Disclaimer : I don't own Naruto, Masashi Kishimoto owns this gorgeous manga.

Warning : A little bit fluff and...language

Dead Akatsuki

Chapter 10 : Pillow Talk and Unpleaseant Surprises

Pria berambut perak yang sedang bersandar di salah satu jendela kantor Hokage tersebut membetulkan letak maskernya yang sedikit miring karena betapa kerasnya ia tertawa ketika ia mendengar cerita dari atasannya yang sedang duduk bersandar sambil meminum sake yang sangat ia sukai.

"Ah gomen, Hokage-sama, namun reaksi anda barusan benar-benar sangat menghibur."

Tsunade melirik mantan ANBU disampingnya dengan tatapan kesal, "Terima kasih, Kakashi. Pujianmu sangat kuhargai."

Kakashi berdehem pelan untuk menyembunyikan tawanya yang tidak bisa ia tahan. Pria tersebut berjalan perlahan menghampiri meja Hokage yang penuh dengan berkas yang harus ditandatangani oleh wanita nomor satu di Konoha tersebut.

Kedua tangan Kakashi berada di kedua kantung celana jonin nya, ia menghela nafas. "Yah, seberapa kerasnya kita menutupi hal ini memang para tetua juga akan mengetahuinya." Kakashi menanggapi apa yang tadi Tsunade ceritakan kepadanya, bagaimana wanita tersebut disidang dan dibentak habis-habisan oleh para tetua. Walaupun pada akhirnya Tsunade kembali pada watak aslinya, ia mengamuk sambil membela diri. Hingga ruang rapat yang biasa para petinggi Konoha gunakan pun rusak parah dan ditutup untuk direnovasi.

"Ditambah lagi dengan kembalinya Uchiha Itachi."

Tsunade menggeram kesal dan membanting gelas sakenya keatas meja. "Hal itulah yang sangat membuat para tua bangka itu mengamuk dan membentakku habis-habisan tadi. Bukan salahku jika Uchiha Itachi kembali hidup! Sial, hal seperti inilah yang membuatku membenci pekerjaan ini," Tsunade menggerutu kesal sambil menuangkan kembali sakenya.

Kakashi menggaruk pelan bagian belakang lehernya. Terakhir ia bertemu Itachi adalah saat pemuda Uchiha tersebut dalam pengaruh edo tensei pada perang dunia ninja yang lalu. Pada saat itu pun ia dan Itachi tidak berinteraksi banyak.

"Dan sekarang dimana ia berada, Hokage-sama?"

Tsunade meneguk habis sakenya, "Ia berada di sel bawah tanah gedung ini. Namun aku tidak berniat membiarkannya berada disana untuk lebih lama lagi karena para tua bangka tersebut jelas merencanakan sesuatu untuknya."

Kakashi mengangguk setuju, "Ah, dan Sasori?"

"Ia masih ada di rumah sakit bersama Sakura. Kondisinya belum pulih benar sehingga ia masih harus dirawat dalam pengawasanku. Chakranya masih belum terlalu stabil."

"Ah benar juga, inti permasalahan dari semua ini adalah karena mereka memiliki chakra mereka kembali tanpa kita tahu bagaimana itu bisa terjadi," timpal Kakashi, mengingat bagaimana kagetnya ia pagi ini ketika menerima berita tersebut.

"Dan juga yang menjadi masalah adalah karena para tua bangka tersebut tidak ingin kebenaran tentang Itachi tersebar luas."

Kakashi mengangguk pelan. Ia ingat pada masa perang dunia ninja yang terakhir, fakta tentang Itachi dan pembantaian klan Uchiha terungkap. Hal tersebut menyebabkan chaos yang semakin bertambah dalam kondisi perang saat itu. Hanya sebagian warga Konoha dan beberapa shinobi dalam pihak aliansi yang tahu, namun dalam jumlah itupun sudah mampu membuat para tetua terpojokkan.

Ditambah lagi satu-satunya orang yang dapat membuat Itachi tidak menjadi berbahaya, sudah tiada.

.

.

.

Sasori sedang membaca sebuah buku tentang racun dan penawarnya ketika Sakura berjalan menghampirinya. Ia masih berada di rumah sakit atas perintah Tsunade karena kondisi chakranya yang masih belum stabil, padahal ia merasa baik-baik saja.

"Yo, Sakura."

Sakura mengangguk pelan, menandakan bahwa ia mendengar sapaan dari pemuda berambut merah tersebut. Ia membuka lembaran pasien yang berisi data tentang Sasori sambil tersenyum kecil.

