"Lonely Love"

Main cast : Kaisoo / Hunsoo slight Chanbaek

Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS)

Oh Sehun

Oh Hye Rin

Support cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun (GS) , Luhan, Kim Jongdae, Kim Minseok, Wu Yi Fan, Taemin (GS), Ryeowook (GS) , Lee Kwangsoo, Yesung, Minho, others

Rate : T mungkin akan menuju M (pasti ngarap M yah)

Lenght : Chaptered

:::::::::

Kim Jongin milik Do Kyungsoo dan Do Kyungsoo milik Kim Jongin, Kaisoo milik Exo-L namun disini Kaisoo milik author (author egois, silahkan lempar banner Kaisoo hahha) cerita asli milik author, dicetuskan dari pemikiran author sendiri. Cerita sedikit banyak abal-abal. Mungkin isi dan judulnya sangat pasaran tapi author TIDAK menjiplak cerita manapun. Mohon abaikan Typo(s) yang meneror, Warn GS! Silahkan mundur teratur yang tidak menyukai GS :D tidak memaksakan untuk membaca epep ini. Oke langsung saja ... HAPPY READING yeoroboun... :D Don't Be Silent Readers :D

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

::::

::::

::::

::::

~Previous Chapter

"Terimakasih sudah memberikan kesempatan pada Sehun untuk mengenalmu, terima kasih telah hadir di kehidupan Sehun"

Kyungsoo mengernyitkan keningnya "Ada denganmu?"

"Aku tak ingin merusak hubunganmu dengan Jongin lagi, aku akan membawa Sehun ke Cina besok, ah iyah Sehu menitipkan ini untukmu" Hye Rin mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink pada Kyungsoo.

"Apa ini?"

"Terima saja sebagai bentuk maaf dari kami, ne"

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Kyungsoo membolak-balikkan kotak pink pemberian Hye Rin tadi. Kotak mungil itu terlalu besar untuk ukuran cincin, lalu apa isinya?. Kyungsoo masih menatap kosong kotak itu sejak kepergian Hye Rin tadi.

"Gongjunim, wae kau belum ganti pakaian, hari ini kita akan pulang ke rumah" tegur Ryeowook yang entah sejak kapan berada di ruangan bersama Kyungsoo.

"Ah, ne eomma!" kata Kyungsoo lalu bergegas ke kamar mandi dan berganti pakaian. Keluar dari kamar mandi ia melihat sang appa dan oppanya tengah membantu eomma beberes.

"Apa yang cari Kyungsoo?" tanya Kwangsoo 5 menit kemudian saat menyadari sang adik tengah celingu'an.

Kyungsoo menggeleng lalu duduk di sofa.

"Jika yang kau cari Jongin, ia tak bisa ikut menjemputmu katanya ada hal penting yang tidak bisa ia tinggalkan.." goda Kwangsoo.

"Ck... untuk apa aku mencarinya, ?"

"Appa pikir kau akan mencarinya, karena beberapa hari ini kan kau tak bisa tidur tanpa pelukan Jongin" kini sang appa ikut menggoda.

Kyungsoo memalingkan wajahnya, ia menyembunyikan senyumnya. Ia malu untuk mengakui jika ia merasa nyaman bersama Jongin.

"Wae wajah nae gongju semerah tomat? Kau malu?" sang eomma ikut menggoda sambil duduk di samping putrinya.

Kyungsoo menggeleng "aniya.. wajahku memerah karena sinar matahari sore eomma!" elaknya.

Kwangsoo dan appa hanya tersenyum melihat Kyungsoo bertingkah seperti anak kecil.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Kyungsoo tersenyum kecil saat membuka kotak pink pemberian Hye Rin tadi siang.

"Apaan ini? Kekanakan sekali" ejek Kungsoo saat membuka kotak tersebut dan mendapati kalung titanium dengan bandul huruf inisial JK yang menyambung.

Kyungsoo mengambil secarik kertas yang diletakan bersama dengan kalung tersebut. Kyungsoo yakin kertas bertinta hitam itu hasil coretan Sehun.

"Nunna... apa nunna menyesal mengenalku?

Apa aku terlalu mengecawakan nunna?

