Warning : Kise Ryouta's PoV. OOC? Typo? Abal-abal. Alur cepat? Tidak sesuai EyD? Quick-typing as usual.
Side-pair : Para-para OTP saya (AoKaga, AkaFuri, MoriZuki)
A/N : Mereka sudah memanggil nama kecil masing-masing ya. *coret*Soalnya sebentar lagi para couple-couple itu nikah. Ya. Saya nanti jadi penghulunya~ /ditendang.*coret* Dan aneh kalau yang pindah marga dipanggil pakai nama kecil, yang suami/seme tetap marga.
Ryou-kun memanggil 'Tetsuyacchi' disaat biasa dan memanggil 'Tetsunacchi' saat Tetsucchi sedang menyamar.
Balasan review :
- Anonymous : Makasi pujiannya :D (?) Kise-kun sebagai pilot keren banget XD (bisa dilihat dari gambar chara biblenya Kise-kun) Makasi reviewnya m_ _m
- Karen : iya! Anak mereka pasti unyu! :3 Makasi reviewnya. Masih berapa chap lagi sebelum anak mereka lahir... *mikir keras*
.
.
Chapter 9 : (Boy's) Name and Shopping
.
.
Kandungan Tetsuyacchi genap 6 bulan. Kami masih harus menunggu 3 bulan lagi. Sekarang aku sedang menemani Tetsuya- maksudku Tetsunacchi.
"Perkiraan saya, anak kalian laki-laki." Ucap dokter yang memeriksa kandungan Tetsunacchi.
Kami saling bertukar pandang.
Eh, laki-laki ya!
"Tetsucchi~ Bagaimana kalau nama anak kita Yuki saja." Tetsunacchi langsung menatapku jengkel. "Eh, kenapa Tetsucchi? Tetsucchi tidak suka?" Tanyaku.
"Yuki dari Yukio?" Gumamnya.
"Eh? Ah. Tidak juga-ssu! Yah, memang Kasamatsu-senpai orang yang sangat kuhormati tapi..." Jawabku. Di wajah datarnya, sorot matanya menjadi sedih atau kecewa. Apakah dia cemburu?! Kawaii!
"...Karena Ryouta-kecil diperkirakan lahir bulan Desember, saat musim dingin, bersalju. Jadi namanya Yuki. Tapi, bisa juga 'percaya diri' sepertiku dan 'keras seperti kayu' seperti Tetsucchi-UKH!" Aku langsung diberi ignite.
"Akan kita bicarakan di rumah, Ryouta-kun."
.
"Yosh! Ini buku-buku nama bayi laki-laki!" Aku mengeluarkan 3 buku yang berisi pilihan nama yang baik untuk anak laki-laki. Tetsuyacchi mengambil salah satu buku dan membukannya.
"Kita mulai dari A." Gumamnya sambil melanjutkan membolak-balik halaman pertama.
A - Asuma.
Tetsuyacchi menggeleng.
Aku terus membalik-balik halaman. Semuanya ditolak Tetsuyacchi. Hingga akhirnya sampai di halaman R.
R - Ryouma.
"Ah, bagaimana kalau Ryouma?! Aku mendapat bayangan kalau anak kita akan lebih mirip aku-ssu!" Aku memberitahu Tetsuyacchi. Tetsuyacchi memandangku diam. Dia tidak setuju?
"Sepertinya begitu." Dia tersenyum lembut. Bolehkah aku memeluknya?!
"Tapi, sepertinya... Aku ingin nama lain..." Gumamnya. "Ah. Sepertinya dia juga setuju, Ryouta-kun. Tadi dia menendangku." Aku hanya tersenyum kikuk.
Berarti... Masih harus mencari nama lain.
.
Aku mencoret-coret kertas. Menulis kanji 'Ryou' dan 'ta'. Lalu, menulis nama Tetsuyacchi.
"Jadi, Koukicchi. Menurutmu nama yang pantas untuk anak kami apa-ssu?"
