Chapter 10:
The Last Conflict
Rin POV
…
Seorang wanita — dengan rambut pink panjang, juga jubah hitam yang hanya menampakkan bagian kepalanya — datang menghampiriku.
Wanita itu menarik tanganku sambil tersenyum sinis.
Dia lalu menuntunku melewati kerumunan orang yang langsung memberi jalan pada kami menuju bagian tengah lingkaran kerumunan ini.
Dan…
Di tengah lingkaran ini…
Berdiri seorang anak laki-laki berambut honey blonde, dengan mata berwarna merah darah…
Wajahnya pucat,
Tatapannya kosong,
Ekspresinya menunjukkan seolah dia haus akan darah…
.
Adikku tersayang,
'Len Kagamine'
…
.
"Len yang kau lihat nanti mungkin tidak akan sama seperti Len selama ini… Jadi, bersiaplah…"
.
Aku tau…
Aku sudah siap…
Tapi tetap saja, Len yang ini sedikit membuatku takut…
Wanita yang menuntunku tadi mendorongku hingga aku jatuh berlutut di depan Len.
Wanita itu mundur beberapa langkah hingga dia keluar dari area lantai batu ruangan ini. Semua orang di ruangan ini melakukan hal yang sama. Mereka mundur beberapa langkah — memastikan untuk tidak berada pada area lantai batu di tengah ruangan.
Len berlutut menghadapku. Dia mengenakan kemeja putih sederhana. Tatapannya tetap kosong, tapi muncul senyuman kecil di bibirnya.
Dia mengelus leherku dengan tangannya, sambil berkata,
"Onee-chan, apa kau masih ingat padaku?"
.
'Onee-chan'? Apa Len juga sudah memperoleh ingatannya kembali?'
.
Aku menjawab perlahan dengan gugup,
"T-Tentu saja, Len… B-Bagaimana mungkin… Aku bisa melupakanmu? Kau adalah… Adikku satu-satunya…"
Seketika itu juga, ekspresi Len berubah.
Dia menatapku dengan tajam, sambil tersenyum sinis.
"Oh? Benarkah? Apa Onee-chan masih menganggapku adik, bahkan setelah aku membunuh orang tua kita?"
!
Aku tidak menjawab.
Jujur saja, aku hampir membenci Len karena 'kejadian itu'.
Tapi aku tau itu bukan sepenuhnya salahnya, jadi aku masih bisa memaafkannya…
Dan mau bagaimanapun, dia tetap adikku.
Len tetap mengelus leherku dengan tangannya, dan hal itu sedikit membuatku merinding.
Melihat reaksiku, — juga karena aku tidak menjawab pertanyaannya, — Len menancapkan kukunya di bagian samping kanan leherku, lalu menggoreskannya, menyebabkan darahku menetes ke lantai batu.
Aku meringis.
Len menjilati jarinya yang terkena darahku, tersenyum, lalu berkata,
"Darah Onee-chan benar-benar lezat… Bolehkah aku mencicipinya?"
!
Tidak tau harus menjawab apa, aku tetap diam, menahan rasa sakit yang berdenyut dari luka gores di leherku.
Len mengelus luka di leherku dengan tangannya — menyebabkan darahku menempel di jari-jarinya.
Dia lalu mengoleskan darah di jarinya pada lantai batu ini, 'menggambar' suatu 'pola'.
Dia lalu mengucapkan sesuatu.
Aku tidak tau apa yang dikatakannya. Kata-katanya terdengar asing di telingaku.
Seketika itu juga, pemandangan sekitarku menjadi kabur dan menggelap.
Lalu, entah bagaimana, tiba-tiba kami berada di sebuah ruangan batu yang sangat gelap. Aku tidak merasakan kehadiran orang lain selain aku dan Len di sini.
Len berdiri menghadapku, lalu mengulurkan tangannya padaku sambil berkata,
"Berdirilah, Onee-chan."
Aku menyambut uluran tangannya dan berdiri disampingnya, memperhatikan sekelilingku. Luka gores di leherku sudah mulai menutup dan berhenti mengeluarkan darah.
Ekspresi Len berubah lagi.
Tatapannya tidak lagi tajam, melainkan lembut.
Dia melihatku dengan sebuah senyuman tulus.
"Tidak usah khawatir. Aku hanya ingin sedikit privasi dengan Onee-chan. Tidak ada siapapun yang akan mengganggu kita di dalam sini."
.
'Privasi?'
.
Len semakin mendekat padaku.
Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, menarikku mendekat padanya.
Perlahan, Len pun mendekatkan bibirnya ke bibirku.
"Eh? Ah? L-Len?"
Sekarang hampir tidak ada jarak di antara kami.
Len berbisik pelan,
"Onee-chan masih menyayangiku, kan?"
Jarak kami terlalu dekat. Aku bisa merasakan desahan napasnya di wajahku…
Jantungku berdetak semakin cepat dan kuat. Bahkan aku yakin Len bisa mendengar dan merasakannya.
Aku tidak sanggup menatapnya langsung. Sambil memalingkan wajah, perlahan aku menjawab,
"Y-Ya… T-Tentu saja…"
Len menarikku lebih dekat lagi. Dia menatapku lekat-lekat.