"Siang ini kau sudah bisa pulang, Sasori. Namun kau harus berada dalam pengawasanku atau Tsunade-shishou."

Hazel Sasori berkilat senang, "Benarkah? Ah akhirnya aku bisa meninggalkan ranjang rumah sakit yang sangat tidak nyaman ini." Sasori menutup buku yang sedang ia baca dan mencoba untuk turun dari ranjang.

Tangan Sakura terulur untuk menjambak rambut merah Sasori, menariknya kembali untuk terbaring diatas ranjang. "Redhead bodoh aku belum selesai bicara!"

Sasori berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman Sakura namun hasilnya nihil. Ia seharusnya tahu bahwa tidak ada gunanya untuk melepaskan diri dari tangan besi Sakura.

"Siaaaaal lepaskan kepalaku pink, lepaskan tanganmu sebelum semua rambutku rontok!"

Tangan Sakura melepaskan genggamannya pada rambut Sasori, gadis tersebut menghela nafas pelan, "Dengarkan aku bicara sampai selesai, bodoh."

Sasori mengusap kepalanya yang terasa sedikit nyeri akibat kelakuan Sakura. "Memang apalagi yang mau kau katakan?"

Gadis berambut pink tersebut duduk diujung ranjang Sasori, ia tidak habis pikir mengapa pemuda dihadapannya sangat menyebalkan, sungguh berbeda dengan Sasori yang ia dan nenek Chiyo lawan beberapa tahun yang lalu. Ia hampir sama menyebalkannya dengan Naruto.

"Karena chakramu sudah kembali, kau tidak bisa hidup seperti biasa lagi seperti beberapa hari yang lalu."

Sasori mengangguk tenang, "Baiklah, aku mengerti."

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau mau kembali ke Sunagakure?"

"Tidak akan. Aku tidak akan pernah kembali kesana." Sasori menjawab dengan cepat sambil memandang Sakura dengan serius. "Dan jangan pernah sekalipun kau menyarankan hal tersebut pada Hokage-sama."

Sakura mengingat pembicaraannya dulu dengan nenek Chiyo, tentang bagaimana kecewanya Sasori ketika tahu bahwa selama beberapa tahun ia telah dibohongi oleh desanya dan bahkan neneknya sendiri, bahwa sesungguhnya kedua orangtuanya sudah meninggal.

Gadis tersebut mengangguk pelan, "Baiklah. Kalau begitu untuk beberapa hari ini kau harus tetap tinggal bersamaku, jangan dulu pindah ke apartemen barumu. Ini perintah Tsunade-sama."

Sasori tersenyum licik, "Oh itu tidak masalah untukku. Sampaikan terima kasihku pada Tsunade-sama."

Sakura mengernyit kesal pada Sasori, "Jangan berpikir yang tidak-tidak, redhead. Bukan aku yang memintamu untuk tinggal bersamaku."

Pemuda tersebut tertawa kecil, mengeluarkan benang-benang chakra dari ujung jemarinya, mengaitkannya pada Sakura kemudian ia menarik gadis tersebut untuk duduk di pangkuannya.

"Oh benarkah, pink? Kukira kau akan kesepian bila aku pergi." Sasori tersenyum lebar melihat wajah Sakura yang sekarang berwarna sama seperti warna rambutnya.

"Turunkan aku kau redhead mesum sebelum aku menjambakmu dan membuatmu benar-benar menjadi botak."

Sasori meletakkan tangannya diatas dada, menggodanya, "Ah, perkataanmu membuat hatiku sakit, Sakura."

Kedua tangan Sakura berada diatas dada Sasori, mendorongnya menjauh. "Dan jauhkan wajahmu dariku Sasori, kau belum mandi dua hari ini!"

"Hey walaupun aku tidak mandi tapi aku tidak bau-"

Mereka mendengar suara pintu yang terbuka dan beberapa suara berisik yang familiar untuk Sakura.

.

"Sakura-chan tidak seharusnya bertanggung jawab atas hal ini!" Naruto berteriak kearah Ino dan disambut dengan deathglare dari gadis berambut pirang tersebut.

"Tentu saja forehead pasti bertanggung jawab, Sasori 'kan muncul di depan apartemennya!" Ino membalas dengan volume suara yang sama.

