Cause, I Love You

Rated : M

Pairing : YoonMin, VKook, NamJin. Slight ! VMin

Warning: Rated M untuk adegan kekerasan, bahasa yang kasar, dan konten yang menjerumus hal dewasa lainnya.

Namjoon, Seokjin (21)

Yoongi, Jimin (18)

Taehyung, Hoseok (17)

Jungkook (16)

.

.

.

.

Enjoy it, guys ~

.

.

.

.

Ruangan itu tampak temaram. Jendela besar disana tertutup oleh korden besar berwarna hitam, menutup segala akses penerangan dari luar atau apapun untuk mengintip kedalam sana. Satu - satunya penerangan hanyalah lampu tidur diatas meja nakas disebelah ranjang berukuran king size ditengah ruangan. Begitu minim. Membuat hanya sebagian tempat saja yang dapat diterangi oleh lampu tidur tersebut.

Dibagian lain dari tempat itu. Disudut ruangan yang hanya dilingkupi kegelapan, pria itu terduduk pada sofa single miliknya. Berhadapan dengan meja kaca bundar dihadapannya. Sebuah gelas berleher berada dalam genggamannya, berputar - putar mengikuti gerakan malas tangan yang menggerakkannya.

Suara ketukan dan terbukanya pintu ruangan itu membuat manik sewarna madu itu melirik kesana. Mengamati bagaimana segaris cahaya dari luar ruangan masuk kedalam ruangannya. Semakin melebar seiring dengan pintu mahoni berwarna putih itu terbuka dengan perlahan, bersama dengan seorang perempuan yang muncul dari balik pintu.

"Tuan muda." Perempuan itu tetap berada disana. Membungkukkan badannya pada satu - satunya orang yang menghuni ruangan tersebut. "Saya telah menemukannya." Ujarnya dengan nada datar.

Keheningan menyambutnya kemudian. Hanya suara 'tuk' kecil yang terdengar setelahnya, berasal dari gelas kaca berleher yang diletakkan pelan diatas meja kaca dihadapan pria itu. Manik sehitam malam milik perempuan itu memperhatikan dengan pelan kegiatan pria itu. Bagaimana pria itu bangkit dari duduk santainya, menunjukan tubuh jangkungnya yang begitu proposional dan hanya terbalut oleh kimono mandi.

Pria itu berjalan menghampiri jendela, menyibakkan korden hitam besar yang menutupi jendela tersebut. Membiarkan sinar matahari pagi masuk menerangi ruangan miliknya. Manik sewarna madunya menatap tenang pada pemandangan diluar sana. Memperhatikan kabut pagi yang mengelilingi kediamannya dalam diam. Membiarkan suara nafasnya dan perempuan diambang pintu menjadi pemecah keheningan.

"Dimana ?" Suara tenang itu mengalun setenang udara pagi ini. Begitu dalam dan berat. "Dimana 'kesayangan' ku sekarang berada ?" Ulangnya lagi.

"Seoul, Korea selatan, Tuan." Perempuan itu menjawab setenang tuan mudanya.

Dan kemudian kembali hening. Didepan jendela, pria itu kembali membisu. Memperhatikan kabut tipis yang perlahan memudar seiring dengan gerakan pelan sang matahari yang mulai menampakan wujudnya. Menyiram pahatan sempurna milik tuhan itu dengan sinar hangatnya.

Beberapa menit dia bertahan dalam posisinya. Benar - benar diam dengan aura yang menguar menenangkan dari dalam dirinya. Sampai kemudian pria itu membalikkan badannya, menghadapkan diri kearah sosok lain yang berdiri diambang pintu. Menanti dirinya untuk mengucapkan sebuah perintah yang dapat perempuan itu kerjakan nantinya. Manik sewarna madu itu terlihat menenangkan bagi siapapun yang melihatnya. Menghipnotis siapapun untuk takluk kepadanya. Ditambah pahatan sempurna pada wajah itu. Merupakan sebuah nilai plus untuk pria jangkung itu.

"Irene..." Suara berat itu kembali terdengar. Semakin dalam dan berat dengan intonasi yang menunjukan betapa berkuasanya dia saat ini. "Siapkan segalanya. Kita akan menjemput 'dia'." Perintahnya pada perempuan itu.

Irene terdiam sejenak. Sebelum akhirnya mendukkan badannya dalam. "Saya mengerti, Tuan muda." Ujarnya.

"Kau boleh pergi, Irene."

.

.

.

.

Jimin hanya dapat menggaruk kecil pipi kanannya gugup dengan jari telunjuknya. Dia meringis kecil ketika manik dark brown nya bersitatap dengan tatapan tajam milik Seokjin. Pria honey brown itu masih betah berada ditempatnya, memandangnya dengan tatapan mengintimidasi kearahnya sejak lima belas menit lalu. Dia tidak tahan untuk tidak salah tingkah karena tatapan itu. Dan tanpa sadar, Jimin hanya dapat meneguk ludahnya gugup.

Disebelahnya terdapat Yoongi yang terlihat sama diamnya seperti Jimin. Dengan wajah datarnya yang khas, dia nampak tidak terpengaruh dengan tatapan tajam dari pria cantik dihadapannya. Yoongi pun mulai menghela nafas panjang. Dengan sebelah tangannya yang mulai bergerak menangkap tangan kiri Jimin disebelahnya. Dia tersenyum tipis merasakan pria blonde disebelahnya tersentak kecil ketika dengan sengaja ia menautkan jemari mereka.

