"Luhan?" Luhan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang sangat familiar memanggil namanya.
Tubuhnya langsung membeku ketika ia memutar kepalanya kesamping.
"Kau sudah pulang dari China?"
.
.
.
.
.
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
Author : Oh Zhiyu Lu
Title : Popobawa
Genre : Mysteri, Tragedy, Romance, Hurt, Yaoi, NC21, Dirty Talk, Hard sexs, Kekerasan, Masokis
Rating : M
Light : Chaptered
Cast : Sehun, Luhan
Other Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris, Sungmin, & Kyuhyun
Pair : HunHan, Baekyeol, Kyumin.
Disclaime : Cerita ini asli milik saya. Papi Hun dan Mami Han hanya milik saya seorang! Jika ada kesamaan, itu hanya sebuah kebetulan. Atau mungkin kita jodoh? Typo is everyweher
Oh Zhiyu Lu
Present
.
.
.
.
.
.
© Popobawa ©
"Emmm,,, Baekhyun, kau di sini ju-juga?" Luhan tak tahu harus berkata seperti apa. Ia takut apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan pemikiran Sehun. Dan hal tersebut dapat berimbas dengan emosi Sehun yang cepat naik. Luhan hanya tak mau jika Sehun kembali bersikap kasar kepadanya seperti dulu.
"Lu, ini sungguh kau?" Baekhyun mengguncang kedua bahu Luhan karena pria itu hanya terdiam. Luhan menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia bingung menjawab pertanyaan Baekhyun yang terus mendesaknya.
"Lu! Jawab aku! Kau sudah pulang dari China?"
"Ak-"
"Dia baru pulang dari China dua hari yang lalu. Tapi karena ada urusan penting dengan keluargaku, ia tak bisa menemuimu untuk memberi tahu kalau ia sudah pulang dari China." Sehun langsung memotong ucapan Luhan karena pria itu terlalu banyak berfikir hanya untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. Sepertinya Sehun harus turun tangan untuk menangani hal ini
Baekhyun menyerengitkan dahinya. Bukankah pria yang ada di samping Luhan ini adalah Oh Sehun, si pria berwatak dingin yang sangat jarang sekali berbicara. Kenapa dia bisa bersama Luhan. Ini sungguh mustahil.
Dan sependengaran Baekhyun tadi, Sehun mengatakan kalau dua hari yang lalu Luhan berada di rumah keluarga Sehun. Ada hubungan apa mereka? Kenapa mereka terlihat sangat dekat?
"Kau Oh Sehun kan? Kenapa kalian bisa bersama? Dan kenapa Luhan berada di rumah keluargamu dua hari yang lalu?"
"Luhan tak memberitahu padamu?"
Luhan maupun Baekhyun semakin bingung dengan jalan pikiran Sehun. Apa maksud Sehun? Dengan kepalanya yang menunduk, ia terus memikirkan apa maksud dari ucapan Sehun barusan. Ia tak mau ekspresi bingungnya ditangkap dengan jelas oleh Baekhyun.
"Chagi?" Sehun melingkarkan tangannya pada pinggang Luhan, lalu menariknya agar lebih merapatkan tubuhnya pada Sehun. "Kau tak memberi tahu pada sahabatmu kalau kita di jodohkan oleh orang tua kita?"
DIJODOHKAN?!
Luhan sangat terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Sehun barusan. Dijodohkan? Ini akan semakin rumit untuk kedepannya. Itu artinya, mereka harus berekting layaknya sepasang kekasih yang telah bertunangan di depan Baekhyun.
"Sungguh? Ta-tapi kalian ka-"
"Baekie? Ehh?! Luhan? Kau sudah pulang dari China?" Chanyeol yang baru datang berpura – pura terkejut dengan kehadiran mereka. Ia sempat panik ketika melihat Baekhyun sedang berbicara dengan Luhan dan Sehun.
"Kau tahu Yeol? Luhan dan Sehun dijodohkan oleh orang tua mereka."
"Mwoo?! Lu, kau tak salah pilih? Apa tampannya dia hingga kau mau dengan mahkluk dingin seperti dia?! Bahkan kecebong di rumahku lebih tampan dari dia. Wajahnya itu tak lebih dari sebuah tembok yang rata Lu!" Dalam hati Luhan telah berharap – harap cemas dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada Chanyeol. Kalian tahu sendirikan bagaimana tempramental Sehun?