"Sebagai kakak, atau lebih dari itu?"
!
'Pertanyaan ini…'
'Aku sendiri bahkan belum tau jawabannya…'
'Aku menyayangi Len, itu sudah pasti…'
'Tapi sebagai apa? Sebagai kakak? Atau lebih dari itu?'
.
Aku tak bergeming.
Len tetap tidak melepaskan pelukannya.
Tubuhnya terasa dingin, bukan hangat seperti yang selama ini kurasakan.
Setelah berada sedekat ini, aku baru menyadari bahwa Len — walaupun dia adikku — lebih besar dariku. Tinggi kami hanya berbeda sedikit. Bahu tegap serta dada bidangnya menyadarkanku bahwa dia bukan adik kecilku yang dulu. Dia sudah bertumbuh, begitu juga denganku.
Kami sudah dewasa sekarang.
"Onee-chan? Jawab aku…"
Aku tetap tidak menjawab.
Tapi pertanyaan itu terus bergeming di otakku.
.
'Sebagai kakak, atau lebih dari itu?'
.
"Onee-chan?"
Berada dalam pelukan Len seperti ini, entah kenapa membuatku merasa 'aman'.
Jantungku berdetak sangat cepat. Aku merasakan wajahku mulai memanas.
.
'Apa ini berarti rasa sukaku pada Len, lebih dari 'sebagai kakak'?'
.
Perlahan, dengan berbisik, aku menjawab,
"Aku… Masih tidak tau… Soal itu…"
Len mengeratkan pelukannya.
Sebelah tangannya memegang daguku, memaksaku untuk melihat tepat ke wajahnya.
Len mendekatkan wajahnya — tepatnya, bibirnya — ke bibirku.
Sama sekali tidak ada jarak di antara kami.
Lalu,
-Kiss-
Len menciumku.
Ciuman pertamaku.
Sebagian besar dari diriku menikmatinya.
Tapi, sebagian kecil lainnya menolaknya.
Aku menyerah pada 'sebagian besar' itu, dan membalas ciumannya,
Aku merasa sedikit kecewa ketika akhirnya Len menarik bibirnya dan melepas pelukannya…
Kami berdua jatuh terduduk di lantai batu.
Len tersenyum lembut menghadapku. Aku tidak berani menatapnya secara langsung. Sekilas aku melihat bayangan hitam di belakangnya.
"Apa ini berarti… Onee-chan menyayangiku lebih dari 'sebagai kakak'?"
Aku terdiam lagi.
Apa ini berarti rasa sayangku pada Len memang lebih dari itu?
Sebuah pertanyaan terlintas di benakku,
.
'Bagaimana dengan Len?'
'Bagaimana perasaannya terhadapku?'
.
Aku memberanikan diri menatap Len. Dia masih tersenyum lembut padaku.
Dalam hati aku bertanya-tanya kemana perginya sisi kejam Len tadi.
Dan bayangan hitam di belakangnya itu sedikit membuatku khawatir.
Dengan gugup, aku bertanya,
"L-Len… B-Bagaimana perasaanmu… Terhadapku?"
Len tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaanku. Dia berdiri, tertawa kecil, lalu menjawab,
"Jawabannya sudah jelas, kan? Aku mencintai Onee-chan. Aku menganggapmu sebagai kakakku, tapi aku tetap mencintaimu, Rin!"
!
Jawabannya mengagetkanku.
Itu kedua kalinya Len mengatakan dia mencintaiku.
Dan perkataannya meyakinkanku akan perasaanku padanya.
Wajahku memanas. Aku memalingkan wajahku, tidak berani menatapnya secara langsung. Perlahan, aku menjawab,
"A-Aku… Aku juga… Mencintaimu, Len! Aku masih menganggapmu sebagai adikku, tapi… Tapi rasa sukaku padamu bukan hanya rasa suka sebagai kakak…"
"A-Aku… Mencintaimu…"
Aku menghela napas — lega rasanya.
Aku masih memalingkan wajahku dari Len, belum berani menatapnya langsung.
.
'B-Bagaimana… Reaksi Len… Setelah mendengar pernyataanku…?'
.
Aku memberanikan diri menatap Len,
Tapi…
Bayangan hitam yang sejak tadi berada di belakangnya sudah tidak ada lagi.
Len menatapku sinis, sambil menyeringai lebar.
"Oh? Benarkah begitu, Rin?"
.
'Dia… Tidak lagi memanggilku 'Onee-chan'…'
'Apa yang terjadi?!'
.
Aku teringat akan perkataan Gumi,
.
"Vampire pertama memanfaatkan tubuh Len. Dia bisa masuk ke tubuh Len, lalu keluar dari situ sesukanya."
"Karena itu, saat bertemu dengan Len nanti, sikap serta kelakuannya mungkin akan berubah-ubah."
"Tapi tidak usah khawatir. Len tidak akan pernah mau melukaimu."
"Jadi saat dia mulai berlaku kasar, percayalah, itu bukan Len."
.
'Kalau begitu… Yang ada di dalam tubuh Len sekarang adalah vampire pertama, kan?'
.
