8 TAHUN LALU.
.
Rosalindt sudah dua belas tahun saat itu, dan ketakutannya terhadap petir dan gelap masih tak kunjung hilang. Waktu masih di rumah Fleurette, ia bisa menyalakan lilin di samping ranjangnya saat tidur. Tapi disini, ibu angkatnya pernah bilang bahwa ketakutan itu tidak akan pernah hilang jika ia tidak menghadapinya. Sheriff kasihan, jadi diam-diam saat Rosalindt masih menumpang di kamar yang diperuntukkan bagi Henry karena kamarnya sendiri belum siap, pria itu memasang lampu kecil di sebelah lampu kamar Rosalindt di langit-langit—oh, sudah jelas ibu walikota tidak senang akan ini.
Dan tentang petir, dulu Rosalindt punya boneka yang bisa ia peluk erat-erat jika suara petir begitu kencang. Tapi boneka itu sudah terbakar, dia tidak punya sesuatu untuk dipeluk lagi kecuali bantal guling jika sedang di ranjang.
Malam ini hujan lebat, dan gadis itu sedang seorang diri di rumah. Ibunya masih di kantor dengan Henry—anak itu masih sekitar satu tahun, jelas Regina akan khawatir untuk meninggalkan putranya di rumah berdua saja dengan anak umur dua belas tahun, dan lagi Rosalindt harus sekolah dari pagi hingga siang dan itu berarti Henry akan sendirian jika ditinggal di rumah. Sesekali ada petir kecil, Rosalindt langsung mencengkeram bantal gulingnya. Jika ia melihat kilat terang, ia sudah siap-siap menaruh bantal erat-erat untuk menutup kedua telinganya. Huh, benar-benar tidak bisa tidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Rosalindt menyerngit, mungkin ibunya sudah pulang. Takut tiba-tiba ada suara petir lagi, gadis itu buru-buru turun dari ranjang untuk membuka pintu. Yang ada di balik pintu bukan ibunya, melainkan Sheriff Graham yang sudah memasang wajah cemas.
"Sheriff?" cicit Rosalindt pelan. Dan tiba-tiba petir keras terdengar, membuat gadis itu memekik.
"Hei, hei, Rosalindt, tidak apa, kutemani, ayo," ujar Sheriff sambil mengelus pundak gadis kecil di depannya. Ia masuk kamar itu dan menutup pintu, menyuruh Rosalindt berbaring, dan ia sendiri duduk di sampingnya.
"Aku takut petir," ujar Rosalindt.
Sheriff mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku ada disini denganmu sekarang. Kalau petirnya ada lagi, kau tinggal memelukku."
Dengan polos Rosalindt mengangguk. "Kenapa harus ada petir, sih? Itu menakutkan!"
"Yah, aku tidak tahu," kata Sheriff sambil mengangkat bahu. "Tapi tentang hujan, setelah hujan biasanya ada sesuatu yang baik terjadi. Seperti kalau saat siang, habis hujan ada pelangi. Mau petirnya sangat besar, tapi pelanginya juga akan indah."
"Bagaimana kalau malam-malam?"
Sheriff tersenyum dan membelai kepala Rosalindt. "Hm, pernah aku berpikir untuk menebang salah satu pohon tua dekat balai kota, tapi aku tidak perlu menebangnya karena di malam hari petir kencang menyambar dan membuat pohon itu tumbang. Aku hanya minta tolong warga membantu menyingkirkannya saja. Itu termasuk hal baik, kan?" Rosalindt mengangguk kecil. "Nah, sekarang coba tidur, Rosalindt."
Dan gadis itu menurut. Rosalindt menutup kedua bola matanya, mencoba tidur. Ia merasa aman, apalagi karena satu tangan besar Sheriff Graham menggenggam erat tangan kecilnya.
.
.
Disclaimer: Edward Kitsis & Adam Horowitz. Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: OC, berusaha mengikuti alur canon.