'Apa yang kau katakan bodoh?!'
'Hahahaa,,, aku hanya berakting, agar Baekieku tidak curiga broo.'
'Tapi kau tak perlu menghinaku!'
'Inilah yang disebut mengambil kesempatan dalam kesempitan.'
"Chanyeol, bisakah kau sedikit menjaga ucapanmu?!" Baekhyun takut akan terjadi sebuah perdebatan di antara mereka. Apalagi Sehun dikenal sebagai mahasiswa yag bertepramental tinggi.
"Gwencahana. Aku tahu kalau sifatku dulu memang sangat buruk. Aku minta maaf jika dulu aku sangat angkuh kepada kalian semua. Apa lagi saat itu aku mengganggu kalian saat berciuman di lorong kampus. Aku sungguh minta maaf."
"Pffftt…" Luhan langsung menahan tawanya dengan menutup mulutnya. Ia sedang membayangkan bagaimana Baekhyun dan Chanyeol berciuman di lorong kampus. Dan dengan seenak jidatnya, Sehun mengganggu mereka.
'Kau tak perlu membahasanya idiot!'
'Ketahuilah, Dendam terasa lebih kejam hyung.'
"Enghh,,, kita tak usah bahas masalah itu. Aku memaafkanmu Sehun. Kau jugakan Yeol.?"
"Yayaaa,, aku memaafkanmu albino."
"Kamsahamnida."
"Tapi kenapa kau tak memberitahuku Lu? Aku kan sahabatu. Kau berjanji akan memberitahukan apapun yang terjadi padamu Lu. Dan kenapa berita sepenting ini tak kau beritahu padaku? Kau tak menganggapku sebagai sahabatmu?"
"Emmm,,, aku hanya ingin memberikan kejutan padamu Baekhyun. Sebenarnya aku ingin ke rumahmu besok untuk memberitahukan masalah ini. Tapi kita sudah terlanjur bertemu disini, yah,,, kejutannya gagal."
"Akkhh… sayang sekali. Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Kau akan melanjutkannyakan?" Luhan menggenggam tangan kanan Sehun yang melingkar di pinggangnya dengan erat. Kepalanya ia dongkakkan untuk mencari sebuah jawaban pada wajah tersebut.
"Tentu saja. Mulai besok Luhan akan kembali kuliah seperti biasa."
"Sugguh? Kau tak bercanda Oh Sehun?" Luhan merasa beribu – ribu kali lipat lebih bahagia ketika melihat Sehun menganggukan kepalanya. Begitu pun Baekhyun, ia langsung memeluk tubuh Luhan sedemikian eratnya karena hari – harinya bersama Luhan yang dulu sempat hilang kini kembali lagi. Ia tak perlu sendiri lagi saat menunggu Chanyeol.
'Albino! Kau tak bercanda kan?'
'Kau harus memberikanku penghargaan atas aktingku ini.'
'Tapi kau tak khawatir jika ia kabur?'
'Tak akan. Ia telah terjatuh cukup dalam dengan perangkapku.'
'Terserah kau sajalah.'
"Sehun, aku tak menyangka jika kau sebaik ini. Jadi aku tak perlu khawatir menyerahkan Luhan kepadamu." Ucap Baekhyun setelah ia melepaskan pelukkannya pada Luhan.
"Memang sudah seharusnya seperti itu."
"Aku tak mau tahu, kalian harus menceritakan bagaimana petemuan kalian saat di China sekarang juga."
Sehun dan Luhan langsung terkejut dengan ucapan Baekhyun. Mereka belum mempersiapkan apapun untuk menceritakannya pada Baekhyun.
'Chanyeol! Bawa pacarmu pergi. Aku tak mempunya alasan saat ini.'
'Menyusahkan!'
"Tunggu Baek! Bukankah kita seharusnya pergi ke Gedung Teater. Sebentar lagi pertunjukkannya akan dimulai."
"Tapi Yeol, aku masih ingin berbicara dengan Luhan."
"Aku tahu. Tapikan Luhan bilang dia besok akan kuliah seperti biasa. Kau bisa bertemu dengannya besok."
"Fiuuhh~~ Baiklah. Kali ini kalian aku lepaskan. Besok aku harus mendengar cerita perjodohan kalian. Otte?"
