Haihai!

Maaf lama menunggu! Ini pesanannyaaa!

Terima kasih kepada: 00 Ayuzawa. 00, Chancha-Flower, Iin cka you-nii, Hikari Kou Minami, Caca Sakura Diamond, pucca-darkblue, Mayou Fietry, Uchiha Sakura97, mozzarella cheese, Ai –Maharanyy- diaMond97, Violet7orange, CatEyeNiiJuuSan sudah kubalas lwat PM ya! xD

Juga:

ToscaTurqoise: boleh, boleh… asalkan kamu lebih muda daripada saya, hehe. Tenang, mamo udah ngga kerasukan lagi. Thanks!

Nee ounomiya: halo! Makasih banyak ya… ditunggu aja :D

DarkAngelYouichi: hahaha… nggak, nggak ada hubungan apa-apa… ^^ mau liat setan jagain Chibi? Ada kok di chap ini. FB-ku: Keumala Fauzan Andini. Kirim aku message kalo kamu DarkAngelYouichi ya :D

Sweetiramisu: tiramisu? Aku akan memakanmu!*kicked* ah, kamu benar! Tungguin aja ya… thanks!

Just reader 'Monta: iya juga sih… yap! Apel enak! Huwahahah, iya juga ya, hahaha… landak mini juga lucu. Aku juga mau ah, Kurita kaya' kursi bean bag. Suhunya agak dingin, Sena keringetannya dikit kok, wahahaha… kalau bau, Suzu masih mau make ga ya? Ihihi. Liat aja ya… oke! Arigatou!

Chopiezu: you are my Chopie and I am your Ndon…*apaan tuh* mari mengumpulkan kebahagiaaaaan! Makasih dah ngeripyuu! :*

Y0uNii D3ViLL: ngng, panggil undine sajalah. Mm… begitu ya… kalau gitu saya minta maaf ya :) saya ngerti kok apa yang kamu maksud. Baiklah, aku akan berusaha! Makasih banyak yah! :D

Demonicola: hiaaa, jangan! Itu mustahil, walaupun saya juga ngarep*dor* hehehe, begitulah Nero. Makasih banyak reviewnya, Miss Demonicola! :*

ShiroNeko: hahaha, iya… aku memang ingin membuat kehidupan pribadi para penjahat juga, yang nantinya juga ada family-nya. Tunggu aja, hehe. Iya! Kiseki terus tumbuh~! Hana-chan juga nggemesin! Ting tong! Benar! Oke, makasih ya!

Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatannya, ya… silakan membaca chap selanjutnya!


The Second Sequel of Flowers

Grow Up! Flowers

Chapter 9: Love Knows, Love Grows (part II)

Written by: undine-yaha

Story by: undine-yaha and chopiezu

Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke

Song: Tak Ada yang Bisa by Andra and The Backbone

"Apa itu?" Mamori yang sedang mengaduk kopi Hiruma keluar dari dapur dan melihat dahi Kiseki menempel di pintu.

"KISEKI-CHAN!" ia menaruh cangkir kopi di meja dan cepat-cepat menghampiri Kiseki. Mata biru langit itu mulai berkaca-kaca.

"Ihik, ihik," Kiseki mulai terisak ketika Mamori menggendongnya, "HUWAAAAAAAAAAAAAH!"

"Cup cup cup, sayang, aduh…," Mamori mengelus dahi Kiseki yang terbentur pintu, "sakit ya? Aduh… pintunya nakal… maaf ya sayang…"

"HUWAAAAAAAAA! HUWAAAA!" Kiseki menangis sambil menjerit-jerit. Setengah sakit, setengah kesal.

Mamori rasanya mau mengamuk melihat Hiruma yang ongkang-ongkang kaki menonton pertandingan amefuto tanpa peduli padanya dan Kiseki.

"Hiruma-kun!" sentak Mamori sambil menghampiri Hiruma, "bagaimana ceritanya Kiseki bisa terbang dan membentur pintu?" tanya Mamori emosi.

Hiruma menjawab santai tanpa menoleh, "Dia terbang begitu saja ke kamar anak baru sialan. Sudah kuingatkan ada pintunya, tapi dia tidak peduli. Ya sudah."

"Uwaaaa!" Kiseki terus menangis. Dahinya merah. "Uwaaa…"

Mamori merasa sangat, sangat marah pada Hiruma Youichi.

"Kenapa kau tidak mencegahnya tadi?" tanyanya gusar, "apa kau tidak berpikir? Bagaimana jika Kiseki jatuh ke lantai? Dia masih kecil, Hiruma-kun!"