"Hm... Bagaimana kalau Yuuta? Mengunakan 'ta' dari Ryouta. 'Yuu' dari kanji percaya diri." Saran Koukicchi.
"Itu bagus. Nanti akan kubicarakan dengan Tetsucchi-ssu!" Aku mencatat saran nama yang diberikan oleh Koukicchi.
"Kouki. Kau menelepon siapa?" Suara yang terdengar posesif ini pasti milik...
Akashi Seijuurou!
"Se-Seijuurou-kun! Ryouta-kun sedang menanyakan perihal nama anaknya dengan-"
"Seharusnya dia berdiskusi dengan istrinya bukan kau."
GLEK.
Aku langsung membaca doa. Takut-takut ada gunting muncul entah darimana.
"Tapi, Seijuurou-kun, dia..."
"Ryouta, jika kau ingin berdiskusi lagi, pastikan kau mengajakku." Suara Koukicchi langsung terganti dengan Seijuuroucchi.
"Ha-Hai-ssu..."
.
"Ya, Taigacchi. Menurutmu bagusnya apa? Saat aku menyarankan nama Yuki dari Yukio atau nama dari orang lain, dia ngambek. Jadi, aku usahakan mencari yang jauh dari nama-nama orang yang dekat denganku-ssu." Sekarang, aku menelepon Taigacchi.
"Hmmm... Berarti tidak bisa menggunakan nama 'Tatsuya.' Oh ya. Tunggu sebentar." Aku mendengar Taigacchi menjauhkan teleponnya.
"Oi, Daiki! Kau dengar? Namamu tidak akan digunakan mereka!" Aku sweatdrop mendengarnya.
"Ya! Yang bisa menggunakan namaku adalah anakku sendiri!" Balas yang bersangkutan. Suara mereka berdua keras sekali...
"Kalau begitu... Kau tidak akan mendapatkan anakku!" Balas Taigacchi lagi.
"Eh... Jangan, Taiga! Aku menginginkan anakmu, Taiga!" Seru Daikicchi memelas.
Sejak kapan acara menanyakan-nama-anak jadi drama seperti ini...
Ngomong-ngomong... Taigacchi kan laki-laki... Bagaimana bisa punya anak?
.
"Buahahaha?! Micchan dan Daiki-kun memainkan drama seperti itu saat kau meneleponnya?!" Tawa Kazunaricchi menggema di apartemenku.
"Huh. Kazunaricchi... Ayo fokus! Jadi, apa nama anak yang akan disetujui Tetsucchi?" Gumamku berusaha memfokuskan Kazunaricchi.
"Ohoho... Gomen gomen, Ryou-chan!" Dia mengelap air matanya. "Bagaimana kalau Ryu?" Lanjutnya.
"Ha? Naga?!" Tanyaku lagi. Dia mengangguk girang. Kutulis kanji 'naga' di noteku.
"Tapi, aku rasa... Tetsucchi tidak akan menyukainya-ssu." Gumamku sambil menopangkan daguku di atas pensil.
"Ah, Tecchan! Kalau namanya Ryu, kau suka tidak?!" Pekik Kazunaricchi saat melihat Tetsuyacchi melewati ruang tamu. Kazunaricchi langsung diberi pandangan jangan-memberi-nama-yang-aneh-aneh-untuk-anakku.
"Benar 'kan, Kazucchi..." Aku menghela napas.
.
"Mungkin maksudnya dia ingin nama anaknya yang menyangkut nama kalian berdua!" Seru Satsukicchi.
"Ya! Nama anakku saja Jungo! Junpei dan Riko!" Seru Riko-senpai bersemangat.
"Itu adalah idenya, Ryouta. Kalau Tetsuya memang berpikir seperti itu, tidak salah juga kau mencobanya." Junpei-senpai menepuk pundakku.
"Baiklah-ssu!"
