Secret Love
AkaKuro, slight AoKise
Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family
Rate T
Warning!:Brother!AkaKuro, incest, OOC, typo(s), unbeta-ed, AkaKuroFamily!AU, BL, yaoi, slash, OC, etc
Disclaimer
.
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
.
.
Story and OC © Kuhaku
Chapter 9 ; Our Heart
Tik! Tik! Tik!
Suara detik jam terdengar jelas. Tak ada suara lain yang menghalangi suaranya , karena memang ruangan besar itu sunyi, sepi. Tampak seorang pemuda sedang bergelung di dalam selimutnya, mencari setitik kehangatan bagi tubuhnya.
"Nmh.." erangan kecil lolos dari bibirnya. Ia menarik selimutnya hingga sebatas leher kemudian kembali melanjutkan tidurnya. Beberapa kali ia membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, ia tidak bisa kembali tidur. Pemuda itu pun bangun, ia duduk di atas tempat tidurnya. Pemuda bersurai biru pucat itu mengusap kedua matanya, ia kemudian mencari jam yang tergantung di dinding kamarnya. Pukul 3 pagi. Pemuda bernama Tetsuya itu mengerang kesal. Ia tidak bisa tidur, ada 'hal' yang mengganggu pikirannya dari kemarin.
Sejak ia berlari keluar dari ruangan itu, ia langsung kembali ke rumah dan tidur. Ia tidak bertemu dengan kakaknya lagi, ia takut. Ia takut, jika ia bertemu ia akan melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan.
Tetsuya mengacak surai birunya, sedikit kesal. Ia turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kedua kakinya menuju ke balkon kamar. Ia menyambar jaket yang tergantung di atas sofa kecil depan tempat tidurnya. Dengan cepat, ia menenakan jaket berwarna merah tua itu kemudian melangkahkan kaki menuju ke balkon kamar. Tetsuya menggeser pintu berwarna putih yang membatasi kamarnya dengan balkon. Angin dingin menyapanya begitu ia keluar, menapak ubin kasar pada balkon. Tak mempedulikan dinginnya angin dini hari, ia terus melangkah, mendekat ke pembatas balkon yang terbuat dari semen dan bercat putih. Ia menyandarkan tubuhnya pada pembatas itu, angin membelai wajahnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, menatap kota Tokyo yang masih diselimuti kabut.
"Seijuuro-kun.."
Tetsuya menolak menumpahkan air mata. Tak ada gunanya ia menangis. Semua terlambat, sudah terlalu terlambat. Kalau saja ia menyatakan perasaannya dari dulu, tentu.. tentu saja sekarang ia sedang bersama Seijuuro, menikmati waktu berdua bergelung di dalam selimut yang tebal dan hangat. Tetsuya menghela nafas. Kenapa.. kenapa dunia ini begitu tak adil padanya. Ia hanya ingin bahagia dengan orang yang ia cintai, itu saja.. tidak lebih. Mengapa takdir begitu kejam pada mereka? Begitu banyak kata 'mengapa' dalam benaknya. Mungkin ia akan selesai mengucapkan semua kata 'mengapa' itu beribu-ribu tahun lagi, atau mungkin bahkan tak akan selesai. Tetsuya menundukkan kepalanya, memandang jari manis tangan kirinya. Sebuah cincin perak dengan ukiran Akashi Seijuuro & Akashi Tetsuya tersemat di sana. Tetsuya mengangkat tangan kirinya, membuka jari-jarinya dan mengangkatnya ke langit. Manik biru itu terus memandang cincin perak di jari manisnya.
Memori ketika kakaknya menyatakan perasaan kemarin, terus menerus berputar di otaknya. Ia tak menyangka kakaknya akan punya perasaan yang sama dengannya. Tetsuya sekali lagi memandang kota Tokyo dari atas balkonnya, ia kemudian membalikkan tubuhnya dan berlalu. Tetsuya melangkahkan kakinya, menuju ke kamarnya. Ia mulai kedinginan. Perlahan, Tetsuya menutup pintu balkon berkusen putih itu, menimbulkan sedikit suara berderit yang memekakkan telinga. Tetsuya kembali ke tempat tidurnya, menghangatkan tubuh di balik selimut tebal nan hangat miliknya.