Nunna, adakah kata yang lebih baik dari maaf untuk menebus kesalahanku?

Aku..aku terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan dan kekalahanku. Mianhae, nunna.

Meski nunna tak bisa memaafkanku, mau kah nunna menghapus kejadian menjijikan itu dari ingatan nunna?

Tak akan sulit kan menghapus kejadian itu karena sajangnim hitam itu pasti akan membantu nunna.

Nunna, setelah aku pikir kembali, orang yang pantas bersama nunna memang bukan aku tapi sajangnim hitam itu, ah mian maksudku Kim Jongin sajangnim.

Keluarga nunna tidak salah memilih namja seperti Kim sajangnim untuk mendampingi nunna, namja itu yang bisa membahagiakan dan melindungi nunna,

Nunna, mungkin permintaan ku sedikit berlebihan, tapi aku harap nunna mau menurutinya untuk terakhir kalinya, aku minta tetaplah nunna menjadi nunna ku dan guruku.

Jika aku di lahirkan kembali di kehidupan selanjutnya, aku pastikan akan kembali jatuh pada pesona nunna, bukan masalah waktu untukku tetap mencintai nunna.

Aku pergi, nunna. Saranghae !"

Ah, sebagai hadiah pernikahan nunna, aku memberikan kalung dengan inisial JK. Kenapa J dan K? Because J is always beside K, right?

XOXO

"Cih, Oh Sehun kau kekanakan sekali.." lirih Kyungsoo sambil tersenyum melipat surat perpisahan dari Sehun. "Aku memaafkanmu, adik manis! Setidaknya ini cukup menebus kesalapahamanku dengan nunna mu" lirihnya.

Kyungsoo sedikit menyesal karena baru menyadari kesalapahaman Jongin dan Hye Rin. Seandainya dulu ia mengetahui lebih dulu, mungkin semua ini akan berjalan berbeda. Ia lebih cepat berdamai dengan Jongin, ia tak akan memiliki kesalahpahaman dengan Jongin dan mungkin ia akan lebih cepat jatuh cinta dengan Jongin.

"Apa yang kau lakukan, gongju-nim?" tegur Jongin yang berdiri di ambang pintu kamar Kyungsoo dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya.

Kyungsoo menoleh, ia sedikit mengembangkan senyum di bibir tebalnya saat melihat Jongin tengah tersenyum penuh kepolosan kepada Kyungsoo. Akh, kapan terakhir kali Kyungsoo melihat senyum Jongin yang manis itu?

Jongin mendekati Kyungsoo dan tanpa permisi mengambil secarik kertas yang di baca Kyungsoo sebelumnya.

Kyungsoo hanya diam, takut jika Jongin akan marah pada akhirnya.

"Kekanakan sekali muridmu itu" katanya cetus sambil meletakkan kertas itu di nakas Kyungsoo.

"Kau tidak dendam kan padanya?" tanya Kyungsoo takut-takut. Ini pertama kalinya Kyungsoo mengungkit kejadian itu.

Jongin menatap lekat-lekat calon istrinya lalu ia menyunggingnya senyum ke arah Kyungsoo "Sekalipun aku dendam padanya, kau pasti akan memintaku untk melupakannnya kan? Aku menuruti apa maumu, Do-yah"

Kyungsoo tersenyum dan tanpa malu-malu lagi ia mendekatkan dirinya ke tubuh Jongin. Kyungsoo memeluk Jongin. Kyungsoo merindukan pelukan Jongin, sehari ini pun Jongin tidak menemuinya.

Jongin membalas pelukan Kyungsoo "Do-yah! Kau merindukanku, eoh?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya "Anniya! Aku hanya merindukan pelukanmu" katanya lirih. "Mianhae, Jongin-ah"

Jongin melepas pelukan Kyungsoo "Wae? Ada yang menganggu pikiranmu?" tanyanya sambil memegang kedua pipi cabi Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk.

Jongin menuntun Kyungsoo agar duduk di tepi ranjangnya, Jongin duduk di samping Kyungsoo "Katakan, apa yang mengganggu mu?"

