Balasan review:

Rose

Wah, wah, gimana ya... pertanyaannya akan terjawab di chap ini dan di chap selanjutnya kok, maaf lama apdetnya, gara2 fic satunya sih *alasan* *timpuked*

Arigatou

Yashina Uzumaki

Iya ya? Saya stuck nih... rada hilang semangat ngelanjutin fic, males, banyak tugasdanpr2...

Shikanaru? Saya juga suka sih, tapi bingung bikin alurnya gimana, gomen~~~

Arigatou

Queen The Reaper

Lho? Shika bilang dia suka Naru ya? Kapan? Kapan? *timpuked*

Maaf lama Queen-chan, saya hampir lupa ngapdet fic ini, mampir k ffn aja susah, nulis aja gak ada waktu luang *nangis2*

Arigatou

Nasumi-chan Uharu

Makasih udah mau nungguin apdetnya yg lama ini, hehe ^^a

Saya coba lebih semangat deh.

Arigatou

Nafisah

Iyaa... ini udah saya bikin lanjutannya, silakan dibaca

Arigatou

Higuchi Keitaro

Wah dukung siapa nih? XD

Karena pairnya Sasufemnaru, jelas utamanya kan mereka, walau belum tentu endingnya ntar mereka bisa sama-sama. Hehehe *hajared*

Maaf apdetnya lama

Arigatou

Imperiale Nazwa-chan

Iya, Gaara kan baik hati, gak jahat -?- di fic ini, lagian triangle love dan angle2 lainnya sulit nana bikinnya.

Naru kan emang suka sasu X3

Maaf lamaaaaa

Arigatou

yuchan desu

wah, masa? Padahal saya pikir malah makin abal nih fic. Iya, chara di cerita filler waktu misi balas budi. Habisnya bingung sih mau pakai chara antagonis yg mana lagi.

Arigatou

xxxruuxx

makasih, ditaksir banyak orang kayaknya repot deh, hahahaha. Kecuali kalo polos, jadinya gak nyadar2 kayak naru-chan

maaf lama apdetnya.

Arigatou

Isma nur annissa

Makasih udah dibilang enak ^^"

Saya bingung fic saya ini enaknya dimana, hahahaha XD

Maaf lama apdetnya.

Arigatou

Rizzy doubleZiziy

Salam kenal juga... ^^

Wah, bagus juga ya, tim Hebi, saya jadi dapet ide nih. X3

Tapi anggota hebi dibunuh? Wah saya mau nyiksa Sasu dulu di fic ini. Jadi bunuh2annya ntar aja. Hehe

*timpuked*

Maaf lama yaaa, *nunduk2*

Arigatou

Makasih buat reader, reviewer, dan silent reader *kalau ada* yang udah baca dan ngasih semangat ;)

Douzo~

.

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Masashi kishimoto-sensei, pinjem chara Narutonya ya *Dogenza*

Author: Kiriya Diciannove

Pairing: SasuFemNaru

Genre: Romance and Friendship

Rated: T

Warning: AU, Typo(s), OOC, gaje, Newbie, SasuFemNaru, DLDR

.

Summary: Naruto Uzumaki, anak cewek yang periang, manis, dan imut. Meskipun kyuubi tersegel dalam dirinya, orang-orang di konoha menyukainya, hidup yang menyenangkan, tapi karena kyuubi sekarang dia di incar…

Pair: SasuFemNaru, and many more, my first fic, Newbie, No Flame please. DLDR, but… mind to RnR?

.

.

Bringing the Rain © Kiriya Diciannove

.

.

Sasuke menatap si pirang itu, sungguh rasanya dia tidak ingin berada dalam situasi seperti ini, "Tidak apa-apa, tenang saja." Ujarnya menenangkan.

Si Raven itu menangkis semua serangan senjata dari musuh walaupun ada beberapa yang mengenai tubuhnya. Terlalu banyak musuh dan sulit bertarung sambil melindungi Naruto dan Gaara.

Tiba-tiba terlihat puluhan burung gagak di langit, itu genjutsu.

"Serahkan pada mereka pada kami," ujar seorang Anbu bertopeng kucing kepada Sasuke.

"Kalian pergilah." Ujar Anbu yang lain. Tampak enam Anbu muncul tidak jauh dari Sasuke.

Sasuke mengangguk dan membawa Naruto dan Gaara menjauh, sejauh mungkin dari tempat mereka tadi dan kembali menuju ke tempat Hinata.

'Itu Anbu Konoha, baguslah.' Batin Sasuke. Dia yakin dia tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi seandainya tidak ada bantuan.

"Kalian sudah tidak apa kan?" Tanya Sasuke memastikan sambil berhenti di bawah sebuah pohon besar.

Gaara menyandarkan dirinya di pohon itu, "Kurasa begitu..."

