Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Because Of You milik Bird Paradise
Pair: Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata
Rated M
Genre: Romence, Drama, Tragedi, Angst, Hurt/Comfort.
Warning
AU, OOC, Typo(s), Gaje, Abal, Ide pasaran. dan tentunya warning-warning lainnya.
Uchiha Sasuke, Namikaze Naruto, Hyuuga Neji: 22 tahun
Hyuuga Hinata. Yamanaka Ino, Lee Tenten, Matsuri: 16 tahun
Shion, 18 tahun
Yakushi Kabuto, Uchiha Itachi, Konan: 27 tahun
.
.
Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
.
.
.
Tidak akan pernah ada duka yang abadi bila kita mampu menepisnya. Melewati bahkan melompatinya, sekalipun itu adalah lingkaran api yang mampu menggores luka disekujur tubuh. Begitupun dengan wanita muda bersurai indigo yang sudah beberapa bulan ini selalu berusaha menebar senyum bahagia walaupun sebenarnya hatinya dirundung duka lara.
Hari-harinya yang semakin terasa berat ia lalui sendiri. Namun ada beberapa hal yang tetap mampu membuatnya bertahan. Bayi yang ada dirahimnya dan kesembuhan kakaknya.
Ia harus tetap bertahan demi dua nyawa yang paling berharga baginya itu. Perutnya yang makin membesar membuatnya sedikit kesulitan melakukan aktivitas. Biasanya Hinata hanya membutuhkan waktu kurang lebih limabelas menit dari apartemennya menuju rumah sakit dengan berjalan kaki.
Namun sejak usia kandungannya memasuki usia delapan bulan, Hinata memerlukan lebih banyak waktu untuk ke rumah sakit. Tapi semua itu tidak menjadi halangan baginya yang terus menunggui kakaknya yang masih terbaring koma hampir satu tahun.
Seperti pagi ini, setelah wanita muda itu menyelesaikan tugasnya di apartemen, Hinata langsung bergegas ke rumah sakit dengan berjalan kaki. Ia sengaja melakukan itu untuk melatih otot-otot pinggulnya sesuai saran dokter.
Perutnya yang sudah membuncit sempurna membuat jalannya menjadi sedikit lamban, tapi Hinata merasa sangat sehat dan sama sekali tak terganggu. Ia berjalan dengan riang walaupun sendirian. Biasanya Kakashi selalu setia menemaninya. Karena pagi ini Kakashi tidak bisa mengantar seperti biasanya dikarenakan ada urusan -yang katanya sangat penting.
"Ohayou Nii-san …" sapa Hinata pelan yang tentu saja tak akan mendapat balasan dari Neji. Keringat nampak di pelipisnya namun seakan tak dihiraukannya. Ia terlalu bahagia saat amethyst indahnya menangkap wajah sang kakak yang begitu damai dalam tidurnya.
"Hari ini 'dia' genap berusia tigapuluh dua minggu. Artinya, sebentar lagi dia akan lahir," Hinata memandang lembut kakaknya dan mengelus pelan tangan yang terasa begitu dingin itu. "aku mohon … kakak bangun agar aku tak sendirian …" imbuhnya lirih.
Setiap hari Hinata selalu memberikan semangat agar kakaknya cepat terbangun dari mimpi tak berujungnya. Ia takkan pernah menyerah. Karena dokter Terumi mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sangat direspon oleh Neji. Merangsang otaknya, walaupun Neji belum bisa membuka matanya dan menggerakan anggota tubuhnya tapi setidaknya, semua itu memberikan dampak positif.
.
.
.
"Saya sudah berhasil melacak keberadaan Hatake Kakashi, Orochimaru-sama," lapor ajudan setia bermarga Yakushi tersebut.
"Hn, kalau begitu cepat tangkap dan bawa kotak itu secepatnya padaku," jawab Orochimaru sambil memperlihatkan gigi taringnya yang sedikit memanjang.
"Hai! Tapi mungkin sedikit memakan waktu tuan…" ujar Kabuto selanjutnya.
"Hn… semua itu tak jadi soal untukku. Asalkan kau mampu menyelesaikannya dengan baik." Entah mengapa kali ini manusia berwajah menyerupai ular itu sedikit berbaik hati. Tidak memaksakan kehendak seperti kebiasaannya.
.
.
.
Suigetsu terus menghisap rokoknya kuat-kuat. Dia adalah seorang pelacak dan mata-mata yang handal. Walaupun memakan waktu lebih dari setengah tahun, akhirnya ia mampu mengetahui keberadaan seorang gadis yang sanggup membuat atasannya berubah menjadi begitu pendiam.
Namun yang membuatnya gusar adalah kenyataan ketika ia memberitahukan kabar -yang seharusnya sangat menggembirakan bagi bos-nya tersebut- tapi malah tidak mendapatkan respon sebagaimana yang ada dalam bayangannya.
Sasuke hanya diam saat ia memberitahukan kabar tersebut. Sama sekali tidak ada ekspresi berarti yang nampak dari wajah rupawannya kecuali tetap datar. Suigetsu benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam otak jenius atasannya tersebut. Bukankah dulu Sasuke sangat menggebu-gebu menyuruhnya mencari keberadaan gadis itu?
Tapi kenapa setelah ia mengetahui letak –dimana gadis itu tinggal- Sasuke tampak semakin terpuruk. Apakah ada kata-katanya yang salah saat memberitahukan keadaan gadis itu?
