Yosh! Minna, akhirnya, telah sampailah kita di akhir kisah yang mungkin agak ngelantur ini. Dan maafkan karena ini mungkin tak masuk akal. Mana ada pria melahirkan?. Pertanyaan itu sudah sering ku dengar. Tapi inilah fiction. Hal yang tak mungkin bisa jadi mungkin disini.
.
.
Terima ksih banyak minna san, atas segalanya selama ini.
Untuk review kalian, untuk waktu yang kalian luangkan untuk membaca fic ini.
Arigatou minna.
.
See you in another fiction.
.
~Juu~
.
.
.
.
"Sasuke.. makan malam" ucap suara datar surai hitam dengan ciri khas kerutan di sekitar matanya yang sebenarnya agak khawatir pada adiknya.
"Hn" jawab Sasuke sekiranya.
"Souji akan ku pegang dulu, turunlah ke ruang makan segera" ujar Itachi lagi.
"Duluan saja" tolak Sasuke.
"..." Itachi tak bicara lagi. Ia tahu percuma memaksa.
Itachi segera meninggalkan ruangan ber cat serba putih milik sang adik tanpa banyak komentar.
Meninggalkan sasuke dengan kebiasaannya selama tiga tahun terakhir ini.
Kerja, Souji, Makan, Tidur, Souji, Kerja, Souji, Kerja dan Souji lagi.
.
Lagipula apa yang mau dilakukannya?.
Hidupnya saat ini hanya tersisa untuk anak semata wayangnya yang sekarang menginjak usia tiga tahun.
Anak laki-laki yang lucu dan chubby seperti kekasihnya yang mengandung bayi itu dulu. Dan berkulit putih serta berambut hitam seperti dirinya, tak lupa satu ciri yang tak pernah bisa disamakan dengan orang manapun –tiga garis seperti kumis kucing di masing-masing pipinya.
.
Ah.
.
Lama juga ternyata.
.
Sudah tiga tahun berlalu.
.
Terkadang Sasuke merasa bodoh harus mempercayai omongan orangtua berjubah hitam yang dulu tiba-tiba saja menemuinya dan berpesan padanya untuk menunggu.
Toh hasilnya senihil ini.
Menunggu apa?.
.
Yang lebih baik?.
.
Untuk apa?.
.
Antara tak ingin percaya dan berharap.
.
Hanya dia.
Hanya Naruto yang ia inginkan.
.
Apakah terlalu mahal untuk meminta seorang kekasih sebagai bagian dari hidupnya itu tetap di sisinya.
.
Sasuke tak sempat bertanya. Justru ia berani berharap bahwa sang kekasih akan datang dengan keajaiban.
Kembali padanya.
.
Melengkapi lagi lubang dihatinya yang menganga hampa.
.
How naif.
.
Dia selalu lari dari kenyataan.
.
Tapi bertingkah seperti yang paling kuat menerimanya.
.
Menyiksa diri sendiri.
.
Tiga tahun.
Ah tiga tahun sejak Sasuke kehilangan sayap hidupnya.
Belahan jiwanya.
.
Adakah harapan?.
Adakah sedikit rasa iba dari tuhan untuk memberikannya kembali kekasih hatinya itu.
.
Sasuke.
Sasuke Uchiha tak pernah mau percaya jika kekasih hatinya mati begitu saja.
Tuhan tak adil?.
Atau ia tak layak menerima takdir yang lebih baik?.
Dia sudah berusaha.
Dia sudah bekerja keras.
Apa itu tak cukup?.
Apa yang dia harus lakukan lagi?.
Tak bolehkah ia memiliki lagi Naruto seutuhnya.
Bukan hanya untuk kenangan seperti ini.
Hampa.
.
.
.
Kepala klan Uchiha di duduki oleh Kagami Uchiha.
Meski berdasarkan silsilah dan hasil penentuan pemilihan, Izuna dan Minato lah yang memenangkan masing-masingnya. Tapi tak satupun dari keduanya yang mau menerima takhta.
.
.
Nagato, Nagato Uzumaki yang ternyata adalah keponakan jauh mendiang kushina telah tahu seluruh kebenaran yang selama ini tak ia ketahui. Ternyata benar Danzou lah yang membunuh keluarganya dan memperalatnya selama ini.
.
Sebagai permintaan maaf dan penyesalannya pada sahabatnya –Itachi dan Kyuubi, juga Sasuke yang karenanya Sasuke tak dapat menemui kekasihnya di saat-saat terakhir. Sang Uzumaki ini merelakan dirinya untuk di hukum sama halnya seperti Orochimaru dan Kabuto yang entah bagai mana keduanya tergeletak di depan kantor kementrian keamanan internasional di Amegakure –Negara perbatasan Konohagakure dan Sunagakure. Sehari setelah malam berdarah di gunung yang Sasuke namai 'Aoi' itu terjadi.
