Chapter 10 : Apostrophe
Review Section :
Hyelaflaf : Thank you buat review dan pujiannya. Ahahaha.. Iya, panjang buanget ini.. /fyuh. Soal Min Hyuk, iya... Hehehe... Bakal ada ehem-ehem ama Jaehee karena dia MC cowo. Karakter pertamaku Jaehee, jadi aku pingin dia bahagia juga. Seenggaknya di sini.. :')
NB :
1. '...' diikuti narasi Italic (1x Enter) = Flashback/Past
2. '...' diikuti narasi NON-Italic (1x Enter) = Present
Cr : K Will - Tree (Lagu ini bakal muncul 2X)
TAP
TAP
..
03.00 (707)
707 : "A.."
707 : "A~.."
707 : "Ahoy Mateys~!"
707 : "Ada yang online~? "
707 : "…"
707 : "Uhm…"
707 : "Spertinya tidak.. X("
707 : "Aku.."
707 : "Seven The Great"
707 : "Sang Penguasa tujuh lautan dan samudra.."
707 : "Telah kembali dari perantauan antara hidup dan mati…!"
707 : "Semuanya karena…"
707 : "ZEN HYUUUNG~.."
707 : "Aku kembali untukmu, hyung~.. X3"
707 : "Dan karena.."
707 : "Aku adalah penegak keadilan.."
707 : "Haneul dan Yoosung dilempari telur..?!"
707 : /surprised
707 : "Sebagai Defender of Justice, aku tidak akan membiarkannya~! ."
707 : "Dan karena itulah…"
707 : "Aku datang untuk memberitahu kalian satu hal mengejutkan."
707 : "Lad and lass..~"
707 : "Drum roll please…~"
707 : "Pelempar telur itu BUKAN 101."
707 : "Maksudku.."
707 : "Aku sudah melihat orang yang Yoosung maksud. Mereka bertiga membentuk 101 ketika jalan bersama XD."
707 : "Anyway.."
707 : "Pelakunya bukan mereka."
707 : "Tapi seorang perempuan.."
707 : /surprised
707 : "YA. SEORANG PEREMPUAAANNN….!"
707 : /surprised
707 : /surprised
707 : "Terkejutkah? PENASARANKAH?"
707 : "'Ya, Seven. Kami terkejut. Siapakah mereka sebenarnya? Mohon lindungi kami Defender of Justice!'"
707 : "Baiklah…"
707 : "Sebagai balasannya…"
707 : "Kalian harus menyerahkan 10 upeti Honey Buddha Chips di setiap jam mulai hari ini~!" *v*
707 : "Anyway.."
707 : "Aku harus kembali bekerja."
707 : "Akan kukorek lagi informasi mengenai siapa pelempar telur itu sebenarnya."
707 : "ARRRR…!"
707 has left the chatroom
Aku mendapat panggilan pagi ini. Mendadak, serius, dan tidak ada petunjuk untuk apa panggilan tersebut ditujukan. Aku tetap menerimanya, karena panggilan itu berasal dari Pen Ink Paper.
Pikiranku terus mengingatkan perihal pengeditan novel yang harus diselesaikan dalam beberapa jam. Detik ini, kakiku telah menyentuh lantai kantor Pen Ink Paper. Sejak melangkah masuk, aku merasa mata orang-orang mengikuti kemana pun aku pergi. Satpam, resepsionis, office boy, karyawan, karyawati, semuanya.
Begitu pun ketika aku menumpang lift yang berisikan sejumlah penuh karyawan. Mereka semua memperhatikanku seolah aku adalah karyawan baru.
Sampai di lantai tiga, aku mendapati hal yang sama. Lantai tiga merupakan Divisi Penerbitan. Tempat kerjaku berada di sini, bersama para kerabat yang sudah kukenal sejak lama. Seperti yang sudah kubilang, mereka menatapku dengan cara yang sama seperti orang-orang di kantor ini sebelumnya.
Heran sekali.
Jika mereka mencoba mengerjaiku karena ulang tahun…
Ulang tahunku tidak terjadi akhir-akhir ini.
"Hai, Daehee?!" sapaku pada seorang karyawati di sini. Kupikir ia tengah sibuk mengedit skrip buku pelajaran di mejanya.
Daehee sudah bekerja di sini selama dua setengah tahun. Umurnya mungkin sama dengan Jaehee, namun Daehee punya semangat lebih muda beberapa tahun dan menolak dipanggil eonni atau nuna oleh siapapun. Perawakannya sangat ramah dan periang. Ia juga-lah yang membimbingku dengan sabar di masa-masa awal bekerja. Ini menjadikan kami berdua sangat dekat, sahabat hingga kini.
Namun…
Daehee pergi begitu saja.
Aneh..
Aku terdiam heran.
Tidak biasanya Daehee seperti ini.
Tidak biasanya ia meninggalkanku begitu saja.
"Park Haneul?" panggil seseorang.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Bae Jong Sam, supervisor dari Divisi Penerbitan ini. Ia mengisyaratkanku untuk mengikutinya, yaitu masuk ke ruang supervisor di dekat pintu.
Aku menurut.
Setelah masuk ke ruang kantornya tersebut, aku duduk di salah satu kursi. Di sana sudah ada Yoo Jung Shin, selaku Kepala Divisi Jurnalistik dan Kang Tae Goon, selaku Kepala Divisi News & Infotainment.
Ini pertama kalinya aku disuruh duduk bersama mereka dalam satu ruangan. Rasanya tidak begitu nyaman -duduk bersama para petinggi ini maksudku. Semakin tidak nyaman setelah mengetahui bagaimana tatapan mereka terhadapku. Lebih intens dari para karyawan sebelumnya.
"Haneul, apa kau tahu alasan mengapa dirimu dipanggil ke sini?" Supervisorku memulai pembicaraan.
"Emm.. Karena deadline novel Rose in Clouds?"
Supervisorku mengangguk kecil. Selanjutnya, ia menuangkan teh ke dalam sebuah cangkir putih dan ditujukan kepadaku. "Minumlah dulu. Kau terlihat sangat tegang. Teh ini akan membantumu lebih rileks."
"Um.. Terima kasih, Supervisor Bae." Aku menerimanya dan menyeruput teh nikmat ini. Rasa manis dan aromanya sangat pas. Memang ampuh membunuh sedikit rasa gugup.
"Park Haneul, langsung saja. Ada yang ingin kami tanyakan padamu."
Dialog Kepala Yoo membuatku segera menaruh cangkir ke atas meja. Ia terlihat sangat serius. "Y-Ya? Ada apa?"
"Begini. Apa kau mengenal seorang aktor musikal bernama Zen?"
"Euhm… Siapa?"
Zen?
Apa 'Zen' yang mereka maksud adalah 'Zen' yang aku kenal?
"Zen. Aktor teater musikal di Seoul. Hanya ada satu aktor musikal bernama Zen di Seoul, bahkan di Korea Selatan. Apa kau mengenalnya?"
"Uhm.. Itu.. Kurasa aku tahu. Aku sering melihat fotonya bertebaran di Picstagram."
"Jadi, kau tahu siapa Zen?" Kali ini Kepala Kang yang bertanya.
"... Ya, tapi hanya dari Picstagram."
"Kau tidak pernah bertemu dengannya?"
Aku menggeleng.
