.

Warn: Long flashback with NamGi! Kalau tidak suka, silahkan lewati sampai batas garis seperti di bawah. Terimakasih.

.

.


1 September

Segala hal negatif memang akan selalu indentik dengan rumah sakit, karena itu Namjoon tidak pernah menyukai bangunan tersebut. Tapi kini ia tidak punya pilihan selain berlari lebih jauh menyusuri salah satu lorong disana. Panik, jelas. Hoseok yang sama paniknya menelepon dan mengumpat beberapa kata sebelum akhirnya sampai pada sebuah inti. Siang tadi, Yoongi di temukan pingsan di dalam studionya, saat itu Hoseok yang menemukannya langsung menghubungi Namjoon dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tapi si brengsek Namjoon mematikan ponselnya karena sedang melakukan proses rekaman bersama salah satu artis. Hoseok mencoba lagi tengah malamnya, saat Namjoon sudah berada di basement dan bersiap pulang.

Dengan kabar berbeda dari yang ingin ia sampaikan tadi siang. Yoongi sudah menjalani operasinya. Kata 'sudah' disana semakin menggambarkan betapa brengseknya seorang Kim Namjoon. Si brengsek yang akan sangat rela berlutut pada Yoongi nanti untuk memohon maafnya.

Namjoon tiba di lorong ICU, dimana berkumpul orang-orang yang ia kenali. Orangtuanya, orang tua Yoongi, kakak laki-laki Yoongi, juga Jung Hoseok yang kini tengah melangkah cepat menghampirinya, bersama satu kepalan tangan melayang tepat mengenai pipi kanannya hingga tersungkur di lantai. Entah Hoseok meninju dengan tenaga penuh atau memang Namjoon sendiri tak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri tegak.

"Kau tahu orang seperti apa aku ini 'kan, Namjoon?"

Ya, Jung Hoseok. Si pemilik unsur positif berlebih yang menjadikannya nyaris tak pernah marah. Bahkan dulu masih bisa tersenyum saat memberitahu Namjoon perihal cedera yang dialaminya dan kemungkinan besar mengharuskannya mundur sebagai tim dancer dan koreografer. Itu Jung Hoseok yang ia kenal, lalu seseorang yang baru saja memukulnya dengan kepalan tangan penuh tetaplah Jung Hoseok. Hanya saja dalam versi kehabisan kesabaran menghadapi Kim Namjoon.

"Aku tahu. Jadi tolong biarkan aku melihat Yoongi dan memohon maaf."

Walau bagaimanapun Namjoon yang paling tahu bahwa maaf yang ia minta tidak akan merubah apapun. Kekecewaan Yoongi dan bagi Namjoon sendiri adalah rasa bersalah yang harus ia tanggung seumur hidup.

.

Tangannya gemetar hebat saat akan memutar kenop pintu ruang rawat Yoongi. Sebelumnya, ibu Namjoon mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Yoongi sehat, begitupun anak laki-laki mereka yang sekarang sedang berada di ruang khusus bayi. Ya, laki-laki. Namjoon memeluk ibunya penuh haru ketika mengetahui hal tersebut. Ia putuskan untuk menemui Yoongi terlebih dahulu sebelum bertemu sang jagoan kecil. Saat pintu terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah Yoongi berbaring di ranjang di tengah ruangan sana.

Yoongi tampak lebih mungil dari terakhir kali ia lihat atau karena ranjangnya terlalu besar, yang pasti, Namjoon ingin sekali membawa sosok yang telah berjuang selama sembilan bulan itu ke dalam pelukannya.

"Namjoonie?"

Panggilan khusus dari Yoongi serta suara lemahnya cukup menghancurkan Namjoon dalam langkah yang sedang ia ambil. Hanya pada kondisi tertentu Yoongi akan memanggilnya 'Namjoonie', sekaligus sebagai sebuah tanda saat sosok tegarnya sudah tidak mampu menopang diri. Kondisi dimana Yoongi sangat membutuhkan Namjoon.

"Ya, hyung. Aku disini."

