~oOo~ { READ MY BIO FIRST BEFORE YOU READ MY OWN FANFICT } ~oOo~
"Chanyeol.. sakit, dia mempunyai masalah pada hatinya, Dokter bilang kemungkinan untuk sembuh sangat sedikit. Jikapun bisa sembuh harus melakukan cangkok hati."
Jongin terkesiap mendengarnya, hatinya sedikit nyeri mengetahui Chanyeol yang tampak baik-baik saja ternyata menyembunyikan sesuatu hal yang sangat besar, Jongin kembali merasa bersalah padanya.
"Apa itu Hepatoma?"
"Ya, maka dari itu Chanyeol berusaha untuk menjauhi Baekhyun. Alasannya ia hanya ingin Baekhyun hidup bahagia tanpa dirinya, ia takut jika pergi dengan meninggalkan banyak cinta maka ia akan sangat terbebani. Chanyeol takut jika pada akhirnya Baekhyun akan frustasi akan kepergiaannya." Lay menunduk dalam, berkata bahwa Chanyeol akan pergi dengan cepat bukanlah hal yang mudah. Sejujurnya itu adalah kata yang sangat menyakitkan dirinya sendiri.
"Maafkan aku."
Jongin ikut menunduk seperti yang Lay lakukan. Bagaimanapun juga ia belum siap jika harus berpisah selama lamanya dengan Chanyeol disaat hubungannya mulai membaik dengan pria tinggi itu.
"Tidak apa, Tuhan memberikan pelajaraan yang berharga pada kita saat ini untuk saling melindungi satu sama lain dalam segala suasana, semua akan indah jika waktunya sudah tepat."
Lay menepuk pundak Jongin pelan. Ia menyeka air matanya perlahan, dia tidak ingin menangis kencang saat ini. Bagaimanapun juga ia harus menjadi seorang yang kuat, sekaligus untuk menguatkan orang lain.
"Kau benar, semoga ini akan menjadi hal yang dapat kita pahami sebagai pedoman kehidupan dimasa depan," Jongin tersenyum tipis.
"Tapi ngomong-ngomong kemana Baekhyun dan Chanyeol? Mereka harusnya sudah pulang." Jongin melirik jam dinding yang menunjukan angka tiga. Ini sudah sekitar lima jam Baekhyun dan Chanyeol pergi, sungguh mereka membuat Jongin khawatir.
"Bagaimana jika mereka tersesat? Chanyeol bahkan masih baru disini." Lay membulatkan matanya, mungkin benar kata Jongin barusan, Chanyeol belum Familiar dengan tempat ini. Tapi manamungkin Chanyeol sebodoh itu sampai tersesat dijalan tanpa bertanya atau mencari petunjuk arah disekitarnya.
"Aku akan coba menghubunginya."
Lay mendial ponsel Chanyeol, begitupun Jongin yang mendial nomor ponsel Baekhyun. Namun selang beberapa menit tetap tidak ada jawaban.
"Ponsel Chanyeol tidak dapat dihubungi." Gusar Lay.
"Benarkah? Ponsel Baekhyun tidak aktif saat ini. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di luar sana?"
.
.
.
-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-
.
.
.
Author:
Yuta CBKSHH ( dan Byun ChanZha)
Tittle:
PRETENDING OF LOVE (CHANBAEK)
Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Support cast:
Oh Sehun a.k.a Sehun
Xi Luhan a.k.a Luhan
Kim Jong In a.k.a Kai
Do Kyungsoo a.k.a Kyungsoo
Others cast (EXO's members)
Rating:
M
Genre:
Angst, Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length:
Chaptered
Disclaimer:
Sudah Yuta jelaskan di atas yaa. Cerita ini adalah pemikiran murni tanpa plagiat dari cerita manapun. Terinspirasi dari beberapa pengalaman si penulis. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka dan bisa menerima cerita ini dengan baik ^^
Warning:
BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. DLDR! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!
Summary:
[YAOI/ANGST] "Maafkan aku karena telah berpura-pura mencintaimu selama ini, Byun Baekhyun. Aku memiliki sebuah alasan. Ku harap kau mengerti, karena pada akhirnya kita tidak akan pernah bisa bersama" - Chanyeol. (CHANBAEK) Slight Official Pairing! RnR!
Backsong:
Jin - Gone
~~ HAPPY READING ~~
.
.
.
Chanyeol masih tampak mengecheck kap depan pada mobilnya. Tangannya sesekali menyentuh beberapa kabel warna merah atau kuning yang saling menyambung, bahkan ia juga mengetuk-ngetuk karburator yang sialnya terasa panas saat disentuh oleh tangannya. Chanyeol bukanlah orang yang tahu masalah mesin mobil, sungguh sial nasibnya karena mobil yang ia pakai justru mogok di tengah kebun ilalang yang gelap bersama Baekhyun.
Mobil yang ia kendarai tiba-tiba mogok saat dirinya dan Baekhyun pulang dari membeli makanan yang dipesan oleh Lay, seolah-olah ini adalah rencana atau sebuah takdir agar dirinya tertahan lebih lama dengan Baekhyun.
"Sial! Apa yang salah dengan mobil ini?" Chanyeol masih menggerutu tidak jelas, sedangkan Baekhyun masih diam didalam mobil karena Chanyeol memintanya untuk tetap didalam selama Chanyeol membenarkan mobilnya.
Tokk
Tokk
Tokk
Chanyeol mengetuk jendela kaca disamping tempat duduk Baekhyun beberapa kali.
"Ada apa?" Tanya Baekhyun seraya menurunkan kaca jendela kebawah.
"Bisakah kau membantuku? Dulu kau sering bilang ahli dalam otomotif walaupun aku tidak percaya hal mustahil itu, jadi bisa kau membuatku percaya sekarang?" Baekhyun tersenyum lebar, ia senang ternyata Chanyeol masih ingat sifat Baekhyun yang sering membanggakan dirinya sendiri masalah otomotif.