Hiruma Si Pokerface melirik malas, "Aku sudah bilang padamu, tadi aku sudah memperingatinya—"

"TAPI DIA TIDAK MENGERTI! Kiseki-chan masih kecil!" bentak Mamori, mulai berderai air mata, "kitalah yang lebih dewasa makanya kita harus menjaganya! Jadi kau suka kalau seandainya dia jatuh dan terluka?"

Hiruma memandangi Mamori dan Kiseki yang sedang menangis dengan wajah datar.

"Apa kau suka, Hiruma-kun?" teriak Mamori sampai suaranya pecah.

Tangis Kiseki makin menjadi, takut karena teriakan Mamori.

Mamori berusaha menenangkan dirinya, lalu memeluk Kiseki menghadapnya, "Sudah, sudah, sudah ya sayang…"

Pintu kamar terbuka, "Ada apa…?" Hana muncul dengan penampilan lusuh.

"UWAAAAAAH!" Kiseki menangis terus.

"Kiseki… kenapa menangis…?" tanyanya lemas.

"Tidak apa-apa, kembalilah tidur, Hana-chan…," perintah Mamori.

"Baiklah…," Hana menutup pintunya perlahan. Ia sangat khawatir, tapi apa yang bisa dia bantu dengan badan lemas seperti itu?

"Kau jahat!" ujar Mamori pada Hiruma.

Hiruma melengos, lalu menatap Mamori, "Fine!" ujarnya, "sekarang, apa yang harus kulakukan?"

"Minta maaf pada Kiseki-chan," jawab Mamori tegas.

Hiruma tercengang, "Minta maaf pada bayi? Kau gila!"

"Aku tidak gila. Satu lagi, kau harus menenangkan Kiseki," tambah Mamori.

Hiruma berjengit.

Kiseki masih terisak-isak dalam pelukan Mamori. Mamori membelainya. Ia sudah tenang sekarang. Malaikat itu menghela nafas dan menatap lembut setan berambut spiky di depannya.

"Hiruma-kun," panggilnya perlahan, "ayah yang baik tidak akan tega melihat anaknya menangis."

Hiruma mengangkat alis.

"Kau mau jadi ayah yang baik 'kan?" Mamori tersenyum.

Hiruma masih tak bereaksi. Wajahnya masih kesal.

"Youichi-kun?" Mamori memanggilnya lagi. Mata biru safirnya terlihat begitu tenang.

Hiruma kali ini tak bisa menyangkal lagi kalau debaran aneh mengusiknya ketika Mamori memanggilnya seperti itu.

"Baiklah. Bagaimana caranya?" akhirnya ia menyerah dan mengulurkan tangannya.

"Tahan punggungnya dengan tanganmu. Hadapkan dia kebelakang. Ia akan bersandar di bahumu," ujar Mamori sambil menyerahkan Kiseki.

Hiruma mengikuti instruksi Mamori. Kiseki sudah berhenti menjerit-jerit, tapi ia masih terisak dan air mata masih mengaliri pipinya.

"Sekarang, tenangkan dia. Minta maaf karena kau tidak menjaganya dengan baik," Mamori memerintah, merasa sudah menang.

"Keh," Hiruma menyeringai, "aku tidak akan minta maaf."

"Eh?"

"Hoi bayi sialan," panggil Hiruma. Ia menyandarkan Kiseki padanya seperti kata Mamori tadi. Tangan kanannya menepuk punggung kecil itu sekilas-sekilas. "Sudah, berhenti menangis."

"Ihik, ihik," bahu Kiseki berguncang sedikit. Tangan kecilnya mencengkram kaus Hiruma.

"Lain kali jangan terbang sembarangan," ujar Hiruma. Mamori tertawa kecil, lalu duduk di sebelah Hiruma. Setan itu selalu punya caranya sendiri. Tak apalah, yang penting Kiseki sudah tidak menangis lagi.

"Pap-paaah?" panggil Kiseki sambil menarik-narik kaus Hiruma, "paah…"

"Coba kau dudukkan ia di pangkuanmu, Hiruma-kun," ujar Mamori. Ia lalu membantu Hiruma 'memutar' Kiseki.

"Duuh, kasihan Kiseki-chan… sudah ya, jangan menangis," Mamori menyeka sisa-sisa air mata bayi itu.

"Tck. Melelahkan sekali mengasuh bayi sialan," gerutu Hiruma.

"Ah, kau ini. Belum sampai lima menit," protes Mamori.

Hiruma hanya menaikkan alis sambil melihat Kiseki yang bersandar padanya. Mamori tersenyum sambil mengelus-elus pipi Kiseki yang menggemaskan.