Tanpa sadar langkah telah membawanya tepat di sisi ranjang, Yoongi menatap dengan mata sayu khasnya juga senyum kecil yang masih tampak manis walau bibirnya tidak semerah biasanya. Namjoon tidak mengerti mengapa Yoongi memberikan senyumnya saat yang pantas Namjoon dapatkan adalah sebuah makian.

"Apa kau terkejut aku sudah tidak gendut lagi?" Usaha Yoongi mencairkan suasana sama sekali tidak berhasil. Senyum yang ia ukir di bibirnya jelas tidak mencapai matanya yang justru meredup tertutupi kekecewaan.

Sebesar apapun keinginan Namjoon memeluk Yoongi detik ini juga, ia tak punya lagi sisa keberanian. Ia takut pelukannya justru akan menambah hancur Yoongi-nya, atau malah meledakkan dirinya karena rasa bersalah yang terus menekan. Jadi yang Namjoon lakukan hanya berlutut tepat di sisi ranjang Yoongi, dimana pandangan matanya menghadap lurus tangan kanan Yoongi yang ditusuk jarum infus.

"Maaf." Satu kata yang pada akhirnya mampu ia suarakan bersama airmata yang untuk pertama kalinya ia perlihatkan pada orang lain.

Otaknya terlalu sibuk bekerja memutar ulang percakapannya dengan Yoongi, malam dimana sosok tegar Min Yoongi luruh dalam tangisan kekhawatiran tentang menghadapi proses kelahiran nanti. Lalu Namjoon dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, mengobral janji bahwa ia tidak akan meninggalkan Yoongi satu detikpun jika saat itu tiba.

"Maaf tak menepati janji, maaf membuatmu menghadapi semuanya seorang diri. Maaf, hyung." Namjoon bicara dalam tangisnya yang begitu menyedihkan.

Yoongi yang pada dasarnya memang sedang berpura-pura juga tidak dapat menahan lagi luapan emosinya. Ia masih sangat ketakutan, bahkan gemetar di telapak tangannya belum hilang. Tapi ia tahu semua sudah baik-baik saja sekarang, anaknya sehat dan kondisinya sendiri tidak terlalu buruk. Jadi permasalahan yang tersisa ada pada suami cerobohnya yang mungkin masih merasakan ketakutan yang sama dengan Yoongi.

"Berdiri, Namjoonie." Di sela-sela isakan Yoongi berusaha bicara. Melihat Namjoon yang hancur seperti ini, bukanlah kemauannya. Ia kesal, tentu saja. Namun di sisi lain, Namjoon lah yang sangat ia butuhkan saat ini. "Berhenti menangis dan peluk aku, bodoh! Ucapkan selamat padaku karena berhasil melahirkan anak kita. Cium aku, Namjoonie."

Beberapa detik Namjoon hanya menatap kosong pada Yoongi di atas ranjang sana, airmatanya berhenti begitu saja, pun aliran udara ke paru-parunya karena Namjoon juga menahan nafas dalam detik tersebut. Kemudian, saat otaknya kembali berjalan normal dan menyadari Yoongi dibuat kesulitan bernafas oleh isakannya sendiri, Namjoon bangkit berdiri. Mencondongkan tubuhnya perlahan untuk memeluk Yoongi yang berbaring dengan hati-hati. Menenggelamkan tubuh mungil berbalut selimut itu sepenuhnya ke dalam dekapannya.

"Terimakasih, hyung. Kau sudah bekerja keras sembilan bulan ini. Anak kita lahir sehat dan tampan. Aku yakin kita akan menjadi orangtua terbaik untuknya." Kalimat demi kalimat yang Namjoon bisikan tepat di telinga Yoongi membuat sang ibu muda berangsur tenang. Yoongi sudah bernafas normal meski satu dua isakannya masih keluar.

Namjoon menjaga posisi mereka tetap seperti itu nyaris sepuluh menit setelahnya. Kaos abu-abu yang ia kenakan basah oleh air mata Yoongi yang nyaman bersandar di dadanya, lalu bagian belakang kaosnya kusut karena remasan demi remasan Yoongi disana. Tapi kenyamanan luar biasa mereka dapatkan disana.