"Tentu saja, itu mudah."
Baekhyun keluar dari mobil dengan sedikit menaikan dagunya, lucu menurut Chanyeol karena Baekhyun seolah lupa dengan posisinya sekarang dan kembali menjadi Baekhyun yang kekanak-kanakan.
Blamm
Baekhyun menutup pintunya dengan keras lalu menghampiri Chanyeol yang sudah berdiri didepan Kap mobilnya. Dengan gaya bak seorang montir profesional yang dengan melihat saja sudah tahu masalah yang terjadi pada mobil, Baekhyun hanya menatap rangkaian kabel dan besi yang menjadi motor sekaligus otak penggerak Kuda besi tersebut. Matanya sedikit memincing sembari mencabut selang kecil disamping karburator, matanya membulat kala tidak melihat ada cairan yang mengalir disana.
"Apa kau sebodoh itu sampai tidak melihat bahwa kau membawa mobil dengan bensin yang habis?" Baekhyun mendesis pelan, ia baru tahu bahwa si sempurna Chanyeol bisa sebodoh ini dalam urusan mobil.
"Benarkah? Aku akan menelepon Lay."
Chanyeol sedikit cepat membuka pintu mobil yang..
Sialnya terkunci dari dalam.
"Sial! What the heck!" Chanyeol memukul pintu kaca itu keras. Didalam mobil masih ada kunci dan ponsel yang tergeletak di dashboard depan.
"Ada apa?" Baekhyun mendekat kearah Chanyeol, mencoba mencari tahu ada apa gerangan.
"Mobilnya terkunci saat kau keluar dan menutup pintunya dengan keras. Sialnya kunci mobil masih didalam termasuk ponselku." Baekhyun menatap kearah Chanyeol tak percaya, jadi dia akan tertahan disini sampai besok? Ya Tuhan.
"Maaf, aku tidak bermaksud-"
"Diamlah!"
Baekhyun bungkam. Baru beberapa menit lalu ia menjadi Baekhyun yang cerewet dan kekanakan kini ia kembali menjadi Baekhyun yang diam dan kaku. Chanyeol mengulurkan tangannya kearah Baekhyun, seakan meminta sesuatu.
"Apa?"
"Ponsel, kau bawa ponselmu kan?"
"Y-ya.. tapi baterainya habis" Chanyeol mendengus.
Gila! Chanyeol akan tertahan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan bersama Baekhyun.
"Apa benar-benar sudah kosong?" Baekhyun mengecheck ponselnya lalu menunjukan layar dengan kondisi baterai berwarna merah pada Chanyeol.
"Tinggal 4%, aku juga tidak tahu nomor ponsel Lay."
Chanyeol menyambar ponsel tersebut, tangannya dengan cepat mengetik nomor ponsel yang sudah ia hafal diluar kepala lalu sesaat kemudian mendialnya.
'Yeob-'
"Lay! Mobilmu mogok, kau sengaja tidak mengisi bensin ya? Kau sengaja menjebaku bersama Baekhyun?"
Chanyeol menyalahkan Lay atas insiden ini, dia kesal karena harus tertahan disini bersama Baekhyun, bisa-bisa rencananya menjauhi separuh hidupnya itu kandas ditengah jalan.
'Apa? Jika bensinya habis kenapa kau tadi tidak isi bensin dulu sebelum berangkat? Dasar bodoh!' Umpat Lay.
Baekhyun yang melihat Chanyeol justru sibuk berbicara tidak penting mencoba mengingatkan Chanyeol agar lebih cepat dan tidak membahas hal yang tidak penting sekarang.
'Memangnya kau dimana?'
"Aku di-"
Tutt
Tutt
Tutt
Brakk!
Chanyeol membanting ponsel Baekhyun ke jalan aspal yang keras kala sambungan telepon terputus akibat baterai ponsel yang habis. Dia terlalu kesal karena kejadian ini. Sedangkan Baekhyun hanya menatap ponselnya yang telah remuk dengan layar yang pecah, baterai yang terlempar sampai tengah jalan dan juga SD Card serta Sim Card yang telah berpindah tempat. Baekhyun ingin menangis melihatnya, karena didalam ponsel ini terdapat banyak file dan berkas berisi fotonya juga Chanyeol yang sengaja ia tidak taruh dalam SD Cardnya.
Baekhyun memungut satu persatu pecah belah ponselnya dan mengabaikan tatapan terkejut Chanyeol. Walau merasa bersalah ia tetap tidak membantu Baekhyun memunguti bagian-bagian ponsel yang terpisah itu.
"Tidak usah diambil, besok aku akan mengganti dengan yang baru. Kau tenang saja. Lagi pula SD Cardmu masih utuh, jadi tidak usah khawatir foldermu akan hilang semua." Chanyeol berujar santai sembari melipat kedua tanganya didepan dada.
"Tidak apa, banyak kenanganku yang tersimpan diponsel ini. Aku sengaja menaruh semua folder foto di memori ponsel, agar jika SD Cardnya hilang aku tidak kehilangan folder itu. Jadi percuma jika SD Cardnya masih utuh."
Chanyeol menciut seketika. Ia ingat dirinya yang mengajarkan agar Baekhyun menyimpan folder foto mereka di Memori ponsel saja karena lebih aman. Tapi apa yang ia lakukan sekarang? Ia justru merusak ponsel tak bersalah itu dengan melemparnya keras ke jalanan beraspal.
"Maaf atas itu." Chanyeol mengedarkan pandangannya, tidak ingin mata elangnya bersibobrok dengan mata sebening kristal Baekhyun yang kini sedang menatapanya sendu.
"Tidak, aku pikir memang seharusnya folder itu hilang agar kenangan yang ada didalamnya juga menghilang. Aku harusnya berterima kasih padamu."