"Kau itu terlalu sibuk mengurusi anak baru sialan dan bayi sialan ini," protes Hiruma.

Mamori melirik wajah kesal itu. Ia lalu tersenyum.

"Kenapa Hiruma-kun? Kau cemburu ya? Kau takut karena aku memerhatikan mereka, perhatianku padamu jadi berkurang?" tanya Mamori.

Hiruma mengangkat alis, "Apa peduliku? Kau mau memerhatikanku atau tidak, terserah."

Mamori tersenyum lagi, lalu berkata, "Ketika aku menyayangi orang lain, bukan berarti rasa sayangku padamu akan berkurang, Hiruma-kun," ia membelai Kiseki. "Cinta itu bukan berkurang, melainkan terus tumbuh dan berkembang..."

"Berarti kau lelah ya, manajer sialan?" Hiruma berusaha mengalihkan tema pembicaraan dengan menanyakan tema yang sebelumnya.

"Hm?"

Mamori baru saja akan menanggapi pertanyaan Hiruma, tapi ia sudah melingkarkan tangan kanannya pada bahu Mamori dan menyandarkan wanita itu di bahunya.

"Hiruma-kun…," hanya itu yang bisa diucapkan Mamori.

Hiruma sendiri tak berkata apapun, hanya tersenyum tipis. Ia menjaga Kiseki dengan lengan kirinya dan malaikatnya yang tercinta di lengan kanannya.

Untuk kali ini, ia benar-benar merasa seperti seorang ayah.

Tak ada yang bisa

Menggantikan dirimu…

Tak ada yang bisa membuat diriku

Jauh darimu

-GrowUp!-

Sebagai seorang agen rahasia yang pernah ditugaskan menjodohkan setan dan malaikat, Aoihoshi Hana tidak akan melewatkan pemandangan menarik ini.

Hana mengintip dari pintu, berpegang pada kenopnya. Melihat adegan tadi, ia serasa menonton drama keluarga—dengan Hiruma sebagai ayah, Mamori sebagai ibu, dan Kiseki sebagai bayi mereka. Kalau tidak sedang sakit, Hana pasti sudah memotret mereka untuk dokumentasi.

Kalung Kiseki bersinar terang. Hana akhirnya tersenyum tipis dan menutup pintunya perlahan. Ia juga merasa bahagia melihat mereka bertiga, tapi… tak dipungkiri kalau mereka bertiga menambah rasa rindunya pada…

"Ah, lebih baik tidur lagi," gumamnya sedih.

Tak ada yang bisa

Menggantikan dirimu…

Tak ada yang bisa

Menggantikan cintamu…

-GrowUp!-

"Tadaimaaa!"

Kurita memasuki rumah sambil menenteng beberapa kantung makanan dengan riang. Musashi mengikuti di belakangnya sambil melepas sarung tangannya.

"Okaeri," balas Mamori sambil menutup pintu.

"Di mana Kiseki-chan?" tanya Kurita.

"Sedang bersama Hiruma," jawab Mamori santai.

"Eh?" Kurita dan Musashi saling berpandangan, bingung.

Benar saja. Ketika mereka memasuki ruang TV, terlihat Kiseki sedang berada di pangkuan Hiruma.

"Pass complete! Sang wide receiver kini mengoper bola pada runningback. Ia berlari dengan kecepatan tinggi, menerobos setiap pemain lawan! Ia akan sampai ke end zone! Yak! Kita lihat saudara-saudara…," suara narator terdengar heboh dari TV.

Hiruma berseru lantang, "TOUCHDOWN! YA-HAAAAA!"

"YA-HAAAAA!" tiru Kiseki, "ya-haaaa!"

"Kekeke! Kau pintar meniru juga, bayi sialan. Ayo, katakan dengan lebih lantang! Ya-haaa!"

"YA-HAAAA!" Kiseki menjerit-jerit.

Kurita dan Musashi sweatdrop. Mamori yang mendengar teriakan Kiseki langsung memasuki ruangan sambil menegur, "Mouu! Hiruma-kuuun!"

"Ya-ha!" hanya itu jawaban Hiruma.

"Ya-ha!" Kiseki menjawab sama.

-GrowUp!-

Rumah Hana semakin ramai dengan kedatangan Ha-ha Bersaudara, Sena, Suzuna, Monta, dan Komusubi.

"Wah! Kau bawa apa Monta-kun?" tanya Mamori.

Monta memamerkan keranjang yang dibawanya, "Ini sedikit buah-buahan dari tokoku untuk Hana!"