Para kepala divisi dan supervisorku saling menatap bergantian.
"Kau sungguh tidak pernah bertemu dengannya?"
"Ya. Aku hanya mengenalnya dari internet."
Selagi Kepala Kang dan Kepala Yoo berdiskusi, Supervisor Bae sedikit mencondongkan tubuhnya padaku dan berbisik. "Haneul, aku sudah mengenalmu lebih dari setahun. Kau orang yang jujur. Salah satu jurnalis di perusahaan ini mendapat bukti soal kedekatan dirimu dengan Zen yang mereka berdua maksud."
Ucapan Supervisor Bae membuat kedua mataku melebar.
"Bukti itu sudah tersebar luas di internet," lanjutnya.
Langkahku kali ini begitu lemas, lambat, dan menuntut. Sangat berbeda jauh dengan langkahku pagi tadi. Rasanya sangat berat untuk tetap berdiri dan berjalan. Juga agar air mata ini tidak jatuh.
Aku keluar dari area kantor sejak setengah jam yang lalu. Menyusuri area pertokoan, aku tidak merasa seantusias biasanya. Rasanya tidak begitu selera melihat berbagai macam pakaian, tas, sepatu, maupun aksesoris yang sengaja dipajang di jendela.
Tidak hanya itu.
Aku hanya bisa menatap tanah, pura-pura tidak mendengar ketika mereka yang ada di sekelilingku berbisik satu sama lain. Dari cara mereka menatap dan bicara, aku tahu mereka sedang mendiskusikan topik yang sama dengan bahan gosip di kantor pagi ini.
Rumor kedekatan antara diriku dengan Zen.
Aku memutuskan untuk duduk sejenak di bangku trotoar dan menghembuskan nafas panjang. Pasrah, ketika semua ingatan kembali memutar.
…
"Bukti itu sudah tersebar luas di internet," lanjutnya.
"Beberapa jurnalis dari media lain kini tengah mengincar jurnalis kita. Jadi, bukan hanya jurnalis di perusahaan ini saja yang mengetahuinya. Para jurnalis lain pun sudah mengetahui rumor tersebut." Kepala Yoo bicara.
"Park Haneul, jika itu memang benar dirimu, kau bisa memberitahukannya kepada kami secara jujur. Kami akan melindungimu," ujar Kepala Kang
Aku berusaha sebisaku untuk mengelak dugaan mereka. Namun ketika mereka mengeluarkan semua hal yang dianggap bukti…
"Ini. Ini semua adalah sebagian yang kami temukan di internet. Masih banyak foto yang dapat dijadikan bahan bukti kedekatan antara dirimu dengan Zen." Kepala Yoo menyerahkan satu buah amplop tebal padaku.
Setelah kulihat isinya…
Speechless..
Aku tidak bisa menghindar lagi.
Semua foto itu menangkap momen bersama antara diriku dengan Zen saat pergi ke puncak beberapa waktu silam.
"Bagaimana Haneul? Apa itu benar bukan dirimu? Karena ada bukti lain yang benar-benar menunjukkan bahwa itu adalah dirimu."
Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa seseorang mengetahui hal ini?
Semuanya membuatku bingung.
Daehee pun terus menghindariku.
Setelah mengalami interogasi oleh para Kepala Divisi dan supervisor selama satu jam, aku diperbolehkan pulang guna menyelesaikan pekerjaan rumah sebagai editor novel. Di saat itulah aku menemukan Daehee tengah berbincang intim dengan staf resepsionis. Sempat kudengar ia menyebut namaku beberapa kali. Begitu mata kami saling bertemu, Daehee menghentikan kegiatannya dan melangkah menjauh.
Aku tidak hanya tinggal diam. Segera kukejar dirinya dengan kecepatan langkah yang setara. "DAEHEE… TUNGGU…!"
Ia tetap berjalan dengan cepat, tidak sekalipun menengok ke belakang.
Kupercepat lagi langkahku hingga mampu menyusul dan meraih lengannya. Kutahan lengan itu agar ia berhenti menjauh. "Daehee, dengarkan aku.."
Daehee memang tidak melangkah lebih jauh, namun enggan menatapku. Aku tahu ia marah akan sesuatu. Ini karena ia melepas genggaman tanganku dengan cukup kasar. Nafasnya begitu berat. Tidak lama kemudian…
"Kenapa kau jahat sekali, Haneul? Kenapa kau tidak memberitahuku soal Zen? KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU BAHWA KAU KENAL DENGANNYA?!"
Tentu Daehee tidak akan keberatan untuk menaikkan suaranya padaku. Lantai gedung ini begitu luas sehingga tidak ada yang peduli pada kami saat itu.
Tapi aku peduli padanya. Ia satu-satunya sahabatku dan aku tidak mau terjadi sesuatu di antara kami berdua. Ketika ia menyebut nama Zen, aku mulai mengerti semuanya.
Astaga…
Aku baru ingat..
Hal yang sangat penting.
Jadi, alasannya menghindariku hanyalah karena Zen? Karena ia pun tahu soal rumor antara diriku dengan Zen?
Di keterdiaman itu aku melihat ekspresinya berubah. Dari yang sebelumnya gusar kini menjadi sedih. Bahkan dapat kupastikan bahwa ia hampir menangis saat mengutarakan dialog selanjutnya.
"Kau masih ingat teater musikal yang kita tonton bersama beberapa waktu lalu? Apa kau masih ingat hal yang selalu aku utarakan sebelumnya?"
Oh..
The Romance of Marie Antoinette.
Kami menonton teater musikal tersebut bersama, tepat di hari terakhir pertunjukan. Atau malam ke-4 ku di RFA.
"Kau masih ingat siapa yang aku suka di pertunjukan teater tersebut?"
Aku menunduk mengerti. Ingin rasanya menelan bulat-bulat lidahku saat itu. Daehee resmi mengingatkanku akan hal lain yang nyaris terlupakan.
Zen merupakan pemeran utama di drama musikal tersebut.
"Hans Axel von Fersen, karena Zen yang memerankannya."
Aku melihat satu bulir air mata Daehee turun. "Jadi kau ingat? Kau ingat bahwa aku menyukai Zen?"
Aku mengangguk lemah dan merasa sangat salah.
"Jadi kenapa, Haneul? Kenapa kau tidak bilang padaku? KENAPA KAU TIDAK BILANG PADAKU BAHWA KAU PACARNYA?! Aku malu sekali, kau tahu?" Daehee kembali bersuara tinggi. Walau begitu, ia tetap menahan diri agar tangisnya tidak semakin pecah.
"B..Bukan begitu Daehee..! Kau harusnya mendengarku dulu…."
"Tidak perlu, Haneul. Kau tidak pernah bicara apapun soal Zen padaku, seolah-olah kau tidak pernah mengenalnya. Ternyata, selama ini kau sangat kenal dengan Zen, hanya saja tidak pernah bicara apa-apa padaku. Kau bohong selama ini, Haneul. Aku pikir kau tidak menyukai teater musikal sejak awal, tapi ternyata kau hanya berpura-pura. Apa menyenangkan bagimu untuk melihatku -sebagai fans darinya- banyak bicara yang bukan-bukan, hnn?"
Rasa menyesal benar-benar memenuhiku seperti oksigen. "… Daehee, tidak. Dengarkan aku dulu.."