.
RED
Chapter 10
by Fei Mei
.
.
SEKARANG.
.
Sheriff menggandengku keluar dari rumah, dan aku melihat Emma diluar pagar yang sedang bersandar pada mobilnya. Melihat kami hendak keluar, Emma menghampiri kami.
"Graham, kudengar kau sedang mengalami hari buruk," ucap Emma cepat.
"Kata siapa?" tanya Sheriff tanpa berhenti berjalan.
"Kurang lebih semua orang," jawab Emma. "Kurasa mungkin kau perlu pulang dan istirahat."
"Aku baik-baik saja," tepis Sheriff.
"Tidak, Graham," kata Emma, kali ini ia ada di depan kami, membuat Sheriff tidak bisa melangkah lagi. "Kau tidak baik-baik saja. Kau baru saja mendatangi anak umur sembilan tahun untuk minta bantuan."
"Yah, aku juga mendatangi gadis umur dua puluh tahun ini juga," kata Sheriff. "Lagipula Henry memberi buah pikiran satu-satunya yang masuk akal."
"Ada apa? Apa yang benar-benar terjadi?" tanya Emma, kali ini ia menoleh padaku lalu kembali pada Sheriff lagi.
"Jantungku, Emma, aku perlu menemukannya," kata Sheriff.
"Oke, jadi bagaimana kau akan melakukannya?"
"Rosalindt akan membantuku, dan aku mungkin perlu menemukan serigalanya."
"Serigala?" tanya Emma sambil menyerngit. "Serigala apa?"
"Dari mimpiku. Dia ingin aku mengingat semuanya."
Emma mengerjap beberapa kali. "Maaf, tadi kupikir kau sedang berbicara dengan metafora. Kau benar-benar berpikir kau tidak punya jantung?" Lalu ia menoleh padaku. "Rozzy, kau percaya ini?"
Aku menoleh pada Sheriff yang menatapku sedih, lalu aku menoleh lagi pada Emma. "Aku memeluk Sheriff tadi, Emma, dan, aku tidak bisa mendengar detak jantung di dadanya."
Sheriff mengangguk. "Itu satu-satunya yang menjelaskan kenapa aku tidak bisa merasakan apa-apa."
Kulihat Emma menghela berat. Ia menaruh telapak tangannya di dada Sheriff. "Lihat? Itu berdetak. Itu nyata," katanya lembut. Lalu Emma mengambil satu tangan Sheriff yang tidak menggandengku, ditaruhnya pada dada itu. "Kau rasakan itu? Itu jantungmu." Sheriff menggeleng, jadi Emma dengan frustasi menarik satu tanganku, menggantikan tangan Sheriff di dada itu. "Bantu aku, Roz, aku merasakan detaknya juga, kan?"
Telapak tanganku ada di dada Sheriff, tidak ada detak apa-apa. Benar-benar tidak ada. Itu membuatku menyerngit. Kalau Emma bisa merasakan detaknya tadi, kenapa aku tidak? Lalu aku baru kepikiran—
"—Emma, kau tidak percaya tentang kutukan itu, kan?" tanyaku. Emma menyerngit. "Kau tidak percaya, makanya kau bisa merasakan detak palsu. Aku dan Sheriff percaya tentang kutukan itu, makanya kami tidak bisa merasakan detak jantung di dadanya."
Emma mengerjap. "Kau tidak mungkin percaya bawa itu nyata, kan?" Tapi kemudian ekspresinya berubah, ia tidak melihat pada kami, tapi pada apa yang ada di belakang kami.
Aku menoleh dan memekik pelan. Itu serigala—harusnya tidak ada serigala di Storybrooke, kan? Kecuali, eh, Ruby yang berubah menjadi serigala, tapi itu tidak mungkin karena di sini ia hanya manusia biasa, kan? Berarti itukah serigala yang disebut-sebut Sheriff?