"Hye Rin"

Jongin membelalak, ini yang ia takutkan. Ia takut gadis itu mengganggu Kyungsoo lagi "Katakan! Apa yang dia lakukan padamu? Dia melakuimu? Dia mengancamu ?" tanya Jongin penuh khwatir.

Kyungsoo menggeleng "Dia tidak melakukan apa-apa Jongin-ah! Dia datang menemui ku dan menceritakan segalanya. Tentang Oh Sehun dan tentang kejadian 7 tahun yang lalu, kau dan Hye Rin"

Jongin mengusap wajahnya "Kau sudah mengetahuinya?"

Kyungsoo mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jongin "Seandainya, dulu aku mendengarkan penjelasanmu, atau seandainya dulu aku memastikan kebenarannya pasti aku tak akan pernah membencimu sedalam ini. Maafkan aku yang terlalu cepat mengambil keputusan tanpa melihat kebenarannya. Maaf kan aku karena kebohonganku membuatmu diasingkan ke Amerika"

Jongin mengusap rambut Kyungsoo "Sudahlah, aku mengerti kenapa kau melakukan itu. Karena kau dendam dengan apa yang ku perbuat sebelumnya kan? Sekarang kita lupakan saja apa yang terjadi di masalalu kita. Arrachi?"

Kyungsoo mengangguk "Gomawo Jongin-ah! Sudah mau menerimaku apa adanya. Tapi kau berhak menghukumku karena kesalahanku itu"

Jongin menunduk dan membuat Kyungsoo mendongkakkan kepalanya. Pandangan mereka bertemu, ada kebahagiaan yang terpancar di keduanya "Aku memang akan menghukummu, Do-yah!" katanya tegas.

"Mwoya?"

"Jadilah pendamping hidupku selamanya, jadilah ibu dari anak-anakku, jadilah wanita yang selalu tersenyum saat pagi mengantarku bekerja dan malam saat menyambutku pulang bekerja, jadilah wanita paling bahagia di dunia karena AKU. Itu hukuman yang pantas untukmu"

Kyungsoo tersenyum "Kau menghukumku atau kau melamarku?"

"Kau tak bisa membedakan? Untuk apa aku melamarmu jika beberapa minggu lagi kau resmi menjadi nyonya Kim ?"

Keduanya tersenyum dengan mata yang masih saling memandnag. Mengagumi pesona masing-masing.

Jongin mendekatkan kan wajahnya pada wajah Kyungsoo. Sekedar ingin memastikan, apakah rasanya masih sama. Jongin ingin mencium bibir Kyungsoo lagi. Menyatukan kedua bibirnya dengan bibir kekasihnya, tanpa paksaan, tanpa pertengkaran, hanya sesaat setelah mereka menyadari jika mereka saling membutuhkan.

Kyungsoo yang bisa membaca situasi langsung memejamkan matanya saat hidung Jongin menyentuh pucuk hidungnya yang mancung. Kyungsoo dapat merasakan hembusan nafas Jongin yang hangat menerpa ujung bibirnya. Satu centi lagi sebenarnya Jongin sudah bisa mengecup bibir kissable Kyungsoo jika saja ia sebelumnya menutup pintu kamar Kyungsoo.

"Yak! Apa yang kalian lakukan!? Kalian ingin melakukan 'this and that' di rumah. Hah?" teriakan khas ala Kwangsoo mengejutkan keduanya.

Kyungsoo langsung menjauhkan wajahnya dari Jongin dan melempar pandangannya ke segala arah yang pasti tidak di lihat oleh Jongin dan oppanya.

Jongin seketika menjadi kikuk karena di pergoki oleh Kwangsoo saat akan mencium Kyungsoo.

"Kau Jongin! Berani-beraninya melakukan tindakan senonoh di rumah ini!Kau cari mati eoh!? Harusnya kau bisa bawa Kyungsoo ke appartemenmu atau ke hotel, tempat yang sepi bukan di rumah kami" kata Kwangsoo yang masih dengan santainya berdiri dan menyandarkan tubuhnya di pintu milik kamar milik Kyungsoo "Bodoh sekali kau tidak menutup pintu! Bagaimana jika eomma yang lihat? Kalian pasti akan di sembelih karena bertindak mesum"

Kyungsoo yang wajahnya memerah karena malu dan jengkel langsung melempar bantal ke arah Kwangsoo "kau bisa tidak menyebut mesum dan mesum! Kami tidak melakukan apa-apa bodoh!" omel Kyungsoo yang langsung keluar dari kamarnya dan meninggalkan Jongin dan Kwangsoo

"Yak! Gongju! Kau marah karena aku meledekmu atau kau marah karena kegiatan mesum kalian berhenti, eoh?" teriak Kwangsoo.

