Note:
Untuk memperingati hari valentine dibuatlah fic ini. Setting: di suatu waktu dalam judul A Cheeky Angel.
EXTRA FIC...
Benar juga. Sudah mendekati waktunya huh—Hijikata lebih tepatnya Mayoko memperhatikan jalanan yang dipenuhi ornament merah muda. Dia bisa melihat banyak pasangan yang bergandengan tangan, terlihat begitu romantis.
Budaya barat yang masuk ke negeri ini membawa suasana yang hangat. Hari kasih sayang...hari yang sangat berharga bagi orang-orang yang memiliki orang yang disukai.
Dia seorang pria yang terjebak dalam wujud perempuan tidak akan pernah merasakan hal itu. Dia juga tidak ingin mencobanya meski dia memang punya orang yang disukai. Sakata Gintoki, samurai berambut perak. Entah kapan dia memiliki perasaan seperti itu pada pemuda pengangguran itu.
Jika dia laki-laki. Mungkin sudah ada bertumpuk-tumpuk coklat di mejanya saat ini hanya bercanda, meskipun aku laki-laki aku tidak berminat— Mayoko berhenti, tiba-tiba saja dia bertemu dengan orang yang ingin dia hindari hari ini.
"jangan menghalangi jalanku" tegurnya berusaha tak menatap Gintoki di depannya "apa kau punya rencana hari ini?" jelas-jelas mengabaikan tegurannya. pemuda di depannya bertanya, meski tak melihatpun dia bisa mendengar kalau Gintoki sedang berada dalam mood yang baik
"tidak ada. Bisnisku juga tutup hari ini" jawab Mayoko pelan "ada perlu apa?" akhirnya ia mendongak dan melihat wajah Gintoki tepat di bola mata merahnya. Gintoki terlihat sangat bersemangat mungkin dia dapat banyak coklat? Tebak Mayoko dalam hatinya
"berkencanlah denganku" tiba-tiba saja pemuda itu mengajaknya. "ha!?" Mayoko tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan bingungnya, semuanya terpancar dari bola mata birunya "kenapa tiba-tiba?"
"aku selalu ingin berkencan denganmu, meski hanya sekali seumur hidup" jawab Gintoki bersemangat "jika memang Cuma sekali, setidaknya di hari yang spesial ini—" dia berhenti saat telapak tangan mungil Mayoko menyentuh mulutnya "aku mengerti" ujar gadis itu tak menatapnya lagi. Meski gadis itu menunduk dia masih bisa melihat telinganya yang memerah "aku akan pergi denganmu" tambah Mayoko
Manisnya...—merasa gemas Gintoki memeluk gadis itu dengan erat "terima kasih. Jadi kau mau pergi kemana?" tanyanya membuat gadis yang lebih kecil dan pendek darinya menatap wajahnya dan menunjukkan wajah kesal "kau yang mengajakku, tentu kau yang menentukkan!" katanya
OXO
Karena kita berdua tidak terbiasa dengan suasana yang sangat romantis. Lebih baik kencan yang biasa saja.
Dengan itu Gintoki memutuskan untuk menonton bioskop dan makan malam setelahnya. Meski begitu Mayoko senang, ini akan menjadi kencan pertamanya bersama dengan orang yang benar-benar disukainya. Tapi bukannya itu terlalu biasa?—menonton bioskop dan makan malam, kau bisa melakukannya dengan teman. Kenapa dia tidak meminta yang lebih...lebih—
"Mayo-chan?" Miki memanggilnya. Benar juga dia sedang membantu sahabatnya itu untuk membuat coklat wajib untuk para pelanggan tetap. Dengan gugup dia memberi senyuman kecil "iya?" tanyanya, lalu pertanyaan tersebut dijawab dengan tunjukkan Miki ke panci.
"ooh...maaf aku melamun" dengan cekatan ia mematikkan kompor lalu menuang coklat yang sudah mencair kedalam wadah. Miki terkekeh kecil "tidak masalah" ujarnya "aku sudah mendengarnya—"
"kudengar kau pergi bersama Gin-san besok" mendengarnya. Spontan wajah Mayoko memerah padam "i—itu..." dia berusaha menjelaskan namun tak tahu bagaimana harus memulainya—Miki tertawa masih dengan anggun "hehehe...tidak ingin memberinya sesuatu?" tanyanya dan pertanyaan tersebut malah membuat temannya itu panik "ke—kenapa aku harus memberinya?. Dia bukan pacar..ku a..atau sejenisnya!?"
"setidaknya kau berkencan dengannya"
"dan aku laki-laki!"
"ayolah. Saat ini kau seorang gadis"
Jika dia kembali normal, dia tidak boleh mempunyai perasaan ini...tentu tidak akan ada kedua kalinya. Gintoki bilang dia menyukainya apa adanya, tapi bagaimana kalau dia tidak mengingat apapun setelah kembali normal ?
"baiklah" Mayoko mengangguk pelan "kuharap dia memberiku sesuatu pada saat white day" tambahnya sambil mengambil sebungkus dark coklat dari lemari es "dan...dia tidak berpikir macam-macam"
"iya, iya" Miki melanjutkan pekerjaannya "aku tidak akan membuat yang itu. Itu coklat yang spesial"
"yah...spesial"
"Jika aku memberitahunya. Dia terlihat manis seperti itu, mungkin dia akan mengurungkan niatnya untuk memberi Gin-san coklat" pikir Miki sambil tersenyum simpul. Saat ini Mayoko terlihat begitu bersemangat dan... sahabatnya itu yakin kalau temannya yang tsundere itu menantikan kencannya.
