[Kim Taehyung, 29 tahun, CEO]
[Jeon Jungkook, 21 tahun, Idol, Mahasiswa]
.
.
VKOOK
.
Bangtan akan comeback bulan ini. Semua member di buat sibuk akan jadwal latihan yang padat, harus menghapal setiap koreo agar menjadi sempurna saat tampil di media, lalu menjalani sesi pemotretan untuk album mereka yang baru.
Member termudanya, Jeon Jungkook serta ke empat member lain selalu pulang di atas tengah malam karena mereka terus berlatih hingga kompak dan tak meninggalkan kesalahan sedikitpun. Seminggu sebelumnya shooting untuk MV yang berjudul Blood Sweat and Tears telah rampung di selesaikan, tinggal satu hal lagi yang akan menjadi agenda untuk mereka yaitu melakukan pemotretan untuk konsep foto album yang bertajuk Wings.
Di ruang dengan dominasi putih tulang ini, terduduk seorang pria muda yang sekarang tengah di tata oleh salah satu perias professional kepunyaan agensinya. Jungkook tampak memejamkan matanya ketika perempuan berambut orange menyala itu tengah memberi sedikit eyeliner hitam pada kelopak matanya.
Perempuan yang merupakan make up artis itu melihat wajah Jungkook sekali lagi dengan prihatin, tangannya ikut menabur sedikit concealer dan mengarahkannya pada bawah mata Jungkook agar lingkar hitam itu segera tersamarkan.
"Kau tidur jam berapa Jungkook-ah? Bukankah kemarin menejermu sudah memberi jatah istirahat yang cukup?" suara perempuan itu nyaris frustasi, sementara Jungkook hanya tersenyum lebar tidak ada kata yang terucap setelahnya karena dia takut, jika sepatah kata saja keluar dari bibir itu maka tamatlah riwayatnya.
Riasan wajah serta rambut selesai, kini giliran Jungkook yang harus melakukan pemotretan. Dia hanya memakai blazer beludru berwarna biru, serta kemeja yang bermotif taburan bintang serta bulan.
Berjalan menuju tempat yang sudah di desain sedetail mungkin untuk mengikuti konsep album, Jungkook menghela nafas berat dan menyemangati dirinya sendiri, lelah tentu namun ini semua adalah cita-citanya sedari dulu—menjadi orang yang di kagumi, berkarya dengan sepenuh hati dan berharap bahwa orang di luar sana menyukainya.
Jungkook dan anggota Bangtan yang lain serta seluruh tim bekerja keras untuk comeback kali ini. Dan dia berharap kali ini album mereka akan di sukai oleh penggemar serta semua kerja kerasnya akan terbayar.
.
.
Lewat tengah malam. Lelah, dan ingin segera beristirahat mungkin merupakan prioritas utama dari member Bangtan sesaat mereka sampai di dorm, tidak perlu mengganti pakaian atau mencuci muka itu sama sekali tidak penting yang mereka butuhkan hanya kasur nyaman dan pergi ke alam mimpi, tapi berbeda dengan Jungkook yang masih setia berdiri di ruang tengah dorm, dia belum mengantuk walau sekujur tubuhnya lelah.
Barangkali dia sekarang mengidap Insomnia yang akut. Jungkook berpikir mungkin jika siklus tidurnya menjadi berantakan akibat Insomnia dia harus segera berkunjung ke dokter untuk memeriksakan diri.
Kakinya lalu melangkah menuju dapur yang gelap, membuka pintu kulkas dan mendapati seiris kue cokelat yang di belinya lusa kemarin.
Mengambilnya lalu membawa kue itu ke dalam kamarnya, menyalakan lampu, serta membuka laptop berwarna silver dan mulai menonton film. Seluruh sendinya ngilu luar biasa, luka lebam bekas latihan yang keras masih membekas di lutut serta sikunya, tapi tetap dia tidak bisa tidur.
Matanya tampak serius mengikuti alur cerita yang di tampilkan di layar laptop empat belas inchi tersebut, tapi tiba-tiba bunyi notifikasi di ponselnya membuyarkan semuanya.
'Jungkook! Tidur sekarang!'
Pesan singkat dari Seokjin. Membuat alis Jungkook bertaut tak suka, dia lalu mengarahkan pandangannya menuju pintu kamar yang terkunci, "darimana Jin hyung tau kalau aku belum tidur?" gumamnya pada diri sendiri.
