke, kau belum tidur?" Tanya seorang lelaki berambut merah yang terbangun karena suara berisik dari dapur. Dilihatnya Sasuke sedang membuat kopi dengan perlahan walau tampaknya percuma karena sang penghuni rumah lainnya ikut terbangun. "Kau masih insomnia?"
"...Nagato-san. Maaf, aku membangunkanmu." Sasuke menatap lelaki yang merawatnya itu tak enak hati. "Aku tidak mengantuk."
"Sebaiknya kurangi kopi-mu. Kau bisa mati jika menahan diri untuk tetap terjaga seperti itu." Nagato tersenyum tipis dan kembali menuju kamarnya. "Itachi bisa memarahiku jika tahu kau begini."
"Biar saja. Itachi sendiri tidak berniat kembali." tukas Sasuke sedikit kesal. Ia memang mendengar bahwa sejak kasus 17 tahun lalu itu, nama Itachi Uchiha sering muncul ditelinganya. Sayangnya, sang kakak sudah tak berada di Negara-nya. Ia memilih menghilangkan jejaknya begitupun terhadap adik semata wayangnya.
Sasuke lalu meminum kopi yang sudah menghangat dan menatap jendela luar. Ia lihat dengan seksama dan segera berdiri menyadari pintu rumahnya berbunyi. "Tamu? Jam segini?"
Dengan kesal, Sasuke segera beranjak menuju pintu depan dan melihat kawanannya sudah berdiri disana. Bukannya kaget, Sasuke sudah mengira hari ini akan datang juga. Ia sudah mempersiapkan mentalnya untuk hal ini. Dengan hitungan detik, Sasuke membuka pintu gerbangnya dan menatap Gaara yang berada di hadapannya tajam.
"Kenapa wajahmu? Menyeramkan." Sasuke tersenyum sinis dan menatap Sakura yang berada di belakang Gaara. "Tampaknya pengkhianat ada di sini juga."
"Kau yang berkhianat." Sakura memandang Sasuke tak kalah dingin. Ia ingin segera meninju wajah Sasuke, tapi apa boleh buat. Tinjuannya tertahan oleh Temari yang menatapnya. Memberi aba-aba untuk menyerahkan segalanya pada Gaara.
"Kenapa? Bicaralah, Gaara. Kau mau menahanku, 'kan?" Sasuke melihat Gaara kemudian Naruto dan tertawa geli. "Bahkan sang detektif pun kau ajak."
BUGH
Satu tinjuan di perut Sasuke segera di layangkan oleh tangan kanan Gaara yang tetap diam dengan tetap memasang wajah stoic angkuh miliknya. Yang lain hanya bisa diam dan melihat Gaara memajukkan langkahnya mendekati Sasuke yang jatuh ke atas tanah.
"K-kau, apa maumu?" Sasuke berdiri dan segera mencoba melayangkan tinjunya namun kalah cepat dengan pukulan manis Gaara yang membuat Sasuke lagi-lagi tersungkur. Bukan main sakitnya wajah Sasuke saat pukulan itu kena telak di sudut bibirnya, membuat mulutnya berdarah cukup banyak karenanya.
Tak ada satupun kata yang Gaara katakan. Ia kembali menarik kerah baju Sasuke dan memukulinya habis-habisan. Bukannya melawan, Sasuke hanya pasrah. Ia sudah tidak mampu melawan kekuatan Gaara yang semakin gila, tak ada senyuman di wajah Gaara. Wajahnya tetap datar. Tak ada perasaan tak enak saat memukuli Sasuke semaunya. Malam itu, semuanya juga hanya bisa diam. Yang terdengar hanya suara tinju Gaara dan akhirnya, Temari yang tak tahan melihat pemandangan di depannya langsung menarik tangan Gaara, dan memukul wajahnya.
"Hentikan! Kau bisa membunuhnya! Itu bukan tujuanmu, 'kan?!" Temari tampaknya menyadarkan Gaara yang segera terdiam. Gaara yang tampak tersadar dari kegilaannya bangun dan menatap Sasuke. Sakura yang melihatnya sungguh ingin mengobati luka Sasuke, tapi apa daya, sang ego tampak lebih tinggi dibandingkan hati kali ini. Shikamaru yang sedari tadi diam lalu berjongkok ke hadapan Sasuke dan tersenyum tipis.
"Kau beruntung, ya? Kau satu-satunya orang yang tidak mati atau patah tulang saat sudah di tangan Gaara."
"Shikamaru! Tutup mulutmu." Temari lalu menarik Shikamaru untuk berdiri dan menatap Sasuke dengan jeli. "Bangunlah. Kau tidak selemah itu kan, Sasuke."