Shikamaru melirik Ino dan Naruto yang sedang berdebat tentang Sakura, dan juga Hinata dan Kiba yang berusaha untuk melerai mereka. Tenten dan Neji hanya bisa menatap kesal kearah Naruto. Ia menghela nafas, seharusnya sekarang ia sedang bermain shogi dengan ayahnya. Namun Ino menariknya untuk ikut kerumah sakit dengan alasan untuk menyadarkan Naruto dari niat buruknya terhadap Sasori yang sedang dirawat.

Ia bahkan tidak mengenal Sasori. Yah, ia tahu bahwa ia adalah anggota Akatsuki dan S-class nukenin. Namun bagaimana ia bisa berada di Konoha? Pemuda Nara ini benar-benar tidak tahu. Pada akhirnya, rasa penasarannya mengalahkan kemalasannya.

Namun ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan menemukan Sakura yang berada di pangkuan Akasuna no Sasori. Diatas ranjang.

Ah, baiklah.

"Ah maaf bila kami mengganggu, Sakura, Sasori-san." Shikamaru menyapa mereka dengan santai. Naruto dan Ino pun akhirnya menyudahi perdebatan mereka dan menemukan Sakura berada dalam posisi yang...cukup menimbulkan pertanyaan.

"Sa-Sakura-chan..."

Naruto tak bisa mengontrol wajahnya ketika melihat Sakura berada di pangkuan Sasori dan menemukan kedua tangan pemuda berambut merah tersebut melingkar di pinggang rekan satu timnya. Ia menjambak rambutnya dan memeluk Hinata, "Hinata-chan! Kenapa Sakura tega melakukan ini semua!" Ia memeluk erat Hinata dan tidak menyadari bahwa gadis Hyuuga tersebut sudah hampir pingsan.

Sebaliknya, Ino berteriak kegirangan melihat posisi sahabatnya.

"Ah Sakura! Aku tahu dari awal kau dan Sasori-san memang menyembunyikan sesuatu! Kiba, benar 'kan apa yang kubilang dulu?" Kedua aquamarine Ino berkilat senang.

"Hai, Sakura! Maafkan kami jika mengganggumu, tapi Ino memaksa kami untuk ikut," Tenten menyapa Sakura yang masih terdiam kaku. Neji hanya bergumam pelan dan mengangguk kecil untuk menyapa gadis berambut pink tersebut.

Sedangkan Sakura, baru menyadari semua yang terjadi, mendorong Sasori dan kembali menjambak rambut pemuda tersebut.

"Dan sekarang semuanya menjadi runyam karena perbuatanmu, Sasori!"

"Jangan sentuh rambut indahku, pink!"

.

"Baiklah, jadi apa yang kalian lakukan disini?"

Sakura membuka pembicaraan setelah usaha kerasnya untuk membuat Naruto duduk tenang tanpa berusaha untuk mencekik Sasori yang terlihat sangat senang untuk membuat Naruto kesal.

Tidak lupa ia juga memukul kepala Ino karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak.

"Berita tentang Sasori-san sudah tersebar luas di Konoha, hampir seluruh shinobi sekarang mengetahuinya, karena tadi pagi para tetua memanggil Hokage-sama untuk membicarakan tentang hal ini," Ino menjelaskan apa yang ia dengar dari ayahnya. "Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mencarimu, forehead."

"Dan kami yang sedang bersantai di kedai dango, dipaksa Ino untuk ikut, Sakura. Jadi jangan salahkan aku dan Neji," Tenten menjelaskan bagaimana ia ditarik paksa oleh Ino dengan alasan bahwa ada hal yang akan membuatnya terkejut.

Yah, setidaknya Ino benar.

"Sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengannya, Sakura-chan, saat aku akan makan di kedai paman Kojiro. Dan saat aku berniat untuk bertanya padamu, Tsunade-baa memanggilku dan mengirimku untuk misi! Ketika aku akan mencarimu untuk bertanya, aku menemukan hal tadi yang kau lakukan bersama redhead ini...kau tega sekali Sakura-chan..."

Air mata terlihat di kedua mata Naruto, namun pemuda tersebut tetap mengirimkan deathglare pada Sasori, yang menemukan bahwa situasi ini sangat menarik baginya.

"Ah, Naruto. Aku tahu bahwa yang aku dan Sakura lakukan, dan yang akan kami lakukan selanjutnya, sangat tidak pantas untuk dilakukan di rumah sakit," Sasori membalas perkataan Naruto sambil tersenyum santai dan berusaha menahan tawanya.

Jika Kiba dan Neji tidak menahan Naruto, mungkin sekarang pemuda tersebut sudah berhasil mencekik Sasori yang benar-benar terlihat terhibur akan reaksinya.