"… Aku kecewa padamu, Haneul." Daehee kembali melangkah cepat. Kali ini ia menuju lift.
Aku pun mengejarnya.
"Tidak, Daehee. Dengar.. itu semua hanya rumor. Kau harus percaya padaku..!" Rasanya benar-benar mengerikan. Aku tidak mau ia membenciku hanya karena masalah ini. Aku tidak mau kehilangannya, tapi aku juga tidak mau kehilangan Zen.
Nam Daehee sudah masuk lift saat kembali menyatakan hal yang membuatku tidak bisa mengelak.
"CUKUP, HANEUL! KATAKAN SAJA PADA FOTO-FOTO ITU DAN TAS RANSEL MAROON PEMBERIANKU YANG KAU PAKAI SAAT BERKENCAN DENGANNYA!"
Daehee menutup pintu liftnya.
Tidak ada lagi.
…
Sahabatku meninggalkanku, marah kepadaku.
Sekarang aku di sini. Duduk sendiri, bingung harus melakukan apa. Aku mencoba berpikir dengan jernih mengenai masalah ini, terutama soal Daehee. Apa yang harus aku tebus agar ia mau mendengarkanku?
Dan untuk Zen…
Apa yang harus aku lakukan..?
Rasanya lebih aman ketika berada di gedung teater, kantorku selama beberapa tahun. Walaupun tubuh ini masih terasa lelah akibat pindah kamar semalam, menekuni latihan seni peran tetap terasa sangat menyenangkan. Passionku mengalir pada jalurnya, sehingga selalu akan ada tenaga untuk kembali menekuni apa yang menjadi bidangku. Selelah apapun itu. Bahkan tak jarang, latihan yang justru mengembalikan energiku.
Setelah Pak Jeong memberitahuku soal 'penampakan' semalam, aku dan petugas keamanan properti melakukan geledah apartemen. Penggeledahan itu berlangsung sekitar satu jam hingga akhirnya apartemenku dinyatakan 'bersih'. Artinya, tidak ada penyusup datang kemari.
Beralih dari anggapan soal penyusup, aku bicara pada Pak Jeong dan Pak Han soal sesuatu yang di luar akal sehat. Aku cerita pada mereka bagaimana garam yang selalu aku simpan di atas meja makan berpindah tempat, cucianku pindah ke lemari pakaian bersih, dan hilangnya beberapa barang seperti rekaman musikal kesayanganku.
Pak Jeong dan Pak Han tidak mempercayainya (Ya. Ada yang bermarga Han di properti ini dan dia adalah seorang satpam. Ia pun tidak brengsek seperti JerkMin Han). Mereka menganggapku lupa menaruh barang-barang tersebut. Intinya, tidak ada yang percaya soal cerita hantuku dan Pak Jeong tetap meminta denda.
Aku tentu tidak menerimanya begitu saja. Setelah satu jam berunding, akhirnya diperoleh sebuah kesepakatan. Untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah, Pak Jeong mempersilahkanku untuk pindah kamar sementara. Juga agar aku bisa beristirahat di kamar yang –sekiranya- tidak berhantu. Aku tetap membayar denda itu, hanya saja Pak Jeong berjanji akan mengembalikannya lagi dalam bentuk biaya peralihan properti baru atau prepaid rent.
Aku belum menceritakan hal ini pada siapapun, termasuk Haneul. Aku tidak mau imej baikku turun hanya karena hal sepele seperti ini.
Kembali lagi ke teater.
Di latihan kali ini aku merasa ada yang tidak biasa dengan teman-temanku. Mereka lebih banyak diam daripada biasa. Awalnya kupikir ini semua terjadi karena kami memulai latihan sejak pagi hari dan belum istirahat makan siang hingga kini. Tapi…
"Zen?"
"Oh, Pak Director?"
"Apa kau sudah mempersiapkan dirimu untuk latihan bersama Echo Girl minggu depan? Barusan manajernya menghubungiku. Ia menanyakan status persiapanmu."
"Oh, masalah itu. Aku hanya perlu menghafal sedikit lagi. Aku akan berusaha sangat keras."
"Ya, aku percaya. Kau memang mencintai pekerjaanmu, Zen. Tapi… Zen, apa kau sadar betul apa konsekuensinya saat kau sudah berhasil bekerja sama dengan Echo Girl?"
"Uhm.. Maksudnya? Jadi lebih sibuk?"
"Ahahaha.. iya, benar. Kau akan jadi lebih sibuk. Bahkan mungkin akan melupakan kami semua di teater ini. Tapi.. bukan itu yang aku maksud. Yang aku maksud adalah kau akan jadi sangat terkenal. Bahkan bisa jadi agensi besar melirikmu untuk mengajak bergabung. Jika sampai terjadi, apa kau sudah siap?"
Kata-kata Pak Director membuatku sumringah. Tidak dipungkiri bahwa aku terlarut dalam fantasi yang ia ciptakan. "Ah, tidak akan secepat itu. Dilirik agensi besar tentu menjadi impian semua aktor seni peran sepertiku. Aku dan teman-teman berjuang untuk itu. Tapi sekalipun itu terjadi, aku akan tetap berada di teater ini. Bagaimanapun juga, teater ini adalah 'rumahku' sejak lama. Aku tidak akan meninggalkannya begitu saja. Dan masalah siap tidak siap… aku akan berusaha untuk tetap profesional."
"Termasuk… untuk tidak mengakui pacarmu?"
"… Apa?"
"Umh.. Zen, kau tahu 'kan? Beberapa agensi tidak menginginkan artisnya memiliki pacar selama masih terikat kontrak. Jika itu dirimu, apa kau siap?"
Penjelasan Pak Director tidak begitu masuk akal. Bukannya itu sama saja dengan pelarangan hak asasi manusia?
"Umm.. Ya."
Dia memiringkan kepalanya sedikit. "Apa kau sudah membicarakan hal ini dengan pacarmu?"
Mendengar itu membuatku serba salah. Pak Director tahu aku belum punya pacar. Apa sekarang dia sedang menghinaku?
"Hmm? Pacar?"
Pimpinanku itu mengangguk. "Ya, pacar. Sejak kapan, Zen? Aku malah mengetahuinya dari media, bukan darimu."
Soal pacar-pacaran ini membuatku pusing. Pertama Pak Jeong, sekarang Pak Director. Apa jangan-jangan video penampakan di kamarku tersebut sudah tersebar luas di media? Dan Pak Director menangkapnya sama seperti Pak Jeong?
"Oh.. Aku mengerti. Maksudnya video penampakan di apartemenku itu, ya?"
"Apartemen? Oh. Ada lagi yang di apartemen?"
"… Hah?"
Aku segerakan diriku mengecek Areum dan Never. Di bagian berita, aku melihat sesuatu yang cukup mencengangkan. Tiga berita di sana merupakan berita tentangku dan Haneul. Aku mengernyitkan dahi ketika membaca satu per satu berita tersebut. Inti dari ketiga berita itu sama, yaitu seorang Zen menjalin hubungan rahasia dengan seorang perempuan bernama Haneul.
'Bagaimana bisa aku seterkenal ini?' gumamku dalam hati.