Sekarang aku sedang menemani Tetsucchi yang sedang mengikuti kelas senam untuk ibu hamil di kediaman Hyuuga. Satsukicchi juga menemaniku. Jadi, selagi menunggu Tetsucchi senam, aku mencari referensi nama lagi.
.
Ryouta x Tetsuya.
Ryouya ("Terdengar tidak pas di lidah, Ryou-chan?")
Youya ("Tambah tidak pas." Gumam Riko-senpai.)
Yuya ("Lumayan bagus." Ujar Junpei-senpai.)
.
"Yuyacchi..." Aku mencoba memanggil namanya. "Itu keren sekalii-ssu!"
"Baguslah. Apa kau masih ingin mencari nama?" Tanya Junpei-senpai kepadaku. Aku menatap mereka bertiga. Lalu, tersenyum dan mengangguk.
.
Akhirnya, aku mencari waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Waktu yang paling tepat adalah... Waktu berada di ranjang.
Maksudku saat mau tidur!
"Jadi bagaimana Tetsuyacchi?! Aku sudah menuliskan nama-nama yang menurutku akan disukai Tetsucchi!" Aku memberikan noteku yang kutulis kepadanya.
Dia menatapku bingung lalu mengulurkan tangannya, menerimanya dan membacanya satu-satu.
.
Ryouta x Tetsuya
*coret*Ryouya*coret*
*coret*Youya*coret*
Ryuya.
Yuya.
Souta.
Ryou.
.
"Bagaimana, Tetsucchi?!" Tanyaku lagi. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku. Ah, manis sekali...
"Aku juga sudah menyiapkan nama, Ryouta-kun..." Jawabnya sambil mengambil pensil dari meja dekat ranjang kami.
Yuuta.
"Bagaimana?" Tanyanya sambil menatapku. Aku terdiam. Menatap kanji yang barusan ditulis Tetsuyacchi. 'Yuu' yang menggunakan kanji 'utama' dan 'ta' dari 'anak laki-laki'. "Kau ingin berdiskusi lebih jauh lagi denganku?" Suara Tetsuyacchi menyadarkanku dari lamunan.
"Eh... Tidak apa?" Aku antara ragu dan yakin untuk mengambil nama itu.
"Ya. Aku tidak keberatan. Lagipula membahagiakan jika bisa menghabiskan banyak kegiatan dengan Ryouta-kun." Ujarnya sambil menuliskan nama kami di note itu.
.
Kise Ryouta-kun *love* Kise Tetsuya-kun
Kise ...-kun
.
Aku menatap jarak yang agak panjang dari marga dan suffix itu. Kosong. Tempat kosong itu akan terisi dengan nama anak kami.
Anak pertama kami.
Buah cinta kami.
"Ah... Sumimasen. Aku menulisnya tanpa sadar." Kulihat wajahnya bersemu merah. Lalu tangannya bergerak, Tetsuyacchi bersiap untuk menghapus tulisan yang dibuatnya. Aku langsung menahan tangannya.
"... Ryouta-kun?"
"Eh. Ah! Jangan dihapus-ssu! Biarkan aku memotretnya dulu-ssu!" Aku langsung mengambil ponselku.
CLICK.
Aku tersenyum sendiri melihat hasil gambar itu. Lalu mengembalikan ponselku pada tempatnya dan memeluk Tetsuyacchi.
"Tetsuyacchi. Besok kita pergi belanja, ya? Oyasumi nasai-ssu!" Aku mencium bibirnya singkat dan mengeratkan pelukanku.
"Oyasumi nasai, Ryouta-kun, Yuuta-kun..." Gumam Tetsuyacchi.
Eh...
.
.
"Tetsucchi... Ayo bangun..." Aku membelai rambut biru mudanya yang masih berantakan.
"5 menit lagi..." Dia berbalik memunggungiku.
"Hei... Ayo... Kita mau belanja untuk keperluan dia juga lho..." Aku jadi ikut berbaring lalu memeluk perutnya yang membesar.
THUD.