Pemuda itu duduk dalam diam. Kantung mata hitam jelas terlihat di bawah mata indahnya. Sejak semalam ia tidak bisa tidur, ia hanya melamun sambil bergelung di balik selimut tebalnya. Pandangan matanya kosong. Ia melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Pukul 4 pagi. Ia mengalihkan pandangannya, menatap kotak kecil yang ada di genggaman tangannya. Perlahan, dengan ibu jarinya ia mengelus tutup kotak itu. Pemuda bersurai merah itu membuka tutup kotaknya, mengeluarkan sebuah cincin perak yang digantung pada sebuah rantai. Ia mensejajarkan cincin itu dengan pandangan matanya, sedang cincin yang tergantung itu berputar sedikit pada rantainya. Pemuda bernama Seijuuro itu membuka kait rantainya, perlahan memasang kalung itu pada leher jenjangnya. Setelah terpasang, ia melepas tangannya kemudian sedikit menunduk, memperhatikan cincin perak yang berkilauan terkena cahaya.
"Tetsuya.. kenapa.."
Perlahan, ia dekatkan cincin itu pada bibirnya. Ia kecup cincin perak pemberian adiknya, pemberian orang yang ia cintai. Seijuuro tersenyum pahit. Kali ini, ia mempertanyakan keabsolutannya, apakah.. ini benar? Apakah ini yang seharusnya ia lakukan? Apa ia bahagia? Apa Tetsuya bahagia? Banyak pertanyaan di benaknya. Ia rasa ini bukan hal yang benar. Kenapa.. kenapa ia tak menyatakan perasaannya yang tumbuh sejak lama dari dulu? Kenapa ia tak mengungkapkan semuanya ini dengan jujur? Kenapa ia begitu bodoh? Kenapa.. kenapa ia begitu pengecut? Seijuuro hanya bisa tersenyum pahit, mengingat semua memorinya dengan Tetsuya kemarin malam di hotel.
Tak bisa ia lukiskan betapa bahagia dirinya ketika Tetsuya mengucapkan cinta padanya, namun takdir memang kejam. Mempermainkan mereka berdua, memisahkan dua orang yang saling mencintai. Seijuuro memejamkan kedua matanya, air mata perlahan meleleh. Ia tahu, sangat tahu. Tangisan tak akan berpengaruh apa-apa pada keadaannya sekarang, air mata tak akan mengubah takdir mereka tanpa usaha. Namun, sakit. Hatinya sudah terlalu sakit, ia tak sanggup terus menahan perasaannya pada Tetsuya. Seijuuro mencengkeram bajunya di bagian dada.
Sakit..
Sakit..
Ini terlalu sakit untuk ia tahan..
Seijuuro menyandarkan tubuhnya pada head board tempat tidurnya yang terbuat dari jati. Masih sambil menggenggam kalung cincin yang tergantung di lehernya. Seijuuro kembali membuka kedua matanya, menampakkan iris heterokrom menawan itu, ia dengan lemah menengok ke kanan dengan pandangan kosong.
"Tetsuya.. aishiteru.. zutto.."
.
.
.
Cahaya matahri menembus lewat sela korden merah marun beludru itu. Burung bercicit di luar, mengganggu tidur seorang pemuda bersurai biru. Pemiliknya menggeliat di balik selimut, merasa terganggu.
"Nngh.." erangan lolos dari bibir pink mungil itu. Pemuda bersurai biru itu menarik kembali selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia memutar tubuhnya, ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari posisi nyaman untuk kembali tidur. Namun, kedua matanya memang tidak bisa diajak kompromi. Pemuda bernama Tetsuya itu mengerang kesal kemudian mengambil posisi duduk.
'Uuh.. aku kan hanya ingin tidur lagi..' gerutunya dengan kesal karena tidak dapat kembali tidur. Tetsuya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian turun dari atas tempat tidur. Ia menapak lantai kamar yang dingin, sedikit berjinjit. Melangkahkan kakinya ke lemari baju setelah mematikan pendingin ruangan. Bodoh sekali dia, menyalakan pendingin ruangan di musim dingin bulan Desember. Bisa saja ia kembali terserang demam. Tetsuya mengambil kemeja lengan panjang berwarna biru tua dengan celana panjang berwarna putih. Ia tidak berencana pergi keluar rumah hari ini, ia tidak punya urusan apapun. Dengan cepat Tetsuya masuk ke kamar mandi membawa handuk putihnya dan pakaian yang ia pilih.