'Biru'.
Seperti warna mata Naruto.
.
.
Berkat keahliannya mengumpulkan data dan informasi yang juga membantu menyelesaikan kesalah pahaman antara Nagato Uzumaki dan Uchiha klan, serta pengumpulan data kejahatan yang sudah dilakukan mendiang Danzou, Orochimaru dan Kabuto, Gaara yang keesokan paginya di kejadian tiga tahun lalu itu membantu mengurus para penyusup yang menyerang kediaman Sasuke di gunung Aoi, sekarang adalah kepala kepolisian negara Sunagakure, setelah sebelumnya menolak menjadi pemimpin negara karena usia masih muda.
.
Kakashi dan Iruka melanjutkan kehidupan mereka dengan sangat bahagia setelah Minato memutuskan menghapus gelar keduanya sebagai pelindung dan pembantu keluarga Namikaze-Uchiha.
Itachi-Kyuubi pun sama.
Fugaku , Minato dan ibunya juga sekarang sibuk dengan profesi mereka masing-masing.
Sai dan Naruko, menikah dua tahun lalu dan masih tinggal bersama Sasuke dan pasangan Itakyuu di mansion lama para Uchiha muda.
Dan dia –Sasuke kini sibuk mengurus pekerjaan dan anak tercinta yang ia namai Souji Suke.
.
.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk" jawab sasuke pada ketukan di pintunya.
"Sasuke-Sama, Ini Waktunya Rapat" Ujar Salah Satu Karyawan.
"Oh, baiklah" Sasuke bangkit, menyambar dokumen yang sudah ia siapkan lalu menggendong Souji yang duduk disofa dengan buku cerita favorite nya –sebelum akhirnya Souji menyambar buku gambar yang tadi ia geletakan di meja.
"Ummh, Sasuke-sama, biar saya jaga Souji-Sama di sini" pinta salah satu sekertaris nya yang tak lain adalah Sakura –teman seangkatannya sekaligus sahabat Naruko.
"Tidak perlu" Sasuke menjawab sekiranya lalu beranjak menuju ruang rapat.
.
.
"Sasuke, apa baik-baik saja souji kau bawa ke ruang rapat begini?" Sai menegur sasuke yang hendak masuk ruang rapat.
"Tak apa, sudah biasa" sasuke hendak masuk tapi dicegah lagi oleh sai.
"Percayakan souji padaku, klien kita baru, aku tak mau reputasi kita menurun"
"Aku tak butuh klien yang tak suka dengan apa yang ku lakukan"
"Tapi uchiha butuh klien ini"
"Kalau begitu kau gantikan aku di sana, aku mau keliling bersama sou" sasuke menyerahkan dokumen ditangannya dan berlalu meninggalkan sai yang menepuk dahi pasrah.
"Hopeles" ujar sai sembari memasuki ruang rapat menggantikan sasuke.
.
.
~Kantin kantor Uchiha corp~
.
"Sou," Sasuke menyodorkan saputangan pada sikecil sou yang wajahnya sedikit belepotan ice cream.
"Mau tambah?" Souji menggeleng.
"Mau mampir dulu" gumam Sasuke pada dirinya sendiri.
"..Pa..pa.." Souji menyodorkan hasil corat-coretan gambarnya pada Sasuke.
"Hmm" gumam Sasuke melihat gambar Souji yang sedikit berantakan tapi terlihat jelas apa itu. Gambar didominasi crayon biru, hitam dan hijau yang membentuk seorang anak menuntun ayahnya di atas rumput hijau yang segar –ada sedikit ruang yang tersisa diantara rumput itu, membentuk satu tubuh lagi yang belum di lanjutkan (masih kerangka lingkaran dan garis).
"..Ma...ma?" suara si kecil serak antara ragu dan takut. Sasuke mematung sesaat lalu tersenyum.
"Sou belum pernah lihat mama ya?" Sasuke mengeluarkan dompetnya dan mengambil salah satu foto disana.
"Bi..bi?" Souji mengira itu bibinya yang berrambut pendek. Sasuke menggeleng.
"Ini mama mu" jelas Sasuke menegaskan bahwa ibunya Souji dan Naruko itu dua orang yang berbeda.
"Sou?" Souji memeluk foto itu mengisyaratkan ia ingin memilikinya.
"Baiklah, Sou simpan baik-baik" Sasuke memberikan Souji sentuhan lembut di kepala si kecil.
.
.