"Kau sudah melihatnya?" Yoongi bergumam, suara seraknya membuat Namjoon ingin memeluknya lebih erat lagi. Sayangnya, bekas jahitan yang masih basah di perut Yoongi menghalangi niat Namjoon.

"Siapa? Jungkookie kita?"

Tiba-tiba Yoongi menarik diri, walaupun jarak yang ia ambil masih belum keluar dari lingkup pelukan Namjoon. Alisnya bekerut dalam serta matanya yang sembab menatap penuh penasaran. "Aku belum mengatakan padamu siapa namanya."

Namjoon tersenyum lebar, nyaris tertawa tapi ia tahan. Lebih memilih membuat bibirnya bekerja untuk melakukan hal lain, mengecup bibir Yoongi misalnya. Bonus sedikit lumatan kecil karena ia begitu merindukan rasa disana.

"Kau pikir aku tidak memperhatikanmu saat berbicara sendiri dengan perutmu? Kau terus mengatakan 'baby Kookie' atau 'uri Jungkookie' tanpa sadar."

"Dan kau setuju dengan nama itu?"

"Baby Kookie and baby Yoongie. I think it's perfect for me."

Yoongi mendengus kesal, bibirnya mengerucut dan telapak tangannya yang bebas jarum infus melayang keras di pundak Namjoon. "Aku bukan baby-mu!"

Namjoon tak menghindar, membiarkan pundaknya menjadi sasaran pukulan kecil Yoongi. Ia bisa bernafas lega, semua sudah tampak baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini.

"Memang bukan, tapi kau adalah ibu dari baby-ku."

"Aku mau di panggil appa olehnya!"

"Baiklah, tapi jika suatu saat nanti Kookie bertanya siapa ibunya, kau harus bertanggung jawab, hyung."

"Namjoon sialan!"

"Ya, aku juga mencintaimu."


.

.

.

.

.

BTS' Fanfiction

.

.

.

Kim Namjoon | Kim Seokjin | Park Jimin | Min Yoongi | Jeon Jungkook | Kim Taehyung | Jung Hoseok

.

.

.

But you see, as time goes by, I feel like I'm turning into a monster -Agust D

.

.

.

.

.


"Kau tahu alasan kau berada disini? Itu karena kadar gizimu yang buruk, jangan menyepelekannya, Namjoon! Kau bisa dibuat mati karena itu. Jadi aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiranmu memilih meninggalkan sarapan dan berkeliling tidak jelas seperti tadi."

Dalam ruangan yang berisi nyaris sepuluh orang, suara Yoongi lah yang paling mendominasi. Ia memang bukan tipe yang banyak bicara. Namun dari dulu Namjoon selalu berhasil membuatnya mengomel panjang lebar. Tidak ada bedanya dengan hari ini, tidak peduli dengan kehadiran orangtuanya, orangtua Namjoon, bahkan Hoseok dan Jimin sekalipun. Si kecil Jungkook sendiri terlihat seperti sudah biasa dengan kelakuan appa-nya, ia asik bermain dengan kakek dan neneknya di sofa sana.

"Hyung.." Namjoon, yang berusaha bersuara di tengah serbuan sendok demi sendok makan siangnya yang disuapkan Yoongi.

Berusaha mengintrupsi perhatian sang pria mungil yang Namjoon tahu, walaupun mulutnya terus mengoceh, tapi isi pikirannya melayang-layang entah kemana. Penyebabnya? Tentu pertanyaan tiba-tiba dari Namjoon tadi. Yoongi belum memberi jawaban, dan Namjoon sendiri terlalu takut untuk menanyakannya kembali.

"Hyung, jika seperti ini caranya aku justru akan mati tersedak."

Keluhan Namjoon di tanggapi oleh sodoran segelas air putih yang Yoongi berikan. Tidak tega juga melihat Namjoon kesulitan menelan makanannya. Meski harus ia akui ada sedikit kesenangan bisa memberi pelajaran pada si tuan produser yang keras kepala.

