Killing Time
Naruto punya Kishimoto-sensei saya hanya meminjam tokohnya saja.
AU, OOC, dan Typo(s) mungkin.
Author : Go Mio
Pair : SasuSaku
Selamat membaca! XD
.
.
"Lalu kalau kau sendiri bagaimana?" tanya Sakura setelah menjawab pertanyaan Sasuke tentang kehidupan percintaannya.
"Kalau sekarang tidak ada."
'Berarti dulu pernah ada,' Sakura mengingat kembali foto yang ada dikamar Sasuke, "Tadi aku masuk ke kamarmu, melihat-lihat," lebih tepatnya sih mengintip. "Wanita yang ada di foto itu siapa?"
Sakura hampir merasakan wajah Sasuke yang sedikit bersedih, tapi Sasuke tetap menjawab pertanyaanya. "Itu Ino. Dia tunanganku. Dia meninggal tujuh tahun yang lalu."
Dengan simpatik Sakura menyentuh lengan Sasuke. "Aku turut bersedih. Apakah sudah ada penggantinya sejak saat itu?"
"Pernah untuk menjalin hubungan sesekali, tapi tidak bisa dibawa untuk serius," jawab Sasuke dengan wajah murungnya.
'Tujuh tahun? Dan dia masih setia pada wanita itu secara emosional?! Ternyata dia tipe pria yang setia,' pikir Sakura tersenyum memandangi Sasuke. "Kau pasti sangat mencintainya. Dia pasti sangat bahagia sekali bisa dicintai olehmu." Ucap Sakura tulus.
"Aku memang sangat mencintainya dan aku hampir saja tidak bisa mengatasi rasa kesedihanku karena ditingalkan olehnya. Dan rasa kehilangan dan kesedihanku pun perlahan-lahan memudar seiring berjalannya waktu, aku biar bagaimanapun juga harus tetap melanjutkan hidupku, bukan?!"
Mata Sasuke menerawang keluar jendela, melihat langit yang kelam. Karena malam memang sudah larut, dan malam ini pun sepertinya langit terlihat mendung karena tidak ada bintang satu pun di atas sana.
"Kurasa saat kau mengganti pakaianmu, langit sudah cukup gelap untuk kita berangkat," ucap Sasuke kemudian, menghentikan pembicaraan tentang masa lalu Sasuke. Yang tak ingin diingatnya lagi.
Sambil tersenyum Sakura meraih koper dan kantung belanjaan pakaian yang tadi Sasuke belikan untuknya, lalu berjalan menuju kamar dan menutup pintunya. Dibukanya kantung belanjaan dan mengeluarkan topi, dua celana jins, dua kaus, sepasang sepatu kets, dan sepasang kaus kaki. Karena ingin memastikan, Sakura melihat lebel pada pakaiannya dan bergetar saat mengetahui kaus itu terbuat dari katun. Selama hidupnya dia tidak pernah mampu untuk membeli sebuah kaus atau pun baju yang terbuat dari bahan katun.
Dengan cepat dia melepas semua pakaiaanya. Dua jins itu terlihat mirip, jadi dia meraih celana yang berada ditumpukkan paling atas saja, sebelum mengenakannya dia mencopot lebelnya terlebih dahulu. Celananya terasa sedikit longgar tetapi panjangnya cukup. Lalu dia meraih kaus yang berwarna cokelat dan memakainya. Kemudian dia menatap dirinya ke dalam cermin, lalu mengeluarkan lenguhan kegembiraan.
"Aku terlihat seperti... seperti seseorang dari abad dua puluh!" gumam Sakura pelan. "Mungkin orang-orang yang siang ini bertemu denganku, mereka pasti tidak akan mengenaliku lagi kalau berpenampilan seperti ini."
Lalu Sakura memasang topi ke kepalanya dan menatap dirinya kembali ke cermin. Setelah puas melihat penampilannya, dia memakai kaos kaki dan juga sepatu barunya, kemudian berjalan ke ruang utama dimana Sasuke sedang menunggunya.
"Bagaimana?" tanya Sakura lagi, seperti sebelumnya.
Sasuke mengangguk puas, "Tidak akan ada yang mengenalimu. Buka topimu dan ikat rambutmu kebelakang."
