Hello Chingudeul.. Bagaimana chap 8 nya.. Makin aneg bin ajaib saja kan.. Mian ya otak aku tiba-tiba saja ngeblok jadi pikirannya mentok.. Aku aja binggung mikirin endingnya ini bagemana... Aduh pusing..#malah curhat# udahlah ngomongnya. Dan ini dia chap 9 nya. Semoga terhibur

# YUNJAE :: Love Is #

Cast : Jung Yunho/Yunnie (11 th)

Kim jaejoong/Joongie (7 th)

Park Yoochun

Kim Junsu

Shim Changmin

Disclaimer : Mereka semua milik tuhan dan orang tua mereka. yunjae is real dan gak bisa diganggu gugat..

Warning : ni gs coz para uke aku jadiin yeoja.. Jadi jika g berkenang mian aku mohon gak usah baca aja

#ini lanjutannya, selamat membaca#

=Yunjae Love is=

"Sekarang kamu makan dulu, Joongie. Dari tadi kamu belum makan kan. Bahkan belakangan ini kamu makan hanya sedikit. Lihat tubuhmu, kurus begitu. Ayo chagi, umma akan menemanimu. "

"Ne umma. Joongie akan makan sekarang. Karena Joongie yakin kalau Yunnie akan datang menemui Joongie."

Yeoja itu beranjak meninggalkan kamarnya sambil memeluk lengan ummanya. Dia tertawa dengan lepas. Sejenak segala kesedihannya hilang, lenyap tanpa bekas oleh kasih ummanya yang begitu lembut dan menyejukkan. Lelahnya selama ini terasa hilang.

-CHAP 9-

Audi silver itu tengah melaju di sepanjang jalan kota, terus mengikuti jalur yang menuju Pantai Haeundae. Ada Jaejoong di jok belakang bersama Junsu. Di depan Yoochun tetap berkonsentrasi di belakang kemudi. Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja. Mereka tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Junsu tidak dapat bermanja-manja dengan Yoochun, memang dia tidak ingin untuk itu, karena dia tahu sahabatnya Jaejoong masih dibelenggu kesedihannya.

Mereka masih terdiam, hanya mata Jaejoong dan Junsu yang tetap menatap pinggiran jalan yang mereka lalui. Mereka berharap siapa tahu dapat menemukan Yunho. Namun harapan itu tetap saja berwujud sebuah harapan, orang yang dicarinya tidak juga ada, sampai mereka tiba di Pantai Haeundae. Setelah Yoochun memarkir mobil, Jaejoong langsung membuka pintu mobil dan langsung berlari menuju kafe kepunyaan Yunho. Tapi di sana dia tidak menemukan namja itu seperti hari-hari sebelumnya, yang ada hanya Donghae sahabat Yunho.

"Annyeong Donghae-ah..."

Donghae menoleh. Dia kenal dengan suara itu, karena selama beberapa hari ini Jaejoong memang sering datang kesana.

"Ohh... Jaejoong. Mencari Yunho hyung, ne...?"

"Ne. Apa Yunhonya ada...?"

"Nah, itu dia. Baru dua hari ini dia pulang dari Pulau Jeju. Dia lama juga di sana. Aku kira dia sudah datang ke rumahmu. Aku sudah mengatakan kalau kamu sering mencarinya."

"Tapi dia tidak pernah menemuiku," ucap Jaejoong. "Waeyo Hae... Apa dia pernah menceritakan sesuatu padamu?" tanya Jaejoong kemudian.

"Pernah sih, tapi itu cuma soal keinginannya untuk pergi ke Pulau Jeju. Itu saja."

"Tidak ada yang lain lagi. Misalnya mengenai masa lalunya."

Donghae diam. Namja itu menundukkan wajahnya sambil melihat pasir tempatnya berpijak. Dia mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Yunho hyung pernah cerita kalau dulu dia mempunyai yeoja kecil. Selain itu tidak ada lagi."

Ingin sekali Jaejoong terus bertanya tentang Yunho. Apalagi dia mendengar istilah 'yeoja kecil' yang sering diucapkan sahabat kecilnya dulu. Tapi dia tidak ingin mendesak Donghae untuk bercerita banyak. Sepertinya namja itu juga tidak tahu banyak tentang Yunho.

"Pernah dia pulang kesini...?"