"Itu terdengar lebih baik, kau mati di tanganku dibanding mati karena kekurangan gizi."

Celetukan dari Yoongi menghasilkan tawa beberapa orang disana, Hoseok tentu saja yang paling keras. Mengabaikan lirikan tajam yang Namjoon berikan setelah menghabiskan air putih, lalu gelas kosongnya ia berikan kembali pada Yoongi yang anehnya meski sedang kesal tetap membantu Namjoon untuk minum.

"Bagiku justru terdengar romantis." Kedipan sebelah mata di akhir kalimat menambah intensitas tawa dari seorang Jung Hoseok yang awalnya duduk tenang di sofa dan sibuk bersama ponselnya, kini lebih tertarik pada percakapan sepasang manusia yang pernah terikat pernikahan disana.

"Psikopat sialan." Yoongi yang merasa hawa panas menjalari pipinya dan sudah pasti menimbulkan rona merah menyebalkan, kini berdoa dalam hati semoga Kim Namjoon dikutuk buruk rupa seumur hidup.

Brak

Suasana mendadak hening setelah bunyi pintu yang tertutup cukup keras. Pada akhirnya berhasil mengalihkan perhatian Yoongi pada hal selain Namjoon yang ia paksa menghabiskan makan siangnya. Semua orang menatap kearah yang sama, yaitu pintu yang kini sudah tertutup dan menghilangkan satu sosok di sisi lainnya.

Saat sadar Jimin lah yang meninggalkan ruangan tadi, Yoongi mendadak panik. Begitupun Namjoon yang diserbu perasaan bersalah. Mungkin caranya bercanda dan menggoda Yoongi tadi sudah kelewatan, bagaimanapun sekarang juga Yoongi sudah punya Jimin. Jika itu dengan Jung Hoseok mungkin akan berbeda cerita, tapi ini Namjoon, yang pernah memiliki ikatan pernikahan dengan Yoongi, jadi wajar jika Jimin bersikap begitu.

"Well, seseorang merasa suasana disini semakin memanas." Komentar Hoseok justru menambah kekhawatiran Yoongi.

"Kemana Jimin?"

Suaranya sedikit bergetar, Namjoon bisa jelas mendengarnya. Juga berani bersumpah bahwa Yoongi pasti sudah menangis kalau saja tidak ada satupun orang disana. Caranya menggigit bibir dan sinar matanya yang meredup.

Sial, Namjoon masih terlalu banyak mengerti hal kecil tentang Yoongi.

"Keluar, membeli minuman katanya, menurutku lebih tepat disebut mendinginkan hati."

"Hoseok, itu tidak lucu."

Hoseok memang berniat menyindir. Sebab siapapun disana bisa merasakan keintiman keduanya saat mengobrol tadi. Namjoon tidak marah, justru itu cara Hoseok memperingatkannya untuk selanjutnya lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan Yoongi. Karena segalanya tidak lagi sama. Yoongi sudah bersama Jimin, Namjoon sendiri juga akan segera menemukan satu untuknya.

"Aigoo, ingat kalian sudah tidak muda lagi." Keterdiaman kembali di pecah. Nyonya Kim berdiri dari duduknya bersama Jungkook yang entah sejak kapan sudah tertidur dalam gendongannya, disusul oleh sang suami serta orangtua Yoongi. "Kami harus pulang sekarang, masih banyak hal yang harus diurusi selain Namjoon."

"Eomma, kesannya kau tidak mau mengurusku lagi." Namjoon dengan nada sedikit merajuknya, suasana tidak mengenakan berangsur-angsur sedikit teralih.

Nyonya Kim tertawa sembari mengeratkan dekapannya pada Jungkook, "Itu berarti kau harus menemukan lagi seseorang untuk mengurusmu." Kali ini ayahnya ikut menanggapi. Namjoon semakin terpojok.

"Dan jika sudah dapat, jaga dia tetap disisimu. Itu yang terpenting, Namjoon-ah." Bagus, kini Namjoon diserang dari berbagai sisi saat mantan ibu mertuanya juga berkomentar yang telak menyindir Namjoon. Ia bisa apa selain tertawa kecil, menganggap hidupnya sendiri sebagai lelucon.