"Terima kasih…," Mamori menerimanya, "Monta-kun baiiik sekali…"

"Aaaah! Enggak kooook!" Monta mendidih kesenangan.

"Ao-chan mana?" tanya Suzuna pada Mamori.

"Dia sedang tidur…," jawab Mamori, "tapi sebentar lagi harus dibangunkan untuk makan malam."

"Semoga dia cepat sembuh. Ao-chibiii!" Suzuna mengambil Kiseki dari gendongan Kurita.

"Cujuuuu!"

"Untunglah Kiseki akrab dengan siapapun," kata Jumonji. "Ia bisa kita asuh ramai-ramai…"

Mamori baru akan tersenyum ketika perasaan yang aneh menyergapnya.

Melihat ekspresi Mamori yang berbuah takut, Sena bertanya, "Mamori-neechan? Kenapa?"

"A-aku tidak tahu," jawab Mamori bingung, "rasanya… ada yang ganjil… seperti… sesuatu yang buruk…"

Hiruma menyipitkan matanya, "Tch. Aku juga merasakannya. Konyol sekali. Rasanya seperti aura jahat."

"Aura jahat?" gumam Musashi.

Tepat saat itu terdengar jeritan dari dalam kamar Hana. Semua tersentak.

"SPARKLING STAR!" terdengar lagi suara Hana mengucapkan mantra, diikuti suara gaduh.

"Ao-chan! Ao-chaaan!" Suzuna mencoba membuka pintu kamar itu, "nggak mungkin! Terkunci!"

"HUWAAA! APA YANG SEDANG TERJADIII?" teriak Kurita panik.

Mamori yang ketakutan langsung menggendong Kiseki menjauh.

"Ao-chan sedang bertarung di dalam!" kata Suzuna, "itu tadi sebuah mantra!"

"Bagaimana bisa pintunya terkunci?" Toganou kebingungan.

Musashi menyuruh semuanya minggir dan menendang pintu itu. Nihil.

"Sepertinya pintu ini dikunci dengan sihir," ujar Musashi kesal.

"Ao-chaaan!" Suzuna menggedor pintu dan memanggil Hana, panik luar biasa. Mamori hanya bisa mematung sambil memeluk Kiseki kuat-kuat. Hiruma lalu berdiri tegak didepannya, berjaga jikalau ada bahaya.

"Sihir harus dilawan dengan sihir!" kata Sena, "Suzuna, berikan lencana itu!"

Suzuna memberikan lencana sihir pada Sena. Sena menghela nafas, mengumpulkan keberaniannya.

"Semoga aku tidak salah mengucapkannya," ujarnya. Ia memegang lencana itu dan berkata, "Aktifkan! Heart Weapon!"

Lencana itu bersinar terang dan berubah menjadi aliran cahaya yang mengitari kaki Sena. Sepasang spike shoes keren terpasang di kakinya.

"Berhasil!" teriak Sena. Ia kemudian menghantam pintu dengan kakinya, BRAKK!

Pintu itu tidak rusak, tapi berhasil dibuka.

"Ajaib…," desis Suzuna.

Di dalam, keadaan Hana sudah terpojok. Ia terduduk di lantai dan bersandar pada lemari. Wajahnya pucat pasi. Tangannya bergerak-gerak di udara yang ada di depannya.

"Kek…kai…," bisiknya.

"Ao-chan! Bertahanlah!" seru Suzuna. Kini Suzuna dkk juga melihat seorang wanita berambut ungu yang terbang di atas tempat tidur Hana, bersiap menyerangnya.

"Sial!" ujar wanita itu—Viola, "segelku berhasil dilepas!"

Ia kembali pada Hana yang tak sanggup lagi memasang perisai yang kuat. Wanita itu menunjuk Hana dengan satu jari dan mengucapkan mantra, "ICE THORN(1)!"

Dengan cepat terdengar suara Ha-Ha Bersaudara, Kurita, dan Komusubi yang mengucapkan, "Aktifkan! Heart Weapon!"

Perisai-perisai sihir terpasang di tangan mereka. Dengan sigap mereka membentuk barisan line, tepat di depan Hana sebelum tombak-tombak es itu menyentuhnya.

TRANG! TRANG! KRAK!

Es-es itu terpental, beberapa patah.

Viola menggeram. Ia kalah jumlah. Ia juga tak menyangka manusia-manusia itu juga memiliki kekuatan.

"Aktifkan. Heart Weapon."

Itu tadi adalah Musashi, ia melangkah dengan samurainya ke depan barisan pertahanan—menatap Viola tajam.

