Design My Love
Chapter 1
At the beginning
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated : T
Sasuke's POV
"What the...? Full stack of ghast tear? Apa kau masih waras, Sasuke-senpai?" Kata Shikamaru begitu melihat apa yang sudah kudapat di dimensi nether. Aku sudah buat rumah sederhana didekat portal.
"Bukannya bagus tuh, kan bisa buat lumayan banyak Regeneration Potion" Kataku dengan nada datar. Aku masih tetap berada di fortress dan sedang menginvasi sebuah dungeon yang berisi blaze. Meskipun ini membutuhkan banyak konsentrasi tinggi, tapi saat ini aku bahkan sedang melamun.
Hinata dan Sai sudah masuk kedalam ruangan tengah setelah adegan penembakan yang dilakukan oleh Sai di depanku yang langsung membuatku shock dan membantai semua ghast yang muncul.
"... Ender dragon" Seperti biasa, kalo aku lagi nglamun, ucapan Shikamaru hanya terdengar bagian ujungnya aja.
"Kau ngomong apa tadi?" Tanyaku dengan nada datar. Shikamaru tampak mengernyit heran mendengar ucapanku tersebut.
"Aku mau cari stronghold dulu lalu kita lawan ender dragon" Kata Shikamaru. Kulihat dilayarku dan menyadari kalo Shikamaru sudah berada di overworld. Aku hanya mendesah pelan sambil menganggukan kepalaku.
Kira-kira apa sih yang dipikirkan Sai? Dia udah cerita kalo menurut rumor, Hinata suka sama dia itu sudah lama sekali. Tetapi, kenapa dia malah menembaknya didepanku, kenapa gak dulu-dulunya aja? Atau dia memang sengaja menembak dia di depanku untuk menunjukkan bahwa Hinata sudah menjadi miliknya?
Kalau kupikir-pikir sih, mungkin saja awalnya dia tidak menggubris perasaan Hinata kepadanya. Tetapi, ketika aku bilang bahwa aku menyukai Hinata, dia langsung menyadari kalo Hinata itu cantik dan langsung jatuh cinta. Aku memikirkan hal ini terus sambil menghajar para blaze yang muncul dengan wajah dingin. Kelihahatan seperti psikopat.
Yah...! Beginilah manusia, mereka selalu berpikir bila sudah mendapatkan informasi dari kelima indra. Seperti aku yang memikirkan hubungan Sai dan Hinata ketika aku melihat mereka berdua (hanya Sai saja sih) menyatakan cinta. Sebelumnya, aku tidak pernah tuh memikirkan hubungan keduanya.
Cklek...!
Kulirik sebentar kearah pintu dimana tiba-tiba Hinata keluar diiringi senyuman riang sambil diikuti oleh Sai yang keluar dengan senyuman palsunya. Beberapa saat kemudian aku kembali berkonsentrasi pada blaze yang sudah menyemburkan banyak api padaku.
"Arigatou, Sai-senpai" Katanya dengan senyum kecil yang riang.
"Yeah...! Mau kenalan dengan mereka?" Jantungku langsung berdegup tak karuan mendengar ucapan Sai tersebut. Waduh...! Masa aku harus pake nama samaran kaya di drama detektif gitu sih.
"Yah...! Boleh juga" Kata Hinata sambil sedikit melirik kearahku. Kulirik juga biji lavendernya, aku pun terbelalak begitu melihatnya. Secepatnya aku alihkan pandanganku kearah layar komputer sebelum seekor wither skeleton datang menyerangku.
Pandangannya...
"Yo, ada yang mau kenalan sama kalian nih?" Kata Sai sambil menepuk pundakku. Kenapa nada bicaranya berubah diakhir kalimat?
"Huwaa...! Minecraft, kenapa aku tidak kau ajak. Selain itu, ini sudah masuk kedalam nether. Kalian berdua ini gimana sih" Kata Sai yang langsung mencak-mencak gak jelas begitu menyadari kalo dia tidak diajak.
"Salahmu sendiri yang ngilang begitu saja sambil merencanakan redstone milikmu itu" Cibir Shikamaru dengan nada meledek sambil menyeringai kearah Sai.
"Tunggu bentar, aku juga mau ikut" Kata Sai langsung ngacir ngambil laptop miliknya yang entah dia taruh dimana.