Sakura mengusap pelipisnya, geram dengan tingkah Sasori dan Naruto yang sangat membuatnya mulai kehilangan kesabaran. Ia melirik kearah Shikamaru, berharap bahwa pemuda Nara tersebut akan membantunya, namun ia malah mendapati bahwa Shikamaru sedang tertidur nyenyak di sofa.

Kami-sama kesalahan apa yang telah ia perbuat.

Akhirnya gadis tersebut menghela nafas panjang, "Tolong jangan membuatku memutuskan untuk mengunci kalian berdua diruangan yang sama, Naruto, Sasori."

Naruto menggeram kesal dan Sasori hanya mengangkat kedua tangannya, membuat gestur menyerah.

"Baiklah, seperti yang kalian lihat sekarang, Sasori telah hidup kembali dan juga mendapatkan chakranya. Tsunade-sama memerintahku untuk mengawasinya, karena ada masalah dengan chakranya."

Kedua mata Ino melebar kaget, "Sungguh? Jadi kau bisa mengendalikan kugutsu lagi sekarang, Sasori-san?"

"Untuk sekarang aku hanya bisa mengeluarkan benang chakraku untuk waktu yang tidak terlalu lama, karena aku merasa aliran chakraku memang belum stabil. Aku tidak yakin untuk ninjutsu dan yang lain karena aku belum mencobanya," jawab Sasori.

Neji mengaktifkan byakugan miliknya untuk melihat aliran chakra Sasori. Ia mengangguk pelan, "Ya, memang kulihat aliran chakranya belum stabil. Masih dibawah normal."

Sakura mengangguk, "Betul. Dan sekarang Tsunade-sama sedang mencari tahu bagaimana sebenarnya ia bisa kembali hidup, dan meneliti tentang aliran chakranya."

"Tapi itu tidak membuatmu harus naik ke pangkuannya 'kan forehead?" Ino mengerling kearah Sakura sambil memukul bahu sahabatnya tersebut.

.

.

Malang bagi Ino, perkataannya membuat Sakura melempar gadis pirang tersebut keluar dari jendela ruangan yang berada dilantai empat.

.

.

.

Sasori tertawa pelan mengingat bagaimana gadis disampingnya tadi melempar gadis Yamanaka keluar dari jendela rumah sakit, dan juga ekspresi dari teman-teman Sakura yang masih berada didalam ruangan benar-benar membuatnya terhibur. Kiba yang ia ketahui sebagai kekasih Ino langsung melompat keluar jendela untuk menyelamatkan gadisnya sambil mengutuk kepada Sakura.

Sasori dan Sakura memutuskan untuk makan siang di Ichiraku setelah Tsunade memperbolehkan Sasori keluar dari rumah sakit namun tetap berada dalam pengawasan. Pemuda tersebut mengenakan celana jonin dan kaus lengan pendeknya yang berwarna merah, dan juga sandal ninja. Ah, memang menyenangkan kembali berpakaian seperti ninja yang seharusnya.

Ia memilih untuk melompat dari atap ke atap daripada berjalan seperti yang biasa ia dan Sakura lakukan. Yang tentu saja berujung pada lebam di pipi Sasori, hasil dari tangan Sakura yang mengomelinya bahwa ia belum boleh memakai chakranya untuk kegiatan fisik selama beberapa hari.

Sambil mengusap pipinya yang bengkak, ia melirik kearah sakura yang duduk disampingnya, "Hey Sakura, setelah ini apa yang akan kita lakukan?"

Sakura yang sedang meniup pelan kuah ramennya, melirik kearah Sasori, "Setelah ini kau akan tinggal bersamaku dan melakukan beberapa check up, lalu Tsunade-sama akan memutuskan apa yang harus kau lakukan berikutnya. Apakah kau diperbolehkan menjadi ninja di Konoha, atau menjadi tawanan," jawab Sakura yang kemudian menyeruput kuah ramennya.

"Aku seratus persen setuju dengan pilihan pertama," jawab Sasori pelan sambil menghabiskan miso ramen miliknya.

Sakura mengangguk sambil tertawa kecil, "Aku tak bisa membayangkan jika kau diinterogasi oleh Ibiki, bukannya mendapatkan informasi namun ia akan langsung menyerah diawal karena kau benar-benar menyebalkan, Sasori."

"Haha. Lucu sekali, pink," jawab Sasori kesal, sambil menuangkan segelas ocha dingin untuk gadis disampingnya. Sakura menggumamkan terima kasih sambil menahan tawanya.