"Tanganmu, Min Yoongi." Tegur Seokjin datar ketika melihat tindakan Yoongi tersebut.

Yang ditegur hanya berdecih kecil tanda tidak suka dengan teguran pria yang lebih tua darinya itu. Dia tetap menautkan jarinya pada jari Jimin, tanpa melakukan apa yang diperintahkan. Ingat, Jimin itu miliknya. Apapun yang ia lakukan pada pria itu tidak ada boleh yang memprotesnya. Bahkan termasuk Seokjin sekali pun.

Dan Seokjin sepertinya juga tidak suka dengan sikap Yoongi yang membangkang. Dia pun melayangkan pandangan tajamnya pada pria bersurai silver itu. "Lepas sekarang atau aku akan memotong tanganmu, Min." Perintahnya dengan sedikit mengancam. Tidak peduli dengan status pria silver itu yang merupakan ketuanya dalam organisasi mafia yang ia ikuti. Tapi apa peduli Seokjin ? Ini area kekuasaannya dan pria silver itu dengan seenak jidat masuk ketempatnya tanpa diundang sebelumnya.

Well ini masih pagi. Jam masih menunjukan pukul 5 lebih 58 menit -itu yang dia tahu dari jam berbentuk kucing yang tertempel pada dinding didekatnya dan dua menit lagi akan menuju jam 6. Ini masih benar - benar pagi. Seharusnya dia tengah memasak saat ini untuk sarapannya dengan Jimin. Bersiap - siap untuk berangkat kuliah dan mengantarkan Jimin kesekolahnya pagi ini. Seharusnya..

Jika saja dia tidak melihat si brengsek Yoongi itu berada diruang tamu miliknya setengah jam yang lalu. Sudah lengkap dengan seragam Bangtan Highschool nya. Pria silver itu terlihat tengah berduaan bersama dengan Jimin disana. Yang membuatnya geram adalah pria itu dengan seenaknya tiduran dipaha teman masa kecil yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu. Dia shock ? Tentu saja ! Bertambah shock ketika melihat Yoongi yang menarik tengkuk Jimin dan mencium adiknya itu tepat didepan matanya.

DIDEPAN MATANYA !

Catat itu !

Rasanya dia ingin sekali memotong kepala silver Yoongi dengan pisau dapurnya. Atau akan lebih baik lagi, dia akan menyeret pria brengsek itu keatas meja operasi. Lalu, mengobrak - abrik tubuh pucat itu dengan pisau bedah kesayangannya hidup - hidup.

'Oh, itu akan menjadi kegiatan yang menyenangkan.' batin Seokjin dengan segala pikiran laknatnya.

"Bisa kau hentikan tatapanmu itu, Kim Seokjin ? Kau membuat Jimin takut." Ujar Yoongi dengan wajah datarnya. Dahinya berkerut dalam ketika melihat tatapan psychopath yang dilayangkan Seokjin kepadanya. Sedikit banyak, dia mengerti apa yang dipikirkan Seokjin saat ini melalui tatapan yang ia terima itu.

"Aku tidak akan begini jika kau tidak memulai, Min Yoongi." Desis Seokjin sembari mengembalikan raut wajahnya kesemula.

Yoongi memutar matanya bosan. Tidak habis pikir dengan sikap berlebihan salah satu rekan kerjanya tersebut. Baru saja dia ingin berbicara lagi, pria bersurai honey brown itu sudah mendahuluinya untuk berbicara.

"Kalian berdua !" Manik hitam Seokjin menatap kedua orang dihadapannya dengan tajam. Alisnya bertaut marah melihat tangan Yoongi yang kini mulai mengelus paha Jimin. Ingin rasanya dia membanting pria itu sekarang juga, apalagi setelah melihat wajah Jimin yang merona karena perbuatan kurang ajar Yoongi itu. Walau dia penasaran juga dengan respon Jimin yang hanya diam saja. "Apakah kalian berpacaran ?" Tanya Seokjin dengan penekanan disetiap ucapannya. Dia terus menatap mereka dengan tatapan tajam menyelidik pada mereka.

"Ya / Tidak." Alis Seokjin semakin bertaut mendengar jawaban berbeda itu. Dia menatap Jimin yang mulai menundukkan kepalanya beberapa menit. Hanya untuk melihat pria itu yang kini tengah menggigit bibir bawahnya sendiri. Terlihat gugup dengan tatapan tajamnya. Lalu beralih pada Yoongi yang menjawab pertanyaan dengan kata 'ya' tadi.

"Mana yang benar ?" Tuntutnya pada pria bersurai silver tersebut.

"Antara iya dan tidak." Jawab Yoongi tidak niat.

"Yang benar saja !" Amuk Seokjin melihat respon tidak niat itu. Dia menggertakan giginya keras, sebelum menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya. "Aku ganti pertanyaannya ! Siapa Jimin bagimu, Min Yoongi ?" Tanyanya tidak sabaran.

Untuk kesekian kalinya dipagi ini Yoongi memutuskan untuk menghela nafasnya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan menuntut dari pria cantik dihadapannya itu. Pria itu nampak berfikir sejenak, mencoba mencari sesuatu yang bisa ia katakan untuk menjelaskan hubungan apa yang tengah dia dan Jimin jalani saat ini. "Dia milikku ?" Ujar Yoongi sedikit ragu. Walau tidak tampak keraguannya. "Tanyakan pada Jimin karena pria blonde ini tengah menggantungkanku sekarang." Lanjutnya yang langsung mendapat ringisan kecil dari Jimin setelah mendengarnya.