"Kau, Naruto?"

"….."

"Dobe!" sasuke mengguncang bahu Naruto yang duduk diam dan hanya menunduk dengan tatapan kosong.

Deg!

Naruto tersentak, "Ma—maaf, kurasa aku sedikit trauma…" ujarnya sambil tersenyum lirih.

Sasuke menatap Naruto, 'Dia trauma karena kejadian waktu dengan Akatsuki itu… Rasanya baru saja aku melihatnya gembira, kemudian dia berwajah sedih seperti ini lagi.'

[Ame wo tsureyuku]

Sudah beberapa jam lewat sejak kejadian tadi, Naruto benar-benar tidak ingin mengingat perasaan terintimidasi seperti itu, dimana semua kenangan buruk masa lalunya berputar-putar seakan sedang memainkan recorder. Dia melamun sambil merendam tubuhnya di pemandian air panas itu, lalu menyelamkan kepalanya beberapa saat, membiarkan rambut pirang panjangnya basah. "Jinchuuriki sampai sekarangpun…"

Sasuke masuk ke pemandian air panas dengan berbagai macam hal yang berkecamuk di pikirannya. Semua ini benar-benar membuatnya pusing.

"Teme… apa yang kau lakukan di sini?"

"Dobe?"

Loading…

"KYAAAAA! Teme hentai!"

"I—ini bukan seperti yang kau kira!" elak Sasuke. 'Awas kalian, Sai, Konohamaru! Beraninya kalian mengerjai aku seperti ini!' batin Sasuke.

PLAK!

Buagh!

Beruntung mereka masih pakai handuk masing-masing. Beruntung ini masih rate T.

-Flashback-

"Dimana pemandian laki-lakinya?" Tanya Sasuke pada Konohamaru dan Sai.

"Di sana." Ucap Sai.

"Di situ." Ucap Konohamaru.

"….."

"Maksud kami di situ," ucap Sai dan Konohamaru sambil tersenyum.

"Hn."

Sasuke melangkah pergi menuju arah yang ditunjukkan Sai dan Konohamaru.

"Good job Sai-nii!"

"Apa ini tidak masalah Konohamaru-kun?"

"Hubungan mereka kurang baik akhir-akhir ini menurutku," jawab Konohamaru.

"Kurasa juga begitu, sepertinya mereka butuh waktu untuk bicara berdua. Itu yang kubaca di buku saat hubungan seseorang mulai renggang." Ucap Sai.

"Jadi kita melakukan hal yang benar kan?"

"…mungkin?"

Errr… itu kan pemandian perempuan. Sepertinya tempatnya tidak tepat…?

-End Of Flashback-

"Kenapa dengan wajahmu Sasuke-kun?" Tanya Sakura, saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tamu.

"Tanyakan pada Sai dan Konohamaru," sahut Sasuke ogah-ogahan tapi dilengkapi dengan deathglare tingkat tinggi.

GLEK!

"Memangnya ada a—?"

'Cih, kabur,' umpat Sasuke.

"—pa…" Sakura sweatrop melihat Sai dan Konohamaru sudah tidak ada di tempat.

"Oh iya, Naru-chan kemana ya? Kok gak ada? Pantas aja hening." ucap Ino.

"Ada tuh, di ruang sebelah, sepertinya sedang membaca buku." Jawab Tenten.

"Hah? Baca buku? Masa?" Tanya Sakura.

"Paling juga komik," sahut Ino.

Tenten menggeleng, "Bukan, sepertinya itu buku ninjutsu."

"Tumben?!" ucap Ino.

"Padahal 'kan niat pergi liburan kesini kan untuk bersenang-senang bersama, tapi semua malah terpencar-pencar gini," gumam Sakura.

"Tidak apa-apa kan, lagipula masih ada sisa dua hari liburan di sini, santai saja!" sahut Ino enteng.

Sasuke beranjak dari tempat itu, dia malas mendengarkan obrolan teman-teman ceweknya itu. Lagipula sebaiknya dia minta maaf tentang kejadian yang membuat image-nya rusak di mata Naruto. Meskipun itu gara-gara Sai dan Konohamaru. Ya, lagipula dia sudah memutuskan sesuatu.

"Hei, Dobe!" ucap Sasuke menghampiri Naruto yang sedang berdiri di halaman sambil menikmati pemandangan malam yang dipenuhi bintang itu. Tampak tidak jauh darinya tergeletak sebuah buku ninjutsu yang hampir selesai dibaca.

Hening.

"Kau masih marah?"

Sepi…

"Dobe? "

"Apa sih Teme?!" sahut Naruto sewot.

'Dia masih marah,' batin Sasuke sweatdrop.

"Tentang tadi sore… aku minta maaf!" Sasuke mengatakannya dengan cepat, "Lagipula aku tidak sempat lihat apa-apa kok!"

