Good evening, Everyone.

Today, Wednesday, February 25th. I finally had some time to finish this chapter up so I could published it without hesitation.

And here it goes, the 10th chapter of the whole fic. Also the 1st part of 4th chapter.

My time was... you know, consumed by real life stuff since all my brothers-and my deceased father-had birthday in February.

And I almost lost my precious flashdisk-along with the whole in-progress fic of mine, so... it takes some time.

Then I found it, but my brother's birthday was near... so again, it was postponed.

But this week, however, I finally manage to had a time to sit and type. Therefore, it's done.

Last but not least, I hope this chapter could paid for my late update... and that it's worth to wait.

Anyway, happy Reading~


Disclaimer: Mobile Suit Gundam SEED and all of its characters belongs to Yoshiyuki Tomino, Sunrise, and Bandai respectively

Rate: T, hmmm... I guess T it is. Feel free to let me know if I should change it, Ok?

Genre(s): Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort, etc

Pairing(s): Kira Yamato(though I used Hibiki here)/Lacus Clyne

Warning(s): AU, Divergence Fanfiction, OOC-ness, Typo(s), ER, FT, etc

Pairing might change without prior notification in later chapters


Carte de Dragoste

Chapter Three

Part 1—Marionette

Snowdrop Lynx

2015


"Bagiku, kau adalah segalanya. Tetapi apakah… bagimu aku hanya seperti boneka sandiwara malang yang tak bertuan?"

...

Lacus menghirup napas dalam-dalam, dan tersenyum.

Hari ini, untuk pertama kalinya ia bisa berada di luar kamar pribadinya di apartemen yang ditinggalinya berdua dengan Kira setelah diterimanya pemuda itu di Universitas PLANTs September lalu.

Matanya menatap langit yang tampak muram karena perpindahan musim pada akhir bulan Oktober. Berbeda dengan suasana hatinya yang cerah berbinar.

Dalam kesunyian gadis itu mengagumi keindahan alam dari tempatnya di atas kursi roda.

Dibelakangnya, tampak seorang pemuda berambut coklat dengan sepasang mata amethyst yang menurutnya sama indahnya dengan permata aslinya. Pemuda itu—Kira Hibiki, tampak kasual dalam balutan pakaian musim dinginnya. Sedikit berbeda dengan pakaian bernuansa vintage yang dikenakan Lacus pada siang ini.

Gadis itu menolehkan kepalanya kearah si pemuda yang berada tepat dibelakangnya dengan kedua tangannya menggenggam stang kursi roda Lacus. Dan senyum cerah yang menghiasi wajah pucatnya terlihat memudar saat melihat ekspresi yang bermain diwajah teman semasa kecilnya itu.

Kira berwajah sendu, dan menatap kedepan dengan pandangan kosong seakan jiwanya tidak berada disana. Ia tidak bergeming saat gadis itu menatapnya dengan sorot sendu yang berbeda menghiasi iris cerulean-nya. Dan Kira tetap membisu—bahkan seperti tidak menyadari apa-apa, sampai beberapa menit setelahnya.

"Ada apa, Lacus-san?" tanya pemuda itu sambil tersenyum kearah sang gadis yang kini justru terdiam tak bersuara. Memang, suara gadis berambut merah muda cerah itu telah hilang sekian tahun yang lalu dalam kecelakaan lalu lintas yang nyaris menghilangkan nyawanya, tapi diamnya ia kali ini memiliki alasan yang sama sekali berbeda.

Lacus bahkan tidak merespon Kira dalam bentuk anggukan atau senyuman, tetapi gadis itu terus menatap sang pemuda dengan sorot menelusuri. Dalam hati ia berharap bisa mengerti apa yang sebenarnya diinginkan pemuda itu. Bukankah ia sendiri yang telah menyetujui perjodohan ini? Lacus bertanya-tanya dalam hati, teringat akan penjelasan dari ayahnya beberapa waktu yang lalu.

...

"Lacus, putri kecilku" Siegel Clyne berkata dengan suara pelan yang terdengar lembut seraya duduk disamping tempat tidur putri bungsunya, Lacus.

Sebelah tangannya menggenggam tangan gadis itu lalu mengusapnya perlahan-lahan dengan maksud membangunkan anak perempuannya yang sedang terlelap saat itu.