Len berjalan mendekat. Masih dengan ekspresi yang sama, dia berkata,
"Rin… Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
Entah kenapa, aku tidak punya tenaga untuk berdiri ataupun bergerak.
Rasa takut yang kurasakan saat pertama kali melihat Len tadi kembali menyerangku.
Dengan gugup aku menjawab,
"A-Apa itu?"
Len berlutut dengan sebelah kaki. Tatapannya dingin.
Dengan nada datar, dia berkata,
"Dulu kau pernah menolak mentah-mentah tawaranku untuk hidup selamanya. Tapi karena sekarang kita berdua sudah menjadi vampire yang hidup selamanya, aku akan berbaik hati untuk memberimu tawaran lain, Rin."
Len mengulurkan sebelah tangannya padaku.
Sambil menyeringai, dia berkata,
"Maukah kau menguasai dunia ini bersama denganku?"
"Eh?"
"Kita bisa memusnahkan seluruh umat manusia dan memenuhi dunia ini dengan kaum vampire! Dan yang akan menjadi penguasa mereka adalah aku dan kau, Rin."
Aku tertegun.
.
-PLAK!-
.
Secara refleks, aku menamparnya.
Aku tidak peduli kalau kata-kata itu berasal dari vampire pertama, dan bukan Len.
"Apa maksudmu?! Menguasai dunia?! Memusnahkan umat manusia?! Apa kau sudah gila?! Apa hidup selamanya tidak cukup buatmu?!"
Len tertegun.
Ia mengusap sebelah pipinya yang memerah akibat tamparanku.
Dia mendengus, memalingkan wajahnya, lalu berkata.
"Heh. Jadi kau juga akan menolakku sekarang, huh? Rin?"
Perlahan, Len berdiri.
Dia menatapku sinis, sambil berkata,
"Baiklah. Tapi aku akan memperingatkanmu."
"Kau bisa bertahan hidup sekarang karena sebagian kekuatanku yang tersegel di tubuhmu. Artinya, jika aku menarik kembali kekuatanku itu, kau akan mati dalam sekejap."
"Karena itu, aku akan memberimu 2 pilihan."
"Kalau kau mau menerima tawaranku untuk menguasai dunia, aku tidak akan mengambil kekuatanku, dan kau tidak akan mati."
"Tapi jika kau menolaknya, aku akan mengambil kembali kekuatanku, dan kau akan mati dalam sekejap."
"Lagipula, kalau kau menolak, aku tetap akan menggunakan kekuatanku itu untuk memusnahkan umat manusia dan menguasai dunia ini."
Dia mengakhiri penjelasannya dengan sebuah seringai lebar.
"Bagaimana? Terdengar adil, kan?"
Aku terdiam.
Apapun pilihan yang kubuat, Len — vampire pertama — akan tetap memusnahkan umat manusia.
.
'Tapi, kenapa dia sampai berusaha sejauh itu untuk membuatku menerima tawarannya?'
'Apa masih ada hal lain lagi tentang kekuatanku, yang belum kuketahui?'
.
Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa… Kau sangat menginginkanku dan kekuatanku?"
Len tampak terkejut mendengar pertanyaanku.
Dia terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada dingin,
"Kau tidak perlu tau alasannya."
.
'Kalau dia memerlukan kekuatan dalam tubuhku, itu artinya dia tidak akan membiarkanku mati sebelum dia mengambil kekuatan itu, kan?'
.
Aku mengambil kesempatan ini untuk mengancamnya.
Aku mengambil sepotong pecahan batu tajam yang kebetulan tergeletak di lantai batu di dekatku, lalu mengarahkan ujung yang tajam dari batu itu ke leherku — bersiap untuk menggoreskannya.
Len tampak shock dengat perbuatanku yang tiba-tiba.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Letakkan batu itu sekarang juga, Rin!"
.
'Kena kau!'
.
Aku tetap tidak menjauhkan potongan batu itu dari leherku.
Aku berhasil membuatnya panik.
Sekarang hanya perlu sedikit ancaman untuk membuatnya memberitahuku alasannya.
"Beritahu aku alasannya, atau aku akan memenggal kepalaku sendiri di sini, sekarang juga, di hadapanmu, Len."
Aku berusaha untuk tetap tenang dan menjaga nada bicaraku sedatar mungkin, walaupun aku sendiri tidak yakin apa rencana ini akan berhasil atau tidak.
Mendengar ancamanku, Len berjalan perlahan ke arahku, sambil berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Setelah jarak kami cukup dekat, Len berhenti dan menatap langsung mataku.
Aku balas menatapnya.
Dia berkata dengan nada memerintah,
"Letakkan batu itu sekarang juga, RIN!"
Dan saat itu juga, rasanya ada sesuatu yang seolah-olah mengikatku dan memaksa tanganku untuk melepaskan pecahan batu itu dari tanganku.
.
'Apa Len menggunakan 'kekuatan untuk mengendalikan vampire'nya itu padaku?'
.
Aku berusaha melepaskan 'ikatan' itu.
Dan ternyata, hal itu tidak sesulit perkiraanku.
Aku hanya perlu sedikit menggerakkan tanganku, dan 'ikatan' itu sudah menghilang dalam sekejap.