Sasuke yang masih terududuk di atas tanah diam. Ia tundukkan kepalanya dan membisu. Tampak tak ada keinginan sedikitpun bagi si mata onyx untuk bangun dan kembali membalas perilaku Gaara. Belum sempat yang lain membuka mulut, tiba-tiba penghuni rumah berambut merah keluar dari balik pintu dan menatap keadaan di depannya. Tidak tersirat kekagetan. Ia memang mengetahui siapa mereka karena Sasuke pernah mengajak mereka ke rumah saat masih duduk di bangku sekolah. Lelaki berambut merah dengan nama Nagato itu lalu menarik lengan Sasuke untuk bangun dan menatap Naruto.
"Ada apa malam-malam kesini?" Nagato dengan pelan menanyakannya ke salah satu saudara jauhnya, Naruto.
"Nagato-san.. Anu, itu..Kami ingin mengetahui hubungan Sasuke saat 17 tahun lalu." Jawab Naruto tampak tak mau berbasa-basi. Ia juga sudah tidak sabaran mendengar jawaban dari hal ini semua.
"17 tahun lalu?" Nagato berdiam diri beberapa detik dan langsung ingat saat pikirannya mencoba mengulang kejadian 17 tahun lalu tersebut. "Begitu. Jadi, ada sesuatu yang membuat kalian kemari hingga bertanya mengenai 17 tahun lalu, ya?"
"A-ada apa? Apa hubungannya dengan Sasuke?" Sakura ikut bertanya dan menatap Nagato penasaran.
"Masuklah. Aku tidak ingin mengganggu orang. Aku akan menceritakannya di dalam."
.
.
.
Hinata menatap arah jarum jam yang sedari tadi bergerak. Entah pikirannya saja atau bukan, tapi jarum jam tersebut terlihat cepat bergerak menuju angka 3 pagi sekarang. Hinata memang sudah tertidur dari jam 10 tadi. Sayangnya, rasa mual mulai menjalar lagi hingga saat pukul jam 2 tadi Ia bergegas menuju wastafel dan terjaga hingga kini. Kantuk sudah tak terasa. Yang ada hanya kekhawatirannya pada Gaaara dan Temari yang belum kunjung pulang hingga sekarang. Hinata yang duduk di atas kasur, kini mulai berjalan keluar dan menuju ke arah ruang tatami yang menghadap ke taman belakang. Ia berjalan mengendap-endap, takut membangunkan orang yang masih tertidur—meski hanya Ayah Gaara dan Kankurou serta beberapa pelayan yang tinggal di rumah utama—
"Hinata-san?" tiba-tiba langkah Hinata terhenti saat Ia hendak membuka pintu kertas geser yang berada di depannya. Dengan cepat, Hinta menoleh dan menemukan Kankurou, kakak lelaki semata wayang Gaara disana.
"Ah, Ka-kankurou-niisama, maaf—aku membangunkanmu?" Hinata menatap Kankurou tak enak hati. Yang ditatap hanya tersenyum simpul dan menggeleng cepat.
"Tidak, aku memang selalu bangun jam segini." Kankurou lalu mengajak Hinata memasuki ruang tatami dan membuka pintu kertas untuk melihat taman belakang yang indah. Suasana masih sangat sejuk dan tenang. Hanya suara jangkrik yang terdengar di kesunyian tempat ini. "Hinata sendiri, kenapa bangun cepat sekali?"
"A-aku hanya sedikit mual, jadi terbangun." jawab Hinata jujur seraya ikut duduk di atas bantalan ungu tua, tidak jauh dari Kankurou. Kankurou yang sedikit bingung segera menatap Hinata dan menyadari satu hal.
"H-hee—? Ka-kalian punya anak?" seru Kankurou nyaris berbisik. "Serius?"
"A-apa Temari-nee tidak memberitahu nii-sama? Gaara memang meminta kami untuk tetap diam sampai dia lahir. Agar tidak ada kehebohan." Hinata yang merasa tak enak hati pada Kankurou sedikit membungkuk untuk meminta maaf.
"Tenang saja! Aku hanya kaget saja. O,ya— Temari dan Gaara belum pulang juga, ya? Apa yang mereka lakukan?" keluh Kankurou melihat jam dinding. "Apa kau tidak apa-apa ditinggal Gaara?"
"Iya, aku sudah terbiasa. Lagipula, dia selalu sibuk." Hinata tersenyum pasrah dan kembali menatap ke luar.
"Yah, karena dia memimpin Perusahaan Sabaku, jadi dia tidak punya banyak waktu luang. Aku sebagai Wakil Direktur juga merasa tidak enak pada Gaara karena dia banyak mengerjakan hal dibanding aku yang bawahannya."