Selesai mandi, Tetsuya melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan untuk sarapan. Sebelum keluar kamar, ia melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Pukul 8 pagi. Tetsuya menghela nafas, jam segini Seijuuro belum berangkat kerja yang artinya ia harus berpapasan dengan Seijuuro. Seijuuro membuka pintu kamarnya kemudian melangkah keluar. Manik birunya mencuri pandang beberapa kali dengan resah ke arah pintu kamar Seijuuro. Tetsuya segera duduk begitu sampai di ruang makan. Seijuuro sudah duduk di ujung meja dengan sarapan lengkap dan secangkir kopi, tak lupa membaca koran harian. Seijuuro merasa ada orang yang datang, mengintip dari balik koran yang ia baca. Manik heterokromnya menangkap sosok Tetsuya yang sedang berbicara dengan Rui.
"Rui, aku minta kopi pagi ini. Ah, juga toast dengan scramble egg."
Rui mengangguk kecil kemudian pergi ke dapur untuk mengambil sarapan Tetsuya. Pagi ini, para pelayan rumah tidak menunggu di ruang makan atas permintaan Seijuuro, ia perlu sendirian. Tetsuya mendongak, merasa dirinya diperhatikan. Tetsuya menemukan pandangan kakaknya jelas tertuju pada dirinya. Wajah Tetsuya seketika itu terasa panas, tatapan kakaknya terlalu intens. Kedua tangan Seijuuro menggenggam alat makan, namun tidak ia gerakkan. Seijuuro justru terus menerus memandangi wajah adiknya yang duduk di seberang tempat duduknya. Tetsuya sedikit menggeliat di tempat duduknya, risih dipandangi dengan intens sejak tadi, wajahnya merah padam. Kedua tangan Tetsuya bermain dengan ujung baju yang ia kenakan. Sesekali Tetsuya mencuri pandang ke arah Seijuuro yang masih menatapnya. Tetsuya kemudian melirik ke arah pintu belakang, mencari sosok Rui yang seharusnya sekarang membawa sarapan paginya serta kopi.
'Uuh.. Rui.. kamu lama sekali, sih?' gerutu Tetsuya dalam hati.
"Ada apa, Tetsuya?"
Suara Seijuuro jelas mengagetkan Tetsuya. Ia terlonjak sedikit kemudian duduk dengan tegap, memandang kakaknya yang sedang memotong sarapannya. Kedua tangan Tetsuya masih bermain dengan ujung bajunya, sedikit menunduk, ia menatap wajah kakaknya.
"Ti..tidak ada apa-apa, Seijuuro-Onii-sama.." jawab Tetsuya pelan.
Seijuuro terdiam dengan panggilan dari Tetsuya. 'Onii-sama?' batinnya. Seijuuro tersenyum pahit, namun ia melirik Tetsuya dari ujung matanya. "Hm.. sou? Kalau begitu bagus."
Setelah itu sunyi, tidak ada satupun dari mereka yang memulai obrolan. Rui kemudian masuk dan meletakkan piring sarapan Tetsuya dan secangkir kopi di hadapannya. Tetsuya menoleh, menatap maid pribadinya.
"Arigatou, Rui. Kau bisa pergi sekarang."
"Shitsureitashimasu, Tetsuya-sama, Seijuuro-sama."
Rui kemudian berlalu. Tetsuya pun mengambil alat makannya kemudian mulai menyantap sarapannya. Suara alat makan beradu dengan piring membuat suara berdenting terdengar jelas di ruang makan yang sunyi dan besar itu. Seijuuro dan Tetsuya masing-masing sibuk dengan sarapannya. Seijuuro tiba-tiba berdiri, bahu Tetsuya sedikit naik akibat terkejut dengan gerakan tiba-tiba kakaknya. Ia mendongak, menatap kakaknya. Seijuuro mengelap bibirnya dengan serbet kemudian tanpa mengucapkan apa-apa meninggalkan meja makan. Sekilas ia melirik adiknya yang masih duduk di balik meja makan. Manik heterokrom scarlet-gold dan icy blue itu bertemu, saling memandang sejenak. Seijuuro berdeham sedikit, kemudian berjalan sedikit lebih cepat meninggalkan ruang makan.