Aku mundur beberapa langkah untuk membuat jarak antara aku dan Len.
Len tertegun.
Nampaknya dia shock karena kekuatannya tidak berpengaruh padaku.
"K-Kau… B-Bagaimana bisa—?!"
.
'Sepertinya sekarang aku benar-benar membuatnya panik.'
.
Aku memperoleh kembali rasa percaya diriku.
Aku mendesah, lalu tertawa kecil,
"Ups, maaf… Tapi sepertinya kekuatanmu itu tidak berpengaruh padaku, Len."
Dia menggertakkan gigi.
"Jangan meremehkanku, Rin."
Dia membungkukkan tubuhnya, bersiap untuk menyerangku.
Dan dalam sekejap, dia menghilang dari hadapanku, dan sudah berada di belakangku.
Len menyerangku dengan tangan kosong.
Dia berusaha menyerang titik lumpuh di punggungku.
Dengan sigap, aku membalikkan diri dan menangkis tangannya dengan pecahan batu di tanganku — menimbulkan luka gores di telapak tangannya yang mulai meneteskan darah.
Aku mundur beberapa langkah untuk kembali membuat jarak antara kami berdua.
Len meringis.
Dia menjilat luka gores di tangannya, dan luka itu pun mulai menutup.
"Aku tidak menyangka kau sanggup melukaiku, Rin."
"Itu sebagai balasan atas luka gores di leherku yang kudapat darimu, Len."
Dia menyeringai padaku.
"Apa ini artinya, kau sudah mengakui bahwa kau hanyalah seorang monster penghisap darah?"
!
"A-Apa maksudmu?!"
Len tertawa kecil, lalu berjalan mendekatiku.
"Jangan berpura-pura tidak tau, Rin… Apa kau lupa? Kau sudah meminum darah mereka… Darah manusia… Dalam jumlah yang sangat besar…"
"Kau kira darimana kau bisa memiliki refleks secepat itu, sehingga bisa menghindari seranganku, huh?"
"Kalau bukan karena darah yang kau minum itu, kau pasti sudah lumpuh sekarang…"
Dia tersenyum sinis padaku.
Aku tertegun.
Aku sudah hampir melupakannya…
Aku sudah hampir melupakan rasa darah manusia itu…
Darah yang masih terasa hangat dan manis… Darah yang memenuhi mulut dan tenggorokanku, mengalir di seluruh tubuhku…
Darah manusia yang masih terasa 'baru', dan nikmat bagiku…
—Dan aku ingin merasakannya lagi—
!
.
'Apa yang kupikirkan?!'
'Apa aku baru saja berpikir kalau aku 'menikmati' darah manusia?!'
'Meminum darah manusia lagi?! Apa aku sudah gila?!'
.
Aku memejamkan mataku dan berusaha menyingkirkan pikiran itu dari otakku.
Seolah-olah bisa membaca pikiranku, Len tertawa kecil, lalu berkata,
"Heh. Kau tidak perlu menyembunyikannya, Rin. Katakan saja bahwa kau menikmatinya… Katakan bahwa kau menikmati darah manusia itu…"
"Dan kalau kau menginginkannya lagi, silahkan saja… Ada banyak sekali manusia di luar sana, dengan darah yang tak terhitung jumlahnya…"
"Kau bisa mengambilnya sesukamu… Lagipula, bagi para vampire, manusia itu hanyalah sebuah 'bahan makanan'…"
Aku bergidik ngeri mendengar pernyataan Len…
Aku benci… Benci akan diriku sendiri…
Karena, sejujurnya, di lubuk hatiku yang terdalam, aku juga berpikir seperti itu…
Tapi, aku tidak bisa menerimanya… Aku tidak ingin menganggap manusia sebagai bahan makanan…
Karena aku dan Len, bahkan semua vampire yang ada, awalnya adalah manusia, kan?
Len berkata dengan dingin,
"Memangnya kenapa, kalau para vampire itu awalnya adalah manusia?"
.
'Ah, sepertinya dia memang bisa membaca pikiranku…'
.
Dia melanjutkan,
"Memang benar, awalnya para vampire adalah manusia biasa… Tapi justru karena alasan itulah, mereka menjadi vampire… Karena mereka hanyalah manusia biasa… Para manusia itu sendiri yang ingin menjadi vampire."
"Memangnya kau pernah melihat vampire yang ingin bunuh diri, huh?"
"Biar kuberitahu kau satu hal, Rin…"
"Manusia dapat berubah menjadi vampire, karena racun vampire yang masuk ke tubuh mereka… Kalau tubuh mereka menolaknya, maka manusia itu mati."
"Sebaliknya, jika tubuh mereka menerimanya, maka manusia itu akan menjadi vampire… Kau tau kenapa? Karena mereka menginginkannya… Sesederhana itu..."
"Lagipula… Hanya orang bodoh yang tidak menginginkan kekuatan besar dan hidup yang abadi…"
Len menyeringai menatapku.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan — berusaha mengendalikan amarahku.
"Len… Kau benar-benar membuatku kesal…"
"Kau bilang hanya orang bodoh yang tidak menginginkan kekuatan besar dan hidup yang abadi…"
"Kalau begitu, bagaimana dengan ayah dan ibu? Kau juga mengatakan mereka bodoh?"
