Chapter 10

Kim Minseok – EXO Member

Other

DLDR, BL, Straight, PG-13, Little bit humor (I hope), Brothership, Friendship

By. Feyy

.

.

.

Preview

"Emm, kalau tidak salah itu agensi artis kan? Tunggu! SM Ent. Aah, aku ingat sekarang. Wajah kakek mirip dengan pemilik agensi itu. Lee Sooman! Ya Lee Sooman. Benarkan Minhee? Bukankkah wajah kakek sangat mirip dengan Lee Sooman. Kita sering mengejek ayah mempunyai kembaran yang umurnya lebih tua dari ayah karena wajah mereka sangat mirip. Minhee? Kenapa kau diam saja? Aku benarkan?" Minseok mulai mengamati wajah orangtua juga kakeknya satu persatu yang malah menunjukan wajah datar mereka. Merasa dirinya telah salah bicara, Minseok memilih tersadar dari sesuatu Minseok langsung menatap wajah kakeknya dengan mata lebarnya.

"Tunggu, jangan-jangan kakek itu... "

.

.

.

"Ya, namaku Lee Sooman dan aku pemilik agensi itu. Sebaiknya sekarang kau beresi barangmu dan segera kita pergi ke Seoul."

"Tunggu, tunggu. Kenapa aku harus tinggal dengan kakek dan harus menjadi trainee di agensi kakek?" Minseok melihat kedua orangtuanya dan adiknya yang memilih diam.

"Karena itu adalah keputusan kakek."

"Aku tidak mau, aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Maaf kek"

"Kakek tidak bilang kau bisa menolaknya Minseok. Ini perintah dan kau tidak bisa membantah perintah kakek."

"Tapi,,, Ayah bisa jelaskan kenapa bisa seperti ini?"

"Ayahmu tidak akan bisa melakukan apapun Minseok. ini juga untuk kebaikanmu sendiri."

"Kebaikanku? Bagaimana ini bisa untuk kebaikanku sedangkan aku saja aku tidak menginginkannya." Minseok mulai tidak terima dengan keputusan orangtuanya juga kakeknya.

"Lalu apa yang kau inginkan? Melayangkan tinjumu sana sini dan pulang dengan keadaan babak belur seperti sekarang ini? Apa menurutmu itu lebih membanggakan, mengirim orang lain kerumah sakit akibat pukulanmu. Kau bangga karena sudah berhasil mengirim seseorang kerumah sakit karena ulahmu?" Pertanyaan kakeknya benar-benar mengenainya dan tiba-tiba Minseok kehilangan kata-katanya. "Jawab jika perkataan kakek salah Minseok."

"Turuti saja perintah kakekmu Minseok." Ayahnya berucap dan membuat Minseok membelalakan matanya terkejut.

"Benar Minseok, ibu lebih memilih rencana kakekmu daripada kau terus berkelahi." Ibunya menambahkan dan Minseok semakin bingung.

"A-aku te-tetap tidak mau. Kalian tidak bisa memaksaku seperti ini." Minseok mencoba membela diri.

"Sekarang ini pilihanmu Minseokah, kau ikuti rencana kakemu atau home schooling?" Pertanyaan ayahnya barusan membuat Minseok makin terkejut tidak menyangka jika ayahnya akan mengancamnya denga hal itu.

"Ayah! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Ini tidak adil!" saking tidak terimanya kini Minseok berdiri manatap ayahnya tajam.

"Ayah bisa melakukan apapun padamu, karena aku adalah ayahmu." Ayahnya berkata dengan nada tegas.

Kini Minseok dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tidak menguntungkannya sama sekali. "Beri aku waktu untuk memikirkannya." Minta Minseok.

"Kau putuskan sekarang" Tagas kakeknya dan Minseok makin frustasi. "Jika kau memilih trainee, hari ini kau akan langsung pergi ke seoul bersama kakek." Dan Minseok ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang.

"Emmm, ma-maaf kakek." Suara pelan Minhee mengejutkan Minseok yang sedang diambang kegilaannya.

"Ya Minhee, katakan apa yang ingin kau katakan." Perintah kakeknya lembut, berbeda sekali dengan perintahnya pada Minseok dan Minseok hanya bisa mencibir dalam hati.