Ia hanya mengatakan gadis itu tinggal bersama seorang lelaki tampan yang terlihat dewasa dengan keadaan baik-baik saja dan perutnya yang membuncit –yang artinya gadis itu sedang hamil. Suigetsu mengatakan apa yang ia ketahui dan sama sekali tidak menyembunyikan kebohongan apapun.
Tapi kenapa bos-nya itu tampak lebih suram? Argh! … Suigetsu merasa benar-benar frustasi. Apakah ada sesuatu antara Sasuke dan gadis Hyuuga itu? Seketika Suigetsu langsung mencampakkan dengan sadis puntung rokok yang baru ia hisap dengan kasar.
Kenapa otaknya menjadi demikian tumpul? Harusnya selama ini ia sadar bahwa Sasuke tidak pernah peduli dengan orang lain. Dan kenapa waktu itu teman sekaligus atasannya tersebut dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran menyuruhnya untuk mencari keberadaan gadis itu.
Sudah barang tentu ada arti yang begitu penting –gadis Hyuuga itu- bagi Sasuke. Kenapa yang ada dikepalanya hanya jumlah uang yang akan Sasuke berikan padanya apabila ia menemukan keberadaan gadis itu?
Shiit! Sekarang Suigetsu sadar bahwa ada kata-katanya yang salah. Tidak seharusnya ia mengatakan bahwa Hinata tinggal bersama seorang pria dengan keadaan hamil. Sudah pasti Sasuke menduga bahwa lelaki itu adalah suami atau siapapun orang terdekat bagi gadis itu.
Seharusnya sebelum mengatakan hasil pencariannya, ia lebih dulu mencari tahu siapa lelaki itu. Ya. Dia akan mencari tahu siapa lelaki yang bersama gadis Hyuuga itu.
.
.
.
Sudah bertahun-tahun lamanya Sasuke tidak pernah meneteskan air mata dari kedua obsidian pekatnya. Tidak, semenjak kakaknya menghilang. Namun kai ini, air mata itu luruh.
Sasuke hanya terdiam dibalik meja kerja dengan kedua tangan yang meremas pelan kertas yang berserakan dihadapannya. Dan tatapan mata yang sungguh memilukan bagi siapapun yang melihat.
Hatinya seakan dihimpit baja panas yang membuatnya merasakan sakit luar biasa. Ia tak pernah menyangka bahwa selama penantian diamnya, ia harus mendapatkan kenyataan bahwa gadis yang selama ini dicintai dan selalu ditunggunya sudah hidup bahagia dengan pria lain tanpa menilik kebelakang lagi.
Tanpa melihat dirinya yang seakan habis menunggu kebahagiaan yang ia pikir akan menghampirinya. Namun seakan hal kosong.
Hanya ilusi yang ia tunggu.
Benarkah Hinata tega melakukan ini padanya? Benarkah gadis itu tega meninggalkannya setelah mengetahui semua sisi gelap dirinya?
Dan hidup senang sendirian tanpa memikirkan lagi Sasuke Uchiha yang begitu menyedihkan? Air mata terus mengalir dari kedua manik sehitam malam itu. Namun Sasuke seakan tak menyadari bahwa dirinya kini sedang menangis.
.
.
.
"Nenek, aku ingin pulang…" gumaman pelan yang meluncur dari bibir pucat itu sontak mengintrupsi kegiatan sang nenek yang sedang menyiram bunga.
Nenek yang usianya hampir menginjak enampuluh tahun itu masih terlihat sehat dan enerjik. Ia meletakan sejenak alat penyiram bunga dan menghampiri kursi roda yang menopang tubuh majikan yang sudah ia rawat lebih dari tiga tahun.
"Tuan muda masih belum terlalu sehat. Sebaiknya Anda disini dulu sampai benar-benar bisa berjalan normal," jawabnya dengan suara yang begitu menenangkan.
"Tapi aku merindukan rumah …" mata obsidiannya menatap tanpa fokus yang jelas di pelataran rumah mungil tersebut. "… aku merindukan Sasuke," imbuhnya dengan suara datar. Sekali lagi, ucapannya tersebut membuat nenek itu terkejut luar biasa.
"Anda sudah mampu mengingat tuan muda Sasuke?" tanya sang nenek lebih antusias. Perlahan mata hitam itu bergulir kesamping. Menatap sang nenek yang selalu menjaganya.
"Aku sudah mengingatnya sejak lama…" jawaban singkat yang terlontar dari bibir tipis itu benar-benar membuat sang nenek terlihat makin bingung.
Selama ini yang ia ketahui adalah tuan mudanya ini masih mengalami gangguan ingatan. Setelah selama dua tahun menjalani rawat intensif karena jiwanya yang sedikit terganggu, akhirnya tuan mudanya diperbolehkan untuk menjalani rawat jalan.
Dan disinilah, disebuah tempat yang sedikit jauh dari hingar bingar kota besar. Itachi Uchiha menjalani hari-harinya demi kembali menjadi normal. Ia memang sudah sembuh dari 'penyakit jiwanya' tapi ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya, termasuk adik satu-satunya, Sasuke Uchiha.
Dan sekarang, baru saja tuan mudanya mengatakan bahwa ia sudah mengingatnya. Berarti –mungkin- masa lalu kelam yang membuatnya harus menanggung penderitaan selama ini, dia juga sudah ingat.
"Tuan muda sudah mengingat semuanya?" pertanyaan yang mempunyai begitu banyak arti. Namun nenek Chiyo tahu bahwa tuan mudanya itu jenius.