Tetsuya menghentikan pergerakkan tangannya, ia melirik piring Seijuuro. Croissant tersisa tiga perempat, kopi masih ada setengah, bacon masih ada dua strip. Tetsuya meletakkan alat makannya, ia menunduk. Jujur saja, ia tidak suka keadaan seperti ini, ia tidak bisa berbicara dengan santai seperti biasa dengan kakaknya. Tetsuya meremas bajunya di bagian dada. Ini sakit, terlalu sakit. Air mata hampir meleleh dari ujung mata Tetsuya. Ia buru-buru berdiri, meninggalkan sarapannya yang masih tersisa banyak dan berlari, meninggalkan ruang makan menuju ke tempat yang ia sukai.
Seijuuro duduk di balik setir mobilnya. Ia sama sekali belum melajukan mobilnya sejak 10 menit yang lalu. Selama itu pula ia duduk di balik setir mobil, tangan gemetar memegang setir. Beberapa kali ia mencengkram kemudi mobilnya. Menahan tangis dan emosi dari dalam dirinya. Tampak, kedua mata Seijuuro sudah berkaca-kaca, tampak seperti hendak menangis. Seijuuro memejamkan kedua matanya kembali, setelah beberapa kali mengulang terus gestur ini.
Ia merasa.. perlahan-lahan Tetsuya menjauh darinya. Menjauh hingga tak dapat ia raih. Seijuuro semakin takut, dan resah. Bagaimana jika.. suatu hari nanti akan ada orang lain yang mengambil Tetsuya darinya? Bagaimana.. jika Tetsuya jatuh cinta dengan orang lain? Kalaupun itu terjadi.. apa yang ia bisa lakukan? Ia tak dapat melakukan apapun. Sama sekali. Ia yang merupakan sosok absolute, tak suka dibantah, dan memiliki aura superior tak ada apa-apanya jika berhadapan dengan sang ayah. Seijuuro tahu, jika ia melakukan sesuatu di luar 'rencana' ayahnya, bisa saja Tetsuya yang celaka. Tak menjadi masalah bila dirinya yang terluka, namun ia tidak akan sanggup jika melihat Tetsuya terluka.
Kedua matanya masih terpejam, menahan kepedihan. Masih mencengkram kemudi mobil, Seijuuro menyandarkan tubuhnya di jok mobil.
"Tidak.. aku.. tidak bisa.."
Seijuuro membuka kedua matanya, ia dengan segera memacu mobilnya, menuju ke kantor.
Tetsuya duduk di bangku putih berbantalkan kulit hitam itu. Sudut-sudut bibirnya sedikit melengkung ke atas, memandang benda yang ada di depannya.
Grand Piano.
Oh, betapa sukanya Tetsuya bermain piano di waktu senggang. Tetsuya meletakkan jari-jari panjang nan lentiknya di atas tuts piano, hendak memainkan lagu favoritnya. Ia pun memainkan piano putih itu, jari-jarinya menari dengan lentik di atas tuts piano.
"Tetsuya!"
Tetsuya menghentikan pergerakkan jarinya di atas tuts piano begitu suara ceria itu memanggil namanya, ia menoleh. Tetsuya berdiri, memandang seorang wanita bersurai merah terang dengan dress putih yang ada di hadapannya.
"Okareinasai, Okaa-sama."
Akashi Yuuka tersenyum. "Tadaima, Tetsuya." Ia mendekat ke arah putra bungsunya, memeluknya.
"Apa kau baik-baik di rumah?"
Tetsuya mengangguk kecil, menjawab pertanyaan ibunya.
"Sei mana?"
"Seijuuro-Onii-sama sudah pergi kerja, Okaa-sama."
'Sejak kapan Tetsuya memanggil Sei begitu formal?' batin Yuuka bingung. Ia mengangguk-angguk. "Mana Otou-sama?" Tanya Yuuka mencari suaminya.
Tetsuya mendegar ibunya menyebut sang ayah sedikit terlonjak, sedikit. "Mungkin di ruang kerja, Okaa-sama."
Yuuka pun sadar akan perilaku anaknya, ada sesuatu yang salah. "Ada apa, Tetsuya? Kau tampak tidak sehat?"