Menyadari sentuhan lembut ditangannya, gadis itu pun membuka kedua matanya. Dan tidak begitu terkejut mendapati kehadiran ayahnya disisinya. Mata cerulean itu tersenyum seiring terangkatnya sudut-sudut bibir gadis itu. Ia tersenyum, lalu menyapa sang ayah dalam gumaman bisu.

"Anakku" kata Siegel lagi "Ayah membawa kabar gembira untukmu"

Lacus menggerakkan mulutnya untuk mengatakan 'apa' meski tak ada suara yang keluar dari sana.

Namun sebagai ayah dari seorang gadis remaja yang menderita kelumpuhan total sejak ia masih kecil—Siegel sudah mampu untuk membaca gerak bibir dan segera ia mengetahui apa yang hendak dikatakan oleh gadis itu.

"Pemuda itu… Kira Hibiki, telah menyetujuinya" ujar pria berambut pirang kelabu itu, matanya yang sewarna dengan mata Lacus dipenuhi sorot lembut "Dia sudah setuju untuk menikahimu setelah dia lulus kuliah, dan dia juga setuju pada keputusanku untuk menunangkan kalian selama ia menjalani masa kuliahnya"

Mata besar Lacus membulat sempurna mendengar ucapan ayahnya. Ia tidak pernah menyangka, bahwa Kira akan menyetujuinya. Pemuda itu punya kehidupan, Lacus tahu itu. Ia bahkan telah memiliki bidadarinya sendiri, seorang yang mengisi relung hatinya. Tapi kenapa…? Ya, kenapa?

...

Lacus selalu bertanya-tanya dalam hati sejak hari itu. Hari dimana ayahnya memberitahunya bahwa Kira menyetujui rencana perjodohan itu. Dan sekarang setelah menelusuri jejak emosi dalam mata amethyst Kira selama beberapa menit, ia baru mengerti dan mendapatkan jawaban yang ingin diketahuinya. Bahkan tanpa Kira harus mengatakan apa-apa kepadanya.

Kira menerima perjodohan ini karena pemuda itu mengasihaninya, dan merasa hal itu adalah sebuah keharusan agar pertengkaran di antara kedua orangtua mereka tidak menjadi lebih buruk dari apa yang sudah terjadi. Tidak lebih. Bahkan rasa sayang yang diharapkannya tidak ada dibalik semua ini. Ia tahu itu sekarang. Dan tentu saja hal itu menyakitkan.

Rasanya begitu sakit di dadanya. Benar-benar menyiksanya.

Menurutnya ia lebih baik mati sekarang juga daripada harus menerima rasa sakit ini. Atau mungkin… rasa sakit inilah yang akan membunuhnya tanpa suara… seperti dirinya sendiri.

Segera, sang gadis mengangkat kepalanya dan berusaha menggerakkan tangannya sendiri, sekadar memberi kontak pada kursi roda otomatisnya untuk berjalan. Namun seperti sebelumnya—dan sebelum-sebelumnya lagi, ia tidak bisa.

Tangannya bukan lagi miliknya sejak hari itu.

Seharusnya ia tetap menerima kenyataan itu dan balik memberi isyarat pada sang pemuda untuk mendorongkan kursi roda itu untuknya.

Tapi kini semua tidak seperti sebelumnya.

Lacus—dengan keadaannya yang serba terbatas—hanya mampu meneteskan airmatanya dengan kepala tertunduk. Tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

Dan Kira menyaksikan semua itu. Sementara ia hanya menatap gadis itu dengan pandangan tak mengerti sepenuhnya.


"Meer…"

Gadis berambut lurus dengan warna merah muda itu terkesiap ketika mendengar suara yang memanggilnya. Suara itu… ia mengenalnya. Sangat mengenalnya.

Itu adalah suara milik saudara kembarnya, Lacus… sebagaimana yang selama ini sering didengarnya dari gadis itu.

"Lacus…" seraya berusaha membuka kedua matanya, Meer mengucapkan nama saudara kembarnya yang malang. Dan bahkan sebelum ia mendengarkan suara Lacus, semilir angin musim semi dan bau rumput serta rumpun bunga mawar yang mampir melalui indera pembaunya membuatnya tersadar akan keberadaannya saat ini. Ia pasti—seperti biasanya ketika Lacus mengajaknya berbicara—berada di alam mimpi milik saudaranya itu.