Aku tersenyum membaca berita-berita itu. Menurutku, menjadi pacar Haneul bukanlah masalah. Sejujurnya, aku menyukai Haneul. Sangat-sangat suka. Aku berencana untuk mengungkapkannya begitu proyek dengan Echo Girl selesai. Kukira Haneul pun bukanlah tipe perempuan yang senang diajak terburu-buru. Karenanya, aku berusaha menahan diri saat ini. Lebih baik lambat tapi berhasil daripada cepat namun gagal. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak keberatan dengan rumor percintaan ini.
Umh?
Baru saja pikiran itu terlintas, aku dihadapkan dengan kenyataan yang tidak pernah dikira sebelumnya. Beberapa netter menulis komentar pedas soal rumor ini. Kebanyakan dari komentar tersebut membicarakan Haneul. Mereka semua bicara buruk soal Haneul.
Jika Haneul atau orang-orang di sekitarnya sampai membaca ini, maka…
Jemariku segera mencari kontak Haneul. Kuputuskan untuk segera menghubunginya sembari berpikir kalut.
Satu, dua, tiga…
Haneul tidak menjawabnya hingga nada sambung terakhir.
Aku coba lagi.
Tidak berhasil.
Aku coba lagi.
Tidak lagi.
Terus kucoba berkali-kali menghubunginya.
Seterusnya pula aku gagal.
Aku merasa resah. Sebelumnya, aku tidak menyangka bahwa akan terjadi hal seperti ini. Sebelumnya, aku pun tidak yakin bahwa diriku seterkenal para personil boyband atau penyanyi cover di Utube.
Tunggu…
Fancafe.
Aku segera mencari fancafe yang memuat tentang diriku.
Ternyata portal berita bukanlah apa-apa.
Di fancafe, aku melihat banyak sekali diskusi aktif untuk membicarakan diriku dan Haneul. Mereka berasumsi soal kehidupan asmaraku, hingga yang paling parah : mengutuk Haneul.
Aku tidak habis pikir.
Juga…
Dari mana mereka mendapatkan semua foto-foto ini?
Terutama foto selfie diriku bersama Haneul saat berada di taman.
Bagaimana bisa?
Foto itu diambil dengan menggunakan kamera ponsel milikku.
Jika pun Haneul memiliki foto tersebut, apa mungkin dia yang menyebarkannya?
14.12 (Jaehee, Zen)
Jaehee : "Zen.."
Zen : "Hi, Jaehee.."
Jaehee : "Apa kau sudah membaca berita hari ini?"
Jaehee : "Banyak berita soal dirimu dan Haneul."
Zen : "…"
Jaehee : "Zen.."
Zen : "Aku tidak bisa menghubungi Haneul."
Jaehee : "?"
Zen : "Aku berusaha menghubunginya sejak dua jam yang lalu. Tapi ia tidak mengangkat panggilannya."
Zen : "Ia juga tidak online di RFA."
Zen : "Jaehee, aku khawatir padanya."
Jaehee : "…"
Zen : "Aku takut terjadi sesuatu padanya."
Zen : "Tidak biasanya Haneul sulit dihubungi seperti ini."
Zen : "Aku benar-benar khawatir."
Jaehee : "Aku akan coba menghubunginya."
Jaehee : "Akan kusampaikan padanya untuk segera online di chatroom. Agar semuanya tahu bahwa ia baik-baik saja."
Zen : "Terima kasih, Jaehee."
Zen : "Oh ya.."
Jaehee : "?"
Zen : "Aku harus minta maaf padamu."
Zen : "Aku sudah mengabaikan semua nasihatmu kemarin."
Zen : "Aku tidak menyangka bisa sampai terjadi seperti ini."
Jaehee : "…"
Jaehee : "Semua fancafe sedang sibuk membicarakan dirimu."
Jaehee : "Zen, berhati-hatilah."
Zen : "Ya."
Zen : "Tolong sampaikan itu juga pada Haneul."
Zen : "Juga agar dia mengangkat panggilanku. Ada yang ingin aku sampaikan padanya."
Selalu ada yang baru mengenai Zen di setiap jam. Tidak hanya Zen, Haneul pun ikut terseret dalam pemberitaan tidak bersumber ini.
Semua media sosial heboh. Picstagram, Areum, Never, FB, ashfm, Pine Official, Faith, Bahoo, semuanya. Semua akun Zen penuh dengan notifikasi terkait rumor antara dirinya dan Haneul. Ada yang bertanya, bahkan hingga mengutuki Haneul hanya karena berfoto bersama Zen. Hal yang sama pun berlaku di sosial media Haneul, terutama Picstagram dan Faith. Hanya saja, tidak ada hal baik untuk dirinya di sana. Yang ada hanyalah tumpahan kecemburuan, kemarahan, dan penghinaan. Beberapa fans dari Zen bahkan berani menelepon Haneul dan mengumandangkan kata-kata kasar. Juga, tidak henti-hentinya ponsel Haneul memberitahu majikannya soal kehadiran pesan-pesan baru berisi kata-kata jahat. Bahkan tidak pantas untuk diucapkan.
Di saat ini Haneul 'kembali' ke masa lalunya : di atas ranjang, di bawah selimut.
Di masa SMP dan SMA, Haneul tidak jauh dari berbagai hal yang membuatnya tidak nyaman berada di sekolah. Tuan dan Nyonya Park tidak pernah tahu soal bagaimana Haneul menghadapi harinya di lembaga pendidikan. Yang mereka berdua tahu, Haneul selalu pergi ke kamar dan tidur sampai pagi begitu ia tiba di rumah. Sering pula Haneul melewatkan makan malam karena tidur saking nyenyaknya.
Pada detik ini, ponselnya pun terbaring di atas ranjang. Benda itu terus bergetar dan bersuara. Namun Haneul tidak peduli. Ia tidak –mau- lagi melihat siapa penelepon maupun pengirim pesan sejak beberapa jam yang lalu. Ia terus mengubur dirinya seperti sekarang.
Menangis,
Meremas selimutnya agar tidak lepas.
Seperti masa lalu.
Dulu ia punya Jiyoong yang selalu siap membelanya kapan saja dan di mana saja. Namun sekarang, Jiyoong tidak lagi ada di sini. Tidak ada yang membelanya sekarang, pikirnya. Jika pun itu adalah Zen, bukankah aktor musikal tersebut tengah bergelut masalah serupa? Bagi Haneul, hanya selimut dan apartemen ini satu-satunya perlindungan. Ia merasa aman berada di bawah selimut itu. Terlalu aman sehingga Haneul enggan beranjak dari sana. Barang sedetik saja.
18.30 (Jaehee, Yoosung, Zen)
Yoosung : "Astaga.." /surprised
Yoosung : "Aku baru baca semuanya."
Yoosung : "Jaehee, apa Haneul sudah bisa dihubungi?"
Jaehee : "Hi Yoosung."
Jaehee : "Belum. Aku sudah mencobanya ribuan kali."
Jaehee : /sigh
Yoosung : "Aku benar-benar khawatir. Barusan aku coba menghubunginya, tapi tidak diangkat juga."
Jaehee : "Aku pun tidak bisa tenang."
Jaehee : "Ekspektasi burukku menjadi kenyataan."
Jaehee : "Selain menggosipkan Tuan Han, para karyawan di sini membicarakan Zen dan Haneul."
Jaehee : "Gara-gara berita ini, semakin banyak yang mengakui ketampanan Zen."