Bahkan dia setuju denganku!
"Uh... Baiklah... Berhenti mengangguku kalian berdua..." Gumam Tetsuyacchi sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Berdua...? Sepertinya Yuutacchi juga berusaha membangunkannya!
Eh...
"Ryouta-kun... Aku masih mengantuk... Tidak bisakah belanjanya besok?" Tanyanya sambil menggosok matanya. Aku tersenyum lalu beranjak dari tempat tidur.
"Tidak boleh-ssu! Kalau Tetsucchi malas mandi, aku akan memandikanmu-ssu~!" Aku langsung menggendongnya ala pengantin.
"Uh... Turunkan aku, Ryouta-kun..." Gumamnya. Dia belum bangun sepenuhnya.
"Aku akan menurunkan Tetsucchi kalau sudah berada di kamar mandi-ssu!" Aku langsung membawanya ke kamar mandi.
.
"Fuwaaah... Segar sekali-ssu... Tetsuyacchi juga sudah segar-ssu~!" Aku menatapnya yang masih menggunakan jas mandi.
"R-Ryouta-kun... Gendong aku lagi..." Dia merentangkan tangannya. Dasar manja. Padahal tadi dia tidak mau kugendong sama sekali.
"Hai-ssu, hai-ssu." Apapun yang dimintanya akan kucoba untuk mewujudkannya. Dia mengeratkan pelukannya.
THUD.
"Ahaha~ Sepertinya dia juga senang-ssu!" Aku kembali berjalan menuju kamar. Selama berjalan aku mendengar Tetsuyacchi bersenandung lagu untuk anak kecil. Mungkin menjadi guru TK membuatnya hapal lagu anak-anak.
"Kita sudah sampai-ssu~" Aku menurunkannya perlahan ke ranjang.
"Arigatou, Ryouta-kun... Aku harus mengambil baju..." Tetsuyacchi berusaha berdiri.
Aku menghentikannya. "Bagaimana kalau aku yang menyiapkannya, Tetsucchi~? Aku akan memberikan pelayanan terbaik untuk Tetsucchi~!" Aku memberikannya kedipan mata.
"..." Mulutnya terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, tertutup lagi. Lalu, mengangguk pelan. Aku mengecek isi lemari kami. Karena kami akan belanja, berarti Tetsuyacchi hari ini menyamar.
"Hmm~ Hmm~ Ah!" Aku menemukan sebuah gaun yang tidak pernah kulihat. Aku tidak ingat pernah membelikan ini. Aku mengambilnya lalu membawanya kepada Tetsuyacchi.
"Ini... Baju baru?" Tanyaku ragu. Ekspresinya yang datar agak berubah sedikit. Menjadi terkejut.
"H-Hai. Aku membelinya saat jalan dengan Riko-senpai dan Satsuki-san." Jawabnya. "Apa itu bagus untukku...?" Tanyanya lagi.
Kawaaaaaaaaaiiiiiii!
Ehem.
"U-u-untuk Tetsuyacchi apapun bagus-ssu!" Aku langsung memeluknya. "Syukurlah kalau Ryouta-kun menyukainya... Nee, Ryouta-kun."
"Hai?"
"Aku juga butuh pakaian dalam..."
"Ah. H-hai-ssu!"
.
Akhirnya kami selesai berdandan~! Aku berusaha menyesuaikan pakaianku dengan Tetsunacchi. Dengan kaos hitam dipadukan dengan cardigan berwarna nila. Lalu, celana kain berwarna hitam.
Sedangkan, Tetsunacchi menggunakan gaun untuk ibu hamil yang berwarna kuning muda. Dia imut sekaliiiiiiiiiii! Aku ingin memakannyaaaaaaa! ("Berhenti berkata seperti itu, Ryouta-kun...")
Wig yang digunakan Tetsunacchi juga kudandani. Dengan sebagian rambut yang berada samping dikepang lalu diikat menjadi satu.
