"Kami ini dua yang menjadi satu . satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, Karena dengan begitu , kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahat ku ini , sangat sulit untuk di cintai ….
Kris Wu -
"Bukankah Cinta Juga sama? Aku selalu Berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dan obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain .
Wu Yi Fan –
*****Yi Fan menggedong Sehun memasuki rumah itu. Para pelayan tampak sibuk menyiapkan segala sesuatunya, suasana begitu sibuk tidak kelihatan kalau sekarang sudah dini hari.
Lelaki itu mendudukkan Sehun di ranjangnya yang berseprai satin, lalu memberikan beberapa instruksi kepada para pelayannya.
Setelah air panas dan perban serta obat-obatan lain diletakkan, para pelayan melangkah pergi dan meninggalkan Sehun sendirian di dalam kamar bersama Yi Fan.
Sehun terdiam, berusaha menggenggam jari-jarinya yang gemetaran. Dia masih mengenakan jas Yi Fan yang diselimutkan di bagian depan dadanya, menutupi pakaiannya yang robek. Dia sangat ketakutan, usaha pemerkosaan yang dilakukan Myungsoo telah menguras seluruh emosinya, dan kemudian pemandangan mayat Myungsoo yang bersimbah darah dengan mata dan ekspresi terkejut akan selalu menghantuinya. Ditatapnya Yi Fan dengan pandangan ragu.
"Apakah kau akan membunuhku?"
Yi Fan hanya tersenyum misterius dan kemudian bergumam tenang. "Buka jas itu."
Sehun langsung berjingkat dari ranjang, terkejut. Apakah dia dilepaskan dari mulut buaya hanya untuk masuk ke kandang harimau yang lebih ganas? Apakah lelaki itu akan memperkosanya?
Digigitnya bibirnya. Dia tidak akan menyerah kepada Yi Fan, dan membiarkan lelaki itu menguasainya dengan mudah.
"Tidak." Jawabnya dengan menantang.
Yi Fan mengangkat alisnya, "Keras kepala, padahal kau begitu lepas. Buka jas itu."
"Tidak!" suara Sehun makin keras, dia benar-benar ketakutan.
"Aku tidak akan memperkosamu. Aku tidak tertarik dengan pria yang acak-acakan setelah dipegang lelaki lain, dan terluka di mulutnya, tidak akan enak untuk dicium." Yi Fan tampak tidak sabar, "Biarkan aku melihat lukamu."
Sehun gemetar. Aura menakutkan itu masih ada, memancar jelas dari tubuh Yi Fan. Benarkah lelaki itu akan melakukannya? Ataukah lelaki itu akan memperdayanya?
Yi Fan mendekatkan meja yang berisi baskom air hangat, obat-obatan, kapas, perban dan beberapa obat luar lainnya ke dekat ranjang. Kemudian dia menarik kursi, duduk tepat di depan Sehun yang terduduk di tepi ranjang. Matanya menatap tajam, memaku Sehun di tempat sehingga Sehun tidak bisa berbuat apa-apa ketika Yi Fan melepaskan jas yang melindungi dadanya yang terpampang jelas karena pakaiannya yang robek.
Otomatis Sehun langsung menutupi dadanya. Tetapi Yi Fan mencengkeram pergelangan tangannya lembut, dan menyingkirkan tangannya ke samping tanpa kata. Pipi Sehun memerah ketika telanjang dada di depan Yi lelaki itu tampaknya tidak tertarik dengan pemandangan dadanya. Matanya terpaku pada bekas cakaran dan goresan yang menimbulkan bilur-bilur merah di pundak Sehun. Dengan seksama Yi Fan meraih pergelangan tangan Sehun, memeriksa memar-memar kemerahan yang beberapa mulai membiru dengan mengerikan di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mengangkat dagu Sehun. Memiringkan bibirnya agar terkena sinar lampu sehingga lukanya terlihat jelas.
Sejenak suasana hening. Tetapi aura kemarahan terasa kental. Memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi menakutkan. Lelaki itu menggertakkan gerahamnya sambil mengamati luka-luka Sehun. Dan kemudian terdiam lama seolah mencoba menahan diri.