"Milikmu ? Kau pikir Jimin itu barang ?" Cibir Seokjin tajam. "Kau sudah kuperingatkan sebelumnya, Min Yoongi. Jika kau hanya ingin bermain - main dengan Jimin. Lupakan ! Lebih baik kau kembali pada jalang - jalangmu yang telah menunggu untuk kau setubuhi itu dari pada mencoba untuk menyakiti Jimin ! Player sepertimu sama sekali tidak cocok untuk adikku !" Ujarnya kemudian.

'Player ?' Batin Jimin sembari melirik pria silver disampingnya.

"Jaga ucapanmu, Kim Seokjin. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menyakiti Jimin sedikitpun sekarang." Balas Yoongi dengan wajah datarnya. Sedikitnya dia tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan Seokjin padanya.

"Sekarang." Pria bersurai honey brown itu tertawa sinis mendengernya. Tatapannya terlihat memincing tajam pada manik hitam dihadapannya.

"Bagaimana dengan besok ? Lusa ? Tahun depan ? Seterusnya ? Bahkan kurang dari seminggu ini kau sudah berani untuk menyetubuhi adikku. Apa yang akan kau lakukan nanti selanjutnya ? Pria brengsek-player-gila sepertimu sama sekali tidak akan bisa dipegang ucapannya. Kau bisa saja berbohong tentang kau yang mencintai Jimin." Cibir Seokjin lagi.

"Aku mengenalmu tidak hanya satu-dua tahun saja, Min. Sudah hampir tujuh tahun aku mengenalmu. Dan sedikitnya aku tahu akan sikapmu yang bisa menyembunyikan perasaanmu dengan wajah datarmu itu. Tidak akan yang tahu apa yang sebenarnya kau pikirkan atau kau rencanakan saat ini. Jika saja aku atau Jimin mempercayaimu, tidak ada jaminan jika akhirnya kau ternyata menipu kami." Lanjutnya kemudian. Dia sama sekali tidak menyadari jika pria disamping Yoongi mulai bergetar kecil mendengarnya.

Benar. Tidak akan ada yang bisa menjamin hal itu. Yoongi itu terlalu susah untuk ditebak isi pikirannya. Wajah datar dan juga tatapan dinginnya membuat semua orang sulit hanya untuk sekedar menebak apa yang akan dia lakukan. Dia bisa saja menjadi pria brengsek penuh tipu muslihat dengan kemampuannya itu. Dan benar kata Seokjin, bisa saja pria silver itu memang mempermainkannya. Mengatakan kata cinta walau sebenarnya itu hanyalah tipu muslihat belaka.

Jimin sedikitnya merasa khawatir. Tidak hanya khawatir, namun juga sedih dan kecewa. Kecewa jika ternyata pria silver itu memang benar - benar mempermainkannya.

"Untuk kali ini aku serius, Kim Seokjin." Suara berat Yoongi membuat Jimin tersadar dari alam lamunannya. Dia menolehkan wajahnya, hanya untuk melihat wajah serius pada pria pucat tersebut. "Aku.. Benar - benar mencintai Jimin." Hatinya berdesir ketika dia melihat adanya binar kesungguhan dimanik hitam sekelam malam itu. Menunjukan jika pria silver itu benar - benar serius dengan ucapannya.

"Apa jaminannya ?" Tanya Seokjin seolah tidak terpengaruh dengan binar kesungguhan dimanik hitam yang lebih kelam dibanding miliknya itu. Ia pun mulai menyeringai licik ketika sebuah pemikiran terlintas dipikirannya. "Aku menginginkan nyawamu sebagai jaminan jika kau mengingkari ucapanmu, Min Yoongi." Ujarnya kemudian dengan seringai liciknya yang semakin mengembang.

Jimin tersentak mendengar ucapan Seokjin tersebut. Dia langsung saja melontarkan tatapan protesnya pada pria yang lebih tua darinya tersebut. "Hyung !" Panggilan bernada protes itu terdengar dari bibir pria blonde itu. Dia terlihat tidak suka dengan ide jaminan itu. Dia tidak ingin Yoongi mati walau dia benar - benar berbohong akan ucapannya.

"Baiklah." Dan Jimin tidak bisa tambah terkejut seketika setelah Yoongi menyetujui ide gila itu dengan santainya. Dia bahkan mengajak teman masa kecilnya itu bersalaman untuk tanda persetujuan.

"Aku menunggu kabar baiknya, Min Yoongi." Ujar Seokjin sembari membalas jabatan tangan tersebut. Jangan lupakan dengan seringai licik yang masih tersemat dibibirnya.

Berbeda dengan luarnya. Sebenarnya Seokjin tengah tertawa didalam hatinya. Lihatlah wajah panik Jimin saat ini, dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Well sebenarnya dia hanya bercanda tentang persetujuan juga acara introgasi ini. Dia hanya ingin membuktikan jika Yoongi benar - benar akan bertanggung jawab tentang perasaannya kepada Jimin. Walau respon pria itu cukup buruk kemarin, setidaknya dia sudah cukup lega dengan perubahan keputusan Yoongi yang sekarang.

