Disclaimer © GUNDAM SEED / DESTINY by sunrise

Warning: Segala bentuk warning ada di sini(?) -.-'' Don't like Don't read... Simple kan :)


enjoy it...

"Jangan tinggalkan aku..."

Satu kalimat itu pernah terucap dariku untuknya. Sebuah kalimat yang harusnya kulontarkan untuk gadis yang kucintai.

"Kumohon, tetaplah di sini. Di sisiku..."

Tapi sepertinya aku salah. Aku tak sadar... Dan aku tidak bisa menerimanya!

"Aku mencintaimu..."

Menerima fakta jika gadis yang aku cintai telah pergi selamanya. Aku seakan tenggelam dalam depresiku. Menerima kenyataan pahit itu, membuatku ingin membunuh diriku sendiri. Tapi...andai saja aku tahu bila akan ada masa depan yang lebih menyakitkan datang menghampiri... Akan lebih baik jika aku menerima, kematian gadisku lebih awal. Karena keterlambatanku dalam menyadari kenyataan pahit ini telah menuai begitu banyak kesedihan.

"Hentikan... Shinn..."

Aku telah menyakitinya.


OUR LITTLE ANGEL

.

.

BY. PANDAMWUCHAN

CHAPTER 10


Shinn terdiam melihat wajah Cagalli yang sudah berlinangan air mata. Ya Tuhan, aku benar-benar jahat, batinnya. Memandang wajah Cagalli yang seperti ini membuat Shinn begitu merasa bersalah.

"Cagalli," panggil Shinn dengan pelan sembari memulai langkahnya untuk mendekat ke arah Cagalli. Namun...

BRUK!

Secara mendadak tubuh Shinn terpental saat seseorang baru saja memukul pipinya. Shinn yang terjatuh itu menundukkan wajah sejenak. Ia mulai menengadahkan kepalanya, dan memandang apa yang sudah terjadi. Tepat di hadapannya, seorang pria berdiri dengan tangan terkepal serta raut wajah yang penuh amarah.

"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI!?"

Teriakan dari pria itu sontak membuat suasana semakin menegang. Pandangan matanya yang tajam, memandang pria berambut hitam yang terduduk di hadapannya dengan penuh kebencian.

Kira sudah akan maju untuk menghampiri Athrun, ia ingin menenangkannya, terlebih saat Athrun lagi-lagi terlihat ingin menghajar Shinn. Tapi...

"Hentikan, ayah!"

Leona yang berdiri di ambang pintu bersama Lacus, langsung berlari menghampiri Shinn yang terduduk itu. Leona lalu menatap Athrun dengan penuh air mata, dan ia berdiri dengan merentangkan kedua tangannya.

"Jangan pukul papa Shinn lagi."

Guratan kemarahan semakin mencuat pada diri Athrun, kala mendengar Leona memanggil Shinn dengan sebutan papa.

"Apa!" geram Athrun yang bersiap untuk menghampiri Leona.

"Hentikan!"

Semua mata tertuju pada Cagalli yang akhirnya angkat suara melihat kejadian ini. Cagalli tak pernah menyangka jika kehadiran Shinn membuat amarah Athrun memuncak, walaupun ia sebenarnya juga memendam amarah terhadap Shinn.

"Cukup, Athrun!" lirih Cagalli yang terus saja menangis.

Melihat hal itu, dengan sekejap Athrun pun beralih pada Cagalli, menghampirinya dan memeluknya erat, tak lupa dikecup-kecupnya puncak kepala Cagalli.

"Cagalli." Suara Athrun bergetar.

Melihat Athrun yang sudah beralih pada Cagalli, membuat Kira memutuskan untuk menghampiri Shinn yang masih terduduk dengan wajah yang shock.

"Shinn." Kira mengulurkan tangannya pada Shinn.

Shinn yang melihat pun menyambut uluran tangan Kira. Ia berdiri dan memandang Athrun memeluk erat Cagalli. Tapi, ia tak akan bisa berada di dalam ruangan ini lebih lama lagi. Karena Kira telah membawanya pergi menuju keluar bersamaan dengan Lacus dan Leona, meninggalkan Athrun dan Cagalli berdua.

( _ )

"Jangan bergerak," ucap Kira yang mengobati memar di pipi kanan Shinn.