Sakura dengan patuh melepas topinya, lalu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Sedangkan Sasuke pergi ke dapur dan kembali dengan karet gelang yang disodorkan pada Sakura, untuk digunakan wanita itu sebagai pengikat rambutnya. Setelah mengikat rapih rambutnya Sakura memakai topinya kembali. "Dibuat dari apa pengikat rambut ini?"
"Itu karet gelang yang biasa kugunakan untuk mengikat kantong sampah. Aku tidak mempunyai ikat rambut lain, jadi untuk sementara pakai saja itu dulu."
"Oh ya, aku memerlukan kemeja atau jaket untuk menutupi senjataku," ujar Sakura berhenti sejenak, menyipitkan matanya menatap Sasuke. "Kau akan mengembalikan senjataku, kan?"
Sasuke mengangkat bahunya, selintas senyum mengejek melukisi wajahnya. "Kenapa kau menginginkannya? Kau kan sudah punya tube laser, dan efeknya lebih dahsyat dari pada pistol."
"Memang, aku akan menggunakannya jika diperlukan. Tapi kalau aku bisa menghindari perhatian orang lain, bukankah menurutmu itu lebih baik?"
"Mengalihkan perhatian orang lain memang hal terbaik. Namun jika kau terlihat membawa senjata, maka secara otomatis kau akan terlihat sebagai polisi, dan bukankah kita ingin menghindari itu."
Sasuke berhenti sejenak dan melanjutkan, "Baiklah aku akan mengembalikannya. Senjatamu ada di dalam mobil. Nanti akanku kembalikan, tapi taruh di dalam tasmu," Sasuke memperhatikan cuaca di luar, lalu berkata kembali. "Sepertinya, cuaca memang terasa cukup dinging malam ini, jadi kau memang memerlukan sesuatu dari sekedar kaus yang kau kenakan. Tunggu sebentar."
Sasuke masuk ke dalam kamar tidurnya dan keluar dalam sekejap dengan memegang sebuah kemeja kotak-kotak miliknya pada Sakura. "Pakai ini."
Sakura menerimanya lalu memakainya, kemeja ini terasa kebesaran di tubuh Sakura yang kecil. Sakura menggulung lengan kemeja sampai ke sikunya dan membiarkan kemeja itu terbuka, menggangtung ditubuhnya. "Aku sudah siap, kecuali kalau ada hal lainnya yang kau lupakan."
"Oh ya! Masih ada satu lagi," ujar Sasuke, dan tanpa peringatan dia kembali mengecup bibir Sakura lagi dan pergi meninggalkan Sakura yang mematung.
.
.
Setelah insiden pengecupan di depan pintu beranda belakang tadi, suasana di dalam mobil menjadi hening. Sasuke yang memperhatikan Sakura merasa khawatir kalau Sakura akan marah karena kelakuannya tadi, dan juga takut kalau Sakura akan menolak untuk diciumnya lagi. Sedang Sakura sendiri berusaha untuk mengembalikan kendali dirinya lagi.
Tadi sebelum keluar dari perkomplekan perumahan ini, Sakura duduk merunduk untuk mencegah ada seseorang yang melihat Sakura. Setelah Sasuke mengemudikan mobilnya keluar dari daerah perkomplekan Sakura duduk ke bentuk semula.
Dalam perjalan sesekali Sasuke melirik Sakura, sambil memikirkan kembali pembicaraannya tadi dengan atasannya, Asuma Sarutobi. Tadi dia berbohong pada atasannya, kalau agen FBI ini sudah pergi meninggalkan kota ini dengan dalih, kalau kasus yang sedang ditangani Sakura tidak berhubungan dengan pembunuhan Hidan.
Entah mengapa Sasuke merasa sangat ingin melindungi wanita itu, dia seperti seseorang yang sedang terhipnotis oleh aura dari seorang wanita berambut bubble gum yang berada disampingnya ini. Tapi ada satu hal yang sangat mengganjal hati Sasuke dari wanita ini, yaitu sikap Sakura yang sangat tenang dan bisa dengan cepat kembali ke sikap awalnya yang tenang setelah menghadapi situasi yang berbahaya.
