"Ah... Ada burung kecil di luar..."

Belphegor menolehkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya. Matanya menatap ke juniornya. Fran sedang duduk di atas tempat tidur sambil memandang keluar jendela, topi kodoknya tergeletak di sampingnya.

Malam itu bulan tersembunyi di balik awan kelabu. Kabut yang berasal dari danau di sebelah markas mereka naik melambung ke udara karena suhu yang kian mendingin. Menutupi semua kemungkinan akan adanya burung kecil berkeliaran seperti kata Fran.

"Jangan ngaco Kodok... Ngapain ada burung tengah malam begini?" Bel kembali membaca bukunya.

Fran berbalik menatap Belphegor. Sejenak, pemuda itu terdiam, tanpa mengedip barang sekalipun, "Aku enggak ngaco. Benar-benar ada burung kok di luar..."

"Kalau memang ada, burung apaan?" Desah Bel.

Mata hijau Fran berkilat, memberikan kesan jenaka di wajahnya,

"Skylark"

Bel menutup bukunya dan naik ke tempat tidur. Ia melongokan kepalanya keluar jendela, untuk melihat 'burung kecil' yang dibicarakan. Ekspresinya berubah menjadi seringai khasnya.

"Ah... Kalau begitu Pangeran rasa akan ada seekor kuda yang akan disinggahi seekor burung kecil di istalnya. Benar-benar dongeng fabel yang manis... Ushishishi.."

"Selera dongengmu aneh, Senpai..." gumam Fran sambil bertompang dagu di ambang jendela.

Sebuah buku setebal delapan ratus halaman sukses mendarat di kepala Fran.


Kyoya Hibari berdiri di depan pintu kamar kekasihnya. Pria itu menghela napas dan menyentuh ganggang pintu di hadapannya. Tiba-tiba, Hibari menyadari sesuatu. Dilepasnya tangannya dari ganggang pintu, dan Hibari melihat sesuatu yang tidak biasanya terjadi. Tangannya basah akan keringat.

Hibari termenung sejenak. Apa yang sedang terjadi? Apalagi yang ditakutkannya? Bukankah inilah kemauan Hibari? Untuk Dino berbicara dengannya sebagai dirinya sendiri? Tapi, mengapa terasa begitu berat bagi Hibari untuk membuka pintu ini? Sesuatu yg berat dan panas seakan muncul di dadanya, dan terus turun ke bagian bawah perutnya, menahan gerakan tangannya untuk sekedar membuka pintu kayu di hadapannya.

Ini merupakan perasaan yang asing bagi Hibari Kyoya. Tidak biasanya ia merasa khawatir akan sesuatu seperti ini. Hibari Kyoya tidak patut berlaku pengecut seperti itu. Dia bukan seorang herbivore.

Maka, Hibari Kyoya menelan ludah dan mengepalkan tangannya. Ditempatkanya tangan itu di pintu dan diketuknya pelan.

"Masuklah." Terdengar suara Dino dari dalam kamar itu.

Dengan satu hentakan napas, Hibari pada akhirnya membuka pintu di hadapannya.

Dino Cavallone seperti biasa sedang duduk di tempat tidurnya. Namun, tidak seperti saat kunjungan malamnya beberapa hari yang lalu, Dino sama sekali tidak menyambutnya dengan senyum ramah. Malahan, Hibari sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan sang boss Cavallone tersebut. Dino tidak terlihat marah atau takut, namun dia juga tidak tersenyum.

Biasanya, Dino benar-benar seperti sebuah buku yang terbuka, Hibari dapat dengan mudah menebak semua emosi yang dirasakan pria itu. Namun malam ini Hibari benar-benar tidak bisa memperkirakan isi hati Dino, mungkin, tidak berani, merupakan kata yang lebih tepat.

Maka, Hibari hanya terdiam di ambang pintu, ia tidak tahu apa dirinya harus langsung berjalan mendekati Dino, atau menyapa terlebih dahulu, atau mungkin ia harus langsung memulai pertemuan ini dengan berlutut minta maaf. Untuk pertama kalinya, Hibari merasa kebingungan untuk berhadapan dengan Dino Cavallone; kekasih yang telah dikencaninya selama sepuluh tahun.