Baekhyun tersenyum kecut, kakinya melangkah kearah pinggir jalan dan duduk di sana. Tangan kecilnya masih mencoba menggabungkan bagian-bagian ponselnya yang sudah tidak berbentuk itu, walau dengan menahan isakan yang bisa sewaktu-waktu berubah menjadi tangisan tetapi tetap saja tubuh Baekhyun bergetar, bahkan ketika akan memasang baterai ponsel tangan Baekhyun seperti menghasilkan gelombang dari dalam tubuhnya.
Chanyeol merasa jantungnya tertohok keras, Baekhyun adalah kelemahannya, melihat Baekhyun yang menangis membuatnya mau tidak mau ikut terisak. Chanyeol tahu bahwa apa yang ia lakukan salah, tidak seharusnya ia melukai Baekhyun lebih dalam lagi, ia mencoba untuk mencari cara agar Baekhyun pergi dari hidupnya tapi bukan dengan cara seperti ini, Chanyeol tidak ingin melihat Baekhyun menangis karenanya.
Chanyeol masih menatap lekat apa yang Baekhyun lakukan, dalam hati ia juga 'sedikit' menyalahkan Baekhyun atas insiden ini.
Mungkin jika Baekhyun tidak ikut keluar saat Chanyeol memintanya memeriksa bagian kap mobilnya lalu menutup pintu mobil dengan keras hingga membuat mobil itu terkunci otomatis semua akan cukup baik-baik saja, padahal ponsel Chanyeol dan kunci mobil masih didalam mobil yang tentu saja kini tidak bisa ia ambil karena mobil itu tertutup dari dalam. Jika ponsel Chanyeol berada dalam sakunya, pasti pria itu tidak akan sefrustasi ini dan Baekhyun..
Tidak akan kedinginan.
Chanyeol yang tadinya ingin memarahi Baekhyun justru tidak bisa melakukannya, ia memandang tubuh mungil itu yang tampak kedinginan dan menggigil. Di musim dingin bersalju seperti sekarang memang cuaca sangat menusuk kulit hingga ke tulang, untung saat ini tidak turun hujan salju jadi mereka tidak merasa kedinginan bertambah menjadi dua kali lipat, jika itu terjadi bisa-bisa tangan dan anggota tubuh mereka diamputasi karena sudah membeku.
"Kau baik-baik saja?" Chanyeol bertanya seolah khawatir pada Baekhyun.
"Y-ya.. akuh.. b-baikk.."
Chanyeol bahkan dapat melihat tubuh Baekhyun yang memucat, sungguh Chanyeol itu tahu bahwa Baekhyun tidak bisa berada dalam keadaan dingin terlalu lama. Tapi Chanyeol terlalu pengecut untuk sekedar mendekap atau memeluk Baekhyun untuk mengurangi hawa dingin yang kian menusuk. Entah ini rencana Tuhan atau apa, yang pasti sedari tadi mereka tidak melihat ada kendaraan yang melintas di jam yang bahkan masih terbilang sore ini.
"Apa dingin?" Tanya Chanyeol pelan.
"Tidak, ini bukan masalah. Aku baik-baik saja" Chanyeol seketika memeluk Baekhyun erat, membuat Baekhyun tercekat karena perilaku Chanyeol yang tiba-tiba itu.
"C-Chanyeol.."
"Ssstt...Diamlah, aku tahu kau kedinginan dan aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu." Baekhyun tersenyum senang. Ini adalah salah satu hal yang paling ia rindukan selama ini. Tidak apa jika sampai besok ia akan tertahan disini bersama Chanyeol, ia rela asal Chanyeol berubah menjadi sosok ptia manis untuknya lagi.
"Apa boleh? Kyungsoo-"
"Diamlah Baek, kenapa kau cerewet sekali sih? Kyungsoo tidak ada disini jadi kau tidak usah khawatir."
Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh besar Chanyeol. Terima kasih pada Tuhan yang seolah mengirimkan Pria sesempurna Chanyeol kedalam hidupnya, maka dari itu ia akan tetap memperjuangkan Pria yang telah mengisi separuh jiwanya ini dengan segala cara.
.
.
.
-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-
.
.
.
Lay dan Jongin masih melajukan mobil mereka untuk mencari tempat makan atau toko terdekat yang menjual makanan Korea. Mereka berpikir pasti Chanyeol membeli di sana, mengingat di New York tidak mudah menemukan makanan seperti itu.
"Kira-kira yang menjual masakan Korea dimana? Apa kau pernah membeli langsung dari toko sekitar sini?" Tanya Lay.
"Kupikir kau lebih tahu, mengingat kau sudah bertahun-tahun tinggal disini. Jadi selama ini kau tidak pernah membeli masakan Korea?"
"Tidak, aku hanya makan makanan yang dibuat para maid dirumah. Aku juga terlalu sibuk untuk sekedar pergi keluar rumah."
"Bukannya kau bilang bahwa kau sering belanja sendiri keluar rumah?" Jongin bertanya sembari mengeryitkan keningnya.
"Sebenarnya.. Aku bohong soal itu." Lay menampilan deretan gigi putihnya, yang dibalas kerlingan mata oleh Jongin.
"Kupikir kita harus menemui Kyungsoo."
"Kenapa begitu?"
"Kyungsoo tahu segalanya tentang New York, dia dulu sangat terobsesi dengan kota ini hingga akhirnya aku yang harusnya tinggal di Alaska terpaksa pindah kemari karena permintaanya." Ujar Jongin. Lay yang mendengar penuturan Jongin hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf 'O'
"Jadi kita pergi ke Apartement Kyung- ahh maksudku apartementmu sekarang?"
"Ya, tapi lebih baik kau mengirimi dia pesan dulu jadi ketika kita sampai bisa langsung berangkat tanpa menunggu lebih lama lagi, aku khawatir pada Baekhyun."