Keseharian Sasuke tak pernah lepas dari kedekatannya dengan sang anak. Biar bagai manapun Sasuke tak mau sampai kehilangan lagi keluarga kecilnya yang sangat ia cintai. Mungkin itulah mengapa ia terkenal sangat protective. Mendahulukan Souji daripada yang lainnya. Tapi itu jugalah yang membuatnya semakin terkenal. Bukan hanya kisahnya saja yang sudah banyak tersebar dan menjadi buah bibir di seluruh negara.
Namun nampaknya, Sasuke kurang waspada kali ini.
.
.
"Souji?" Sasuke berteriak-teriak memanggil anaknya.
"Souji-sama" "Souji-sama" para karyawan membantu mencari keberadaan Souji yang tiba-tiba menghilang saat Sasuke menerima telpon di bagian costumer service di lantai satu, tepat setelah ia kembali dari kantin kantornya.
"Souji" Sasuke mencari keseluruh halaman parkir dan gedung belakang.
Sasuke bergegas kembali ke lantai satu setelah tak ada tanda-tanda anaknya di luar gedung. Semua karyawan ikut sibuk mencari.
.
Sasuke sampai di pintu tangga darurat. Entah mengapa firasatnya mengatakan untuk cepat-cepat. Dan ya, di tangga lantai dua ia menemukan Souji yang terjebak diantara tangga dan tiang penyangga. Bajunya tersangkut dan tangannya sedikit berdarah –tergores tiang-tiang yang cukup tajam.
Sasuke bergegas meraih anaknya. Sedikit menderu kesal Sasuke langsung saja menggendong sang anak yang tak sadarkan diri dan membawanya kerumah sakit.
.
.
"Hanya luka ringan" terang Itachi pada sang adik.
"Rupanya dia salah mengenali orang dan mengikutinya hingga ke tangga" ujar Itachi lagi.
"Mungkin orang itu tak tau dia diikuti, kau tau sendiri kan, Souji jarang bicara" Kyuubi menimpali.
"Hem, jika tak ada yang dibutuhkan lagi, aku akan bawa Souji pulang" Sasuke menggendong anaknya tak peduli pada ke khawatiran orang sekitarnya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini bocah" Izuna menegur dari depan pintu.
"Ha-ah, Itachi, tak bisakah kau lebih keras pada bocah ini?" Izuna menatap tajam Sasuke.
"Maaf, diluar kemauan ku. Dia sudah besar" Itachi mengacuhkan.
"Cih, sepertinya percuma juga" Izuna kemudian beranjak pergi.
.
.
~Old Mansion Madara~
.
Musim panas.
Waktu dimana biasanya murid-murid sekolah menghabiskan waktu liburan mereka di pantai.
.
Tapi Sasuke bukan lagi anak SMA.
Ia kini salah satu pemimpin perusahaan Uchiha corp.
Ia kini kebanggaan para Uchiha.
.
Meskipun banyak menghabiskan waktu hanya untuk anak dan perusahaannya.
.
Sasuke melakukan semua itu dengan serius dan hati-hati.
.
.
Hari ini seluruh keluarga Namikaze-Uchiha berkumpul di mansion mendiang Madara Uchiha. Berlibur bersama untuk mempererat kekeluargaan mereka.
.
Mansion tua yang dulu menjadi awal kisah perjalanan cinta Sasuke dan Naruto.
Awal dari perjalanan menuju takdir yang telah diatur bahkan sebelum mereka terlahir ke dunia.
.
.
"Papa.." panggil bocah kecil yang imut seraya berlari-lari kecil kearah ayahnya.
"..Sou, mau kue?.." tanya Sasuke pada anak yang sekarang digendongnya.
Anak lucu itu mengangguk ragu.
"Kenapa?" tanya Sasuke binggung.
"..Umm.." Souji menggeleng.
"Baiklah, ayo duduk di kursi itu dulu" ajak Sasuke menunjuk kursi taman di halaman depan mansion megah milik Madara.
Souji mengangguk.
.
"Nah, kau duduk disini. Papa nanti bawakan kue mu kesini" terang Sasuke pada si kecil lembut.
Souji yang sudah duduk dikursi yang lebih besar dari ukuran tubuhnya itu merentangkan tangannya dan memeluk leher sang ayah kuat-kuat.
"..Tak akan lama, hanya mengambil kue.." Sasuke berusaha melepaskan dekapan anaknya.
"..Nnh," Souji menggumam menolak.
"Nah, baiklah" Sasuke akhirnya duduk disamping anaknya.