Namun rentetan pikiran dalam kepala Hibari buyar saat Dino berbalik memandangnya dan menyunggingkan senyum kecil,

"Mendekatlah Kyoya..." bisik Dino pelan, suaranya terdengar agak enggan, namun Hibari dapat mendengar nada hangat yang spesifik hanya dilantunkan Dino pada saat berbicara dengannya. Hal itu agak membangun kepercayaan diri Hibari walau hanya sesaat.

Maka, Hibari mulai melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah, sampai akhirnya ia tiba di sisi tempat tidur Dino. Merasakan keberadaan Hibari di sisinya, Dino kembali tersenyum dan mempersilahkan Hibari untuk duduk di bangku yang selalu didudukinya dengan lambaian pelan tangannya.

Dengan sesopan mungkin, Hibari menarik kursi itu mendekat ke sisi Dino dan duduk. Ia menghela napas dan membuka mulutnya, namun kata-kata yang ingin dikatakannya enggan untuk keluar.

"Kenapa kamu masih tidak berbicara juga Kyoya? Mmm? Jangan-jangan kau masih mau melanjutkan sandiwara kecilmu itu kemarin?" Tanya Dino dengan nada sedikit meledek.

Pria berambut pirang itu meraba-raba ke meja tempat tidurnya dan meraih sebuah poci teh a la Jepang. Hibari mengenali poci antik itu, itu adalah poci yang selalu digunakannya saat berkunjung ke rumah Cavallone, dan dari benda itu tersebar harum teh hijau kental yang sangat familiar. Hibari yakin itu adalah jenis teh Jepang kesukaannya. Tentu saja. Tentu saja Dino ingat...

Walau sedikit canggung, Dino, dengan caranya sediri, berusaha agar Hibari merasa lebih nyaman dalam pertemuan mereka malam itu. Sama seperti biasanya, Dino selalu lebih mementingkan Hibari daripada kepentingan dirinya sendiri, walau dalam kondisi apapun.

"Kamu mau?" tanya Dino, sambil menuangkan dua cangkir penuh teh panas yang mengepul. Saat Dino meraih salah satu cangkir bergaya Jepang tersebut, secara otomatis, Hibari meraihnya lebih dahulu dan mendekatkan cangkir itu ke tangan Dino. Hibari sama sekali tidak ingin mengambil resiko tangan Dino terbakar panas percikan teh hijau itu. Namun, pada saat tangan mereka berdua bersentuhan sejenak, Dino secepat kilat menarik kembali tangannya, seakan baru saja menyentuh api.

Dalam sekejap saja Hibari bisa melihat suasana hati Dino yang sedari tadi disembunyikan dengan rapi. Tubuh Dino menegang, dan terlihat jelas dengan caranya menggigit bibir bagian bawahnya sambil memejamkan kedua matanya, ketakutan yang melandanya tadi pagi telah kembali lagi. Namun dalam beberapa saat Dino dengan apik kembali mengendalikan bahasa tubuhnya dan menyunggingkan senyum,

"Ma-Maaf Kyoya... Kelihatannya akan lebih baik apabila kau tidak menyentuhku dulu..."

"Aku mengerti... Haneuma..."

Kelihatannya suara Hibari juga memberikan reaksi yang serupa dengan sentuhannya terhadap Dino. Namun, Dino terus mempertahankan senyum di bibirnya.

Maka, Hibari menelan ludah dan memberanikan diri untuk bertanya, "Keadaanmu terlihat kurang baik malam ini. Apa lebih baik aku pergi?"

Dino menggelengkan kepalanya, "Jangan... Aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya..."

Hibari mengernyitkan dahi, "Masalah?"

"Bukankah sudah jelas... Kyoya?" Dino mengelus sedih kedua kakinya yang cacat dengan sedih.

"Haneuma... Dengarkan aku... Hal yang terjadi padamu–"

"–bukan salahku... Apakah itu yang ingin kau katakan Kyoya?" sela Dino.

"Bukan..." Hibari menundukan kepalanya, "Soal dikontrol atau tidak... Itu berarti masih ada celah dalam pertahananku... Maka itu... Kondisimu saat ini... Adalah tanggung jawabku..." sambung Hibari.