"E—eh? I—iya gak apa."

Sasuke menghela napas sejenak, berusaha mengembalikan wajahnya yang biasanya stoic dan dingin itu.

Anak itu seolah-olah bisa membuatnya melupakan tentang balas dendamnya untuk sesaat.

Melupakan tentang balas dendam, eh?

Lagi, Sasuke menatap wajah nona rubah di sampingnya itu.

"Ke—kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Naruto bingung dengan pandangan Sasuke yang sedikit aneh, 'Kok aku grogi?' batinnya lagi.

"Naruto…" ucap Sasuke ragu.

Naruto menatapnya penuh kebingungan dan dengan degup jantung yang tidak beraturan.

Kenapa tiba-tiba suasananya tegang dan terasa serius?

"Kalau saja kau memintaku untuk menyerah tentang balas dendam itu, mungkin… aku akan berhenti mengejar Itachi…"

Naruto tertegun, dia tidak salah dengar bukan? Dia yakin dia tidak salah dengar, tapi kenapa itu terkesan seperti pernyataan yang bermakna lain? Mimpi? Bukan, ini bukan mimpi.

"A— apa maksudmu?"

"Aku belum selesai," potong Sasuke. "Aku bilang mungkin, tapi... menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi itu tetap menjadi tujuanku!"

"…?"

"Arrgh, maksudku… apa kau mau berada di sampingku dan menjadi kuat bersamaku?"

Naruto memiringkan kepalanya, "Aku kan memang selalu ada di sampingmu."

Sasuke mengernyitkan alisnya, 'Anak ini mengerti tidak sih maksudku sebenarnya?'

"Aku ini sedang menyatakan perasaanku padamu Dobe! Kamu mengerti tidak sih?" ucap Sasuke frustasi.

"Me—menyatakan perasaan padaku? Hahahaha... Ja—jangan bercanda seperti ini. Aku sudah tidak marah padamu kok. Aku sudah tahu kejadian tadi gara-gara Sai dan Konohamaru. Jadi jangan mempermainkan perasaanku seperti ini. Sebaiknya kita ke tempat Sakura dan yang lain sekarang." Ucap Naruto, dia tidak ingin terlalu berharap. Sungguh, jangan seakan-akan memberi harapan. Dia benar-benar melangkah pergi meninggalkan Sasuke.

Sasuke diam sambil memejamkan matanya, 'Ditolak lagi, eh?'

Mana boleh begini, sudah sejauh ini, kenapa si Dobe itu tidak peka sama sekali?!

Grep!

Sasuke memeluk Naruto dari belakang, "Sepertinya kau memang tipe orang yang lebih mengerti dengan tindakan daripada kata-kata."

"Sa—sasuke?"

"Aku mencintaimu." Ucap sasuke sambil mendekap gadis itu agar tidak pergi begitu saja.

"Aku. Benar-benar. Cinta. Padamu. Dan kau tidak sedang mimpi ataupun salah dengar, Dobe. "Jadi apa jawabanmu?" Sasuke mengucapkannya dengan datar, Naruto benar-benar menguji kesabarannya.

Naruto benar-benar bersumpah, kalau ini mimpi, dia harus segera bangun dari mimpi ini. dia sudah tidak dapat mengontrol detak jantungnya.

"Ini bukan mimpi usoratonkachi." Ucap Sasuke lagi.

"Eh itu, ah bagaimana ya? Berikan aku waktu untuk berpikir!" ucap Naruto sambil memejamkan matanya erat.

"Hn."

Naruto bingung, iya sih memang benar dia suka Sasuke, tapikan…

Kata-kata Sakura…

["Kita bertiga adalah rival, bersaing secara sportif dalam hal percintaan. Kalau gak cepat Sasuke-kun bisa diambil orang lain lho!"

"Perjuangkan juga dong!" tegas Sakura, "Loh, kok aku malah terkesan mendukungmu ya? Ah, yang pasti kalau kamu gak memperjuangkannya, ya sudah, lupakan saja."]

"Sudah 3x…" ucap Sasuke disela-sela keheningan itu.

"Eh, apanya?" Tanya Naruto bingung.

"Aku mengatakan hal seperti ini padamu 3x, tapi kau benar-benar bodoh ya, tidak pernah menyadarinya, " ucap Sasuke setengah mengejek.

"Ti—tiga kali?" Naruto mencoba mengingatnya.

"Yang pertama, di kelas waktu itu."

-Flashback-

["Para fansmu tadi bertanya padaku, apa kau sudah punya pacar. Aku tidak tau harus menjawab apa…" jawab Naruto dengan wajah muram. "Hei, jadi kau belum punya pacar kan? Kenapa gak cari pacar saja supaya kau tak dikejar-kejar fangirlsmu itu lagi, dan aku tidak diberi pertanyaan-pertanyaan tentang kamu dari mereka. Mereka membuatku hampir gila…"

"Kalau begitu, kau saja yang jadi pacarku Dobe," ucap Sasuke pada Naruto.