Len tertegun.
"Atau aku? Kau mengatakan aku bodoh karena tidak menginginkan hidup yang abadi?"
Aura di sekitar Len berubah. Tatapan sinisnya hilang…
Sepertinya vampire pertama sudah keluar dari tubuhnya…
Aku berusaha kembali bersikap lembut padanya.
Len menjawab perlahan,
"M-Memangnya, kenapa? Kenapa ayah dan ibu, bahkan Onee-chan, tidak ingin hidup selamanya? Bukankah itu artinya kita bisa bersama selamanya? Kalau saja… Kalau saja waktu itu, Onee-chan menerima tawaranku, ayah dan ibu pasti masih ada di sini… Kita pasti masih menjadi satu keluarga sekarang!"
"Len… Kau masih belum mengerti juga, ya? Arti dari hidup selamanya…"
"Apa kau mau, melihat orang-orang di sekitarmu, para penduduk kota, menua lalu meninggal berkali-kali? Apa kau tau sakitnya kehilangan orang yang berharga bagimu?"
"K-Kalau begitu, kita hanya perlu mengubah mereka juga! Kalau semua orang menjadi vampire… Itu artinya tidak ada yang harus mati, kan?"
Aku menggertakkan gigiku.
"Apa kau juga ingin memusnahkan umat manusia?"
Len terdiam.
Aku mendesah.
"Len… Hidup ini tidak semudah itu…"
"Kalau semua orang bisa hidup selamanya, bukankah itu juga berarti semua orang harus menanggung rasa sakit dan beban permasalahan hidup mereka selamanya?"
"Hidup selamanya itu adalah kutukan… Kutukan terburuk…"
Hening.
Perlahan, Len menjawab,
"Tapi… Setidaknya… Aku ingin bertemu dengan ayah dan ibu lagi…"
Tubuhnya bergetar.
Aku mendekati Len, lalu memeluknya.
"Aku tau… Aku juga ingin bertemu dengan mereka lagi… Tapi hal itu tidak mungkin, kan? Mereka… Sudah meninggal…"
Hening.
Beberapa detik kemudian, Len berkata,
"Tidak, hal itu bisa saja terjadi, Onee-chan…"
Aku melepaskan pelukanku dan menatap Len.
Tatapannya kosong. Dia menyeringai padaku.
"A-Apa maksudmu?"
"Kita masih bisa bertemu dengan ayah dan ibu…"
Aku mendapat firasat buruk.
"B-Bagaimana mungkin?! Mereka… Mereka sudah meninggal, Len!"
Masih dengan ekspresi yang sama, Len menjawab,
"Tapi dengan kekuatan milik Onee-chan, mereka bisa hidup kembali…"
"K-Kekuatan? Apa maksudmu, Len?! Kekuatan apa yang kau bicarakan?!"
Tatapan Len tetap kosong.
Dia seperti 'dikendalikan'… Tapi aku tidak merasakan adanya perubahan terhadap aura di sekitarnya.
"Aku diberitahu oleh Yuki, bahwa Onee-chan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa!"
.
'Yuki? Vampire pertama itu?'
.
"K-Kekuatan? Kekuatan seperti apa?"
"Sama seperti aku yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan vampire, Onee-chan juga memiliki kekuatan spesial… Tapi milik Onee-chan jauh lebih hebat dari kekuatanku…"
"Apa… Maksudmu…?"
Len menyeringai lebar.
"Onee-chan memiliki kekuatan untuk membangkitkan orang mati…"
!
Aku tertegun.
Kata-kata Len belum sepenuhnya diproses oleh otakku.
.
'Aku bisa membangkitkan orang mati?!'
'Bagaimana bisa?!'
'Apa karena itu vampire pertama sangat menginginkanku?!'
.
Len tertawa kecil, lalu berkata dengan nada riang,
"Karena itu, kita masih bisa bertemu dengan ayah dan ibu! Onee-chan mau membangkitkan mereka, kan?"
Aku tidak bisa percaya bahwa aku memiliki kekuatan seperti itu.
Tapi aku lebih tidak bisa mempercayai kata-kata yang diucapkan Len itu.
.
-PLAK!-
.
Untuk yang kedua kalinya, aku menampar Len.
Len tertegun.
Ia mengusap sebelah pipinya yang memerah lagi akibat tamparanku.
Dia menggertakkan giginya.
"Onee-chan… Kenapa? Bukannya Onee-chan juga ingin bertemu dengan ayah dan ibu?"
"Memang benar… Aku ingin bertemu dengan mereka…"
"Tapi bukan dengan cara seperti ini! Caramu ini sudah keterlaluan, Len! Berhentilah menghidupkan orang yang sudah meninggal sesuka hatimu!"
"Memangnya apa yang salah dengan membangkitkan mereka?! Aku yakin ayah dan ibu juga pasti ingin bertemu dengan kita!"
"Kau yakin soal itu? Apa menurutmu ayah dan ibu ingin bertemu dengan seorang pembunuh sepertimu?!"
!
'Gawat! Apa yang sudah kukatakan?!'