"K-kenapa Gaara-kun sangat giat?" tanya Hinata mengingat betapa Gaara selalu berusaha yang terbaik bagi perusahaan yang Ia jalani tersebut.
"...Karena, dia ingin melampaui Ayahnya. Tapi, sesungguhnya.." Kankurou lalu menghentikkan ucapannya dan menatap Hinata seraya tersenyum. "Untung kau datang di saat yang tepat."
"A-apa maksudmu?"
"Sesungguhnya, rencana awal Gaara adalah mensukseskan Perusahaan Sabaku setinggi-tingginya." Kankurou tersenyum aneh dan kembali menatap Hinata. "Lalu, dia akan menjatuhkannya serendah-rendahnya."
"Ke-kenapa? Kenapa dia sekejam itu?" tanya Hinata tak percaya.
"Jika begitu, nama Sabaku akan jelek, 'kan?" Kankurou menghela nafasnya panjang. Ia tampak seperti bernostalgia akan kenangan-kenangan dulu. "Terutama Ayahnya, yang membangun perusahaan tersebut."
"Tapi, Gaara-kun yang menjadi direkturnya."
"...Maaf aku mengatakan hal ini, tapi— saat Hyuuga turun, apa orang-orang menjelekkanmu? Padahal semua orang tahu kau yang membangun kembali perusahaan tersebut selama 5 tahun hingga sukses. Tapi, yang disebut orang-orang bukan dirimu, 'kan? Tapi—"
"Ya, Ayahku." jawab Hinata lemah. Hinata masih ingat betapa sedih hatinya saat orang-orang mencemooh mengenai Hiashi atas kemerosotan Hyuuga.
"Itulah yang Gaara inginkan. Ia ingin Ayahnya dibebani cemoohan tak terbatas. Gaara tak memikirkan sedikitpun mengenai dirinya saat itu."
"Lalu, kenapa Gaara-kun tidak melakukannya?" tanya Hinata lagi. Ia sangat penasaran dengan Sabaku yang satu itu dimana saat Ia belum bertemu dengannya.
"Karena, tiba-tiba saja Ia ingin mendapatkan banyak uang."
"U-uang? Untuk apa?"
"Melunasi hutang perusahaanmu." Kankurou tersenyum senang dan segera memasuki kotatsu di sebelahnya. "Dia bilang dia harus melunasi hutang perusahaanmu, jadi dia berusaha menaikkan keuangan Sabaku. Tapi, Ayah yang mengetahui bahwa Gaara mau menjatuhkan Sabaku, bilang; 'Kau harus membiayai keluargamu dengan uangmu sendiri'.."
"Lalu?"
"Makanya hingga sekarang dia bekerja giat. Dia mengurungkan niatnya menjatuhkan perusahaan Sabaku untuk terus mendapat invest tinggi demi menjalani hidupnya. Dia bilang tidak mau menikahimu dengan dirinya yang pengangguran nantinya." Kankurou yang memasuki kotatsu lalu segera menaruh kepalanya di atas meja kotatsu. "Aku mulai mengantuk lagi. Hei, masuklah kedalam kotatsu. Pagi ini dingin sekali."
"..Kankurou-niisama."
"Hm?"
"Terimakasih telah menceritakannya padaku." Hinata beranjak ke arah Kankurou seraya tersenyum senang dengan semu merah di pipinya.
.
.
"Jadi... Dalang dari penculikan 17 tahun lalu adalah Uchiha?!" Naruto berseru kencang saat Nagato selesai menceritakkan cerita dimana Uchiha menawan para penerus perusahaan besar dan menagih tebusannya. Nagato juga menjelaskan bahwa Itachi menitipkan Sasuke padanya, Ia jelaskan semuanya secara rinci agar tak ada lagi kesalahpahaman.
"Maaf aku menyembunyikkannya, Naruto." Nagato yang menatap Naruto tampak tak enak hati. Ia berulang kali menyelipkan kata maaf di setiap ceritanya barusan. Ia benar-benar menyesal telah menyembunyikannya.
"Sasuke, lantas.. Apa yang membuatmu ingin menjatuhkan Hyuuga? Mencelakai Hinata." Gaara yang sudah mulai tenang menatap mata onyx di depannya yang sedari tadi hanya diam meski tangannya sibuk mengkompres wajah bekas pukulan Gaara tadi.
"..."
"Sasuke, sudah tak ada gunanya kau tutupi lagi." Shikamaru kali ini angkat mulut.
"Aku... Ingin bertemu dengan Hinata." gumam Sasuke meski Gaara dengan mantap mendengarnya jelas. "Aku mengaku aku yang menjatuhkan perusahaan Hyuuga dengan bantuan karyawan Haruno yang kusuap. Aku juga yang berusaha mencelakai Hinata. Aku—"
"Jangan banyak basa-basi, sebutkan saja kenapa kau melakukan hal itu pada Hinata." potong Gaara tajam. Ia sudah terlihat tak sabaran dengan jawabannya.