"Ya" suara Lacus yang ringan terdengar getir di telinga Meer, lantas membuat gadis itu segera membuka matanya dan bangkit dari posisinya yang terbaring di atas rumput.

Kepalanya ditolehkan ke arah Lacus dan matanya menatap saudaranya itu dengan intens "Ada apa, Lacus?"

Tidak seperti hari-hari kemarin dimana Lacus akan mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan sekumpulan bunga mawar putih tergenggam di antara kedua tangannya, kali ini saudari berambut ikalnya itu hanya menunduk dengan pandangan menyapu rumpun mawar dibawahnya.

Tentu saja sebagai saudara, Meer segera tahu bahwa gestur itu menyatakan dengan jelas bahwa saudaranya sedang memiliki masalah, dan ia juga tahu—secara naluriah, bahwa sudah sepatutnya ia menanyakannya. Terutama karena Lacus—sebagaimana yang dikenal Meer sejak kecil, merupakan tipe pribadi yang cenderung tertutup mengenai urusan pribadinya.

"Tidak biasanya kau diam, Lacus. Ayo, ceritakan masalahmu! Aku tidak mau terlalu lama disini, bisa-bisa nanti aku disangka koma"

Menyadari dirinya tengah diomeli, Lacus segera mengangkat kepalanya dan mencoba tersenyum meski kelihatan sekali—dalam pandangan Meer—bahwa senyumnya sangat tidak alami. "Ya, kau benar"

Hela napas lalu terdengar dari Meer, yang kemudian melemaskan bahunya. Sekalipun ini mimpi, ia tahu sebaiknya suasana tidak dibiarkan menegang seperti ini. Dan untuk itulah, ia memutuskan untuk melemaskan bahunya, lalu tersenyum simpul.

"Kira"

Suara Lacus ketika mengucapkan nama laki-laki yang saat ini berstatus tunangannya itu terdengar seperti orang yang baru saja divonis penyakit mematikan. Dan itu jelas membuat Meer mengernyitkan dahinya heran.

"Kenapa? Ada apa dengan laki-laki itu? Apa dia melakukan sesuatu padamu disana?" tanya Meer bertubi-tubi, ekspresinya tampak gemas bukan main.

Lacus menggeleng pelan, dan tersenyum meski rona kesedihan jelas terlukis diwajahnya "Tidak, dia tidak melakukan apa-apa"

Kemudian gadis itu menghela napas "Tapi aku ingin kau membawaku pulang, Meer"

"Hah?" sebelah alis Meer terangkat dengan wajah heran "Kenapa?"

"Karena aku tidak bisa memainkan sandiwara ini lagi, Meer. Terlalu sulit dan terlalu menyakitkan"

"Maksudmu?"

"Hm" Lacus menghela napas pelan "Kira tidak pernah mencintaiku. Dia menerima perjodohan ini semata-mata karena rasa kasihan dan keinginannya untuk menghentikan pertengkaran Papa dan kedua orangtuanya, tidak lebih. Dan aku tidak mau melanjutkan hubungan yang seperti ini, menyakitkan. Karena itu kumohon, bawa aku pulang, biarkan aku kembali ke rumah dan biarkan Kira kembali ke kehidupannya dan gadisnya"

Tentu saja Lacus menyimpan bagian terakhir itu untuk dirinya sendiri, dia tidak mungkin memberi tahu Meer atau saudara kembarnya itu akan mengamuk dan menghajar Kira untuknya.

Mata cerulean Meer membulat terkejut, Kira… laki-laki itu…

"Ka-u yakin?" tanya Meer terbata, merasa frustasi seketika karena rencana untuk membahagiakan Lacus yang telah ia susun bersama sang ayah selama bertahun-tahun tersia-sia begitu saja karena faktor yang manusiawi, yaitu kenyataan bahwa Kira Hibiki—laki-laki yang merupakan pion utama dalam rencana mereka, tidak lagi menyayangi Lacus seperti sebelumnya.

"Mm" jawab Lacus pelan seraya mengangguk, rona matanya kelihatan redup dan saat itu Meer menyadari sepenuhnya bahwa apa yang baru saja dikatakan Lacus adalah sesuatu yang benar-benar telah dipastikannya.

"Tapi Lacus… apa benar, ini yang kau inginkan?"