"Hoaaammm... Pagi..." Dari arah kamar Jimin datanglah satu pria lain yang kini tengah berjalan menghampiri mereka. Langkahnya yang goyah dan juga matanya yang tertutup setengah menunjukan jika pria itu baru saja bangun dari tidurnya. Dia menguap sekali lagi sebelum melompati sofa panjang ruang tamu yang diduduki Yoongi dan Jimin. Menyela ditengah mereka tanpa memperdulikan tatapan aneh dari Yoongi dan Seokjin.

"Pagi, Tae." Berbeda dengan respon kedua orang itu, Jimin menyambut sahabatnya itu dengan senyum manisnya. Dia tertawa kecil saat pria oranye itu mulai duduk ditengah - tengah antara dirinya dan Yoongi. Mengabaikan tatapan kesal yang ditujukan Yoongi pada dirinya. "Bagaimana tidurmu ?" Tanya Jimin ketika dengan seenak jidatnya Taehyung memeluk tubuh Jimin dan menjatuhkan kepalanya pada bahu sahabatnya itu. Untung saja Jimin itu baik, jadinya dia diam saja ketika sahabatnya itu mulai mengusel - nguselkan diri kebadan Jimin.

"Aku mimpi buruk." Sahut Taehyung kembali memejamkan matanya dibahu Jimin. Aroma vanilla dari tubuh Jimin benar - benar membuatnya ingin kembali jatuh tertidur. Padahal Jimin belum mandi dan masih mengenakan piyama putih sutranya.

"Dia Kim Taehyung, kan ? Kenapa dia bisa disini, Jim ?" Tanya Seokjin yang cukup heran dengan kedekatan adiknya dengan adik tiri Yoongi itu. Bahkan dengan percaya dirinya pria oranye itu mendusel - dusel adiknya seolah dia itu anak kucing yang ingin bermanja dengan induknya. "Dia menginap disini ?" Lanjutnya setelah menyadari piyama hitam putih yang dikenakan Taehyung saat ini.

'Oh, adakah sebuah cinta segitiga disini ?' Batin Seokjin penasaran.

"Taehyung bilang dia sedang diusir dari rumah karena tidak sengaja memecahkan guci kesayangan eomma nya. Dia tidak boleh kembali jika Taehyung tidak menemukan penggantinya." Jelas Jimin dengan tatapan polosnya pada Seokjin. Tangannya bergerak mengelus surai oranye Taehyung, membuatnya nampak seperti ibu yang tengah menidurkan anaknya.

Namun nampaknya Seokjin tidak begitu percaya dengan penjelasan yang dilontarkan Jimin tentang keberadaan Taehyung yang tiba - tiba berada didalam apartemen mereka. Bahkan sampai menginap disini. Dahinya berkerut dalam, seolah tengah memikirkan sesuatu saat ini.

"Yang benar saja." Cibir Yoongi dengan wajah datar miliknya. Maniknya menatap tidak suka pada Taehyung yang masih betah pada posisinya. Sedikitnya dia merasa panas-dingin karena posisi Taehyung dan Jimin saat ini. "Padahal eomma sama sekali tidak pernah mengatakan hal itu, kau cuma -AARRRGGHHH !"

Ucapan Yoongi langsung terhenti ketika sebuah injakan keras terasa dikakinya. Reflek Yoongi langsung membungkukkan badannya dan memegang kakinya yang terinjak. Dengan mendelik, pria bersurai silver itu menatap tajam pada Taehyung yang tengah menyeringai kecil dibalik bahu Jimin. Sebelah matanya terbuka dan memandangnya dengan tatapan jahil penuh ejekan. Yoongi menggeram sebal melihatnya. 'Sialan kau, Kim !' Batin Yoongi sebal.

"Jim ! Lebih baik kita bersiap - siap ! Hari sudah mulai siang !" Tanpa aba - aba Taehyung langsung menyeret Jimin pergi dari sana. Meninggalkan sopan santunnya tentang berpamitan sebelum pergi kepada orang yang lebih tua darinya.

"T-tapi.." Jimin ingin menghentikannya. Tapi sepertinya Taehyung tidak akan mendengarnya dan terus menyeretnya menuju kamarnya sendiri. Dia hanya pasrah. Dan ketika ia menoleh kearah Yoongi, dia hanya bisa memasang wajah bersalah ketika melihat wajah pria silver itu yang terus - terusan meringis kesakitan.

"Maaf." Adalah kata terakhir Jimin sebelum akhirnya dia menghilang dibalik pintu kamarnya bersama Taehyung.

"Aku juga akan bersiap." Ujar Seokjin sembari bangkit dari sofa panjang lain yang didudukinya. Manik hitam miliknya menatap wajah Yoongi yang sudah kembali menampakan ekspresi datarnya. "Aku pegang janjimu, Min. Jika kau mengingkarinya, akan kupastikan kau mati ditanganku." Ancam Seokjin sebelum akhirnya pergi menuju kamarnya sendiri.

.

.

.

.

Bangtan Highschool tiba - tiba dibuat ricuh pagi ini, ketika tiga orang yang seharusnya bermusuhan itu baru saja turun dari dalam mobil yang sama. Dan kini berjalan beriringan sepanjang koridor sekolah menuju kelas. Keberadaan dari mereka bertiga yang tidak biasa itu membuat semua orang yang melihat bertanya - tanya. Tidak jarang mereka pun menjadi bahan perbincangan selama mereka berjalan bersama dikoridor sekolah.