"...Karena—Karena..." tenggorokkan Sasuke tampak tercekat. Ia ingin mengatakannya, tapi entah setan apa yang menutupi mulutnya, Ia sulit sekali mengeluarkan kalimat yang sudah dipikirkan di kepalanya. Sasuke benar-benar terlihat mematung di hadapan teman-temannya yang masih menunggu jawabannya sekarang. "Aku.. tidak bisa menyelamatkannya."
Seluruh pandangan heran, bingung, dan penuh tanda tanya sudah menghiasi wajah orang-orang di sana. "Apa maksudnya?"
"Andai saja, saat itu aku tidak meninggalkan gadis itu, mungkin.. Ia tidak perlu mengalami luka dan trauma sedalam itu. Apalagi, aku belum mengucapkan kata 'maaf' sekalipun. Setiap saat aku tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Perasaan bersalah, rasa cemas, semua memenuhi kepalaku." Sasuke memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan meremasnya seperti menumpahkan emosinya saat itu juga.
"Jadi, kau menghancurkan Hinata agar kau memiliki alasan untuk meminta maaf dan rasa bersalah? Bukankah itu konyol? Kau malah menyusahkannya!" Shikamaru yang sudah bisa membaca situasi di hadapannya segera mendengus kesal. Ia benar-benar kesal melihat tingkah laku Sasuke yang seenaknya hingga merugikan orang lain.
"Karena, aku tidak pernah berhasil. Saat perusahaannya jatuh, aku segera melamarnya. Tapi, aku tidak menyangka dia menikah dengan orang lain. Terlebih dia adalah sahabatku." Sasuke tersenyum miris dan kembali menatap Gaara di depannya. "Aku benar-benar membencimu saat mendengar kau menikah dengan Hyuuga Hinata. Andai saja aku bisa melamarnya, aku akan ada kesempatan mengatakan permohonan maafku. Gomen.. Go-gomen.. Gomenasai! Aku—"
"Kau gila, Sasuke." ujar Sakura kaget dengan pernyataan lelaki yang merebut hatinya tersebut. "Kau menyakiti Hinata hingga merebut kebahagiaan keluarganya!Perusahaannya bangkrut, itu semua karena kau! Bahkan, kau berniat mencelakainya... Apa-apaan kau ini?"
"Aku tahu—! Aku tahu itu. Aku.."
"Dalam hatimu, kau membenci Hinata, 'kan? Atau...harus kubilang kau membenci dirimu karena Hinata?" Gaara menatap lurus ke bola mata Sasuke. "Kau pasti berpikir 'Andai saja aku tidak berharap Hyuuga Hinata lepas dari tawanan mungkin saja keluargaku masih baik-baik saja'—'Andai saja aku tak tertarik pada Hinata, aku bisa tetap berada di kegelapan Uchiha'...'kan?"
"Apa maksud—"
"Kau membenci Hinata karena dia membuatmu membenci dirimu sendiri. Pada akhirnya, kau melakukan semua ini bukan karena Hinata. Tapi karena keluargamu." Gaara tersenyum pahit. "Kau tega sekali, Sasuke."
"Gaara—" Sasuke menatap wajah Gaara dalam. Hatinya terasa miris melihat wajah sahabatnya yang baru pertama kalinya Ia tunjukkan dan hal itu karena dirinya. Hati Sasuke terasa tersayat melihatnya. "Gaara, maafkan aku— Maaf! Aku juga tidak bisa meminta maaf pada Hinata, aku ini memang—"
"Aku memaafkanmu—"
Tiba-tiba seluruh ruangan hening. Semua menatap ke sumber suara. Suara yang yang tak terlalu jernih karena melalui telepon genggam tersebut membuat semua menatap orang yang memegang ponselnya. Gaara—yang menunjukkan ponselnya ke arah Sasuke— menatap Sasuke datar. "Ini Hinata. Aku meneleponnya mulai dari kau bilang 'ingin menemuinya'. Dia pasti mendengar semua percakapanmu tadi."
"Sa-Sasuke-san?" ujar seseorang di seberang telepon. Gaara sengaja menyalakan loudspeaker ponselnya agar terdengar jelas."Ada apa?"
"H-Hinata.." Sasuke yang mendengar suara Hinata menatap layar ponsel yang hanya tertera nama Hinata di dalamnya. Ia lalu menundukkan wajahnya dalam. "Maaf, Maafkan aku! Keluargaku yang menculikmu, andai saja aku bisa menyelamatkanmu... Ibumu ..Kau juga tidak perlu menderita seperti ini—!"
