Haruna Monogatari

Disclaimer :

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

(And the Picture)

Warn. : OC, Alur mengikuti anime KnB, Typo(s), dll.

RnR?


Para pemain Seirin menuju bench.

"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh! Jika kau diusir keluar kita bisa kalah!" Kata Riko sambil memukul kepala Kagami dengan keras.

"Akhirnya dia tetap dipukul juga." Kata Koganei.

"Jika kau mau melakukan itu jangan terang-terangan begitu!"

"Eh? Jadi itu maksudmu?" Tanya Izuki.

"Dasar manusia kotor!" Haruna menatap Hanamiya sedang menatapnya dengan wajah mengejek dan meremehkan.

"Haruna-chan…"

"Membuatku kesal!" Haruna berdiri dari tempat duduknya.

"Haruna-chan, jangan biarkan emosimu meluap-luap seperti itu."

"Diam, Tetsuya. aku tidak butuh ceramahmu." Haruna melangkahkan kakinya hendak menghampiri Hanamiya.

"Kau hanya akan menyulut emosi semua orang jika kau membiarkan emosimu meluap-luap." Kuroko berdiri lalu memegang pundak Haruna, dan Haruna pun menoleh pada Kuroko.

"Lihatlah apa yang dia lakukan! Apa kau akan diam saja?! HA?!" Haruna menarik jersey yang dikenakan Kuroko.

PLAK

Kuroko menampar Haruna.

"Uwaa!" Semua terkejut.

"Jika kau sudah tenang, lebih baik kau memikirkan bagaimana kita menghadapi mereka." Ucap Kuroko. Haruna terdiam sesaat sebelum mengatakan sesuatu.

"Arigatou, Tetsuya. Aku sudah lebih tenang sekarang. Tapi maaf, aku belum bisa mengatasi masalah kalian."

"Tidak apa-apa. Jangan terbawa emosi."

"Tapi Tetsuya. Kau tau? Tamparanmu terlalu keras." Pipi kiri Haruna memerah.

"Ma-maaf, Haruna-chan."

"Sudahlah, lupakan saja. Dan Taiga. Jika kau melakukannya lagi, aku akan memberimu pelajaran."

"Eh? Baiklah baiklah!"

"Kagami, menyeranglah dari luar ketika kita menyerang." Kata Kiyoshi tiba-tiba.

"Eh?"

"Kau tidak perlu merebut rebound untuk bertahan juga."

"Haa?"

"Aku akan mengurus inside sendirian. Kalian berempat urus saja outside."

"Satu di dalam, empat di luar?"

"Apa maksudmu Kiyoshi?! Permainan mereka di dalam semakin brutal! Jika kau melakukan itu, mereka akan fokus untuk menyerangmu!" Kata Hyuga

"Jangan bodoh Kiyoshi-san! Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya?! Kita tidak bisa melakukan itu! Itu strategi yang bodoh!" Bentak haruna

"Itu lebih baik dari pada melihat temanku yang terluka."

"Kakimu sudah cidera. Tidak bisa! Jika terjadi sesuatu kami harus menggantimu." Riko ikut melarang.

"Kiyoshi-san! Di sini akulah yang mengatur strateginya! Jangan seenaknya melakukan hal yang membahayakan! Kau akan terluka lebih dari ini!" Haruna berdiri dari duduknya.

"Tidak! Biarkan aku yang melakukannya! Maaf, Riko, Haruna."

"Tapi…" Riko hendak melarangnya.

"Inilah alasan kenapa aku kembali. Jika kau menggantiku sekarang, aku akan membencimu seumur hidupku."

Pertandingan dilanjutkan kembali. Seperti yang dikatakan Kiyoshi, mereka melakukannya. Empat di luar dan satu di dalam. Bahkan penonton pun sampai terkejut. Sekarang, Izuki yang memegang bolanya. Dia mengopernya pada Hyuga lalu Hyuga melakukan three point tapi meleset. Permainan kasar lawan pun semakin brutal. Kiyoshi benar-benar menjadi mangsa tunggal mereka. Mekski begitu, Kiyoshi tetap bermain sekuat tenaga dan mendapatkan rebound lalu melakukan dunk.

Kirisaki Dai Ichi menyerang. Pemain no 8 melakukan penyerangan tapi berhasil di block oleh Kiyoshi. Kiyoshi terus berusaha. Dia selalu berada di dalam sendirian baik offense maupun defense hingga tubuhnya penuh dengan luka memar.