"Cepat pergi dari sini," tukasnya dingin, "sebelum kami bertindak."

"Kaupikir aku takut padamu?" sentak Viola, "kenapa kalian susah-susah melindungi penyihir dan bayi itu? Serahkan mereka berdua padaku dan hidup kalian akan tenang!"

"Hana-chan dan Kiseki-chan adalah keluarga kami!" jawab Kurita lantang, "kami akan saling menjaga dan melindungi!"

Hana sedikit tersentak. Ia menoleh ke pintu dan berusaha berteriak, "Lindungi Kiseki!"

Suzuna mengangguk. Ia tahu Kiseki sudah ada pada Mamori. Tangannya gemetar. Ia ingin membawa pergi Hana dari sana, tapi situasi terlalu berbahaya.

"Tidak apa-apa," Sena tersenyum lembut padanya, menyuruhnya mundur dari pintu, "berlindunglah…"

Monta melangkah ke samping Sena. Entah kapan ia merapal mantranya, tapi sepasang sarung tangan ajaib sudah terlihat di kedua tangannya.

"Aku benci kalian semua!" sentak Viola lagi, "kalian sudah membantu dia untuk membunuh Pimpinan kami!" ia menunjuk Hana.

"Kami tidak akan bertindak kalau kau tidak menyerang duluan!" kata Jumonji.

"Pimpinanmulah yang memulai perang. Dia orang jahat!" tambah Kuroki.

"Sekarang pergilah dari sini!" sahut Toganou.

"FUGO!" Komusubi ikutan.

Viola berteriak kesal. Ia baru akan mengeluarkan ledakan, tapi tiba-tiba pusaran hitam terbentuk di belakangnya. Nero muncul dari dalam sana, menarik Viola pergi.

"Kau kabur saat aku tidur. Ayo kembali!" ujarnya.

"Siapa lagi itu?" Kurita mengernyit.

"Orang itu lagi… Nero…," gumam Hana.

"Lepaskan aku!" Viola menolak, "aku akan membunuh dia yang sudah melukaimu!"

"Apa kau tidak lihat? Sekarang mereka lebih unggul!" ujar Nero tegas, "kita harus mundur!"

"Nggak!"

"Viola," Nero merendahkan suaranya dan menatap rekannya itu tajam, "kita mundur."

ZZAAAPP!

Mereka sudah hilang. Pusaran hitam itu lenyap tak berbekas.

Hana tersungkur di lantai sambil menghela nafas lega. Suzuna langsung masuk dan membantunya kembali ke tempat tidur.

"Ao-chan, kau terluka?" tanyanya.

"Nggak kok," jawab Hana lemah. Ia berbaring di tempat tidurnya dan meringkuk. Rupanya senjata berjenis es dari Viola tadi membuatnya menggigil.

"Mamo-nee, badannya panas lagi!" ujar Suzuna setelah menyentuh dahi Hana.

"Akan kuambilkan kompres," jawab Mamori. Ia menyerahkan Kiseki pada Hiruma.

"Wuoy!" protes Hiruma, tapi tak digubris oleh Mamori.

"Hana-chaan! Kau tidak apa-apa?" tanya Kurita panik. Semua sudah menonaktifkan Heart Weapon mereka.

Hana mengangguk, "Doumo arigatou, Kurita-san," ujarnya.

"Sumimaseeen, sumimaseeen," ujar Mamori pada barisan line yang masih ada di kamar Hana. Ia membawa sebuah handuk kecil dan wadah berisi air dingin.

"Ayo kita keluar. Sempit," ajak Jumonji pada yang lain.

"Ao-chan, kakimu dingin," ujar Suzuna, "akan kuambilkan kaus kaki."

Mamori mengambil kursi dan duduk di sisi tempat tidur Hana. Ia mencelupkan handuk kecil itu ke air lalu memerasnya.

"Hana-chan, ayo angkat wajahmu, jangan menggulung begitu," pinta Mamori.

"Nggak…, " tolak Hana, "dingin, Kak…"

"Ini untuk menurunkan suhu tubuhmu, ayo Hana-chan," pinta Mamori lagi. Akhirnya Hana menurut dan meluruskan badannya. Mamori menempelkan handuk itu di lehernya.

"Dingin…," desis Hana.

"Tahan ya…," bujuk Mamori. Sekarang ia menyiapkan handuk itu lagi untuk mengompres dahi Hana.

"Bagaimana ini, panasnya belum turun sejak tadi…," keluh Suzuna.

"Aku sudah menelepon Yukimitsu untuk datang ke sini memeriksanya," ujar Musashi dari pintu kamar.