"Sai-senpai emang sering gitu yah? Tapi kalo di sekolah dia kok pendiem gitu sih" Kata Hinata sambil duduk di sampingku. Kulirik sebentar dia yang nampaknya tertarik juga dengan game yang ku mainkan.
"Yah...! Kalo sendirian dan gak ada kawan pasti diem lah. Tapi kalo ketemu sama orang-orang kayak gini, gilanya kambuh" Kata Shikamaru sambil terkekeh pelan. Nampaknya dia masih berkutat di nether untuk mencari wither skeleton skull.
"Nah...! Aku akan membantu kalian" Kata Sai yang baru saja datang sambil membawa laptop yang sudah menyala dan langsung menyambungkan laptopnya ke LAN yang sudah kubuat.
"Kamu cari stronghold aja deh Sai. Aku punya sedikit ender pearl di dalam chest. Untuk blaze rod nya biar dibawain sama Shikamaru" Kataku dengan nada datar. Shikamaru nampak melotot heran kearahku.
"Kenapa bukan kau saja?" Sergahnya sambil mengerling malas.
"Ambil semua ghast tear dan blaze rod nya untuk buat potion. Aku mau cari wart" Kataku. Shikamaru hanya mendesah pelan, tapi nampaknya dia menuruti apa kataku juga.
"Eh...! Hinata, kok diem aja sih? Udah kenalan belum?" Kata Sai yang nampaknya masih peduli sama Hinata. Hinata yang waktu itu sedang berdiam diri sambil menatap laptopku dengan serius langsung kaget dengan ucapan Sai.
"Baiklah, namaku Hyuuga Hinata. Aku adik kelas dari Sai-senpai. Salam kenal" Kata Hinata sambil tersenyum manis entah pada siapa. Waduh...! Kenapa si Sai mengingatkan Hinata untuk kenalan juga sih, terus aku harus mengaku sebagai siapa nih? Perasaanku langsung panik dan tegang, meskipun dalam dunia nyatanya aku masih berwajah datar sambil membantai wither skeleton dengan raut wajah dingib.
"Namaku Shikamaru, Nara Shikamaru. Aku dari daerah Kirigakure. Aku juga salah satu teman online Sai" Kata Shikamaru dengan nada yang biasa saja sambil sedikit terkekeh pelan. Beberapa saat kemudian, dia langsung berubah raut wajahnya menjadi asem. Nampaknya dia bertemu dengan ghast dan persembunyiannya ketahuan.
"Salam kenal ya, Shikamaru-kun" Kata Hinata sambil tersenyum manis kearah Shikamaru yang duduk didepanku.
Aku hanya diam saja sambil tetap konsentrasi dengan fortress milikku. Sialan...! Aku harus jawab apa nih bila di tanya oleh Hinata. Dan benar saja, nampaknya Hinata mulai mengalihkan perhatiannya padaku, meskipun aku tidak berani menatap biji lavendernya secara langsung.
"Kenapa diam aja, senpai? Ayo dong kenalan" Kata Hinata sambil tersenyum manis. Eh...! Bukannya waktu itu aku pernah bilang pada Hinata.
"Namaku Sasuke, Uchiha Sasuke" Kataku dengan nada datar kearah cewek berambut indigo tersebut. Kulirik sebentar ekspresi wajah Hinata yang kelihatannya terkejut dengan jawabanku barusan, sebelum akhirnya kualihkan kembali pandanganku menuju layar laptopku.
"Sasuke-senpai?" Katanya dengan nada yang sangat terkejut. Aku pun menekan tombol pause yang ada dalam game dan memandang Hinata dengan tatapan sinis sambil sedikit nyengir, sebelum akhirnya aku kembali pada wajah datarku.
"Kenapa, Hinata?" Kataku dengan nada datar.
"Sasuke-senpai jahat, kenapa tidak perkenalkan diri sebelumnya, padahal senpai kan sudah tahu wajahku" Kata Hinata dengan nada yang sedikit merajuk. Aku hanya memutar bola mataku sambil kembali memainkan game yang masih ku pause.
"Kan aku sudah pernah bilang padamu" Kataku sambil tetap pasang wajah datar.
Flashback mode On
Kalo senpai tiba-tiba bertemu denganku di tengah jalan, apa yang bakalan senpai lakukan?