"Yoongi-ya, Jungkook akan bersama kami lagi?"

"Tidak, ma, Kookie bersamaku malam ini." Lalu tubuh terlelap Jungkook berpindah pada dekapan Yoongi.

Karena Namjoon berhasil membangkitkan naluri Yoongi untuk bersama Jungkook sampai selama yang ia bisa.

.

.

Setelah yang lain berpamitan dan hanya menyisakan Yoongi, Hoseok serta Jungkook yang tertidur, Namjoon berinisiatif mengambil alih sang bocah kelinci dari gendongan Yoongi. "Berikan Jungkook padaku, tugasmu sekarang adalah bicara dengan Jimin."

Sesaat Yoongi tampak bingung, seperti beberapa detik pikirannya kembali melompat keluar dari tubuhnya.

"Aku tidak tau Jimin pergi kemana." Adalah kalimat yang akhirnya ia suarakan.

Menghasilkan decakan gemas Jung Hoseok di sofa sana. "Hyung, kenapa mendadak bodoh begini?! Kau bisa menelepon lalu tanyakan dia dimana sekarang."

Dengan hati-hati, Yoongi memindahkan tubuh Jungkook pada Namjoon. Yang mau tidak mau harus membutuhkan bantuan tambahan dari Hoseok karena Namjoon dibuat cukup kesulitan oleh infus yang menempel di tangannya.

Lalu Yoongi memperhatikan ketiganya dalam diam. Bagaimana Namjoon menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang untuk menciptakan space bagi Jungkook ikut berbaring nyaman disana, juga Hoseok yang masih membantunya. Kebiasaan buruknya jika sedang diam adalah membuat kesempatan berbagai pikiran lain-yang seringnya buruk- menyerbu masuk dalam satu waktu. Ia bisa mendadak panik karena itu.

Dan anehnya, Namjoon menjadi orang yang paling sering menyadari saat-saat Yoongi diam dan mulai memikirkan banyak hal. "Hyung, apapun yang sedang kau pikirkan itu tidak benar." Teguran dari Namjoon membuat tatapan Yoongi berangsur-angsur terisi, tidak lagi kosong tanpa nyawa seperti beberapa menit lalu.

"A..aku akan menghubungi Jimin sebentar."

Namjoon menghela nafas lega saat Yoongi mulai melangkah menuju pintu keluar. Merealisasikan ide Hoseok sejak awal. Sebenarnya, selama Yoongi berada disana tadi, Namjoon tidak bisa bebas bernafas. Sesuatu seperti mencekik tenggorokannya perlahan-lahan. Entah itu adalah sebuah efek dari pertanyaannya yang belum terjawab atau justru pertanda lain soal hubungannya dengan Yoongi yang semakin memburuk.

"Apapun yang kau pikirkan itu tidak benar, Namjoon-ah."

Meski kalimatnya sama, namun niat Hoseok sudah pasti berbeda dengan Namjoon saat mengucapkannya pada Yoongi tadi. Tapi Namjoon tetap berterimakasih karena itu, pikiran buruknya jadi gagal berkembang.

"Terima kasih banyak, Jung Hoseok." Nada sinis Namjoon menambah tawa Hoseok lagi. Biarkan sajalah sahabatnya yang satu ini bahagia.

Memutuskan untuk kembali berbaring, Namjoon menemukan ranjangnya menjadi lebih nyaman. Dengkuran halus Jungkook serta matanya yang terpejam damai adalah alasannya. Yoongi pernah bilang, sesuatu di dalam mata Jungkook selalu mengingatkannya pada Namjoon. Hal yang selalu menghasilkan senyum jika Yoongi mengatakan hal itu secara langsung.

"Hey, apa yang terjadi pada Yoongi? Dia seperti sedang memikirkan sesuatu."