Pertanyaan itu singkat, tapi cukup untuk membuat gadis berambut ikal itu terkejut sedemikian rupa hingga mawar-mawar putih yang sudah terkumpul di antara kedua tangannya terjatuh kembali ke atas rerumputan yang masih menari-nari dalam hembusan semilir angin.

"Aku…" Lacus mencoba menjawab, meski suaranya terdengar ragu-ragu dan nada bicaranya seperti orang yang kebingungan "Aku… tidak tahu"


Lacus Clyne menemukan airmata mengaliri pipinya ketika ia membuka mata di dalam kamar pribadinya yang sunyi itu.

Gelap.

Suasana kamarnya masih tampak begitu gelap hingga Lacus sedikit ragu apakah benar hari itu telah sampai pada waktu pagi ataukah sebenarnya ia hanya terbangun pada paruh akhir dari waktu malam.

Dalam heningnya suasana malam yang berselimut kesunyian, Lacus Clyne membiarkan dirinya terisak-isak tanpa suara kecuali tarikan napasnya yang sesegukan.

Ia kembali merenungkan beberapa hal.

Tentang keputusannya memberitahu Meer mengenai Kira.

Tentang Meer, tentang ayahnya… dua orang yang begitu dicintainya dan telah berkorban begitu banyak untuk dirinya.

Tentang ibunya yang pergi dari rumah dan kemudian meninggal, bahkan sebelum ia dan Meer sempat berkenalan secara resmi dengan dirinya hingga mereka memutuskan untuk hidup dengan baik agar bisa bertemu dengannya di kehidupan yang lain.

Dan tentang dirinya, juga pertanyaan Meer kepadanya dalam mimpi.

Apa benar… inilah keinginannya?

Tidak.

Lacus bernapas tersengal-sengal ketika sebuah gagasan menyelinap ke kepalanya.

Ia tidak pernah menginginkan satu pun dari segala yang telah diterimanya sampai detik ini.

Dulu, pada waktu ia masih setengah sadar setelah kecelakaan itu, ia sudah memutuskan untuk mati, karena menurutnya lebih baik mati daripada harus hidup dengan segala keterbatasan dan ketidaksempurnaan.

Tapi tak seorangpun mendengarkan pendapat bisunya.

Dokter telah menawarkan suntikan eutanasia kepadanya, sebuah bentuk kematian yang cepat dan tidak menyakitkan. Tetapi ayah dan kakak kembarnya saat itu benar-benar menolaknya.

Mereka memilih untuk membiarkan Lacus hidup meski ia sudah seperti orang mati dari segi fisik.

Hidup segan mati tak mampu.

Sekali lagi Lacus memejamkan matanya dalam kesunyian.

Tampaknya kalimat itu terasa begitu tepat untuknya.

Ah, pikir Lacus. Sepertinya kalau kepada orang itu, ia bisa menyampaikan keinginannya yang sesungguhnya.


Setelah mengantarkan Lacus ke kamarnya dan mematikan lampu, Kira menutup pintu dan beranjak meninggalkan kamar itu untuk kembali ke kamarnya sendiri yang berada tepat di samping kamar gadis itu.

Tetapi ketika suara berdebum pintu yang tertutup melintas di telinganya, Kira berubah pikiran. Ia pun lalu mengubah haluan, dan memutuskan untuk melangkah ke ruang tengah lebih dulu sebelum kembali ke kamar.

Setelah menuangkan segelas kopi panas untuk dirinya sendiri, Kira duduk di sofa yang terletak di depan mesin penghangat mungil di apartemen pribadinya di PLANTs.

Dan ia mulai berpikir untuk merenungkan semuanya kembali, sekali lagi.

Kira menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan, lalu mulai mengurutkan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sejak kecelakaan itu menimpanya—menimpa dirinya dan Lacus.

Tapi ketika memikirkan hal itu, tanpa sengaja ia bergeser ke alam mimpi, bersama sebuah memori yang terkubur selama ini.

...

"Kibi, kita pulang yuk!" gadis berambut merah muda itu mulai menggelayuti tangannya dengan gestur manja, bibirnya mengerucut.

"Tapi Lala… aku masih mau main" pemuda kecil itu tampak enggan, ditangannya masih tergenggam sebuah sekop plastik dan didepannya terdapat sebuah gundukan pasir kecil yang menyerupai sebuah bukit.