"Kiyoshi-san… Kau benar-benar bodoh." Gumam Haruna yang terus mengamati jalannya pertandingan.

"Berikan aku bolanya!" Hyuga berteriak.

'Kapten, teriakanmu itu hanyalah bentuk kekesalanmu saja. Aku tau sebenarnya semangatmu sudah sangat menurun.'

Batin Haruna yang terus memperhatikan Hyuga.

Seirin menyerang dan Hyuga bersiap untuk menembak tapi lagi-lagi dia meleset. Kiyoshi tidak bisa melakukan rebound karna dia dijaga dengan kasar oleh pemain Kirisaki Dai Ichi. Dan mereka yang mendapatkan bolanya. Hyuga dan Izuki terlihat sedang beradu mulut.

Tim lawan menyerang tapi Kuroko berhasil mematahkannya. Seirin yang membalas serangan mereka. Kagami membawa bolanya dan menuju ring untuk mencetak angka, tapi dia di hadang oleh pemain no 8, tapi Kagami malah melakukan foul.

"Bodoh! Apa yang kau pikirkan, Taiga? Kau terlalu terbawa suasana!" Gumam Haruna.

Kirisaki Dai Ichi menyerang. Kiyoshi masih berjaga sendirian di dalam. Hanamiya menjetikkan jarinya seperti memberi kode, Hyuga terkejut dan seketika itu, Kiyoshi terjatuh beserta pemain lawan yang sedang membawa bola dan sikunya berada tepat di atas kepala Kiyoshi. Dalam hitungan detik, siku itu menimpa kepala Kiyoshi. Semua terkejut dan para pemain Seirin dan wasit menghampiri Kiyoshi.

"KIYOSHI-SAN!" Haruna panik dan hendak berlari ke tengah lapangan, tapi dia ditahan oleh Mitobe dengan menggelengkan kepalanya. "Tapi Kiyoshi-san terluka! Aku haru-" Mitobe menatap dalam Haruna. "Ba-baiklah.."

Terlihat di lapangan Hyuga sedang marah pada Hanamiya. Tapi setelah itu, Kiyoshi bangkit dengan luka di keningnya.

Quarter kedua berakhir denga score 45-41 untuk Seirin. Haruna membagikan air minum dan handuk untuk para pemain, sedangkan Kuroko terlihat sedang berbicara dengan Hanamiya. Kuroko terlihat sangat marah setelah selesai berbicara dengan Hanamiya.

"Tetsu-" Haruna terkejut.

'Tetsuya... semarah itu?'

Semua kembali ke ruang locker.

"kuso! Dasar brengsek!" Kagami menendang bench dengan keras, lalu Haruna memukul kepalanya dengan papan jalan.

"Jangan melampiaskan amarhmu pada bangku, Taiga." Ucap Haruna bernada dingin.

"Apa kau baik-baik saja, Kiyoshi?" Terlihat Izuki sedang mengkhawatirkan Kiyoshi yang penuh dengan luka memar.

"Ya, bukan masalah." Jawab Kiyoshi.

"Apa benar tidak apa-apa?" Tanya Furihata.

Riko menghampiri Kiyoshi dan mengamati tubuh Kiyoshi yang penuh luka. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Kuso! Aku benar-benar marah!" Ucap Kagami sambil mendudukkan diri di sebelah Kuroko.

"Jangan merusak apapun." Ucap Kuroko dengan kalem.

"Diam! Aku tau itu! Tapi aku tidak menyangka kau akan setenang-" Kagami terkejut saat melihat wajah Kuroko yang sudah memancarkan kemarahan. Dia terlihat sangat menyeramkan.

"Tenangkan dirimu, Taiga. Kita akan membalas mereka. Aku sudah muak!" Ucap Haruna bernada dingin dengan aura kelam di sekelilingnya.

"Jangan memperkeruh suasana, Haruna-chan. Kau sendiri bahkan sulit mengendalikan emosimu." Tegur Kuroko.

"Urusai! Aku tidak akan terpancing! Aku akan menemukan strategi untuk membalas mereka!" Ucap Haruna kesal.

"Sebaiknya memang begitu, Haruna. Kami bergantung pada strategimu." Ucap Kagami menatap Haruna.

"Jangan bodoh! Strategiku hanyalah bagian kecil dari pertandingan. Semua bergantung pada kalian yang ada di lapangan." Jawab Haruna.

"Pokoknya, aku percaya padamu, Haruna." Ucap Kagami.