Errr... Tidak bisa dibilang beriringan juga sebenarnya. Karena pasalnya Taehyung dan Jimin memilih berjalan mendahului Yoongi yang berada tiga langkah dibelakang mereka. Dua uke itu nampak tengah berbincang tentang sesuatu. Sesekali mereka berdua tertawa entah karena apa. Mereka tampak bahagia saat ini jika dibandingkan dengan pria silver dibelakang mereka.

Wajahnya masih tetap datar seperti biasanya. Tatapannya juga tetaplah dingin seperti sebelum - sebelumnya. Auranya juga sudah biasa gelap seperti ini. Namun yang membedakan, aura gelap ini terasa semakin gelap rasanya jika dibandingkan dengan yang sebelumnya. Beberapa orang yang berpapasan dengan orang itulah yang merasakan. Begitu dingin dan mencengkam. Seolah jika pria silver itu diganggu sedikit saja, dia akan menguliti hidup - hidup orang yang mengganggunya. Menyeramkan.

Dan masalah perubahan aura Yoongi saat ini tidak jauh - jauh dari kedua uke didepannya itu. Tatapannya semakin memincing tajam menatap mereka berdua. Tidak, Jimin tidak termasuk sebenarnya. Dia tidak akan tega untuk memberikan tatapan super tajamnya ini kepada pria manis tersebut. Yang menjadi permasalahannya saat ini adalah adik tirinya. Ya, Kim Taehyung yang menyebabkan suasana hati Yoongi badmood pagi ini.

Pria oranye itu dengan seenaknya memonopoli Jimin sejak tadi pagi. Tidak membiarkan dirinya dapat menyentuh pria manis itu barang sedikitpun. Yoongi menggeram rendah. Apanya yang genjatan senjata ? Ini sama saja beralih dari perang dingin menjadi perang sungguhan namanya. 'Fuck you, Kim.' Geram Yoongi dalam hati.

"Yoongi ?" Pria silver itu mengangkat kepalanya yang entah sejak kapan tertunduk. Dia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Jimin yang sudah berdiri dihadapannya. Wajahnya nampak khawatir entah kenapa. "Kau tidak apa - apa ?" Tanya Jimin tanpa meluruhkan tatapan khawatirnya.

Yoongi tidak langsung menjawabnya. Manik hitamnya melirik kearah belakang punggung Jimin hanya untuk melihat wajah sebal Taehyung disana. Dia kemudian menyeringai tipis melihat tatapan sebal itu terarah padanya. "Tidak. Aku tidak apa - apa." Ujarnya tanpa mengalihkan lirikannya pada Taehyung beberapa saat. Sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya pada Jimin dihadapannya. Dia tersenyum pada pria itu, memberikan perintah tanpa kata untuk tidak mengkhawatirkannya secara berlebihan.

Merasa mengerti Jimin akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia mengembangkan senyumnya untuk membalas senyum milik pria silver tersebut. Sedikit tersipu karena mendapat serangan senyum tampan tersebut dipagi hari, tidak menyangka saja pria itu akan dengan mudahnya mengumbar senyum padanya seperti ini.

Oh, dia harus bersyukur akan hal ini.

"Aku lapar. Kau ingin kekantin ?" Tawarnya dengan nada lembut kepada Jimin. Senyum tampannya sama sekali tidak bisa beranjak dari bibirnya hanya karena wajah memerah Jimin yang nampak manis. Dia terkekeh pelan ketika pria blonde itu mengangguk malu - malu untuk mengiyakan. Rasanya, dia tidak tahan untuk tidak mengacak surai blonde Jimin dengan gemas saat ini. Jadi dilakukanlah Yoongi menuruti apa yang pikiran serta hatinya mau.

Errr.. Tuan Min. Sebaiknya anda hentikan semua perbuatan manis anda pada Jimin saat ini. Bisa anda lihat beberapa orang yang nampak salah fokus tidak jauh dari anda ? Tidak hanya beberapa sebenarnya. Karena nyatanya, orang - orang yang tidak sengaja lewat disekitar sana maupun yang memang sudah berada disana sedari tadi merasa jantung mereka berhenti seketika melihat pemandangan tidak biasa ini.

Yoongi tersenyum. Yoongi terkekeh. Yoongi berbicara lembut. Semua itu hampir tidak akan mungkin dilakukan pria silver itu selama waktu yang mereka gunakan untuk mengenal Yoongi sampai saat ini. Yoongi itu dikenal dingin dan kejam. Itu semua seolah sudah mendarah daging didalam tubuh pria itu. Dan tidak akan bisa berubah.

Namun nampaknya mereka harus berpikiran lain sekarang. Karena baru saja mereka dapat melihat sisi baru Yoongi hanya karena murid baru berambut blonde itu bertanya dengan nada dan wajah khawatir kepada pria silver tersebut. Ah, jika orang lain yang melakukannya mungkin mereka akan berpikir seribu kali untuk melakukannya. Karena mereka tidak akan dihiraukan atau juga diketusi oleh pria itu. Tidak ada yang berani berharap untuk pria itu merespon yang tidak akan mungkin dilakukannya.

'Dunia sudah kiamat.' Batin mereka semua setelah melihat adegan yang merubah keseluruhan pikiran mereka tentang Yoongi tersebut. Dan sepertinya Jimin akan mendapat banyak musuh setelah ini, karena perempuan dan juga pria uke disekitar mereka mulai menatap sinis padanya.