Jaehee : "Semakin Zen muncul di publik, semakin banyak yang menjadi fansnya. Semakin banyak fansnya, semakin banyak pula yang membicarakannya."
Jaehee : "Baru beberapa jam yang lalu, aku masih mengira bahwa hanya aku-lah satu-satunya yang tahu siapa Zen di perusahaan ini." /sigh
Zen has entered the chatroom
Zen : "Jaehee…"
Jaehee : "Ya, Zen?"
Zen : "Apa kau sudah berhasil menghubungi Haneul?"
Jaehee : "Belum. Ia tidak mengangkatnya. Pesanku pun tidak dibaca."
Zen : "Aku juga. Belum ada kabar darinya."
Zen : "Bagaimana pendapatmu, jika aku mendatangi apartemen Rika untuk menemuinya?"
Jaehee : "Tapi.. alamat apartemen Rika dirahasiakan."
Zen : "Aku tahu."
Zen : "Aku akan minta Seven untuk memberitahuku."
Zen : "Aku benar-benar khawatir pada Haneul."
Yoosung : "Kami semua mengkhawatirkannya, hyung."
Yoosung : "Kalau Seven tetap tidak mau memberitahu, bagaimana?"
Zen : "Aku akan terus memaksanya."
Jaehee : "Tapi kurasa itu bukan ide yang bagus untuk saat ini."
Jaehee : "Haneul dan dirimu sedang menjadi sorotan."
Jaehee : "Kalau sampai ada informasi terbaru mengenai pertemuan kalian, suasana akan menjadi semakin parah."
Yoosung : "Benar."
Zen : "Tch."
Zen : "Ayolah."
Zen : "Malas sekali berada di apartemen."
Yoosung : "Kenapa?" /?
Zen : "Ini mungkin terdengar gila, tapi…"
Jaehee : "?"
Zen : "Ada hantu di apartemenku."
Jaehee : /?
Yoosung : /surprised
Yoosung : "Hyung, yang benar? Masa di saat seperti ini bercanda?"
Jaehee : "Hantu?"
Zen : "Aku tidak bercanda, Yoosung. Ini sungguhan."
Zen : "Aku punya rekamannya."
Zen : /sent a video.
Jaehee : "…."
Yoosung : "ARRRGGHHHH! NYESEL BUKANYA!" /cry
Yoosung : /cry
Yoosung : /cry
Yoosung : "Seram, hyuuuung~… T.T"
Yoosung : "Aku kan tinggal sendiri." /cry
Zen : "Kau masih beruntung, Yoosung."
Zen : "Setidaknya kau punya teman-teman di sekitaran kost-mu."
Zen : "Aku dan para tetanggaku tidak begitu akrab karena kami semua jarang bertemu."
Zen : "Semua penyewa di sini sudah bekerja. Semuanya pergi pagi dan pulang malam." /sob
Zen : "Jadi kupikir akan lebih baik untuk mendatangi Haneul. Aku bisa menjaganya, memastikan dia baik-baik saja."
Zen : "Juga tidak perlu kembali ke apartemen."
Zen : "Sebenarnya, aku sudah pindah kamar."
Zen : "Tapi tetap saja menyeramkan." /sob
Jaehee : "Tapi tetap saja."
Jaehee : "Kenapa tidak menginap di tempat Yoosung atau Luciel saja?"
Yoosung : "Benar, hyung. Agar aku tidak tidur sendirian." /cry
Zen : "Ughh… Tidak ah!"
Zen : "Dua cowok tinggal bersama? Membayangkannya saja sudah jijik."
Zen : "Isshh…"
Zen : "Tempatnya Yoosung pasti kotor. Lantainya lengket lah, banyak debu lah. Yoosung kan jarang membersihkan kamarnya."
Yoosung : "Astaga, hyung T.T"
Yoosung : "Kok tau?"
Jaehee : /T_T
Zen : "Sedangkan Seven…."
Zen : ".."
Zen : "Tidak. Jangan si aneh itu."
…
Zen masih 'berada' di chatroom saat kedua kakinya berjalan menuju kawasan apartemen. Berbekal satu kantung penuh bungeoppang di tangan kirinya, Zen terus melangkah dengan tangan kanan yang sibuk mengurai kata di bubble chat. Itu berlangsung hingga satu hal berhasil menarik perhatiannya dari layar android.
Sebuah mobil mewah.
Terparkir di depan gerbang apartemen.
Sempat terbersit bahwa itu adalah Jumin, Zen segera menggelengkan kepalanya dan menyugesti diri bahwa tidak ada hal yang akan membuat seorang penerus grup terbesar bersedia merakyat datang ke apartemennya.
Lantas?
'Hmm.. Mungkin saja ada calon penghuni baru. Atau yang sedang berkunjung?' gumamnya dalam hati.
Sedetik kemudian, Zen ingat bahwa ada hal yang harus dia lakukan secepatnya. Tak lain dan tak bukan adalah menghubungi Seven untuk meminta alamat Rika. Apapun yang terjadi, Zen bertekad tidak akan menyerah begitu saja. Ia harus menemui Haneul, guna menjaga dan melindunginya.
Zen kembali berjalan, melewati pintu masuk apartemen dan melintasi ruang lobi untuk menjangkau lift. Ia tertahan di perjalanan itu ketika Pak Jeong memanggilnya.
"ZEN?!"
Yang dipanggil menoleh. "Oh. Pak Jeong? Ada apa?"
Pemilik properti itu menghampirinya dan tersenyum lebar. Berbisik, seakan hanya mereka berdua yang boleh mengetahui isi percakapan selanjutnya. Tidak dengan dua orang asing yang tengah duduk di sofa lobi. "Kau tidak pernah bilang bahwa kau kenal dengan Echo Girl?"
"Hnn? Echo Girl?"
Penuh antusias, Pak Jeong melanjutkan. Masih berbisik. "Kalau saja aku tahu bahwa kau kenal dengannya, aku akan minta titip tanda tangannya darimu sejak dulu!"
Zen mencoba mengerti maksud Pak Jeong hingga satu kesimpulan menginspirasinya. "Oh.. Soal proyekku dengan Echo Girl?"
"Apapuuunn… Kau ini seharusnya…"
"OPPAA…!"
Lengkingan tinggi milik seorang gadis mendiamkan Pak Jeong dan Zen. Sepasang mata namjadeul beda usia tersebut teralih pada satu hal sama. Bagaimana bisa Zen melewatkan sekelilingnya begitu saja ketika seorang yang seharusnya ia temui minggu depan berada di sana? Berdiri setelah sekian lama duduk di sofa lobi, perempuan berkisar 160 cm itu tersenyum manis kepada Zen yang baru saja menyadari situasi.
"E-cho Girl?"
Berada di antara selimut dan ranjang dalam waktu yang sangat lama telah membuat Haneul tertidur selama beberapa jam, melintasi pergantian dari siang ke malam. Tidak seharusnya Haneul dalam posisi demikian, berteman kegelapan.
Namun apa mau dikata…?
Tiba-tiba…
"BANGUUUN BANGUUUUN…! KEBAKARAN…! KEBAKARAAAAAN…!"
Haneul masih berkutat di peraduannya ketika suara tersebut cukup kencang untuk membuatnya tersadar. Ia pun sempat bingung mendapati ruang apartemen yang begitu gelap. Saat itu pukul 8 malam dan lampu ponsel yang menyala adalah satu-satunya cahaya di sana.