Kursi taman itu cukup panjang dan sanggup menampung tiga orang dewasa. Terlebih lagi pemandangannya langsung mengarah ke arah laut, disampingnya ada kursi lain dengan ukuran yang lebih kecil juga meja dan tenda kecil yang mirip payung di tengah meja tersebut.
.
Angin berhembus sedikit kencang.
Helaian rambut hitam kedua manusia di atas kursi itu tersingkap berantakan mengikuti arah angin. Menutupi wajah anaknya dengan tangan agar tak kena debu, Sasuke lalu mendekatkan sang anak pada dirinya.
.
"Kau berantakan, Sou" ucap Sasuke seraya merapikan rambut sang anak dan memangkunya.
"..Papa.." Souji memanggil ragu.
"Hn?" Sasuke merasa ada yang tak beres dengan sang anak, tak biasanya Souji terlihat begitu gelisah. Apakah trauma?.
Pupy eyes biru sendu itu menatap Sasuke dalam. Hampir menangis, Souji memeluk Sasuke erat.
"..."
"...hu..huk.. hu." Souji meredam tangisnya.
"Ada apa?" tanya Sasuke.
Souji menggeleng.
"..." Sasuke rasa anaknya benar-benar trauma atas kejadian tempo hari.
Sasuke memeluk anaknya dan bangkit dari kursi. Kembali kekamarnya di mansion Madara.
.
"Souji.." panggil sang nenek ramah. Souji menengok sebentar lalu menyembunyikan lagi wajahnya di pundak sang ayah.
"Dia tak mau diganggu" Sasuke menerangkan sembari berlalu ke kamarnya. Mikoto hanya geleng-geleng pasrah.
"Apa yang membuat mu setenang itu , Minato" tanya Mikoto kesal –sejak Naruto tiada Mikoto jadi sangat sinis pada Minato dan Fugaku yang selalu terlihat tenang dan biasa saja.
"Dia akan kembali, kuharap" ucap Minato pelan.
"Seberapa banyak yang kau tahu?" sela Izuna bertanya.
"Tak banyak, hanya kabar burung yang tiba-tiba menyebar" jawab Minato sembari menerawang jauh ke atap.
"Aku agak ragu tentang kabar itu" Kagami berpendapat, mengisyaratkan ia juga tahu hal yang diketahui Minato.
"Sa-a, kita lihat saja" Minato kemudian berlalu menuju kamarnya.
"Pemerintah –ah maksud ku Tobirama memberikan undangan malam sabtu ini" ujar minato sebelum benar-benar pergi.
.
.
~Malam berikutnya~
~Jauh di pedalaman hutan Sunagakure~.
Tanpa sepengetahuan penghuni mansion Madara yang lain.
Segerombol pria setengah abad asal klan Uchiha-Namikaze dan sekutunya –senju, sedang berdiskusi di dekat sebuah rumah tua di pedalaman hutan lima mil dari gerbang Sunagakure.
"Aku bertanya-tanya kemana saja kau selama tiga tahun ini" ujar sesosok pria tinggi.
"Hehe, kau tahu butuh waktu untuk mengembalikan fungsi jantung yang lama tersimpan dalam ruang kecil itu, selain itu butuh waktu lama menyembuhkan luka robekan besar serta rahim sementara di tubuhnya" sosok ceria namun misterius–Obito –itu menjawab santai.
.
"Che, kau pintar bersandiwara" kata si pria tinggi pada pria berperawakan kurus dan rambut diikat kuda dengan luka di sekitar hidungnya.
"Aku hanya menjalankan perintah tuan ku" jawab Iruka dengan senyumnya.
"Tapi tetap saja ini mengejutkan, aku tahu tentang rencana ini. Tapi tak pernah terpikir bocah yang hampir sekarat seperti mu terlibat sejak lama" Kagami –pria tinggi –ikut tersenyum.
"Memeng Senju selalu lebih hebat dari Uchiha" Shisui berkata datar tapi dalam.
.
"Kawarama dan Itama ya," Izuna mempertanyakan keberadaan dua saudara mendiang Hashirama.
"Mereka memang sudah mati, hanya hidup kembali untuk menjaga jantung Hashirama-sama yang sudah disegel di suatu tempat" Obito menjelaskan.
"Lalu, apa maksudnya itu?" Minato penasaran.
.
"Setelah Madara sadar ia diperalat muridnya sendiri –Danzou, semua sudah terlambat. Jantungnya yang sudah diberi DNA Hashirama yang seharusnya dipakai Madara sebagai obat justru ditukar dengan jantung nya yang mengandung racun tak terdeteksi hasil karya Orochimaru –murid Hiruzen Sarutobi."Iruka menjelaskan.