Padahal kalau untuk ukuran seorang agen yang baru direkrut ataupun petugas polisi biasa, tak akan mampu mengendalikan dirinya sebaik wanita ini. 'Apa benar dalam pelatihannya wanita itu mendapatkan sebuah pelatihan khusus untuk sebuah pengendalian diri? Seperti yang pernah wanita itu katan padanya? Atau jangan-jangan dia adalah sebuah robot yang dikirim dari masa depan, untuk mengungkapkan kasus ini? Itu mungkin saja bukan? Di masa depan mungkin saja sebuah robot yang hampir menyerupai manusia telah berhasil dibuat. Seperti film Terminator, robot yang persis seperti manusia.'
'Tapi kenapa? Kenapa, jika dia memang sebuah robot, bisa memiliki rasa hangat ditubuhnya? Kenapa dia bisa makan? Dan juga kenapa dia bisa terasa begitu manis saat aku mengecup bibirnya?'
"Robot?! Heh, itu tidak mungkin Sasuke," gumam Sasuke pelan. "Imajinasimu terlalu berlebihan, bodoh."
Pikiran Sasuke saat itu dipenuhi pemikiran kalau Sakura adalah sebuah robot dari masa depan. Tapi dia juga berusaha membantah pemikirannya. Pada akhirnya karena terlalu penasaran, akhirnya dia bertanya juga.
"Kau ini sebenarnya apa, sih?"
"Hm, apa?" Sakura memutar kepalanya dan menatap Sasuke. Alisnya berkerut karena kebingungan dengan maksud Sasuke, tapi Sasuke malah salah mengartikan itu. Sasuke menduga kalau Sakura tak senang ditanyai seperti itu.
"Apa kita akan melewati sesi tanya jawab lagi? Apa kau masih belum percaya kalau aku seorang agen FBI?"
"Bukan itu. Maksudku, kau itu seorang manusia atau bukan?" tanya Sasuke takut.
Sakura terdim sejenak dengan pertanyaan itu, "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Karena sikapmu. Habis kau tidak bersikap seperti orang pada umumnya. Kau terlihat seperti sesuatu yang memiliki batasan-batasan dalam berprilaku, seakan kau sangat takut untuk berekspresi. Contohnya saat kau berciuman denganku, padahal kau menginginkan ciuman itu, kan? Tapi kau malah menolakku dan menjauhiku. Dan juga dalam sehari ini, aku hanya melihat ekspresi terkejutmu saja, itu pun hanya saat kau menembak agen lain siang ini. Apa memang benar kalau kau sebuah robot yang dikrim dari masa depan?"
Untuk sesaat Sakura tecenang dengan pernyataan Sasuke, kemudian menjawabnya dengan tenang. "Bukan! Aku... aku manusia," dengan mengepalkan tangan dan menundukkan kepalanya, Sakura kembali berbicara. "Maaf, kalau sikapku ini sudah mengganggumu. Bukan maksudku untuk bersikap seperti itu padamu."
Sasuke mengira Sakura akan marah karena pernyataannya, tapi pada kenyataanya Sakura malah meminta maaf padanya. Hal itu membuat Sasuke menjadi merasa bersalah karena sudah menanyakan hal-hal aneh pada wanita itu. Saat Sasuke ingin berucap lagi. Sakura malah membuang wajahnya. Membuat Sasuke mengurungkan niatnya untuk meminta maaf.
Jadi dalam sisa perjalan menuju rumah Ayah Sasuke, dipenuhi oleh keheningan dan suasana suram, yang membuat Sasuke merasa tidak nyaman. Sementara keadaan Sakura sendiri, dia sedang berpikir keras.
Ya berpikir keras. Apa penyebab Sasuke jadi berpikiran seperti itu padanya. Padahal dia sudah mempelajari berbagai hal untuk bersikap dengan baik dimasa ini, padahal dia sudah berusaha, berusaha dengan keras untuk menutupi kekurangan terbesarnya itu.
'Kenapa? Kenapa Sasuke bisa menyadari itu? Bukankah aku sudah bersikap sewajar mungkin di zaman ini? Apa... apa yang salah?'
Hal ini lah yang terus Sakura pikirkan, dia takut. Takut kalau rahasianya diketahui Sasuke, dan jika rahasianya ini diketahui... maka tak ada kesempatan untuknya bisa kembali kemasanya.