"Sewaktu-waktu saja. Tapi itupun hanya sebentar, kemudian dia pergi lagi entah kemana."

"Kamu tidak tahu di mana tempat biasanya dia pergi."

"Sekali-kali Yunho hyung pergi ke mirotic mall atau pusat perbelanjaan."

Dari jauh Yoochun terlihat menuju ke kafe kecil itu. Di sampingnya Junsu berjalan dengan menggandeng tangan kekasihnya. Mereka memang bermaksud menemui Jaejoong yang tengah berbincang dengan Donghae saat itu.

"Bagaimana, Jae...?"

Yeoja itu hanya mengangkat bahunya. "Yunho tidak ada, Chun..."

"Terus bagaimana rencanamu...?" sela Junsu.

"Sebaiknya kita pulang saja," jawab Jaejoong dengan putus asa.

"Apa kita tidak menunggu dulu..." tanya Yoochun mengusulkan kepada Jaejoong.

Jaejoong diam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Yoochun. Yeoja itu memikirkan apa yang harus dilakukannya. Dia memang sudah putus asa. Jaejoong hanya menggigit bibirnya. Nyeri itu kembali terasa mengiris ulu hatinya. Matanya berkaca-kaca karena sedihnya. Yunho tidak ada saat itu, berarti sudah berkali-kali harapannya pupus sudah. Dia kecewa sekali dengan kenyataan itu. Tapi apa yang mampu dia lakukan. Segalanya telah dia lakukan. Bersabar untuk menunggu, bahkan dia sering kali kesana kemari untuk mencari namja pujaannya itu. Namun tetap saja tidak pernah ketemu, seperti sekarang ini. Itulah yang membuatnya merasakan kepiluan di hatinya.

"Kita pulang saja, Chun...?" jawab Jaejoong lemah. Dia merasa tidak kuat lagi berlama-lama di tempat itu.

"Kalau begitu kami permisi dulu, Donghae-si. Sekiranya Yunho ada tolong hubungi kami," ujar Yoochun sembari memberikan nomor telepon kepada Donghae.

"Ne..."

"Gomawo, Donghae-ah," ucap Jaejoong lirih.

"Ne. cheonmaneyo."

Jaejoong melangkah dengan gontai meninggalkan kafe kecil Yunho. Dia berusaha menguatkan diri untuk melangkah. Di belakangnya ada Yoochun dan Junsu berjalan berdampingan. Mereka berjalan menuju tempat di mana mobil Yoochun diparkir. Sementara Donghae hanya bisa mengantar mereka dengan tataran matanya. Ada penyesalan di hati namja itu, dia menyesal mengapa tidak berbicara terus terang kepada Jaejoong.

Yoochun masuk kedalam mobil, diikuti oleh Junsu dan Jaejoong yang duduk di jok belakang. Sebentar saja mobil itu telah melaju membawa mereka meninggalkan Pantai Haeundae yang indah. Tapi bagi Jaejoong keindahan itu tidak dapat dinikmatinya malah kegetiran yang semakin menyiksa. Mobil itu kini memasuki kawasan Bolero#anggap daerah tebing pantai#. Jalannya berkelok-kelok. Dibawahnya ada laut yang luas. Memang jalan raya yang melintasi kawasan itu posisinya lebih tinggi. Dari dalam mobil saja setiap orang dapat menikmati pemandangan laut dengan bebas. Sangat indah apalagi ada nelayan yang tengah menangkap ikan yang kelihatan amat kecil dari jalan raya itu.

Jaejoong tidak melewatkan kesempatan itu. Hatinya tergerak untuk menikmati pemandangan itu dengan utuh.

"Chun, kita berhenti sebentar!"

"Waeyo, Jae..." ujar Yoochun mendengar permintaan Jaejoong.

"Entah mengapa aku ingin sekali menyaksikan pemandangan laut dari jalan raya ini."

"Baiklah. Tapi aku harus meminggirkan mobil dulu, Jae."