"Semoga Hana-chan bisa sembuh…," Mamori berkata penuh harap. Nafas Hana terdengar semakin berat, ia lalu terbatuk-batuk.

"A-aku nggak bisa ber-nafas," kata Hana terpatah-patah, "uhuk!"

"Huwaa! Tidaaak! Hana-chaaan!" Kurita menangis sesenggukan di sebelah Musashi.

Hana menyambar inhaler dari meja kecil di dekatnya dan berkata pada Kurita, "Hidungku hanya tersumbat, Kak! Jangan nangis!"

"O-oh… Kukira kau kenapa…," kata Kurita sambil mengusap air matanya.

"GENDUT CENGENG," ledek Hiruma tegas dan jelas.

"Hanyaa?" tanya Kiseki pada Hiruma.

"Tidak apa-apa. Dia tidak akan mati," jawab Hiruma santai.

'Sialan,' batin Hana.

"Sebetulnya bagaimana kejadiannya tadi?" tanya Suzuna.

"Aku sedang tidur, lalu tiba-tiba aku merasakan hawa jahat yang sangat kuat. Jadi aku terbangun dan tepat saat itu wanita yang bernama Viola tadi sudah terbang di atasku dan akan menyerangku. Aku langsung berguling menghindar, dan terpojok hingga lemari itu," cerita Hana.

"Untunglah ada lencana sihir," ujar Suzuna, "tapi Heart Weaponnya kok masih ada ya?" tanyanya. "Benda yang seperti jam itu masih terpasang tuh di tangan Sena!"

"Keputusan Sena tepat untuk memilih Heart Weapon sebagai permintaannya terhadap lencana sihir," jawab Hana, "lencana sihir memang hanya bisa digunakan sekali, tapi jika kau meminta sesuatu yang bersifat tetap, maka benda itu akan tetap ada."

"Heart Weapon hanya bisa hilang jika penyihir yang memberikannya mengambil kembali kekuatan itu. Itu adalah aku," terang Hana lagi, "seperti dulu waktu kita di dunia sihir."

Suzuna mengangguk-angguk mengerti. Hana tersenyum padanya, lalu pandangannya menerawang.

"Aku selalu menyusahkan kalian…," katanya muram. Bulir-bulir air mata berjatuhan dari bola matanya yang hitam. "Aku selalu membuat kalian berada dalam bahaya…"

"Berhentilah berkata seperti itu…," ujar Mamori lembut, menyeka air mata itu dengan tangannya. Panas.

"Keluarga harus saling melindungi, bukan?" tambah Suzuna, "YA, seperti kata Kuritan!"

Hana tersenyum kembali, "Doumo arigatou gozaimasu…"

Tak ada yang bisa

Menggantikan hatimu…

-GrowUp!-

Yukimitsu datang dengan sebuah bungkusan kain besar. Kurita mencium bau makanan.

"Yuki-kuuun…. Apa ituuu…?" tanya Kurita dengan nada menyeramkan dan ekspresi penasaran.

"Wah, kau langsung tahu ya!" kata Yuki sambil menaruh bungkusan itu di meja. Terlihat pula sebuah koper kecil berisi peralatan dokter miliknya yang ia bawa.

"Dari baunya…," Kurita mengendus, "mmm…"

"Apa itu, guru?" tanya Komusubi penasaran.

"Ah!" Kurita berbinar, "nabe!"

"Hahaha, kau benar," Yuki tertawa sambil membuka bungkusan itu. Ada panci besar berisi nabe yang masih hangat, terbukti dengan asap yang masih mengepul begitu tutupnya dibuka.

"WAAAAH…," semua yang ada di situ langsung senang. Kecuali Hiruma.

"Berikan untuk Aoihoshi dulu. Dia harus makan untuk minum obat," ujar Musashi tegas pada Kurita yang air liurnya sudah menyebabkan banjir lokal.

"Tapi nanti aku cicip yaaa….," pinta Kurita manja.

"Lho? Kuritan 'kan sudah makan tadi bento tiga boks," celetuk Suzuna yang datang membawa mangkuk. Mamori sedang meninabobokan Kiseki di pojokan.

"Ah, dia sih segitu mana cukup…," celetuk Kuroki.

"Ao-chaaan! Ayo makaaan!" kata Suzuna sambil masuk ke kamar Hana. Tak lama Yuki masuk juga.

"Sumimasen," ujar Yuki sopan.

"Nee, Yuki-san. Doozo," jawab Hana.

"Apa badanmu masih panas?" tanya Yuki sambil duduk di kursi di dekat tempat tidur.