Shinn hanya terdiam, walau sesekali terdengar suara lenguhan dari bibirnya, karena rasa sakit yang diterimanya. Matanya sibuk menatap Leona yang duduk di bangku panjang yang ada di taman rumah sakit, tepat 5 meter dari posisinya yang juga duduk di bangku bersama Kira.

Wajahnya lalu menunduk, saat ia merasa jika Kira sudah selesai menangani memar di pipinya. Sorot matanya langsung sayu, menatap ke bawah. Ada yang ia pikirkan saat ini.

"Aku yakin jika saat ini kau sedang memikirkan mereka."

Shinn spontan menatap Kira, lalu kembali menundukkan wajahnya, "Mm," angguknya pelan.

Kira pun menyandarkan tubuhnya di bangku dan menatap dua orang gadis yang berada jauh di sana.

"Kau merasa bingung dengan kejadian ini?" tanya Kira.

Shinn menggeleng, "Tidak... Hanya saja, aku tak akan menyangka jika Athrun sangat membenciku. Tapi itu wajar, karena aku sudah menyentuh seseorang yang sangat ia kasihi."

"Shinn," Kira menyentuh pundak Shinn secara perlahan, "Ada satu hal lagi yang membuat Athrun begitu sangat marah," Kira memandang Leona.

Shinn yang menatap Kira jadi ikut mengalihkan pandangannya ke arah Leona.

"Ini tentang Leona."

"Maksudmu?"

Kira mengalihkan wajahnya yang sudah menunjukkan raut wajah yang begitu sedih... "Sebenarnya..."

(╯︵╰,)

Athrun yang sedari tadi memeluk Cagalli akhirnya melepaskan pelukannya. Ditatapinya wajah Cagalli yang masih saja meneteskan air mata. Dikecupnya perlahan kening Cagalli, kemudian dihapusnya air mata yang membekas di pipi Cagalli.

Cagalli menatapnya dengan penuh kesedihan, ditundukkannya wajahnya. Ada rasa takut bila ia memandang wajah Athrun. Dengan sedikit gemetar, ia menggenggam balik tangan Athrun yang sudah menggenggam erat tangannya.

"Maaf," ucap Cagalli dengan pelan.

"Maaf, Athrun," lirihnya lagi yang kemudian melepaskan genggaman tangan Athrun darinya. Ia tahu, ada sesuatu hal yang harus ia bicarakan terlebih dahulu sebelum ia mengungkit kejadian yang terjadi barusan.

"Aku... Maaf, Athrun," lirihnya yang masih saja menunduk.

Athrun diam dan menatap Cagalli dengan pandangan lembut. Tapi raut wajah Athrun seketika berubah menjadi sangat pilu, saat ia melihat Cagalli yang mulai memegangi perutnya, yang tentunya membuat air mata Athrun tak dapat lagi ia bendung. Direngkuhnya tubuh Cagalli, saat Cagalli kembali terisak.

"Maaf..."

Berulang kali kata itu terlontar dari bibir Cagalli. Membuat Athrun semakin mengeratkan pelukannya dan membelai lembut rambut Cagalli. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Athrun, melainkan hanya butiran air mata yang terus saja mengalir dari kedua matanya. Saat ini tak ada satu kata pun yang bisa mewakili perasaannya. Hanya air mata... Ya, air mata.

(;_・)

Lacus tak henti-hentinya membelai-belai lembut rambut Leona yang kini tengah bersandar di sampingnya. Tangan mungil Leona terlihat sedang memegangi perut buncitnya dengan perlahan. Sudah beberapa menit mereka berdua berdiam diri seperti ini tanpa ada pembicaraan, tapi,

"Bibi," suara lembut Leona memecah heningnya suasana di antara mereka.

Leona lalu mengambil jarak beberapa centi dari Lacus. Ia memandang bibi tersayangnya itu, "Mengapa ayah memukul papa Shinn?"

Mata Lacus membulat, pertanyaan yang terlontar dari Leona mampu membuatnya diam seribu bahasa.

"Dan apa yang sudah terjadi pada ibu? Mengapa ibu bisa berada di sini? Apa ibu sakit karena Leona pergi dari rumah? Apa Leona sudah membuat ayah dan ibu menjadi sedih? Tapi, bukankah ayah dan ibu tidak menginginkan Leona. Mereka bertengkar karena Leona. Apa salah Leona?"