"Aku juga." Kuroko tersenyum.

"Mattaku kalian benar-benar menyusahkan." Haruna memegangi dahinya. "Seirin tidak akan kalah dalam pertandingan ini." Haruna tersenyum pada Kagami dan Kuroko dan sukses membuat keduanya merasa lega.

.

Pertandingan berlanjut. Bola di pegang oleh Kuroko dan dia di hadang oleh pemain no 10. Tapi Kuroko tidak segera melakukan vanishing drive, sepertinya dia menunggu saat yang tepat.

"Ada apa Kuroko? Cepat dribble!" Ucap Koganei cemas.

"Tenanglah, Koga-san. Dia akan baik-baik saja." Haruna menatap ke arah lapangan.

Tiba-tiba pemain no 8 Kirisaki Dai Ichi datang dan hendak merebut bola dari Kuroko. Kuroko pun dengan sigap mendribble bolanya dan melakukan vanishing drive. Kagami berteriak agar Kuroko mengoper bola ke padanya. Kuroko segera mengoper bola pada Kagami yang ada di belakangnya, lalu Kagami melompat di atas Kuroko dan melakukan dunk.

"Berhasil!" Teriak Koganei.

"Kita mencetak angka lebih dulu di babak kedua ini, tapi entah kenapa aku merasa mereka seperti menyiapkan sesuatu." Ucap Haruna yang mencuri perhatian yang ada di bench.

"Eh? Apa maksudmu, Haruna-chan?" Tanya Riko.

"Entahlah, aku hanya merasa mereka seperti membuat kita percaya diri di awal babak kedua dan mereka akan melakukan serangan yang berbahaya setelahnya." Jawab Haruna.

"Lalu, bagaimana?" Tanya Koganei.

"Kalau memang benar seperti itu, aku harus lebih berkonsentrasi pada pertandingan ini." Haruna berdiri dari duduknya dan berjalan perlahan menuju meja wasit. "Mungkin kita harus menyimpan Tetsuya. Koga-san, bersiaplah. Kita akan menggunakan run-and-gun untuk sementara."

"Baiklah." Koganei bersiap.

Tetsuya keluar dan digantikan oleh Koganei. Hanamiya pun juga melakukan hal yang sama. Dia memerintahkan salah satu pemainnya untuk masuk ke lapangan.

"Hanamiya memberi perintah pada pemain lain? Itu berarti pelatih mereka sangat percaya padanya." Ucap Furihata.

"Tidak." Haruna mendudukkan dirinya di bench.

"Eh?"

"Pelatih mereka mengundurkan diri tahun lalu. Aku tidak tau apa alasannya. Sekarang Hanamiya adalah kapten sekaligus pelatih mereka." Jawan Haruna.

"Heeh?"

Pemain no 5 baru saja memasuki lapangan dan pertandingan berlanjut. Kiyoshi mendapat rebound dan Seirin melakukan serangan balik.

"Center baru itu tidak begitu kuat. Apa maksud mereka? Apa mereka meremehkan kami?" Gumam Haruna lirih.

Izuki berlari sambil mendribble bola, tapi Hanamiya berhasil mencuri bolanya dan melakukan penyerangan. Point untuk Kirisaki Dai Ichi.

Bola kembali dikuasai Seirin. Izuki sedang membawa bolanya dan hendak mengopernya. Tapi saat dia melempar bolanya, Hanamiya lagi-lagi berhasil mencuri bolanya.

'Izuki-san bahkan dicuri dua kali. Apa yang terjadi? Aku harus menganalisanya lebih dalam. Mungkin aku akan menggunakannya untuk menganalisa situasi ini.'

Haruna memfokuskan pandangannya ke lapangan dan tiba-tiba matanya bersinar.

"Haruna-chan? Kau..." Kuroko yang melihat mata Haruna bersinar pun terkejut.

"Jangan menggangguku, Tetsuya." Ucap Haruna yang tidak mengalihkan pandangannya ke lapangan.

'Menurut data yang aku dapatkan, Hanamiya adalah orang yang jenius. Jika aku benar, dia mungkin dapat membaca setiap gerakan kami. Kami selalu mengandalkan operan cepat dengan level yang tinggi, jika dia memang bisa membacanya, itu artinya dia sudah tau pola operan kami. Mungkin ini adalah rencana liciknya untuk mengalahkan kami.'

Lagi-lagi Hanamiya mencuri bola dari Izuki. Begitu terus hingga berkali-kali. Pemain Seirin terlihat semakin kesal.