"Aku juga, terlebih Chanyeol"
Lay menatap keluar jendela setelah mengirimi Kyungsoo pesan singkat. Pikirannya melayang pada kondisi Chanyeol saat ini, dalam saku jaketnya tersimpan obat Chanyeol yang sengaja ia bawa. Ia khawatir Chanyeol pingsan secara tiba-tiba seperti kemarin lagi karena telat meminum obatnya apalagi disana ada Baekhyun, bisa-bisa semuanya yang sengaja disembunyikan oleh Chanyeol terbongkar begitu saja.
Setengah jam kemudian mobil yang dikendarai oleh Jongin berhenti pada deretan bangunan yang tidak terlalu tinggi seperti bangunan Flat tapi lebih berkelas, Apartement bergaya sedikit klasik memang sedikit berbeda jika dibandingkan Apartement di pusat kota kebanyakan. Jongin maupun Lay tidak perlu masuk Basement Apartemen itu karena Kyungsoo ternyata sudah berdiri manis didepan bangunan itu.
"Apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Lay.
"Belum, aku baru saja keluar lalu semenit kemudian kalian datang. Memang untuk apa kita pergi mencari tempat makan Korea? Dan kenapa Chanyeol dan Baekhyun tidak ikut?"
Kyungsoo yang penasaran kenapa Chanyeol atau Baekhyun tidak ikut pun melempar pertanyaan yang ada diotaknya sejak ia memasuki mobil ini. Kyungsoo sempat berpikir bahwa mereka berdua mungkin mempunyai rencana khusus untuk Baekhyun dan Chanyeol, tapi rasanya tidak mungkin mengingat Jongin tidak tahu apapun tentang semua ini kecuali Lay telah memberi tahunya.
"Mobil mereka mogok saat membeli makanan pesananku, dan saat ini kita tidak tahu dimana mereka berada." Jawab Lay lirih. Kyungsoo membulatkan matanya seolah mata itu ingin keluar dari tempatnya.
"Apa? Jika begitu kau harus menghubunginya lagi untuk mencari tahu dimana mereka sekarang. Aku takut ada hal buruk yang menimpa Chanyeol.. dan Baekhyun"
"Aku sudah mencoba tapi tidak ada jawaban dari dua orang yang sialnya membuat aku khawatir berat sekarang." Mobil yang mereka bertiga tumpangi berhenti saat berada di persimpangan jalan.
"Kita belok kemana? Kanan atau kiri?" Tanya Jongin yang sedari tadi diam.
"Jika pergi kerumah makan Korea yang dekat dari sini lewat kiri, jika lewat kanan akan memakan waktu karena harus melewati perkebunan dan padang ilalang yang minim penerangan. Dan juga lewat kanan harus memutar jalan dan itu memakan waktu yang lama." Jawab Kyungsoo sembari menengok kanan dan kiri untuk memastikan jalan yang mereka lewati benar.
"Jadi?"
"Kupikir Chanyeol adalah orang yang pintar dan memilih lewat jalan yang terdekat daripada harus memutar jalan yang pasti akan memakan waktu. Jadi kita lewat kiri." Jongin memutar stirnya kearah kiri pelan, lalu menginjak pedal gasnya.
"Kau membawa obat untuk Chanyeol?" Tanya Jongin pada Lay. Yang di tanya hanya menganggukan kepalanya beberapa kali, sedangkan Kyungsoo tampak kaget mendengarnya.
"Jongin kau.."
"Kenapa? Aku sudah tahu semuanya, jangan ada yang di khawatirkan sekarang kecuali keadaan Chanyeol dan Baekhyun."
'Jadi Jongin sudah tahu?' Pikir Kyungsoo.
Dalam hati Kyungsoo berpikir bahwa Jongin sudah mengetahui semuanya termasuk hubungan palsunya dengan Chanyeol, tapi kenapa pria itu tampak biasa saja?
Apakah Jongin benar-benar sudah melupakannya disaat dirinya mulai menyadari bahwa ia mulai mencintai Jongin? Sedikit ngilu saat mengetahui sebuah fakta baru yang menyakitkan baginya, tapi Kyungsoo lebih memilih diam dan fokus pada tujuannya sekarang untuk membantu Chanyeol menghindari Baekhyun, walau sejujurnya ia tidak ingin karena melihat bagaimana frustasinya Chanyeol saat merindukan Baekhyun.
Selain itu, Kyungsoo juga khawatir masalah Jongin yang akan semakin terluka walaupun sekarang ia sudah tidak mempermasalahkannya karena Jongin telah mengetahui semua kepura-puraan ini. Sepanjang perjalanan mereka belum menunjukan tanda akan adanya Chanyeol dan Baekhyun, bahkan kini mereka bertiga telah sampai pada rumah makan yang dituju.
"Aku akan keluar untuk bertanya pada penjaga disana, kalian tunggu disini." Kyungsoo melepas sitbeltnya lalu turun dari mobil. Tubuh mungil itu memasuki sebuah tempat minimalis bergaya khas korea dengan bunga-bunga kecil berwarna pink didepannya. Selang beberapa menit Kyungsoo keluar dari sana lalu langsung memasuki mobil.
"Bagaimana? Apa yang mereka katakan?" Lay langsung mengintrogasi Kyungsoo yang baru saja memasuki mobil.
"Mereka berkata tadi siang memang ada dua orang Korea mirip ciri-ciri yang aku sebutkan, tapi sudah pergi setelah membeli beberapa bungkus makanan." Jawab Kyungsoo.
"Jika mobil mereka mogok kenapa dijalan tadi kita tidak melihatnya?"
"Mungkin mereka lewat jalan yang satunya, Jongin kita lurus terus karena kemungkinan mereka lewat jalan itu." Jongin mengangguk lalu melajukan mobilnya sesuai perintah Kyungsoo.
"Semoga mereka baik-baik saja."
.
.
.