"Sasuke-san..Tapi—, saat itu kita memang masih terlalu kecil.." Hinata tersenyum tipis di balik telepon. "Kenapa kau berbuat sejauh ini?"
"Dosaku... selamanya tidak akan bisa hilang jika aku tidak meminta maaf padamu. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana. Cara apa yang harus aku lakukan agar permohonan maafku diterima—" bulir-bulir air mata jatuh dari pipi Sasuke. Semua yang melihatnya hanya tertegun, mereka hanya bisa diam meski alasan konyol Sasuke sedikit membuat emosi mereka mengalir. "Saat aku melihat berita, kau ditemukan seminggu setelahnya, bersama Ibumu yang tak bernyawa. Andai saja saat itu aku tidak meninggalkanmu, andai saja waktu itu menelepon ambulans, atau ikut membawamu menemui Nagato-san, hal itu pasti—"
"Tidak ada yang berubah.." jawab Hinata lemah. "Saat kau menemukanku, Ibuku sudah tak bernyawa. Aku yang membawa Ibuku ke semak-semak, aku takut kalau orang menemukannya di jalanan, aku ikut terlibat. Dosa ini tidak bisa terhapuskan. Selamanya dosa ini akan ada bersamaku. Aku tahu itu."
"Hinata.." Sasuke lalu mengangkat wajahnya cepat. "Kau memaafkanku? Apa kau memaafkan Uchiha?"
"...Aku—tidak tahu." suara Hinata bergetar. Hinata tidak tahu apa yang harus Ia jawab. Bagaimanapun baiknya Hinata, Hinata adalah manusia. Ia punya sisi buruk meski hanya sedikit. Pasti. Hinata—jauh di lubuk hatinya—sedikit berpikir andai saja Uchiha tak menawannya saat itu, mungkin Ibunya tak perlu berlaku aneh dan memakan nyawa. Hinata sedikit memikirkan hal tersebut. "Tapi, aku tidak membenci Sasuke-san."
"...Aku mengerti."
"Lalu, terimakasih.." Hinata membuka suaranya lebih kencang agar Sasuke mendengarnya jelas. Sasuke sendiri hanya bisa terpaku mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut Hinata.
"Apa maksudmu?"
"Terimakasih, sudah mau memikirkanku seperti ini hingga hatimu tersiksa, 'kan? Maaf. Padahal kau membenciku."
"Tidak—Hinata, terimakasih.. Terimakasih!" Sasuke sedikit terisak. Ia benar-benar seperti terlepas dari beban yang selalu berada di pundaknya selama ini. Air mata yang keluar dari matanya seperti campuran dari rasa sedih dan bahagia di dalamnya.
"Jadi, apa rencana selanjutmu?" Gaara menatap Sasuke dingin seraya segera mematikan panggilannya. Ia terlihat lebih tenang sekarang.
"Kau bisa menahanku atau hukum mati , apapun itu, aku menerimanya. Bagaimanapun, Dosa Uchiha tidak akan bisa lepas. "
"Tapi, Sasuke-kun saat itu masih berusia 6 tahun.." Sakura menatap Gaara dalam. Yang di tatap hanya diam tanpa membalasnya.
"Naruto?" Gaara menolehkan kepalanya ke arah Naruto yang ikut diam mendengar pengakuan Sasuke. Gaara yakin perasaan Naruto kali ini pun ikut tercampur aduk, melihat keturunan Uchiha—orang yang menculiknya— saat ini ada di depan matanya. Naruto bahkan menjadi detektif hanya untuk mencarinya. Dan kini, objek tawanannya ada di depannya, dan dia sahabat dekatnya sendiri.
"...Sebagai kepolisian, aku harus menangkapmu, teme."
"Yah, aku tahu." Sasuke tersenyum tipis. Sasuke melihat Naruto ikut mengeluarkan air mata meski Ia menundukkan kepalanya dalam.
"Uchiha Sasuke, aku..U-Uzumaki Naruto dari kepolisian bagian Detektif, dengan ini...ugh—menangkapmu sebagai tersangka penculikan 17 tahun lalu."
.
.
.
.
Sudah hampir 3 Minggu setelah kejadian tersebut. Uchiha Sasuke dinyatakan bersalah dan dikenai hukuman penjara. Beruntung saat kejadian 17 tahun lalu Ia masih berumur 6 tahun sehingga tuntutan pidana tak terlalu besar. Meski di tangkap, Shikamaru dan Sakura rela menjadi saksi untuk Sasuke agar mendapat keringanan. Dan hasilnya, sesuai keinginan semua teman-temannya, Ia hanya di tahan beberapa bulan. Karena memang umur Sasuke saat kejadian tersebut masih dibawah asuhan orangtua serta tak ada kasus lain yang tersangkut pada nama Sasuke terlepas dari Uchiha. Untuk sementara Perusahaan Uchiha di alihkan oleh Nagato, dan kembali menjalankan aliansi perusahaan dengan Haruno. Berkat hal itu, tak ada kejatuhan secara langsung pada perusahaan Uchiha, meski mengalami keturunan.