Ternyata suara itu berasal dari ponselnya.
Diraihnya ponsel tersebut dan dilihatnya nama pemanggil yang tertera di layar. '… Hnn? Seven?' gumamnya dalam hati.
"YEESSSS! AKHIRNYA BANGUN JUGA! Great..! GREAAAATTT..! Misi pertama SUKSESSS~…! YEAAAAHHH…!"
Sempat ragu sebelumnya, Haneul mendekatkan ponsel itu ke telinga. "Se… ven?"
"Yup yup?"
"… Bagaimana bisa kau menghubungiku?"
"Oh… Ahm.. Karena aku hebat?"
"Seven?" Haneul bicara dengan nada dalam, mengingatkan bahwa saat ini ia tidak dalam mood yang baik untuk bercanda.
"O-o-oh.. oke..oke.. Duuuh… jangan marah duoooonggg~…!"
"Ayolah, serius."
"Ehm.. Oke Oke.. Itu semua karena… I'M SEVEN THE GREAAAATTT~…!"
Tanpa basa-basi, Haneul segera mengakhiri panggilan tersebut.
Kesal.
Bahkan di saat seperti ini Seven mengganggap dirinya sebagai lelucon.
Tidak sampai dua detik…
"A.. Aduh, Haneul… Jangan marah doong~… Aku cuma bercandaaa~..."
Suara Seven kembali memenuhi ruangan dan membuat Haneul mengenyitkan alis. Heran, sekaligus penasaran. Sekali lagi, Haneul mendekatkan ponsel itu ke telinganya. "Lantas, bagaimana caranya kau dapat menghubungiku? Aku tidak terima jawaban main-main."
"Huhuhu. Tatuuut~… Rasanya seperti bicara dengan Jaehee-nuna No. 2. Hhh~… begini, aku 'kan hacker. Aku dapat dengan mudah mengotak-atik gadget siapapun. Kau tidak mengangkat panggilanku, aku hack saja ponselmu. Aku tidak perlu menunggumu meng-accept panggilan, karena aku dapat meng-accept panggilan diriku sendiri dari sini. Uhm… Maksudnya meng-accept panggilan yang ada di ponselmu dari sini. Hehehe… Lagipula, kau dalam pengawasanku, ingat?"
"Oh ya, aku lupa bahwa kau dapat dengan seenak jidatnya melanggar privasi orang lain. Oke."
"…."
"…"
"Itu. Sadis. Tapi… ehm.. benar juga sih. Hahaha. Tapi tenang saja. Aku tidak akan macam-macam selama tidak ada masalah. Lagipula, harus ada bayaran tinggi untuk membuatku melakukan hal seperti itu. Keahlianku 'kan mahal."
Haneul memutar matanya. "Ya ya ya. Tetap saja. Mengetahui aib seseorang sangat menyenangkan, bukan? Lebih lagi, kau dapat menjual rahasia orang tersebut kepada orang lain. Tidak penting masalah kau sudah dibayar untuk ini atau belum. Kau akan tetap mendapat kepuasan walaupun tidak dibayar."
Seven terdiam di seberang sana. Cukup lama hingga akhirnya Haneul sadar bahwa dirinya sudah bicara keterlaluan. Ia sadar bahwa ia bersalah. Tidak sepatutnya ia melampiaskan emosi pada orang yang tidak berkaitan.
"… Maaf, Seven. Aku… Moodku sedang tidak baik. Maaf, sekali lagi. Kata-kataku sangat kasar tadi."
Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Haneul dibuat bingung karenanya. "… Seven?"
"Oh.. Um… Maaf. Ahahahaha. Ya. Tidak apa-apa. Santai saja. Kalau dipikir lagi, memang benar. Bidang pekerjaanku terkadang memang ilegal seperti itu. Persis seperti apa yang kau katakan. Aku tidak tersinggung, kok. Tenang saja. Hohoho. Anyway…."
Haneul berinisiatif mendengarkan saat ini. Sebagai rasa bersalahnya pada Sang Defender of Justice.
"Anyway…. Aku menghubungimu untuk melaksanakan patroli malam. Uhm… aku nyalakan dulu lampu di apartemenmu, ya? Sebentar…. BAANGGGG…!"
Kurang dari dua detik, semua lampu yang ada di apartemen menyala. Bagaikan sulap, Haneul dibuat takjub dengan menyaksikan sendiri 'kesaktian' Choi Luciel.
"Hehehe. Itu bagian lain dari kemampuanku sebagai hacker. Aku dapat mengakses sistem di apartemen Rika. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam. OHHH..! Kau tidak mengangkat panggilan siapapun! Tidak juga membalas pesan siapapun, tidak juga online di chatroom. Semua orang mencemaskanmu, tahu. Pada akhirnya -sebagai yang terhebat di RFA-, aku merasa bertanggungjawab untuk menghubungi dirimu terlebih dulu. Kau dalam pengawasanku juga, jadi aku merasa bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu. Dan… aku terpaksa menghubungimu dengan cara barusan. Kau tidak kunjung mengangkat semua panggilan, sih. Jadinya, bagaimana keadaanmu?"
Haneul enggan menjawabnya. Bukan karena ia malas, melainkan alasan dari jawaban itu yang sangat menyakitkan.
"Kau pasti sedang bingung, ya? Karena rumor antara dirimu dengan Zen-hyung?"
Haneul mengangguk pelan.
"Well…. Jadi dugaanku benar. Kau mau membicarakannya?"
Perempuan dalam percakapan ini semakin mempererat diri. Ia menggunakan satu tangannya untuk memeluk kedua lutut yang dilipat. Pertanyaan Seven barusan membuat perasaannya semakin absurd. Ia merasa bahwa ia memang butuh seseorang untuk mendengarkan isi hatinya saat ini. Namun di saat yang bersamaan, ia merasa percuma untuk membicarakan semuanya. Toh dengan bercerita sekalipun, semua hujatan terhadap dirinya tidak akan berhenti. Daehee pun sudah tidak sudi bertemu dengannya lagi.
"Aku bertaruh bahwa ada banyak sekali missed call dari hyung. Kupikir ia suka padamu. Yaaah… aku bisa melihatnya dari bagaimana cara kalian berinteraksi satu sama lain. Dulu -sebelum kau datang-, yang dia lakukan di chatroom hanyalah memuja tentang dirinya saja. Mengumbar selfie, narsis soal betapa tampan dirinya. Sebagai laki-laki, aku akui bahwa hyung memang sangat tampan. Tapi kesal juga karena dia terlalu sering seperti itu. Sempat berpikir juga untuk melapor ke rumah sakit jiwa karena narsisnya yang terlalu di atas normal. Setelah kau datang, ia berubah sedikit demi sedikit. Ia jadi lebih memikirkan orang lain, terutama dirimu. Haneul, bukankah kau juga suka padanya?"
Mendengar itu, membuat Haneul semakin membenamkan diri. Ia mengubur wajah ke dalam pelukan lutut. Sebisa mungkin Haneul berusaha untuk tidak menangis. 'Fakta' yang terucap dari bibir Seven, bagaimana Daehee membenci dirinya, nasihat Jaehee terhadap dirinya, ditambah pemikiran soal bagaimana seriusnya perasaan suka yang ia miliki untuk Zen. Editor ini resmi merasa bahwa ia tidak pernah benar.