Lalu dalam keheningan pula Yi Fan mengambil kapas dan mencelupkannya ke dalam cairan alkohol antiseptik kemudian mengusap bilur-bilur kemerahan yang sedikit berdarah di pundak Sehun. Sehun mengerang atas sentuhan pertama kapas itu. Tetapi Yi Fan memperlembut gerakannya,
"Shhh…." dia berbisik pelan, mencoba menenangkan Sehun ketika sekali lagi dia mengusap bilur-bilur itu dengan cairan alkohol dan antiseptik, membersihkannya. Sehun mengernyit merasakan pedih di kulitnya ketika proses itu. Kemudian lelaki itu mencelupkan kapas di air hangat dan menggunakan jemarinya sekali lagi untuk mengangkat dagu Sehun, dengan gerakan lembut tetapi pasti, diusapnya luka bekas tamparan Myungsoo di ujung bibir Sehun.
"Ini akan membiru dan rasanya akan sedikit sakit." Yi Fan mengucapkan kata-kata yang memecah keheningan, dia mengerutkan keningnya seakan tidak suka, "Aku tidak akan bisa menciummu untuk beberapa lama.
Sehun melotot, memandang Yi Fan dengan marah. Seluruh tubuhnya sakit dan dia hampir diperkosa dengan memar dan luka di semua sisi tubuhnya, dan lelaki itu malahan mencemaskan tidak bisa menciumnya? Sehun makin yakin Yi Fan lelaki yang jahat dan tidak punya empati.
Tetapi lelaki jahat inilah yang menyelamatkannya dari pemerkosanya. Sehun tiba-tiba menyadari kenyataan itu. Kalau Yi Fan tidak datang dan menancapkan pisaunya ke punggung Myungsoo tadi, mungkin Myungsoo sudah berhasil memperkosanya. Sehun bergidik ngeri membayangkan apabila hal itu benar terjadi.
Yi Fan mengamati perubahan ekspresi Sehun. Tetapi dia tetap diam. Tangannya masih sibuk membersihkan darah di sudut mulut Sehun. Setelah yakin sudah bersih, lelaki itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya dengan bilur-bilur bekas goresan dan cakaran di tubuh Sehun, dioleskannya dengan antiseptik.
"Selesai. Sekarang buka bajumu."
"Tidak mau." Sehun kembali melindungi dadanya dengan kedua lengannya. Lelaki itu bermimpi kalau dia bisa membuat Sehun telanjang secara sukarela di depannya.
Yi Fan menatap Sehun dengan marah. Sejenak ada api di matanya, seolah dia bertekad akan membuat Sehun menuruti kemauannya. Tetapi kemudian lelaki itu melihat penampilan Sehun yang mengenaskan dan acak-acakan, dan entah kenapa memutuskan mundur dan mengalah.
"Oke. Ganti bajumu dengan itu." Lelaki itu menunjuk piyama sutra warna hitamnya yang terlipat rapi di meja. "Aku akan membalikkan badan."
'Kenapa kau tidak keluar dari ruangan ini?"
"Karena aku tidak mau." Tatapan Yi Fan kejam dan mengancam, mengingatkan Sehun kalau pria itu sudah terlalu jauh mencoba batas kesabarannya, "Cepat ganti bajumu."
Yi Fan melangkah ke jendela yang membelakangi Sehun dan menatap ke arah luar. Sejenak Sehun terpaku menatap punggung Yi Fan, tak menyangka kalau Yi Fan mau mengalah untuknya.
Kemudian dia berusaha membuka pakaiannya. celananya sobek dan menggantung dengan menyedihkan di pinggangnya. Sehun melepaskan pakaiannya hingga dia hanya mengenakan pakaian dalam. Diliriknya Yi Fan dengan waspada. Lelaki itu masih membelakanginya dan menatap ke luar jendela. Kaku bagaikan batu. Dengan cepat Sehun meraih celana piyama baru itu yang kebesaran dan mengenakannya. Ketika hendak memakai piyama hitam itu, dia harus mengenakannya dengan susah payah. Lengannya kaku karena memar, dan kegiatan mengancingkan kemeja itu sangatlah susah dilakukan karena jemarinya kesakitan dan gemetar.
