Update marathon lagi yaaaa...hehehe
By the way, terimakasih sudah baca, trafficnya langsung naik begitu diupdate kemarin :)
Chapter 10
Karena kecerobohan Zach, kami harus mengumpulkan makanan pagi itu. Tidak banyak yang bisa di cari dan kami tidak mau mengambil resiko dengan masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Karena peserta yang tersisa tinggal sedikit, hutan bisa jadi tempat persembunyian yang baik untuk mengincar kami.
Aku berhasil membunuh seekor kelinci setelah pisauku menancap di jantungnya. Cato mengumpulkan buah beri di sekitar danau dan menebas seekor kalkun hutan yang melintas. Kami mulai membagi makanan, memasak daging kelinci dan kalkun, kami sepakat untuk menyimpan daging kalkun untuk besok, dan makan buah beri untuk makan malam.
Tidak ada yang tewas hari itu. Mungkin para peserta lebih berhati-hati sekarang. Cato membuka bungkusan buah beri dan aku meneteskan iodine yang kutemukan di sisa-sisa ledakan persediaan kami di botol yang terisi air danau. Aku menatap Cato yang mengambil segenggam beri dan dan meremukkannya. Aku pernah melihat beri berwarna ungu gelap itu saat latihan bertahan hidup. Termasuk salah satu beri beracun yang mematikan. Nightlock.
"Jangan, Cato!" aku menampar tangan Cato yang merah karena sari buah beri dan menyuci tangannya dengan sebotol air.
"Kenapa?" Cato mengeringkan tangan dengan jaketnya dalam bingung.
"Itu nightlock! Kau bisa mati begitu sarinya menyentuh lidahmu!" suaraku terdengar begitu kecil, seperti mencicit, lalu aku berbalik dan menyeka air mataku dengan lengan jaketku yang baunya sudah tidak karuan. Bau darah, keringat, dan lumpur.
"Clove, aku minta maaf." Cato mencengkeram bahuku dan berusaha menenangkanku. Aku terisak, "Aku tidak mau kau mati, Cato. Kita harus pulang bersama."
"Kita akan pulang, Clove. Aku janji."
"Perhatian, para peserta." Suara Claudius bergaung diantara suara jangkrik dan burung hantu, "Akan ada pesta besok pagi di Cornucopia. Masing-masing dari kalian membutuhkan sesuatu yang amat kalian dambakan."
Cato dan aku berpandangan. Ya, kami memang butuh sesuatu yang sangat penting. Kami butuh makanan. Semua persediaan kami sudah meledak dan tak ada satupun dari kami yang tau caranya berburu, kelinci dan kalkun yang kami punya adalah binatang malang yang sedang sial bertemu kami.
"Kau sembunyi dan aku yang akan mengambil makanannya."
Aku menggeleng, "Tidak, Cato. Pasti besok Katniss yang akan datang. Peeta pincang dan kurasa mereka tidak mau mengambil resiko. Kau yang bersembunyi, lindungi aku. Aku akan mengambil makanan kita dan menghadapi Katniss."
Cato tidak membantah. Ia pasti tau aku sudah menunggu saat ini, untuk berhadapan satu lawan satu dengan Katniss sekali lagi, menancapkan pisauku ke jantungnya dan melihat Peeta mati karena patah hati. Ia pasti sangat mencintai gadis itu sehingga menghianati kami, yang pasti akan memberinya kesempatan hidup lebih lama dan tanpa cacat jika dia tidak melakukannya.
Kami memutuskan untuk beristirahatdi tepi hutan dekat Cornucopia dan tidak menyalakan api. Saat keadaan mulai panas di Hunger Games, kesalahan kecil bisa membunuh kami. Aku tertidur di pelukan Cato, kami berbagi panas tubuh karena kantong tidurku ikut terbakar. Kuminta ia membangunkanku satu jam lagi, agar kami bisa bergantian berjaga.
"Clove, bangun. Sudah saatnya pesta."Cato berbisik dan mengguncang lembut tubuhku. Aku melihat bengkak dan garis merah di matanya, pasti ia tak tidur semalaman. Menjagaku.
"Kau seharusnya membangunkanku, Cato!"aku marah padanya, secara tidak langsung ia menghinaku, merasa aku tidak pantas menjaganya.
"Kau tidur lelap sekali, lagipula tubuhmu belum sehat betul."
"Aku tidak..." Cato meletakkan telunjuknya ke bibirku, ia menunjuk meja yang muncul di depan Cornucopia, ada empat ransel dengan ukuran yang berbeda. Ransel dengan nomor distrik kami yang paling besar. Aku membayangkan tumpukan makanan di dalamnya, membuat perutku keroncongan.
"Makanlah." Cato meletakkan potongan besar kalkun panggang ke tanganku. Aku mengunyah sarapanku sambil terus waspada menanti siapapun yang maju pertama mengambil ransel. Kami berusaha setenang mungkin, meskipun tubuh besar Cato membuatnya tetap bersuara walau hanya menginjak daun kering.