'Rin bodoh! Kau sudah keterlaluan!'
.
Len tertegun.
Dia memalingkan wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku bingung harus berbuat apa.
Aku mengulurkan tanganku, dan berbisik,
"L-Len… M-Maaf—"
Len memotong perkataanku,
"Bukan aku…"
"Eh?"
Dia menundukkan kepalanya, sambil tetap memalingkan wajahnya dariku.
Len berbisik. Suaranya sedikit bergetar.
"Aku bukan pembunuh… Bukan aku yang membunuh para manusia itu… Yuki yang melakukannya… Dia memakai tubuhku seenaknya…"
"Aku tidak suka apa yang dilakukannya… Aku tidak mau membunuh orang… Aku tidak mau menjadi seorang pembunuh…"
"Tapi Yuki mengatakan, kalau dia akan mempertemukanku kembali dengan ayah, ibu dan Onee-chan… Dia bilang, kalau aku mengizinkannya memakai tubuhku, dia berjanji akan mengembalikan keluarga kita seperti semula…"
"Karena itu aku mengizinkannya memakai tubuhku…"
"Maafkan aku, Onee-chan…"
Perasaan bersalah menyelimutiku…
Tapi walaupun begitu, masih ada sedikit keraguan dalam diriku…
Apa kata-kata itu adalah isi hati Len sendiri? Atau hanyalah kata-kata buatan Yuki?
Sejak tadi kepribadian Len terus berubah-ubah…
Bagaimana cara untuk membedakan mereka berdua?!
Perkataan Gumi terlintas di benakku,
.
"Ada dua cara sederhana untuk memisahkan Len sepenuhnya dari pengaruh vampire pertama…"
"Yang pertama, kau hanya perlu membuat Len 'menolak' kehadirannya."
"Karena jika Len menolaknya, bahkan vampire pertama itu pun tidak akan bisa seenaknya menggunakan tubuh Len…"
"Cara kedua, buat Len menyesali pilihannya untuk menjadi seorang vampire."
"Dengan begitu, pengaruh vampire pertama terhadap dirinya akan melemah, dan dia tidak akan bisa memanfaatkan tubuh Len lagi…"
.
'Aku punya dua pilihan…'
'Membuat Len menolak Yuki, atau membuat Len menyesal sudah menjadi vampire…'
'Keduanya sulit dilakukan…'
'Tapi sekarang aku punya kesempatan!'
.
Len menggigit bibir bawahnya. Dia jatuh terduduk.
"Apa menurut Onee-chan… Aku ini adalah… Seorang pembunuh?"
"M-Maaf, Len… Aku tidak bermaksud menyebutmu sebagai seorang pembunuh…"
"Kau sendiri yang mengatakannya kan? Bukan kau pembunuhnya… Yuki lah pembunuhnya…"
Len mengangguk pelan.
Aku tersenyum.
"Kalau begitu, Len… Apa kau membenci Yuki?"
Len terdiam. Dia nampak seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
Setelah beberapa detik, Len menjawab,
"Aku… Tidak tau…"
"Memang benar, aku tidak suka cara Yuki menggunakan tubuhku seenaknya dan membunuh orang-orang…"
"Tapi, kalau bukan karena Yuki… Aku tidak akan bisa sedekat ini lagi dengan Onee-chan… Kalau tidak ada Yuki, aku tidak akan bisa melakukan apapun sebagai pemimpin para vampire... Aku pasti sudah mati dibunuh ratusan tahun yang lalu…"
"Saat aku kesepian, Yuki juga selalu menemaniku dan menghiburku…"
"Karena itu… Aku tidak bisa benar-benar membencinya…"
Len tersenyum kecil.
Mendengar pernyataan Len, hatiku terasa sakit…
.
'Benar juga…'
'Len sudah hidup sendiri selama beratus-ratus tahun…'
'Dan selama itu, aku tidak ada di sisinya… Aku terkurung di dalam tabung, tanpa mengetahui apa yang terjadi di dunia luar…'
'Tapi Yuki selalu ada di sisi Len…'
'Meskipun dia melakukan hal-hal kejam, tapi dia tetap menemani dan menghibur Len setiap saat…'
'Dia bahkan berjanji untuk mengembalikan kembali keadaan keluarga kami…'
'Sementara aku?'
'Aku adalah kakaknya, tapi aku belum melakukan sesuatu yang benar-benar 'berharga' bagi Len…'
'Aku tidak berhak memaksa Len untuk membenci Yuki begitu saja…'
.
Dadaku terasa sesak…
Apa ini yang dinamakan perasaan 'cemburu'?
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
.
'Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempermasalahkan perasaanku…'
'Bagaimanapun caranya, aku harus memisahkan Yuki dari tubuh Len…'
.
Sekali lagi, aku bertanya pada Len,
"Len… Apa kau menyesal sudah menjadi vampire? Apa kau ingin menjadi manusia lagi?"
Len tampak bingung dengan pertanyaanku.
"Kenapa… Onee-chan menanyakan hal seperti itu padaku?"
"Kenapa aku harus menyesal sudah menjadi vampire?"
"Eh?"