Dino mengernyitkan dahi, "Itulah yang ingin kubicarakan Kyoya... Tentang hubungan kita... Sudah tidak ada yang bisa diperbaiki... Kau tidak perlu merasa bertanggung jawab... Dan lebih baik kamu tidak mengunjungiku la–"

"Aku akan terus berada di sini!" seru Hibari dengan cepat, memotong pembicaraan Dino.

"Kyoya tunggu dulu–"

"Kau tidak akan kubiarkan terluka lagi."

"Kumohon Kyoya dengarkan a–"

"Aku bersumpah... Karena itu aku tidak mau mendengar apa-apa lagi."

"Kyoya henti–"

"Pasti masih ada yang bisa diperbaiki"

"Tidak Kyoya.. Tunggu du–"

"Karena... Aku..."

"Jangan Kyoya... Jangan katakan itu sekarang!" Mata Dino membelalak, mengantisipasi kata-kata yang akan dilontarkan Hibari selanjutnya. Ia tahu betul nada itu.

"Aku..."

"Berhenti Kyoya! Kumohon!" Dino menutup matanya dan menaruh kedua tangannya menutupi telinganya. Ia tidak ingin mendengar hal itu dari mulut Kyoya. Dahulu kata-kata yang langka itu memang membuatnya lebih bahagia dari apapun, namun kini...

"Aku mencintaimu Haneuma..."

Kata-kata itu hanya membawa ingatan buruk kembali ke kepala Dino. Dalam sekejap, Dino tidak berada di kamarnya yang hangat dan aman di markas tua Cavallone. Ia kini berada di ruang bawah tanah markas Vongola, di hadapan penyiksanya yang tidak lain tidak bukan adalah Hibari Kyoya.


Hibari berlutut di depan Don Cavallone yang tengah terduduk di lantai dengan kedua lengan terborgol kuat di dinding. Darah segar mengalir dari pelipis Dino, sekujur tubuhnya dipenuhi oleh sekian banyaknya luka dan memar yang begitu menghancurkan sang don Cavallone, sehingga satu-satunya tanda bahwa pria itu masih hidup hanyalah desahan napas pelan.

Sambil tersenyum, sang awan menjambak bagian depan rambut Dino, memaksanya untuk mendongak ke atas, tepat di depan wajah Hibari. Ia mengamati luka yang baru saja ditorehkannya pada kepala Dino dengan puas,

"Kau tahu Haneuma sayang? Warna merah sangat cocok denganmu." Bisik Hibari sembari menjilat nikmat darah yang mengalir di pipi Dino.

Dino hanya bisa merintih pelan dan menutup matanya erat-erat, menanti siksaan ini berakhir.

"Ah bukan hanya warna merah. Kurasa ungu atau hitam juga terlihat bagus..."

Hibari mulai meraba dari dada telanjang Dino terus ke pinggang Dino, menyentuh segala macam memar dan luka yang begitu banyak dibercakkannya kepada tubuh itu. Bagaikan seorang seniman kepada kanvas putihnya. Tangannya berhenti sejenak pada puting Dino, memainkan benda itu diantara jemarinya sesaat, sebelum menekankan kuku tajamnya hingga darah mulai muncul dari bekas kuku yang berbentuk bulan sabit.

Sang don Cavallone menahan napas sambil menggigit bibir menahan sakit. Di lain pihak, Hibari hanya tertawa dengan cara yang sangat seduktif.

Masih sambil tersenyum dingin, Hibari mendekatkan wajahnya ke pangkal leher Dino, tepat di mana leher dan pundak bertemu, dan menghujamkan sebaris gigi tajam di kulit Dino. Hibari menahan gigitannya sejenak sampai Dino dapat merasakan kulitnya robek dan darah segar mulai merembes masuk ke mulut Hibari.

Hibari menjilat bibirnya dan berkata lagi, "Memang merah yang paling terlihat bagus, kurasa." Hibari mengangguk puas.

Sang guardian of the cloud Vongola beranjak dan memegang kedua pipi Dino dengan lembut, mendekatkan wajahnya sendiri ke wajah Dino, "Kau tahu kenapa aku melakukan semua ini padamu?" Tanya Hibari sambil mengecup bibir Dino. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya sambil merintih pelan.