Mobil terhenti di pinggir jalan yang agak luas. Barulah mereka keluar menuju sebuah bangunan di dekat pemakaman Bolero. Memang bangunan itu sengaja disiapkan bagi mereka yang bermaksud mengunjungi pemakaman itu. Dari situ mereka dengan leluasa melihat pemandangan laut lepas dengan jelas. Sementara senja mulai merambat. Matahari yang memerah kayu menyinari alam. Air laut yang biru kelihatan sedikit kemerah-merahan terkena matahari. Semakin memperindah suasana di senja itu. Mereka hanyut dalam keasyikan. Jaejoong dengan khayalannya yang merasa Yunho ada di sisinya saat itu, Junsu dengan kehangatan Yoochun yang tengah memeluknya mesra. Keasyikan itu membuat mereka tidak menyadari kalau ada tiga orang yang tengah mendekat. Tampang mereka sangar dan memang berniat jahat kepada mereka.

"Lagi ngapain anak-anak yang manis?"

Suara itu begitu serak. Ketiga remaja itu kaget mendengarnya. Tapi mereka lebih kaget lagi ketika melihat tampang orang-orang itu kasar dan tidak bersahabat. Yoochun berusaha melindungi Jaejoong dan Junsu.

"Mau apa kalian?"

Ketiga namja sangar itu saling pandang, lalu mereka tertawa. Suaranya mengerikan di telinga ketiga remaja itu. Mereka semakin takut. Lebih-lebih Jaejoong yang pernah mengalami hal seperti itu. Dia pucat. Wajahnya pias membayangkan apa yang akan terjadi dengan mereka. Sedangkan Yoochun, dia berusaha untuk tetap tenang.

"Mau apa kalian hah?!" tanya Yoochun tenang

"Kami ingin barang-barang berharga milik kalian, tahu!"

"Kalian mau merampok kami, ne?!"

"Jangan banyak bicara, atau kami akan membunuh kalian!" bentak salah seorang dari ketiga namja kasar itu.

"Ba...ba...ba...ik. Ta...ta...pi, jangan sakiti kami," ucap Yoochun mulai takut. Tubuhnya gemetar karena takutnya. Kalau dia sendiri saat itu, mungkin dia akan berusaha untuk melawan, tapi masalahnya sekarang dia tidak sendirian, ada Junsu dan Jaejoong yang bersamanya dan membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi kedua yeoja itu sudah gemetar dan wajah mereka pucat. Saking takutnya, mereka tidak bisa berkata-kata. Mulut mereka tertutup rapat.

"Ini. Semuanya sudah kami serahkan. Sekarang tinggalkan kami!" ujar Yoochun sedikit tenang.

"Sini...!" bentak namja yang berada tepat di hadapan Yoochun.

"Periksa lagi mereka, barang kali ada yang ketinggalan!" perintah temannya di sebelah kanan.

"Tidak ada lagi pada kami. Semuanya sudah kami serahkan."

"Be...be...nar." ujar Junsu dan Jaejoong berusaha meyakinkan dalam takutnya.

"Jangan mendengar omongan mereka. Mereka bohong!" sentak namja yang berada di sebelah kiri.

Merasa gelagat yang tidak baik seperti itu. Yoochun mendorong Junsu untuk mundur. Jaejoong pun mengikutinya dengan tubuh yang masih gemetar. Sementara Yoochun tidak berfikir panjang lagi. Dia sudah siap untuk mengambil segala resiko. Namja muda itu tetap tenang. Dia masih berdiri, mencoba untuk menghadang para perampok itu.

"Rupanya namja kecil ini punya nyali juga. Habisi saja dia kawan!"

Tanpa menunggu aba-aba lagi, dua orang namja sangar itu melangkah maju mau menyerang Yoochun. Tetapi mata Yoochun mengawasi kedua orang itu, sehingga ketika mereka maju selangkah lagi, Yoochun menyerang dengan tendangan kaki kanan menuju orang yang berada di sebelah kanannya sementara tangan kirinya berusaha meninju yang satunya lagi. Mendapat serangan yang tiba-tiba dari Yoochun, kedua namja itu sempat kaget, tapi mereka berusaha menangkis serangan Yoochun dengan cara berusaha menangkap kali dan tangannya. Karena tahu maksud kedua namja lawannya itu, Yoochun yang pernah belajar boxer itu menarik serangannya kembali. Kemudian dia menghindar kesamping kanan dengan menjalarkan pukulan ke arah rahang bawah. Targetnya namja yang berada di sebelah kanannya. Ketika namja itu lengah barulah dia melayangkan tinjunya dan perhitungannya kali ini tepat.