"Ya… termasuk saat orang-orang itu memperkosa Konan di depan mataku…" ada kabut pilu yang terlihat dari tatapan mata yang dulunya begitu tajam. "… dan saat orang-orang itu juga menyiksaku di depan mata Sasuke."
Ya Itachi sudah mengingat semuanya.
Bagaimana dengan sadisnya mereka beramai-ramai memperkosa Konan. Dan tanpa ampun langsung menodongkan pistol ke kepala gadis yang sangat dicintainya hingga membuat nyawanya melayang.
Dan bagaimana saat orang-orang bangsat itu membuat adik satu-satunya menjerit histeris saat kedua matanya yang masih polos harus disuguhi pemandangan yang membuat jiwanya tergoncang. Ya, saat kakak satu-satunya disiksa tanpa ampun di depan matanya.
Itachi tidak akan pernah melupakan semua itu seumur hidupnya. Dan ada satu pertanyaan yang masih belum terjawab. Kenapa Orochmaru melakukan ini semua pada keluarganya? Apakah keluarga Uchiha pernah melakukan kesalahan besar padanya?
Itachi tak pernah tahu alasan apa yang mendasari perbuatan keji lelaki itu. Mungkin hanya pamannya lah yang mengetahui alasannya. Walaupun saat ini ia belum bisa membalaskan dendam seluruh anggota keluarga yang pernah disakiti pria itu dengan kondisi tubuhnya yang belum pulih.
Tapi setidaknya, ia bisa menampakkan diri dihadapan adik yang sangat dirindukannya. Ia tak pernah sanggup membayangkan, seperti apa kehidupan Sasuke sepeninggal dirinya. Apakah anak itu masih mampu bertahan?
"Baiklah …kalau itu yang anda inginkan. Secepatnya saya akan menghubungi Izuna-sama agar mengantarkan anda kembali ke Jepang."
Hanya kata-kata itu yang sanggup meluncur darinya. Selama ini adalah Izuna –putra bungsu Madara uchiha- yang telah menyembunyikan keberadaan Itachi Uchiha dari mata dunia luar. Terutama dari mata Orochimaru.
.
.
.
Kali ini pemuda yang menjadi tangan kanan Orochimaru itu tidak melakukan penyamaran sebagaimana biasanya. Ia hanya mengenakan mantel hitam panjang yang menutupi hampir kesemua bagian tubuh. Ia masih terdiam dalam mobil yang berhenti di seberang jalan tak jauh dari pintu keluar apartemen yang menjadi tempat tinggal 'mangsanya'.
Tangannya masih sibuk dengan ponselnya. Dan beberapa saat kemudian terdengar percakapan antara dirinya dengan seseorang. "Kau yakin Hatake tinggal di apartemen ini?" tanyanya pada seseorang di seberang sana.
Setelah mendengar jawaban yang memuaskan, akhirnya seringaian nampak dari bibirnya.
"Sebentar lagi aku akan merebut benda itu dari tanganmu Hatake Kakashi…" desisnya pelan dengan kedua matanya yang tak pernah lepas dari pintu keluar apartemen.
Namun alangkah terkejutnya ketika mata hitamnya menangkap siluet seorang gadis yang sampai sekarang masih setia menemani mimpi-mimpi indahnya.
"Hyuuga Hinata … kenapa dia ada disini?" gumamnya sedikit kaget. Mata hitamnya tak pernah beralih sedikitpun dari objek yang mulai bergerak melintasi jalanan. Ada satu hal lagi yang membuat Kabuto semakin tercekat dalam diamnya.
Gadis yang selama ini menjadi incarannya ternyata sedang hamil besar. Benarkah apa yang ditangkap retina matanya? Ataukah ia salah mengenali orang? Pikirnya tak percaya.
Hyuuga Hinata tak mungkin ada di tempat yang begitu jauh dari Jepang. Bukankah selama ini ia tinggal bersama Uchiha Sasuke? Dan Hyuuga Hinata tak mungkin hamil!
Namun sekalut apapun pikirannya menyangkal semuanya, tetap saja objek yang sekarang berdiri tak jauh dari mobilnya adalah Hyuuga Hinata. Rambut panjangnya yang indah, mata terangnya yang memukau. Kabuto tak mungkin salah mengenali walaupun terjadi sedikit perubahan pada perut gadis itu yang membuncit.
Tanpa ia sadari, kedua tangannya mencengkeram erat kemudi mobil. Ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba bergejolak. Ia marah. Sangat marah pada siapapun yang merebut 'gadisnya'. Sampai ia tak menyadari bahwa objek yang sedari tadi diamatinya telah menghilang dari pandangannya.
"Ck Sial!" makinya keras. Visual yang hanya beberapa menit itu benar-benar menghancurkan mood-nya untuk memburu Kakashi. Tak pernah sekalipun terlintas di otaknya bahwa ia akan bertemu Hinata di tempat ini. Namun beberapa saat kemudian tampaklah seringaian yang membahayakan dengan matanya yang berkilat. Setali tiga uang. Ia dapat membereskan Kakashi sekaligus mendapatkan gadis pujaannya.
.
.
.
Ponsel flipnya berdering saat Hinata baru saja menginjakkan kakinya di lobi rumah sakit. Dengan sedikit senyuman kecil, Hinata menekan tombol dial.
"Moshi-moshi Kakashi-san… ada apa?" suaranya terdengar lembut.
"Maaf nona, saya sedang ada urusan mendadak jadi saya tidak bisa pulang untuk beberapa hari kedepan… jadi saya harap anda tidak keluar apartemen sendirian," terdengar suara Kakashi yang berat dan sedikit ada nada kekhawatiran.