"Masih," Suzuna yang menjawab, "lidahnya juga masih terasa pahit. Dari tadi kuberi makanan, selalu mengeluh…"

"Maaf, Suzuna-chan," kata Hana sambil nyengir.

Yuki mengeluarkan termometernya dan memeriksa suhu badan Hana. 38 derajat Celsius.

"Wah, harus minum obat penurun panas. Kau minum obat flu juga?" tanya Yuki. Hana mengangguk. Suzunalah yang sekarang menyuapinya.

"Kalau begitu… ini sudah kubawakan obat penurun panas dan juga antibiotik. Minumlah setelah selesai makan ya," ujar Yuki.

"Doumo arigatou," kata Hana.

"Kalau begitu aku keluar dulu, ya," pamit Yuki. Diluar orang-orang sudah menikmati nabe yang ia bawa.

"Ini bagianmu, Yuki-kun," kata Mamori sambil memberikan semangkuk. Yuki mengangguk.

"Tadi waktu berpamitan pada Kaa-san, kubilang mau menjenguk teman yang sedang sakit. Eh, tahu-tahu aku disuruh membawa nabe itu," cerita Yuki.

"Terima kasih Yuki-kun! Enak!" ujar Kurita riang.

"Chibi sudah tidur ya?" tanya Monta.

"Sudah, tuh di keretanya," jawab Mamori.

Setelah itu mereka saling bercerita tentang apa yang terjadi tadi. Yuki juga berkata kalau ia akan mengaktifkan Heart Weaponnya begitu dibutuhkan.

"Harus ada yang berjaga di sini selama Hana-chan sakit," kata Mamori, "aku dan Suzuna akan menginap."

"Bagaimana kalau kita semua menginap ramai-ramai malam ini?" usul Monta, "kalau terjadi apa-apa, Hana akan punya banyak bala bantuan. Kiseki juga perlu perlindungan!"

Satu-persatu menyahut setuju. Meskipun tempatnya tidak terlalu luas, tapi cukup kok untuk mereka semua tidur. Mamori dan Suzuna akan tidur di kamar Hana dengan kasur lipat. Sedangkan yang laki-laki… bergelimpangan di luar.

"Kau mau menginap manajer sialan?" tanya Hiruma. Mamori mengangguk.

"Tch. Kalau begitu aku juga terpaksa menginap. Aku tidur di sofa ini. Kalian, tidurlah di bawah sana," ujar Hiruma seenaknya seperti biasa.

Tapi setan itu sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu tentang dirinya dan juga malaikatnya tercinta.

Begitu pandangan keduanya bertemu, Hiruma langsung memberi sandi pada Mamori.

'Kemarilah.'

Mamori mendekat ke sofa dan bertanya, "Apa?"

"Soal lencana itu," ujar Hiruma pelan, "berarti kekuatan sialan yang waktu itu bisa kembali pada kita?"

"Kurasa begitu, Hiruma-kun," jawab Mamori.

Hiruma menghela nafas pelan.

"Kau khawatir ya?" tanya Mamori.

"Keh. Dari awal memang kita sudah harus menghadapi bahaya. Mau diapakan lagi?" Hiruma berkata dengan sinis.

-GrowUp!-

Malam semakin larut. Hiruma berbaring di sofa sambil menonton TV. Para linemen berkumpul di sekitar kereta Kiseki, menjaga bayi itu. Kurita yang bersandar di dinding terlihat seperti sebuah bantal ukuran besar, mulai mengantuk. Di depan pintu kamar Hana ada Sena dan Monta.

"Kakak cepat tidur saja sana," ujar Suzuna lewat telepon pada kakaknya yang ada di rumah.

"Ayo tidur, Suzuna-chan," ujar Mamori pada Suzuna.

"YA, Mamo-nee," Suzuna mengangguk, "apa situasi akan aman?"

"Kita percayakan saja pada yang di luar," jawab Mamori menenangkan. "Meskipun sakit, kewaspadaan Hana-chan tidak berkurang. Kalau ada sesuatu, dia pasti akan memberitahu kita."

Kedua wanita itu tersenyum memandang Hana yang tertidur pulas setelah makan dan minum obat. Bulir-bulir keringat mulai terilhat di wajahnya. Semoga itu pertanda bahwa panasnya sudah mulai turun.

"Oyasumi, minna," kata Suzuna sebelum menguap dan pergi menuju alam mimpi.

-GrowUp!-

Hana's POV

Mmmh…

Tidurku nyenyak sekali.

Aku masih memeluk gulingku tersayang dengan erat, dengan mata terpejam, menikmati empuknya kasur dan nafas yang sudah tak panas.