"Kau benar-benar merusak suasanan, hyung!" kini giliran Jongin yang berlalu meninggalkan Kwangsoo.

"Kenapa kalian yang marah!? Harusnya aku yang marah karena tindakan kalian!" omel Kwangsoo akhirnya.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Kaisoo was 9 years old...

Jongin memandangi gadis yang kecil yang duduk di sampingnya. Rambutnya yang di kucir dua dengan poni yang menutupi jidatnya, serta kacamat bulat yang menghiasi mata bulatnya, Jongin menganggumi apapun yang di gunakan oleh gadis yang duduk di sampingnya itu.

"Kai-yah! Kenapa kau selalu memandingi ku seperti itu?" tanya gadis itu yang berhenti melakukan kegiatannya saat sedang menulis.

"Karena kau cantik, Do-yah" bisiknya.

"Jangan menggodaku, Kai! Aku bosan"

Jongin menggeleng "Jika kita berkencan, aku akan berhenti menggodamu"

Kyungsoo, gadis kecil itu tersenyum meremehkan "Terimakasih atas tawaranmu, Kim Kai-ssi! Tapi aku tak ingin berkencan dengan namja bodoh sepertimu. Dan kau sebaiknya jangan duduk di sini lagi! Kau tahu, aku bosan duduk sebangku denganmu sejak kelas satu"

"Waeyo? Mereka berfikir kita serasi"

Kyungsoo tak menjawab, ia kembali fokus untuk menulis materi yang di berikan sang guru. Kyungsoo mengabaikan Jongin. Ia sudah memprotes kelakuan Jongin pada sang eomma. Sejak ia masuk pertama kali di SM Internasional School, ia selalu saja di ganggu oleh Kim Kai aka Kim Jongin. Sejak kelas satu Kyungsoo selalu duduk berdampingan dengan Jongin, kelompok belajar dengan Jongin. Bahkan saat istirahat, Jongin selalu membuntuti Kyungsoo. Kyungsoo kadang menangis karena godaan Jongin, sang eomma hanya memberikan Kyungsoo semangat dan mengabaikan apapun yang dilakukan Jongin. Namun tetap saja apapun yang ia lakukan tak membuat Jongin jera dan masih terus menggodanya.

Beruntunglah Kyungsoo saat tahun ajaran baru, di kelas 4 ia bisa terbebas dari Jongin. Ia duduk dengan Baekhyun, murid pindahan dari Busan. Jongin duduk di bagian belakang dan sedikit jauh dari Kyungsoo.

"Kyungsoo-yah! Kelas prakarya kau menggambar apa?" tanya Baekhyun sebelum kelas di mulai.

Kyungsoo tersenyum "Kau sendiri menggambar apa?"

Bakhyun si gadis yang memiliki badan yang sama mungilnya dengan Kyungsoo membuka buka gambar "Kau lihat, aku menggambar microfon" katanya dengan polos.

"Wah, gambar mu bagus sekali, tapi kenapa kau menggambar microfon? Apa hubungannya dengan cita-citamu?"

"Ck ck ck... kau ini, padahal kau murid yang selalu masuk lima besar, tapi tak mengerti maksud gambaran ku. Ini mic yang akan aku gunakan saat konser tunggalku nanti. Aku ingin menjadi PENYANYI"

Kyungsoo tersenyum lalu bertepuk tangan "Woaaaa... kau hebat Baek! Aku akan menjadi penggemar nomer satumu saat kau menjadi artis terkenal nanti" hebohnya.

"Lalu kau gambar apa?"

Kyungsoo mengeluarkan buku gambarnya. Saat ia akan membuka bukunya tiba-tiba sebuah tangan mungil menutupnya kembali.