Namjoon ingin sekali menjawab bahwa Yoongi memang selalu memikirkan banyak hal, hanya berbeda pada caranya memutuskan untuk sedikit menunjukkannya atau tidak. Tapi Namjoon juga tahu maksud Hoseok disini bukan hal yang seperti itu.

Jadi sembari menaikkan selimut hingga ke batas dagu sang bocah kelinci, Namjoon menyiapkan jawaban. "Apa menurutmu Yoongi akan membawa Jungkook jika sudah menikah dengan Jimin nanti?" Jari telunjuknya bermain-main di pipi tembam Jungkook. Membuatnya teringat masa-masa hamil Yoongi dimana pipinya nyaris serupa dengan milik Jungkook yang sekarang.

"Oh man, itu terdengar menyedihkan." Komentar Hoseok, dari suaranya jelas ia terkejut. Namjoon sendiri sampai detik ini masih tidak tahu darimana datangnya keberanian hingga ia bisa menyuarakan kekhawatirannya akibat mimpi sialan itu lewat satu pertanyaan menyakitkan. "Jangan menanyakan hal seperti itu pada Yoongi sekarang, Namjoon-ah."

Sialan, Namjoon ingin sekali menertawakan dirinya sendiri detik ini juga. Untungnya ia lebih memilih lanjut bermain dengan pipi Jungkook dibanding dikira gila oleh Hoseok.

"Terlambat. Aku sudah menanyakannya."

"Dan jawabannya?!" Keterkejutan semakin terdengar jelas dari suara Hoseok.

"Yoongi hyung belum memberi jawaban." Malah Namjoon berharap Yoongi akan melupakan pertanyaannya. Karena Namjoon baru sadar bahwa ia sendiri belum siap mendengar sebuah jawaban.

"Jika kubalikkan pertanyaan itu padamu, apa jawaban yang akan kau berikan?"

Anehnya, nama Seokjin terlintas begitu saja saat ia mencoba mencari jawaban. Untuk Yoongi, jelas itu adalah Jimin. Tapi Seokjin untuk Namjoon? Masih terdengar sebagai konsep yang asing meski harus di akui Namjoon sangat menyukai konsep tersebut.

Kim Seokjin, saat ini menjadi satu-satunya kemungkinan Namjoon untuk bergerak maju dan memulai yang baru. Kehadiran Jungkook biar bagaimanapun akan melengkapi kebahagiannya, namun bersikap egois dan berujung kembali menyakiti Yoongi sama sekali bukan sesuatu yang akan Namjoon pilih.

"Tidak tahu, yang pasti Jungkook adalah nyawaku." Hanya berupa bisikan kecil dengan keraguan yang mencapai nol persen, ditambah lengan Namjoon yang bebas infus kini melingkari tubuh mungil Jungkook yang terlelap.

Hoseok yang mendengar dan melihat secara langsung jadi takjub sendiri. Namjoon si produser ceroboh dan egois kini berhasil bertransformasi menjadi sosok ayah yang hebat. Hoseok ikut bangga pada perubahannya.

"Begitu juga Yoongi. Nyawa kalian berdua ada pada keponakanku itu."

Ck, kapan sebenarnya Hoseok itu salah? Atau memang jawaban Namjoon sudah terlalu umum. Orangtua manapun di belahan bumi ini pasti sudah memindahkan sebagian bahkan keseluruhan nyawanya pada sang anak.

"Secara biologis kau sama sekali bukan pamannya, Hoseok."

"Memang, tapi secara batin aku dan Jungkook terikat erat."

Entah itu sebuah lelucon atau apa, yang pasti Namjoon sedang mati-matian menahan tawanya agar tidak mengganggu tidur si kecil. Namjoon akui bahwa Hoseok lah yang berperan penting saat Yoongi akan melahirkan dulu.

"Sudah biarkan aku tidur tenang bersama Jungkook. Bangunkan jika Yoongi kembali."

"Okay~ have a nice dream, Namjoonie."

"Berisik!" Lalu sebuah bantal menghantam Hoseok yang sedang tenggelam dalam tawanya.

.

.