Air matanya menetes, berusaha mengancingkan kemeja itu berkali-kali tetapi tidak berhasil. Dia mengutuk ketikdakberdayaannya.
Yi Fan membalikkan badannya ketika mendengar isakan tertahan Sehun, dan menemukan Pria itu sedang berusaha mengancingkan kemejanya dengan tangan gemetar dan air mata bercucuran. Lelaki itu mengumpat pelan, lalu menghampiri Sehun.
Tatapan Sehun kepadanya sungguh meluluhkan hati, bahkan untuk lelaki berhati kejam seperti Yi Fan. Air mata yang menetes tanpa henti mengalir di pipi Sehun,
"Aku…aku sudah berusaha….tapi ini susah sekali." Tangan Sehun gemetar tak terkendali. Hingga Yi Fan menangkupkan jemarinya ke jemari Sehun, berusaha menghentikan gemetarnya,
"Biarkan aku yang melakukannya." Lelaki itu menyingkirkan tangan Sehun dan mengancingkan kemeja Sehun satu persatu. Ketika sudah tertutup sampai ke atas, dia menghela Sehun supaya berbaring ke atas tempat tidur satin hitamnya.
"Tidurlah." Yi Fan bergumam memerintah, tetapi rupanya dia tidak perlu melakukannya karena begitu berbaring, Sehun langsung tertidur pulas.
Semalaman Yi Fan tidak tidur. Dia bersandar di jendela, sambil mengamati Sehun yang tertidur pulas.
KangIn menghadapnya pagi-pagi sekali, dan Yi Fan menemuinya di ruang kerjanya.
"Sudah kau bereskan?"
"Semuanya." Jawab KangIn tenang, "Tidak akan ada yang tahu bahwa Myungsoo telah lenyap. Dia menghilang begitu saja dari muka bumi. Dan apartemennya sudah bersih, dari semua bercak darah, dari semua sidik jari dan jejak kaki. Tidak akan ada yang bisa mengaitkan kita dengan apartemen itu."
"Bagus." Yi Fan masih tampak tak puas, "Apakah Myungsoo punya keluarga?"
"Dia punya seorang kakak laki-laki, kakaknya seorang wartawan juga. Dan juga seorang tunangan di luar kota." KangIn mengerti apa yang diinginkan bosnya, "Apakah anda ingin saya 'membereskan' seluruh keluarganya?"
"Ya." Yi Fan menggeram. "Jangan habisi mereka, cukup hancurkan kehidupannya, aku ingin mereka hancur perlahan dan menderita pelan-pelan." Bayangan akan goresan luka di pundak Sehun, memar-memarnya dan bekas tamparan keras di pipi dan ujung bibirnya membuatnya marah besar. Myungsoo sudah mati untuk bisa menerima pembalasannya. Tetapi keluarganya tidak. Yi Fan tidak tanggung-tanggung kalau membalas dendam. Siapapun yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya, dalam hal ini merusaknya, maka akan menerima pembalasan yang setimpal.
Sehun terbangun hampir tengah hari. Kali ini seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Ujung bibirnya terasa bengkak sehingga dia susah berbicara. Dengan susah payah dia berusaha duduk di ranjang. Tetapi lalu berbaring lagi dengan lemah.
"Jangan duduk dulu. Kau akan merasakan kesakitan yang tidak menyenangkan setelah beberapa hari, tetapi setelah itu kau akan membaik." Suara itu terdengar lagi dari sudut gelap di dekat jendela. Sehun menolehkan kepalanya dan mendapati Yi Fan berdiri di dekat bayang-bayang di jendela, lelaki itu sedang mengamatinya.
Kepala Sehun terasa pening, bahkan sekarang dia ditempatkan di kamar Yi Fan. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan dirinya?
"Kau sudah berhasil menahanku di rumah ini. Sesuai obsesimu. Sekarang apa yang akan kaulakukan padaku?"