"Karena Haneuma..." Hibari kembali mencium Dino, "Aku mencintaimu..."


Sesaat kata cinta itu meluncur dari lidah Hibari, napas Dino Cavallone terputus-putus. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya, mata cokelatnya yang tak terfokus membelalak, memandangi Hibari dengan pandangan ketakutan, air mata mengucur di kedua belah pipinya.

"Hanuema? Haneuma! Kamu kenapa?" Insting Hibari memaksa dirinya untuk merangkul pundak Dino. Namun, Dino malah bereaksi jauh lebih hebat, mengguncangkan kedua pundaknya dan menepis lengan Hibari,

"Hentikan! Jangan katakan hal seperti itu... Jangan sentuh aku..." isak Dino sambil tersedak pelan.

"Haneuma..." bisik Hibari lemas.

"Kamu tidak tahu apa yang telah terjadi setahun ini Kyoya... Hik..." Dino menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, "Aku tidak... tidak ingin sama sekali menyalahkanmu... tapi... tapi..." Pria berambut pirang itu menangis tersedu-sedu.

"Kau tidak usah berkata apa-apa lagi..."

"Sepuluh bulan Kyoya... Sepuluh bulan aku berada di ruang bawah tanah itu... Tanpa cahaya sinar matahari... Makanan dan air hanya datang dua hari sekali... Kadang-kadang aku bahkan sudah tidak tahu waktu lagi... Mungkin saja malah lebih jarang lagi..." Dino mulai memeluk dirinya sendiri, kuku-kukunya terbenam di dalam bahan lembut lengan piyamanya.

"Dan kau selalu datang... Kau datang... Bahkan lebih sering dari pada aku menerima makanan... Kau.. Kau..." Suara Dino bergetar hebat sehingga sulit untuknya untuk menyelesaikan kalimatnya.

Hibari hanya duduk sambil memejamkan mata erat-erat. Inilah yang harus ditanggungnya, ia akan mendengarkan Dino hingga selesai. Tanpa peduli seberapa sakit hatinya mendengar itu.

"Aku masih bisa merasakannya semua Kyoya... Semua pukulan, tendangan, dan serangan tonfamu... Aku masih ingat suara rusaknya tulang belakangku yang membuatku tidak bisa lagi berjalan..." Dino berhenti sejenak untuk mengambil napas sebelum memulai lagi,

"Paling parah apabila saat nafsumu terangsang... Saat itu terjadi... Bahkan untuk duduk saja terlalu menyakitkan bagiku..." Dino tertawa kecil yang tak bermakna, "Tentu saja... Kau selalu terangsang saat kita hanya sekedar berlatih. Tentu saja nafsu birahimu tidak terkendali saat kau sedang menyiksaku... Saat darah membasahi kedua tanganmu... Saat kau melihat aku bermandikan darahku dan cairan manimu... Tentu saja Kyoya..." Dino kembali menutupi wajahnya.

"Apakah seks dengan seorang pria yang sudah hampir menjadi mayat sangat memuaskan Kyoya? Kelihatannya begitu bagimu..."

Sang Vongola guardian hanya terdiam di kursinya. Sebenarnya ia merasa begitu mual, ingin rasanya ia muntah di tempat itu.

"Dan... Kau tahu...? Apa yang terakhir kulihat dengan mata ini Kyoya? Sosokmu. Sosokmu dengan kedua tonfamu. Pukulanmu pada kepalaku begitu keras dan merusak syaraf optikku... Kau sedang tertawa saat itu..." Dino terisak sambil meraba pelupuk matanya

"Aku tahu... Aku tahu itu bukan dirimu yang sebenarnya... Aku ingin percaya padamu... Aku ingin percaya suatu saat kau yang asli akan kembali... Aku terus mengatakan hal itu di kepalaku... Berulang-ulang... Terus... Terus... Tapi.. Tapi... Ada kalanya di mana aku hanya ingin mati... Aku hanya ingin menghabisi semua penderitaan itu..." Dino mengangkat kedua tangannya yang bergetar hebat ke kepalanya dan mulai menjambaki rambut pirangnya.

"Haneuma...?"