Yoongi baru saja menempelkan ponsel ke telinganya saat nada sambung mulai terdengar dari nomor Jimin, kemudian dia melihat sosok nyata orang yang sedang dihubunginya sedang duduk manis di deretan kursi tunggu depan kamar rawat Namjoon.

"Mencariku, hyung?"

Suara Jimin membuat Yoongi kesulitan menelan ludah, perlahan-lahan ia menurunkan tangannya yang menggenggam ponsel dari telinga. Duduk tepat di samping Jimin dengan cara yang seolah-olah ia sudah tidak punya tenaga lagi agar tetap berdiri.

"Kupikir kau pergi."

"Setidaknya aku harus memastikan dulu kau dan Jungkook selamat sampai di rumah."

"Apa maksudmu?!" Yoongi menoleh ke samping, pada Jimin yang masih menolak menatapnya secara langsung. Ucapan Jimin tadi mengandung ambiguitas tinggi yang membuat Yoongi takut mengartikannya.

"Tidak bermaksud apa-apa."

Yoongi dapat merasakan seratus persen kadar kebohongan disana. Jimin masih terlihat tidak seperti orang sedang marah, namun hal itu justru menyakiti Yoongi semakin dalam.

"Aku minta maaf." Sebuah bisikan, ia hanya ingin Jimin yang mendengarnya.

"Untuk apa?"

Rasa gugup semakin menyergap Yoongi dari berbagai sisi. Keinginan terbesarnya saat ini adalah meraih telapak tangan Jimin untuk ia genggam erat. Memastikan Jimin tak akan pergi kemanapun dan tetap bersamanya. Yang justru malah berakhir dengan Yoongi yang mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lutut.

"Soal tadi, bersama Namjoon."

Saat Jimin akhirnya memutar pandangan dan menatapnya, Yoongi jadi menyesal telah berharap itu. Memang ada senyum kecil dari Jimin, tapi malah kekecewaan yang terlihat jelas disana. "Kurasa aku tak punya hak untuk marah, hyung. Jangan meminta maaf."

Mulai dari sini, Yoongi tahu kearah mana pembicaraan ini akan dibawa.

"Jimin! Kau berhak marah, kau adalah.."

"Siapa? Kekasihmu? Ya, karena kau menerima ajakanku saat itu. Orang yang kau cintai? Kurasa tidak, karena seingatku kau belum sekalipun mengatakannya."

Logis. Semua ucapan Jimin tadi sangatlah logis. Yoongi saja yang tidak pernah mau berpikir pakai logika. Ia hanya mengira semua berjalan baik, mengira Jimin tak mempermasalahkan pilihannya untuk diam selama ini, mengira ia sudah cukup menunjukkan perasaan yang sebenarnya meski memilih diam, mengira Jimin mengerti ketakutannya untuk memulai apa yang pernah hancur darinya. Semua hanya sebatas perkiraan yang kebenarannya sendiri masih Yoongi ragukan.

Jangan kira Jimin baik-baik saja saat mengeluarkan kata-kata itu untuk Yoongi, ia ikut hancur bersama Yoongi yang ia hancurkan dengan kenyataan.

Maka ini saatnya ia menarik Yoongi kedalam pelukan, menyatukan kembali kepingan-kepingan yang terpisah. Karena saat ia berniat menghancurkan Yoongi, ia juga berniat membuatnya utuh kembali.

"Aku mencintaimu, Jiminie. Sangat."

Setidaknya Jimin mendengar Yoongi mengatakannya. Meski nantinya akan jadi sedikit cacat, tak apa. Justru kesempurnaan itu sendiri yang menakutkan.

"Ayo menikah, hyung."

.

.

.

.

Entah sudah berapa lama Seokjin tertidur. Baru menyadari penyebab tangan kanannya terasa kaku adalah jarum infus yang terpasang di punggung tangannya. Ia memejamkan matanya lagi untuk beberapa saat, pusingnya sudah nyaris menghilang dan tubuhnya terasa lebih ringan. Mungkin memang yang ia butuhkan hanya tidur beberapa menit, atau jam, karena gelap menyambutnya saat ia tak sengaja melihat keluar jendela.