Yi Fan tertawa pelan dan melangkah mendekati Sehun, "Kau benar-benar tidak takut padaku ya…" Lelaki itu membuat Sehun menghadapnya lalu sebelah jemarinya mencengkeram leher Sehun yang mungil. "Seharusnya kau tidak pernah mencoba kabur … " Suara Yi Fan mendesis penuh kemarahan, dan menatap Sehun mencoba-coba. "Aku bisa meremukkan leher mungilmu ini dengan sebelah tangan. Membunuhmu dengan tangan kosong…. Kau tahu aku pernah melakukannya pada seorang pelacur. Aku membunuhnya dengan tangan kosong, lalu pergi. Aku melakukannya hanya untuk mengganggu Kris, meninggalkannya terbangun dengan mayat wanita yang mati tercekik di ranjangnya. Lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengamati dia berusaha membereskan semuanya."
"Kalau begitu lakukan saja." Sehun memejamkan matanya. Toh dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalaupun dia harus mati di tangan Yi Fan, mungkin itu jalan yang terbaik.
Jemari Yi Fan mengencang di lehernya, seakan benar-benar ingin mencekiknya. Tetapi kemudian pegangannya mengendur dan lelaki itu melepaskan pegangan tangannya di leher Sehun.
Sehun membuka matanya dan melihat Yi Fan sedang mengamatinya dengan pandangan menilai.
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
"Karena kau akan lebih bernilai bagiku kalau kau hidup." Yi Fan menyeringai dengan tatapan jahat, "Aku menyimpanmu di sini bukan untuk kubunuh. Kalau aku ingin membunuh pria sepertimu , aku tinggal menjentikkan jari dan membuat mereka datang kepadaku. Mereka bahkan tidak akan sadar sampai mereka sudah di ambang kematian."
Mata Sehun membara, "Seperti yang kau lakukan pada Jin-Ri, ibuku."
"Itu kecelakaan." Yi Fan tampak tidak menyesal, bahkan tampak sangat puas, "Ibumu menyelinap masuk ke dalam kamarku, dengan baju seksi transparan yang dikiranya bisa membujukku untuk jatuh dalam pesona tubuhnya." Yi Fan mengernyit jijik. "Dan rasa ingin tahu membuatnya membuka koleksi album foto milikku." Yi Fan tersenyum, tahu bahwa Sehun mengetahui apa maksudnya, dia yakin Hankyung sudah menjelaskan semuanya kepada pria ini, "Jadi dia harus kubunuh."
"Apakah begitu mudahnya bagimu untuk membunuh seseorang? Apakah kau memang tidak punya perasaan?"
"Perasaan?" Yi Fan tertawa keras, "Cukup Kris yang selalu dikuasai perasaannya, perasaan hanya akan membuatmu lemah. Sama seperti ibu kandungku yang dikuasai perasaan cinta membabi butanya kepada ayahku, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku dihajar dan dipukuli ketika usiaku masih kecil"
Sehun memandang Yi Fan dengan terkejut. Kris tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya. Apakah yang dikatakan Yi Fan itu benar, ataukah Yi Fan hanya berusaha memanipulasinya.
"Kris tidak ingat apa-apa, dia tahu kalau dipukuli, tetapi itu hanya karena dia terbangun dengan bilur luka di punggungnya." Mata Yi Fan tampak gelap penuh amarah. "Ayahku itu monster yang suka memukuli anak-anaknya, kalau aku tidak sesuai dengan standarnya, dia akan mengayunkan tongkatnya dan memukuli punggungku tanpa ampun. Aku muncul karena peristiwa itu." Yi Fan tersenyum dingin kepada Sehun, "Kau pasti bertanya apakah Kris memilikiku sejak awal. Jawabannya mungkin tidak. Aku adalah pertahanan diri Kris ketika dia merasakan sakit yang amat sangat ketika dipukuli oleh ayahnya. Kris menenggelamkan kesadarannya dan lari dari kesakitan itu. Dan akulah yang kemudian terbentuk dari alam bawah sadarnya, terbangun untuk sadar penuh ketika ayahku memukuli punggunghku dengan tongkat. Akulah yang menanggung kesakitan atas pukulan-pukulan itu untuk Kris."