'Aku tau kau sedang apa walaupun kamar kita terpisah. Sekarang cepat sikat gigimu dan pergi tidur!'
Dengan melengos Jungkook langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Melakukan ritual sebelum tidur dengan cepat dan asal. Kemudian dia naik ke ranjang dan mematikan laptopnya. Menarik selimut bermotif ultra man itu hingga dada dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang menyala di sebelah kirinya.
Jungkook mencoba menutup matanya agar jatuh tidur, tapi tetap tak bisa. Dia membalikan badan menjadi menghadap lampu tidur yang di sebelahnya terdapat miniatur Spongebob hadiah dari Jimin saat ulang tahunnya, tiba-tiba saja dia teringat ucapannya saat mengantar Taehyung menuju kantor. Menggigit lidahnya dalam, dia mengerang tertahan.
Setelah Jungkook mengantar Taehyung ke kantornya dua minggu lalu, CEO sibuk itu belum menghubunginya sama sekali. Jungkook jadi malu kepada dirinya sendiri karena telah mengatakan kalimat itu, sungguh it's not my style—batinnya.
Terlihat seperti dia yang mengharapkan adanya status antara dirinya dan Taehyung. Maka dari itu setelah meninggalkan kantor Taehyung sebenarnya dia berniat untuk menceburkan dirinya ke dalam Sungai Han yang dalam.
Tapi Jungkook juga bingung, dan dia menjadi serba salah.
Seharusnya Taehyung membalas ucapannya atau opsi paling buruk adalah menolak kata-kata yang keluar dari mulut Jungkook dengan kalimat super pedas atau mungkin juga meledeknya dengan kalimat yang membuat hati Jungkook seolah retak tapi yang di dapat malah Taehyung yang berucap hati-hati dan berlalu pergi.
Bukankah memang Taehyung orangnya seperti itu? Dia selalu pergi dan datang tiba-tiba. Jungkook tidak ingin terlalu memikirkannya karena sejujurnya dia sudah cukup dibuat pening karena banyaknya pikiran yang masuk ke dalam otaknya.
Tentang karir, kuliahnya yang sekarang mau masuk semester lima dan lainnya.
.
.
Idol biasanya mempunyai dua tempat yang selalu mereka singgahi. Dorm dan kantor agensinya. Seperti saat ini, semua anggota BTS sedang berada di kantor BigHit untuk melihat bagaimana reaksi dari ARMY—sebutan untuk fans mereka tentang video teaser yang baru saja di upload satu jam yang lalu.
Jimin terlihat paling bersemangat, sementara Jungkook hanya meminum cola serta memakan pizza dalam diam tapi matanya masih melihat deretan kalimat berbahasa inggris di kolom komentar yang berada di Youtube.
Mereka yang berkomentar kebanyakan berkata bahwa video tersebut sangat membuat penasaran, lalu ada komentar lain yang berkata bahwa suara Jungkook di video itu sangatlah bagus, membuat yang paling muda hanya tersipu malu membacanya.
Drrrrt,
Getaran pada ponsel sang leader—Namjoon membuat semua mata melihat. Itu merupakan reminder kalau mereka semua harus kembali latihan dan hanya di jawab oleh desahan malas dari yang lainnya.
Lagu mulai terdengar keras di ruang latihan yang kedap suara itu, semuanya terfokus begitu pula dengan Jungkook tapi tiba-tiba dia merasakan ponselnya berbunyi dengan segera dia berhenti dari menggerakan badannya menjadi melihat siapa yang tengah menelfonnya larut malam begini.
Tae hyung is calling…
Jungkook masih melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu, ragu apakah harus menjawab atau tidak. Tapi sedetik kemudian bayangan akan ucapannya waktu itu membuatnya malu dan pada akhirnya telfon itu di biarkan begitu saja hingga terputus sendiri.
"Maaf hyung, aku malu berbicara denganmu"
.
.
Pada hari itu Taehyung mendapatkan telfon langsung dari asisten kakeknya kalau kondisi beliau semakin parah, nafasnya sudah putus-putus dan itu membuat Taehyung agak panik. Yang dia ingat hanya harus berada di rumah sakit dan mendatangi kakeknya, lupa akan kalimat yang baru saja Jungkook katakan kepadanya dan mulutnya hanya mengucapkan hati-hati.