'Izuki-san adalah point guard yang bagus. Dengan eagle eye miliknya, dia memiliki keakuratan yang sempurna. Dan Hanamiya terus saja mencuri bola darinya. Ini seperti kami sedang terjebak dalam jarring laba-laba yang akan membunuh kami secara perlahan. Sudah aku duga! Permainan kasar tadi hanyalah sebuah jebakan agar kami melakukan serangan yang simple dan mudah dibaca. Dasar licik!'

Haruna menutup matanya saat bell tanda quarter ketiga berakhir, dan matanya kembali normal.

"KUSO!" Izuki melampiaskan kekesalannya.

"Izuki…" Koganei terlihat sedikit ketakutan.

"Bagaimana, Haruna-chan? Kita semakin terperangkap ke dalam rencana Hanamiya, jika kita bisa menyerang dari luar, kita mungkin bisa menghadapinya." Ucap Riko.

"Tapi Hyuga belum mencetak satu angka pun hari ini." Bisik Koganei.

"Soal itu… aku sudah mengerti cara kerja jebakan Hanamiya." Haruna berdiri.

"Benarkah? Lalu, bagaimana?" Tanya Koganei.

"Dia selalu mencuri bola dari Izuki-san karna akurasi operan Izuki-san sangat tinggi. Dia bisa membaca jalur operan kita dengan mudah karna adanya no 5 yang bersinergi dengan Hanamiya. Jika kita bisa melakukan operan yang tidak terduga, kita bisa mematahkan rencana Hanamiya." Jelas Haruna.

"Eh? Lalu maksudmu?" Tanya Riko.

"Operan yang tidak terduga tidak akan bisa dicuri oleh Hanamiya, dan kita bisa melakukannya." Haruna menatap Kuroko. "Tetsuya, kau harus berhenti bermain sebagai tim."

"Eh?" Kuroko terkejut.

"Jangan salah sangka dulu. Ini adalah strategi kita untuk bisa menang. Tetsuya berhenti bermain sebagai tim agar dia bisa mengubah jalur operan kemanapun sesuai keinginannya. Tentu saja kalian yang akan menerima operan Tetsuya."

"Eh? Lalu bagaimana cara kita mengerti operan Kuroko?" Tanya Izuki.

"Jika kalian percaya pada Tetsuya, aku yakin kalian bisa melakukannya." Jelas Haruna lagi.

"Jadi begitu ya. sasuga penerus Yorisato! Kau memang jenius." Ucap Riko.

"Tapi, operan Tetsuya saja tidak cukup. Kita tetap membutuhkan three point." Haruna menatap Hyuga. "Kapten, kami mengandalkanmu." Ucapnya.

"Serahkan padaku!" Jawab Hyuga dengan mantap.

Pertandingan berlanjut. Izuki yang memegang bola. Dia hendak mengopernya ke Kiyoshi, dan Hanamiya sudah bersiap untuk mencuri bola. Tapi, Kuroko tiba-tiba datang dan membelokkan operannya menuju Kagami. Kagami menerima bola dan melaukan dunk.

Sorakan pemain yang ada di bench membuat pemain yang ada di lapangan bertambah semangat.

"Itu adalah pembukaan kami, Hanamiya. Kami yang akan memenangkan pertandingan ini!" Seringai Haruna muncul.

Permainan Seirin membaik setelah itu. Kirisaki Dai Ichi terlihat kesulitan melawan Seirin dengan adanya Kuroko di lapangan, beserta kekompakan anggota yang lain.

Seirin mengejar ketertinggalan. Tapi setelah Hyuga menembak dan meleset, permainan kasar Kirisaki Dai Ichi pun kembali. Kiyoshi kembali menjadi sasaran empuk untuk mereka.

"Apakah Kiyoshi baik-baik saja?" Tanya Koga.

Lalu Riko berdiri dari duduknya dan meminta time out.

"Ada beberapa hal yang ingin aku katakan tapi sebelum itu… kau sudah sampai batasmu, kau akan diganti, Teppei." Ucap Riko sambil menatap tajam Kiyoshi.

"Apa? Tunggu dulu!" Kiyoshi terkejut. "Sedikit lagi! Jika kau mengeluarkanku sekarang-"

"Tidak!" Bentak Riko. "Jika kejadian tahun lalu terjadi lagi… lebih baik kau membenciku!" Mata Riko terlihat berair.

"Riko…" Kiyoshi terpaku.