Gadis itu muncul entah darimana, berlari kencang dan menyambar ransel berangka 5 dan mengambil langkah seribu ke dalam hutan. Gadis berwajah tirus dengan rambut merah. Ia membuatku terpaku dengan kecepatannya berlari, dan cukup cerdas untuk mengambil kesempatan pertama. Karena setelahnya, aku yakin peserta lain akan lebih waspada. Menunggu siapa yang lari berikutnya dan menyerang.
Aku melihat semak di depan mulut Cornucopia bergerak, lalu gadis dengan busur berlari kencang ke arah ransel dengan nomor 12. Aku berlari menyambut Katniss, dengan pisau di tangan. Lariku mampu mengimbangi langkahnya yang lebar. Aku sangat dekat dengannya sekarang, dan ia tidak menyadari keberadaanku. Saat tangannya terulur untuk mengambil ranselnya, kulemparkan pisauku. Kusasar kepalanya dan aku tau sasaranku tidak meleset saat aku melihatnya jatuh terjengkang.
"Dimana kekasihmu?" aku menguncinya di tanah. Tubuhnya lebih besar dan lebih tinggi dariku. Tapi ia tidak berdaya setelah aku menahan tangan dan kakinya. Kukeluarkan pisauku, kujelajahi wajahnya dan memikirkan motif apa yang akan kuukir di sana.
"Oh, aku tau. Kau coba membantunya, ya? Manis sekali."
Katniss mencoba melepaskan kuncianku. Tapi ia hanya bisa menggeram marah padaku. Aku sangat menikmati ini, mempermainkannya sebelum mencabut nyawanya.
"Sayang sekali, kau tidak bisa menyelamatkan teman kecilmu. Siapa namanya? Ah ya, Rue." Katniss melotot tajam padaku, "Ya, Marvel yang membunuhnya, kan?" aku sendiri tidak yakin kalau Marvel pelakunya, tapi tidak mungkin Katniss, Peeta atau Thresh, sedangkan aku dan Cato ada di Cornucopia saat itu. Nafas Katniss semakin memburu, menguatkan kebenaran teoriku.
"Dan sekarang, giliranku membunuhmu." aku mengangkat pisauku, melihat ketakutan luar biasa di wajah Katniss. Lalu semuanya tejadi begitu cepat, aku terangkat ke udara dan wajah Katniss berubah menjadi wajah Thresh yang menatapku tajam. Aku melayang sekitar dua inchi di atas tanah, di genggaman tangan besar Thresh yang menahanku di dinding Cornucopia.
"Jadi kalian yang membunuhnya!"
Aku panik, ini di luar dugaanku. Kami tidak memperhitungkan Thresh. Sekarang akulah yang menghadapi kematian.
"Tidak. Bukan!" suaraku tercekat diantara jari-jari Thresh yang menekan leherku lebih kuat.
"Aku mendengarmu! Kau menyebutkan namanya! Rue!"
"Cato!" aku berteriak sekuat tenaga, aku merasakan oksigen semakin sulit mencapai paru-paru ku. Dari sudut mataku aku melihat Katniss berlari dengan ranselnya, sekali lagi aku kehilangan kesempatanku.
"Cato!"aku berteriak lebih keras, tidak ada tanda-tanda Cato datang menyelamatkanku.
"Panggil dia! Dan kubunuh kalian berdua di sini!"
Aku merasakan dinding logam Cornucopia menghantam kepalaku dengan keras. Pandanganku langsung kabur, kepalaku berdenyut. Cato tidak akan datang, pikirku. Dia tidak benar-benar ingin aku menang, tidak pernah berniat menjagaku. Semua yang dikatakannya, ciuman itu, hanya senjatanya untuk melemahkanku. Seharusnya aku tidak mempercayainya, seharusnya aku tidak mempercayai siapapun.
Aku meraskan Thresh menganyunkan tubuhku ke depan, ia akan menghantamkan kepalaku sekali lagi. Hidupku akan berakhir sekarang, aku menutup mata menyambut rasa sakit yang akan mengantarkanku pada kematian.
Suara tebasan pedang, dan cengkeraman tangan Thresh di leherku mengendur. Aku terbanting ke tanah, megap-megap mencari udara. Aku menatap langit yang buram dan aku mendengar tubuh seseorang bergedebuk jatuh. Meriam berbunyi, tapi aku belum mati. Meriam itu bukan untukku.
"C-C-Clove! Clove!" sayup-sayup kudengar suara berat milik Cato. Dia datang, pikirku. Pasti datang untuk membunuhku.
"Clove, tetaplah bersamaku! Clove!" aku mendengar suara Cato berubah parau.
"Clove! Clove!" teriakan Cato bergema di telingaku. Sebelum semua berubah gelap, sunyi.