Kyungsoo dan Baekhyun saling pandang lalu melempar pandangannya pada si pemilik tangan tersebut. KIM JONGIN

"Kenapa kau bertanya apa cita-cita Kyungsoo? Jawaban sedah pasti Cuma satu. Yaitu mengganti marganya dengan Kim Kyungsoo"

Kyungsoo mendecih kesal "Kau kembalilah ke kursimu, kkamjong sebelum aku mengutukmu menjadi orang putih!" hardik Kyungsoo yang membuat Baekhyun tertawa geli.

Jongin ingin membalas tapi guru cantik dan muda telah memasuki kelasnya dan membuat beberapa siswa/i yang yang berkeliaran kembali ke kursinya, termasuk Jongin.

Pelajaran seni berlangsung.

"Wah, kau harus rajin belajar dengan giat jika kau ingin menjadi astronot, Joonmyeon-ssi! Sekarang silahkan kembali ke kursimu" puji sang guru saat sang ketua kelas maju ke depan dan memamerkan hasil gambrannya berupa astronot kepada teman-temannya.

"Nah, sekarang saem akan meminta Do Kyungsoo maju ke depan untuk menceritakan apa cita-citanya, Do Kyungsoo-ssi.. ayo sini"

Kyungsoo langsung maju ke depan sambil membawa buku gambarnya.

"Do Kyungsoo apa yang kau gambar?" tanya guru itu dengan lembut.

"Aku menggambar ini, Lee saem" jawab Kyungsoo sambil menunjukkan hasil gambarannya.

"Kyungsoo-yah! Jika saem boleh menebak, apa itu seorang guru?" tanya Lee saem.

Kyungsoo mengangguk "Ne, saem! Aku memang bercita-cita menjadi guru"

"Kenapa guru? Kenapa tidak dokter atau penyanyi?"

Kyungsoo menggeleng "Aku suka bertemu banyak orang, saem! Aku suka hal baru, aku suka memberitahu mereka tentang sesuatu yang aku punya, aku pikir itu cocok dengan guru. Aku ingin menjadi guru" jawab kyungsoo lantang dan di sambut tepuk tangan oleh Lee saem dan Baekhyun.

"Bagus Kyungsoo, saem senang karena cita-citamu sangat mulia. Kau boleh kembali ke kursimu. Baiklah tinggal satu orang lagi yang belum maju ke depan. Yang merasa silahkan maju ke depan dan bawa hasil gambarannya"

Kim Jongin maju ke depan tanpa membawa buku gambarnya.

"Jongin-ssi, kenapa kau tak membawa tugas menggambarmu? Kau tidak memiliki cita-cita?" tanya Lee saem saat melihat Jongin membawa tangan kosong.

"Aku memang tidak menggambar saem, tapi aku memiliki cita-cita" jawab Jongin.

"Baiklah, katakan pada kami semua disini apa cita-citamu?"

Jongin tersenyum lalu memandang Kyungsoo yang duduk tepat di depannya. "Cita-citaku hanya satu, yaitu mewujudkan semua mimpi-mimpi Do Kyungsoo"

Lee saem terbelalak begitu juga dengan Kyungsoo. Lee saem tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh murid kelas 4 SD itu.

"Dasar gila!" omel Kyungsoo yang merasa di permalukan.

"Yak kkamjong, bagaimana kau bisa mewujudkan mimpi Kyungsoo?" olok salah satu teman sekelas mereka.

"Aku akan menjadi direktur SM dan merekrut Kyungsoo biar jadi guru di sekolahku" jawab Jongin lantang. Kyungsoo yang mendengarnya langsung menempelkan kepalanya di meja. Baekhyun yang melihat Kyungsoo frustasi hanya mengelus punggung Kyungsoo.

Beberapa saat kelas menjadi gaduh karena olah Kim Jongin.

"Sudah-sudah hentikan! Baiklah Jongin, kau boleh kembali ke kursimu" kata Lee saem akhirnya.

Kaisoo was Junior High School

Kyungsoo berkali-kali menghentakkan kaki jenjangnya sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Kyungsoo kesal karena jam pulang sekolahnya terlambat dikarenakan jam pelajarannya di tambah, gadis berkaca mata bulat itu makin kesal dengan tingkah pria yang membututinya dari keluar kelas hingga perjalanan pulang.