Dukk! "Ahh...!"

Terdengar lawannya mendesah keras. Namja itu mundur selangkah akibat terkena pukulan Yoochun. Dia merasakan giginya mau rontok. Melihat temannya terkena pukulan, namja satunya menyerang membabi buta. Dibantu oleh temannya yang terkena tadi. Dia malah kelihatan ganas menyerang Yoochun. Yoochun pun meladeninya, maka terjadilah perkelahian yang seru. Namja yang memegang bungkusan kecil rampasannya dari ketiga remaja itu masih terus menonton perkelahian. Sementara Junsu dan Jaejoong semakin takut. Wajah mereka pucat, apalagi melihat Yoochun yang mulai kewalahan menghadapi kedua lawannya. Memang Yoochun semakin terdesak oleh lawannya yang menyerang membabi buta. Dia begitu tersentak ketika sebuah pukulan telak menghantam perutnya.

Dukk! "Ahh...!"

Yoochun terpental, dia merasa penglihatannya berkunang-kunang karena sakit. Junsu langsung menghampirinya.

"Chunnieeeee...!" jerit Junsu sambil menangis. Dia merangkul namja chingunya yang terjerembab di jalan. Jaejoong juga menangis menyaksikan kejadian itu, namun entah mengapa, ada keberanian yang terkumpul dalam dirinya.

"Tolooongg...toloongg...toloongg...!" teriak Jaejoong dengan keras.

Pada saat berteriak, dia mendengar ada suara sepeda motor di jalan raya. Kemudian dia lemas, menangis. Dia berharap pengendaranya dapat mendengar teriakannya. Dia berharap ada keajaiban yang terjadi. Namun suara motor itu menghilang. Dia semakin takut, bahkan sangat takut. Disela-sela tangisannya dia melihat Yoochun bangun lagi untuk berusaha memberikan perlawanan. Tetap saja, namja muda itu terjatuh. Dia tidak sanggup melawan mereka. Tenaganya sudah terkuras habis. Junsu hanya bisa menangis dan merangkulnya. Demikian dengan Jaejoong. Ketika salah seorang perampok itu mendekati Yoochun, Junsu segera menjauh. Rupanya namja itu ingin menghajar namja chingunya habis-habisan. Kakinya terangkat, bermaksud untuk menginjak Yoochun, namun belum sempat kakinya yang besar itu menyentuh tubuh Yoochun, tiba-tiba...

Dukk! "Akhhh!"

Entah darimana datangnya, seorang namja tampan telah berdiri di samping Yoochun. Dia menatap tajam dengan mata musangnya. Namja yang tak lain adalah Yunho, kini berdiri menantang.

"Br*ngs*k! Kalian hanya beraninya bermain keroyok. Kalian orang-orang yang suka merusak yeoja. Manusia terkutuk...!"

Melihat ada orang yang menolongnya, Yoochun langsung berdiri. Tenaganya pulih seketika. Sementara Junsu dan Jaejoong yang hanya menutup matanya dengan tangan karena tidak tega melihat Yoochun yang akan di hajar, tersentak kaget dan buru-buru membuka matanya. Jaejoong semakin terkejut setelah tahu siapa yang berdiri di samping Yoochun.

"Yunnieee..," desahnya tanpa sadar. Hatinya bersorak bahagia. Senyum tipis terlihat. Dia mengerjapkan matanya karena masih tidak percaya. Dia memang Yunnie. Yunhonya yang hilang. Ohh... terima kasih Tuhan, desah Jaejoong dalam hati.

"Sialan. Berani-beraninya kamu membentak kami. Memangnya kamu siapa setan kecil?!" bentak orang yang dari tadi menonton saja. "Ayo teman-teman hajar mereka, jangan buang-buang waktu. Habisi saja sekalian."

Namja kasar yang dapat merasakan pukulan Yunho, langsung menyergap. Dia ingin membalas pukulan namja muda itu. Kini terjadilah pertempuran satu lawan satu. Sementara namja yang memang pemimpin perampok itu masih menonton. Yunho langsung menyambut serangan lawannya demikian juga Yoochun. Dia akan membalas perlakuan perampok itu. Dia menyerang dengan telak, dan menghindar dengan lihai.