"Kibi…"si gadis tampak semakin memaksa, dan melihat keadaan temannya, si pemuda kecil hanya menyunggingkan senyum dan menyudahi permainannya.

"Yuk!"

Kedua anak kecil itu lalu bangkit dan membereskan bak pasir tempat mereka bermain. Kemudian dengan membawa alat-alat yang tadi mereka gunakan untuk bermain, keduanya melangkah meninggalkan bak pasir itu.

Si anak perempuan kecil berambut merah muda itu melangkah dengan ayunan ringan setengah melompat-lompat, sementara si anak laki-laki memandangi temannya sambil tersenyum. Sepertinya ia menyukai sikap ceria teman perempuannya itu.

Gadis kecil itu lalu berbalik dan menghentikan langkahnya. Tindakannya membuat si anak laki-laki kecil turut menghentikan langkahnya dan menatap si gadis dengan sorot bingung menghiasi kedua bola mata amethyst-nya yang besar.

"Kibi, apa kau tahu?" tanya si gadis kecil dengan wajah tersenyum lebar

Si anak laki-laki menggeleng "Tidak, apa yang harus aku tahu?"

"Hm…" gadis kecil itu tersenyum semakin lebar, sekarang deretan giginya yang sedikit berjarak antara satu dan lainnya karena usia terlihat jelas, sekalipun begitu, ia tetap saja tersenyum lebar.

"Și eu te iubesc"

"Hah?"

Gadis kecil itu mendekat, dan tersenyum lebar tanpa menampakkan gigi-giginya.

"Și eu te iubesc itu artinya aku mencintaimu… Kira"

Pemuda kecil itu memiringkan kepalanya, sedikit berharap mendapat penjelasan lebih. Tapi tak lama sepertinya ia sudah bisa mencerna kata-kata temannya, dan menyadari maksud perkataannya.

"Eeehhhh?!"

"Hm-hm" gadis kecil itu mengangguk-angguk "Sekarang aku sudah bisa menyebut namamu dengan benar, Kira"

"Lala… maksudku… Lacus" bola mata bocah itu melebar dan berbinar-binar, seakan-akan hal itu sudah diinginkannya sejak lama.

"Lacus suka padaku?" kembali memasang wajah heran, Kira menunjuk ke arah dirinya sendiri dan bertanya polos

"Yup" gadis itu menggangguk lagi "Aku suka pada Kira"

"Dan ini bukan suka sembarangan" terang Lacus, sok dewasa seperti kedengarannya "Aku bukan suka Kira seperti teman, atau adik, atau kakak, atau keluarga. Aku suka Kira, seperti papa suka mama"

"Tapi..." tanya Kira lagi "Kedua orangtuamu kan, berpisah?"

Dahi gadis kecil berambut merah muda itu mengernyit "Iya ya…"

"Kalau begitu aku suka Kira seperti papanya Kira suka sama mamanya Kira!"

"Ooohh"

Kira tersenyum tipis "Aku juga… aku juga suka Lacus seperti papa suka mama… suka yang, seperti mau menikah kan?"

"Ngg"

Setelah saling mengakui hal itu, keduanya lalu berjalan bersisian kembali ke arah rumah Lacus yang berada di seberang jalan.

"Și eu te iubesc~ şi eu te iubesc~ şi eu te iubesc~"

Si gadis kecil mengucapkan kalimat itu berkali-kali dengan nada bersenandung riang, sementara si pemuda kecil mendengarkannya sambil tersenyum tersipu-sipu karena ia mengetahui arti dari kata itu dan maksudnya, bahkan mungkin lebih dari si gadis kecil yang terus melantunkannya.

Lalu… kecelakaan itu terjadi.

Kejadiannya begitu cepat. Tiba-tiba saja sebuah wagon hitam meluncur dengan kecepatan tinggi dan nyaris menghantam tubuh si pemuda kecil yang tengah menyeberangi jalan di depan rumah besar itu.

Tapi si gadis kecil yang telah menyeberang lebih dulu menyaksikan hal itu, dan mendorong temannya menjauh. Meski tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukan hal tersebut dan yang terjadi malah berdampak buruk kepadanya.

Sementara si pemuda kecil hanya terluka di bagian tangannya, yang masih berpegangan pada tangan gadis kecil itu.