"Hnm, tidak. Aku baik-baik saja, Okaa-sama."
Yuuka mengangguk kecil. "Jaa, aku akan menemui Otou-sama mu dulu."
Tetsuya mengangguk kecil. Ia kembali duduk di atas bangku putih itu dan memainkan lagu lainnya.
Yuuka melirik ke belakang, memperhatikan putra bungsunya. 'Ada.. sesuatu yang mengganggu Tetsuya..' batinnya dengan ekspresi khawatir. Sedang Tetsuya terus saja memainkan jari-jarinya dengan lihai di atas tuts piano.
Brak!
"Seishirou! Tadaima.." panggil Yuuka dengan lantang sambil membanting pintu ruang kerja Seishirou.
Seishirou yang sedang menekuni kertas di hadapannya terlonjak kaget. Ia mendongak, menatap istrinya. "Yuuka.. jangan mengagetkanku.." ujarnya sambil menghela nafas.
"Hehe.." Yuuka hanya tertawa canggung. Ia menutup pintu ruang kerja suaminya kemudian berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di balik meja besar penuh dokumen.
"Seishirou, bagaimana keadaan Seijuuro?"
"Hm? Baik-baik saja. Kenapa bertanya?"
"Mou.. maksudku.. perjodohannya dengan anak Mayuzumi.."
"Ah? Itu? Berjalan dengan lancar, sesuai rencana." Ujar Seishirou dengan senyum licik.
Yuuka menyipitkan matanya. "Apa maksudmu? Rencana apa?"
"Rencanaku menyingkirkan hal tidak perlu. Rumput liar diantara mawar, Yuuka." Ujar Seishirou tanpa mengalihkan pandangannya.
Yuuka terdiam. 'Rumput.. liar diantara.. mawar?'
Merasa tak ada jawaban dari istrinya, Seishirou mendongak. "Yuuka?"
"Maksudmu.. apa, Seishirou?"
Seishirou menaikkan sebelah alisnya. "Menyingkirkan hama, Yuuka."
"Jangan bilang.. kau.. kau.."
Seishirou tersenyum licik. "Apa yang kulakukan tepat seperti apa yang kau pikirkan, Yuuka."
Kedua mata Yuuka membulat, menatap suaminya, Seishirou dengan wajah tak percaya. "Seishirou! Kenapa.. kau.."
"Aku hanya melakukan hal yang perlu kulakukan, Yuuka.
Yuuka jatuh terduduk di bawah. "Kau.. kau kejam, Seishirou.."
Seishirou menghela nafas. "Aku tidak kejam, Yuuka."
Yuuka menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Siapa kau? Aku.. aku tidak kenal Seishirou yang seperti ini." Tanpa menunggu jawaban dari mulut suaminya, Yuuka berdiri dan keluar dari ruangan kerja suaminya. Sedang Seishirou memperhatikan sosok Yuuka yang berlari keluar dari ruangannya.
'Ck, awas saja kalau dia memberitahu Seijuuro.' Batin Seishirou sebelum kembali berkutat dengan setumpuk dokumen di hadapannya.
Yuuka bersembunyi di balik pilar, memperhatikan sosok putra bungsunya yang memainkan piano di ruang tengah rumah. Lagu-lagu klasik mengalun indah dari permainan Tetsuya. Sosoknya begitu indah, fallen angel. Bulu matanya panjang, menyapu bawah matanya ketika ia mengedip, bibirnya mungil dan pink, kulitnya pucat. Sosok Tetsuya begitu indah, apalagi ketika bermain piano.
"Kenapa bersembunyi di sana, Okaa-sama?" Tanya Tetsuya sambil memejamkan matanya, masih terus membiarkan jarinya menari sesuai insting.
Yuuka tersentak kaget. Tetsuya tahu ia bersembunyi. "A… ah.. Tetsuya.." Yuuka keluar dari balik pilar, mendekat ke arah putra bungsunya.
Tetsuya membuka matanya, menoleh menatap sosok wanita yang ia hormati. "Ada apa, Okaa-sama?" Tanya Tetsuya, menghentikan permainan pianonya.
"A..ah.. tidak apa-apa, Tetsuya." Ujarnya, mencoba tersenyum.