"Apa yang kau katakan Teme… jangan bercanda dong!" jawab cewek berambut blonde itu. 'Sampai kaget aku mendengarnya!' batin Naruto.]

"Eh? Waktu itu serius?"

"Lalu yang kedua, di lorong sekolah."

["Aku suka padamu kok." ucap Sasuke berhenti berjalan sambil memandang Naruto. Kata-kata itu keluar begitu saja dari sang Uchiha itu.

Mereka berdua terdiam sambil berpandangan. Sapphire dan onyx…

Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

'Apa maksud dari kata-kata itu? Boleh aku berharap lebih? Atau sudah cukup seperti ini saja?' tanya Naruto dalam hatinya.]

"Lalu yang ketiga, waktu sakit."

["Aku suka padamu…"

"Haa…?" Naruto bengong.

"Kau bagaimana?" Sasuke mengucapkannya dengan mata terpejam.

'Apa dia mengigau karena demam?' batin Naruto bingung bercampur kaget.

"A—Aku juga suka kamu kok, kau tahu kan aku menyukai semua orang, ah ya! Jangan lupakan ramen!"

"Baka…" ucap Sasuke dengan suara yang serak.]

Hening…

"Ka—kau ingat?"

"Ya, aku sudah ingat. Waktu juga aku menciummu di—"

Cup!

"—sini"

Sasuke mencium pipi kanan Naruto, persis seperti yang dia lakukan saat di sakit waktu itu.

"Ke—kenapa menyukai aku? Orang sepertiku?"

"Kau membuatku melupakan dendamku walaupun hanya sesaat. Membuatkku merasa senang dan marah dalam waktu yang bersamaan. Aku begitu menyukaimu." Sasuke mengeratkan pelukannya.

Naruto melepaskan dirinya dari pelukan Sasuke, menatap mata onyx lelaki itu dan menarik napas perlahan, "Aku… juga menyukaimu…"

Hening…

"Katakan sekali lagi," pinta si Uchiha itu, kali ini dia yang harus memastikan pendengarannya.

Wajah Naruto bersemu, "Kubilang aku juga menyukaimu!"

Sasuke tertawa pelan, "Kupikir aku akan ditolak lagi olehmu, hahaha…"

"Aku kan tidak tahu kalau kau serius waktu itu," ucap Naruto membela diri. 'Lagipula, kalau tahu kau serius, aku tidak akan menolakmu,' batin Naruto sambil menatap Sasuke. Dia terkekeh pelan, 'Tapi aku tidak menyangka kamu menyukaiku.'

"Apa yang kau tertawakan?"

"Tidak apa, tapi menurutku kau menembakku dengan cara yang sangat biasa." Ucap Naruto sambil berpikir.

Sasuke memalingkan wajahnya kearah lain, "Tch, aku memang bukan laki-laki yang bisa melakukan hal-hal seperti itu."

[Bringing the Rain]

"Heh? Apa yang dilakukan Sasuke dan Naruto berduaan seperti itu?" ucap Kiba pelan sambil melihat dari ruangan sebelah.

"Sepertinya Sasuke-kun sedang menyatakan perasaannya," ujar Sai kalem.

"Sa—sai! Sejak kapan kau ada di sini?"

"Baru saja," sahut Sai sambil tersenyum.

"Yaah, aku patah hati deh kalau begitu…" ringis Ino.

"Aku juga… " sambung Kiba.

"Aku senang!" ucap Konohamaru sambil menabur-nabur confetti (?).

"Dari mana kau dapat benda itu, Konohamaru?" Tanya Hanabi sweatdrop.

"Semoga engkau berbahagia Naru-chan!" ucap Lee penuh airmata.

"Ano… mengintip orang itu tidak baik lho…" ucap Hinata.

"Merepotkan saja."

"Sejak kapan kalian ada di sini?" Tanya Kiba heran.

"Baru saja, sama sepertimu," sahut Sakura.

Sementara Neji, Gaara, Sai, Shino dan Chouji hanya duduk-duduk saja dan membiarkan teman-temannya melakukan perbuatan yang tidak baik itu.

"Sudahlah, biarkan saja mereka," ucap Shikamaru dengan malas.

"Cuma begitu? Gak ada adegan romantisnya sama sekali?" Tanya Hanabi.

"Eh, ro—romantis?" wajah Hinata menjadi blushing.

"Sasuke-kun bukan tipe orang romantis sepertinya, lagipula kita kan tidak tahu apa yang terjadi sebelum kita melihat mereka. Bisa saja tadi mereka xxx—"

BUAGH!