Lacus membelai-belai kembali kepala Leona. Senyum kesedihan terpancar dari wajah cantiknya yang menatap Leona dengan penuh rasa iba. Lacus mengerti dengan keadaan Leona yang begitu merasa tertekan dan sakit. Tuhan, mengapa anak sekecil ini harus merasakan pahitnya hidup?

"Mengapa tidak Leona tanyakan saja langsung pada ayah dan ibu?"

Leona menggeleng, "Leona takut."

Lacus menarik tangan Leona agar gadis kecil ini mendekat padanya, "Tidak ada yang perlu ditakutkan, sayang. Bibi yakin jika ayah dan ibu mampu menjawab semua yang kau tanyakan. Lagipula, Leona kangen dengan ayah dan ibu 'kan?"

(╯︵╰,)

Mata yang membulat sempurna, mulut yang terbuka tanpa kata, dan keringat yang mengucur deras di pelipis, mampu menjelaskan jika saat ini Shinn Asuka telah dilanda rasa shock yang luar biasa. Bagaimana tidak? Ia yang baru saja tiba, maksudnya baru saja bertemu dengan semua kawan lamanya dalam satu tempat, harus menerima pahitnya kenyataan. Iris yang senada dengan warna darah itu lalu melirik ke depan, memandangi seorang gadis kecil yang berada dalam pelukan salah satu sahabat pink-nya.

Ia sempat termenung untuk beberapa saat, dan kembali sadar saat ia melihat dua sosok yang berada di depan sana berdiri dari tempatnya dan beranjak pergi memasuki gedung Rumah Sakit.

"Kira," panggilnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kira.

"Katakan jika apa yang kudengar ini hanyalah sebuah kebohongan."

Kira menunduk dan memasang ekspresi wajah yang sangat sulit untuk diartikan. Entah sedih, marah, atau bimbang. Semua ekspresi itu tercampur aduk.

"Itu benar, Shinn. Leona adalah putrimu dengan Cagalli."

Mendengar itu, kontan membuat Shinn segera menunduk dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia membulatkan kedua matanya dan terisak. Bersyukur di taman itu hanya ada dirinya dan Kira, sehingga tak akan ada orang lain yang melihat dirinya menangis. Tapi, apa yang membuatnya begitu histeris? Yang jelas, itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

.

.

.

Kira segera merangkul pundak Shinn begitu ia mendengar Shinn terisak. Ditepuk-tepuknya punggung Shinn yang sudah bergetar hebat. Lagi-lagi Kira memasang raut wajah sedih. Ia mengerti mengapa Shinn menangis. Shinn begitu menyesali perbuatannya sampai-sampai ia menangis pilu, karena tak tahu lagi harus seperti apa.

"Ma-maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu. Aku merasa sangat menyesal. Kini aku tahu mengapa Athrun dan Cagalli sangat membenciku."

"Shinn."

"Aku sangat menyedihkan."

(=;ェ;=)

Athrun terdiam memandangi wajah Cagalli yang sudah kembali memejamkan kedua matanya untuk masuk ke alam mimpinya. Tangan besarnya dengan setia membelai dan mengelus kepala Cagalli. Matanya menampakkan sebuah kehampaan. Tak ada senyum yang terukir, hanya ada ekspresi datar.

"Athrun."

Athrun melirik ke belakang dan melihat Lacus yang sudah berdiri di ambang pintu. Tampak seorang gadis kecil tengah berlindung di balik tubuh Lacus. Athrun tahu, pastilah itu Leona, putri tercintanya.

Lacus menoleh ke belakang dan terlihat seperti memberi isyarat pada seorang anak kecil yang berlindung di belakang tubuhnya untuk segera keluar dan menghampiri Athrun.

"Ayo, Leona, tak apa," bisik Lacus yang tersenyum pada Leona.

Gadis kecil berambut hitam itu memandangnya dengan pandangan yang sedikit lusuh, mengangguk perlahan dan mulai memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan.

Tep...

Langkahnya terhenti, melihat pria itu, ayahnya yang sedang duduk di dekat ibunya yang terbaring di atas ranjang, ia pun bisa melihat tangan ayahnya yang tak pernah lepas untuk membelai lembut kepala ibunya. Apakah mereka sudah berbaikan? Batinnya mencoba untuk berkompromi. Ia tahu jika hari itu orang tuanya bertengkar memperdebatkan tentang dirinya. Ia tahu keberadaannya terasa begitu salah. Tapi...

"Ayah." Air matanya menetes melihat ayahnya sudah mengulurkan sebelah tangannya untuknya.