"Cerita ini adalah pesan terakhir mendiang ayahku sebelum malam pembantaian mereka oleh Danzou sekaligus malam pembunuhan mendiang Kushina-Sama" Iruka melanjutkan.
.
"Seperti yang kalian tahu, tuan Minato adalah keturunan terakhir Namikaze. Tapi.. bukan itu yang membuat Naruto menjadi alasan sebagai anak terpilih" ujar Iruka lagi.
"Langsung ke inti ceritanya saja, bocah" Kagami menyentak tak sabar.
"Pada masa itu, Itama sama berhasil merebut setengah jantung Madara yang mengendung DNA Hashirama dan secara sembunyi-sembunyi menyimpannya dan menyegelnya lalu menghilang untuk mengelabui Danzou"
.
"Setelah berdebat hebat, Madara dan Hashirama memutuskan pembersihan jantung Madara dengan cara lain yang ternyata juga adalah perangkap lanjutan Danzou yang tak berhasil mendapat jantung yang pertama"
"Tunggu, apa alasan si tua itu mengincar jantung Madara dan DNA Hashirama?" Minato menyela.
"Madara terkenal dengan kekuatannya dan dayatahan tubuh, Hashirama terkenal dengan otak jeniusnya dan siasat yang tak pernah meleset" Itama menjawab.
"Hashirama-nii baru tahu tentang Danzou setelah negara konoha terbentuk dan aku kembali" Itama melanjutkan.
.
"Hashirama-nii dan aku diserang setelah ketahuan Danzou sebelum sempat sampai di kediaman Madara. Kami berhasil selamat tapi aku akhirnya mati setelah berusaha menyegel jantung itu di salah satu tempat di hutan ini. Dan lagi ternyata orang keji yang menghasut pembantaian Namikaze dan Uzumaki adalah si Danzou itu –singkatnya Danzou sudah banyak menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan campuran Jantung Madara dan DNA Hashirama" ujar Itama-lagi.
.
Suasana Hening sesaat.
.
"Saat itu aku baru tigabelas tahun. Hashi-nii mengajak ku menemui seorang wanita hamil di desa sunagakure, hashi-nii bilang wanita itu kuat dan akan melahirkan seorang anak perempuan. Hashi-nii meminta wanita itu untuk membantunya" Kawarama menerawang.
"Apa wanita itu Kushina?" Minato menyela. Kawarama mengangguk.
.
"Saat itu Kushina menangis karena ia tahu bayinya hanya akan hidup sebagai pemisah antara jantung Madara dan DNA Hashi-nii serta akan menjadi akhir bagi hidup Madara. Pada akhirnya ia menerimanya. Lalu Hashi-nii memberi segel pada jantung itu lalu menyuruh Kushina memakannya. Dengan begitu dalam jantung itu kini ada empat DNA, Milik Madara, Hashi-Nii, Kushina dan Suaminya. Hashi-nii juga memberitahu bahwa anaknya harus menikah dengan salah satu Uchiha yang lahir ditahun yang sama dengan bayinya nanti"
"Kenapa harus Uchiha?" Kagami bertanya.
"Karena di tempat yang sama ada wanita dengan baju bangsawan Uchiha yang memasuki rumah sakit yang sama yang ditempati Kushina" jawab kawarama.
"Mikoto?" tebak Fugaku.
"Ya, itulah kenapa Sasuke punya tanda di bahu kirinya" jawab Kawarama.
"Pantas dulu Sasuke bisa seganas itu" kenang Fugaku pada masalalunya yang cukup buruk dengan sang anak.
.
"Tapi saat persalinan ada yang salah" Kawarama melanjutkan.
"Kushina melahirkan anak kembar dan segel yang harusnya berada pada anak perempuan justru sebaliknya"
"Keinginan yang kuat untuk tak kehilangan anaknya?" Obito memberi gagasan.
"Sepertinya"
"lalu?"
"Hashi-nii membangkitkan Itama-nii dan menyuruh kami menggunakan jantungnya untuk Naruto kelak jika saatnya tiba"
"Lalu? Bagaimana dengan Madara?" Izuna bertanya.
"Kami, Obito, Tobirama-Nii dan Mendiang Keluarga Iruka bekerja sama secara sembunyi-sembunyi. Hingga kejadian mengerikan itu tentunya" Kawarama menjawab.
"Danzou dan Orochimaru terus mengadu domba berbagai pihak hingga kami sulit bergerak dan banyak nyawa yang hilang"
.
"Intinya ini saatnya mereka membayar Naruto dan Sasuke bukan?" Izuna tersenyum datar.
"Bocah itu" celetuknya seraya mengintip sebuah ruangan dimana terbaring sesosok pirang dalam sebuah tabung besar berisikan cairan-cairan campuran untuk membantu fungsi kerja jantung.