"Aku setuju." Ucap Kuroko tiba-tiba.

"Kuroko…" Kiyoshi beralih menatap Kuroko.

"Aku tidak punya kakak tapi saat kau berkata ingin melindungi kami, kau seperti kakak untuk ku. Itu membuatku senang. Karena itu aku ingin kau terus bisa melindungi kami. Aku tidak mau kau memaksakan diri di pertandingan ini."

"AAH! AKU SUDAH MUAK!" Teriak Hyuga lalu berdiri di hadapan Kiyoshi. "Maksud kami adalah serahkan semuanya pada kami! Diam dan duduklah! Apa kau pikir janji kita tidak akan terpenuhi?!"

Mitobe lalu menghampiri Kiyoshi dan Hyuga, mengulurkan tangannya dengan anggukan yang mengisyaratkan 'Serahkan pada kami'. Izuki dan yang lain pun ikut tersenyum.

"Yah, kau benar." Ucap Kiyoshi sambil mengamati tangannya. "Aku serahkan sisanya pada kalian." Kiyoshi membalas uluran tangan Mitobe dengan tepukan.

"Tentu saja bodoh!" Teriak Hyuga dengan anggota lain yang sudah bersiap. "Diamlah di sana dan tunggulah seperti anak kecil yang baik! Kita akan membawakanmu tiket menuju Winter Cup!"

.

Pertandingan berlanjut. Score 54-60 untuk keunggulan Kirisaki Dai Ichi. Seirin menguasai bola. Izuki melempar bola menuju Kagami, tapi Kuroko membelokkannya menuju Hyuga. Operan itu mengisyaratkan harapan Kuroko kepada Hyuga. Seirin akan unggul jika Hyuga bisa memasukkan tembakannya. Tapi semua tidak berjalan sesuai harapan mereka. Hyuga masih saja meleset.

"Jika kapten bisa memasukkannya, kemungkinan kita akan unggul. Tapi kenapa emosinya belum juga stabil? Tanpa kapten kita tidak bisa menang." Gumam Haruna yang didengar oleh Kiyoshi.

"Tenanglah." Kiyoshi menepuk pundak Haruna.

"Kiyoshi-san?"

"Kita pasti akan menang. Percayalah pada mereka yang ada di lapangan." Ucapan Kiyoshi sukses membuat Haruna tersenyum. "Jika kau tersenyum begini, kau benar-benar terlihat cantik, Haruna."

"Jangan berkata begitu, Kiyoshi-san, fokus saja pada pertandingan." Haruna mengalihkan pandangannya ke lapangan.

"Yah. Dan Riko…" Kiyoshi membuat Riko menoleh padanya. "Maaf karna aku berkata begitu padamu."

"Hmm.." Riko menggeleng. "Aku mengerti perasaanmu. Alasan kenapa luka yang dirasakan tim sangat sedikit meski melawan tim sekasar itu adalah karna kau yang melindungi mereka. Hyuga-kun dan yang lainnya yang akan mengurus sisanya."

Terlihat bola di lapangan di kuasai oleh Hyuga dan dia dihadang oleh Hanamiya. Hyuga berusaha melarikan diri tapi bola di tangkis oleh Hanamiya dan membuat bolanya berlari keluar. Hyuga dan Hanamiya pun mengejar bolanya.

"Out of bounds. Shiro ball!" Tegas wasit.

Kiyoshi pun memegang bola yang keluar dan mereka yang mengejar bola itu pun berhenti di hadapan Kiyoshi. Hyuga dan Kiyoshi pun saling bertatapan. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Setelah cukup lama, Hanamiya meninggalkan mereka dan Izuki menghampiri mereka untuk mengambil bolanya.

Bola di lempar. Kuroko yang mendapatkan bola langsung mengarahkan operannya pada Hyuga. Hyuga menerima dan melakukan three point.

"Kirei…" Tanpa sadar Haruna mengucapkan hal itu. Baginya, tembakan yang dilakukan Hyuga terlihat indah.

"Haruna-chan?" Riko pun menoleh menuju Haruna yang sedang terpana pada bola yang dilempar oleh Hyuga.

Masuk. Bola yang ditembakkan Hyuga, yang dianggap indah oleh Haruna benar-benar masuk dengan indahnya. Sorakan penonton dan teriakan dari bench lapangan menggema.

"Masuk!" Teriak Tsuchida.

"Three point berhasil!" Teriak Furihata.