Sambil terus menggandengku, Sheriff mulai berlari mengejar serigala yang beranjak menuju hutan. Aku tahu pria ini pasti buru-buru, jadi aku berusaha untuk bisa berlari cepat juga. Kulihat Emma juga ikut berlari dengan kami.
"Graham! Rozzy!" seru Emma. "Hati-hati!"
"Dia temanku, dia tidak akan melukai kita!" balas Sheriff.
Kuingat ini adalah bagian hutan yang sama dengan yang dulu ibu bawa aku saat ia ingin mendatangi peti ayahnya. Kami masih terus berlari masuk dipandu serigala. Lalu aku bisa melihat bangunan yang ada di gambar buku dongeng Henry. Serigala itu berhenti di depannya—ia benar-benar membawa kami kesini.
"Ini tempatnya?" tanya Sheriff sambil agak terengah.
Aku mengangguk cepat. "Ini, tapi aku tidak pernah melihat ke dalam sana."
Sheriff mengangguk juga, lalu ia menggandengku untuk mendekat ke pintu.
"Berhenti, berhenti!" sergah Emma.
"Aku harus masuk ke sana—"
"Graham, ayolah! Kau benar-benar berpikir jantungmu ada disana?" Sheriff mengangguk. Emma menghela. "Oke."
Emma memegang gagang pintu dan berusaha membukanya, tapi tidak bisa. Itu terkunci. Pada akhirnya wanita ini menendang pintu sampai terbuka. Sheriff langsung membawaku masuk. Ia melepaskan tangannya dariku dan mulai mencari di sekitar dinding. Emma masuk juga dan melihat sekeliling. Kulihat memang ada peti bertuliskan Henry Mills di batu nisannya—berarti ia memberi nama Henry pada putra angkatnya berdasarkan nama ayah dari ibu.
"Pasti ada disini, di suatu tempat," kata Sheriff. Kuputuskan untuk mulai memeriksa barang-barang di dinding, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi tempat untuk menyimpan jantung manusia. "Pasti ada pintu rahasia, atau apa."
Kudengar helaan Emma. "Graham—hei, Graham, tidak ada apa-apa disini."
"Emma, kau bahkan tidak ikut mencari," desahku pelan sambil menaruh jambangan pada tempatnya lagi.
"Tepat," ujar Sheriff. "Pasti ada. Kalau tidak ada, maka—"
"—Tidak apa-apa," potong Emma. "Semuanya akan tidak apa-apa."
"Emma, Henry—"
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Deg.
Itu suara ibu, kan?
Aku langsung menoleh, melihat ibu sudah ada di depan bangunan. Dengan susah payah aku menelan ludah. Spontan aku menoleh pada Sheriff yang sudah pucat. Akhirnya kami memutuskan untuk keluar juga dari sini. Yah, lagipula mana bisa kabur, kan?
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Emma. Ah, ya, Emma memang tidak kuberitahu tentang ibu yang biasa membawa bunga untuk ayahnya setiap hari ... Rabu. Rabu. Astaga, hari ini hari Rabu, kan?
"Membawakan bunga ke kuburan ayahku seperti yang kulakukan tiap Rabu," jawab ibu lalu ia mendelik padaku. "Kau juga tahu, kan, Rose? Tentu kau ingat aku melarangmu masuk ke sana karena tempat itu gelap dan kau selalu takut gelap."
Dengan ragu aku mengangguk.
"Jangan salahkan Rosalindt, ini salahku," kata Sheriff. "Aku yang mau kesini."
"Benarkah?" tanya ibu, kembali mendelik pada Sheriff. "Kenapa? Apa yang kau cari?"
"Tidak ada," jawab Sheriff, mungkin terlalu cepat. "Itu ... uh, tidak penting."
Ibu mendekat pada Sheriff. "Kau tidak terlihat sehat, ayo kuantar kau pulang, kau juga Rose."
Dan untuk pertama kalinya aku melihat Sheriff menepis tangan ibu. "Regina, aku—aku tidak mau pulang ke rumah, tidak denganmu."