Kyungsoo menghentikan langkahnya, pria itu pun menghentikan langkahnya pula. Jarak diantara keduanya sekitar 2 meteran. Kyungsoo membalikan badannya. Ia menatap geram pada pria yang selalu mengekornya.

"Yak! Kkamjong! Kenapa kau selalu mengekor ku eoh!" Kyungsoo sedikit berteriak.

Jongin mengangkat bahunya "Aku tidak mengekormu, aku hanya mengikuti langkah kakiku saja" jawabnya santai.

"Dasar maling! Masih saja tak mau mengaku" balas Kyungsoo sambil kembali melangkah.

Jongin hanya tersenyum, 3 hal yang Jongin suka dalam hidupnya yaitu tidur, senyum Kyungsoo dan menggoda Kyungsoo. Sejak mereka berada di tahun pertama junior high school, Jongin masih suka menganggu Kyungsoo. Parahnya Jongin selalu membututi Kyungsoo saat pulang sekolah. Padahal arah rumah mereka berlawanan.

"Oppa! Kenapa oppa tak menjemputku! Kau tahu, manusia hitam itu mengekorku lagi" teriak Kyungsoo di luar pagar rumahnya saat melihat Kwangsoo tengah menyalakan mesin mobilnya.

Jongin hanya diam di luar pagar.

"Mianhae gongju! Oppa banyak tugas kuliah. Lagi pula kau pulang dengan selamat kan?" Kwangsoo mengacak rambut panjang Kyungsoo. "Jongin-ah, gomawo ne, sudah mengantar Kyungsoo pulang" Kwangsoo sedikit berteriak pada Jongin dan ditanggapi senyum oleh Jongin.

"Mengantar apanya, dia lebih tepat seperti penguntit!" kata Kyungsoo sambil meninggalkan Kwangsoo dan Jongin.

Kwangsoo hanya menggelengkan kepalanya "Jongin-ah! Biar hyung antar kau pulang yah sekalian hyung ke kampus"

Jongin mengangguk. Jongin yang manis.

Kyungsoo meraba-raba laci meja kelasnya pagi itu. Wajahnya pucat seolah takut akan sesuatu.

"Kyungsoo-yah! Ada apa denganmu?" tanya Baekhyun yang duduk di sampingnya.

"Baekkie, buku bahasa Inggrisku sepertinya tertinggal di rumah" jawab Kyungsoo.

"Kau yakin? Coba kau cari lagi"

Kyungsoo menggeleng "Aku takut Baek, kau tau kan guru bahasa Inggris kita sangat killer, aku takut dihukum, otthoke Baek?"

"Tenanglah, Kyungsoo, ! kau bisa bicara baik-baik dengan Yoon saem, dia pasti mengerti"

Kyungsoo hampir menangis "Apa aku membolos kelasnya, Baek"

Baekhyun menjitak kepala Kyungsoo "Kau gila, semenit lagi jam pelajaran di mulai. Masalah itu di hadapi, bukan di hindari"

Kyungsoo merengut, pasalnya ini pertama kalinya ia ceroboh dan lupa membawa buku pelajaran Bahasa Inggris.

Jongin yang duduk tepat di belakang Kyungsoo mendengar percakapan mereka.

Bruk!

Jongin melempar buku bahasa Inggris miliknya ke meja Kyungsoo.

"Ini apa Kai?" tanya Kyungsoo saat Jongin berdiri di sampingnya dan akan melagkah keluar kelasnya.

"Apa kau bodoh? Pakai saja bukuku"

"Lalu bagaimana denganmu? Kau akan di hukum nanti" tanya Kyungsoo.

"Kau lupa? Aku sudah sering di hukum, tak usah kau khawatirkan aku" katanya sambil berlalu meninggalkan Kyungsoo dan Baekhyun yang masih terheran-heran.

"Kyungsoo-yah! Bukankah Kai itu sangat keren mau berkorban demi dirimu" celetuk Baekhyun tiba-tiba.

"Keren apanya? Mana ada yang keren dari membolos" kata Kyungsoo kesal.