Kemudian mereka mendengar suara poof pelan dibelakang mereka, dan menemukan Kakashi yang sedang melambai pelan kearah mereka.

"Maa, Sakura-chan, Sasori-san, maaf mengganggu makan siang kalian yang...sangat akrab, bisa kubilang," goda Kakashi sambil berjalan untuk duduk disamping Sasori.

"Kakashi-sensei, tolong jangan mulai." Sakura memberikan deathglare terbaiknya pada Kakashi.

Sasori mengangguk kearah Kakashi, "Yo, Kakashi-san."

Kakashi tertawa kecil melihat respon Sakura. Oh betapa senangnya ia menggoda muridnya yang satu ini.

"Paman, minta tambah satu mangkuk lagi."

Teuchi mengangguk dan tersenyum ramah kearah Sasori, "Baiklah, Sasori-san."

"Hokage-sama menyuruhku untuk memanggil kalian, ada yang ingin ia sampaikan." Kakashi menyampaikan perintah dari Tsunade untuk memanggil muridnya dan juga Sasori.

Sasori berhenti mengunyah miso ramennya.

"Apakah aku akan dieksekusi mati?"

Kakashi menghela nafas, "Walaupun mayoritas kepribadianmu sudah berubah, sikap sinismu masih tetap ada rupanya, Sasori."

Sasori mengangkat bahunya, "Kebiasaan lama memang sulit untuk dihilangkan."

"Lelucon yang buruk, redhead. Jaga kata-katamu." Sakura mengernyit tidak suka kearah Sasori.

"Maa, lebih baik setelah kalian selesai makan siang, segera ke kantor Hokage, ne? Karena sekarang aku harus pergi. Ja, Sasori, Sakura." Kakashi kembali menghilang dengan meninggalkan sedikit asap disamping Sasori.

Sakura memutuskan untuk menutup mulutnya hingga Sasori selesai makan dan pergi ke kantor Hokage karena ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh Tsunade.

Sakura memejamkan kedua matanya, dan mengutuk pelan, "Oh sial."

.

.

.

Sasori sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum kecil kearah Hokage dihadapannya, "Hokage-sama."

Tsunade mengedikkan kepalanya kearah Sasori, "Yo, bocah. Sakura bilang padaku bahwa tadi kau berlari melompati atap sejak keluar dari rumah sakit. Sekali lagi kutemukan kau melanggar perintahku atau Sakura, dengan senang hati aku akan mengembalikanmu ke rumah sakit, jelas?"

"Jelas sekali, Hokage-sama." Sasori mengangguk cepat karena ia tahu tempramen Tsunade dari berbagai cerita yang Sakura katakan padanya.

Tsunade mengangguk puas, "Bagus. Dan sekarang ada beberapa hal yang harus aku sampaikan pada kalian."

Mendengar perkataan gurunya, Sakura bergeser mendekat kearah Sasori. Ia berpikir bahwa mungkin keberadaannya akan sedikit menenangkan reaksi Sasori nanti.

Sedangkan Sasori hanya memandang heran kearah Sakura.

"Kau mungkin sudah mendengar beberapa aturan dariku dari Sakura. Namun...ada satu hal yang kau harus tahu, Sasori."

Sasori menaikkan salah satu alisnya, "Ya?"

Manik honey Tsunade menatap kedua viridian Sakura, yang dibalas dengan anggukan pelan dari gadis berambut pink tersebut.

"Saat kejadian yang lalu berlangsung, Uchiha Itachi muncul di apartemen Sakura. Ia mengklaim bahwa dirinya juga hidup kembali, sama sepertimu. Bahkan ia juga membantu Sakura dalam menstabilkan chakramu."

Sakura merasakan tubuh Sasori yang sedikit menegang disampingnya ketika Tsunade selesai berbicara. Ia melirik pemuda disampingnya, dan menemukan bahwa pemuda tersebut tidak memasang ekspresi apapun dan kedua matanya terlihat menyipit.

Kami-sama, ini jelas bukan pertanda baik.

"Uchiha Itachi, kau bilang?" Sasori akhirnya berbicara setelah keheningan yang cukup lama di ruangan tersebut.

Sakura mengangguk pelan, mengiyakan perkataan gurunya, "Ya, Sasori. Ketika kau kritis malam itu, Itachi muncul di apartemenku dan mengklaim bahwa ia bisa menyembuhkanmu. Ia membantuku dalam menstabilkan kembali chakramu."