"Kau tak usah khawatir. Aku janji besok akan menyerahkan Luhan padamu." Ucap Sehun dengan mantap. Baekhyun menganggukkan kepalanya lalu ia beranjak memeluk Luhan sekali lagi sebagai perpisahan.
"Baiklah Lu. Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok."
"Aku juga Lu. Heii! Kau albino, jaga sahabatku ini!" Ucap Chaneyol lalu mereka berdua pun pergi dari hadapan Sehun dan Luhan.
Sehun memutar kepalanya menghadap Luhan ketika pria cantik itu menarik lengannya. Terselip sebuah perasaan bahagia di hatinya ketika melihat sebuah senyuman yang sangat indah di wajah Luhan, yang nyataya diberikan Luhan untuknya. Tanpa sadar Sehun menarik kedua sudut bibirnya membalas senyuman Luhan.
"Gumawo Sehun-ah. Jeongmal gumawo. Mulai saat ini aku berjanji akan melakukan apapun untukmu." Senyuman Sehun memudar ketika mendengar kata – kata terakhir itu. Apakah benar Luhan akan melakukan apapun untuknya? Termasuk memberikan setengah jiwanya?
Tapi yang menjadi pertanyaannya, apakah Sehun akan rela jika pria mungil di sampingnya ini ia lepaskan begitu saja. Mengapa semakin kesini, ia semakin tak ingin berjauhan dengan Luhan. Apakah Sehun jatuh cinta pada,,, Luhan?
Sehun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengusir pikiran aneh yang sempat melintas di fikirannya. Apapun yang terjadi, ia tak boleh mencintai Luhan.
Luhan yang sedari tadi memperhatikan Sehun menyerengit bingung. Ada apa dengan Sehun. Apa yang difikirkannya?
"Sehun. Kau kenapa?"
"Tidak. Bukan apa - apa. Lupakan saja! Kau ingin kemana lagi Lu?"
"Aku ingin mencoba permainan di stand itu Sehun." Luhan menunjuk sebuah stand yang sekilas terlihat sepert toko boneka. Karena banyak sekali boneka yang digantung di stand itu.
"Baiklah, kita kesana." Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju stand tersebut. Dan sepertinya Luhan sangat – sangat bersemangat untuk mencoba permainan itu.
"Ahjussi, aku ingin bermain." Ucap Luhan kepada seorang pria paruh baya yang menjaga stand itu.
"Baiklah, jika kau berhasil menjatuhkan tumpukkan botol itu, kau bebas memilih boneka manapun yang kau inginkan."
"Jinjja?"
"Ne. Ini bolanya." Pria tersebut memberikan sebuah bola kepada Luhan. Lemparan pertama gagal, seterusnya hingga lemparan ketiga Luhan selalu gagal.
"Sehuuunn,,, aku main lagi ya?" Sehun merogoh kantungnya untuk memberikan selembar uang kepada pria itu. Namun tetap saja, ketiga bola itu gagal mengenai sasaran.
"Sehuuunn,,, aku ingin boneka yang itu. Kau maukan mengambilkannya untukku?" Ucap Luhan sambil menunjuk sebuah boneka rusa berukuran besar. Luhan menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan memasang Puppy eyesnya kepada Sehun, namun pria itu malah memalingkan wajahnya. Puppy eyes Luhan sangat mematikan.
"Lupakan saja boneka itu! Kau bilang ingin makan es krimkan?"
"Tapi aku juga ingin boneka itu Sehun."
"Kau sudah mencobanya berkali kali tapi kau gagal. Itu tandanya boneka itu bukan takdirmu." Luhan mempoutkan bibirnya dengan kedua pipinya yang menggembung. Sehun begitu tega meninggalkannya pergi. Luhan pun berlari menyusul Sehun yang telah berada di depan pintu toko es krim. Mereka berdua mengambil sebuah tempat yang berada di dekat jendela.
"Kau ingin es krim yang mana?"
"Emm,,, aku ingin es krim coklat ukuran jumbo."
"Tidak tidak! Cukup ukuran yang medium saja. Nanti kau sakit."
"Sehuuunn! Kali ini saja. Pleasee~~" Sehun mengehela nafas beratnya ketika ia harus berhadapan dengan puppy eyesnya Luhan.
"Yeyyy!" Luhan bersorak senang ketika Sehun menganggukkan kepalanya. Lantas Sehun pun pergi menuju meja kasir untuk memesan es krim milik Luhan.