Padahal, ada banyak alasan kenapa Len seharusnya menyesal menjadi vampire…
Ada banyak sekali… Banyak sekali alasan yang ingin kukatakan padanya…
Tapi entah kenapa tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku…
Aku berusaha menjaga diriku agar tetap tenang.
"Karena… K-Karena…"
Aku berusaha menyusun rangkaian kata-kata di otakku menjadi sebuah kalimat.
Dan kalimat pertama yang berhasil kuucapkan adalah,
"Keluarga kita hancur karena kau memilih untuk menjadi vampire…"
—Dan itu lebih terdengar seperti aku menyalahkan Len.
Len tertegun.
Dia mengalihkan pandangannya dariku.
Lalu, entah kenapa, kata-kata di otakku mengalir lancar dari mulutku.
"Ayah dan ibu meninggal karena kau menjadi vampire. Banyak manusia yang terbunuh karena kau menjadi vampire. Bahkan aku sendiri harus menjadi vampire hanya untuk menjadi wadah dari kekuatan vampiremu itu—"
.
'Ah, apa yang kukatakan?'
'Kalau seperti ini, rasanya aku benar-benar menyalahkan Len…'
.
Tapi, aku tidak bisa menghentikannya… Kata-kata itu terus mengalir dan mengalir…
Len tetap diam mendengar perkataanku.
Dan aku tetap mengeluarkan kata-kata yang menyalahkan Len.
Hingga kemudian, Len berdiri dan menatapku, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Cukup. Sudah cukup, Onee-chan."
Suaranya bergetar…
Ucapanku pun akhirnya terhenti.
"Onee-chan… Aku sudah tau… Semua hal yang Onee-chan katakan, aku sudah tau semua itu… Aku tau itu semua salahku… Dan aku menyesal sudah melakukan itu semua… Maaf… Maafkan aku…"
Hening.
Aku tidak tau apa yang harus kukatakan. Len juga tetap diam.
Hingga akhirnya, Len bertanya padaku,
"Apa Onee-chan… Ingin kembali menjadi… Seorang manusia?"
Pertanyaannya mengagetkanku.
"E-Eh? Apa maksudmu, L-Len?"
Len tidak menjawab. Dia tetap menatapku — menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Aku mendesah.
"T-Tentu saja… Aku ingin kembali menjadi seorang manusia… Aku ingin hidup sebagai seorang gadis normal… Tanpa harus meminum darah untuk bertahan hidup…"
Aku tersenyum pahit.
"Tapi hal itu tidak mungkin terjadi… kan?"
Len berjalan mendekat.
"Onee-chan, benar-benar ingin kembali menjadi seorang manusia?"
Aku mengangguk perlahan.
Len berada tepat di depanku.
"K-Kalau begitu…"
Len tidak menyelesaikan kalimatnya.
Dia nampak ragu-ragu.
Dan aku mendapat firasat buruk…
"K-Kalau begitu, Onee-chan, bertarunglah melawanku… 1 lawan 1…"
!
"E-EH?!"
"A-Apa maksudmu, LEN?!"
"Kenapa aku harus bertarung melawanmu?!"
"Karena hanya itu satu-satunya cara untuk mengabulkan keinginan Onee-chan…"
Len menundukkan kepalanya.
"APA?! T-Tapi… Itu tidak masuk akal! Bagaimana mungkin bertarung melawanmu akan mengabulkan keinginanku?!"
Dia memalingkan wajahnya.
"Yuki—"
"Yuki? Ada apa dengannya?"
"Yuki bilang, kalau kita bertarung satu sama lain, lalu salah satu dari kita kalah… Dan mati…"
"Maka yang kalah itu akan… Hidup kembali… Sebagai manusia biasa…"
!
"A-"
"APA KAU SERIUS?!"
Len mengangguk pelan.
"Onee-chan ingin kembali menjadi manusia biasa, kan?"
"Onee-chan juga ingin mengembalikanku menjadi manusia lagi, kan?"
"Ini satu-satunya cara untuk mengabulkan salah satu dari dua keinginan itu…"
Aku tertegun.
"T-Tapi… B-Bukankah itu artinya… Kita… Harus membunuh satu sama lain untuk mengabulkannya?!"
Len nampak ragu-ragu, lalu mengangguk pelan.
"Jangan bercanda, LEN! Aku tidak akan bisa membunuhmu! Tidak dengan alasan seperti itu!"
Hening.
Len menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Onee-chan… Tadi Onee-chan bertanya apa aku menyesal menjadi vampire, dan apa aku ingin menjadi manusia lagi, kan?"
Aku mengangguk.
Len tersenyum kecil.
"Aku belum sempat menjawab pertanyaan itu…"
"Aku masih tidak tau apakah aku menyesali pilihanku untuk menjadi vampire…"
"Tapi, sejujurnya…"
"Aku… Juga ingin kembali lagi menjadi seorang manusia biasa… Dan menghapuskan ingatanku saat menjadi seorang vampire…"
Aku tertegun.
Aku bisa merasakan kejujuran dibalik kalimatnya itu…
Kalimat itu berasal dari Len… Itu adalah isi hatinya yang sebenarnya…
Dia ingin kembali menjadi manusia biasa lagi…
Tapi apa maksudnya dengan 'menghapuskan ingatan'?