Di hari itu juga, Taehyung langsung menelfon Hoseok untuk menemaninya ke rumah sakit karena dia tau pasti emosinya tidak stabil dan Taehyung tak ingin dia berakhir di rumah sakit karena menabrak sesuatu di jalan.
Beruntung rumah sakit itu dekat dengan kantornya, dan beruntung juga lalu lintas tidaklah padat maka segera setelah mereka berdua sampai Taehyung langsung menuju kamar kakeknya di rawat. Retinanya langsung menangkap seluruh anggota keluarga Kim tengah berdiri, minus ayahnya—menunggu dokter menyampaikan kabar baik untuk mereka.
Mereka semua membuat keributan, dengan tangis serta isakan khawatir. Taehyung berjalan mendekat dengan Hoseok di belakangnya. Tak berselang lama, dokter yang usianya mungkin sama dengan kakeknya keluar.
"Bagaimana dokter?" tanya pria dengan rambut klimis itu sambil berjalan mendekat.
"Semuanya sudah kembali normal, tapi ada yang ingin aku bicarakan mengenai tuan besar Kim. Adakah anak pertamanya, Kim Chanyeol?"
Namun sayang Chanyeol tidaklah hadir disitu karena masih berada di luar negeri, akhirnya pria dengan rambut klimis itu mengajukan diri karena dia adalah anak tertua setelah Chanyeol. Seung Hyun lalu berjalan beriringan dengan dokter tersebut menuju ruang pribadnya. Menyisakan beberapa anggota keluarga lain di lorong rumah sakit tersebut.
Lama menunggu, akhirnya Seung Hyun keluar dan berjalan dengan tampang aristokratnya. "dokter berkata padaku bahwa jika alat bantu yang tersemat di tubuh ayah dibuka, ayah akan pergi" dia berkata dengan nada yang terlalu santai, tidak terselip sedikitpun kesedihan yang terdengar.
"Ayah sudah cukup menderita, dia sakit sudah terlalu lama. Bukankah sebaiknya kita merelakannya pergi?" sahut Junmyeon, dan mereka semua yang hadir hanya menganggukan kepala antusias.
Taehyung yang dari tadi hanya duduk diam di sofa mendengarkan langsung bangkit tak setuju. "kalian tidak berhak memutuskan kapan dia akan mati!" jawabnya marah dengan pandangan dingin yang menusuk.
Kemudian pria dengan pakaian mahal itu berjalan mendekati Taehyung. Junmyeon memegang pundaknya dan berkata "bocah sepertimu tau apa? Urusi saja perusahanmu yang sedang turun dan jangan sampai collapse serta membuat malu keluarga besar"
Taehyung mengeratkan genggaman tangannya, menahan emosi yang siap kapan saja meledak. Dia sudah muak menyandang nama Kim sebagai marga sahnya. Kemudian Taehyung melirik satu persatu anggota keluarganya itu, mereka semua menatapnya sinis.
Tidak ada lagi jeritan tangis, Taehyung tau itu sejak awal mereka semua hanya berakting. Air mata buaya. Ayah kandungnya tengah kritis tapi jauh di dalam hati mereka bersorak senang karena sebentar lagi akan mendapatkan harta warisan yang berlimpah.
"Membuat malu?! Coba kalian berkacalah disini siapa yang memalukan?! Kalian! Lihat kalian semua berusaha terlihat panik saat di telfon oleh pak Cho bahwa kakek tengah kritis, menangis seolah akan di tinggalkan dengan cepat padahal dalam hati busuk kalian semua mengucap syukur dengan amat kencang bahwa sebentar lagi kekayaan kakek serta asetnya akan menjadi milik kalian!"
Taehyung bersuara dengan lantang, masih memandang tajam satu persatu orang paling berpengaruh di Korea Selatan itu, kemudian wanita dengan dress anggun menjawab "Hei Taehyung-ah bahkan ayahmu juga seperti kami. Berhentilah menjadi sok suci nak. Dan sebaiknya kau pulang urusi perusahaan dan jalangmu itu!"