Hinata nampak bingung dengan ucapan Kakashi. Bukankah sudah sering pria itu pergi? Dan sudah sering pula Hinata keluar apartemen tanpa pria itu?
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Hinata yang mulai sedikit cemas.
Diseberang sana, Kakashi nampak menghela nafas sebelum menanggapi pertanyaannya. "Tidak… tapi demi keselamatan anda nona…" jawab Kakashi datar.
"Baiklah … aku akan pulang cepat dari rumah sakit." Jawaban singkat Hinata sontak membuat Kakashi sedikit memekik di seberang sana.
"Apa? jadi anda sekarang sudah berada di rumah sakit? Kalau begitu tunggu saya satu jam lagi. Saya mohon anda jangan kemana –mana Nona…"
Tuutt
Sebelum Hinata berkomentar lebih lanjut, Kakashi sudah mengakhiri sambungannya. Hal ini membuat Hinata mengerutkan keningnya bingung. Bukankah baru saja lelaki itu mengatakan tidak akan pulang? Kenapa tiba-tiba saja dia menyuruhnya untuk menunggu?
Mengabaikan berbincangannya barusan dengan Kakashi yang menahannya beberapa menit di lobi, akhirnya dengan perlahan Hinata kembali melangkahkan kakinya menuju lift terdekat. Hinata sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang mengikutinya.
"Kau benar-benar Hinataku…" desisnya sebelum melangkahkan kaki menaiki tangga darurat.
.
.
.
Suigetsu berjalan terburu-buru menyusuri koridor gedung Uchiha di lantai duapuluh. Tujuannya hanya satu, yaitu menemui Sasuke dan memberikan informasi baru pada atasannya tersebut sebelum terjadi kesalahpahaman yang berlanjut dan membuat bos-nya itu semakin kacau.
Tiga hari pasca informasi yang ia sampaikan, Suigetsu mendengar bahwa Sasuke menjadi demikian kacau. Ia hampir tak terkendali dengan mengacak-acak seluruh isi ruangannya. Sebagai salah satu orang terdekat Sasuke sejak di Junior School dan anak buah kepercayaannya, Suigetsu tahu betul bahwa Sasuke mengidap penyakit yang diakibatkan dari trauma masa lalunya.
Dan ia sama sekali tak menyangka penyakit itu akan kambuh karena kebodohan darinya. Dan sekarang adalah waktunya ia membenahi 'kerusakan' yang pernah ia lakukan pada teman sekaligus bosnya itu.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Suigetsu langsung membuka pintu ganda tersebut. Sudah ia duga bahwa orang yang ingin ia temui tidak sedang berkutat pada dokumen-dokumen seperti biasanya melainkan duduk di sofa dengan menenggak minuman beralkohol.
"Sasuke…" Suigetsu mencoba memanggil pria itu yang sedang asyik menikmati cairan berwarna ungu pekat langsung dari botolnya.
"Untuk apa kau kemari lagi… aku sedang tidak memberikan tugas apapun padamu." Sasuke seakan tahu, suara siapa di balik punggungnya itu.
"Apa bayaranmu kurang? Kalau begitu tunggu lima menit. Dan cek rekeningmu." Sasuke terus berbicara. Seolah alcohol benar-benar telah menghilangan kepribadiannya yang pendiam.
Suigetsu hanya menghela nafas sebelum mendudukan diri di samping Sasuke dan dengan beraninya mengambil botol dari tangan bosnya yang baru saja ditenggak isinya.
"Aku akan mengatakan hal penting padamu." Mengabaikan tatapan tajam Sasuke karena dirinya telah berani berbuat lancang. Pria berambut putih itu melanjutkan kalimatnya setelah menyingkirkan jauh-jauh botol itu dari jangkauan Sasuke. Ia tahu bahwa bos-nya itu masih sadar dan pasti bisa mencerna dengan baik kalimat yang akan disampaikannya.
"Perkataanku yang sebelumya tentang gadis Hyuuga itu salah," Suigetsu memandang lekat Sasuke yang berbalik memandangnya dengan tatapan seribu tanya.
"Hyuuga Hinata memang tinggal dengan seorang pria, tapi pria itu adalah orang kepercayaan Hiashi Hyuuga."
Suigetsu dapat melihat tatapan mata obsidian Sasuke tetap menajam seakan menyuruhnya untuk cepat-cepat menyelesaikan ucapannya. "Dan anak yang sedang dikandung gadis itu … aku pastikan bukan anak Hatake Kakashi."
Suigetsu yang terbiasa berbicara dengan menggebu-gebu dan cenderung kekanakan apabila di depan Sasuke, entak kenapa kali ini terlihat begitu serius dan dewasa.
Onyx Sasuke melebar mendengar penuturan terakhir Suigetsu. Memorinya kembali kemasa-masa saat dirinya masih bersama gadis itu. Saat dimana ia pernah merenggut paksa kehormatan gadis yang sangat dicintai tanpa disadarinya.
Dan saat dimana dengan suka rela gadis itu menyerahkan diri padanya. Seketika tatapan mata elang itu berubah menjadi tatapan nanar. Sasuke menyenderkan kepalanya di sofa dan menatap langit-langit ruangannya yang seakan terus berputar. Apakah bayi yang di kandung Hinata adalah anaknya? Darah dagingnya?
"Berapa usia kandungannya…" suara Sasuke begitu serak seakan tercekat ditenggorokannya. Namun tetap terdengar berbahaya dan mengancam.