"Tapi kau mau dengan mereka."
"Hei, ini antara kalian berdua, jangan sangkutpautkan aku dan Rozzy," sahut Emma. Kalau ini bukan ibu yang sedang, mungkin, marah, aku pasti akan memutar bola mataku dan menyuruh ibu kandung Henry ini untuk jangan bicara.
"Dia benar—ini antara kita, dan banyak hal harus diubah," kata Sheriff.
"Dan aku penasaran kenapa tiba-tiba begitu," ujar ibu datar, dengan tersenyum dingin. Aku langsung merinding dan rasanya ingin menangis. Terakhir kali aku melihat ibu seperti ini adalah saat nilai sejarahku di rapor dapat C. Dan, oh, aku tahu, permasalahan kali ini jauh lebih berat dari sekedar nilai merah di rapor.
"Tidak ada hubungannya dengan mereka," ujar Sheriff. "Kau tahu, aku sadar bahwa aku tidak merasakan apa-apa, Regina. Dan aku tahu sekarang masalahnya bukan aku—kamu."
Ibu mengangguk kecil. "Jadi kau tinggalkan aku untuk Rose?" Itu dia, namaku tersebut juga.
"Aku meninggalkanmu demi diriku," ucap Sheriff mantap.
"Graham, kau tidak berpikir jernih—"
"—Sebenarnya, untuk pertama kalinya, aku berpikir jernih," bantah pria itu. "Aku perlu merasakan sesuatu, Regina, dan satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan memberi diriku sendiri kesempatan."
"Graham—"
"—Maafkan aku, semua sudah berakhir," potong Sheriff lagi.
Ibu mendelik pada Emma. "Aku tidak tahu apa yang pernah kulakukan padamu, Miss Swan, untuk menerima ini. Sejak kau datang, anak-anakku jadi berubah. Kau selalu datang untuk membuat semua yang kupunya pergi."
Aku agak menyerngit. Kenapa ibu malah menyalahkan Emma? Maksudku, kalau pun ibu ingin menyalahkan seseorang, kupikir harusnya itu aku. Memang bukannya aku merebut Sheriff dari ibu, tapi pria ini memilihku, jadi kenapa ibu menyalahkan Emma?
"Sudah kubilang, ini bukan tentang dia," sergah Sheriff.
"Tidak ada yang terjadi sampai dia datang kesini!"
"Maafkan aku, pernahkah kau berhenti berpikir bahwa masalahnya mungkin bukan padaku atau siapa-siapa, tapi padamu?" tanya Emma.
"Maaf?" Jangankan ibu, aku juga bingung.
"Henry datang dan menemukanku," ucap Emma. Lalu ia meremas pelan bahuku. "Graham mencium Rozzy."
Aku termegap pelan. "Emma—"
"Oh, ya, aku tidak sengaja lihat tadi lewat jendela sebelum kalian keluar," kata Emma sambil tersenyum kecil, lalu ia menoleh pada ibu lagi. "Keduanya frustasi. Mungkin, ibu walikota, kau perlu melihat dengan jelas di cermin dan tanya sendiri kenapa setiap orang lari darimu."
Ibu menghampiri Emma, yang ada di sampingku, dengan cepat. Aku bisa melihat kepalan kedua tangannya. Lebih lagi, saat sudah sangat dekat dengan kami, aku bisa melihat ia mulai mengayunkan kepalannya. Itu mengarah pada Emma, dan aku berhasil melindunginya, mungkin.
Aku langsung terhuyung karena menerima tonjokan keras ibu. Emma berhasil menangkapku sebelum terjatuh ke tanah, lalu aku bisa mendengar seruan Sheriff.
"Aku—aku tidak apa," cicitku, dan sebenarnya kuyakin pipi ini akan memar dan—eh, aku bisa merasakan darah di mulutku.