"Ohh shit! Dia memasang jimat apa?!" Umpat Luhan ketika matanya melihat pria bertubuh tegap itu sedang dirayu oleh seorang gadis yang bertugas menjaga meja kasir hari ini. Luhan sendiri heran dengan Sehun. Seingat Luhan ini sudah ketiga kalinya seorang pelayan wanita yang tertarik dengan Sehunnya. Apakah nafasnya mengandung ramuan?
"Ini es krimmu. Makanlah!" Luhan memalingkan wajahnya dari Sehun sambil melipat kedua tangnnya di dada.
"Kau kenapa Lu?"
"Kau memakai jimat apa hingga setiap wanita yang berbicara padamu pasti akan luluh."
"Jimat? Aku tak memakai jimat apapun."
"Kau bohong!"
"Aku tak bo- ahhh,,, kau cemburu yah?"
"Mana mungkin aku cemburu. Aku hanya kasihan kepada mereka yang kau kelabui."
"Benarkaaah?"
"Ten-tentu saja. Untuk apa aku cemburu. Lagi pula kau bukan siapa – siapaku."
"Ahh,,, baiklah. Pelayan!" Seorang pelayan wanita langsung menghampiri tempat Sehun dan Luhan berada.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Luhan mengangakkan mulutnya melihat tingkah gadis itu yang terlalu dibuat - buat. Apa maksud gadis itu dengan merendahkan bahunya di hadapan Sehun. Luhan tak bisa memungkiri jika kepalanya saat ini sangat panas.
"Apakah disini kalian menyediakan milk shake?" Uhhh,,, Luhan sangat emosi ketika Sehun melemparkan tatapan mesumnya pada gadis itu. Tidaaaakkk! Luhan hanya mau tatapan mesum itu ditunjukkan padanya saat ia tak berbusana. Tak ada yang boleh merebutnya dari Luhan. Tak perduli sapapun itu!
"Tentu saja. Anda ingin rasa apa?"
"Emm,,, vanilla mungkin."
"Tunggu sebentar ya."
"Tunggu! Bagaimana kalau aku,,, mendapatkannya langsung darimu?"
"STOP IT!" Mereka berdua langsung memenadang Luhan dengan aneh. Nafasnya memburu dengan wajahnya yang sudah merah padam.
"Dia-" Luhan menunjuk Sehun dengan jari tulunjuknya, tapi matanya menatap wanita itu dengan sinis. "tidak suka susu. Berikan saja dia kopi hitam. Pergi!" Luhan kembali duduk di kursinya. Ia menyuapkan es krim ke dalam mulutnya dengan ganas. Luhan terlihat sangat emosi saat ini.
"Ya, berikan saja aku kopi hitam. Pergilah! Terimakasih." Wanita itu pun pergi menuju dapur. Sepertinya wanita itu sanat kecewa.
"Heiii Lu~~ Kau marah eoh?"
"Tidak!"
"Kau ceburukan?"
"Untuk apa?!"
"Sudahlah mengaku saja!"
"Aku hanya jijik melihat kalian seperti itu. Ini tempat umum."
"Kau yakin?"
"Diamlah Oh Sehun! Kau tak lihat aku sedang makan?"
"Baiklah." Sehun hanya memandangi wajah Luhan saat ia menyantap es krim miliknya. Sesekali ia akan menyeruput kopi miliknya yang diantarkan oleh pelayan yang berbeda. Mungkin pelayan tadi masih kecewa karena hanya dimanfaatkan oleh Sehun.
"Aku pergi ke toilet dulu sebentar."
"Pergi saja sana!" Ucap Luhan ketus tanpa memperhatikan Sehun yang tengah menggelengkan kepalanya memaklumi sifat Luhan yang sedikit kekanak - kanakkan. Sehun pun beranjak dari kursinya meninggalkan Luhan yang asih setia dengan es krim miliknya.
Luhan mengela nafas beratnya untuk kesekian kalinya. Ini sudah lima belas menit semenjak pria itu permisi ke kamar mandi. Tapi hingga kini ia tak memunculkan batang hidungnya. Kemana dia?
"Apa dia meninggalkanku sendiri di sini?" Luhan langsung memaki maki Sehun tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tangannya menggenggam garpu dengan erat, melampiaskan kekesalannya.
"Oh Sehun keparat!"