"Hentikan drama pagi kalian. Jika kalian ingin kekantin segera bergegas. Karena aku juga sudah sangat lapar." Ujar Taehyung memecahkan suasana romantis yang terjadi diantara sahabat dan kakak tirinya. Pria oranye itu memutar bola matanya melihat tatapan super tajam Yoongi yang tiba - tiba terarah padanya. Sebelum tangannya menyambar tangan Jimin yang wajahnya bertambah memerah karena ucapan Taehyung.

"Pengganggu." Desis Yoongi tidak suka. Dan langsung mendapat respon juluran lidah dari adiknya itu. Oh, dia mengajak perang rupanya.

"Su-sudahlah kalian. Lebih baik kita segera kekantin sekarang." Lerai Jimin yang agaknya sedikit gugup karena aura dingin Yoongi yang semakin terasa saat ini. Ditambah lagi sahabatnya itu malah mengompori pria silver tersebut untuk membuat keributan pagi ini.

Yoongi berdecih dan langsung mengambil tangan Jimin yang dipegang Taehyung dengan cepat. Pria silver itu kemudian membawa Jimin pergi menuju kantin tanpa banyak kata. Meninggalkan Taehyung yang menatap tidak percaya pada Yoongi yang membawa kabur sahabat blonde nya.

"Damn it !" Umpat Taehyung sembari menendang - nendang udara dengan tidak karuan.

.

.

.

.

Kantin sekolah itu identik dengan ramai. Apalagi jika itu sekolah sejenis Bangtan Highschool, tempatnya para kriminal bersekolah. Kantin yang harusnya menjadi tempat para murid mengisi perut mereka setelah belajar, membolos, ataupun sekedar mengobrol saja dapat berubah menjadi medan tempur. Seharusnya itu yang terjadi sekarang ini. Tapi tidak jika penguasa sekolah tengah berkumpul bersama teman - temannya -kecuali Seungcheol dan Jennie yang sedang ada urusan. Dan bahkan bersama adik tirinya -yang seingat mereka saling bermusuhan. Ditambah dengan anak baru berparas manis yang kini tengah memerah malu disamping Yoongi. Padahal mereka yakin jika anak baru itu telah membuat masalah -cukup besar- dengan pria silver itu dipertama harinya masuk sekolah ini. Harusnya ada adegan pertumpahan darah sekarang. Tapi kenapa akur begitu ?

'Dunia kiamat ya ?' Kira - kira itu isi kepala mereka saat ini.

"Ck ! Apa - apaan tatapan mereka ? Ingin dicolok pakai sumpit ya ?" Taehyung yang tengah berusaha memakan ramyeonnya dengan tenang mendadak sewot. Tatapannya melotot kearah semua orang yang tengah melirik kearah mereka dengan pandangan ingin tahu, namun gagal karena mendapat pelototan ganas dari pria bermarga Kim itu. Taehyung berdecak sebal, lalu memakan ramyeonnya dengan brutal -tidak peduli dengan cipratan kuah yang mengenai bagian depan kemejanya. Jas miliknya tertinggal dirumah Jimin -sengaja.

"Dan lagi, apa - apaan kau, Yoongi hyung !? Kenapa kau menatap Jiminie seperti itu !? Kau berniat melubangi kepalanya, ya !?" Sewotnya lagi, kini kepada sang kakak tiri yang bukannya memakan makanan yang ia pesan, malah lebih memilih mengabaikan sepiring nasi goreng kimchi diatas meja dibanding pria manis disampingnya. Taehyung diabaikan. Tatapan mata Yoongi begitu intens memperhatikan segala kegiatan si blonde yang tengah memakan nasi goreng kimchi nya dengan kikuk. Antara risih dan malu ditatap secara berlebihan seperti itu.

"Emmm Yoon-yoongi.. Kenapa k-kau tidak makan ?" Jimin berusaha bertanya pada pria silver disampingnya. Terlihat gugup sekali. Ucapannya bahkan tidak terlalu terdengar sebenarnya, mirip seperti cicitan.

"Aku akan makan jika kau mau menyuapiku, Kitty." Balas Yoongi santai. Sangat santai. Tidak tahu saja jika ucapannya dapat membuat anak orang berdebar tidak karuan.

Seketika wajah Jimin terlihat semakin merah. Sial sekali Yoongi dengan ucapannya yang terdengar sedikit menggelikan itu. Ditambah senyuman bangsat dari bibir tipis yang jika berucap bisa setajam silet, Jimin tidak menduga -bahkan mereka yang semeja pun merasa jika dihadapan mereka bukanlah seorang Min Yoongi saat ini.

"Kenapa ? Kau tidak mau ?" Tanya Yoongi melihat Jimin yang hanya terpaku ditempatnya.

Jimin seketika tersentak. "A-ah, maaf." Dia segera menyendok nasi goreng kimchi dihadapan Yoongi dengan sendok miliknya -tidak sadar, lalu mengarahkan sesendok nasi goreng itu kedepan mulut Yoongi. "Aaa ~" Gumamnya entah sadar atau tidak menyuruh Yoongi untuk membuka mulutnya. Dan tentu saja langsung dilakukan pria silver itu dengan senang hati. "Bagaimana ?" Tanya Jimin kemudian dengan harap - harap cemas. Manik dark brown nya menatap penuh harap pada Yoongi yang mengunyah makanannya dengan perlahan. Padahal bukan dia yang membuat nasi goreng itu.

"Enak." Komentar Yoongi dengan senyum kecil tersungging dibibirnya.