Tetsuya mendengus. "Okaa-sama berbohong."
"Eh.."
"Okaa-sama ada masalah, kan? Ada apa?"
"…" Yuuka diam, tidak menjawab pertanyaan anaknya.
"Ah.. aku tahu.. Otou-sama memberitahu Okaa-sama.. pasti.."
"Eh.. jadi benar.. kau sudah tahu?"
Tetsuya melirik Yuuka dari sudut matanya kemudian kembali memulai permainan piaonya. "Ya.. aku sudah tahu.. semuanya." Ujar Tetsuya pelan sambil mengangguk kecil.
Kemudian hening. Tetsuya dan Yuuka, tak ada yang berusaha memecah keheningan di antara mereka. Tetsuya kembali menghentikan permainan jarinya, ia menatap Yuuka.
"Okaa-sama? Ada apa?"
Yuuka yang menunduk pun mendongak, menatap wajah putranya. "Tetsuya.. gomen.. gomen.."
Tetsuya menunjukkan ekspresi sedih, Yuuka menangis. Ia berdiri kemudian menangkup wajah Yuuka. "Okaa-sama, jangan menangis.. jangan menangis karena aku.."
Air mata meleleh, membasahi wajah cantik Akashi Yuuka. Yuuka terus memandang wajah putranya yang lebih tinggi darinya. "Tetsuya.."
Tetsuya terus menyeka air mata yang meleleh dari kedua mata Yuuka. "Jangan menangis.. Okaa-sama."
Yuuka langsung memeluk Tetsuya dengan erat. Tetsuya sedikit terkejut kemudian membalas pelukan Yuuka. "Okaa-sama." Tetsuya kemudian membiarkan Yuuka duduk di atas sofa ruang tengah, ia mengambil sebuah cangkir lalu menuangkan Darjeeling tea untuk dirinya sendiri dan ibunya.
"Okaa -sama, minumlah.. tenangkan dirimu." Ujar Tetsuya sambil menyodorkan secangkir cairan coklat pekat pada Yuuka.
Yuuka mengangguk kecil, menerima cangkir itu dan meneguk Darjeeling tea yang disuguhkan Tetsuya untuknya. Setelah merasa lebih tenang, Yuuka meletakkan cangkir itu di atas meja.
"Sudah baikan?" Tanya Tetsuya penuh perhatian.
Yuuka mengangguk kecil.
Tetsuya menghela nafas. "Jadi.. ada apa, Okaa-sama?" Tanya Tetsuya, duduk di sofa samping Yuuka. Tetsuya mengangkat cangkirnya sendiri ke bibirnya, menyesap Darjeeling tea dengan perasan lemon. Tetsuya kemudian meletakkan cangkirnya di atas meja, di samping cangkir milik Yuuka.
Tetsuya diam, memandang Yuuka. Ia menunggu jawaban dari ibunya. "Okaa-sama?"
"A..a.." Yuuka membuka mulut, berusaha berbicara namun tak ada kata yang keluar. Tubuhnya bergetar sedikit.
Tetsuya meraih pundak Yuuka, berusaha menenangkannya. "Okaa -sama? Tenanglah.."
Yuuka menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, mencegah suara isakan keluar. Air mata masih meleleh, membasahi wajah cantiknya. Tetsuya menghela nafas panjang, merengkuh sosok rapuh Yuuka. Ia diam, membiarkan Yuuka menenangkan diri dalam pelukkannya. Yuuka menangis, menyembunyikan wajahnya di pundak Tetsuya.
"Gomen, Tetsuya.." ujar Yuuka tiba-tiba, masih terisak sedikit. Ia mengangkat wajahnya.
Tetsuya tersenyum, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Okaa-sama."
Yuuka tersenyum lemah kemudian menunduk. "Tapi.. aku.. tidak pernah bilang.. gomen.. Tetsuya."
"Tidak apa-apa, Okaa-sama." Ujar Tetsuya kembali merengkuh Yuuka.
Setelah melepaskan pelukannya pada Yuuka, Tetsuya kembali menyesap teh di hadapannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Ah, Tetsuya.."
Tetsuya menoleh, menatap Yuuka yang menundukkan kepalanya. "Ada apa, Okaa-sama?"