"Aku tidak tahu pasti… tapi kelihatannya sebentar lagi gadis itu akan melahirkan," jawab Suigetsu tidak yakin. Bagaimanapun juga ia hanya mengamati gadis itu tak langsung. Dan dia hanya bisa memberikan perkiraanya melihat seberapa besar perut gadis itu.
Sontak Suigetsu membatalkan tangannya yang sebentar lagi akan meraih botol wine. Ia kembali menatap Sasuke dangan tatapan horror.
"A-apakah itu anakmu?" tanya Suigetsu hampir tak percaya. Tapi sekali lagi, saat ia memutar kembali otaknya ke beberapa bulan kebelakang –saat gadis itu pergi- Suigetsu benar-benar meyakini dugaannya.
Sasuke tetap menatap kosong tembok dihadapannya. Air mata tiba-tiba mengalir kembali dari mata obsidian-nya yang membuat Suigetsu kembali tercengang. Belum pernah seumur hidupnya –selama ia mengenal Sasuke- melihat pria itu menangis.
"Iya… itu anakku."
Jawaban datar tanpa intonasi benar-benar sanggup melumpuhkan semua persendian di tubuhnya. Suigetsu tak bisa menggunakan akal sehatnya untuk mencerna semua kejadian yang sungguh… waow amazing! Tak pernah terpikirkan olehnya. Ia tak menyangka, gadis itu benar-benar sanggup membawa perubahan drastis pada seorang Uchiha Sasuke.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Suigetsu setelah memastikan bahwa Sasuke sudah sedikit lebih tenang.
"Aku akan membawanya kembali secepatnya." Jawaban singkat Sasuke sanggup memunculkan senyum tulus yang jarang diperlihatkan pria bergigi runcing itu. Setidaknya ia tahu bahwa Sasuke memang lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
"Kalau begitu dengan senang hati aku akan mengawalmu," seringaian Suigetsu nampak sebelum ia menenggak wine dari botolnya langsung. Ia dapat melihat sorot kesedihan masih terpancar dari mata tajam Uchiha bungsu itu.
"Hei, tenanglah… Hinata baik-baik saja, kau tak perlu khawatir lagi. Setidaknya sekarang kau tahu kan… bahwa gadis itu tak pernah tidur dengan pria manapun selain denganmu," seringai culas kembali terukir dari bibirnya yang sontak mengundang tatapan tajam dari Sasuke.
Setidaknya suasana sudah sedikit mencair. Suigetsu merasa lega, walaupaun sedikit tetapi ia sudah melakukan hal yang benar.
.
.
.
Entah perasaan seperti apa yang sekarang tengah dirasakan oleh Sasuke. Antara senang, sedih, khawatir, kecewa, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Tak dapat ia pungkiri bahwa ia sangat senang mengetahui gadis itu mengandung benihnya, tapi disisi lain ia merasakan sedih dan kekecewaan yang luar biasa.
Kenapa saat gadis itu membutuhkan dirinya, Hinata malah pergi menjauh tanpa kabar sedikitpun? Dan meninggalkannya dengan berpuluh-puluh persepsi buruk tentangnya. Dan Hinata sama sekali tak memberinya kesempatan untuk melihat janin itu tumbuh dirahimnya.
Apa yang sebenarnya gadis itu inginkan? Menjauhkan anak dari Ayahnya atau ada sesuatu yang lain? Tapi kali ini Sasuke tidak akan memberikan sedikitpun celah gadis itu bisa pergi lagi darinya. Tidak akan pernah. Apapun alasannya.
.
.
.
Perlahan Hinata mengerjapkan matanya yang terasa begitu berat. Seluruh tubuhnya terasa begitu lemah tak bertenaga. Perlahan ia mengehembuskan nafasnya sebelum mencoba duduk. Sedikit kepayahan mengingat perutnya yang sudah membuncit sempurna.
Ia mengedarkan pandangan yang lagi-lagi membuatnya bingung. Apakah ia pingsan lagi dan Kakashi menolongnya? Tapi saat melihat ruangan yang begitu asing dimatanya, Hinata menjadi berpikir ulang. Ini bukan apartemennya ataupun apartemen Kakashi. Lalu dimana dia sekarang?
"Kau sudah bangun Hime?"suara berat lalu menginterupsi kebingungan Hinata. Ia menatap seorang pria bersurai perak terkuncir rapi dengan kacamata yang membingkai matanya. Siapa lelaki itu? pikirnya bingung.
"Kau lupa padaku?" pria itu berjalan mendekati ranjang yang membuat Hinata sedikt takut.
"S-siapa anda?" tanya Hinata kaku. Karena sebelumnya Hinata tak pernah merasa mengenali pria yang sekarang berdiri persis di hadapannya.
"Kau masih ingat Takeo Yamada?" ujar pria itu dengan menunjukan seringaiannya. Hinata mengerjap beberapa kali guna membuka kembali memorinya. Sontak calon ibu muda itu membelalakkan matanya ketakutan. Reflek Hinata langsung beringsut saat ia mengingat siapa pria itu.
"K-kau … y-yang waktu itu …"
"Ya benar Hyuuga Hinata …" ia berjalan semakin mendekati ranjang. "aku yang waktu itu …"seringaian menakutkan kembali terlihat dari bibir pria itu.
Hinata mulai menangis mendengar pengakuan pria berkacamata itu. Ia tahu dirinya dalam keadaan yang tidak aman sekarang. Bagaimana bisa ia berada ditangan pria itu? Hinata mencoba kembali mengingat apa yang terjadi padanya sehinga sekarang ia berada di tempat yang sama dengan pria yang hampir menodainya dulu.