"Dan kau tidak bilang tentang hal ini kepadaku lebih cepat?" Sasori menatap gadis disampingnya. Sejak ia sadar ia selalu bersama dengan Sakura, dan gadis tersebut tidak bilang apapun tentang keberadaan Itachi.

Oh Sasori tidak menyukai hal ini.

Sakura memandang kesal kearah Sasori, tidak menyukai nada bicara yang digunakan Sasori, "Bukan kewajibanku untuk menjelaskan hal ini padamu, Sasori. Tsunade-sama lah yang berhak. Tidak usah menatapku dengan pandangan menuduh seperti itu."

"Tapi jelas kau bisa setidaknya bilang padaku bahwa Itachi ada di apartemenmu malam itu, Sakura. Apa maksudmu dengan merahasiakannya dariku-"

"Karena jika aku bilang itu berarti aku melangkahi keputusan nona Tsunade! Kami-sama bisakah kau berpikir dengan kepala dingin-"

"Kalian berdua, diam!"

Tsunade membanting tangannya keatas meja kerjanya, membuat benda malang tersebut retak di bagian ujung. Shizune menarik nafas pelan sebelum menghampiri atasannya tersebut dan memegang pelan pundaknya, mengarahkan Godaime Hokage yang tempramental tersebut untuk kembali duduk di kursinya.

"Nona Tsunade, tenanglah. Dan kalian berdua, jaga sikap kalian dihadapan Hokage!"

Sakura mundur perlahan untuk memberi jarak pada dirinya dan Sasori, dan menghembuskan nafasnya perlahan, "Maafkan aku, Tsunade-sama."

Sasori melipat kedua tangannya didepan dada, "Dimana ia sekarang?"

"Ia ada di sel bawah tanah Konoha untuk sementara ini. Aku tidak bisa membiarkannya berkeliaran di desa karena...alasan yang jelas, walaupun itu bukanlah kebenarannya." Tsunade menjawab dengan tenang.

Tsunade menarik nafasnya sebelum mengatakan hal yang akan membuat muridnya dan juga pemuda disampingnya sangat tidak senang. Oh, baiklah.

"Dan aku juga memutuskan bahwa Uchiha Itachi dan kau, Sasori, menjadi tawanan rumah dibawah pengawasan Sakura."

"Apa kau bercanda?!" teriak Sasori dan Sakura bersamaan. Sakura bahkan terdiam untuk sesaat, ia tahu bahwa Itachi bukanlah penjahat yang selama ini Konoha sebut. Namun tetap saja, tinggal bersama dan mengawasi Itachi yang menyebabkan semua hal yang terjadi pada Sasuke...Oh, Kami-sama...Sakura langsung merasakan kepalanya berdenyut nyeri.

Sasori menggelengkan kepalanya sambil memandang tidak percaya kearah Tsunade, "Hokage-sama maaf jika ini terdengar tidak sopan tapi- apa kau tidak salah dengan keputusanmu?"

Kedua mata Tsunade menyipit tidak senang, "Memangnya kenapa, bocah? Kau meragukanku hah?"

Tangan kiri Sasori terulur, mengisyaratkan kepada gadis disampingnya, "Tapi aku tidak mau membagi Sakura dengan Itachi."

Sakura menoleh cepat kearah Sasori. Kami-sama-Kami-sama-Kami-sama apakah ia akan mengucapkan kata-

"Demi Jashin, dia budak pribadiku, Hokage-sama!"

.

.

.

"Oh kau memang brengsek, redhead."

.

.

.

Dan Sakura melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan pada Ino. Melempar Sasori dengan sekuat tenaga dari jendela kantor Hokage, dan memastikan bahwa ia mendarat dengan keras, melihat adanya kumpulan debu dan suara retakan tanah di ujung barat Konoha.

.

.

.

A/N: Yeayyy akhirnya bisa update dalam waktu yang ga terlalu lama, iya kan? Hehe. But before, massive thanks for TaraWu07, anara, hanazono yuri, , .3, permen lemon, balay67, Sasokun, Yaaya, Ishikawa Natsumi, dindahyuuga, vhi akasuna, Miss Tari-Khai, Sherry Hoshie Kanada dan mungkin untuk beberapa silent readers, terima kasih banyak untuk review dan support kalian semua!

Oh and guys, i will post a new fanfict about Akatsuki and OC (Self-insert) soon, this month, in English. Gimana menurut kalian, yay or nay? :D

Reviews are sugar and love, may i have some?