Yunho terus mendesak lawannya. Namja muda yang telah di didik oleh kehidupan keras itu, sedikitpun tidak merasa kesulitan menghajar lawannya habis-habisan. Dia dapat melumpuhkannya dengan cepat, hingga tidak mampu untuk bangun lagi. Tendangan menukik telak di ulu hati lawannya, membuat perampok itu muntah darah dan ambruk. Melihat anak buahnya dapat dikalahkan dengan mudah oleh Yunho, pimpinan perampok itu segera menyerang. Nasibnya pun sama seperti anak buahnya. Dia dihajar habis-habisan oleh Yunho sampai babak belur dan tidak mampu melawan lagi. Kemudian Yunho mengambil bungkusan kecil dari perampok yang sempat dilihatnya tadi. Dia menoleh ke arah Yoochun yang tengah menghantam lawannya yang sudah roboh. Rupanya Yoochun benar-benar ingin membalas perlakuan perampok-perampok itu.

"Sudah... mereka sudah tidak berdaya. Biarkan mereka pergi!"

Mendengar ucapan Yunho, Yoochun pun menghentikan pukulannya. Dia membiarkan perampok itu. Mereka kemudian pergi membawa kekalahan. Para perampok itu berjalan dengan sempoyongan.

"Neo gwaenchana?"

"Anni. Gamsahamnida."

"Ne. Cheonmaneyo. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati di tempat seperti ini."

"Yunnie..." panggil Jaejoong dengan lembut.

Yunho menoleh ke arah datangnya suara. Memang dari tadi dia tidak mengira kalau salah satu yeoja itu adalah Jaejoong. Dia menatap heran ke arah Jaejoong. Dia terkejut, tidak menyangka kalau akan bertemu dengan yeoja itu di sini. Jaejoong lari ke arahnya dan menghambur ke dalam pelukan Yunho.

"Jaejoong..." desah Yunho ketika yeoja itu telah bersandar di dadanya.

"Kenapa kamu tiba-tiba pergi dan menghilang begitu saja? Dan kenapa kamu memanggilku seperti itu? Dimana panggilan joongie yang sering kamu ucapkan dulu? Aku terus mencarimu, Yunnie. Menunggumu, tapi kamu tidak pernah datang. Aku sering ke tempatmu tetap saja kamu tidak ada. Aku sangat merindukanmu Yunnie. Nan jeongmal sarangheyo..." desah Jaejoong disela keharuannya. Dia tidak kuat lagi menahan air matanya. Jaejoong menangis dalam pelukan Yunho. Pelukannya sangat erat. Sepertinya tidak mau berpisah dengan namja pujaannya itu.

Sementara Yunho, cuma bisa bengong dan kaget. Dia tak ubahnya seperti orang bingung. Diapun merindukan yeoja cantik itu. Dia pun juga mencintainya. Amat sangat mencintainya malah. Tapi kembali lagi, dia ingat akan kehidupannya yang keras membuat dia memendam perasaannya itu. Apalagi masa depannya yang buram. Mendengar ungkapan Jaejoong yang polos, ketakutannya membuncah kembali. Bahkan sekarang sangat kuat. Namja muda itu menggigit bibirnya. Dia merasakan perih, seperti harapannya akan cinta. Dia amat sangat takut dengan kenyataan dirinya. Semuanya berwujud mimpi buruk dan membuat kenyerian itu semakin menyakitkan.

"Mianhae. Aku tidak pantas untuk kamu cintai, Joongie. Kenapa kamu memilihku, padahal masih banyak namja lain yang lebih pantas menjadi namja chingumu...?"

"Kenapa kamu berkata seperti itu Yunnie...?" tanya Jaejoong tak mengerti. "Ucapanmu membuat hatiku sakit Yunnie. Aku mencintaimu dan hatiku telah memilihmu. Kamu selalu ada untukku waktu kecil dan sekarang pun kamu juga kembali ada untukku. Kenapa aku harus memilih yang lain saat hatiku telah ada untukmu," ucap Jaejoong dengan tubuh bergetar. Dia memandang Yunho dengan tataran nanas. Air matanya terus tumpah.

"Karena aku tidah ubahnya seperti seorang gelandangan. Kehidupanku keras dan khas. Masa depanku suram..." desis Yunho dengan tataran kosong. Dia melepaskan pelukan Jaejoong dan bermaksud meninggalkan yeoja itu. " Aku tidak bisa mencintaimu dengan keadaanku yang seperti ini, Joongie..."