Seingatnya ia yang pagi-pagi sekali sudah berada di rumah sakit untuk mengunjungi kakaknya seperti biasa. Dan Kakashi yang tiba-tiba menelfonnya memperingatkan dirinya untuk tidak keluar rumah selama pria itu tak ada. Dan saat keluar dari lift, tiba-tiba ada seseorang yang menyergapnya. Dan setelah itu Hinata tak mengingat apapun.
"A-apa maumu," ucap Hinata bergetar setelah mengingat semuanya. Amethyst indahnya yang berurai airmata ia paksa untuk menatap mata hitam itu. Ia tahu pria itu bernama asli Yakushi Kabuto. Salah satu tangan kanan Orochimaru –orang yang pernah mencelakai keluarganya.
Lagi-lagi hanya seringaian yang diperlihatkan pria itu pada Hinata yang membuat wanita muda itu makin menciut ketakutan. Hinata tahu dirinya tak mungkin dapat melarikan diri lagi dengan kondisi tubuhnya yang seperti ini. Ia hanya berharap semoga pria itu mau melepaskannya walaupun sepertinya mustahil.
"K-ku mohon lepaskan aku," imbuh Hinata saat pria itu sudah duduk di depannya dan perlahan mulai membelai pipinya yang basah.
"Sstt … tenanglah Hime … aku tidak akan menyakitimu dan bayimu …" ujarnya yang terus membelai pipi Hinata yang kemerahan. "Ayo … kita kembali ke Jepang. Hanya kita berdua… tidak akan ada yang mengganggu," imbuhnya sebelum mengecup pelan pipi Hinata yang membuat gadis itu menangis ketakutan.
.
.
.
Tidak membuang waktu, Sasuke dan beberapa anak buahnya –termasuk Suigetsu- berangkat ke Swiss pagi-pagi sekali dengan menggunakan pesawat pribadi. Ia tidak akan membiarkan waktu terbuang percuma setelah mengetahui dengan pasti dimana gadisnya tinggal.
Matanya yang dihiasi lingkaran hitam, menandakan dirinya sama sekali tak dapat memejamkan mata. Isi kepalanya yang terus meneriakinya untuk secepatnya membawa kembali Hinata membuatnya seakan benar-benar gila.
Dan setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam yang tentunya membuat fisiknya kelelahan, Sasuke langsung bergegas pegi ke apartemen yang menjadi tempat tinggal Hinata. Namun sayang, Sasuke tak menemukan siapapun dalam apartemen itu yang membuatnya semakin frustasi.
Hinata sudah tidak ada demikian pula dengan Hatake Kakashi. Dengan cepat, anak buahnya langsung mencari mereka. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Sasuke dapat bertemu dengan Hatake Kakashi di rumah sakit tak jauh dari apartemen itu.
"Kau Uchiha Sasuke?" tanya Kakashi membuka pembicaraan. Pria itu masih nampak tenang walaupun ada insiden yang mambuatnya begitu khawatir.
"Ya … aku kesini untuk membawa pulang Hinata …" ucap Sasuke to the point. Wajahnya nampak mengeras menahan kesabaran. "…jadi, dimana dia sekarang Hatake-san…" Sasuke memang tidak terbiasa bersopan santun pada siapapun.
Kakashi yang sudah sedikit mengetahui perangai pemuda bermarga Uchiha itu, nampak tetap tenang. Basement rumah sakit yang menjadi tempat berbincangan mereka nampak begitu sepi. Hanya berpuluh-puluh kendaraan roda empat yang terparkir rapi sebagai saksinya.
"Dia diculik ..." Jawaban singkat Kakashi menyebabkan ekspresi Sasuke yang tampak kaku menjadi semakin mengeras. "… Kabuto Yakushi," imbuhnya. Sasuke mengepalkan kedua tangannya erat.
"Bagaimana bisa … dia sedang hamil …." Suara Sasuke penuh penekanan dengan tatapan matanya yang menusuk tajam. Pikirannya mulai kacau. Dan ketakutan mulai menggerogoti seluruh saraf tubuhnya yang membuatnya sedikit bergetar namun amarah mengalahkan semua itu.
"Tenang saja Uchiha … sebenarnya yang mereka cari adalah aku. Nona Hinata akan baik-baik saja," ujar Kakashi yang cenderung menenangkan pemuda di hadapannya yang sedang diselimuti amarah.
"Kau tidak tahu apapun …" ucapan Sasuke yang menyerupai geraman membuat Kakashi sedikit bingung. Bagaiman mungkin dirinya yang menjadi orang kepercayaan Hiashi tidak mengetahui apapun?
"Orang itu pernah mencoba memperkosa Hinata. Dia tergila-gila padanya!" Sasuke berteriak. Ia langsung melesat pergi saeandainya saja Kakashi tidak mengejarnya dan menahannya.
"Apa maksudmu Uchiha?" tanya Kakashi yang menahan salah satu lengan Sasuke agar pria itu tetap diam ditempat sebelum memberikan penjelasan padanya.
"Bukankah yang mereka cari adalah kotak yang sekarang berada di tanganku? Nona hanya dijadikan sandera," imbuhnya sedikit memberikan penguraian apa yang ia ketahui.
Nafas Sasuke masih memburu sebelum ia kembali membuka suaranya. "Mungkin ucapanmu benar … tapi Kabuto Yakushi menginginkan Hyuuga Hinata."