Emma melepaskan tangannya dariku dan menerjang ibu.
"Emma—Emma, jangan!" pekikku.
"Regina!" seru Sheriff. "Jangan—hentikan! Hentikan!"
Adegan tonjok-menonjok antara Emma dan ibu terhenti ketika Sheriff berhasil menahan Emma yang mau menghajar ibu yang sudah terjatuh ke tanah. Emma melepaskan diri dari Sheriff dan melangkah padaku.
"Tidak berharga," gumamnya pelan, tapi masih bisa kudengar.
"Rose—Rosalindt, kau dihukum malam ini." Itu suara ibu.
Emma langsung berbalik badan pada ibu lagi. "Kau menonjoknya, dan dia masih dihukum? Ibu walikota, kaulah yang harus dihukum!"
Sheriff berjalan cepat ke arahku. Rasa panas dan dinign yang bersamaan itu bisa kurasakan saat tangannya memegang lembut lenganku. "Hei, kuobati lukamu, ya?"
Aku menoleh pada ibu yang sudah bangun, lalu pada Emma yang mengangguk. Jadi aku mengangguk juga.
.
.
Sesekali aku meringis kecil saat Sheriff mengusapkan kapas pada pipiku yang memar. Dan tiap kali aku meringis itu, ia akan langsung mengucapkan maaf pelan. Tapi ia masih mengusap lagi, sampai akhirnya ia melempar kapas itu ke tempat sampah.
"Sudah selesai," gumamnya sambil tersenyum kecil.
"Terimakasih," kataku, balas tersenyum.
Sheriff mengusap pelan pipiku, yang tidak memar, dengan ibu jarinya. Kuberanikan diri untuk menatapnya, dan ternyata ia pun juga sedang menatapku. Ia menatapku dalam-dalam, dan aku terasa hanyut dalam tatapannya. Itu terhenti ketika aku mendengar dehaman dari Emma.
"Aku, yah, aku akan keluar duluan," ujar wanita itu. Uh, aku benar-benar lupa dia ada di kantor Sheriff dengan kami.
Aku menggigit bibir dan menoleh padanya, dibalas cengiran Emma dan setelahnya ia langsung keluar, membuatku benar-benar hanya berdua saja dengan Sheriff. Dan ketika aku menoleh pada pria ini lagi, ia langsung menangkap bibirku dengan bibirnya. Terkejut? Sudah pasti. Tapi kali ini ... aku membalas ciumannya, dan bisa kurasakan ia tersenyum.
"Aku masih penasaran sebenarnya, tentang jantungku," gumam Sheriff. "Tanpa itu, aku tahu ada yang kurang. Tapi kau ada disini denganku saat ini, dan itu cukup."
Dengan tersipu aku tersenyum. Kemudian aku terhanyut lagi dengan usapan ibu jarinya pada pipiku.
"Rosalindt, aku mencintaimu," ujarnya, dan ia melanjutkan lagi dengan lebih yakin dan tegas, "aku tahu bahwa aku mencintaimu, dan ini nyata."
Mataku terasa panas, pipiku menghangat, dadaku terasa sesak. Lebih dari ini aku bisa menangis. Tidak pernah aku merasakan ini sebelumnya, tidak ada yang pernah membuatku begini. Hanya Sheriff Graham.
Yang kulakukan selanjutnya sudah pasti membuatnya terkejut. Sebab jangankan dia, aku pun terkejut juga dengan aksiku sendiri. Aku berjinjit dan menciumnya. Sempat mematung sedetik, tetapi kemudian ia membalas ciumanku lebih dalam sambil memeluk pinggangku. Setelahnya ia melepaskan mulutnya dariku, kupikir ia akan mengatakan sesuatu, tapi aku salah, ia malah mengecup kecil-kecil dagu dan rahangku dan terus sampai ke leherku.