Pertandingan berjalan lancar kembali untuk Seirin. Seirin dapat menyusul ketertinggalan. Namu, sesuatu sedang tidak beres. Hanamiya terlihat berbeda dari sebelumnya. Kirisaki Dai Ichi menguasai bola, dan bola di lempar pada Hanamiya yang sedang di mark oleh Kuroko. Hanamiya tampak hendak melakukan sesuatu yang buruk. Dia terlihat berbicara dengan Kuroko, dan raut wajah semua pemain berubah seketika.

"Tidak! Jangan-jangan…" Haruna berdiri dari duduknya.

Hanamiya benar-benar hendak melakukan sesuatu. Dia sudah terlihat seperti ancang-ancang.

"KUROKO!" Teriak semua pemain.

Hanamiya mengayunkan sikunya dengan cepat, berniat mengenai kepala Kuroko, tapi beruntung, Kuroko dapat menghindari serangan Hanamiya. Tapi Hanamiya berhasil lewat dan mencetak point.

Hanamiya pun mengocehkan sesuatu tentang mimpi Seirin yang akan berakhir, dan itu membuat Kuroko marah. Kuroko pun melakukan ingnite pass dan lewat tepat di sebelah wajah Hanamiya, bahkan bola itu hampir mengenai wajahnya. Kagami berhasil menerima operan itu dan melakukan dunk. Seirin kembali unggul.

30 detik lagi sebelum peluit tanda pertandingan berakhir di bunyikan. Para pemain Seirin berusaha dengan sisa tenaga mereka. Dan akhirnya, pertandingan berakhir tepat setelah Hyuga menembakkan three point. 76-70 untuk kemenangan Seirin. Sorak sorai penonton menggema di seluruh lapangan. Pemain dari bench langsung berhamburan menghampiri pemain yang ada di lapangan, menyisakan Riko, Haruna dan Kiyoshi.

Semua bersorak dan tertawa bahagia. Gerbang Winter Cup sudah terbuka menyambut mereka. Haruna tersenyum. Dia tersenyum bahagia. Kemudian, Hanamiya menghampiri mereka dan mengatakan sesuatu.

"Aku kalah, Seirin. Dan juga… Kiyoshi. Maaf atas semuanya." Kemudian ekspresinya berubah. "Jangan berharap aku mengatakan hal itu, BODOH! Kaulah orang pertama yang menghancurkan rencanaku. Aku akan membuat mu menyesal seumur hidupmu. Selanjutnya aku pasti akan menghancurkanmu!"

"Hanamiya…" Panggil Kiyoshi. "Tembakan terakhirmu tadi… menurutku sangat hebat." Lalu Kiyoshi tersenyum. "Ayo bermain lagi."

"Jangan main-main… sial.. SIAAALLLLL!"

.

Dalam ruang locker. Semua sibuk sendiri membereskan barang-barang mereka. Haruna juga sibuk dengan Android miliknya.

"Minna! Kalian tidak meninggalkan apapun kan?" Ucap Riko. "Are? Di mana Kuroko-kun?"

"Ah.. kagami sedang mencarinya saat ini." Jawab Fukuda.

"Dasar! Mereka selalu saja menghilang entah kemana." Ucap Riko jengkel.

"Aku akan menyusul mereka, kantoku." Haruna berlari keluar dari ruang locker tanpa mendengar jawaban dari Riko.

Haruna berlari keluar gymnasium untuk mencari keberadaan sahabat tak kasat mata dan sahabat bertubuh besarnya.

Akhirnya, dia melihat surai merah-hitam yang menyembul dari dekat lapangan jalanan.

'Apa yang mereka lakukan? Apa mereka tidak tau kantoku sedang uring-uringan mencari mereka?!'

Kemudian dia melihat Kagami turun ke lapangan. Rupanya Kuroko juga ada di sana. Kuroko melempar bola yang dia bawa ke Kagami, dan Kagami memainkan bola itu di jari telunjuknya. Haruna segera menghampiri mereka.

"Itu namanya terlalu bersemangat!" Ucap Kagami sambil melempar bola ke kepala Kuroko.

"Itai." Ucap Kuroko datar.

Haruna hanya memperhatikan mereka tanpa mereka sadari. Mereka pun mulai bermain one-on-one.

"Yosh! Sepertinya aku semakin membaik!" Ucap Kagami setelah memasukkan bola ke dalam ring.

Karena tidak sabar, Haruna pun berdehem dan membuat kedua makhluk berbeda warna itu menoleh.