"Kenapa harus di tahan?" tanya Hinata sesampainya di dalam mobil setelah menjenguk Sasuke di tahanan.
"Naruto bilang Ia menjalankan tugasnya harus dengan sepenuh hati tanpa pandang status. Bukankah bagus? Dia benar-benar menjadi orang hebat." Gaara yang juga baru menyalakan mobilnya. Gaara memang terlihat tak peduli, tapi kuasa hukum Sasuke sengaja disewa oleh Gaara. Ia mencari pengacara terbaik agar Sasuke mendapatkan hukuman seringan mungkin. Membuang pikiran-pikiran tersebut, Gaara lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan Raya yang mulai padat kendaraan.
"Gaara-kun, kita tahu Uchiha yang menjadi dalang penculikkan tersebut. Tapi, kenapa masih ada yang mengganjal?"
"Hn? Apanya?"
"Kenapa Ibuku berbuat seperti itu, lalu.. siapa orang yang ikut terbunuh oleh Ibuku. Aku masih tidak mengerti."
"Aku sudah bilang jangan ada pikiran macam-macam dulu, 'kan?" tukas Gaara dingin. Ia seringkali memperingati Hinata akan hal tersebut. Selain tidak baik untuk pikiran dan tubuhnya, Gaara tidak mau Hinata terjerumus lebih dalam dengan masalah ini. Setidaknya, biar Gaara yang mengurusnya."Lagipula, kita belumsempat ke tempat Hiashi untuk hal ini."
"G-Gaara-kun.."
"Hm?"
"Boleh aku bertanya? Ibumu... kecelakaan pada saat 17 tahun lalu, 'kan? Dia.. bukan salah satunya kan? Penculikan Uchiha." takut-takut Hinata menatap Gaara.
"Kurasa bukan. Ibuku, meski berita mengatakan dia meninggal karena kecelakaan, tapi.. sesungguhnya Ia dibunuh."
"Ha-hah? Apa maksudmu?"
"Lalu...17 tahun lalu pula Ayahku membunuh seseorang."
"Ga-Gaara-kun? Apa maksudmu? Ini tidak lucu. Maksudmu-"
"Tidak seperti pikiranmu, aku tidak termasuk dalam hal tersebut. Kau lupa? Aku masih 6 tahun saat itu." jawab Gaara membuat Hinata bernafas lega. "Tapi, aku tahu siapa yang membunuh Ibuku dan siapa yang dibunuh Ayahku." Gaara memberhentikkan mobilnya dan menatap mata Hinata. Ia terlihat berbeda dari biasanya. "Ibuku, dia memang tewas karena kecelakaan 17 tahun lalu. Tapi, itu bukan kecelakaan biasa. Hal itu adalah kecelakaan yang di rencanakan."
"Ke-kenapa kau begitu yakin?"
"Karena selama 17 tahun inilah aku melacak hal tersebut. Apapun itu, ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Gaara-kun selalu mengelak jika ini menyangkut keluargamu." gumam Hinata tiba-tiba. Gaara yang mendengarnya, melirik Hinata melalui sudut matanya. "Ayahmu, Ibumu, bahkan Pamanmu waktu itu. Semua hal tersebut kau sembunyikan. Padahal kau selalu bilang untuk tidak menyembunyikan apapun dan jujur, 'kan?!"
"Jaga bicaramu. Hal ini berbeda."
"Apa yang berbeda?! Kau selalu bilang bahwa 'aku suamimu' seakan apapun yang kumiliki harus kau ketahui. Tapi, Gaara-kun tidak pernah sekalipun membiarkan aku melakukan hal yang sama padamu." Seru Hinata pelan. Ia tetap menjaga volume suaranya agar tak terdengar hingga keluar.
"Apa maksudmu?!" terpancing emosi, Gaara segera meninggikan volume suaranya dengan tetap menjaga intonasinya agar tidak melukai perasaan Hinata.
"Berhenti menyembunyikan tentang Ayahmu—!"
"Apa yang harus kuakatakan?!"
"Sebenarnya, apa yang kau sembunyikan!?" Seru hinata lebih kencang. Emosi mulai meluap, Gaara segera mencengkram kedua bahu Hinata dan menatapnya tajam.
"Bagaimana kalau kubilang bahwa Hyuuga yang membunuh Ibuku?"
.
.
.