-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun masih saling berpelukan erat. Wajah pucat menghiasi keduanya, yang lebih parah Chanyeol yang bibirnya sampai sedikit membiru karena dingin.
"Chanyeol, kau kenapa?"
Baekhyun mendongakkan matanya menatap wajah Chanyeol yang terlihat lebih pucat darinya, Baekhyun sangat khawatir melihat Chanyeol yang kedinginan bahkan giginya bergemelatuk pertanda bahwa suhu tubuhnya sedang berlawanan dengan suhu luar tubuhnya.
Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Baekhyun, dirinya benar-benar merasakan sakit yang luar biasa pada bagian ulu hatinya tapi ia tahan karena masih ada Baekhyun dihadapannya, ditambah lagi cuaca yang sangat dingin seakan merobek kulitnya. Saat ini baik Chanyeol maupun Baekhyun memang hanya menggunakan kaos lengan panjang tanpa jaket karena jaket yang Chanyeol bawa ada didalam mobil yang terkunci.
"Kau sakit Chan.."
Dengan segera Baekhyun memegang kedua pipi Chanyeol yang terasa sangat dingin namun dahinya berkeringat. Baekhyun memajukan wajahnya dengan segera, ia menempelkan permukaan bibirnya pada bibir Chanyeol dan melumat benda kenyal itu secara kasar, karena Baekhyun pikir itu dapat mengurangi rasa dingin antara mereka berdua.
"Cpkh cpkh Baekhhh-" Chanyeol sedikit membuka matanya untuk melihat hal apa yang Baekhyun lakukan padanya.
"Cpkhh.. ma-maaf Channhh mphh" Ujar Baekhyun disela ciumannya.
Baekhyun takut jika Chanyeol memarahinya karena hal ini tapi ini juga demi mereka berdua yang bisa saja mati konyol karena kedinginan lagipula Chanyeol hanya diam tanpa protes apapun padanya.
Butuh waktu sekitar lima menit untuk Baekhyun melepas ciumannya pada Chanyeol, nafasnya sedikit putus-putus dan tubuhnya lebih menghangat karena ciuman kasar yang ia mulai sendiri. Tapi ia sama sekali tidak melihat pergerakan yang berarti dari Chanyeol, pria itu tetap menutup mata tanpa berniat membukanya sedikitpun.
"Chanyeol?" Baekhyun mengguncang bahu Chanyeol pelan.
"S-Sakitt.." Chanyeol berujar lirih sembari memegang bagian atas perutnya yang terasa sangat nyeri.
"Apa? Mana yang sakit? Katakan padaku." Baekhyun yang panik langsung mengusap pelan bahu Chanyeol yang masih mengerang pelan kesakitan.
"S-sakit.. Baekk.." Chanyeol membungkukan tubuhnya, menyelipkan tangannya pada bagian perut yang terasa sangat sakit bahkan Chanyeol sampai menitikan air matanya. Baekhyun yang tidak tahu kenapa dengan Chanyeol hanya bisa menangis melihat orang yang sangat dicintainya mengerang kesakitan seperti sekarang.
"Chanyeol hiks! Jangan seperti ini kumohon hiks!"
Baekhyun memeluk kembali tubuh Chanyeol, mengusap pelan kedua tangan Chanyeol yang tidak terbungkus oleh kaos panjangnya untuk menyalurkan rasa hangat. Mata Baekhyun masih setia mengeluarkan air mata yang mengalir deras, baru kali ini ia melihat Chanyeol yang biasanya konyol terlihat kesakitan sampai menitikan air mata.
"Chanyeol bertahanlah.." Baekhyun melepas pelukannya lalu berlari sembari berteriak minta tolong, ia berpikir mungkin ada perumahan disekitar sini atau mungkin mobil yang lewat.
"Kumohon seseorang tolong aku.." Baekhyun terengah, namun matanya terasa silau tatkala ada cahaya masuk kedalam retinanya. Baekhyun reflek berteriak lalu menyetop mobil tersebut.
"BAEKHYUN!" Pekik Jongin yang ternyata pengendara mobil tersebut. Lay dan Kyungsoo yang sadar dari lamunannya segera keluar dan bergegas menghampiri Baekhyun saat mendengar Jongin berteriak.
"Apa yang terjadi? Dimana Chanyeol?" Lay segera memeluk tubuh bergetar Baekhyun dengan erat.
"Chanyeol hiks! Sakit Hyung."
Baekhyun menarik tangan Lay lalu berlari menujukan tempat dimana mobil mereka mogok dan Chanyeol berada sedangkan Jongin dan Kyungsoo kembali kedalam mobil kemudian mengikuti Baekhyun dan Lay yang telah berlari terlebih dahulu. Hanya butuh waktu sepersekian detik untuk menemukan Chanyeol yang tengah tergeletak dengan erangan pelan dipinggir jalan yang sepi.
"Astaga Chanyeol!" Lay langsung menghampiri pria tinggi itu lalu memastikan keadaanya.
"Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit sekarang." Tanpa menunggu peritah dua kali dari Kyungsoo, Lay dan Jongin langsung memapah Chanyeol memasuki mobil diikuti Baekhyun dan Kyungsoo dibelakangnya.
Baekhyun memasuki mobil terlebih dahulu pada jok belakang, diikuti Chanyeol yang kini bersandar pada pahanya lalu Kyungsoo. Jongin dan Lay segera masuk memasuki mobil lalu mulai melajukannya dengan kecepatan penuh menuju Rumah Sakit terdekat.
"Chanyeol bertahanlah.."
Baekhyun masih setia mendekap erat Chanyeol yang bersandar padanya, mata indahnya terus mengalirkan air mata tanpa henti. Baekhyun tidak peduli pada tatapan sendu Kyungsoo yang duduk disamping kiri Chanyeol, yang sekarang ia pikirkan adalah kondisi Chanyeol yang terlihat sangat buruk.