Dia persis sekali seperti malaikat!
Tetsunacchi maji tenshi-ssu!
"Ryouta-kun... Ayo kita pergi." Suara Tetsunacchi membangunkanku dari alam mimpi.
"Hai-ssu!" Aku menyusulnya dan menggandeng tangan mungilnya.
.
"Coba lihat... Bukankah itu Kise Ryouta?"
"Mana? Yang mantan model remaja itu?"
"Gadis di sampingnya itu siapa?"
"Wah... Pasangan yang serasi."
Sudah lama aku tidak mendengar kata-kata itu. Kapan terakhir aku pergi bersama dengan Tetsunacchi...?
"Ryouta-kun..." Pegangan tangan Tetsunacchi semakin erat. Aku membalas genggamannya, "Aku bersamamu, Tetsunacchi..."
"Ki-Kise-kun!" Uh oh. Tidak lagi.
"Ma-maaf kau salah orang-ssu!" Ucapku tanpa menatap orang yang memanggilku. "Tetsunacchi, pegangan yang erat..." Bisikku. Dengan cepat aku langsung menggendong Tetsunacchi ala bridal dan berlari meninggalkan TKP.
Lain kali aku harus ingat untuk menyamar.
.
Setelah berhasil melarikan diri, aku membawa Tetsunacchi ke sebuah toko pakaian anak bayi dan ibu hamil.
"Irrashaimase!" Sambut pelayan toko.
"Jadi, Tetsunacchi~ Kau mau yang mana-ssu?" Tanyaku. Tetsunacchi menatap pakaian-pakaian disekeliling toko itu.
"Ryouta-kun coba lihat ini..." Ucapnya dengan mata berbinar. Dia menunjukkan sebuah baju anak bayi yang satu paket pakaian berwarna biru - Baju, celana, kaos kaki, sarung tangan, muffler, topi nekomimi?
"Wa-wah? Apa ada warna biru muda?" Tanyaku pada pelayan.
"Sepertinya ada tuan." Lalu, pelayan itu memberi isyarat kepada temannya untuk mencarikannya. Tak berapa lama kemudian, pelayan yang itu mendapatkan benda yang kuminta.
"Ini tuan, terima kasih sudah sabar menunggu." Dia memberikanku sebuah plastik berisi set pakaian yang berwarna biru muda tersebut.
"Yuutacchi pasti terlihat imut menggunakan ini-ssu!" Gumamku girang.
"Ryouta-kun? Kau bilang apa tadi...?"
"Eh." Aku menyentuh bibirku tanpa sadar. "Nama itu langsung muncul di pikiranku-ssu...!"
"Fufu, tapi, tidak apa. Bagaimana dengan ini Ryouta-kun?" Tetsunacchi menunjukkan sebuah gaun kecil berwarna merah.
"Eh? Tapi, anak kita laki-laki-ssu?"
"O-oh iya, aku jadi ingin punya anak perempuan juga..." Ujarnya sambil mengembalikan gaun itu.
"Baju bayi berwarna merah! Kitakore!"
Aku dan Tetsunacchi langsung menoleh ke arah sumber suara. Orang yang suka memainkan kata seperti itu adalah-
"Shun-kun, kau harus berpikir bagaimana membahagiakan orang dengan kata-katamu..." - Izuki Shun, mantan point guard Seirin, mantan senpai Tetsunacchi dan kekasih mantan senpaiku-
"Tapi, aku berusaha untuk membuat orang tertawa. Itu artinya aku berusaha membahagiakan mereka. Oh. Kitakore! Arigatou, Yoshitaka-san!" - Moriyama Yoshitaka, mantan shooting guard Kaijou.
"Ya ampun..." Kulihat senpai ikemen (meski tidak seikemen aku. "Kau terlalu percaya diri, Ryouta-kun...") Itu memijit pelipisnya. Lalu, dia mengangkat kepalanya seperti mengingat sesuatu, "Kise Ryouta!"