Tanpa sadar, aku memeluk Len.
Len tersenyum, lalu membalas pelukanku.
Dengan lembut, dia berkata,
"Maukah Onee-chan mengabulkan permintaanku?"
"Bunuh aku, dan kembalikan aku menjadi seorang manusia biasa…"
"Apa alasan itu cukup untuk membuat Onee-chan mau bertarung melawanku?"
Aku berpikir sejenak.
"Len… Apa kau yakin? Kalau aku membunuhmu… Apa kau benar-benar akan kembali menjadi manusia biasa? Apa kau akan mempercayai perkataan Yuki begitu saja?"
Len melepas pelukannya.
"Awalnya aku memang tidak yakin… Tapi aku sudah membuktikannya…"
"Ada kekuatan lain yang tersimpan dalam diriku…"
"Kalau aku bertarung dengan vampire lain, lalu berhasil membunuhnya… Maka vampire itu akan hidup kembali menjadi seorang manusia… Dan ingatannya saat menjadi vampire akan terhapus sepenuhnya…"
"Tapi ini hanya berlaku saat kedua pihak bertarung dengan niat untuk saling membunuh…"
"T-Tapi, kalau begitu… Bukankah tidak ada artinya kalau aku yang membunuhmu? Kekuatan itu… Hanya kau yang memilikinya, kan?"
Len menggelengkan kepalanya.
"Tidak… Kekuatan itu juga ada pada Onee-chan… Aku tidak tau kenapa, tapi mungkin itu karena kita memiliki darah yang sama…"
"Lagipula, selama ini Yuki tidak pernah berbohong padaku… Jadi aku percaya padanya…"
Aku mendesah.
"Baiklah kalau begitu…"
"Itu artinya, sekarang kita harus bertarung hingga salah satu dari kita… Mati?"
Aku bergidik ngeri mendengar kalimatku sendiri.
Len mengecup keningku, dan aku merasakan suatu sensasi dingin yang menjalar ke seluruh tubuhku.
"Eh?"
Len tersenyum lembut.
"Itu sebagai jimat supaya Onee-chan tidak akan merasa kesakitan…"
"Eh-? T-Tapi—"
"Tenang saja… aku juga tidak akan merasakan rasa sakitnya, kok…"
Len tertawa kecil.
Walaupun begitu, ekspresinya menunjukkan seberkas kesedihan.
"Len… Aku… Masih tidak yakin soal ini… Aku tidak mau melukaimu…"
Len mengelus pipiku dengan sebelah tangannya.
"Tenang saja, Onee-chan… Aku tidak akan terluka… Aku justru akan merasa senang jika Onee-chan bisa membunuhku…"
"Yah, walaupun sebagai gantinya, aku tidak akan bisa mengabulkan keinginan Onee-chan…"
Dia mendesah.
.
'Ah, benar juga…'
'Dalam pertarungan ini, yang kalah akan menjadi manusia…'
'Tapi yang menang akan tetap menjadi vampire…'
.
"Onee-chan… Akan kuberitahu cara singkat untuk mengakhiri ini tanpa menyebabkan terlalu banyak luka…"
"Cara… Singkat?"
"Ya…"
Len mundur beberapa langkah, lalu mengayunkan tangannya.
Tiba-tiba, tepat di tengah antara aku dan Len, muncul seberkas cahaya yang berubah bentuk menjadi dua buah katana hitam.
Len mengambil salah satunya, lalu menyerahkan sebilah lagi padaku.
Aku mengayun-ayunkannya beberapa kali untuk menyesuaikannya dengan pergerakanku.
"Len… cara singkat apa yang kau maksud?"
"Cara singkat untuk membunuh vampire…"
Dia menunjuk dada sebelah kirinya.
"Cara pertama, Onee-chan hanya perlu menusukkan katana itu tepat ke jantungku… Atau—"
"Atau?"
Len mengangkat katananya dan mengarahkannya tepat ke lehernya, lalu sedikit menggores lehernya — menimbulkan luka yang langsung meneteskan darah. Dalam hitungan detik, luka itu langsung menutup.
"Memisahkan kepala dari tubuh sepenuhnya adalah cara cepat lainnya… Dengan kata lain, Onee-chan harus menebas leherku hingga kepalaku terpenggal…"
.
'Bagaimana dia bisa mengatakannya sesantai itu?'
'Apa karena Len sudah terbiasa melihat pembunuhan yang dilakukan Yuki menggunakan tubuhnya?'
.
Aku tersenyum pahit.
Cara pertama sepertinya lebih baik daripada yang kedua…
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Baiklah, aku mengerti…"
"Ayo cepat selesaikan ini, Len…"
.
'Ini menyakitkan…'
'Tapi kalau memang ini satu-satunya cara untuk mengakhiri semua ini…'
'Maka aku akan melakukannya…'
'Demi untuk menyelamatkanmu, aku akan membunuhmu, Len…'
.
Dalam hitungan detik, Len menerjang ke arahku, mengarahkan katananya tepat ke jantungku.
Aku melakukan hal yang sama, dan menerjang lurus ke arahnya…
—Berharap agar semua ini cepat berakhir…
.