Apa teman-teman masih ada di sini ya? Kiseki semalam terbangun tidak ya?

"Awawwa…"

Eh, itu suara Kiseki. Aku menghela nafas dan tersenyum, berharap mendengar lagi suara imutnya.

"Hanya?" ah, dia menyebut namaku.

"Iya, Kak Hana masih tidur," terdengar suara seorang laki-laki menanggapi.

"Hihihi, Hanya!" Kiseki tertawa kecil.

Wait.

Suara laki-laki? Siapa?

"Caco, caco," suara Kiseki lagi, "Hanya boo…"

Lelaki yang sepertinya dipanggil 'Caco' itu tertawa, "Iya, Hana tidur. Haha, kenapa namaku jadi Caco?"

Aku mengernyit lalu membuka mataku. Kiseki memandangiku dengan mata birunya, memakai jumper putih-kuning bertuliskan I LOVE MOM. Seorang lelaki memangkunya, rambutnya hitam dan matanya cokelat…

Caco…

Bodohnya aku! Itu—

"Masato…," aku bangun, duduk, dan memandang orang itu dengan takjub, "Masato…?"

Niwa Masato tersenyum, lalu menyapa, "Selamat pagi Nona Hana."

Iya, itu Masato…

Aku bisa melihatnya dengan jelas, mendengar suaranya, akhirnya…

Akhirnya aku bisa bertemu dengannya!

Jangan salahkan aku kalau air mataku kembali meleleh. Aku hanya merasa lega dan bahagia. Sangat.

"Masato…," rengekku sambil menangis.

Masato sedikit bingung melihatku menangis seperti itu, ia jadi ikut sedih.

"Hana…," ia hanya menyebutkan namaku. Aku terisak. Sudah lama aku tak mendengar ia memanggilku.

Tiba-tiba Suzuna datang dari pintu kamar dan membawa kabur Kiseki.

"Ao-chibi, minggir dulu ya," katanya, "maaf mengganggu, silakan lanjutkan!"

"Cacoooo…," suara Kiseki perlahan menghilang.

Aku dan Masato tertawa kecil. Tapi aku masih menangis—benar-benar seperti orang gila. Aku hanya ingin ia mendekat padaku, jadi kuulurkan tanganku padanya, dan akhirnya ia mendekat. Ia mendekapku sambil mengusap matanya. Masato itu agak sensitif, jadi kurasa ia sempat mau menangis juga.

"Sudahlah, jangan menangis," ujarnya sambil mengelus belakang kepalaku. Aku malah tambah terisak-isak.

"Syukurlah…," kataku parau, "syukurlah… akhirnya bisa bertemu…"

Masato menghela nafas, "Aku juga senang bisa bertemu lagi…"

Kuhela nafasku. Bahagia, hanya itu yang terlintas di benakku.

Aku tersenyum. Setelah ini banyak sekali hal yang ingin kutanyakan, tapi untuk sekarang aku hanya ingin menikmati saat-saat ini. Aku memeluknya, meyakinkan diriku akan eksistensinya bahwa ia benar-benar telah hadir di sini.

Air mata masih membanjiri pipiku. Aku tahu setelah ini akan ada lebih banyak air mata lagi, entah air mata kebahagiaan atau kesedihan—itu tak pasti. Tapi aku tahu aku bisa menghadapinya bersama teman-temanku, juga dengan adanya Masato, semua akan terasa lebih lengkap.

Tak ada yang bisa

Menggantikan dirimu…

"Kau sakit ya?" tanya Masato, "dasar ceroboh."

"Maaaaf," jawabku, "maaf, Masato…"

Kami berdua tertawa kecil. Masato menjitak pelan kepalaku, aku tertawa lagi.

"Jaga kesehatan!" omelnya bercanda.

"Iya iya Pak Calon Menteri…," jawabku.

Kami tertawa lagi.

Tak ada yang bisa membuat diriku

Jauh darimu

[bersambung…]

1. Ice Thorn: Tombak-tombak es berukuran sedang yang diluncurkan pada musuh dan membawa hawa dingin yang kuat. Kau akan melihat asap di sekitar tombak itu.


Horeee… love knows, love grows selesaaai!

Terima kasih banyak sudah membaca, maaf kalau ada kesalahan, ya… ^^v

Untuk sementara Pojok Kenangan Hana ditiadakan. Akan ada lagi di chap depan… maaf ya… hiks hiks, payah nih…

Jangan lupa meripyu, okeee? Kritik dan saran, silakan! Anonymous juga, silakan!

Sampai ketemu secepatnyaa!