"Apa yang kalian lakukan?" Haruna memunculkan senyuman mautnya.

"Eh?!" Kuroko pun sampai terkejut.

"Ha-Haruna?"

"JANGAN KATAKAN HAL ITU!" Hyuga muncul dan menendang tubuh Kagami. "Kenapa kau malah one-on-one dengannya? BODOH!"

"Itu lebih baik dari pada takut." Ucap Kiyoshi.

"AYO! Winter Cup sudah di depan mata! Ayo kalahkan mereka semua dan menjadi yang terbaik di Jepang!" Teriak Hyuga.

"YAH!"

Dan semua pun kembali pulang.

"Ano, untuk merayakan kemenangan kita, bagaimana kalau kita semua makan malam di rumahku?" Tanya Haruna.

"Di-di rumah Haruna?" Trio kelas satu terlihat sedikit malu.

"Kenapa? Kita kan hanya makan malam dan sedikit bersantai." Jawab Haruna.

"Apa tidak merepotkan, Haruna-chan?" Tanya Riko.

"Tentu saja tidak."

"Baiklah!" Jawab semuanya.

"Ayo!"

.

Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya sampai di depan rumah Haruna.

"Baiklah, kita sudah sampai." Ucap Haruna dengan senyuman.

"I-ini…"

"INI RUMAHMU?!" Tanya sebagian dari mereka.

"BESAR!"

"Kau benar-benar anak orang kaya ya, Haruna?" Tanya Hyuga yang terpana.

"A-ada apa dengan kalian? Kita kan belum masuk." Haruna pun ikut sweatdrop. Haruna menuju gerbangnya, lalu terlihat dua butler membuka gerbangnya. "Hai! Ayo kita masuk!" Ajak Haruna.

Semua pun terpana. Rumah yang sangat besar, halaman depan yang ada replika lapangan basket dengan satu ring, taman bunga yang terdapat beberapa macam bunga dengan warna yang berbeda, jalan kecil dari gerbang menuju garasi untuk jalan mobil, pohon-pohon yang berjejer dan beberapa lampu. Rumah yang sedikit terlihat bergaya Inggris itu berdiri kokoh. Haruna membuka pintunya dan beberapa maid yang sedang lewat menyambutnya.

"Okaerinasai, Haruna-sama."

"Tadaima." Ucap Haruna.

"Uwaa… Haruna benar-benar seorang putri raja!" Celetuk salah satu trio kelas satu.

"Apa-apaan itu?" Haruna kembali sweatdrop. "Kalian bisa ke ruang tengah duluan, aku akan ganti baju dulu." Ucap Haruna. "Tolong antarkan mereka ke ruang tengah dan siapkan minuman hangat untuk mereka." Perintah Haruna pada salah satu maid.

"Hai! Ojou." Jawab maid itu. "Silahkan, lewat sini." Maid itu mengarahkan mereka. Haruna berlari menuju kamarnya dan cepat-cepat ganti baju. Dia memakai kaos pink polos dengan short pants biru tua. Setelah selesai ganti baju, Haruna menuju ke ruang tengah.

"Maaf membuat kalian menunggu." Haruna ditemani dua maid. "Tolong katakan pada Yuzuki-san dan yang ada di dapur agar menyiapkan makan malam untuk teman-temanku…" Haruna mengalihkan pandangan pada setiap pemain, lalu ke Kagami. "Katakan pada mereka untuk membuatkan porsi seorang monster." Perintah Haruna membuat kedua maid itu sweatdrop.

"Wakarimashita, Ojou." Jawab salah satu maid itu.

"Maaf merepotkanmu, Haruna." Ucap Hyuga.

"Tidak masalah, Kapten. Lagi pula aku yang mengajak kalian ke sini."

"Terima kasih ya, Haruna-chan." Ucap Riko.

"Un!" Haruna mengangguk. "Ano, Taiga…"

"Ada apa?" Tanya Kagami.

"Terima kasih sudah menolongku tadi. Jika kau tidak di sana dan menolongku, mungkin aku sudah mati." Bisik Haruna.

"K-kau tidak perlu berterima kasih." Kagami terlihat gugup.

"Aku berhutang nyawa padamu, Taiga." Bisik Haruna lalu dia tersenyum.

"Ano, Haruna-chan… Haruko-chan di mana?" Tanya Kuroko.

"Dia ada di kamarnya, masuk saja." Jawab Haruna.

"Baiklah." Kuroko menuju kamar Haruko.