"Uhm… Eh? Apa aku salah bicara? Kok jadi menunduk begitu? Aigooo… Kupikir seharusnya kau senang karena hyung menyukaimu, kan?"
Semakin Haneul memikirkannya, semakin sulit ia membendung air mata. Beberapa bulir mengalir tanpa sungkan dari kedua mata indahnya. Terlalu banyak sehingga membuat terisak dengan cukup berisik.
"E-eh?! … A.. aduh.. Jangan menangis~…! Ha-Haneul? OMG!"
"Aku… Aku bingung. Jaehee-eonni selalu bilang : tidak baik untuk menyimpan rasa pada Zen. Dia bilang karir Zen akan hancur. Ia juga bilang bahwa aku harus menjaga jarak dari Zen. Aku… aku tidak bisa melakukannya. Aku suka pada Zen. Lalu… aku hanya pergi bersamanya sekali. Tidak ada status dan… kau tahu kan? Hanya jalan-jalan biasa. Tapi mengapa bisa sampai seperti ini? Daehee membenciku. Semua orang membenciku. Aku… harus bagaimana? Apa aku harus mengikuti nasihat eonni agar semua kejadian ini selesai? Aku tidak mau kehilangan sahabatku. Tapi… aku juga tidak mau kehilangan Zen…"
Di seberang sana Seven terdiam. Merenung. Jemarinya yang sedari tadi aktif menekan keyboard kini ikut terdiam.
"Aku membacanya berulang kali hari ini. Mereka bilang aku tidak pantas untuk Zen. Mereka bilang aku hanya mencari ketenaran. Bahkan… mereka bilang aku murahan. Aku… aku.. jadi berpikir bahwa mereka benar. Zen-oppa adalah seorang aktor terkenal. Sangat berbeda denganku. Aku bahkan tidak punya marga. Dan Daehee, satu-satunya sahabatku pun meninggalkanku. Ia marah karena pikirnya selama ini aku menipunya, pura-pura tidak tahu soal Zen selama ini. Padahal tidak begitu. Daehee memang suka pada Zen sejak lama, sebelum aku bergabung di RFA. Aku tidak begitu memperhatikannya selama ini. Baru hari ini aku ingat bahwa Daehee sangat menyukainya. Bagaimana jika Daehee tidak lagi menyukai Zen gara-gara ini? Dan bagaimana jika para fans yang lain pun begitu? Jaehee-eonni memang benar. Sebagai orang yang menyukai Zen, seharusnya aku melindunginya dari apapun. Aku.. tidak yakin dapat memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya, atau karirnya. Lagipula.. sejak awal, memang tidak mungkin bukan seorang editor sepertiku bisa bersama dengan seseorang seperti Zen-oppa?" Haneul bicara panjang diselingi isakkan dalam. Menandakan bagaimana dalamnya perasaan yang melanda Haneul kala ini.
Beberapa detik keheningan sebelum Seven memecahnya. "… Haneul, kau suka pada hyung, kan?"
"Umh." Yang ditanya mengangguk.
"Kupikir... Ketika kau menyukai seseorang, kau harus sebaik mungkin menghargainya. Jika kau memutuskan untuk menyerah atau pergi –dengan berpikir bahwa itu adalah yang terbaik-, kau hanya akan menyakiti dirinya dan dirimu sendiri. Aku menghubungimu… juga karena hendak mengatakan itu. Ingat, kau tidak akan bisa memutar waktu. Walaupun semua berlalu dan terlihat sama, tapi semua yang ada di dalam jelas berubah. Sakit. Sangat menyakitkan."
"… Benar. Tapi tetap saja. Aku merasa sangat menyesal. Seandainya saja aku punya mesin waktu. Dengan mesin waktu, aku akan merubah keadaan agar semuanya tidak terjadi seperti ini."
"Oh.. Ahahaha… Walaupun aku jenius, aku tidak bisa membuat mesin waktu. Kalaupun bisa…" Kedua mata Seven berair tatkala memandangi foto yang tersaji di monitor. Foto itu merupakan wefie bahagia dirinya dengan seorang perempuan berambut hitam sebahu. "… Kalaupun bisa… Aku ingin kembali ke masa itu. Hnn.. Haha.. Kukira semua orang pasti punya keinginan ini. Tapi… aku tidak cukup baik."
Haneul menyadari perubahan yang terjadi pada 707. Drastis. "Hnn? Apa kau ada masalah? Mau cerita?"
"… O-Oh.. Hahahaha. Ah, kau baik sekali, hnn? Pantas saja hyung suka padamu. Aduh, aku banyak bicara, ya? Kurasa aku sedang lelah. Yah.. aku harus pergi."
"E-eh, sebentaaar…! Jadi… menurutmu, lebih baik aku bertahan pada perasaan ini?"
"... Ya. Menurutku, jawabannya adalah 'ya'."
"Lalu bagaimana dengan Daehee dan para fans Zen yang lain?"
"Uhm.. Jika Daehee adalah sahabatmu… maksudku, sahabat sejatimu, aku yakin ia akan menerima semuanya. Suatu saat nanti, ia pasti akan mengerti bahwa kalian saling menyukai. Begitu pun dengan fans hyung yang lain. Pada hakikatnya, kau akan rela berkorban apapun demi cinta sejatimu. Ia bahagia, kau pun akan bahagia untuknya. Sesakit apapun itu. Yah, menurutku seharusnya semua fans menganut prinsip itu pada idolanya."
"… Seven, apa kau pernah mengalami hal seperti ini?"
"…. Ya. Percayalah, aku tahu rasanya." Sebulir air mata Seven jatuh.
Haneul berpikir. Jika nasihat yang ia dengar berasal dari seseorang yang 'berpengalaman', maka ia merasa patut untuk mendengarkannya. Bahkan...
"Baiklah. Aku akan berusaha untuk mencobanya."
"Well… THAT'S THE SPIRIT…! Berjuanglah, Haneul~! Aku akan selalu mendukungmu! Ngomong-ngomong, sudah hampir jam sembilan malam. Kau harus makan malam, oke? Juga.. jangan lupa membuka pesan dan chatroom. Semua orang menghawatirkanmu. Oh ya, Jaehee-nuna memintaku untuk melacak siapa dalang dari semua masalah ini. Tenang saja, aku pasti dapat membongkar identitasnya!"
"Baiklah. Terima kasih, Seven."
"Yup. Sama-sama. Anytime, sist..! Ung.. Satu pesan lagi. Haneul, keputusan apapun selalu berisiko dan selalu ada yang tidak menyukainya. Tapi jika kalian bersama, aku yakin semua cobaan akan terasa lebih mudah. Yah, baiklah. Sampai nanti, Haneul. Byeee~…"
PIP
Seven menaruh ponselnya.
Diam sejenak, lalu menggaruk bagian belakang kepala. Selesai, ia kembali menatap monitor. Kepada layar bersajikan momen beberapa tahun lalu. Lawas, tapi sangat penuh kenangan.
"Kim Ji Hae," gumamnya pelan. "Jika ada mesin waktu… Apa mungkin aku dapat menahanmu berada di sini?"
Dengan cepat, jemari 707 menekan tuts-tuts keyboard. Begitu satu aplikasi musik muncul, ia menekan dua kali di barisan bertuliskan 'K Will – Tree'.