Wajahku mengkerut begitu melihat pesan dari Hinata yang baru saja datang tersebut. Aku harus jawab apa nih? Yah...! Mungkin jujur aja lebih baik lah, seperti kebiasaan lamaku.
"Oi...! Teme" Kata Naruto sambil sedikit mencolek pahaku. Aku langsung mengirimkan death glare pada bocah duren yang hanya menatap lurus kedepan dengan mata safirnya tanpa memedulikan deathglare ku.
Oh...! Aku pun menoleh dan menjumpai death glare yang lain dari guruku yang sedang duduk di meja guru. Untuk beberapa saat ini, aku harus bertempat didepan karena rolling bangku.
"Yah...! Karena aku percaya kalo kau sudah bisa mengerjakan soalnya, kau boleh maen hape sepuasmu" Katanya dengan nada sinis. Aku hanya pasang wajah datar sambil mengetikkan sebaris pesan.
Jalan terus dan pura-pura gak kenal, aku masih di sekolah nih.
End of Flashback
"Kirain cuma bercanda" Kata Hinata sambil manyun dan menyangga kepalanya sambil menontonku main game. Jarak wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku bahkan bisa merasakan desahan nafasnya di pipiku.
"Sasuke-senpai, wartnya udah dapet belum?" Tanya Shikamaru.
"Udah, tanem aja di overworld. Kalo ditanam di nether tumbuhnya lama" Kataku sambil keluar dari rumah dan berlari menuju portal ke overworld.
"Sialan...!" Gumamku ketika menyadari jika sebuah ghast sudah menyadari pergerakanku sehingga memaksaku untuk bertarung dengan panah meskipun aku tidak punya banyak anak panah.
"Ini game macam apa sih? Kok kayaknya rumit banget" Kata Hinata sambil menatap heran kearah layar laptopku.
"Game survival. Kalo mau paham, main aja. Soalnya bila di jelasin malah makin rumit" Jawabku dengan wajah datar ketika aku sudah sampai di overworld.
"Terima kasih, kau penyelamatku" Candaku pada Shikamaru yang sudah membunuh ghast ketika nyawaku sedang kritis sehingga aku sudah sampai di overworld dengan aman.
"Tapi aku gak bawa laptop" Kata Hinata.
"Besok kesini lagi aja. Kukira anak seperti ini pastinya akan main lagi meskipun nantinya mereka akan menamatkan game ini" Kata Sai sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian dia pasang wajah asem kembali.
"Silverfish sialan" Katanya. Nampaknya dia sudah menemukan stronghold, tempat portal menuji The End untuk mengalahkan ender dragon.
"Nampaknya kau sudah menemukannya ya, Sai. Cari perpustakaan disitu, lumayan buat enchant senjata" Kataku. Perpustakaan akan menyumbang banyak rak buku yang diperlukan untuk mengenchant senjata.
"Cari dungeon juga. Kurasa aku gak mau buang energiku untuk berlari menuju stronghold, siapa tahu dapet saddle" Kata Shikamaru sambil sedikit terkekeh. Saddle digunakan untuk menunggang kuda dan kita bisa berjalan lebih cepat.
"Kurasa aku sudah punya tiga saddle, cukup kan?" Kataku sambil menatap layarku dengan serius.
"Aku menemukan beberapa kuda di bagian barat, di daerah padang rumput. Mungkin kita bisa menungganginya" Kata Sai.
"Oke Sai. Aku akan segera kesana. Dibagian timur rumah ini terdapat rawa" Kataku minta penjelasan pada Sai.
"Yah...! Setelah rawa itu mungkin kamu akan menemukan gunung batu, baru kemudian padang rumput" Kata Sai. Kali ini, aku bisa berkonsentrasi kembali meskipun Hinata berada di dekatku. Hari sudah mulai gelap dan aku tidak mau beresiko meledakkan seekor creeper. Masalahnya, creeper tidak begitu terlihat jika aku berada di hutan.
"Sudah gelap, senpai. Kenapa tidak tidur dulu" Kata Shikamaru sambil sedikit terkikik geli.
"Diam saja dan buat beberapa potion" Kataku sambil tetap fokus melakukan pengejaran ke timur setelah kutemui gunung batu.