"Siapa yang kau bilang keparat baby?" Luhan langsung memalingkan wajahnya ketika Sehun telah duduk di hadapannya. Ia kembali fokus dengan semangkuk es krim di hadapannya.
"Pelan pelan makannya. Nanti kau tersedak. Es krimu tak akan pergi kemanapun."
"Biarkan saja!"
"Kau ini makan seperti anak kecil saja. Di seitar mulutmu banyak es krim."
Luhan langsung mengambil kertas tisu yang berada di atas meja mereka. Namun tangan Luhan langsung dicegat oleh Sehun.
Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan mendekat ke samping Luhan. Tangan kirinya yang bebas mengangkat dagu Luhan agar mendongkak menghadapnya. Secara perlahan Sehun mulai mendekatkan wajahnya pada Luhan.
Cuppp…
Luhan membelakkan matanya saat Sehun melumat bibirnya dengan lembut. Menghapus semua jejak es krim yang berada di sekitar mulut Luhan hingga tak tersisa sedikitpun.
Sehun melepaskan tautan bibir mereka saat ia merasa bibir Luhan telah besih dari sisa - sisa es krim. Ia kembal duduk di tempatnya semula tanpa memperdulikan pengunjung lain yang tengah menatap mereka dengan berbagai ekspresi.
"Se-Sehun! Apa yang kau lakukan?!"
"Kau saja bisa ceburu dengan wanita itu karena aku menggodanya. Aku juga cemburu karena tisu itu bisa menyentuh bibirnmu. Intinya seluruh tubuhmu milikku!" Sehun kembali menyesap kopi miliknya dengan tenang.
"Mianhae,,, jeongmal mianhae. Dia memang sedikit tidak waras." Luhan membungkukkan tubuhnya kepada seluruh pengunjung toko es krim itu sambil terus meminta maaf. Bisa – bisanya dia bersikap biasa saja.
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
"Ehh… inikan jalan menuju apartemenku." Ucap Luhan saat ia melihat jalanan yang ada di sekitarnya terasa sangat familiar. Dan ia menyadari jika jalanan ini menuju gedung apartemennya.
"Jadi kau mau kemana lagi?"
"Kita tidak tinggal di rumahmu?"
"Kau tak rindu apartemenmu?"
"Jadi kita akan tinggal di apartemenku? Sungguh?!" Sehun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Luhan, namun matanya masih fokus dengan jalanan yang ada di depan.
"Hwaaa! Aku tak menyangka jika kau sebaik ini Sehun. Aku sangat merindukan apartemenku."
"Tapi sesekali kita juga harus tinggal di rumahku."
"Sipp Bos!" Sehun tersenyum kecil melihat tingkah Luhan. Walaupun pandangannya lurus kedepan, namun ia masih bisa melihat Luhan memberikan sikap hormat kepadanya.
"Ayo turun!" Ucap Sehun setelah ia mematikan mesin mobilnya. Luhan mengangguk dan beranjak keluar dari mobil diikuti Sehun juga. Mereka berjalan beriringan memasukki sebuah lift lalu menekan tobol tiga.
Tingg!
Luhan langsung menarik Sehun keluar dari bilik lift menuju sebuah pintu yang terdapat angka 420. Ia sungguh tak sabar memasukki apartemennya. Sebagus apapun rumah Sehun, tapi ia lebih nyaman di apartemen sederhananya.
Tingg,,,
Luhan langsung memasukki apartemennya ketika pintu tersebut terbuka. Lain halnya dengan Sehun yang hanya bersikap tenang.
Bruuuukkk
"Huahhhh,,,, bogoshipeoooo!" Luhan menghempaskan tubuhnya di atas sofa miliknya. Kedua tangannya ia rentangkan sambil menghirup nafas sedalam - dalamnya.
"Sehun!" Sehun yang sedang menutup pintu utama, langsung berjalan menghampiri Luhan.
"Kenapa?"
"Kau akan tidur di sinikan?"
Sehun menganggukkan kepalanya. "Iya. Lebih baik sekarang kau ganti bajumu dan pergi tidur, Ini sudah sangat larut."
"Baiklah." Luhan pun beranjak dari posisinya dan berjalan memasukki kamarnya.
1 detik
Sehun memperhatikan pintu kamar Luhan.
2 detik
Sehun mendudukan dirinya di atas sofa.