Sehun menutup bibirnya dengan tangan. Terkejut atas cerita Yi Fan, dia pasti masih sangat kecil ketika harus menanggung kekejaman orangtuanya seperti itu.
Yi Fan menatap Sehun tajam. "Semua kemarahan Kris, kebenciannya kepada orang tuanya, kebenciannya kepada dunia, semuanya terkumpul pada diriku. Kris yang membentukku menjadi seperti ini. Sampai kemudian aku tidak tahan lagi menerima pukulan-pukulan ayah. Aku merenggut tongkat itu dari tangannya dan memukul kepalanya sampai berdarah. Ibuku berteriak-teriak, dia membela ayahku, bayangkan, anaknya dipukuli dengan tongkat sampai tidak bisa berdiri dia hanya diam…. dan ketika suaminya dilukai dia membelanya sekuat tenaga, sungguh ibu yang tidak berguna," Kris mencibir sinis, "Aku lalu mengancam kedua orang tuaku, kalau mereka berani bertindak kasar kepadaku lagi, aku akan membunuh mereka."
Jadi Yi Fan terbentuk karena kemarahan terpendam Kris di masa kecilnya. Kepribadian itu kemudian tumbuh bebas dan kuat, mencari waktu di saat Kris lemah, lalu menjadi individu yang benar-benar berdiri sendiri.
"Apakah Kris tidak akan kembali lagi?"
Yi Fan tersenyum lambat-lambat, "Tidak sayang, dia sudah lemah dan tak sadarkan diri di sana, aku bahkan tidak bisa merasakan kehadirannya. Kau tahu, aku selalu lebih kuat dari Kris. Ketika dia menguasai tubuh ini, aku masih tersadar, mengamati dari sudut yang paling gelap di dalamnya. Tetapi ketika aku menguasai tubuh Kris, dia sepenuhnya tertidur, dan mungkin akan terbangun dengan ingatan samar-samar akan perbuatanku. Hanya saja ketika itu aku masih merasakan kehadirannya, tertidur dalam tubuh ini. Sekarang aku tidak bisa merasakannya." Senyum Kris melebar puas, "Tubuh ini sekarang menjadi milikku sepenuhnya."
Wajah Sehun pucat pasi, benarkah yang dikatakan oleh Yi Fan? Bahwa Kris sudah lenyap? Kalau begitu… apakah sama saja Kris sudah mati?
Itu tidak mungkin. Sehun menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Kris pasti masih hidup jauh di dalam sana. Dia hanya lemah. Kalau Sehun ingin menyelamatkan Kris, dia harus bisa membangunkan kembali Kris.
Tetapi bagaimana caranya? Lelaki ini tampak begitu kuat dan berkuasa. Dan juga begitu percaya diri. Akankah Sehun bisa membangunkan Kris lagi?
Yi Fan menemui Hankyung di rumah sakit. Kedua tangan Hankyung yang patah sudah dipasang pen dan di gips. Lelaki tua itu tampak tak berdaya duduk di atas ranjang rumah sakit, benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan Yi Fan.
Para penjaga berjaga ketat di dalam dan dl luar ruangan rumah sakit di kamar paling privat itu. Yi Fan memasuki kamar itu, dan berdiri sambil mengamati Hankyung.
Hankyung memalingkan muka, tidak mau melihat Yi Fan. Bayangan anaknya, menantunya, dan cucunya yang masih kecil dan api yang membakar masih begitu menghantuinya. Seharusnya Yi Fan membunuhnya juga karena sekarang dia sudah tidak pantas hidup lagi. Tetapi entah kenapa Yi Fan tidak membunuhnya. Hankyung tidak tahu alasannya.
"Aku berhasil mendapatkan kembali Sehun." Yi Fan bergumam lambat-lambat dengan puas, dia seakan hendak menilai reaksi Hankyung.