"Oi oi! Kuroko masuk kamar Haruko?!" Tanya Kagami.

"Tetsuya sering sekali datang ke sini, dan dia terbiasa dengan rumah ini." Jawab Haruna santai.

"Yang benar saja!"

Tapi belum sempat Kuroko menaiki tangga…

"TETSUYA-KUUNNN…!" Haruko keluar dari kamar lalu berlari menuju Kuroko dan memeluknya.

"Haruko-chan.." Lalu mereka berdua menuju ruang tengah bersama yang lain.

"Waahh… Minna…" Haruko berbinar.

"Se-selamat malam..." Sapa Koganei sedikit gugup.

"Selamat malan, Koganei-san, selamat malam, minna." Haruko membungkuk

"Mereka sangat mirip!" Celetuk Furihata.

"Tentu saja! Mereka kan kembar!" Jawab Kawahara.

"Ah! Kagami-kun!" Haruko menghampiri Kagami lalu memeluknya.

"O-oi!" Protes Kagami.

"Haruko! Hentikan kebiasaan memeluk orang sembaranganmu itu!" Tegur Haruna.

"Heehh? Kenapa? Aku kan hanya menyapa saja." Jawab Haruko melepaskan pelukannya pada Kagami.

"Ma-maaf, Kuroko… aku tidak bermaksud…" Wajah Kagami memerah.

"Tidak apa-apa, Kagami-kun. Haruko-chan memang sering seperti itu." Jawab Kuroko datar.

"Tapi… rumah kalian ini benar-benar hebat ya." Ucap Hyuga.

"Ya, benar! Seperti istana saja." Tambah Izuki. Lalu Haruko murung. "Eh?" Izuki terkejut.

"Meski begitu, sebenarnya aku muak dengan rumah ini." Ucap Haruko serius.

"Eh? Kenapa?"

"Rumah ini memang besar, tapi kami tidak memiliki waktu berkumpul bersama. Ayah kami selalu pergi ke luar negri untuk bisnis, Ibu kami masih ada di rumah sakit, Onii-chan juga sibuk dengan kuliah, kerjaan dan juga klub basketnya meski terkadang dia bisa berkumpul dengan kami, dan Haruna sibuk dengan sekolah dan dia menghabiskan waktu bersama kalian." Haruko menunduk. "Yang ada di rumah ini hanya aku dan mereka." Haruko menunjuk maid yang sedang bekerja.

"Haruko…" Haruna menatap Haruko dalam. Dia tau betul saudaranya itu sangat kesepian.

"Ma-maaf, aku malah berbicara yang tidak-tidak." Haruko memaksa untuk tersenyum. Kuroko mengerti perasaan kekasihnya itu. Dia pun memeluk Haruko.

"Haruko-chan, kau tidak boleh sedih." Bisik Kuroko.

"T-Tetsuya-kun?"

"Jika kau sudah sehat nanti, aku berjanji akan menemanimu kemana pun kau mau." Kuroko tersenyum.

"Tetsuya-kun… Arigatou." Haruko tersenyum dan mencium pipi Kuroko. Ucapan Kuroko membuat Haruna teringat akan seseorang.

"Aku janji aku akan selalu ada untukmu kapan pun kau membutuhkanku."

Haruna tersenyum pahit.

'Sebahagia apapun aku, jika tanpa kau… semuanya terasa hambar. Kenapa kau meninggalkanku? Apakah aku bukan orang yang berharga untukmu?'

"Maaf, Ojou. Makanan sudah siap." Seorang maid datang bersama beberapa butler yang membawa makan malam.

"Baiklah, ayo kita makan!" Ucap Haruna.

Mereka pun berpesta sampai malam.

.

.

.

TBC


Yup! Hana balik lagi. Jujur saja, Hana sebenarnya lagi kehabisan ide buat Fanfic ini. Hana udah bikin outline untuk part yang penting sih sebenarnya, tapi Hana kekurangan ide buat mengisi beberapa part, jadi maaf sekali kalau ceritanya malah jadi aneh.

Untuk :

ShiroiAn-san : Sabar yaa, mungkin beberapa chapter lagi mereka ketemu :D *mungkin* heheh. Maaf kalau ceritanya agak ngawur.

.

Terima kasih untuk semua yang sudah membaca, review, follow, favorite, atau hanya sekedar lewat.

See you next chapter.

*Kalau ada yang mau ngasih ide atau saran ke Hana, silahkan lewat PM :D* Arigatou.