Lagu yang ia maksud mengalun.
Seven menengadahkan kepalanya, mencoba menikmati sembari menatap langit-langit. Bibirnya tersenyum, pikirannya berkilas. Sekian lama berkutat dengan deadline dan sebagainya, hacker muda ini merasa tidak ada lagi hal menyenangkan di dunia. Foto dan lagu itu satu-satunya kombinasi yang membuat dirinya kembali merasa berharga. Bagaikan perpaduan Honey Buddha Chips dan Dr. Pepper.
"Nuna..," gumamnya sembari mengelus lembut salib rosario.
…
Bukan tidak sengaja ketika beberapa jam yang lalu, 707 menyengajakan diri untuk masuk ke salah satu kamar. Di rumahnya. Kamar itu bersih, rapi, dengan segala pemenuh kebutuhan tertata baik di sana. Berbeda dengan situs lainnya di rumah tersebut, kamar itu memiiki sentuhan feminim yang hangat. Tidak kentara, juga tidak minim. Beberapa produk kecantikan ada di sana, menerangkan bahwa seorang perempuan pernah berada di sana.
Luciel merasa nyaman tatkala dirinya merebahkan diri di atas ranjang berseprai putih. Matanya menatap langit-langit bersih berhiaskan bintang-bintang glow in the dark. Hidungnya pun turut bekerja, meraba aroma familiar beberapa tahun silam. Sebagian karena aroma kosmetika di sana, sebagian lagi karena 'trauma' di masa lampau.
Ia merindukannya.
Dan tertidur di sana selama beberapa jam untuk melepas lelah, sekaligus kangen.
Tidak sampai lima belas menit, 707 kembali sadar. Memutuskan untuk kembali melaksanakan tugasnya, Seven bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Tidak disengaja –lagi-, ia melihat sekeping CD mungil di atas meja. Beberapa detik mengamati membuat Seven mengenali piringan tersebut. Bersama senyum nostalgia, ia meraihnya dan memutusan untuk kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada.
…
Nostalgia yang memabukkan, membuatnya manja seperti bayi.
Di saat yang bersamaan, sesuatu membuatnya kembali ke realita. Ketika suara alarm dari perangkatnya berbunyi, 707 mendekatkan wajahnya ke salah satu monitor. Di sana ia melihat satu hal yang membuat matanya membulat. Bukan hal yang dinantikan, namun sangat bagus karena didapatkan. Secara tidak sengaja pula.
"Gotcha."
21.50
Aku memandangi diriku sendiri di cermin. Baru saja aku selesai mandi untuk merasa lebih segar. Percakapan dengan Seven sebelumnya telah membuatku berpikir bahwa menyerah saat ini pun tidak ada gunanya. Aku mencintai Zen dan kurasa ia pun merasakan hal yang sama. Aku tidak mau menyakiti Zen, tentu saja. Namun itu bukan berarti aku lebih memilih Zen daripada Daehee. Maksudku, aku akan menghadapi ini mulai sekarang. Aku akan berusaha untuk membuatnya mengerti bahwa tidak ada yang salah di sini.
Seven sangat menginspirasiku.
Sebagai ucapan terima kasih, aku akan meluangkan sedikit gajiku untuk membelikannya tart dari Olivio Cello.
Eh..
Ngomong-ngomong, berapa harga tartnya, ya?
Hei, Haneul…
Kau tidak boleh pelit!
Sekali ini saja..
Toh, kau pun jadi dapat berpikir dari sisi yang lain karenanya.
Saat dilema soal tart untuk Seven melanda –antara sayang uangnya dengan adat berterima kasih-, ponselku berdering. Saat kulihat layar, aku mendapati nama Zen tertera sebagai pemanggil.
Aku sudah kukuh pada niatku untuk terus bersama Zen. Karenanya, aku angkat panggilan itu. Untuk kembali 'melanjutkan hidup' sekaligus meminta maaf karena telah mengabaikan puluhan panggilan dan pesan darinya.
"Halo, Zen?" sapaku duluan.
"Oh. Akhirnya kau mengangkatnya, Haneul. Kau ke mana saja? Apa kau baik-baik saja? Kau sudah makan?"
"Oh… Euhm… ya, baru saja. Kau sendiri, Zen?"
"Ah.. ya. Aku sudah makan. Kau tidak perlu khawatir. Kau tahu? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Soal.. rumor itu.. apa kau sudah mengetahuinya?"
Aku mendudukkan diriku di tepi ranjang. Pelan sekali, kuhembuskan nafas panjang sebagai tanda penderitaan di setiap kali mengingat apa yang terjadi hari ini. Keputusan untuk melanjutkan hidup memang mudah, tapi pelaksanaannya butuh mental yang baja. "Ya. Aku sudah mengetahuinya."
"Lalu… apa sesuatu membuatmu tidak nyaman? Kau bisa menceritakannya padaku. Apapun itu. Maksudku, aku mendapati banyak orang menulis hal-hal buruk di sana-sini. Aku ingin kau merasa lebih baik dan aman bersamaku. Aku ingin melindungimu."
"Oh.. Soal itu, aku tidak begitu memikirkannya. Hehe. Mereka yang menulis itu, aku yakin mereka sedang emosional. Aku mengerti perasaan mereka karena aku pun adalah fans-mu, Zen." Semoga saja Zen percaya pada akting tabahku ini. Aku tidak mau membuatnya khawatir.
"Hmm.. Kau sungguh baik karena masih dapat berpikir demikian. Aku semakin yakin bahwa kau benar-benar spesial. Sulit sekali mencari perempuan sepengertian dirimu, Haneul. Aku benar-benar merasa beruntung karena dipertemukan denganmu. Kau sangat baik. Banyak orang di luar sana yang merasa kesulitan untuk bersikap kuat jika berada di posisimu."
Zen..
Maaf…
Tapi sebenarnya..
… Aku tidak sekuat itu…
"Maaf, Haneul. Karenaku, kau terlibat skandal seperti ini. Semua ini pasti benar-benar mengganggumu. Kau tahu? Aku sempat berpikir bahwa kau marah padaku sehingga tidak mau mengangkat dan menjawab semua panggilan dan pesan dariku."
"Oh… Tidak. Bukan karena itu. Aku hanya istirahat panjang hari ini. Deadline novelku. Aku mengerjakannya hingga jam 4 pagi hari ini. Itu pun masih kurang sempurna. Jadi… maaf. Aku tertidur pulas sejak siang." Rasanya tidak enak sekali harus berbohong seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan. Aku tidak boleh membuat Zen khawatir. Ia punya proyek besar dan harus fokus ke sana.
"Hmm.. begitu. Syukurlah jika kau tidak marah. Hnn.. Haneul?"
"Ya?"
"Apa kau punya waktu? Sepuluh menit saja. Aku ingin bicara padamu."
"O-oh.. Tentu. Aku ada di sini. Apa yang mau kau bicarakan?"
"Mmm… Tadi, Echo Girl datang ke apartemenku. Maksudku… uhm… tidak. Dia hanya sampai di lobi saja. Ehm, maksudku ya. Dia datang ke apartemeku, tapi kita hanya bertemu di lobi. Tidak ada yang lebih. Jadi, jangan salah paham, oke? Dan… banyak hal terjadi saat dia datang. Lalu… aku batal mengambil proyek itu."