"Jangan ngomong yang tidak-tidak Sai!" pukul Sakura.

"Mana mungkin mereka melakukan hal itu disini," sambung Tenten.

Yang lain mengangguk-angguk.

"Apa yang kalian pikirkan sih?" Tanya Konohamaru.

"Kau harus lebih besar dulu kalau ingin tahu, Konohamaru-kun!" ucap Ino.

"Haa? Apa-apaan itu?" sahut Konohamaru.

"Jangan meracuni pikiran anak polos itu, Yamanaka-san!" ucap Neji yang tampak sedang membaca buku.

'Siapa yang meracuni?' batin Ino.

"Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja, kalian tidak ingin di Sharingan Sasuke, kan?"

Sasuke menyadari suara bisik-bisik tidak jauh dari tempat mereka, 'Diintip...'

Keesokan harinya…

Semua sedang sibuk di halaman yang tidak begitu jauh dari tempat mereka menginap. Mengadakan acara barbeque ala jepang di sana.

"Kami sudah menyiapkan amiyaki (tempat memanggang), cepat olesi minyak sayurnya!" ucap Chouji diikuti oleh Gaara.

"Dagingnya mana?" Tanya Ino.

"Apinya dulu tuh!" perintah Sai.

"Hei Sasuke, bisa tolong apinya?" Tanya Naruto yang sibuk mengolesi amiyaki dengan minyak.

Sasuke menghampiri Naruto, "Ya, aku tahu."

Yang lain menatap diam-diam kearah mereka dalam diam.

"Kalian kenapa?" Tanya Naruto bingung.

"Ah, bukan apa-apa! Jagungnya sudah siap!" jawab Sakura cepat.

"Dagingnya juga," sambung Shino.

"Melukis kalian yang seperti ini bagus juga," ucap Sai dengan senyum senang.

"Kau santai sekali! Bantuin dong!" protes Shikamaru yang tumben-tumbenan tidak tidur.

"Iya tuh!" sambung Kiba yang membantu Hinata.

"Woof!"

"Aku kan sedang sibuk melukis kalian," sahut Sai sambil tersenyum khasnya.

"Sa—sayurnya juga sudah siap!" ucap Hinata.

"Sebaiknya aku saja yang memotongnya, Hinata-hime!" ujar Neji.

"Ti—tidak apa, sama-sama saja Neji-Nii, " ucap Hinata.

"Kami masih membuat sausnya, tunggu ya!" ucap Tenten yang sibuk dengan Hanabi dan Konohamaru.

"Ambilin air dong Lee!"

"Oke!" sahut Lee dengan semangat.

"Pisau juga ya, Lee!"

"Siap…!"

"Hiks…"

"Kenapa kau menangis Naru-chan?" Tanya Ino cemas.

"Hiks, siapa yang menangis, mataku pedih kena asap nih!" ucap Naruto dengan mata memerah.

"Biar aku gantikan mengawasinya!" ucap Sasuke.

"Iya, terima kasih!" Naruto mengucek-ucek matanya.

"Jangan lakukan itu," ucap Sasuke memegang tangan Naruto.

Lagi, orang-orang yang berada di tempat itu menatap mereka penuh minat.

"Biar aku bantu juga," Gaara menawarkan bantuan pada Sasuke.

"Wah sudah masak tuh! Tolong piring ya Lee!" ucap Naruto.

"Oke!" Lee siap siaga.

"Ini sausnya," ucap Sai ikut membantu, walau Cuma bantu mengambilkan saus dan yang membuat adalah Tenten, Hanabi dan Konohamaru.

"Gaara-kun, ayo duduk di sini!" ajak Ino. Gaara pun menuju ke tempat itu.

'Benar-benar sibuk bersenang-senang… mungkin hal yang seperti inipun gak bisa bertahan lama, walaupun aku ingin…' batin Naruto.

"Akh, sial kelilipan!" ucap Sasuke yang sibuk membalik Yakiniku, dia mengusap mata kirinya.

"Mana? Sini kulihat!" ucap Naruto berjingkit sambil memegang kedua pipi Sasuke dan melihat ke arah mata onyx itu sambil meniupnya pelan sementara Sasuke menunduk.

"Sudah tidak apa-apa?" Tanya Naruto menatap dengan polos wajah Sasuke dari dekat. Dekat sekali.

"Ya, sudah tidak apa-apa," ujar Sasuke segera kembali melanjutkan acara goreng menggorengnya dengan detak jantung yang tidak karuan. Seandainya saja itu adalah tempat yang sepi, Sasuke tidak tahu apa hal yang akan dia lakukan kepada makhluk imut yang satu itu.

'Hah? Apa yang kupikirkan?' batin Sasuke.

"Haaah…" lagi, orang-orang yang berada di tempat itu melting melihat adegan itu.