3 detik
Sehun tersenyum lembut sambil terus memandangi pintu kamar Luhan
4 detik
Sehun be-
"Kyyyyyyyyyaaaaa! SEHUUUUUUUUUNNNN!"
Sehun semakin mengembangkan senyumannya saat ia berjalan memasukki kamar Luhan. Secara perlahan ia membuka pintu kamar tersebut hingga menampilkan sosok pria bertubuh mungil yang sedang memeluk sebuah boneka rusa berukuran besar.
"Kau menyukainya?"
"Tentu saja aku menyukainya. Kau pasti mengambilnya saat kau pergi ke kamar mandi tadikan?"
"Iya, kurasa sangat sayang sekali jika boneka itu jatuh ke tangan orang lain."
"Gumawo Sehuuunn!" Luhan meletakkan boneknya dan berlari ke arah Sehun. Namun tinggal beberapa langkah lagi, Luhan berhenti. Ia takut jika Sehun marah saat ia memeluknya.
"Kenapa heum? Kau ingin memelukku?" Sehun merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum selembut mungkin kepada Luhan.
Pria itu mendongkkakan kepalanya menatap Sehun. Beberapa detik kemudian ia tersenyum dan langsung memeluk tubuh tegap itu dengan erat. Mengungkapkan seluruh kebahagiaannya pada Sehun melalui sebuah pelukkan yang hangat.
"Sehun?"
"Heum?"
"Terimakasih untuk hari ini. Aku sangat bahagia. Hari ini adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku."
"Jika ku bahagia, akupun akan bahagia."
"Sehun, berjanjilah kita akan terus seperti ini. Aku tak mau kau pergi dariku. Bisakah?"
Sehun tenggelam dalan fikirannya. Mengapa hatinya terasa sangat perih ketika Luhan mengatakan hal tersebut. Ada perasaan bersalah dan kecewa ketika mengingat Luhan hanyalah korban yang akan ia jadikan tumbal. Semua kisah romantis yang ia rangkai hari ini bersama Luhan hanyalah bualan semata untuk mempermulus jalannya rencan yang telah ia susun. Tapi mengapa semuanya semakin terasa berat.
"Sehun?" Luhan mendongkakkan kepalanya menatap Sehun yang lebih tinggi darinya.
Sehun yang merasa diperhatikan pun balas menatap mata Luhan dengan dalam. Sehun bingung, kenapa mata ini selalu berhasil mengajaknya untuk tersenyum?
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Selamanya kita akan seperti ini." Luhan membalas senyum Sehun dan kembai menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sehun. Hidungnya ia gesek gesekkan ke dada bidang pria itu. Mencoba mencari posisi yang paling nyaman. Feromon yang menguar dari tubuh Sehun selalu membuat Luhan ketagihan.
"Tidurlah Lu. Ini sudah malam."
"Ne."
Dan bulan purnama yang bersinar terang malam itu menjadi saksi bisu kedua sejoli ini yang tengah berpeluk erat saling berbagi kenyamanan dan kehangatan satu sama lain.
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
Langit yang semula berwarna hitam kini mulai diterangi oleh cahaya sang surya di ufuk timur. Perlahan hingga cahaya tersebut semakin terang dan menampakkan keagungannya. Cahayanya yang megah berpendar keseluruh pelosok permukaan bumi. Tak luput juga sebuah apartemen sederhana yang sangat damai pada hari ini.
Cahayanya yang agung, menyelip masuk melalui sela - sela tirai jendela hingga akhirnya menerpa seorang pria berkulit seputih susu yang masih larut dalam tidur nyenyaknya. Namun, pria tersebut tak menunjukkan tanda - tanda bahwa ia merasa terganggu dengan keberadaan cahaya tersebut. Mungkinkah siulan burung di pagi hari dapat membangunkannya?
"Enghh…" Sehun –pria berkulit putih- pun akhirnya terbangun karena terusik dengan keberadaan burung - burung yang bertengger di jendela kamarnya. Tangnnya terulur untuk menghalau sinar matahari yang menerpa wajahnya.
Ia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk sambil bersender pada headboard tempat tidur. Namun saat mengarahkan pandangannya ke samping, ia langsung tersentak kaget. Bukankah seharusnya di sampinya ada Luhan?
Maka ia pun langsung berlari menuju kamar mandi di kamar tersebut. Namun nihil, ia tak menemukan siapapun di sana.