Sensasi geli meliputiku, terutama saat Sheriff mulai mengisap dan menggigit kecil leherku. Aku memekik dan mengerang pelan sesekali, lalu ia mengangkat tubuhku, membuatku duduk di atas meja. Sudah aku duduk disana, Sheriff baru menyingkir dari leherku. Aku berani bertaruh wajahku sudah sangat merah sekarang.
Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Aku memaksakan diri menatap dirinya, dan kudapati ia tersenyum bahagia. Lalu Sheriff mencium bibirku lagi. Hanya sebentar, karena tiba-tiba ia menarik diri dariku.
"Sheriff?" gumamku bingung.
Sheriff mengerjap. "A-aku ingat."
"Ingat apa?"
"Semuanya."
"Enchanted Forest?" tanyaku memastikan.
Ia mengangguk. "Aku memang Pemburu."
"Oh," gumamku. "D-dan ibuku—"
"—Ia menyimpan jantungku, ia menariknya keluar dari dadaku," katanya. "Rosalindt, dengar—oh, sebentar."
Aku mengerjap bingung. Kulihat ia beranjak dari hadapanku, memutar kunci pada salah satu rak dan meraih sesuatu dari sana. Kemudian ia datang ke hadapanku lagi, memamerkan kotak kecil warna merah marun. Kuteguk ludah susah payah dan mataku membulat.
"Sh-Sheriff—"
"Ingat terakhir kali kau ulangtahun, di mobilku, kubilang aku ingin memberimu sesuatu tapi aku tidak yakin?" tanya Sheriff. Aku mengangguk pelan, lalu ia membuka kotak itu. Ada cincin kupu-kupu di dalamnya. Lalu kudengar ia terkekeh pelan. "Tenang, aku tidak melamarmu, belum. Aku hanya, yah, ingin kau memiliki ini. Ini menjadi janji bahwa aku akan berusaha menjagamu."
"Sheriff ... "
"Dengar, Rosalindt. Evil Queen menyimpan jantungku. Apa pun yang terjadi setelah ini, ingatlah bahwa aku mencintaimu." Bagus, sekarang air mataku mulai menetes. Kurasakan Sheriff mengecup keningku. "Tapi jika, hanya jika, kita berhasil melalui ini semua dengan selamat, aku ingin kau keluar dari rumah itu dan tinggal denganku. Jika kau mau."
Sambil agak terisak aku mengangguk. "Aku mau."
Sheriff tersenyum. "Boleh aku?" tanyanya sambil menunjuk jariku dengan dagunya. Aku mengangguk lagi dan ia mengambil tangan kiriku, mengenakan cincin kupu-kupu itu pada jari manisku.
Baru aku akan mengatakan terimakasih, kotak cincin dari tangan Sheriff terjatuh, dan pria itu meringis. Aku memekik dan memanggilnya. Dicengkeramnya baju di sebelah dada kiri. Dada sebelah kiri, itu letak jantung, kan? Jantung Sheriff tidak ada pada dadanya, jadi kenapa dengannya sekarang? Sheriff terjatuh dan mengerang kesakitan, aku segera menghampirinya di lantai, memegang tangannya dengan cemas dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain memanggil-manggil dirinya.
Telingaku terasa mendengung ketika Sheriff tidak lagi meronta kesakitan, ketika ia tidak mengerang lagi, ketika tangannya terjatuh dari dadanya. Lalu tangisku pecah sejadi-jadinya.
"Aku mendengar teriakan—Rozzy, apa yang terjadi?!" pekik Emma yang berlari masuk.
"Emma—Emma—"
Dengan cepat Emma berusaha memberi nafas buatan dan memompa dada Sheriff, tidak ada yang terjadi. "Dia sudah pergi ... "
Wanita ini meninggalkan sisi Sheriff, lalu memelukku.
.
.
Sheriff Graham pernah bilang bahwa akan ada hal baik setelah hujan selesai. Tapi bagaimana jika hujan itu tak kunjung berhenti?
.
.
SELESAI BAGIAN SATU
.
.