Sabar…

"Ssst… Gaara-san, apa kau yang membuat Sasuke kelilipan?" Tanya Tenten berbisik.

Gaara menoleh, "Untuk apa aku melakukan itu?"

"Gak juga sih, kamu kan bisa mengendalikan pasir… yaah, jadi aku mengira…"

"Gak kok," sahut Gaara singkat.

"Oh, ya sudahlah kalau begitu," Tenten melanjutkan acara makannya. "Lee! Jangan ambil punyaku!"

"Langit hari ini cerah," gumam Shino tidak nyambung dengan yang lain.

'Huweee… aku masih gak rela Sasuke-kun punya pacar… tapi… tapi… kalau pacarnya salah Naru-chan…' batin Ino.

"Hei Yamanaka-san, apa boleh aku melukis wajahmu di kanvasku ini nanti sore?" Tanya Sai dengan senyum khasnya, membuyarkan pikiran Ino tentang SasuNaru.

"Eh apa? Oh, boleh-boleh saja!" sahut Ino sambil tersenyum.

"Aaaa… ayo buka mulutmu! Yang ini enak banget loh!" ucap Naruto sambil menyuapkan Yakiniku dengan senyum yang manis kepada Sakura.

Sakura sweatdrop, 'Gak salah orang nih, si Naru-chan?' batinnya. "Ah, terima kasih Naru-chan! Biar aku makan sendiri," ucap Sakura sambil mengambil sumpit dari tangan Naruto.

"Sakura tidak seru ah!" Naruto manyun.

Sasuke sweatdrop, 'Kok malah menyuapi Sakura, bukannya aku? Aku kan pacarmu Naru!' batin Sasuke.

"Sasuke Uchiha, dagingnya gosong tuh!" ujar Gaara yang duduk di dekat Naruto sambil menunjuk daging yang mulai mengeluarkan asap dan bau gosong.

"Gantian, kau lagi yang bakar dagingnya!" ucap Sasuke kepada Gaara.

Gaara menatapnya tajam, terlihat aura petir menyambar di antara mereka.

"Baiklah," ucap Gaara bangkit dengan enggan, padahal baru saja dia duduk di dekat Naruto, Sasuke main gepak orang aja. Begitu Gaara beranjak, Sasuke langsung duduk di dekat Naruto.

Semua langsung menatap kearah Sasuke.

"Apa?!" ucap Sasuke ketus, merasa risih diperhatikan, "Aku juga mau makan!"

Sasuke menoleh kearah Naruto dengan wajah stoic-nya, terlihat anak berambut pirang itu juga melihat kearahnya, namun segera berpaling dengan muka merona.

Angin berhembus pelan diantara pepohonan dekat mereka, membuat daunnya berguguran seperti musim gugur, tercium aroma wangi bunga liar yang tumbuh di sana. Damai dan menenangkan hati.

"Tempat ini memang bagus, Hinata! Pasti menyenangkan hidup tenang dan damai bersama dengan orang yang disayangi di tempat ini!" seru Naruto.

Sontak semua yang berada di tempat itu memandang kearah Sasuke, kemudian kearah Hinata.

"Uhm… i—itu benar Naru-chan," sahut Hinata sambil memain-mainkan jarinya.

Sementara itu Sasuke mematung mendengar ucapan Naruto, 'Aku mikir apaan lagi sih?' batinnya sambil melanjutkan acara makannya.

'Seharusnya itu dinyatakan kepada Sasuke-kun kan?' batin Hinata.

[Bringing the Rain]

Selesai acara makan-makan, mereka menghilang dari tempat itu, tentunya setelah merapikan dan membersihkan semuanya. Ada yang berjalan-jalan ke alam mimpi, ada yang berburu serangga, ada yang melukis, melihat-lihat bunga, dan ada yang menghilang (?) serta kegiatan lainnya.

Sementara itu Naruto duduk merenung sambil menatap langit biru, "Hari ini memang cerah," ucapnya sambil menoleh ke samping kiri, terlihat Sasuke mengulurkan tangannya.

"Ayo jalan-jalan denganku."

"Waaaah! Kereeeeen!" terlihat bunga matahari bermekaran di tempat yang Sasuke tunjukkan pada Naruto. "Ini semua bunga matahari, sejauh mata memandang hanya ada bunga yang berwarna kuning itu, bagus sekali. Hyaaaa!" teriak Naruto histeris sambil berlari kesana kemari, sedangkan Sasuke biasa saja dengan gaya kalemnya.

"Indahnya…!" mata Naruto berbinar-binar.

"Memang indah…" sahut Sasuke sambil menatap pemilik mata berwarna shapphire itu.

"Bisa tidak, terus tenang dan damai seperti ini?" Naruto duduk di rerumputan hijau itu.

"Semoga saja."