.
"Apa kalian yakin anak itu bisa hidup lagi?" Kagami bertanya.
"Tentu saja, pada dasarnya ia belum mati. Lagi pula kami akan kembali mati jika tugas kami sudah selesai" jawab Itama.
"Sayang sekali harus berakhir begitu" Obito mengenang.
"Hahaha, kami malah senang tugas kami selesai. Lihat saja berapa lama kami hidup?, meski sebagai mayat hidup" Itama mengangguk setuju dengan ucapan adiknya.
.
"Baiklah, tak baik menghilang terlalu lama" Kagami langsung beranjak pergi.
"Kami tunggu kabar baiknya" Fugaku dan Minato menyusul Kagami.
"Mari beri kejutan untuk keponakan ku" Izuna berbisik pada sosok pirang di tabung yang tak sadarkan diri itu lalu beranjak pergi diikuti Iruka. Sementara Obito tetap disana seperti yang dilakukannya selama tiga tahun terakhir ini.
.
.
~A week later~
~Mansion Uchiha muda~
.
Hari sabtu.
Hari dimana Sasuke bebas dari pekerjaan dan hanya menghabiskan waktu luangnya bersama anak tercinta.
Terik matahari nampaknya berefek pada pemuda beranak satu ini. Setelah pulang dari tempat lamanya di gunung "Aoi" Sasuke bergegas mandi bersama si kecil Souji.
Hening.
Seperti biasanya.
Hanya suara detikan air tiap kali Souji berusaha memasuk-keluarkan tangannya untuk mengangbil mainannya di dasar bathub.
"Sou?" Sasuke bingung anaknya tiba-tiba berhenti bermain air.
"Ya-ampun, manti foto itu basah kalau kau terus membawanya begitu" Sasuke mengembil foto ditangan Souji lalu memandangnya sesaat.
Ah. Rindu.
.
"Mungkin kita harus main ke gunung lagi" ujar Sasuke. Souji mengangguk seakan mengerti maksud sang ayah.
.
Masih memakai handuk Sasuke buru-buru mengeringkan Souji dan memakaikannya baju. Tak pernah ia ijinkan orang lain merawat Souji, bahkan ketika Souji masih bayi sekalipun.
"Umm" Souji menengadahkan tangannya.
"Ah, fotonya masih dikamar mandi, kau tunggu disini" Sasuke bergegas mengambil foto yang memang tak pernah Souji tinggalkan sejak pertama diperlihatkan foto itu oleh ayahnya.
"..Ma..ma.." ujar Souji girang saat foto itu kembali padanya.
Souji lalu berlarian kecil kearah pintu. Ia sudah cukup mengenal lingkungan rumahnya jadi Sasuke yakin anak itu tak mungkin tersesat atau celaka seperti waktu di kantor.
Souji kesulitan membuka pintu bahkan setelah ia menaiki kursi untuk mencapai knot pintu.
"Kau mau kemana memangnya?" Sasuke menggeser kursi hendak membantu sang anak.
"..Ta-man.."
"Jangan keluar gerbang, apalagi ke gudang" Sasuke memperingatkan.
"He-em" Souji bergegas keluar setelah Sasuke membuka pintu.
.
.
"Ara –Souji, mau cemilan?" tanya Kyuubi saat si kecil melewatinya di ruang tamu.
"Hu-um" melihat biskuit kesukaannya ditangan Kyuubi, souji langsung menghampiri. Lupa tujuan awalnya keluar kamar.
"Souji mau main di belakang?" tanya Minato yang tiba-tiba muncul di pintu ruang tamu.
"Ayah, kapan kau datang?" tanya Kyuubi.
"Sudahlah itu tak penting. Nah Sou kecil, kakek punya permainan baru, ayo ketaman belakang"
"He-eh, ayah kau mencurigakan"
"Diamlah Kyuu, jarang aku bisa bermain dengan cucu ku. Kau tak bisa memberinya untuk ku dan Naruko juga belum memberiku satupun" ujar Minato.
"Che" Kyuubi mendecih sebal dan membiarkan ayahnya membawa Souji.
.
"Wah coba lihat apa ditangan mu?" tanya Minato pada si kecil yang ia tuntun menuju halaman belakang.
"Are? Bukankah ini mirip dengan orang itu?" tanya Minato seraya menunjuk sesosok pirang yang rambutnya agak jabrik –lebih panjang dari yang ada difoto.
Mata Souji melebar bulat lalu dengan riang berlari kearah sosok yang melambai padanya.
"..Ma..ma.." teriak Souji kecil.