"Chanyeol akan baik-baik saja Baek, percayalah bahwa Chanyeol adalah orang yang kuat."
Kyungsoo bersuara pelan, dalam hatinya juga merasakan ketakutan akan hal buruk yang bisa sewaktu-waktu merenggut nyawa seorang yang pernah ia perjuangkan cintanya sekaligus cinta pertamanya. Lay mengulurkan box tissue pada Kyungsoo, pria yang masih berketurunan China itu juga sedikit terisak melihat kondisi Chanyeol yang seperti orang sekarat.
"Terima kasih."
Kyungsoo menyambut box tissue itu lalu mengambil beberapa helai isinya. Tangan putih itu terjulur pada pipi berisi Baekhyun yang masih setia membuat aliran air mata. Baekhyun terkesiap melihat apa yang dilakukan Kyungsoo padanya.
"Sudah, jangan menangis lagi Baek. Kita harus berdoa untuk kebaikan Chanyeol saat ini." Kyungsoo masih menggerakan tangannya untuk menghapus air mata Baekhyun.
"Terima kasih Kyung." Baekhyun berujar lirih.
"Tidak Baek, Chanyeol pasti semakin sakit melihatmu seperti ini. Kumohon jangan menangis lagi."
Sungguh Baekhyun baru tahu bahwa Kyungsoo adalah seorang yang tulus, mungkin ini yang membuat Chanyeol dengan mudahnya jatuh cinta kembali dengan Kyungsoo. Sifat yang dimiliki Kyungsoo sangat bertolak belakang dengannya. Kyungsoo adalah orang yang sabar bahkan ketika Baekhyun menyiramnya dengan air, Kyungsoo hanya diam tanpa marah ataupun membalasnya. Mungkin jika itu Baekhyun sudah dipastikan orang yang melakukannya akan mendapat balasan yang lebih menyakitkan daripada hanya menyiram air saja.
"Kenapa kau baik padaku Kyung? Aku adalah orang yang akan merebut kekasihmu, harusnya kau membenciku saat ini."
"Apa itu perlu? Baek, dengarkan aku. Jika kau mengatakan bahwa dirimu akan merebut Chanyeol, maka rebutlah dia. Aku bahkan sudah melakukannya, aku sudah merebut Chanyeol darimu. Sekarang, rebut kembali Cintamu jika kau benar-benar mencintainya dan jangan biarkan dia pergi untuk mencintai orang lain dimasa lalunya."
Jongin tersenyum mendengar ucapan Kyungsoo, hatinya menghangat mendengar betapa bijaknya Kyungsoo sekarang. Ia senang Kyungsoo telah berubah menjadi orang yang baru semenjak kepergiannya beberapa bulan yang lalu.
"Aku banyak belajar dari kesalahanku yang lalu Baek, aku tidak ingin melihat orang yang sangat dicintai oleh Chanyeol melakukan kesalahan seperti apa yang aku perbuat."
"Chanyeol.. mencintaiku?" Baekhyun mengulang pernyataan Kyungsoo. Seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar, sejujurnya hatinya sedikit menghangat mengetahui bahwa Chanyeol masih mencintainya.
"Apa kau ragu pada Chanyeol?"
"Tidak, hanya saja Chanyeol bersikap seolah aku adalah orang yang harus dijauhi. Apa mungkin ia masih mencintaiku? Itu terdengar sulit dimengerti."
Hening.
Tidak ada jawaban dari bibir Kyungsoo, dia hanya diam seribu bahasa begitu pula dengan Lay dan Jongin yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
"Baekhhh.. Baekkhhyunhh"
Itu suara Chanyeol. Pria tinggi itu mengerang sembari menyebut nama Baekhyun yang kini tengah memeluk kepalanya.
"Ya, aku disini Chanyeol. Katakan mana yang sakit, katakan padaku."
Baekhyun mencoba mengusap lengan Chanyeol pelan saat dilihatnya wajah kesakitan dari Chanyeol, ini adalah kali pertama Chanyeol seperti ini didepan Baekhyun dan tentu saja membuat Baekhyun ketakutan bukan main. Chanyeol memang mengerang kesakitan, tapi ia sama sekali tidak membuka matanya barang sedikitpun seolah saat ini ia sedang tidur dan mengigau nama seorang dalam mimpinya, yang dalam kasus ini adalah Baekhyun.
Hampir tiga puluh menit lamanya mereka mencari Rumah Sakit terdekat, akhirnya mereka sampai di sebuah Rumah Sakit di pusat Kota. Lay berlari dahulu menuju kedalam rumah sakit untuk meminta bantuan, dan para petugas medis disana dengan sigap menolong Chanyeol lalu membawanya keruang UGD untuk secepatnya diberi penanganan lebih lanjut.
Diluar ruangan tampak Lay yang sibuk memberi kabar kepada keluarga Park termasuk Sehun, bahkan adik tiri Chanyeol mengatakan akan segera menyusul mereka ke New York dan akan pengambil penerbangan saat itu juga.
Lain halnya dengan Baekhyun yang menangis dipelukan Jongin, juga Kyungsoo yang entah kenapa masih memikirkan kedekatan antara Baekhyun dan Jongin disaat seperti ini.
"Paman dan Bibi Park akan segera kemari karena kebetulan mereka masih ada di Florida, jadi tidak akan menunggu lama untuk sampai disini." Ujar Lay yang baru saja memberi kabar pada kedua orang tua Chanyeol.
Semua yang ada disana hanya mengangguk pelan, menunggu dengan was-was keadaan Chanyeol yang saat ini sedang ditangani oleh Dokter didalam ruangan serba putih itu. Baekhyun masih ketakutan mengingat keadaan Chanyeol tadi, itu terlihat seperti sebuah mimpi baginya yang belum pernah sekalipun melihat Chanyeol-nya kesakitan hingga sedemikian rupa.