"Tapi... Kau terus mengatakan kata-kata itu... Kau terus mengatakan kau mencintaiku... Aku tidak ingin mendengarnya lagi... Tapi dalam waktu yang sama aku tidak bisa berhenti mengharapkannya... Mendengar bahwa kau mencintaiku..."

"Saat Squalo membawaku keluar dari neraka itu... Kupikir aku akan bisa bebas... Namun bayanganmu terus menghantuiku apapun yang kulakukan..."

"Dan sekarang... Kau berada di hadapanku... Mengatakan hal yang sama... Apa yang menurutmu harus kulakukan Kyoya?! Apa yang harus kupercaya...? Aku takut... Kau akan dikuasai orang itu lagi..."

Hibari memandang sosok kekasihnya yang dahulu begitu gagah, telah terjatuh dan menjadi begitu rapuh. Hibari tidak dapat menahan perasaanya lagi. Diraihnya pundak Dino dan dirangkulnya dengan sekuat tenaga. Dino memberontak, tentu saja. Namun Hibari telah menguatkan hatinya untuk terus memeluk Dino, ia memaksa agar kepala Dino terbenam di bahunya, membiarkan pria itu menghirup aroma lehernya. Lalu dengan sabar, Hibari terus mengelus lembut rambut pirang kekasihnya, menunggunya agar ia bisa menenangkan diri di dalam kedua lengannya.

Saat Dino mulai merasa sedikit tenang, Hibari berbisik lembut,

"Percayalah apa yang mau kau percayai Haneuma... Yang kulakukan semuanya memang nyata...Namun... Aku bersumpah orang itu tidak akan dapat menyentuhmu lagi... Apapun yang terjadi..."

"Aku benar-benar tidak mau melepasmu Haneuma... Maafkan aku..."

Dino tersentak dalam pelukan Hibari, namun Hibari terus mengelus rambutnya, mencoba membuat Dino merasa aman dengan sentuhannya.

"Maaf... Walaupun kau memilih untuk tidak mempercayaiku... Aku akan terus di sisimu... Aku akan terus berada di sampingmu dari tempat yang kau tidak akan sadari..."

Hibari mendengar Dino menelan ludahnya, "Tidakkah kau mengerti situasimu sekarang Kyoya? Keberadaanku hanyalah beban bagimu... Kalian sedang bersiap-siap untuk perang... Demi Tuhan..."

"Kau yang dulu mengatakannya sendiri Haneuma..."

"Apa...?"

"Orang yang berharga hanya akan membuatmu semakin kuat... Tidak pernah menjadi beban..."

Saat itu, Hibari dapat merasa kemejanya mulai basah akan air mata. Jemari Dino yang gemetar perlahan mencengkram lengan kemejanya seiring suara isak tangis mulai terdengar.

Hibari mengusap rambut Dino yang menutupi keningnya dan meninggalkan sebuah kecupan manis di sana,

"Ti amo, Dino..."

TBC

A/N Okeh, sudah TBC lagi hehehe.

Sekedar info, saya sekarang udah resmi pindah status sosial dari 'mahasiswa' ke 'pengangguran'... orz

Akhirnya yang ditunggu-tunggu, konfrontasi D18 muncul juga ;) gimana menurut kalian? Saya coba mulai masukin pengalaman Dino selama disiksa Hibari... Saya bingung sekarang, apa dengan adanya scene itu, dan kata-kata Dino di bawahnya fic ini harus jadi rated M? Bisa kasih nasihat? Untuk jaga-jaga sekarang saya ganti M dulu, tapi kalo banyak yang merasa gak usah, nanti diganti T lagi, hehehe

Btw, ada yang bilang di review chapter lalu yang tentang povnya Xanxus, kalo itu kurang seru, karena D18 sama 6927 gak muncul, yah kan gak ada salahnya nyoba sudut pandang orang lain kan? Saya kala itu jujur lagi bosen bgt sama D18, jadinya mainan sama oom Xanxus dulu deh ;) Satu dua chapter gak ada pairing bukan berarti fic ini udah bukan fic D18 kan? Jadi sabar aja ya, dan nikmatin ficnya :) dan makasih udah nyemangatin, TA saya selesai dengan lancar!