Naruto menatap langit yang berwarna secerah matanya. Pandangannya menerawang jauh.

"Sasuke, aku ingin menceritakan sesuatu. Kau mau mendengarnya?" Tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.

"Ya?"

"Tentang masa lalu ku…" ucap Naruto sambil tersenyum lirih.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Bukannya kau ingin tahu?"

"Aku tidak memaksamu, Dobe."

Naruto menghela napas.

"Dulu… aku tinggal bersama kakak-kakak seperguruanku di Uzugakure dan juga bersama Ero sennin. Orangtuaku meninggal waktu aku masih kecil… dan itu karena Kyuubi yang mengamuk dan menghancurkan desa Konoha juga Uzugakure. Kau tahu tidak, Uzu dekat dengan Konoha lho."

Sasuke tertegun.

"Tapi desa itu bisa pulih kembali. Lalu kemudian perkelahian antar klan terjadi, membuat desa itu hancur dan membuatku terpisah dengan kakak-kakak seperguruanku. Kau tahu tidak? Alasan pertempuran itu adalah aku... Mereka bilang mereka menginginkanku, ah tidak… mereka menginginkan siluman rubah ini. Aku heran! Padahal sejak kematian orangtuaku, semua orang desa membenci diriku dan menginginkanku agar lenyap saja dari dunia ini. Tapi, orang-orang dari berbagai Negara kage juga malah ikut memperebutkan aku. Nii-san bilang, dia akan melindungi dan tidak membiarkan orang-orang itu memilikiku, menciptakan dunia dimana orang seperti aku akan bisa hidup dengan tenang. Terdengar seperti lelucon ya."

Naruto menggenggam erat kedua tangannya, "Saat itu hujan sangat lebat, Nii-san menyuruhku bersembunyi. Aku sendirian. Kau tahu tidak, hujannya mengerikan! Petir dan kilat menyambar-nyambar. Air hujannya pun berwarna merah, aneh sekali kan? Lalu ada banyak orang yang muncul di sekelilingku, aku takut sekali, tapi mereka malah berkelahi di hadapanku, saling melukai, aku marah sekali… aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Begitu membuka mata, aku melihat Jiraiya jii-san melihatku dengan tatapan lega. Tapi di sekelilingku banyak sekali korban. Kurasa yang membunuh mereka semua adalah aku. Kau percaya?"

Hening…

"Aku terlalu banyak bicara, eh?" Naruto terkekeh.

"….."

"Sekarang aku tidak tahu lagi kabar mengenai nii-san, entah dia masih hidup atau…" Naruto tidak melanjutkan kata-katanya. "Kemudian Jiraiya jii-san mengajakku ke konoha, lalu supaya tidak ada yang tahu mengenai Kyuubi, Tsunade baa-chan memberikan kalung ini," Naruto menunjukkan kalung biru itu pada Sasuke. "Selama aku memakai kalung ini, Kyuubi tidak akan bisa menguasai pikiranku sepenuhnya. Menjadi istimewa memang sulit, begitu kata nii-san."

Sasuke memutar bola matanya, "Itu memang benar…"

Naruto menatap kalung birunya, "Eh teme, kau tidak takut aku mengamuk?"

"Bukan kamu, tapi kyuubi kan? Kau tidak tahu ya kekuatan Uchiha? Asal kau tahu, mereka bisa mengendalikan bijuu!" Sasuke tersenyum sinis.

"Wah, benarkah? Kalau begitu, saat aku tidak bisa mengendalikan kekuatan Kyuubi ini, kau bisa membunuhku kan?" Tanya Naruto seakan tanpa berpikir panjang.

"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu! Lagipula, kenapa kau berkata seperti itu?"

Naruto memutar bola matanya,"Ah, tidak… tidak kenapa-kenapa."

"Kau adalah salah satu alasanku masih berada di tempat ini," sahut Sasuke, "Tapi aku tidak menyangka, begitu banyak orang yang menginginkanmu, walaupun dalam artian yang berbeda."

"Itu masa lalu… entah kenapa aku ingin menceritakannya padamu, hehehe."

"Kita kembali ke tempat Hinata sekarang," ajak Naruto mengulurkan tangannya kepada Sasuke. Sasuke segera bangkit sambil menerima uluran tangan Naruto.

"Mau kupeluk?" tawar Sasuke sambil tetap menggenggam tangan Naruto yang terasa dingin dan bergetar.

"Hah?" muka Naruto memerah. Memang sih mereka sekarang pacaran, tapikan…

Dapat dia rasakan Sasuke tengah menariknya dan memeluknya sekarang, tidak ada perlawanan darinya. Ada baiknya juga sekali-kali mereka tidak bertengkar tentang hal kecil, padahal dulu selalu bertengkar. Perawakan merekapun dulu sama, tapi sekarang sudah beda ya. Buktinya saja, dia tenggelam di pelukan rival—err… kekasihnya itu. Sejak kapan Sasuke terlihat begitu berkharisma begini?