"Sialan...! Kalian berdua, cepat tidur dulu. Aku sudah kuwalahan menghadapi banyak skeleton di dungeon ini" Kata Sai. Aku pun segera menggali lubang perlindungan di gunung tersebut dan meletakkan bed setelah aku yakin kalo gua disana aman.
"Baiklah, Sai. Apa yang kau temukan di dungeon?" Kata Shikamaru begitu kami bertiga bangun dari tidurnya. Sai hanya nyengir masam sambil berkonsentrasi pada dungeon skeleton yang sepertinya masih belum nonaktif.
"Baiklah, aku sudah dapet tiga kuda. Sai, cepat kembali. Aku hanya perlu menarik salah satu kuda dengan tali kendali, tapi aku gak bisa menarik dua kuda sekaligus" Kataku sambil tetap menjaga tiga kuda yang sudah kujinakkan tersebut. Aku melirik kearah Hinata yang tampaknya masih melihat ke layar laptopku dengan wajah serius.
"Kau tertarik?" Kataku dengan nada dan ekspresi datar kearah Hinata. Hinata menatapku dengan heran sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Aku pun memalingkan wajahku kearah laptopku. Dia jadi tampak imut jika berekspresi heran seperti itu.
"Sedikit sih" Kata Hinata sambil menopang pipi putihnya. Kulirik dia sebentar, ups...! Nampaknya dia memandangi wajahku. Aku jadi sedikit salah tingkah sambil memalingkan wajahku.
"Hoi...! Cepat naik" Kata Sai yang nampaknya sudah berada di depanku. Aku yang kaget dengan penampakan Sai yang mirip zombie tersebut dan reflek menyerangnya dengan pedangku.
"Ups...! Gomen" Kataku.
"Sialan...! Aku lapar banget tahu, jadi tidak bisa regenerasi" Gerutu Sai. Aku pun melemparkan sebuah steak yang langsung dilahap abis oleh Sai.
"Aku sudah buat kira-kira 32 regeneration potion dan beberapa healing potion. Aku butuh beberapa semangka" Kata Shikamaru.
"Buat golden apple aja. Aku rasa kita punya dua stack gold ingot" Kata Sai sambil mengendarai kudanya.
"Mengendarai kuda lewat gunung batu itu hampir sama dengan bunuh diri" Komentarku sambil tetap mengendarai kuda sambil menarik kuda milik Shikamaru.
"Kita lewat jalan memutar aja dulu" Saran Sai. Aku pun memfokuskan jalan memutari gunung.
"Game ini nampaknya tidak terlalu populer yah?" Kata Hinata dengan tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan mendengar ucapannya tersebut.
"Yah...! Hanya beberapa gamer yang sangat dewa saja yang mungkin mau maen game ini" Kataku. Aku memperoleh informasi dari youtube dan kebanyakan videonya itu berbahasa inggris. Jadi aku menarik kesimpulan kalo game ini gak begitu terkenal di Jepang.
"Wow...! Jadi semakin tertarik nih" Kata Hinata sambil melemparkan seulas senyuman kecil dan terus memperhatikanku. Kenapa dia tidak lihat punya Sai saja.
"Siap lawan ender dragon?" Kata Sai sambil menyeringai kearahku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Baiklah, Shikamaru. Kurasa kau cocok untuk melindungi kami berdua dari serangan enderman. Kurasa kau cukup ahli dalam pertarungan pedang, jadi tolong enchant pedangmu saja" Kataku yang hanya dijawab dengan anggukan pelan oleh Shikamaru.
"Sai, sejauh mana kau bisa membidik?" Tanyaku.
"Kurasa masih mahiran kamu. Aku lebih suka pertarungan pedang" Kata Sai.
"Baiklah, mungkin begini. Sai, kau coba untuk incar healing crystalnya. Shikamaru, kau akan bersama denganku. Kau lindungi Sai dari serangan enderman sedangkan aku akan lindungi dia dari ender dragon" Kataku mengatur strategi. Sai dan Shikamaru hanya mengangguk pelan dan kemudian memacu kuda mereka untuk masuk menuju stronghold.
"Yeah...! Nampaknya tujuh jam nonstop dengan tiga orang cukup untuk menyelesaikan quest minecraft" Komentar Shikamaru.