Karena jika rahasianya terbongkar, saat dia kembali ke zamanya nanti dia akan langsung dijebloskan ke penjara dengan hukuman seumur hidup. Sudah banyak orang yang mirip dan senasib dengannya berakhir di penjara, dan yang paling mengenaskan mereka akan bernasih di mesin penghancur.
Ingin sekali Sakura bertanya apa yang telah dilakukannya, tapi dia takut kalau Sasuke akan benar-benar tahu soal rahasia ini. Padahal dia bisa menyebunyikan ini dari sahabat dan teman-temannya, itu juga karena hukum yang terus menekannya, sehingga dia mampu bersikap dengan wajar walau dalam tekanan itu.
Pada akhirnya Sakura membiarkan, Sasuke berpikiran kalau dirinya adalah robot. Dari pada Sasuke mengetahui kenyataan yang akan membuat Sasuke menjauhi dirinya. Jadi dia mengambil jalan yang sama seperti sebelumnya. Membiarkan dirinya dalam tekanan itu lagi.
'Semoga ini keputusanku yang tepat, Tuhan!' doa Sakura dalam hatinya.
.
.
Sesampainya di gedung pengadilan, Sasuke langsung mengarahkan mobilnya menuju daerah terlarang, tempat tahanan-tahanan berbahaya ditawan, yang jaraknya jauh dari pengelihatan masyarakat sekitar.
"Mana kunci mobilmu?" tanya Sasuke pada akhirnya, setelah suasana hening tadi.
Sakura memberikan kunci mobilnya tanpa sepatah katapun.
"Kau bisa mengendarai mobilku ini, kan?" tanya Sasuke dan Sakura hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bagus kalau begitu. Kau tunggu dulu di sini selama lima menit. Pada saat itu aku sudah membawa mobilmu pergi dari daerah sini," ucap Sasuke dan Sakura memperhatikan. "Nanti setelah lima menit berlalu, kau bawalah mobilku keluar melalui jalan masuk yang kita lewati tadi dan berbelok ke kanan. Lima blok dari sini nanti akan ada toko mainan di sudut kiri. Aku akan menunggumu di situ."
Rupanya Sasuke akan mengambil rute yang berbeda, guna untuk memeriksa apakah ada orang yang mengikuti mobil sewaan Sakura, jika memang mobil sewaan itu diawasi maka siapa pun penguntit itu akan melihat yang mengendarainya adalah seorang pria, bukannya wanita. Orang itu akan menduga kalau pria(Sasuke) sebagai orang yang akan mengantarkan mobil sewaan itu ke Sakura. Dan Sasuke berpikir kalau lima menit sudah cuku bagi Sakura untuk menghindar dari penguntitnya.
Sasuke keluar dari mobil dan Sakura bergeser ke kursi pengemudi. Sebelum pergi Sasuke memberi pesan pada Sakura.
"Jika nanti aku tidak menunggumu di sana, jangan panik," ujar Sasuke memberi petunjuk. "Tetap di sana. Cepat atau lambat aku pasti akan ketempat itu. Oh ya, satu hal lagi. Nanti saat kita sampai ke tempat ayahku, tetap berada di dalam mobil. Di dalam kegelapan ayahku tidak akan bisa melihatmu. Jika pun ayahku melihatmu, dia akan berpikir kalau kau hanya deputiku."
Setelah itu Sasuke pergi, masuk ke dalam gedung pengadilan. Kemudian Sasuke berjalan dengan terang-terangan ke arah parkiran. Sementara itu Sakura memutar mobil sehingga dia menghadap pintu keluar, lalu mengamati jam digital yang berada di dasbor mobil. Sakura mengangap angka yang berjalan di jam itu sangat pelan sekali, yang membuat waktu yang hanya lima menit seperti waktu yang berjam-jam.
Tepat saat jam sudah menunjukkan lima menit berlalu. Sakura memakai sabuk pengamannya, dan menyetir mobil sekali lagi, kemudian dengan hati-hati dia memasukkan gigi ke posisi maju dengan menekan pedal gas perlahan. Mobil yang dikemudikannya bergerak maju dengan mulus.