"Bukankah aneh jika Seokie oppa (Minseok berfacepalm mendengar panggilan sayang adiknya padanya) langsung menjadi trainee di agensi kakek. Seokie oppa bisa dibenci oleh trainee lainnya jika tahu Seokie oppa masuk begitu saja karena Seokie oppa adalah cucu CEO dari SM Ent." Walaupun Minseok sangat terganggu dengan panggilan adiknya tapi dia sangat bersyukur dengan ucapan Minhee.

"Lalu menurutmu Minseok harus mengikuti audisi pencarian bakat seperti lainnya?" Tanya sang kakek tetap dengan nada lembutnya.

Minseok sangat senang mendengar usulan itu, karena Minseok pernah dengar jika mengikuti audisi di SM Ent. itu sangat sulit intuk lolos, dan Minseok sudah mulai menyusun rencana untuk audisinya nanti.

"Aku punya ide yang lebih baik." Minseok menoleh waspada kearah Minhee mendengar kata ide lain disebutkan. "Kemarin temanku memberitahuku jika SM Ent. sedang mengadakan kontes menyanyi bernama everysing contest yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Seokie oppa bisa ikut dalam kontes itu, aku yakin oppa pasti menang dan kakek bisa menjadikan Seokie oppa sebagai trainee di SM Ent." Setelah mendengar ide Minhee, rencana Minseok seoalah-olah hilang begitu saja menjadi asap.

"Aissh." Minseok manarik rambutnya frustasi. "Baiklah. Aku akan melakukan apa yang kalian inginkan tapi kalian harus menuruti syarat yang aku berikan." Minseok berkata dengan nada bersungguh-sungguh. "Tidak ada yang boleh tahu bahwa aku adalah cucu dari Lee Sooman, dan kakek tidak boleh ikut campur dalam kontestku nanti. Apapun keputusan juri kakek tidak boleh melakukan apapun. Deal?" Minseok bertanya dengan nada serius.

"Deal. Tapi jika kau tidak sungguh-sungguh dalam kontes itu jangan salahkan kakek, jika kakek bertindak sendiri" Ucap kakek Minseok dengan nada tegasnya.

"Ah, dan satu lagi. Aku tetap tinggal disini. Kakek sudah bilang deal, jadi kakek harus menurutinya juga."

Tuan Lee kelihatan keberatan namun pada akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju. "Tapi ingat jika kau terlibat dalam perkelahian lagi, aku akan mangirim orangku untuk menyeretmu langsung dari sini ke Seoul" Kakeknya memeringatkan dengan wajah serius.

"Yeah, baiklah. Aku akan berusaha." Minseok berucap dengan nada kalah.

Malamnya Minseok tidak bisa tidur karena terus memikirkan rencana untuk menggagalkan dirinya diacara kontes itu. Minseok frustasi karena tidak juga mendapatkan ide apapun.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Apa aku harus melarikan diri dari sini?"

"Apa aku harus. Arghhh, kepalaku sakit lagi. Hah! Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana." Minseok dengan kasar meminum aspirinnya dan meneguk air dengan kasar pula.

"Oppa?" kepala Minhee menyembul dari pintu kamar Minseok.

"Apa?" Tanya Minseok tajam, masih tidak terima dengan ide yang diusulkan adiknya tadi.

"Ini ada cake yang aku buat sendiri untuk minta maaf pada oppa." Kini Minhee memasuki kamar Minseok dengan membawa cake dengan ukuran sedang sembil menudukkan kepalanya.

"Jangan seperti itu, aku tidak marah padamu. Cakenya kelihatannya enak. Gomawo." Minseok menampilkan senyum lebarnya agar adiknya tidak merasa bersalah lagi.

"Terima kasih oppa" Balas Minhee dengan senyum manisnya.

Minseok melihati cake buatan adiknya dengan konsentrasi penuh seolah-olah cake itu akan memberikan ide cemerlang untuk rencana penggagalan kontesnya.

"AHA! Aku tahu" Seolah mendapat ide maha cemerlang Minseok melompat gembira diatas kasurnya. "Baiklah. Mulai sekarang aku harus manambah menu makanku agar aku menjadi gemuk dan tidak menarik dan aku tidak akan masuk dalam trainee itu. Yes, Minseok kau memang jenius." Minseok terus berlonjak-lonjak kegirangan.