"Mungkin kalo menggunakan mod malah lebih gila lagi" Tambahku yang hanya dijawab dengan tatapan sinis oleh Shikamaru.
Yah...! Memang beginilah aku kalo lagi didepan komputer, hampir semua masalah hilang. Efek yang ditimbulkan hampir sama seperti alkohol, tapi tidak terlalu berbahaya, palingan cuman nyeri leher saja. Tapi aku masih harus menjaga kesehatan mataku, karena ini adalah aset penting.
"Jadi udah mau tamat ya?" Tamya Hinata yang dari tadi masih betah duduk disampingku.
"Kalo kamu tertarik besok akan kuajak main"
End of Sasuke's POV
Hinata's POV
"Eh...!" Gumamku tanpa sadar begitu melihat penampakan makhluk berambut biru keputihan yang duduk di ruang tamu. Aku hanya melemparkan senyuman pada anak yang nampaknya dua tahun diatasku tersebut dan langsung masuk kedalam.
"Hinata, dari mana saja kau" Kata seseorang dengan rambut coklat dan mata lavender yang senada dengan mataku, tetapi dengan kesan pandangan yang lebih tajam.
"Dari rumah teman" Jawabku singkat saja.
"Cepat temui dua orang yang sudah menunggu lama itu" Kata orang tersebut. Yah...! Dia adalah ayahku, Hyuuga Hiashi yang sekarang tengah menarikku menuju ruang tamu. Aku hanya menurut saj. Toh...! Hanya menemui tamu yang kebetulan mampir.
"Maaf, ya udah menunggu lama, Kaguya-san" Kata Tou-san sambil sedikit memaksakan senyuman dan menyuruhku duduk disampingnya.
"Tidak apa-apa kok. Saya disini cuma mewakilkan kunjungan Tou-chan" Kata cowok berambut putih tersebut sambil sedikit tersenyum penuh arti kepadaku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Oh, ya. Ini putri saya yang dibicarakan oleh ayahmu. Ayo...! Perkenalkan diri" Kata Tou-chan sambil menyikut-nyikut pundakku. Aku hanya tersenyum canggung ketika disuruh memperkenalkan diri tersebut.
"Namaku Hinata, Hyuuga Hinata. Salam kenal yah" Kataku sambil menyunggingkan seulas senyuman yang dibalas dengan senyuman cool dari cowok didepanku tersebut.
"Kimimaro, Kaguya Kimimaro" Kata cowok yang bernama Kimimaro tersebut.
"Buatkan teh, cepat" Kata Tou-chan yang hanya kubalas dengan tatapan heran sebelum akhirnya aku berjalan untuk membuatkan teh. Katanya sudah menunggu lama, tapi kok tidak dibuatkan teh?
-0-
"Hei...! Hinata, kamu dari mana saja tadi. Tidak biasanya kau keluyuran sampai hampir malam tadi" Kata Tou-chan ketika Kimimaro sudah pulang. Aku pun meletakkan hapeku dan kemudian menatap Tou-chan dengan heran.
"Aku dari rumah temanku" Jawabku singkat sambil tiduran di ranjang kamarku. Hari sudah malam dan biasanya hapeku selalu disita bila sampai semalam ini aku belum tidur.
"Siapa?" Tanya Tou-chan dengan nada tajam.
"Sai-senpai, putra Danzou-san yang itu lho" Kataku dengan nada cuek. Kulihat kerutan mulai terlihat di dahi Tou-chan sambil menatapku dengan tatapan tajam.
"Oh...! Orang yang nganggur itu. Mau apa kau kesana?" Kata Tou-chan dengan pandangan menyelidik. Aku hanya mengedip-ngedipkan mataku sambil menatap Tou-chan dengan heran. Tidak biasanya seperti ini.
"Main doang" Kataku. Tou-chan pun duduk di ranjangku sambil menatapku dengan pandangan gusar.
"Eh...! Menurutmu cowok yang tadi itu gimana?" Tanya Tou-chan yang tiba-tiba saja merubah alur pembicaraan. Aku pun menatap Tou-chan dengan tatapan heran.
"Biasa aja tuh. Nampaknya ada yang ingin di sampaikan nih" Kataku sambil duduk di samping Tou-chan.