"Oh, astaga... Aura orang kasmaran." Ujar Jeonghan yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi dua orang tersebut. Manik miliknya menatap tertarik pada pemandangan super langka dihadapannya. Langka, karena Yoongi yang menjadi tokoh utamanya.

"Ini menyeramkan.." Komentar Hansol kemudian tanpa sadar. Dahinya mengernyit takut ketika melihat senyum kecil dibibir Yoongi. Terlihat hangat. Berbeda dengan senyum keji yang biasa ia lihat.

"Apa maksudmu menyeramkan, Hansolie ? Kupikir itu biasa saja." Sahut Hoseok tidak mengerti. Kelopak matanya mengerjap polos kearah Hansol yang menggelengkan kepalanya perlahan -merutuk dalam hati atas ucapannya barusan. "Tidak. Tidak apa - apa." Gumamnya.

"Ini menjijikan lebih tepatnya." Desis Taehyung menyahut percakapan kecil diantara Hoseok dan Hansol. "Yoongi hyung sangat tidak pantas tersenyum seperti itu. Dia terlihat seperti siput buruk rupa yang berusaha tersenyum tampan pada merpati cantik." Lanjut Taehyung dengan seringai mengejek yang ia tunjukan pada kakaknya.

"Kau ingin mati ?" Desis Yoongi berbahaya. Atensinya pada Jimin teralihkan sempurna pada adik tirinya yang menyebalkan itu.

Taehyung terkekeh rendah. Sumpit digenggamannya mengarah dengan kurang ajarnya kearah pria silver itu. "Kenapa ? Aku berkata yang sebenarnya. Kau itu tidak pantas untuk Jimin, karena kau -asgskdkfldh !" Ucapan Taehyung terhenti seketika. Pria bersurai oranye itu mendelik tajam kearah Jungkook yang duduk disampingnya. Mendekap mulutnya dengan santai tanpa ada rasa bersalah diwajahnya. "Kau berisik atau aku akan menelanjangimu disini saat ini juga." Bisik Jungkook tepat ditelinga Taehyung. Mau tak mau membuat pria itu menurut juga -walau dengan wajah tertekuk sempurna.

"Aku percaya jika kalian sudah melakukan genjatan senjata sekarang." Ujar Hoseok mengomentari interaksi Yoongi dan Taehyung saat ini. Manik hitamnya mematai mereka sembari meminum milkshake digenggamannya.

"Oh, lihat apa yang aku lihat saat ini."

Mereka yang ada dimeja itu menolehkan kepala mereka kearah sumber suara. Menemukan pria paruh baya yang berdiri dibelakang Yoongi dengan pakaian santainya -sang kepala sekolah, Kim Heechul. "Santai saja, Jiminie." Ujar Heechul ketika melihat Jimin yang tengah membungkukkan badannya dalam setelah menyadari kehadirannya. Begitu sopan. Berbeda dengan yang lain. Diam dan memasang wajah bosan, seolah pria paruh baya itu bukanlah orang penting disekolah abnormal ini.

"Apa maumu, Pak Tua ?" Tanya Taehyung dengan nada bosan. Kelereng madunya menatap tidak minat pada pria berstatuskan ayahnya itu.

"Kau dan mulut kurang ajarmu, nak" Kim Heechul terkekeh mendengar sapaan tidak hangat tersebut. Semakin terkekeh melihat anak bandelnya itu mengaduh kesakitan karena dilempari sendok oleh Jimin. Dia dapat mendengar desisan kecil yang berbunyi 'tidak sopan' dari pria manis itu pada anaknya.

Pria paruh baya itu mengedarkan pandangan sejenak. Menatap seluruh penghuni kantin yang masih setia terdiam ditempat mereka. Benar - benar tenang, tidak seperti biasanya. Itu wajar, karena anak tirinya yang diakui mereka sebagai penguasa sekolah tidak suka keramaian. Dan mau tak mau mereka menuruti perintahnya atau mereka akan berurusan langsung dengan Min Yoongi yang terkenal tidak pernah memberi ampun pada siapapun itu.

"Oke semuanya." Pria paruh baya itu bertepuk tangan sekali, meminta atensi semua orang penghuni kantin untuk mendengarkan apa yang akan diucapkannya. "Aku ingin berkata. Selain orang yang ada dimeja dihadapanku, aku ingin kantin dikosongkan." Heechul tersenyum kecil setelah mengucapkannya. Manik miliknya menatap satu persatu wajah penghuni kantin yang masih terdiam ditempatnya. Tampak mencermati setiap untaian kata yang diucapkannya. "Sekarang." Dan mereka pun mulai melaksanakan perintah tanpa bantahan sedikitpun.

"Apa maumu, Kim Heechul ?" Tanya Yoongi dengan tatapan lurus kedepan. Tidak ingin menatap pada pria yang jauh lebih tua darinya. Auranya berubah kelam. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelum kedatangan Heechul ketempatnya berada.

Heechul tidak menjawab, pria itu memperhatikan tautan tangan Yoongi pada Jimin yang tengah bergetar takut karena perubahan aura Yoongi sendiri. Pria silver itu berusaha membuat Jimin tetap merasa nyaman disampingnya, walau Yoongi sendiri tau jika dialah penyebab getaran kecil pada tubuh Jimin. Melihatnya, Heechul hanya dapat menyunggingkan senyum kecilnya.