Eh. Dia melihatku?
"Yoshitaka-senpai! Hisashiburi-ssu!" Aku melambaikan tanganku.
"Eh...? Kau Kuroko-kuh...!" Yoshitaka-senpai langsung diignite Tetsunacchi. Nyaris saja
"Ehem. Ini Kise Tetsunacchi-ssu." Jelasku. Yoshitaka-senpai mengelus perutnya. Meringis kesakitan.
"Ah... Tetsuna..." Shun-senpai hanya takjub melihatnya.
"Hisashiburi desu, senpai..." Ucap Tetsunacchi pelan.
"K-kau cantik sekali... Sudah lama aku tidak melihat bunga sepertimu- Aw! Shun-kun!" Aku melihat Shun-senpai mencubit tangan Yoshitaka-senpai.
"Maaf saja kalau aku tidak cantik, Yoshitaka-san." Ujarnya. Dia cemburu...?
"Tapi, sungguh... Tetsuya-aah! Maksudku Tetsuna, kau sangat... Berbeda." Komentar Shun-senpai menatap Tetsunacchi dari atas ke bawah.
"Jangan jatuh cinta pada Tetsunacchi-ssu! Dia milikku!" Aku memeluk Tetsunacchi.
"Aku juga sudah memliki Shun-kun koook~" Yoshitaka-senpai menggaet tangan Shun-senpai. Shun-senpai langsung melepaskannya.
"Tapi, benar-benar kau berubah drastis..." Gumam Shun-senpai lagi. "Ah! Sudah jam segini. Sebaiknya aku pergi dulu. Sampai berjumpa nanti!" Shun-senpai melambaikan tangannya.
"Sampai nanti lagi, manis." Yoshitaka-senpai langsung menggapai tangan mungil Tetsunacchi dan menciumnya.
"SENPAAAAIII!"
BUAK.
"Maafkan aku, Ryouta-kun." Shun-senpai langsung menyeret Yoshitaka-senpai keluar dari toko.
"Kau cemburu, Shun-kun~?"
"Aku hanya berusaha menyelamatkanmu dari Ryouta."
Dasar senpai, tidak berubah sama sekali.
.
Akhirnya setelah sekitar menghabiskan waktu 2 jam mencari kebutuhan bayi, kami beristirahat di sebuah kafe. Aku memilih tempat yang agak terpencil agar tidak menarik perhatian.
"Tetsucchi, tidak apa-apa-ssu?" Aku duduk disisinya sambil memijat pinggang dan lututnya. Tetsunacchi hanya mengangguk dan bersantai.
"Tetsucchi ingin minum apa-ssu?" Tanyaku sambil membolak balik menu yang sudah disediakan.
"Vanilla shake desu."
"Tetsucchi... Itu tidak ada-ssu. Yang ada vanilla latte. Bagaimana?" Tanyaku. Karena tidak ada pilihan, dia menurut saja. "Hmmm... Mungkin aku akan pesan caramel cappucino saja." Jawabku.
"Baiklah. Satu vanilla latte dan satu caramel cappucino. Apa ada tambahan lain?" Tanya pelayannya. Aku dan Tetsunacchi menggeleng. "Baiklah, akan segera kami buatkan." Ucapnya sambil mengambil menu lalu pergi.
"Jadi... Ryouta-kun, apa rencanamu setelah 'dia' dilahirkan?" Tanya Tetsunacchi.
"Eh... Entahlah-ssu... Yang pasti aku akan menjadi papa yang terbaik untuknya!" Jawabku.
"Papa? Oh iya, berarti dia akan memanggilku apa? Okaa-sama?" Gumam Tetsunacchi.
"Mamacchi!" Pekikku girang.
"Uh, Ryouta-kun, aku tidak ingin dipanggil seperti itu. Ada baiknya dia memanggil kita seperti biasa... Maksudku seperti 'okaa-sama' dan 'otou-sama'."