Sehun berlari keluar dari kamarnya menuju dapur, dan hasilnya sama saja. Ia tak menemukan siapapun. Ruang tengah, gudang, kamar mandi dan balkon sudah diperiksanya. Namun ia tak menemukan keberadaan Luhan
"Luhaaann? Kau dimana?!" Sehun telah mencari ke seluruh penjuru apartemen itu, namun ia tak menemukan siapapun selain dirinya. Apakah Luhan kabur?
"Arrggg! Seharusnya aku tetap memasang dinding pelindung itu." Sehun memasang jeket miliknya lalu mengmbil kunci mobilnya yang berada di atas meja.
Bussshhh
Namun saat akan membuka pintu, sebuah suara membuat pergerakkannya terhenti.
"Menjijikkan." Sehun menghela nafas beratnya ketika mendengar suara itu. Tanpa melihat wajahnya, Sehun pun sudah tahu siapa orang itu.
"Aku tak punya waktu Kai. Aku harus mencari Luhan. Aku tak mau usahaku selama ini sia- sia."
"Hahaha,,, kau yakin?
"Maksudmu?"
"Maksudku, kau itu bukan seperti seorang penculik yang kehilangan korbannya. Tapi kau,,, seperti seorang pria yang terauma kehilangan kekasihnya."
Sehun terpekur dalam pikirannya sendiri. Benarkah? Apakah ia telah jatuh cinta pada Luhan?
"Ku terlalu takut kehilangan Luhan hingga kau terbawa emosi. Kalau kau bersikap tenang, mungkin kau menemukan sebuah memo yang di tempelkan Luhan di pintu kulkasnya."
Sehun langsung memenadang Kai dengan intens. Tatapannya seperti bertanya tentang kebenaran yang dikatakan olehnya barusan. Sedangkan Kai memutar matanya karena reaksi berlebihan yang ditunjukkan Sehun.
"Kau seperti anak remaja Sehun." Setelah Kai mengatakan hal itu Sehun langsung berari menuju dapur. Di sana ia menemukan sebuah memo kecil berwarna kuning yang di tempel di pintu kulkas.
Sehun, aku pergi ke pasar
Persediaan makanan di kulkas sudah habis
Aku hanya sebentar dan aku tak akan kabur
Kau tak usah khawatir
Luhan
"See? Kau itu terlalu berlebihan Oh Sehun. Dia hanya pergi kepasar sebentar dan reaksimu seperti ini?"
"Heii! Aku hanya tak mau dia kabur. Kau tahukan bagaimana usahaku agar dia mencintaiku? Aku hanya tak mau mencari korban baru."
"Benarkah? Sebaiknya kau lebih berhati hati Sehun. Kau harus melepaskan Luhan seutuhnya saat upacara penyerahan itu. Jika tidak, kau akan mati bersama Luhan. Kau ingatkan peraturan itu?"
"Hahhh…" Kai menghembuskan nafas beratnya saat Sehun tak membalas perkataannya. "Aku peringatkan padamu Sehun, kau tak boleh mencintai korbanmu. Jaga hatimu Sehun. Aku pergi dulu."
Busshhh
Kai pun menghilang di antara kabut asap yang mengelilinginya. Meninggalkan Sehun yang tenggelam di antara dua pilihan yang memeberatkannya.
"Sehuuunnn,,,, aku pulang."
Ckleek
Luhan kembali menutup pintu utama apartemennya setelah ia berada di dalam. Luhan berpikir jika Sehun masih larut dalam tidurnya, karena tak ada yang membalas salamnya. Namun, saat berjalan menuju dapur, ia melihat Sehun yang tengah termenung sambil memandangi memo kuning yang ia tempel di pintu kulkas sebelum ia pergi tadi. Apa yang salah dengan memo itu?
"Sehun?" Luhan berusaha memanggil Sehun selembut mungkin. Ia takut jika panggilannya mengganggu Sehun. Namun, hingga Luhan berdiri di samping Sehun, ia tak kunjung menyadari kehadiran Luhan.
"Sehunie?"
"Ehh?" Sehun terbangun dari ketermenungannya ketika ia merasakan seseorang menyentuh pundaknya.
"Kau kenapa?"
"Kau sudah pulang?"
"Iya. Ada apa dengan memo itu?"
"Memo ini?"
"Iya, memo itu. Kenapa tadi kulihat kau terus memandangi memo itu hingga kau tak mendengar panggilanku?"