"Ada yang ingin bertemu denganmu, Yoongi-ya." Ujar Heechul kemudian. Dia kembali menyunggingkan senyumnya ketika kepala silver itu menoleh, membuatnya melihat lirikan tajam dari manik sekelam malam itu padanya.

"Siapa ?" Tanya Yoongi dengan intonasi datar.

Heechul tidak menjawab dan justru menyingkirkan badannya kesamping. Membuat mereka yang berada dimeja itu melihat seseorang yang ternyata sudah berdiri dibalik tubuh Heechul sedari tadi. Taehyung tersentak -tidak, mereka semua tersentak kaget dan tanpa basa basi bangkit dari acara duduk mereka. Memberikan bungkukan dalam pada sosok yang tengah berdiri angkuh dihadapan mereka. Minus untuk Yoongi yang masih setia diam ditempatnya dan Jimin yang aslinya ingin ikut membungkuk, tapi tertahan karena remasan kuat ditangannya terjadi ketika dia ingin bangkit dari duduknya.

Yoongi berdecih entah karena apa. Dengan perlahan dia bangkit dari tempatnya -sebelum menyuruh Jimin agar tetap duduk. Membalikkan tubuhnya kearah wanita paruh baya yang tengah menatap datar kearahnya. "Aku tidak menyangka akan mendapat kunjungan hari ini." Mulai Yoongi sembari balas menatap datar pada manik hitam lain dihadapannya. Pria silver itu menyunggingkan senyum, senyum miring berjuta makna yang hanya dia sendiri yang tau artinya.

"Apa kabar, eommonim ? Lama tidak berjumpa."

.

.

.

.

To be Continue

Note :

Entah sudah berapa lama aku mengabaikan fanfict ini (T.T). Oh astaga guys, maafkan aku *bow

Aku sungguh tidak tahu jika kehidupan sibukku di real life benar - benar membuatku mengabaikan fanfict ini. Aku berencana untuk hiatus saat bulan ramadhan dan sampai lebaran terakhir. Aku sibuk bekerja, karena aku bukanlah anak SMK lagi sekarang :'D

Dan sekarang aku mencoba untuk melanjutkan fanfict ini walau otakku harus terbagi dengan urusan pekerjaan dan bagaimana caranya agar fanfict ini tetap berlanjut sampai akhir. Doa kan saja agar aku bisa melakukan yang terbaik.

Terima kasih kepada seluruh readers ku yang sangat aku cintai. Terima kasih atas segala dukungan kalian dan juga review manis kalian. Tanpa kalian fanfict ini tidak mungkin berjalan sampai sejauh ini :'D

Emmm, aku tidak pernah membalas review kalian sebelum ini. Jadi aku akan membalasnya disini. Tidak semua, hanya review yang baru - baru ini saja yang akan aku balas. Maaf jika tidak semuanya :'D

Nadya797 : Terima kasih udah mau review ^_^

LittleOoh : Ini udah dilanjut ^_^ Terima kasih udah review ^_^

yoonminable : Wkwkwkwk iya itu. Semua harus diperjelas sampe sejelas - jelasnya XD hahaha, aku suka dimana maknae satu itu ngebangsat nyamain Yoongi XD kesannya gimana gitu :v Terima kasih udah review ^_^

: Makasih semangatnya ^_^ Thanks udah review ^_^

Serdadu Hatsuki : Tae itu unyu dan emang cocok banget kalo dijadiin uke XD Thanks udah review XD

IreneReiko-chan : Hahaha XD Cinta itu bisa naklukin segalanya XD Ini udah dilanjut, terima kasih ^_^

Isputri : Wkwkwkwk, sengaja bikin kaget XD Semua ini dibutuhkan untuk berlangsungnya jalan cerita XD Well mungkin kalo ada kesempatan, mungkin aku bakal bikin gimana mereka bisa ketemu dan tunangan kek gitu XD Si Yoongi mah emang begitu kalo sama si Taetae :v Sok tsundere, padahal aslinya sayang banget sama si Taetae XD Makasih udah review ^_^

YOONMINs : Udah dilanjut ini :D Terima kasih udah review ^_^

Akira ayzharu : Pengennya dibuat gitu :' tapi sayang ku tak tega Jimin diperlakukan kasar ama si Yoongi :' Kesian dianya T.T *halah. Terima kasih udah review ^_^

noonim : Woaaah, langsung 3 review XD Benarkah ? Aku baru sadar XD *gak ngeliat gimana alur ceritanya. Kenapa teriak ? Kukira itu biasa saja ? XD Iya, si Jimin itu aslinya cembokuran. Baperan. Tapi aslinya dia rapuh asli. Aku suka sama Jimin yang malu - malu, lemah kek gitu XD kan nanti Yoongi bisa ngelindungi Jimin dengan sekuat tenaga dia XD *bilang aja pengen nyiksa si Yoongi *rencana terselubung. Terima kasih reviewnya ^_^

ChiminsCake : Masa indah sih ? XD Terima kasih udah mau review ^_^

Thanks to all readers sekali lagi ^_^

Terus dukung fanfictku ya. Agar aku bisa menghibur kalian lewat karya abal - abal ku ini ^_^

Maafkan karena typo, alur, dan kata - kata yang tidak jelas lainnya. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat fanfict ini agar enak dibaca dan membuat kalian senang. Tapi terkadang apa yang menjadi ekspetasi tidak bisa sesuai dengan realita ^_^

Sekian dariku ^_^

Terima kasih

Semarang, 16 Juli 2018

©Minyoonsh510