"Ehm...! Kimimaro itu dua tahun lebih tua darimu. Dia kuliah di Otogakure jurusan kedokteran. Nampaknya dia cowok yang cerdas. Bagaimana menurutmu?" Kata Tou-chan. Aku hanya melongo mendengar ucapan Tou-chan yang tiba-tiba aja pembicaraannya meloncat-loncat kayak katak kehilangan ekor ini.
"Maksudnya? Menurutku biasa aja tuh" Kataku masih dengan ekspresi bingung.
"Bukan begitu. Hinata, kamu itu sudah besar. Mungkin nanti kamu juga butuh pendamping" Ow...! Ow...! Ow...! Nampaknya Tou-chan sedang membicarakan masalah itu. Aku hanya memutar bola mataku mendengar ucapan Tou-chan. Aku ini masih kecil tau, kok sudah mau menikah.
"Aku masih belum kepikiran soal itu" Kataku cuek aja sambil tetap menatap wajah Tou-chan yang nampaknya masih menatap wajahku lekat-lekat.
"Yah...! Bukan begitu juga sih, tapi kau tahu, memilih pendamping bukan perkara mudah. Jadi apa salahnya kau pikirkan ini lebih awal. Aku peduli soal masa depanmu" Kata Tou-chan sambil mengalihkan pandangannya keluar. Aku pun hanya menatap wajahnya dengan tatapan kosong. Berbagai lamunan langsung masuk kedalam benakku.
Wajah Sai-senpai yang tadi sempat menembakku kembali terlukis dalam benakku. Juga wajah Sasuke-senpai yang sedang serius memikirkan strategi game di layar laptopnya.
"Aku... Uhm...! Sudah punya pacar" Kataku sambil sedikit tertunduk di depan Tou-chan. Kulirik keatas dimana Tou-chan sekarang sedang menatapku dengan tatapan yang yah...! bisa dibilang agak marah dan sedikit kecewa dengan apa yang kulakukan.
"Apa? Dengan siapa?" Kata Tou-chan dengan marah yang masih tertahan di dalam nada bicaranya.
"Sai-senpai" Kataku dengan nada lirih. Tou-chan kemudian berdiri dan memandangku dengan tatapan menyala-nyala. Beberapa detik kemudian dia kembali berwajah tenang sambil sedikit tersenyum. Dia langsung mengusap lembut puncak kepalaku.
"Kau tahu Hinata. Rupanya Tou-chan salah sudah membicarakan ini denganmu. Tapi, mungkin kau benar. Kau bisa serius dengan pelajaranmu dan putuskan pacarmu itu" Kata Tou-chan dengan nada lembut. Aku hanya sedikit tersenyum sambil mengangguk pelan.
Aku menghargai setiap nasihat yang dikatakan oleh Tou-chan. Meskipun nampaknya agak tidak enak di hati, tapi kalian tahu, dia sudah merawatku selama tujuh belas tahun dan aku masih hidup selama itu. Jadi, tidak mungkin dia menjerumuskan putri yang sudah dirawatnya selama tujuh belas tahun ini dengan susah payah.
"Yah...! Mungkin kamu memang masih terlalu kecil untuk membicarakan hal ini. Sekolah yang rajin yah" Katanya sambil menepuk kepalaku dan kemudian berdiri dari ranjangku, membiarkanku untuk menarik selimutku biar lebih hangat. Dia pun berjalan keluar dari kamarku. Tapi, beberapa saat sebelum keluar dari kamarku dia berhenti dan berbalik sebentar.
"Tapi, Tou-chan harap kau bisa mengikuti nasihat Tou-chan dalam memilih pasangan. Menurutku Kimimaro itu bisa jadi pasangan yang baik" Katanya tanpa menatap kearahku. Aku hanya mendesah pelan mendengarnya, meskipun aku sangat menghargai ucapan Tou-chan, tapi untuk urusan yang satu ini nampaknya memang sulit.
"Hm...! Arigatou, Tou-chan" Kataku sambil menutup mataku untuk segera pergi tidur.
"Oyasumi"
TBC
Wah...! Nampaknya sifat gamer author mulai muncul lagi nih, jadi gak sempet update.
Tapi, ternyata Hinata nerima Sai lho...! Apakah Sai bakalan diputusin setelah dia baru sehari jadian sama Hinata? Apakah Hinata mau di jodohkan sama Kimimaro?
Happy Read