"Tidak, emm,,, aku hanya melacak kepergianmu dengan memandangi memo ini."
"Benarkah? Kau bisa melakukan hal seperti itu?"
"Tentu saja. Sekedar info saja, aku ini bisa melakukan apapun yang aku mau."
"Hahhh…" Luhan memutar matanya jengah dengan sifat asli Sehun yang sangat narsis. "Mandilah, aku akan menyipakan sarapan untukmu."
"Benarkah? Aku akan mendapatkan makananku sekarang?" tanya Sehun dengan memandang Luhan sedukatif.
"Ehh? Maksudku, makanan yang biasa dimakan oleh manusia. Bukan makanan yang seperti itu."
"Luhan,,, sekedar mengingatkanmu, aku ini manusia setengah jin. Dan kau tahu sendiri, jika makananku itu dirimu."
"Emmhhh,,, itu,, ee.. Sehun, bukankah kau bilang hari ini kita akan pergi kuliah?" Tanya Luhan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Baiklah. Aku lupa. Aku mandi dulu." Ucap Sehun sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Untunglah aku selamat." Syukur Luhan sambil mengelus dadanya. Ia pun berjalan menuju dapur dan membuatkan sejumlah makanan untuk dirinya dan Sehun.
To Be Continue
HAAAAHHHH! Ottee? Udah panjangkan yang chapter yang ini? Tapi maaf yah kalau romancenya gagal. Zhiyu kebiasaan buat FF angst. Jadi pas bagian bikin romance fluff gitu rada gagu.
Dan yang pada nanyain, ini bukan angst kok. Ini Cuma hurt/comfort aja. Ga aka nada sad ending. Bakalan happy ending dengan pair HunHan. Jadi ga ada squel #ColekTatarazzi
Big Thanks to :
Almun || hyejinpark || byunballoon || thyya exquarel || ohsehun79 || merryistanti || leedongsun3 || DdhiiaNn || myhunhanbaby || pixoxo || michyeosseo || Guest3 || hunhanminute || Guest2 || HunHanLoverz || PandaYehet88 || CANTIQUE NICH || RZHH 261220 II || park baekyeol || shinshin99SM || slcbkk0996 || baekhyunniewife || atikasepti1 || junia angel 58 || kimyori95 || FriederichOfficial || LuLuLuHan89 || S M M || Re-Panda68 || Juniel Is A Vampire Hybrid || oktaviarita rosita || Putri || snowy07 || ren hunhanhardshipper || sexlkslb-ccditaks || ShinJiWoo920202 || luludeer2009 || tmarionlie || HyunRa || kimjongwinn || AmbarAmbarwaty || LuluHD || love exo || exindira || Taeminho597 || hwangpark106 || MeysiACRoring || Guest || Armaita Dyo || Princess jewel || Kim Eun Seob || Hayashi Hana-chan || Dokbealamo || lolamoet || nam mingyu || Mara997 || ferina refina || fufuXOXO || Vita Williona Venus || hunhan shipper || lisnana1 || oh-seha || delimandriyani || Su Hoo || sstyle313 || younlaycious88 || Maple fujoshi2309 || WulanLulu || fitry sukma.39 || veratjan || hafid || Cindy Han || A Y P || sjvixx || suandyrifki || Hyunki2204 || m1297 || Lulu ELFuJoyers || QingrouLu || kim heeki || rizkyamel63 || Jung Eunhee || irna lee 96 || deerHJ || tarraaa || Guest || haneunahhh18 || nidayjshero || SimbaRella || ohmydeer || Dasha Kim || kyoonel72 || SeLuChenBaek || sefuckinhun || Nedera
Makasih banget yang udah mau ngereview. Zhiyu ga nyangka yang review makin bertambah. Zhiyu jadi terhura baca semua review kalian. Terutama dengan yang masih setia gebaca dari cahp 1 sampe sekarang. Zhiyu ga akan ngelupain kalian. #-_-"
Buat yang dulu siders, makasih yah udah mau review. Ga papa kok kalau kalian baru muncul sekarang. Zhiyu senang banget kalau kalian mau jujur. Makasih yah udah mau baca selama ini.
Semoga chap 11 Zhiyu bisa up date kilat.
Makasih banyak semuanyaaaaaa! Sarangahae!
.
.
.
.
Review again, Please,,,