"Kau pendek ya, Dobe." Ucap Sasuke membuyarkan lamunannya.

"Enak saja, nanti aku pasti tambah tinggi!"

"Lebih bagus seperti ini, jadi aku mudah memelukmu," goda Sasuke.

"Dasar Teme!"

Sasuke mengeratkan pelukannya, "Sekarang kau senang berada di Konoha?"

"Iya, tentu saja… aku punya banyak teman sekarang di sini. Itu sudah cukup."

"Begitu?"

"Entah apa yang terjadi saat para fansmu tahu kau berpacaran dengan Naruto Uzumaki…"

"Bukan masalah."

"Itu bisa berarti masalah," sahut Naruto sambil membayangkannya sampai membuatnya bergidik. "Mungkin kita tidak seharusnya pa—"

"Mana boleh kau berkata seperti itu," Sasuke menarik napas sedalam-dalamnya, dapat tercium aroma citrus dari si blonde itu, dia memejamkan matanya. Rasanya dia seperti sanggup berlama-lama dalam situasi itu.

Hening…

Wajah Naruto bersemu merah, 'Bisa gawat kalau lebih lama seperti ini,' batin Naruto, jantungnya sudah berdetak cepat tidak karuan dan sekarang pikirannya meracau kemana-mana. Dari rating K sampai M.

"Ki—kita kembali sekarang, Teme!" Naruto melepas pelukannya sambil mendongak menatap mata Sasuke.

Sapphire bertemu onyx, waktu terasa berhenti sesaat…

"Gyaaaa! Terlalu dekat!" reflex Naruto langsung memejamkan matanya rapat-rapat, lalu mendorong Sasuke dan menyilangkan tangannya.

"Kau berlebihan, aku kan tidak ingin mengapa-apakanmu," Sasuke sweatdrop, tapi kemudian dia menyeringai, "Atau kau ingin kuapa-apakan?" ucapnya setengah berbisik.

"Apaan sih Teme! A—ayo kembali sekarang!" Naruto berjalan duluan dengan cepat.

'Cih, kabur… tapi reaksinya lucu juga,' batin Sasuke. "Kau mau kemana Dobe? Arah pulang bukan ke sana."

Naruto terpaku sambil sweatdrop. "A—arah pulang kemana?"

"Heh, kalau kau ingin tahu, bagaimana kalau cium aku disini." Sasuke menunjuk bibirnya.

Dziiing...

"Baru sehari jadian kau minta yang seperti itu?!" tunjuk Naruto marah.

"Kalau tidak mau, tidak akan kuberi tahu."

Naruto bingung, 'Jalan sendiri bakal ketemu jalan pulang gak ya? Bisa-bisa nyasar? Tapi kalau nyium dia?' Naruto melirik ke arah Sasuke. 'Atau nyari jalan pakai kagebunshin no jutsu aja... tapi kalau kemalaman gimana...? Bisa-bisa ada Hantu?!' Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Pikiranku terlalu jauh... lagian gak mungkin Teme ini membiarkan aku kesasar... Emang sih sudah pacaran, tapi masa aku duluan yang nyium?! Masa cewek duluan?'

Perlahan Naruto mendekati Sasuke sambil menunduk. Masih menunduk...

Lalu melirikkan matanya ke samping.

"Dobe?"

Narut memejamkan matanya erat sesaat lalu mendongak dan berjingkit.

Cup!

"Se—sekarang tunjukkan jalan pulang!" ujar Naruto langsung membelakangi Sasuke dan berjalan beberapa langkah. 'Malu...!'

Sasuke menyentuh pipinya yang baru saja dicium, 'Di pipi?'

"Hn, baik, baik akan kutunjukkan."

Seulas senyum kecil menghiasi wajah si raven itu.

Tapi ini baru awal...

.

.

.

TBC

A/N: *speechless+cengo+bengong*

Maaf lama apdet...

Saya gak banyak alasan deh, soalnya kemaren kan saya publish fic baru, jadi yang ini agak terabaikan. Chap ini udah saya edit berulang-ulang, saya bingung harus gimana bikin scene di chap ini, jadi kalau semakin aneh, maaaaaaaafkan sayaaa... *nunduk2*

Chap ini udah cukup panjang kan? Hampir 18 lembar word buat permintaan maaf ~-~

*plak*

Mereka jadian loh... Gimana? Setuju gak? Kalau gak, saya bikin putus deh~~ *dibacok Sasufemnaru*

Apdet ntar gak bisa kilat dan asap deh kayaknya, tapi pasti akan saya usahakan. ^^

Jaaaaaadi...

.

.

Mind to give me some Review?