Mata Hinata melebar dalam sekejap saat mendengar hal tersebut. Dengan perlahan Hinata melepas cengkraman tangan Gaara di pundaknya, dan kembali melihat mata Gaara yang tetap tak berbicara.
"A-apa itu benar?"
"...TENTU TIDAK, baka." Gaara menghela nafasnya panjang. "Sudah kukatakan, bukan? Ayahku membunuh orang 17 tahun lalu, dan 17 tahun lalu Ibuku terbunuh. Apa kepalamu yang kecil ini benar-benar tidak bisa mencerna dengan baik?"
"Mak-maksudmu?"
Gemas, Gaara segera mengacak-acak rambut Hinata dan menatapnya lebih tenang. "Maksudnya... Ibuku dibunuh oleh Ayahku."
"...Ga-Gaara-kun, kau yakin?"
"Sudah kubilang hal ini direncanakan bukan?"
"Tapi, kurasa—"
"Berhenti." Gaara menutup mulut Hinata dengan telapak tangannya dan mulai kembali memasang seatbelt-nya. "Aku sedang banyak pikiran. Bisakah membicarakan hal ini lain kali?"
Hinata mengangguk paham. Ia yakin benar kepala Gaara masih terbebani dengan masalah Hinata sebelumnya. Ia tidak mau menambang beban pikiran si rambut marun tersebut lebih banyak lagi. Dengan berani, Hinata mengelus kepala Gaara yang masih sibuk menyalakan kembali mobilnya.
"Gaara-kun pasti akan baik-baik saja." ucap Hinata sambil tetap mengusapkan tangannya di atas kepala Gaara. Jika saja bukan Hinata, sudah pasti Gaara akan marah besar ada orang yang memegang kepalanya. Beruntung wanita ini sudah memiliki status dengan Gaara.
"...Yah, aku tahu." ucap Gaara sembari mendekatkan bibirnya di pipi Hinata dan menciumnya lembut.
.
.
"Kenapa Gaara membenci Ayahnya?" tanya Kankurou saat berkunjung ke rumah Gaara beberapa menit lalu. Ia memang sengaja datang karena kebetulan dokumen Gaara tertinggal sehingga Kankurou rela dari Perusahaan Sabaku kembali ke rumah Gaara hanya untuk mengambil seberkas dokumen tipis. Sebetulnya, Gaara meminta Temari-selaku sekertaris Gaara-tapi apa boleh buat, sang Kakak sulung memberikan tekanan pada dirinya sehingga pada akhirnya Ia yang mengambilnya.
"A-apa Kankurou-niisama tahu?" tanya Hinata seraya menyerahkan berkas tersebut ke arah Kankurou.
"..Entahlah— Anu, sesungguhnya, kami sekeluarga pada awalnya tidak dekat. Memang keluarga kami tidak harmonis, jadi aku sempat melarikan diri saat masih sekolah. Lalu, saat kembali ke rumah, keadaan makin parah. Saat aku pulang, Gaara dan Ayah sudah tidak rukun. Mungkin, kau bisa bertanya pada Temari karena dia yang mengurus Gaara." Kankurou tersenyum ringan dan menatap Hinata dengan mengangkat salah satu alisnya. "Hmmm— kau tampaknya benar-benar mengurusnya. Syukurlah."
"Ah—Tidak. Tepatnya, aku yang diurus Gaara-kun." merasa canggung, Hinata menyunggingkan senyumnya dan kembali menatap Kankurou. "Apa nii-sama akan langsung kembali ke kantor? Boleh aku titip sesuatu untuk Gaara-kun?"
"Boleh. Barang apa?"
"...Anu—"
.
.
.
.
"Lama sekali. Apa kau tersasar?" tanya Gaara datar sembari tetap menatap dokumen di atas meja-nya. Ia sekali melirik Kankurou yang baru datang memastikan apa sang Kakak membawa dokumen yang Ia minta.
"Ucapkan terima kasih padaku!" seru Kankurou membuat Gaara sedikit bergeming. Tidak biasanya Kankurou haus akan terima kasih. Apalagi pada Gaara, jangankan terimakasih, kata pujian saja sulit terlontar.
"Apa? Hanya mengambil dokumen saja aku harus berterimakasih? Padahal kau sendiri yang tidak mengatakan kalau aku harus membawa dokumen itu hari ini." tukas Gaara sedikit kesal. Tanpa banyak bicara, Kankurou lalu berlari kecil dan menyerahkan sebuah kotak dan surat.
"Kau pasti tahu ini dari siapa 'kan? Berterimakasihlah padaku!"
"...Keluar. Entah mengapa aku sedikit muak melihat tingkahmu begini." balas Gaara tanpa intonasi bahkan raut wajahnya tetap datar.