Sakura mengemudikan mobilnya dengan tidak terburu-buru. Setelah mencapai gerbang keluar lapangan parkir, Sakura membelokkan mobilnya ke arah kanan. Sepanjang perjalan menuju toko mainan dia menatap kaca spion untuk melihat apakah ada yang mengikutinya, dan syukurnya tidak ada yang mengikuti.
Begitu membelok ke lapangan parkir toko mainan Sakura melihat Sasuke dengan mobil sewaanya. Saat Sasuke melihat kedatangan Sakura, dia mengangguk singkat kemudian mengemudikan mobilnya ke jalan dan Sakura mengikutinya dari belakang.
Perjalan dari toko mainan untuk mencapai perumahan ayah Sasuke membutuhkan waktu lima belas menit. Saat memasuki perumahan ayah Sasuke cahaya lampu jalan agak sedikit meredup, menyebabkan penerangan di jalan hanya berasal dari lampu mobil yang dikemudikan mereka berdua.
Sakura sendiri sedang berusaha untuk memusatkan perhatiannya ke mobil di depannya, guna untuk mengatur kesetabilan kecepatan, menjaga jarak antara mobil yang dikemudikannya dengan mobil yang dikemudikan Sasuke.
Pada saat Sasuke keluar dari jalan utama perumahan menuju jalan yang lebih kecil, ucapan yang tadi Sasuke utarakan kembali terngiang di telingannya dan berputar-putar dalam pikirannya.
'Apa kau ini robot?'
'Sasuke sepertinya kau benar, kalau aku ini adalah sebuah robot. Robot yang diatur dalam setiap bersikap.'
Saat lampu mobil yang dikemudikan Sasuke menyilaukan mata Sakura, Sakura segera mengeremkan mobilnya secara mendadak. Ternyata Sasuke memelankan laju mobilnya, karena memasuki jalan yang semakin menyempit.
Saat sampai diujung jalan Sasuke membelokkan mobilnya ke kanan, kejalan yang panjang dan lebar seperti jalan utama tadi, di sepanjang perjalan itu terdapat banyak pepohonan tinggi. Tepat saat mencapai sebuah rumah bergaya Jepang kuno yang memiliki sebuah gudang penyimpanan disisi kanan rumah. Sasuke memberhentikan mobilnya, dan kemudian memencet kelakson mobilnya. Dan pada saat itulah seorang pria paruh baya mendekat ke arah mobil yang Sasuke tumpangi, Sasuke segera keluar dari mobil dan berbicara dengan ayahnya. Berdasarkan penampilan kalau menurut Sakura, Sasuke dan ayahnya memiliki tinggi dan bahu yang lebar yang sama, bahkan wajah mereka hampir sama.
Setelah selesai berbicara, ayahnya Sasuke memasuki gudangnya dan menyelakan lampu gudang itu. Setelahnya Sasuke memasukkan mobil sewaan Sakura ke dalam gudang itu, kemudian menutup mobilnya dengan terlapal yang sudah disiapkan ayahnya tadi. Setelah selesai, Sasuke menutup pintu gudang kemudian ayahnya mengikat pintu gudang dengan rantai dan digembok, dengan gembok besar.
Setelah selesai dengan kegiatannya, ayah Sasuke melirik ke arah Sakura yang ada di dalam mobil, walaupun Sakura tahu bahwa pria itu tidak akan bisa melihatnya dengan jelas, Sakura masih bisa merasakan kecurigaan ayah Sasuke dari tatapan pria paruh baya itu yang semakin menyipitkan matanya.
Seakan tersadar Sakura mematikan mesin mobil, kemudian dengan gugup akhirnya menemukan tombol untuk mematikan lampu depan mobil. Dengan ketetapan hati, perlahan Sakura keluar dari dalam mobil, berhati-hati untuk tidak tersandung dikegelapan, dia berjalan mendekati kedua pria itu.
Tanpa memperdulikan tatapan ketidaksukaan Sasuke, Sakura berjalan mendekati Ayahnya. Karena Sakura sudah terlalu kesal dengan perkataan Sasuke tadi. Jadi dia tidak mau memperdulikan lagi, kalau Sasuke akan marah padanya nanti.