Sasuke langsung menyentakkan tangan Kakshi sebelum ia pergi meninggalkan pria itu dalam keterkejutan. Selama ini Kakashi tidak pernah mengetahui kebenaran lain selain kelompok Yakuza yang dipimpin Orochimaru itu menginginkan stempel emas milik keluarga Hyuuga.
Dia tidak menyangka bahwa salah satu orang terpenting dalam kelompok itu menginginkan nonanya. Oh Shiit! Sudah dipastikan Hinata dalam bahaya terutama bayinya. Seketika Kakashi langsung mengejar Sasuke.
"Uchiha tunggu! Aku tahu dimana mereka sekarang!" teriakan Kakashi langsung menghentikan langkah cepat Sasuke. Ia tidak menoleh menunggu pria itu menghampirinya.
"Anak buahku sudah berhasil melacaknya. Kita akan kesana bersama."
Sebenarnya tidak sulit bagi Sasuke untuk melacak keberadaan Hinata mengingat dirinya adalah orang penting yang mempunyai banyak koneksi. Tapi setidaknya tawaran Kakashi barusan sedikit membantunya yang sedang kalut dan tak dapat berpikir jernih.
Ia tak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Kabuto terhadap bayi yang masih dalam kandungan, seandainya pria itu tahu bahwa Hinata mengandung benihnya. Apalagi seandainya pria iblis itu tahu? Sudah dipastikan ibu dan anaknya tidak akan selamat.
.
.
.
Lagi, Sasuke harus menelan kekecewaannya saat tak menemukan Hinata di tempat persembunyian Kabuto. Tempat itu kosong dan sepertinya baru ditinggalkan beberapa jam yang lalu.
"Istirahatlah dulu Uchiha-san… kita akan kembali mencari nona Hinata besok." Kakashi memberikan saran setelah melihat kondisi pemuda Uchiha itu yang terlihat kurang baik. Sasuke memang tidak sempat duduk santai setelah kakinya menginjak tanah Swiss. Ia lupa bahwa tubuhnya sendiri perlu istirahat dan makan.
"Brengsek! Dimana kau Kabuto …" geramnya marah seakan mengabaikan ucapan Kakashi.
"Aku tidak bisa berdiam diri sementara Hinata dan anakku dalam bahaya Hatake-san," imbuhnya. Kakashi memaklumi kekhawatiran Sasuke sebagai calon Ayah baru itu. Hinata sedang hamil besar yang kapan saja bisa melahirkan dimanapun. Dan sekarang wanita muda itu tak diketahui keberadaanya.
"Kakashi-sama! Ada berita terbaru mengenai nona Hinata." Ucapan tiba-tiba dari salah satu anak buah Kakashi menghentikan ketegangan di dalam apartemen yang telah kosong itu.
"Cepat katakan!" Sasuke yang menyahut.
"Pihak imigrasi bandara menemukan identitas dua orang yang mencurigakan dengan nama paspornya Suzuki Takeda dan Suzuki Ami dengan tujuan penerbangan ke Jepang. Dan wanita yang bernama Suzuki Ami itu tengah hamil besar. Walaupun orang itu tidak menggunakan nama Yakushi Kabuto tapi kami memastikan bahwa pria itu adalah dia yang menyamar."
Mereka berdua tahu bahwa Kabuto sangat lihai dalam penyamaran. Namun sayang kali ini ia harus gagal. Karena tidak mungkin dia dapat menyembunyikan perut Hinata yang sudah membesar sempurna. Setidaknya mereka harus berterimakasih pada bayi yang masih dalam rahim Ibunya yang telah memberikan petunjuk itu.
"Kalau begitu sekarang juga kita akan kembali ke Jepang. Suigetsu! Siapkan pesawatnya," perintah Sasuke tegas.
"Hai! Sasuke-sama," Suigetsu langsung mengambil ponselnya dan menyuruh siapapun di ujung sana untuk mempersiapka pesawat secepatnya.
"Kau juga boleh ikut Kakashi-san …" ucap Sasuke sambil berlalu. Sedangkan Kakashi hanya menyunggingkan seulas senyuman sebelum mengikuti Sasuke.
.
.
.
"Dimana Sasuke?" tanya Itachi yang sudah menginjakan kursi rodanya di mansion Uchiha. Ia baru saja sampai ditemani oleh sang paman dan pengasuh setianya, nenek Chiyo.
"Tuan muda Sasuke sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri Itachi-sama," dusta Ebisu. Dia belum bisa mengatakan yang sesungguhnya mengingat Itachi belum pulih benar.
"Sebaiknya anda beristirahat terlebih dahulu Itachi-sama," imbuhnya berusaha mengalihkan perbincangan.
"Ucapan Ebisu benar Itachi," sahut Izuna dengan suara beratnya. Izuna yang sepertinya sudah mengetahui ada sesuatau yang terjadi berusaha membenarkan ucapan Ebisu. Ia mendorong kursi roda Itachi membawanya ke kamar.
"Paman …sepertinya ada yang terjadi pada Sasuke." Itachi memang masih sakit, tapi semua itu tidak menghilangkan intuisinya sebagai manusia jenius.
"Ya, kau benar, banyak kejadian buruk yang menimpa Sasuke setelah kepergianmu. Kalau kau memang ingin tahu," sahut Izuna yang kini duduk di sofa.
"Ya Paman … Sasuke mungkin sangat menderita setelah kejadian itu. Tapi maksudku, sepertinya Ebisu menyembunyikan sesuatu dariku," suaranya terdengar begitu tenang dan sarat akan kesedihan.