Hankyung memejamkan matanya, merasakan kesedihan yang menusuk jiwanya. Semuanya gagal. Bahkan usaha satu-satunya menyelamatkan Sehun pun gagal. Tuan Kris pasti akan kecewa kepadanya.
"Lain kali, kalau mau merekrut orang, jangan hanya melihat pada hasil penyelidikan di atas kertas. Nilailah moralitas dan kejujurannya." Yi Fan bergumam lagi, membuat Hankyung akhirnya menolehkan kepalanya dan menatap Yi Fan dengan bingung.
Apa maksud kata-kata Tuan Yi Fan?
"Myungsoo langsung meneleponku, menawarkan kesepakatan yang lebih besar." Yi Fan tersenyum mengejek. "Dia berpikir bahwa menjalin kesepakatan denganku akan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada dengamu."
Hankyung mengernyitkan dahinya. Dasar wartawan bodoh! Hankyung benar-benar menyesal mempercayakan tugas sebesar itu kepada Myungsoo.
"Dan aku menyelamatkan Sehun dari Myungsoo pada waktunya."
Hening. Lalu Hankyung menatap Yi Fan dengan pandangan bertanya-tanya. "Apa maksud anda?"
"Rekananmu itu mencoba memperkosa Sehun, aku datang tepat pada waktunya."
"Apakah anda membunuhnya?" Hankyung tetap bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.
Yi Fan terkekeh, "Tentu saja."
Hankyung menarik napas panjang, baru kali ini dia merasa lega atas pembunuhan kejam yang dilakukan Tuan Yi Fan. Kalau memang benar Myungsoo mengkhianati kesepakatan mereka dan kemudian malah mencoba memperkosa Tuan Sehun, maka dia pantas mati.
"Aku seharusnya menghukummu karena sudah menempatkan Sehun dalam situasi seperti itu. Dia milikku dan lelaki itu hampir menyentuhnya, dan sudah melukainya."
Hankyung menatap Yi Fan dengan tatapan datar. Tuannya itu sudah mematahkan kedua lengannya, hukuman apa lagi yang akan diterimanya? Apakah Tuan Yi Fan akan mematahkan kedua kakinya juga?
"Aku akan memikirkan hukuman itu nanti. Sekarang aku sedang cukup senang karena Sehun telah kembali kepadaku lagi." Yi Fan melangkah pergi sambil terkekeh mengejek kepada Hankyung. Ketika berada di pintu, tiba-tiba dia memutar langkahnya, "Dan omong-omong, aku tidak membunuh anak, menantu, dan cucumu, mereka baik-baik saja dan berhasil pindah ke tempat antah berantah yang kau sediakan buat mereka. Sayangnya aku tahu di mana tempat antah berantah itu berada." Tawa mengejek Yi Fan semakin keras, "Aku mengatakan bahwa aku membunuh mereka, hanya untuk menyiksamu."
Lelaki itu pergi sambil menutup pintu di belakangnya. Tetapi tawa mengejeknya masih menggema keras dari lorong rumah sakit itu.
Yang bisa dilakukan Hankyung hanya menangis. Air matanya bercucuran. Ia menangis sejadi-jadinya. Tangisan syukur dan kelegaan yang luar biasa.
Yi Fan menatap bayangannya di cermin dan dia mengernyitkan keningnya. Dia merasakan Kris, yang kini berada di dalam cermin, membalas tatapannya.
Kris ternyata masih ada. Beberapa lama ini Kris tidak dirasakannya lagi sampai Yi Fan mengira dia telah berhasil mengenyahkan Kris selamanya. Tetapi sekarang Kris sepertinya menggeliat lagi, bangun dari tidurnya yang panjang. Apakah jangan-jangan, kehadiran Sehun juga membuat Kris menjadi kuat?
"Aku pikir kau sudah mati." Yi Fan tersenyum mengejek kepada bayangannya di cermin.
Kris menatap tajam Yi Fan, "Aku masih ada di sini, Yi Fan. Kau tidak bisa menguasai tubuh ini sendirian. Dan aku merasakan kehadiran Sehun."