...
Entah kencan macam apa yang sudah mereka lalui. Pasangan mana yang akan menonton film horor di hari seperti ini?—semua itu dimulai dari perdebatan bodoh mereka saat melewati sebuah poster film peneroran hantu yang baru minggu ini keluar. Si Gintoki mengingat kembali; dirinya berlari dengan Hijikata saat dikejar amanto perempuan yang berwajah mengerikan. Tentu Mayoko tidak punya ingatan itu, dan dia tidak terima dengan pernyataan kalau dirinya pengecut—apalagi mendengarnya dari Gintoki. Maka karna itu mereka saling menantang dan berakhir menonton film tersebut.
Keduanya keluar dari bioskop dengan wajah pucat dan perut mual. Adegan para tokoh mati-nya begitu ekstrim..yeah. untuk saat ini makan malam romantis tidak akan terpikirkan oleh mereka, sebagai gantinya mereka pergi ke warung oden. Mayoko tidak keberatan sama sekali, entah kenapa minum sake dan makan oden di warung terasa seperti nostalgia dan terdengar lebih baik daripada makan di restoran—mungkin seperti yang diceritakan Gintoki kalau dia adalah Hijikata yang dimaksud?
"jangan minum terlalu banyak" tegur Mayoko sambil mengunyah makanannya "tetaplah sadar sampai aku memberimu sesuatu" mendengarnya membuat Gintoki menoleh dan menatapnya heran "memberiku apa?" tanyanya
Jelas dia sangat berharap sesuatu itu adalah kado valentine. Dan memang yang ingin diberikan adalah coklat valentine— sambil tersenyum simpul Mayoko bertanya "kau ingin melihatnya sekarang?"
"tidak...aku suka kejutan" Gintoki menjawab sambil menuang sake lagi "apalagi, aku tidak berencana untuk mabuk. Jika aku mabuk pasti aku akan menyeretmu ke hotel~" dia memberi tatapan intim yang langsung membuat gadis itu memerah padam "kau tidak akan melakukannya" ujar Mayoko membalas tatapan itu dengan tajam "aku percaya padamu" dia mengatakannya sambil menahan rasa malu yang luar biasa, tapi harus dia akui dia terbawa suasana.
Wajah Gintoki yang memerah karena sake menjadi makin memerah "be—begitu. Kau percaya pada Gin-san huh" dia mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya. Untuk sementara ini dia tidak akan berani untuk menatap bola mata biru itu.
3 jam lagi hari akan berganti dan mereka berdua sudah sampai batasnya untuk berkeliling. Gintoki mengantarkannya sampai di depan tokonya lalu menagih sesuatu yang diungkit sebelumnya, tanpa banyak bicara Mayoko merogoh tas tangannya lalu mengeluarkan sekotak bingkisan yang terhias manis dan rapi dengan pita dan kertas berwarna merah muda.
"untukmu" ujar gadis itu sambil menyodorkannya. Menerimanya Gintoki tersenyum lembut "pasti semua laki-laki akan iri padaku" anggap saja itu ungakapan terima kasih "meski sebelumnya aku tak pernah mendapat coklat" tambah Gintoki membuat Mayoko terkekeh kecil "itu spesial" ujar gadis itu sambil menunjuk "membuatnya sungguh merepotkan tapi tak ada yang boleh membantuku"
"oleh sebab itu. Kau harus memakannya sendiri" keterangan tersebut benar-benar membuat Gintoki bahagia—mungkin jika Hijikata (laki-laki) yang memberinya akan membuatnya merinding. Jika Hijikata kembali normal dan masih mengingat kejadian ini, dia bersumpah akan mengaku berulang kali pada pemuda itu sampai dia menerimanya.
Aah tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau dia tidak mengingatkannya ?
"maa...kau pasti akan mengingatnya bukan Oogushi-kun?" tiba-tiba saja ia mencodongkan diri dan mengecup dahi Mayoko "A—Apa APAAN KAU?!" bentak gadis itu malah membuat Gintoki semakin gemas.
Wajah gadis itu memerah padam sampai ke leher "hahaha.." pemuda berambut perak yang menjadi penyebabnya menertawakannya tanpa sungkan dan BUK! akhirnya malah mendapat tinjuan dari gadis itu.
"aduh..tidak perlu marah seperti itu bukan?" keluh Gintoki sambil mengelus pipinya
Mungkin mereka tidak akan pernah menjadi pasangan yang romantis. Namun setidaknya mereka manis seperti itu...
END OF EXTRA...
A/N :
Maaf belum melanjutkan main story a Cheeky Angel. Namun setidaknya saya meluangkan waktu untuk fic ini. Berkat keputusan pemerintah yang baru sekolah saya tidak bisa mengadakan Valentine hahaha...setidaknya saya merayakannya disini : )
Fic lain seperti Red Blood, Just The Way, dan Marry Me— saya menambahkan cerita lepas di fic2 tersebut.
Thx for reading
and
Happy Valentine...