"Sudahlah … Sasuke akan baik-baik saja. Dia sudah dewasa dan dapat menjaga dirinya sendiri. Kau belum tahukan … sehebat apa Sasuke sekarang?" ucapan Izuna tetap terdengar menenangkan. Itachi hanya diam. Wajahnya tak menampakan ekspresi apapun. Mungkin yang dikatakan Pamannya memang benar. Sasuke pasti tumbuh menjadi pria yang lebih kuat dan hebat tanpa dirinya.
.
.
.
Hinata nampak begitu kelelahan setelah menghabiskan waktu selama belasan jam dalam perjalanan udara dan darat. Sekarang ia sudah terduduk lemas di sebuah rumah sederhana yang begitu jauh dari kota. Nafasnya terasa begitu sesak dan perutnya sedikit sakit. Namun ia mengabaikan semua itu. Ia yakin, dirinya berada di tempat yang begitu jauh dari Konoha.
"Makanlah … dan setelah itu beristirahat. Ini tempat yang paling aman. Tidak ada yang bisa menemukan kita berdua disini," ucap Kabuto yang memasuki kamar Hinata dengan membawa nampan berisi makan malam. Namun Hinata hanya diam. Ia duduk di atas tatami dengan tubuhnya yang menyender pada dinding. Amethyst indahnya tampak begitu redup.
"Jangan sentuh aku!" pekik Hinata saat ia merasakan tangan lelaki itu membelai rambut panjangnya yang sedikit kusut.
Namun Kabuto hanya menyeringai mendengar penolakan Hinata. Ia mencium helaian panjangnya sebelum kembali berucap. "Setelah kau melahirkan, kita akan menikah. Dan kita akan tinggal di tempat yang jauh dai Konoha. Hanya kau dan aku," bisik Kabuto yang sukses membuat mata gadis itu membeliak tak percaya.
Apa maksudnya Kabuto akan membunuh anaknya nanti setelah lahir? Hinata mulai menangis lagi. Pria ini sungguh membuatnya takut.
"K-kau akan m-membunuh anakku?" tanya Hinata dengan suara lirih dan tersedu. Kedua tangannya mendekap erat perut besarnya. Seakan melindungi buah hatinya dari ancaman pria mengerikan yang terus menciumi rambutnya itu.
"Tidak … aku hanya akan menyingkirkannya. Dia hanya akan mengganggu kita Hime," bisik Kabuto tepat ditelinga Hinata.
"T-tidak … jangan lakukan itu kumohon … aku akan melakukan apapun asal kau jangan menyakiti anakku dan menjauhkannya dariku," ucap Hinata dengan bibir bergetar. Ia terus menangis membayangkan nasib tragis pada putranya kelak.
"Aku benci …" desisian itu makin menajam. "… karena dia adalah darah daging Uchiha Sasuke." Hinata memang tak mengatakan apapun pada pria itu tentang siapa Ayah dari bayi di rahimnya ini.
"Aku akan membuang semua hal yang bisa mengingatkanmu pada pria sialan itu," imbuh Kabuto sambil mengecupi pelan pipi Hinata.
Kabuto tahu bahwa pria Uchiha itu yang telah mencuri hati gadis yang sangat dicintainya ini. Dan dia bersumpah akan menghilangkan apapun yang berhubungan dengan Uchiha itu dari Hinata. Termasuk membuang jauh bayi yang tak berdosa itu.
Karena dari awal Hinata miliknya. Dialah yang pertama kali mencintai gadis itu sebelum Uchiha itu tiba-tiba datang dan merampasnya. Hinata nampak tak berkutik dalam dekapan Kabuto. Tubuhnya lamas dan jiwanya seakan mati. Dan setelahnya wanita muda itu hilang kesadaran.
'Sasuke-kun … tolong selamatkan kami…'
.
.
TBC
.
.
Mungkin tinggal beberapa chap lagi fic ini tamat. Alurnya sengaja saia cepetin (tau-tau Hinata dah hamil delapan bulan -_-) Sumpah saia suka banget kalo Hinataku tersayang disukai sama pria-pria posesif sedikit psikopat kaya Kabuto (liat ke atas sambil nyengir kuda)
Sudah pada nggak penasaran lagi sama Itachi kan? Dia masih hidup tuh. Dan soal kotak misterius itu, sebenarnya hanya stempel berharga haha (author senyum tanpa dosa) terinspirasi dari drama Korea ala kerajaan gitu. Chap besok kaya'nya tinggal menguak kenapa si Orochimaru sadis banget ma keluarga Uchiha terutama sama keturunannya Fugaku.
Oke tanks buat Minna-san yang udah mau baca, ninggalin jejak yang sungguh sangat membantu author dalam hal menggali inspirasi hingga ni fic cepet apdeth -_-
N terimakasih wat yang ninggalin jejak di chap sebelumnya: Pooh, sasuhina caem, Yukio Hisa, lavender hime chan, ErVa Sabaku, suzu aizawa, RK-Hime, Rhena001, suka snsd, Himetarou Ai, Aiwha, Deshe Lusi, Moku-Chan, Mamoka, Ulva-chan, Kertas Biru, IndigOnyx, Sky pea-chan, Hanazono Suzumiya, Kyou, Ichikawa, Sugar Princess71, Haiiro-Sora, Suhairi dan n. And maaf lagi ga bisa balas ripiu kalian -_- I love U All… ^_^
.
See You next chap
.
-Bird