"Wah, Suke sudah besar?" ucap Naruto ramah lalu menggendong si kecil.
"..Ma..ma.." suara cempreng lucu itu merusuk hangat ke jantung Naruto. memberi kebahagian tersendiri untuknya.
.
"Terimakasih, ayah" ujar Naruto saat Minato beranjak pergi.
"Kau tahu aku selalu menyeyangi mu" jawab Minato sembari tersenyum dan pergi.
.
'Nah, Waktunya Sedikit Mengerjai Bocah Stoic Itu' batin Minato iseng.
"Sasuke, mana cucu kecil ku yang lucu?" tanya Minato. Sasuke menatap Kyuubi dengan pandangan tanya.
"Bukannya tadi ke halaman belakang bersama mu?" Kyuubi menyahut binggung dari ruang tamu.
"Tadi dia masuk duluan, katanya mau memanggil ayahnya" ucap Minato dusta.
"Tsk!" Sasuke menggeram jengkel lalu bergegas menuju halaman belakang di lantai satu.
Kyuubi hendak menyusul Sasuke tapi dihalangi ayahnya.
"Tak bisakah kita membiarkan reuni keluarga mereka berjalan lancar?" tanya Minato.
"Apa maksud mu?" Kyuubi heran tapi jadi penuh harap.
"Apa lagi?. Tentu saja adik mu" ujar Minato dengan senyum hangatnya. Kyuubi membulat tak percaya.
"Kau bercanda?" tanya Kyuubi.
"Nah, bocah itu sudah kembali" tegas sang ayah.
"Benarkah ayah?, benarkah Naru kembali?" tanya Kyuubi.
"Ya, dia lebih tampan dari mu" sahut sang ayah.
"Che, kau menyebalkan pak tua" canda kyuubi pada sang ayah.
"Aku akan telpon Naruko" ujar Kyuubi seraya menghapus benih airmata di matanya.
"Jangan sekarang. Lebih baik biarkan mereka bersama dulu, aku sudah suruh Itachi pulang ke masion ayah, kau juga, hari ini biarkan mereka melepas rindu" saran sang ayah.
"Ta-ha-ah, baiklah" agak kecewa tapi akhirnya Kyuubi menurut.
.
.
.
"Souji!"
"Sou!" teriak Sasuke saat ia ada dihalaman belakang.
Ia mencari kesegala arah dan tempat kemungkinan anaknya bersembunyi.
"Sou –" Sasuke mematung melihat pemandangan dihadapannya.
Ia mendekat untuk memperjelas penglihatannya.
Disana. Di bawah pohon sakura yang berguguran dan cahaya terik senja serta angin sepoi-sepoi yang menari-nari, duduk sang kekasih tercinta yang lama tak bertemu dengannya sedang duduk bersandar sembari menggendong sang anak dalam pelukannya.
Apakah Sasuke bermimpi?.
Kumohon, jangan.
.
"Kau terlihat sangat kurus, Teme" ujar sang malaikat senja.
Sasuke menghampiri pria itu dan menguncinya diantara pepohonan dan dia.
"Apa aku bermimpi?" tanya Sasuke.
"Apa aku terlihat tak nyata?" balik tanya Naruto.
"Na..ru.." lirih Sasuke sembari menyentuh wajah sang kekasih.
"Maaf, pergi terlalu lama" jawab Naruto sambil menyentuh tangan Sasuke di wajahnya.
.
"..." Sasuke diam sebentar. Menikmati wajah tan manis dihadapannya.
"Takan ku maafkan" jawab Sasuke lalu mencium sang kekasih rakus.
"Naru.." Sasuke lalu memeluk sang kekasih bersama anak dipangkuanya. Memeluk seerat mengkin takut Naruto lari lagi darinya.
"..Pa..pa.." ujar si kecil Souji merasa sesak.
.
.
"Whoa.." teriak Naruto terkejut. Sasuke menggendong Naruto bridal saat Naruto masih menggendong sang anak.
"Mari masuk, hari sudah larut" ujar Sasuke. Naruto tak berniat minta diturunkan, ingin tahu batasan Sasuke dimana.
.
"Kau ini semakin kurus tapi masih saja kuat ya?" ujar Naruto heran Sasuke bisa menggendongnya dan Souji bersamaan hingga kamarnya dilantai dua.
"Kau harus membuatku kembali terisi kalau begitu" jawab Sasuke.
"Ayah mu itu, tahu sekali aku tak mau diganggu" jelas Sasuke.
"Eh?"
"Mereka pergi" terang sasuke lagi.
"Haha" Naruto tertawa ringan –baru nyambung dengan apa maksud Sasuke.