"Kau ini— baiklah, lihatlah kotak itu, dan segera kerjakan tugasnya, Presdir." mulai malas, Kankurou segera menuju ke arah pintu. Belum sempat keluar, tiba-tiba langkahnya terhenti oleh suara Gaara.
"Kankurou. Terimakasih sudah menolong Hinata."
Canggung, Kankurou segera mengangguk dan keluar dari ruangan Gaara. Entah apa yang ada dipikiran Kankurou, tapi Ia merasa senang sekali dengan tingkah adik bungsunya yang satu itu. Meski secara tidak langsung Gaara berterimakasih atas nama Hinata, tapi setidaknya kata itu terlontar dari mulut Gaara. Tanpa pikir panjang, Kankurou segera berlari pergi menuju ruangan Temari. Untuk apa? Tentu saja menceritakan kejadian tersebut pada si sulung agar lebih menarik.
Melihat Kankurou sudah keluar, Gaara segera mengambil ponselnya dan menyambungkan panggilan dengan Hinata yang segera mengangkatnya.
"Gaara-kun?"
"Anata, kau selalu tahu kelemahanku." Ucap Gaara lembut. Ia tutupi setengah wajahnya dengan punggung tangannya. Tanpa Gaara ketahui, dibalik telepon wajah Hinata sudah memerah dengan panggilan Gaara barusan. "Aku akan pulang cepat malam ini."
"Uhn," Hinata menggeleng pelan. "Kau bisa lembur jika pekerjaanmu banyak."
"O,ya? Tapi, melihat pesanmu entah kenapa aku ingin segera memeluknya." Gaara tersenyum tipis dan kembali menatap kertas di tangannya. Kertas kecil berukuran memo warna putih dengan tulisan tangan Hinata di atasnya.
'Sesuai harapanmu, dia laki-laki.'
Ya, hanya kalimat itu. Tapi sukses membuat Gaara begitu senang melihatnya. Gaara tahu apa maksud dari kertas tersebut.
"Baiklah, aku akan menunggumu." Hinata tertawa kecil di balik telepon. "O,ya— Ayahku menelepon tadi. Dia bilang ingin bertemu denganmu bersamaku lusa depan. Apa Gaara-kun bisa?"
"Bisa. Aku akan mengosongkannya. Untuk apa?"
"Anu— Ayah bilang.. Dia dan Neji pergi mencari kebenaran mengenai Ibuku. Dan Ia bilang hasilnya tak disangka—"
"Maksudmu?"
"Ayahku bilang— wanita yang terbunuh oleh Ibuku saat 17 tahun lalu itu, tidak mati."
"Jadi—"
"Dia masih hidup Gaara-kun."
.
.
TBC
Waaaaaa sudah chapter 10! Tak terasa sudah sampai ending..
Ya, Chapter depan sudah selesai, aku akan kangen sekali dengan fic pertamaku ini
Dan, aku sudah membuat fic baru lagi :D dan lagi-lagi aku buat genre mystery
Karakter utama masih Hinata, tapi masih belum tahu pairnya nanti sama siapa haha
Akan ku publish setelah selesai ! ^^
Niatnya chapter 11 ending dan chapter 12 adalah extra :D
Semoga bisa update cepat ^^/
Sampai jumpa di chapter berikutnya! ^^
Thanks for review /pelukciumsemuanya/
kirigayachika, .777,yurikocchi,AmuB,flowerslavender, mayu, Hinataholic, Virgo24, Ruki-chan SukiSuki'ssu, chan, guest, hana37, mellyzain, 12, tithaa sabaku, nasyachoco, kimiko, hana, re, Jasmine DaisynoYuki, Rizu E09-Zu, GaaHinaJinchuriki
ookami child : terimakasih sudah review. oops, maaf, yang terbunuh bukan ibunya Sasuke :D kira-kira siapa yaaa XD hehe
rarachan89 : anak yang nolong Hinata itu Naruto ^^ terimakasih sudah review :D
sushimakipark : aku akan berusaha buat gaahina lebih romantis lagi! :( susah soalnya karakter Gaara gabisa romantis to the point gitu sih huehue.. jadinya buatnya harus perlahan-lahan roman nya :D terimakasih sudah review!
: huhu maaf updatenya lama :D mkasih banyak ya udah dibaca fic nya :D/peluk
Yuu Tanpopo : terimakasih banyak sudah review dan baca fic ini XD hehe iya, plotnya sudah selesai, jadi critanya gabisa dipanjang-panjangin seperti sinetron /dilempar/ terimakasiiih
Makasih banyak semua maaf gabisa dibales semuanyaaa yang pasti aku baca semuanya dan bikin aku semangat ngelanjutin fic ini hueheu. Ditunggu reviewnya! :D