Si gadis kecil terbaring di atas aspal, dengan helaian rambut merah muda bersimbah darah dan napas yang tersengal-sengal karena luka-luka yang dideritanya.

Dan ia—dalam napasnya yang sulit, masih saja berusaha memanggil-manggil nama si pemuda kecil, sekadar memastikan temannya… teman yang disukainya itu… baik-baik saja.


Sebutir airmata mengalir membasahi pipi pemuda berkulit kecoklatan itu tepat ketika akhirnya ia membuka kedua bola mata amethyst-nya dan menatap garis-garis sinar matahari yang menyusup melalu sela-sela gordennya.

Mimpikah dia semalam? Ataukah semua itu adalah kenangan lama yang sesungguhnya?

Kalau benar begitu… berarti dia, kehidupannya… adalah hadiah dari cinta pertama yang luput dari ingatannya selama bertahun-tahun.

"Lacus… Lacus Clyne…"

Kira menyadari bahwa airmata mengalir pelan di salah satu pipinya ketika ia terbangun dan menggumamkan nama gadis berambut merah muda itu. Merasa begitu bersalah telah mengabaikannya.

Tapi benarkah? Benarkah itu yang dirasakannya?

Kira tidak tahu.

Yang jelas, dia tidak mau menyesal dan dia tidak mau dianggap orang yang tidak bertanggung jawab.

Dan lagi jelas Lacus lebih membutuhkan dirinya dibanding Fllay.

Namun… bagaimana dengan dirinya sendiri?

Kira menghela napas dan suaranya terdengar berat seperti melepaskan beban. Lalu berpikir untuk mengesampingkan masalah ini, tapi kemudian teringat bahwa ia tidak ada jadwal untuk hari ini. Jadi mungkin lebih baik jika ia bisa menuntaskannya, sebelum hari ini berakhir.

Mata amethyst pemuda itu menangkap angka 7 dan 15 ketika ia melirik ke arah layar monitor alarmnya setelah kembali dari kamar mandi.

Tepat, pikirnya. Ia tidak terlambat dan masih sempat mengurus gadis itu—Lacus Clyne, tunangannya. Sekalipun perasaan apa yang dirasakannya tentang gadis itu masih sama samarnya dengan ingatan kepadanya.

Seusai berpakaian rapi, Kira beranjak keluar kamar. Berpikir untuk memasak sarapan terlebih dahulu sebelum membantu Lacus dan berbicara kepada melalui alam mimpi—seperti bagaimana Lacus berbicara kepadanya sebelum ini.

Waktu menunjukkan pukul 8 kurang 5 menit ketika Kira telah selesai sarapan, dan ia mulai beranjak ke kamar Lacus.

Ritual yang harus di jalaninya sejak pertunangan itu—tepatnya sejak ia lulus sekolah setelah Lacus resmi menjadi tunangannya dan mereka pindah ke PLANTs dimulai dari mengecek apakah gadis itu sudah bangun atau belum.

Dan dilanjutkan dengan membantunya bersih-bersih—ini adalah hal yang sulit mengingat Kira hanya seorang laki-laki normal berusia 18 tahun, dan karena ia memilih untuk tinggal di apartemen, maka mau tidak mau ia harus memandikan gadis itu sendiri. Dan jelaslah dimana letak kesulitannya—kemudian tugas berikutnya adalah menyuapi gadis itu, yang untungnya tidak begitu sulit karena Lacus sangat penurut.

Lalu setelah memastikan gadis itu siap ditinggal, Kira berangkat.

Tapi kali ini, dia memutuskan untuk menambahkan satu hal lagi dari ritualnya. Mengingat berangkat kuliah tidak masuk agenda.

Dia harus berbicara, dengan Lacus. Kemudian dengan Fllay.

Dengan Lacus, Kira tahu ia harus membahas masa lalu. Dan mencoba untuk melihat apakah perasaannya pada masa itu masih berlanjut atau sudah berlalu.

Dan dengan Fllay, ia harus membicarakan masalah status hubungan mereka yang tidak jelas. Tapi setidaknya mereka belum putus.

Jadi pada pukul 10 pagi Kira menemui Lacus di kamarnya, dan mengambil kursi kemudian duduk di sampingnya.