Sejujurnya dikepalanya terngiang berjuta pertanyaan mengenai keadaan Chanyeol yang tiba-tiba Drop seperti itu karena menurutnya angin dimusim dingin tidak akan berefek parah pada bagian tertentu seorang yang sehat-sehat saja. Baekhyun yakin ada yang tidak beres disini, ia yakin Chanyeol sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tidak, mungkin bukan hanya Chanyeol tapi juga semua orang. Apa hanya dirinya sendiri yang dibohongi dan tidak tahu apapun disini? Bahkan Jongin?
"Jongin, b-bolehkah aku bertanya?" Baekhyun berjuar sembari menghapus air matanya pelan.
"Ya, kau ingin bertanya apa?" Baekhyun masih bungkam untuk beberapa saat. Ia masih memikirkan kata apa yang sekiranya dapat ia sampaikan lewat mulutnya pada pria yang telah berjasa untuknya ini.
"Kau tahu sesuatu? Sesuatu yang tidak aku ketahui."
Kali ini Jongin yang diam. Ekor matanya melirik kearah Kyungsoo yang sama bungkamnya dengan dirinya, sedangkan Lay memilih seolah tidak mendengar dengan mengutak-atik ponselnya. Melihat seperti tidak ada yang akan membantu, Jongin hanya tersenyum manis pada Baekhyun yang dibalas kerutan pada kening oleh si lawan bicara.
"Kau akan mengerti secepatnya."
Lagi, jawaban ambigu yang Baekhyun dapat dari semua pertanyaan yang hinggap dikepalanya. Ia semakin percaya bahwa hanya dirinyalah orang bodoh yang tidak tahu fakta sebenarnya dalam cerita antara dirinya dan Chanyeol.
"Ken-" belum sempat Baekhyun meneruskan ucapanya, seorang dokter Pria muncul dari dalam ruangan UGD dengan pakaian serba putih, stetoskop yang menggantung pada lehernya juga masker berwarna biru dibawah dagu runcing sang dokter.
"Dia dalam kondisi stabil sekarang, jadi bisakah kita bicarakan ini diruanganku?"
Baekhyun mengkerutkan keningnya pelan. Ia pikir Dokter ini sedikit tidak sopan, ia harusnya bertanya 'keluarga Park Chanyeol?' Atau 'Bisakah saya bicara dengan orang yang bertanggung jawab atas pasien dengan nama Park Chanyeol?' Tapi tidak, entah hanya feeling seorang Baekhyun saja atau memang Dokter ini sudah cukup dekat dengan Chanyeol atau mungkin Lay atau mungkin juga Kyungsoo. Tapi Baekhyun tidak memperpanjang pikiran sempitnya itu dan fokus melihat Chanyeol yang tertidur dengan selang Infus juga alat bantu pernafasan yang bertengger manis di atas bibirnya.
Baekhyun sedikit melamun, tapi sebuah tarikan halus membuyarkan lamunannya mengenai keadaan Chanyeol didalam sana.
"Kenapa kita tidak masuk atau menemui Dokter itu?"
Baekhyun berujar polos saat tangan lembut Kyungsoo menyeretnya entah kemana. Ia dan Kyungsoo berjalan berlawanan arah dengan perginya Jongin dan Lay yang mengekor Dokter muda itu.
"Kita pergi ke Kantin, kupikir kau sedang lapar sekarang."
Benar. Kyungsoo benar, ia memang belum makan kecuali sarapan yang Lay bawa tadi pagi untuknya dan sampai saat ini ia belum memakan apapun bahkan semua makanan dan belanjaannya (termasuk Strawberrynya) masih di bagasi Mobil yang mogok di tengah jalan tadi.
Kyungsoo menyuruhnya duduk pada bangku kosong yang terletak di paling pojok ruangan yang disebut Kantin Rumah Sakit itu, sedangkan Kyungsoo nampak pergi ke depan Counter penjual lalu memesan beberapa makanan juga minuman. Baekhyun hanya dapat kembali melamun dan memikirkan keadaan Chanyeol sekarang, Ia bahkan sempat berpikir bodoh tentang Chanyeol yang bangun atau tidak nantinya. Lamunan bodoh Baekhyun buyar saat Kyungsoo menghampirinya dengan membawa nampan berisi dua gelas teh manis juga dua mangkuk Oats dengan daging, sayur hijau, dan butiran biji jagung manis sebagai pelengkap Oh, Baekhyun juga menangkap disana ada Kacang polong yang menjadi satu dengan Butiran Jagung.
"Kau tahu ini Rumah Sakit kan? Jadi kupikir kau juga akan tahu menu apa yang ada disini." Kyungsoo menyodorkan sebuah mangkuk dan gelas didepan Baekhyun, ia mengambil sendok kayu sekali pakai lalu membuka pembungkusnya.
"Aku rasa kau cukup familiar disini, apa kau sering berkunjung ke Rumah Sakit? Menjenguk temanmu mungkin?" Baekhyun bertanya, tangannya masih sibuk mengaduk Oats yang berbentuk seperti muntahan bayi itu, ia sedikit meringis saat lidahnya mengecap rasa hambar dari makanan didepannya.
"Aku pernah sekali kemari."
"Saat?" Baekhyun bertanya seolah sedang mengintrogasi, membuat Kyungsoo bergerak tidak nyaman walaupun Baekhyun bertanya tetapi tatapan matanya hanya fokus pada makanan didepannya itu.
"Saat temanku sedang sakit."
"Siapa?"
Kyungsoo mendesah keras, ia baru saja kehilangan selera makannya karena seorang Byun Baekhyun yang bahkan baru bersikap baik padanya saat ini. Kenapa Baekhyun ingin tahu sekali sih? kenapa Baekhyun menjadi cerewet dan seolah ingin tahu segala hal tentang apa yang Kyungsoo lakukan?
"Apa aku harus bercerita juga tentang semua teman kampusku yang pernah sakit dan dibawa kemari?" Baekhyun hanya menggeleng pelan.