"Bagaimana, kalau itu terserah anak kita saja? Kalau mau bervariasi... Ayo kita buat yang banyak anak, Tetsucchi *chu*" Aku mencium bibirnya singkat. Wajahnya langsung memerah. "R-Ryouta-kun mesum..."
.
Setengah jam berlalu, minuman yang kami pesan sudah habis. Aku pergi ke kasir untuk membayar lalu membawa belanjaan kami. Tak lupa aku memegangi Tetsunacchi agar bisa berjalan dengan baik.
"Apa perlu kugendong-ssu?" Tanyaku.
"Tidak perlu..." Balasnya. "Tapi... Di rumah nanti... Aku mohon bantuannya, Ryouta-kun..."
"Hai-ssu! Kalau begitu, ayo kita cepat-cepat ke mobil lalu pulang~ Dan merancang kamar untuk anak kita-ssu~!" Aku langsung menarik Tetsunacchi.
"Pelan-pelan, Ryouta-kun..."
"Hai-ssu!"
.
"Naissu~ Semua sudah selesai!" Aku melihat hasil karyaku.
Sebuah kamar yang sudah ditempeli wallpaper berwarna biru langit dengan sentuhan warna kuning matahari. Box bayi di sebelah kanan kamar. Lemari pakaian bayi. Kotak mainan bayi.
"Otsukare sama, Ryouta-kun..." Tetsuyacchi mendatangiku dengan tergopoh-gopoh.
"Ah, Tetsuyacchi seharusnya duduk dan menungguku saja-ssu!" Aku langsung memapahnya menuju sofa lagi.
"Tapi, tidak adil jika hanya Ryouta-kun yang bekerja..."
"Lho? Tetsuyacchi sedang mengandung anakku lho? Itu kerja yang lebih melelahkan dari yang kulakukan sekarang..." Aku mengecup keningnya.
"Arigatou, Ryouta-kun..." Tetsuyacchi menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Tetsucchi..." Ucapku sambil mengelus kepalanya. "Aku sudah memutuskan. Nama anak kita... Yuuta saja. 'Yuu' yang utama. Menggunakan 'ta' yang anak laki-laki.
Tetsuyacchi bangun dan menatapku. "Jadi... Nama anak kita, Yuuta-kun?" Aku mengangguk. Dia menatapku dalam diam.
"Kau dengar? Jika kau memang anak laki-laki... Kau akan bernama Yuuta-kun..." Seru Tetsuyacchi sambil membelai perutnya. Dia tersenyum lembut.
THUD.
"Sepertinya dia senang, Ryouta-kun." Aku tersenyum dan memeluknya.
Aku akan berusaha membuat keluarga kita yang paling bahagia.
.
Kise Ryouta-kun *love* Kise Tetsuya-kun
Kise Yuuta-kun
.
.
Kamus(?) : Aka bisa berarti bayi. Aka bisa berarti merah. Keduanya mempunyai kanji yang sama.
A/N : maafkan saya para reviewer yang memberi saran nama. Akhirnya... Saya mengambil yang netral saja orz
Yuuta : 'Yuu' dari utama (pertama?) Dan 'ta' dari anak laki-laki (lihat, Ryou'ta')
Nama tersebut digunakan di doujin pixiv yang saya baca. Kalau tidak salah judulnya... 'KiKuro familia' kalau tidak salah ingat... Tapi pairnya Kise x Fem!Kuro. Kalau ada yg bisa translate... Tolong! Saya malas cari kanji yang saya tidak tahu tempe-_- /slap
Dekripsi anaknya agak mirip dengan yang saya pikirkan (sungguh, saya kaget pas baca itu. Kok bisa sama? Tapi, benar-benar kerja keras memikirkannya~ /lebay. Kecuali untuk sifat. Sifatnya beda. Saya gamau spoiler~ XD)
Dan karena besok libur bersama dan chap ini selesai. Mau gamau update~ /eh.
Terakhir, mohon maaf & mohon review?