Dan sejak hari itu, Minseok memulai kehidupan tidak sehatnya. Dimulai dengan makan-makanan penuh lemak (Bersumber dari om google tentang makanan yang dapat menyebabkan kegemukan), menghentikan kegiatan olahraganya, bahkan Minseok berhenti berkelahi dan lebih fokus dengan misi menggemukan badannya. Orangtua Minseok tidak menyadari bahwa putra mereka mulai menambah menu makannya. Mereka berfikir bahwa itu karena pubersitas, dan membiarkan saat Minseok mengambil makanan yang berlebihan, dan bahkan membeli banyak snack dan minuman bersoda.

Sehari sebelum kontes berat badan Minseok naik hampir 10kg, membuat pipinya yang sudah chubby menjadi makin chubby dan makin membuatnya terlihat gemuk.

"Seharusnya aku bisa lebih gemuk dari ini." Minseok melihat bayangannya sendiri dikaca dengan pandangan menilai. Dia mulai menggembungkan pipinya agar terlihat makin gemuk.

Hari ini adalah hari yang akan mengubah seluruh kehidupan Minseok. Saat Minseok memasuki ruang tunggu untuk para audisi kontes dia mengamati bahwa semua orang sangat semangat untuk melakukan audisi kecuali dirinya tentu saja.

SKIP TIME

Saat sampai dirumah, orangtua Minseok hanya melihat heran saat Minseok pulang dengan wajah kusutnya.

"Kenapa dengan wajahmu? Apa kau gagal?" Tanya ayahnya penasaran.

"Huh. Aku masuk kebabak selanjutnya." Kata Minseok dengan nada lemas.

"Benarkah? Baguslah kalau begitu." Ayah dan ibunya memasang wajah bahagianya berbanding terbalik dengan Minseok yang memasang wajah murungnya.

Waktu berlalu dan disinilah Minseok. Duduk didepan meja kerja kakeknya dengan wajah kusut dan tidak minat hidupnya.

"Jangan memasang wajah seperti itu. Kau akan menjadi seorang bintang dan kau harus pandai mengatur ekspresi wajahmu didepan publik."

Bibir Minseok makin manyun mendengar nasehat dari kakeknya. "Kenapa rumit sekali, bahkan ekspresi wajah saja sampai ada pengaturannya. Kakek benar-benar tidak ikut campur dalam kontes itu kan? Kakek tidak bilang apa-apa pada orang-orang itu kan? "

Kakeknya memlilih diam menanggapi rentetan pertanyaan Minseok den terus melihat-lihat dokumen yang berisi tentang Minseok.

"Mulai sekarang kau harus diet, seingatku kau tidak segemuk ini. Dan berhentilah memakai hoodie kebesaranmu, itu membuatmu semakin terlihat gemuk. Apa kau sengaja melakukan ini?" Kakeknya menatap mata Minseok lekat mencari sesuatu yang Minseok sembunyikan karena mata Minseok memang tidak bisa berbohong dan itu suatu hal yang menguntungkan.

"Kakek tidak menjawab pertanyaanku dan aku juga tidak akan mejawab pertanyaan kakek." Jawab Minseok menantang kakeknya sendiri.

"Terserah kau saja, lagi pula aku tidak terlalu membutuhkan jawaban darimu." Kakeknya menanggapi dengan nada datarnya.

"Kakek! Ini benar-benar tidak adil." Bibir Minseok tambah manyun tanpa disadarinya.

"Sesuai dengan perjanjian kita, aku tidak ikut campur dalam audisi itu ataupun hal lain. Kau memang terpilih oleh penyelenggara audisi itu. Puas?" Tuan Lee akhirnya menjawab karena tidak tahan dengan tatapan menuntut cucunya.

Walaupun tidak terlalu puas dengan jawaban kakeknya, Minseok pun berhenti meneror kakeknya dengan pertanyaannya.

Kurang lebih selama tiga tahun Minseok menjalani trainee diperusahaan kakeknya sendiri dan selama itu pula tidak ada yang mengetahui bahwa Minseok adalah cucu dari Lee Sooman.

"EXO? Xiumin?" Minseok membaca berkas tentang group yang akan dimasukinya bersama dengan kesebelas orang lainnya. Saat ini Minseok kembali duduk didepan meja kerja kakeknya untuk membahas group barunya juga menadatangani kontrak debutnya sebagai member EXO.

"Ya, kau akan memulai debutmu sebagai member EXO M sabagai Xiumin. Itu nama panggungmu." Jawab kakeknya tenang.