Pandangannya teralih seketika pada kenop pintu ruangannya yang di putar, sedetik kemudian, muncul seorang wanita paruh baya yang juga mengenakan jas dokter yang sedikit berbeda dengan dokter lainnya. Menandakan posisinya yang lebih tinggi.

Senyumnya mengembang saat menyadari Seokjin menatapnya juga dengan senyuman, "Hai, ma."

"Lihat siapa yang akhirnya tumbang?" Sindirnya, menghasilkan kerucutan di bibir Seokjin. Jika itu tentang ibunya, Seokjin akan tanpa sadar bertingkah kekanakkan.

"Aku hanya kurang tidur."

"Kurang tidur juga penyakit, sayang."

Matanya otomatis terpejam saat sang ibu mengusap lembut keningnya. Bagi Seokjin, pelarian terbaik dari rasa sakit adalah sosok wanita ini. Bukan karena statusnya yang sebagai dokter kepala di rumah sakit, namun status lain yang menjadikan derajatnya lebih tinggi, seorang ibu.

"Aku baik-baik saja. Hanya kurang tidur, ma." Seokjin berusaha meyakinkan. Saat dulu kembali ke Seoul dengan berita buruk, ia pernah berjanji untuk tidak pernah membuat ibunya khawatir lagi. Cukup saat itu sang ibu gemetar ketakutan ketika memeluknya.

Ia menarik telapak tangannya dari kening Seokjin, lalu mendudukkan diri di kursi yang tersedia di samping ranjang. "Baiklah, karena kau baik-baik saja, aku ingin menyampaikan kabar buruk."

Seokjin tidak pernah suka dengan kabar buruk, terlebih intonasi yang ibunya gunakan sudah ke arah profesionalitas.

"Kami sudah melakukan rapat untuk membahas tindakan Taehyung tadi." Seokjin dapat merasakan tatapan mata sang dokter kepala pada perban di lengannya. "Keputusan akhirnya, adalah Taehyung harus di pindahkan ke rumah sakit jiwa terdekat."

"Ma!" Seokjin dibuat gemetaran, tangannya tanpa sadar mencengkram kuat milik ibunya. "Kau tahu itu bukan yang terbaik untuknya."

"Memang, sayang, tapi hal itu sudah di putuskan. Mereka hanya tak ingin Taehyung mendapat masalah karena melukai orang lain."

"Demi Tuhan, ma, Taehyung hanya anak delapan tahun." Disini Seokjin mulai menangis, histeris dan meronta. Cengkramannya semakin kuat pada lengan sang ibu.

Seokjin tersakiti lagi, luka lamanya dibuka paksa. Jika Taehyung di anggap monster dan gila, lalu apa bedanya dengan Seokjin yang dulu pernah mengalami hal serupa. Seokjin yang paling tahu rasanya hidup dalam ketakutan yang tidak lagi nyata tapi memiliki bayangan yang sama kelamnya. Sejauh ini, Seokjin sudah berusaha memperbaiki dirinya dan ia bersumpah akan melakukannya sekali lagi pada Taehyung.

"Sayang, tenanglah." Bisikan lembut dari ibunya bisa Seokjin dengar jelas, tidak tahu kapan tepatnya ia sudah berada dalam sebuah pelukan.

Hangat tubuh sang ibu serta kemampuannya menguasai diri yang semakin meningkat, menjadikan Seokjin berangsur-angsur tenang. Derus nafasnya stabil dan tubuhnya tak lagi tegang.

"Jika mereka sudah tidak bisa menerima Taehyung disini, biarkan aku membawanya. Ke rumahku."

Mungkin setelah ini, selain Jjanggu, Seokjin akan punya alasan yang lebih kuat untuk selalu pulang ke rumah. Kim Taehyung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Continued

.

.

.

.

.

.

.

.


I feel like my mental health getting worst nowadays. Hope this time, Bangtan's comeback will save me again.

Thank you for your patients and support through review. You guys are the best!

P.s: Yoongi and Seokjin are such a beautiful human being with their new hair color. Black Min and Pink Kim.