Yoona berkata sambil mengibas rambut panjangnya dan mulai berjalan pulang. Semuanya satu persatu meninggalkan lorong itu dan hanya menyisakan Taehyung serta Hoseok.
"Presdir?"
Hoseok bersuara pelan, melihat Taehyung yang tengah mengepal erat kedua tangannya. Wajah Taehyung semakin terlihat menyeramkan dengan aura negatif yang menguar dari sekujur tubuhnya, Hoseok menjadi ciut sejenak. Dia tau perkataan Yoona barusan sangat menusuk, menyindir tentang perusahaan serta Jungkook, karena bosnya itu sangat sensitif dengan hal-hal yang menyangkut perusahaan dan di tambah lagi tentang maknae Bangtan Boys tersebut.
"Aku tak apa, ayo pulang"
.
.
Di luar hujan deras, air yang berasal dari langit itu turun dengan menyerbu membuat beberapa makhluk di bawahnya menjadi basah dan menciptakan suasana yang berisik namun menenangkan jiwa. Taehyung hanya berdiri dalam diam menghadap ke jendela besar kamarnya sambil memandang jauh ke arah langit sana. Pikirannya bercabang dan terlalu banyak benang kusut di dalamnya. Permasalahannya adalah dia sekarang tengah memikirkan bagaimana nasib kakeknya, karena yang Taehyung dengar hampir sebagaian besar anggota keluarganya setuju untuk melepaskan alat bantu itu agar kakeknya bisa pergi tanpa menahan sakit lagi.
Kasian sekali kakeknya, Taehyung bingung bagaimana keluarganya menjadi rusak seperti ini. Apa harta seolah membutakan hati nurani mereka? Apakah kakek akan menyesal mendidik mereka, memberi kasih sayang yang sempurna jika tau anak-anaknya berlaku seperti itu?
Pikirannya selalu berputar di sana, dia menutup matanya mendengar dengan jelas bising hujan dari luar dan itu mampu membuatnya sedikit lebih rileks. Tapi tiba-tiba bayangan seseorang dengan kalimat yang membuat hati Taehyung terenyuh seketika datang.
Jungkook, di dalam mobil saat mengantarkannya ke kantor. Dia akhirnya ingat dengan kalimat itu, tentang Jungkook yang bertanya mengenai kepastian. Taehyung lalu menatap pantulan dirinya di kaca bening jendela yang menampilkan sosok pria dengan pakaian kantor biasa, wajah dengan guratan halus di sekitar area mata dan cekungan hitam yang semakin terlihat nyata.
Taehyung menghela nafas lagi, dia tau untuk yang kesekian kalinya telah membuat Jungkook kecewa, dia sangat jahat, Taehyung sadar itu. Dia menyalahkan telfon mendadak itu yang membuat konsentrasinya terpecah dan malah mengabaikan Jungkook, sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi yang lebih muda tapi selalu telfon itu tidak di angkat sama sekali, apa dia marah?
Taehyung merindukan Jungkook.
Suara ketukan pada pintu kamarnya membuat Taehyung tersadar, dia menoleh dan mendapati ibunya membawa nampan berisi segelas kopi yang masih mengepul serta beberapa biskuit dan menaruhnya di atas meja kerja Taehyung.
Taehyung masih di posisi semula, berdiri di dekat jendela kamarnya. Lalu Baekhyun menghampiri, "Taehyung?" panggil lembut ibunya, Taehyung menoleh tapi memilih untuk diam menunggu ibunya berbicara kembali, "perasaan ibu tidak enak dari semalam" Baekhyun berkata dengan suara lirih membuat Taeyung agak sedikit khawatir.
"Mungkin ibu hanya gelisah akan sesuatu, sudahlah jangan terlalu dipikirkan"
Namun Baekhyun tiba-tiba menangis membuat Taehyung panik dan segera memeluknya. Membawa tubuh mungil itu kepelukannya dan mengelus pelan punggung orang yang sudah memberinya kasih sayang hingga sekarang ini.
"Hiks seperti akan terjadi sesuatu"
Taehyung masih berusaha untuk menenangkan ibunya tersebut, mengelus dengan lembut dan mengecup kepalanya sayang.
"Tidak ada apa-apa bu, semua akan baik-baik saja"
.
.
TBC
Chapter awal manis-manis, sekarang masuk konflik dulu ya? Ehehe
Met baca!