"Suke, mau tidur dengan ku?" tanya Naruto.
"Tentu saja" jawab Sasuke.
"Aku tak tanya kau teme, aku tanya Suke kecil ku"
"Tsk, panggil dia Souji, kau hanya boleh memanggil Suke untuk ku"
"Ch, siapa peduli" Naruto mendekap sang anak dan langsung selimutan, tak peduli Sasuke sudah mulai terbakar api cemburu pada anaknya sendiri.
.
"Dobe, aku yang paling merindukan mu" ujar Sasuke.
"Souji yang paling membutuhkan ku" bantah Naruto.
"Tsk!" Sasuke akhirnya keluar kamar.
"Nah Sou, kau kangan mama?" tanya Naruto. Souji mengangguk.
"Sou bisa jadi anak baik kan?" Naruto bertanya lagi. Souji mengangguk.
"Nah, anak baik, tidurlah"
.
"Kau harus tidur dulu, baru ayah mu bisa melepas rindunya dengan ku, bagaimana?" tanya si pirang.
"..Papa?.." tanya Souji. Naruto mengangguk pelan lalu tersenyum.
.
.
"Rambut mu semakin panjang" Sasuke membelai helai rambut sang kekasih dibawahnya.
"Aku baru bangun tiga hari lalu, tak sempat berpikir untuk potong rambut" jawab Naruto.
"Kau tahu, kau pergi terlalu lama" ujar Sasuke seraya memeluk sang kekasih yang sudah berbaring dibawahnya.
"Aku tak bisa berbuat apa-apa" jawab si pirang balas memeluk sang kekasih.
"Kau masih memakai kalung ini?" Sasuke menyadari keberadaan kalung itu saat dia mengecup leher jenjang Naruto.
"Itu pemberian mu, aku tak bisa tak memakainya" jawab Naruto.
"..nhh.." desah si pirang saat Sasuke menyusupkan lidahnya ke mulut sang Namikaze.
"..ngehh.."
"ahh-ha..nn" desahnya lagi saat Sasuke menghisap niplenya.
"tak apa kan, jika kulakukan sekarang?" tanya Sasuke.
"hn, tapi aku tak bisa lagi memberi Souji adik" jawab Naruto pura-pura sedih. Sasuke mencubit hidung Naruto dan tersenyum.
"hn?. Ah tak apa, kau dan Souji saja sudah cukup untuk ku" Sasuke kembali menggoda niple Naruto.
"..nhh.."
"Pelankan suaramu, Sou sedang tidur" bisik Sasuke.
Sasuke turun kebagian bawah sang kekasih.
"mmh, wa..tu-tunggu dulu" cegah Naruto cepat-cepat.
"I-Iruka-sensei bilang, ja-jangan dulu" semburat merah menghiasi wajah Naruto saat ia mengucapkan ini.
"Apa maksud mu?" Sasuke murka.
"De-dengar dulu, luka yang waktu itu" Naruto berkata ragu. Malu untuk mengatakannya.
"Ah- luka bekas kau melahirkan?" blush! Wajah Naruto makin memerah menyaingi kepiting rebus.
"Tak-apa, sudah tiga tahun lebih kan?" Sasuke melanjutkan aksinya.
"hn-ah"
"ah!"
"ah!..nh.."
"Sasu..hn.. tu-nghh..pe..perih.. Suke"
"Tenang sedikit"
"hn-ah..nh.."
Sasuke menusukkan kejantanannya lebih dalam dan ritmenya lebih cepat.
"ah..nhh!"
"Su-ke, su-dah.. cu-kup..ah!"
Sasuke terus memompa kejantanannya dan melebarkan kedua kaki Naruto.
"hn..nh... guh.."
"suke-ah!.."
"Oh, hampir-nh-sampai" ungkap Naruto tak tahan.
"ah!"
"ah-ha!"
"nh..nnn"
"aaaaahhhhh!" keduanya pun sampai bersamaan.
.
.
"hemmh"
"kenapa?" tanya sasuke.
"maaf, aku hany senang" jawab Naruto seraya membelai anaknya membelakangi Sasuke.
"Kita bersama lagi" lanjut Naruto seraya menghadap sang kekasih di sampingnya.
"Tentu saja" Sasuke menindihi Naruto dan menciumnya liar.
"hnmm"
"Jangan tinggalkan aku lagi" ujar Sasuke setelah melepas ciumannya.
.
.
.
~End~
Tadinya pengen bikin omake. Tapi sepertinya akan lebih baik jika kujadikan sequel.
Arigatou minna-san atas segalanya.
See you and gomennasai kalo akhirnya tak seperti yang kalian inginkan :).