Kyungsoo melangkahkan kakinya ke arah tengah lapang, dimana ada Jongin yang tengah berdiri menghadap tiang bendera dengan keringat bercucuran.

Kyungsoo menyodorkan minuman isotonik kepada Jongin.

"Apa ini?" tanya Jongin

"Apa kau akan terus berdiri disini ? masa hukuman mu sudah berakhir. Minumlah!" perintah Kyungsoo

Jongin meneguk minuman isotonik itu "Gomawo"

"Berhentilah membuatku merasa bersalah, Kai!"

Jongin menggeleng "Aku akan terus melakukannya jika itu membuatmu bersikap lembut padaku"

Kyungsoo mendecih kesal "Jangan terus menggodaku, Kai! Itu membuatku gerah dan berhenti membuat Hye Rin salah paham. Kau tahu, aku lelah menjadi bulan-bulanan gadis itu"

Jongin menghela nafasnya "Dia akan berhenti jika kau menjadi kekasihku"

Kyungsoo menggeleng "Kita masih 14 tahun Kim Jongin! Aku tak ada waktu memikirkan hal yang seperti itu"

Kyungsoo melangkah meninggalkan Jongin. Jujur ia kasihan pada pria tan yang sering sekali di hukum karena kecerobohannya itu.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

"Akhirnya kau akan menikah, Soo-yah!" kata Luhan saat itu mereka tengah berada di kedai kopi yang tak jauh dari rumah Kyungsoo.

Kyungsoo meletakkan cangkir kopinya setelah menyesap kopi manis itu. "Hal itu terjadi di luar kendaliku, eonnie, aku memang merencanakan semuanya tapi bukan pernikahan dini yang aku harapkan"

"Sudah waktunya kau bertemu dengan jodohmu"

"Eonnie, apa kau masih belum memikirkan pernikahanmu?" Kyungsoo mengalihkan topik pembicaraan

Luhan menggeleng "Sama seperti mu, aku belum merencanakan apa pun tentang pernikahan"

"Apa eonnie masih mencintai pria yang tak pernah eonnie tahu dimana dia sekarang?"

Luhan mengangguk. Aneh dan gila karena bertahun-tahun ia memendam cinta pada orang yang sekarang pun ia tak tahu dia dimana "It is crazy, isn't it?"

Kyungsoo mengangguk "Aku bahkan tak tahu siapa pria itu, eonnie hanya menyebutnya dia dia dan dia. Dan sekarang kau sendiri tak tahu dia dimana"

Luhan tersenyum "Pria itu yang tak perlu diketahui oleh dunia, Kyungsoo! Biarkan dunia tahu aku mencintainya, menciantainya dari jauh"

"Usiamu sudah makin tua eonni, tapi kau belum pernah berkencan sekalipun"

"Kau mengolokku karena minggu depan kau akan menikah?"

Kyungsoo menggeleng "Bukan itu maksudku eonni, tapi aku hanya tak ingin kau berharap pada hal yang tak pasti"

"Kau melupakan Jongin? Bukankah dia juga mengharapkan hal yang pasti namun lihat akhirnya dia mendapatkan apa yag dia harapkan kan?"

Kyungsoo mengangguk "Kau benar eonni, aku pun masih tak percaya jika aku akan menikah dengan teman sekolahku dulu, dengan pria yang ku benci tapi kebenarannya dia tak seburuk yang aku pikirkan, aku benar-benar merasa bersalah, eonni"

"Kyungsoo-yah! Ini semua karena masalah waktu. Jika kau meluangkan sedikit waktu mu untuk melihat kebaikannya maka kau tak akan memiliki waktu sedikitpun untuk melihat keburukannya. Ku harap kau jangan menyesal dengan semua terjadi"

Kyungsoo mengangguk. Sekarang sudah waktunya untuk menjalani semua yang digariskan-Nya.

KKEUT ?

TeBeCe ?

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Aerii is back guys... !

Kelamaan ngepost nya yah...?

Mian, baru ada waktu luang ...

Tak mau banyak cakap ah, pokoknya seperti biasa KRITIK dan SARAN aerii tunggu :D

Repeeiiiuuww Juseyooo...

XOXO

==aerii==