Tep...

Secara pelan namun pasti, langkah kecilnya telah membawanya ke dalam pelukan ayahnya. Hangat, pelukan yang sungguh hangat. Leona lalu menengadahkan kepalanya. Ada sesuatu yang terbesit di benaknya ketika melihat wajah sang ayah.

"Mengapa ayah tidak tersenyum?"

Athrun mempererat rengkuhannya pada Leona. Memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya perlahan. "Maaf, untuk saat ini. Ayah belum bisa tersenyum."

Leona sekejap membalas pelukan erat yang diberikan Athrun, "Ayah."

Lacus menangis melihat moment yang terjadi di depan matanya. Air matanya menetes karena ia begitu tak kuasa membendung perasaan sedih yang sedari tadi ada di hatinya. Dalam batinnya, ia berharap jika semua ini akan cepat berakhir.

Berakhir dengan baik tentunya.

(T_T)

"Jadi, apa yang ingin kau lakukan?"

Shinn yang awalnya termenung, tiba-tiba tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah Kira. Kepalanya menggeleng perlahan, lalu kembali menunduk. Hal ini tentu saja membuat Kira sedikit gusar. Semenjak ia menceritakan semua yang telah terjadi, Shinn hanya memberikan respon yang begitu mengkhawatirkan.

Begitu pun dengan Shinn yang sebenarnya merasa sangat tak nyaman dengan kondisi seperti ini. Begitu banyak kenyataan pahit yang ia dengar. Mengenai Cagalli yang telah melahirkan anaknya, Leona, dan Athrun yang bersedia bertanggung jawab untuk menjadi ayah Leona.

"Jika saja, aku tidak pergi waktu itu. Apa hal ini akan terjadi?"

Kira menunduk mendengar ucapan Shinn.

"Dan jika saja aku tidak kembali ke sini saat ini. Apa hal ini juga akan terjadi?"

Shinn memandang kelopak bunga yang berjatuhan diterpa angin, "Begitu banyak yang terbesit di benakku."

"Shinn."

"Entah keputusan yang akan aku buat ini akan menyakiti semua atau tidak. Tapi," Shinn memandang Kira dengan pandangan yang sangat serius. "Aku akan mengakhiri semua ini."

"..."

"Aku akan membawa Leona bersamaku."

(TAT)

Lacus membuka jaket yang ada di tubuhnya dan melilitkannya ke tubuh Leona yang sudah tertidur di atas sofa yang ada di dalam ruang perawatan Cagalli. Dibelainya secara perlahan rambut hitam Leona. Ia lalu menatap Athrun yang menggenggam erat tangan Cagalli. Senyum kesedihan terpancar dari wajah manis Lacus. Hh, moment bahagia yang terjadi di antara Athrun dan Leona membuatnya senang. Melihat mereka berbagi pelukan hangat, walau hanya sebentar tapi sudah cukup menenangkan hati Leona, meski ada satu hati yang masih membeku.

"Sepertinya, Leona sangat senang bisa bertemu denganmu lagi Athrun." Lacus membelai lembut kepala Leona.

Lima menit berlalu, Lacus tak juga mendengar suara Athrun. Athrun hanya diam menunduk dan memegangi tangan Cagalli. Tentu saja Lacus menjadi murung kembali melihat sikap Athrun.

"Athrun-"

"Apa Kira masih berada di sini?"

Lacus tersentak saat mendengar Athrun yang menanyakan keberadaan Kira secara tiba-tiba. Ia menegak liurnya dengan perasaan yang gundah. "Hm, sepertinya begitu. Ada apa?" tanyanya dengan ragu.

Athrun mengalihkan pandangannya ke arah Cagalli. Sorot matanya nampak kosong, namun ada aura ketegasan yang terpancar dari wajahnya.

"Aku ingin menyampaikan permohonan Cagalli padanya."


TBC


ini pertama kalinya... panda :'D /in tears/ saat buat chap ini...

maaf membuat kalian menunggu lama. Fic lain akan diupdet segera (mungkin) :3

special thanks to : ojou rizky, cyaaz, mufylin, popcaga, aeni hibiki, setsuko mizuka, miliuna rash, nelshafeena athha zala, fuyu aki, tisaa, lezala, ffion.

Dan juga, makasih banget buat silent reader yang sudah menyempatkan diri untuk membaca OLA :)

see you next time...