"Bagaimana … hubunganmu dengan … Sei?" Tanya Yuuka ragu-ragu.
Blush!
Wajah Tetsuya memerah, entah apa yang ia pikirkan. Tetsuya menutup mulutnya dengan punggung tangan kirinya, wajahnya sangat merah.
Yuuka tak mendapat jawaban dari putra bungsunya menoleh, menatap Tetsuya. Kedua mata Yuuka membulat. "Tetsuya? Ke … kenapa?"
Tetsuya semakin panik, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ja … jangan lihat ke sini, Okaa-sama." Ujar Tetsuya gugup.
"Tetsuya.. jangan bilang … kau …"
"…" Wajah Tetsuya semakin merah.
"Jatuh cinta.. dengan.."
Telunjuk kanan Tetsuya berada di depan bibirnya. "Sst! Okaa-sama!"
Yuuka menutup kedua mulutnya, mengangguk-angguk. "Jadi.. benar?"
"Umnh.." ujar Tetsuya menundukkan wajahnya yang merah, mengangguk pelan.
Yuuka terdiam, ia menyenderkan tubuhnya di sofa. "Jadi.. begitu.." Ia tersenyum miris. "Gomen, Tetsuya."
Tetsuya menggeleng kecil. "Kenapa meminta maaf, Okaa-sama?"
"Aku.. aku yang merancakan perjodohan Sei dengan Mayuzumi Chihiro."
Tubuh Tetsuya menegang begitu mendengar nama Mayuzumi Chihiro keluar dari mulut ibunya. Yuuka bisa melihat jelas perubahan sikap putranya.
"Tidak apa, Okaa-sama. Aku mengerti. Otou-sama dan Okaa-sama ingin yang terbaik untuk Seijuuro-kun. Aku tahu.. tidak apa-apa.." jawab Tetsuya pelan, masih menunduk.
"Ka.. kalau begitu biar dibatalkan saja!" seru Yuuka bangkit berdiri.
Tetsuya langsung mendongak, wajahnya terkejut dan panik. "Jangan!" seru Tetsuya, menarik pelan tangan ibunya.
Yuuka menoleh. "Eh? Kenapa.. bukankah.. Tetsuya.."
Tetsuya kembali menunduk, kali ini memejamkan kedua matanya. "Tidak perlu. Lagipula, ini yang terbaik untuk Seijuuro-kun. Aku tidak pantas, aku bukan siapa-siapa, Okaa-sama." Jawab Tetsuya. "Bukan siapa-siapa. Aku tidak berhak ikut campur." lanjut Tetsuya.
Kedua mata Yuuka membulat dengan panggilan dari putra bungsunya. "Tetsuya! Apa yang.."
Tetsuya diam, ia berdiri.
"Tetsuya?"
Tetsuya melangkahkan kakinya, duduk di belakang grand piano. Jarinya kembali menari, dengan mata tertutup. Membiarkan instingnya mengambil alih.
"Okaa-sama.. kumohon mengerti." jeda sejenak. "Aku bukan siapa-siapa di sini." Ujar Tetsuya, tidak menghentikan permainan jarinya.
Yuuka duduk, memperhatikan putranya. "Tetsuya.." Yuuka menundukkan kepalanya. 'Ini.. ini semua salahku.' Batin Yuuka.
Tetsuya mendengus. "Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Okaa-sama." Kembali jarinya menari. "Ini bukan salah siapa-siapa. Hanya takdir." Lanjutnya.
"Tetsuya.."
Siang itu, di ruang tengah kediaman keluarga konglomerat Akashi, terdengar alunan indah musik klasik dari piano. Dan isakan tangis.
Sepanjang siang.
.
.
.
TBC
Author's note : Ano... mnna-san.. gomen ._. author baru sempet update sekarang ;_; sepertinya saya terlalu fokus sama Fake Fairytale project sampe fic ini terlupakan. Maap ._. dan dengan berat hati, Autumn's Rain akan hiatus karena author belum dapet ilham (?) maafkan saya, bagi para readers yang membaca Autumn's Rain, mohon ditunggu.
Special Thanks to: | Uchiha Ryuuki | Sei | Zhang Fei | miss horvilshy | Koyuki Tooki | Flow.L | zanas no baka | ScarletSky041149 |
Sampai jumpa di chapter selanjutnya '3'