Yi Fan mengernyit. Jadi benar, Sehunlah yang menggugah Kris agar terbangun. Tetapi bagaimana mungkin? Yi Fan yakin Sehun membuatnya kuat karena gadis itu membuatnya terobsesi, obesi membuatnya fokus dan makin kuat sehingga bisa menguasai tubuh ini. Tetapi, bagi Kris, perasaannya kepada Sehun adalah perasaan cinta. Dan cinta bagi Yi Fan adalah sesuatu yang melemahkan. Bagaimana mungkin perasaan cinta bisa membuat Kris menjadi kuat? Kris tersadar lagi padahal Yi Fan sudah mengusirnya jauh ke dasar.
"Kau tidak akan bisa menguasai Sehun." Kris menatap Yi Fan dengan pandangan mengancam, "Aku tidak akan membiarkannya."
"Oh ya?" Yi Fan tertawa, "Kita lihat saja nanti."
Ketika meninggalkan cermin itu, geraham Yi Fan mengeras. Dia harus menguasai Sehun segera dan menunjukkan kepada Kris bahwa dia lebih kuat.
Sehun berdiri mondar-mandir di kamar Kris. Kamar itu terletak di lantai dua sehingga dia tidak bisa melompat, dan pintunyapun di kunci. Benak Sehun dipenuhi oleh pikiran-pikiran membingungkan. Dia ingin membangunkan Kris, tetapi bagaimana caranya? Sehun sama sekali tidak punya pengalaman ataupun pengetahuan tentang hal-hal psikologi seperti orang-orang berkepribadian ganda.
Mungkin kalau bisa membujuk Yi Fan supaya mengizinkannya ke perpustakaan, dia bisa menemukan buku-buku psikologi yang bisa memberikannya petunjuk bagaimana caranya membangunkan kembali Kris. Yi Fan mengatakan dia sudah tidak merasakan Kris di dalam dirinya, dan dari senyum puasnya, Sehun tahu Yi Fan tidak bohong. Dan itu membuat Sehun ketakutan. Krisnya tidak mungkin mati dan hilang begitu saja bukan?
Tiba-tiba terdengar bunyi klik dari luar, dan Sehun melompat mundur dari pintu, menatap waspada ke sana. Tahu bahwa musuh besarnya, Yi Fan akan masuk ke kamar ini.
Dan benar, Yi Fan memang masuk, dengan pakaian hitam-hitamnya yang khas. Lelaki itu menatap Sehun dengan intens dan kemudian mengunci pintunya.
Sehun mundur selangkah, menyadari tekad yang sangat kuat di mata Yi Fan. Tekad yang hampir sama seperti hasratnya untuk membunuh. Tubuh Sehun gemetaran. Apakah lelaki ini memutuskan bahwa sudah pantas baginya untuk mati?
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Yi Fan tidak menjawab. Lelaki itu malahan melepas kancing jasnya dan kemudian membuang jas itu di lantai. Dasinya menyusul kemudian. Dan lelaki itu mulai membuka kancing kemejanya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Sehun menatap panik ketika Yi Fan melemparkan kemejanya ke lantai, memamerkan tubuh indahnya yang sempurna. Otot-otot itu begitu pas dan keras di lengannya, bisepsnya membentuk lengkungan yang indah, begitupun otot dadanya dan perutnya yang kencang. Semuanya otot yang keras dan maskulin, tidak ada sedikitpun lemak di sana.
Yi Fan melangkah maju, dan Sehun melangkah mundur. Yi Fan melangkah maju selangkah lagi dan dengan refleks Sehun melangkah mundur lagi.
"Apa yang akan kau lakukan?" Sehun setengah berteriak, dengan panik menyadari bahwa dia sudah menempel pada pinggiran kasur, tidak bisa mundur lagi.
Yi Fan tidak tersenyum, tatapan matanya tampak kejam tetapi penuh tekad,
"Aku akan bercinta denganmu."
T.B.C
Di tengah rasa malas yang berlebihan aku memutuskan untukk melanjutkan nya walaupun masih terasa pusing ..
Buatt ika yang kemarin Tanya ,, iyaa aku juga anak WKS heheh udah lama malahh ..