"Tapi, kupikir boleh juga. Kita bisa banyak bicara yang membuat kita tidak canggung seperti ini." Baekhyun tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi kecilnya kearah Kyungsoo.
Hell, ingatkan bahwa dirinya baru saja menangis tanpa henti saat bersama Chanyeol.
.
.
.
-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-
.
.
.
Sehun sedang membereskan beberapa bajunya untuk ia bawa ke New York pagi ini, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukan pukul tujuh pagi.
Perbedaan waktu Korea dan New York yang sekitar empat belas jam itu membuat Sehun bangun di pagi buta karena telepon mendadak dari Lay yang mengabarkan bahwa Chanyeol sedang di Rumah sakit. Ia tidak tahu hal apa yang menimpa sepupu sekaligus kakak tirinya itu hingga masuk Rumah Sakit, ia belum sempat bertanya karena saat ia mengangkat Telepon tersebut nyawanya masih berlarian dia alam bawah sadarnya.
"Aku ikut."
Sehun mendengus pelan, Luhan kini telah berdiri didepannya dengan Skinny Jeans dan Cardigan biru tua serta kaos motif Mickey Mouse berwarna putih tak lupa dengan ransel yang menggantung indah dipundaknya serta koper mini berwarna kuning di tangan kirinya, ia benar-benar lebih dari kata siap untuk pergi.
"Kenapa harus ikut Lu? Ini bukan liburan akhir pekan, besok kau harus sekolah." Sehun tengah melipat kemeja terakhir yang akan ia bawa lalu menutup zipper kopernya pelan.
"Kau juga besok sekolah, tapi kenapa pergi?"
"Ini penting karena berhubungan dengan Kondisi Chanyeol, aku khawatir padanya."
"Aku juga khawatir padanya."
"Aku keluarganya."
"Jadi aku bukan keluarganya? Aku bukan bagian dari keluargamu?" Sehun mendekat kearah Luhan yang tengah merajuk, ia gemas melihat tingkah kekanakan kekasihnya ini.
"Hey, kau ini separuh jiwaku, tapi kau masih calon untuk keluargaku." Sehun mengelus surai madu milik Luhan pelan, ia tahu Luhan akan segera luluh dengan kata manisnya.
"Aku ingin bertemu Baekhyunee."
Tapi sayangnya untuk kali ini tidak. Luhan masih punya seribu alasan agar bisa ikut dengan Sehun, dan bahkan Pria Cantik itu telah mengeluarkan puppy eyesnya sebagai jurus andalan.
"Tapi aku hanya pesan satu tiket Lu." Kini giliran Sehun mencari-cari alasan agar Luhan tidak ikut denganya.
"Ini jaman Modern Oh Sehun yang tampan, dan aku adalah pemanfaat kecangihan dimasa sekarang." Luhan mengeluarkan ponselnya lalu memperihatkan layarnya pada Sehun yang kini menjatuhkan rahangnya.
"Aku sudah pesan tiket pesawat secara online." Luhan tersenyum lima jari pada Sehun yang tak habis pikir dengan tingkah laku kekasihnya ini.
"Hahhh.. sudah terlanjur juga, kau boleh pergi bersamaku." Sehun mendengus kembali. Kali ini dia benar-benar kalah telak dengan bocah seperti Luhan.
"Yess! Terima Kasih Sehunnie" Luhan memeluk erat Sehun yang kini hanya mengerlingkan matanya bosan.
"Kajja kita berangkat." Sehun mulai menarik kopernya menuju pintu kamarnya tapi Luhan mengintrupsi langkahnya.
"Sehun!" Yang dipanggil menoleh.
"Ada apa?"
"Kau lupa sesuatu ya?" Sehun mengeryit. Memang ia lupa apa?
"Tidak."
"Aishh, kau lupa Poppo~"
Sehun membulatkan matanya, apa-apaan Luhan ini biasanya juga tidak semanja ini padanya walaupun memang setiap disekolah ia selalu memberikan 'poppo' pada kekasih mungilnya itu, tapi ia tidak tahu bahwa itu sekarang menjadi sebuah kewajiban untuk dia lakukan.
Cup
"Sudah, ayo berangkat."
"Sehun~" Luhan kembali bersuara.
"Apalagi caantik?" Sehun menekankan konotasi bicaranya, ia sedang dalam Bad Mood sekarang.
"Gendong~"
Tidak ada kata selain kata sial yang Sehun ucapkan dipagi hari karena Luhan bertingkah layaknya gadis PMS atau pasangan pengantin baru mungkin? Sehun benar-benar kesal dan Bad Mood sekarang, ditambah beban pada punggungnya yang di naiki Luhan.
Untung saja Koper mereka diseret oleh para Maid di rumahnya, jika tidak sudah dipastikan Sehun akan jatuh pingsan karena kelelahan saat sampai di lantai bawah rumahnya. Luhan memang tidak terlalu berat, tapi beban tubuhnya bertambah saat Luhan tidak menaruh tas ranselnya agar dibawa para maid dan justru tetap menggendongnya, juga turun dari lantai dua rumah yang berisi belasan anak tangga sudah dipastikan bahwa Sehun sekarang seperti membawa beban berton-ton. Jika saja Luhan bukan orang yang ia cinta, pasti Sehun sudah mendepak bocah cantik yang terus merengek ini dari rumahnya.
Sayangnya Luhan adalah cintanya.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued..
.
.
.
.
.
.
Penyakit Chanyeol mulai ketauan. Tapi Baekhyun masih belum tau Chanyeol sebenarnya sakit apa. Apakah Chanyeol bakal pura-pura lagi?
Penasaran?
KaiSoo nya juga belum bersatu nih. Masih mau lanjut?
Next?
Review Juseyo~
Yuta tunggu :*
TERIMA KASIH.
SARANGHAE BBUING~!