"Wah, halo," ujar ayahnya Sasuke. "Kupikir salah satu deputi yang biasa mengantarkan mobi Sasuke."
"Seharusnya kau tetap tinggal di dalam mobil," ujar Sasuke dengan nada marah.
"Kau memang menyuruhku untuk tetap tinggal di dalam mobil," jawab Sakura dengan nada yang sama marahnya. "Kau juga menyebutku robot hanya karena aku tidak merespon ciumanmu dan membuatmu kecewa dengan ciuman itu, iya kan? Jadi kenapa aku harus menuruti apa yang kau katakan?"
Terdengar suara tersedak dari mulut Sasuke, yang lalu terdengar juga dari mulut ayahnya. Sakura tidak bisa mempercayai ini ternyata dia bisa mengatakan hal ini di depan ayah Sasuke, namun dia tidak memperdulikannya.
Tanpa memperdulikan Sasuke lagi, Sakura menghadap Ayah Sasuke lalu mengulurkan tangannya. "Halo, aku Haruno Sakura."
Sang ayah menyambut uluran tangan Sakura. "Uchiha Fugaku. Senang bisa bertemu denganmu," Fugaku langsung memberi tatapan penuh tanya pada anaknya. "Sasuke? Apa yang..."
"Aku tidak... maksudku, aku memang bertanya padamu apa kau ini robot atau bukan," ucap Sasuke kepada Sakura. "Tapi aku tidak..."
"Kenapa kau berkata seperti itu padanya?" tanya ayahnya.
"Karena berbagai hal lainnya juga," jawab Sasuke.
"Oh ya, aku ingat. Aku tidak bisa menunjukkan ekspresiku saat aku senang, sedih, kesal, dan juga bergairah padamu, karena menurutmu aku ini adalah robot. Dan perkataan yang mana yang tadi tidak kau ucapkan padaku."
Fugaku mengusap rambutnya dengan canggung. Dia berharap untuk tidak terjebak di tengah pembicaraan ini. "Ano-kalian berdua ini berkencan, atau bagaimana?"
"Tidak," jawab Sakura.
"Lalu bagaimana Sasuke bisa...?" Fugaku menghentikan ucapannya dan merasa malu karena ingin bertanya hal itu.
Karena rasa kesal Sakura pada Sasuke sudah di ujung tanduk, akhirnya Sakura meneruskan pertanyaan dari Fugaku. "Bagaimana dia bisa mengetahui kalau aku bergairah atau tidak?"
"Sakura, hentikan," ucap Sasuke marah.
"Jangan menyuruhku berhenti!" teriak Sakura memutar tubuhnya menghadap Sasuke. "Dalam hidupku, aku sangat takut untuk mengeluarkan ekspresiku. Apa kau tahu itu? Aku takut begini, aku takut begitu, aku takut seseorang akan berpikir kalau aku ini berbahaya dan kalau sampai orang berpikir seperti itu maka aku... aku.. aku akan berakhir.. tidak!"
Karena terlalu menahan emosinya, air mata sudah mengenang di pelupuk matanya yang membuat Sakura tersentak. "Tidak, aku tidak menangis," ujar Sakura sambil menghapus air matanya. "Bahkan aku takut untuk menangis."
"Sakura... sudah hentikanlah," ucap Sasuke melembut. "Kau tidak perlu menangis. Aku tahu kau marah padaku, kalau kau mau pukul saja aku. Ayo, kepalkan tanganmu dan tinju wajahku dengan kekuatanmu yang paling hebat."
"Sasuke!" seru Fugaku berusaha menghentikan apa yang Sasuke lakukan.
"Kau... jangan mengejekku!" ujar Sakura dengan amarah yang berusaha dibendungnya, tangannya sudah mulai dikepalkan.
"Kalau hal itu membuatmu merasa lebih baik, silahkan lakukanlah."
Memang akan terasa lebih baik bagi Sakura, dan dengan bersungguh-sungguh Sakura pun akan melakukannya. Tanpa memberi peringatan pada Sasuke, kepalan tangan Sakura sudah mendarat di hidungnya, yang menyebabkan Sasuke terjengkang dan akhirnya terjatuh.
"Astaga!" ucap Sasuke dan Fugaku secara bersamaan.
"Rasakan itu!"
.
.
.
TBC