"Lacus" kata Kira, suaranya terdengar serius "Bisa kita bicara?"

Mata cerulean gadis itu membulat sebentar—kelihatannya dia terkejut, namun tak butuh waktu lama baginya untuk mengerti dan mengangguk sambil tersenyum.

Tapi Kira bisa melihat kesedihan dalam matanya ketika ia tersenyum.

Dan setelah gadis itu memejamkan mata, barulah Kira mengikutinya ke alam mimpi. Dengan pertanyaan tentang sorot mata gadis itu masih menghantui ruang dalam kepalanya.


"Ada apa, Kira?" suara manis yang familier menyapa ketika Kira masih sibuk mengagumi keindahan alam mimpi yang dimiliki oleh gadis berambut merah muda itu, dan kemudian ia menoleh.

"Lacus" kata Kira, suaranya terdengar ragu "Itu pertanyaanku"

Gadis itu memiringkan kepala dan matanya membulat dalam kebingungan "Apa maksudmu?"

Kira menghela napas "Berhentilah berpura-pura, Lacus. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu"

"Menyembunyikan... sesuatu" kali ini Lacus yang berkata muram "Bukankah itu kau sendiri?"

"Aku tahu kau tidak menerima pertunangan ini karena mencintaiku, Kira. Aku memang tidak bisa bicara, atau bergerak. Tapi bukan berarti aku menjadi bodoh"

"Aku tahu" Kira berkesah, merasa tertusuk dengan kebenaran dari kata-kata itu "Aku tahu kau tidak sebodoh itu"

Lacus terdiam, dan melihat raut wajah Kira yang berubah sedih saat ia menunduk memunculkan perasaan tidak enak di kalbunya.

"Aku ingin mati, Kira"

Kedua alis Kira bertaut, dan ia terlihat bingung seketika "Hah?"

"Benar" ujar Lacus, suaranya mulai melirih "Aku ingin mati, Kira"

"Kenapa?" tanya Kira, begitu spontan sampai ia berniat untuk menelan pertanyaannya kembali. Meyakini itu bukan urusannya.

Tapi Lacus lebih dulu menjawab, bahkan sebelum ia bisa mengucapkan sepatah kata untuk menarik kembali kata tanya itu.

"Kenapa? Hmm… mungkin jawabannya… karena aku sudah lelah. Aku lelah hidup seperti ini. Aku lelah dengan cara hidup begini. Aku tidak mau lagi bangun dan hanya bisa tersenyum atau menangis. Aku bosan selalu menjadi beban. Aku malu pada semua orang yang membantuku. Dan aku… aku tidak mau terus menerus hidup dalam belas kasihan orang-orang"

Kira terhenyak mendengar penuturan yang terucap dari bibir gadis bermata cerulean itu. Tak menyangka bahwa ia bisa berpikiran sejauh itu. Tak pernah mengira bahwa ia akan pernah bertemu dengan seseorang yang meyakini bahwa kematian jauh lebih baik daripada kehidupan.

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Kira tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalas perkataan gadis itu.

"Dan kuharap kau mengerti, Kira. Atau kau sama saja dengan Meer dan Papa?"

Kira mengangkat kepalanya, dan menatap mata balik ke mata Lacus yang tampak begitu serius. Lalu sebuah gagasan tiba dikepalanya, sebagai kesimpulan dari keluhannya.

"Pak Siegel dan Meer, huh? Mereka pasti tidak membiarkanmu mati"

"Benar" lirih Lacus, sekali lagi. Tapi kali ini suaranya sendu "Ataukah kau berbeda? Apakah kau setuju denganku?"

Kira menurunkan pandangannya, dan dengan suara yang ia tidak yakin terdengar seperti apa ia menjawab Lacus dengan jawaban yang sama dengan yang diberikan Meer kepada sang gadis.

"Aku… aku tidak tahu"


A/N: Well, the first part of Third Chapter... which I should say, it's getting closer to the end.

Cause, you know... when I first made this. I decided that the 'Book Part' would only take 3 chapters, with each chapter consists of 4 different romance.

But, then again. I notice that I couldn't make a good end with just 3 chapter, I need more chapter. And so I think this will be its climax, then the 4th would be a nice closing.

Anyway, thank you for those whose stayed with me until now. I hope this worth of your time waiting.

Cheers,

.

Snow