Yunho segera melangkah, beranjak meninggalkan tempat itu. Dia mengumpulkan segenap kesanggupannya untuk meninggalkan Jaejoong. Yeoja itu berlari mengejar Yunho.

"Apakah kamu tidak mencintaiku, Yunnie...?" teriak Jaejoong dalam isaknya.

Yunho berhenti. Pertanyaan itu seakan mencambuknya dan memaksanya untuk berhenti. Dia sangat kaget. Wajahnya pucat, namun dia tetap tidak menoleh ke arah Jaejoong. Namja itu tahu kalau saat ini dia berada pada pilihan yang sangat sulit. Dia ingin jujur mengatakan kalau dia sangat mencintai yeoja itu, tapi tetap saja kehidupannya yang suram membuatnya takut untuk mencintai Jaejoong. Atau dia akan berbohong kalau dia tidak mencintai yeoja itu. Setidaknya dengan berbohong Jaejoong bisa memahami jalan pikirannya. Dia berharap yeoja itu suatu saat bisa mendapatkan seseorang yang pantas untuknya. Tidak seperti dirinya yang hanya anak jalanan. Biarlah aku yang mengalah, asal kamu bahagia Joongie...desisnya. Dia menatap Jaejoong yang sudah mendekat. Tinggal beberapa langkah saja yeoja itu sudah ada di hadapannya.

"Memang aku tidak mencintaimu, Joongie. Kamu hanya teman masa kecilku tidak lebih. Dan bahkan aku tidak pernah mencintai siapa-siapa," ucap Yunho dengan tubuh bergetar. Dia tidak kuat lagi menahan kesedihannya dengan keputusan itu. Dari kedua mata musangnya yang layu, ada bening-bening kristal yang mulai bergulir. Namja itu menangis karena sedih. Hatinya perih dengan keputusan yang di ucapkannya. Dia membohongi dirinya sendiri. Dia membohongi yeoja kecilnya. Namja itu memang menangis, dia menangis dalam diam.

"Ohh..." desah Jaejoong setelah mendengar jawaban Yunho. Dia berdiri kaku. Tubuhnya melayang, mengawang di antara kabut hitam yang pekat. Cintanya kandas. Dirinya terhempas ke dalam kesedihan yang mendalam. Yeoja manis itu tidak mempercayai semua itu. Tapi Yunho telah mengatakannya dengan gamblang. Itulah kenyataan yang teramat pahit dalam hidupnya. Kenyataan yang mengiris-iris ulu hatinya, sangat sakit dan perih. Seketika kesedihannya membuncah. Hatinya menangis pilu. Air matanya semakin deras, bergulir membasahi pipinya yang halus. Jaejoong masih sempat menatap kepergian Yunho. Namja tampan itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Jaejoong masih berdiri lemah. Dia tidak kuat lagi menahan keseimbangan tubuhnya. Dia lemah, kelelahannya kini memuncak. Akhirnya dia jatuh.

"Joongieee...!" Teriakan Junsu menyentak kesadaran Yoochun. Mereka berlari ke arah Jaejoong. Keduanya cemas, kalau sesuatu terjadi pada sahabatnya.

"Joongieee...!" teriak Junsu menjerit. Dia memeluk tubuh Jaejoong yang sangat lemah. Yeoja itu tidak bisa berkata-kata lagi.

"Ayo, segera kita bawa Jaejoong ke mobil." ujar Yoochun dengan panik.

Mereka pun menuntun Jaejoong ke mobil. Lalu yeoja itu duduk di jok belakang bersama Junsu. Sementara Yoochun tetap memegang kendali, luka-luka kecil di tubuhnya tidak dirasakannya. Dia menghidupkan mobil itu, sebentar saja mobil itu telah melaju. Meninggalkan air mata kepiluan, ditengah-tengah senja yang merambat malam.

-TBC-

Fiuh.. Selesai juga pada akhirnya. Sampai di sini otak aku kena blok dan aku gak bisa mikir apa-apa.. Bingung ini mau berakhir bgemana. Adakah saran atau apa gitu yang ingin chingudeul sampaikan. Jika ada sampaikanlah lewat rview.. Aku tunggu chingudeul.