"Sepertinya aku akan menjadi yang tertua dalam group ini dan aku akan debut sebagai member M. Jadi itu sebabnya kah aku harus belajar Mandarin." Minseok terus membaca berkas itu dengan teliti.

"Bukankah kau tidak suka diperlakukan seperti anak kecil. Dan sekarang kau akan menjadi member tertua dalam groupmu. Kurasa itu cocok." Diam-diam Minseok sangat senang dengan rencana kakeknya memasukannya kedalam group M, karena dia akan tinggal di Cina, selain itu dia tidak harus banyak bicara karena keterbatasannya dalam berbahasa selain itu Minseok tidak perlu mendapat banyak part dalam menyanyikan lagu-lagu groupnya nanti karena Mandari Minseok yang buruk. Dia hanya perlu diam dan tersenyum saat debutnya nanti.

"Yah, tidak buruk. Tapi ini pasti akan merepotkan, aku harus berbicara dengan bahasa Mandarin yang susah itu. Apa yang lain sudah diberitahu?" Minseok kembali membaca nama-nama orang yang akan menjadi teman satu groupnya nanti.

"Kau yang pertama. Karena kau yang tertua, kau bisa menjadi leader EXO M nantinya.

"Tidak mau." Jawab Minseok cepat setelah mendengar perkataan kakeknya barusan. "Sebenarnya aku punya beberapa persyaratan sebelum aku menandatangani kontrak perjanjian." Minseok berkata dengan nada tenangnya walaupun dia berusaha menyembunyikan senyum senangnya.

"Persyaratan lagi. Kau mulai terlalu banyak menagajukan persyaratan Minseok." Kakeknya terlihat tidak suka dengan perkataannya.

"Terserah kakek saja. Aku sudah sejauh ini menuruti semua kemauan kakek. Sedikit persyaratan tambahan kurasa tidak apa-apa." Minseok berkata dengan sedikit seringaiannya karena merasa akan menang dalam pembicaraan ini.

"Sebutkan persyaratanmu. Sabaiknya itu masuk akal jika ingin aku menyetujuinya." Kakenya berkata dengan nada sedikit mengalahnya.

Seringaian Minseok makin lebar mendengar nada mengalah kakenya. "Pertama aku tidak akan menjadi leader dari EXO M. Kurasa posisi itu akan cocok untuk member yang berasal dari Cina." Kakenya hanya menanggapi dengan anggukan pelan.

"Kedua jangan beri aku part yang terlalu banyak dalam lagu-lagu EXO M karena Mandarinku tidak terlalu bagus. Sebenarnya aku lebih suka menjadi back dancer daripada masuk kedalam group remaja seperti ini." Minseok bergumam pelan yang tentunya masih bisa didengar oleh kakeknya.

"Bagaimana sorang yang mendapat juara kedua dalam kontes menyanyi hanya memiliki sedikit part dalam lagunya?" Kakeknya kelihatan keberatan dengan syarat kedua Minseok.

"Bukankah aku harus bernyanyi dengan bahasa Mandarin? Kakek tahu sendiri Mandarinku sangat buruk."

"Itu salahmu sendiri karena kau selalu menghilang setiap ada pelatihan bahasa Mandarin."

"Aissh, Mandarin itu sangat susah." Minseok pura-pura membela diri, padahal dia memang sengaja menghilang agar Mandarinnya tidak ada perkembangan.

"Hanya itu?" Kakeknya memlih mengabaikan gumaman Minseok karena jika ditanggapi hanya akan menimbulkan perdebatan tanpa ujung.

"Satu lagi, kakek tidak boleh ikut campur dalam segala urusanku setelah aku menandatangani kontrak ini. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa selain hubungan Kim Minseok dengan CEO SM Ent bukan hubungan kakek cucu lagi. Kurasa itu cukup untuk saat ini. Kurasa."

"Jadi kau masih ingin merahasiakan yang sebenarnya pada yang lain?"

"Tentu saja. Tidak ada alasan kenapa aku harus memberitahukan yang sebenarnya pada yang lain."

Minseok meperhatikan berkas berisi kontrak dan penjelasan tentang group barunya dengan serius, bagaimanapun setelah dia menandatangani kontraknya maka hidupnya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya.

Tuan Lee memperhatikan cucunya yang sedang membaca berkas kontraknya dengan tatapan intens. Mencari sesuatu yang sedang Minseok coba rencanakan.

"Dengan semua persyaratan ini, apa sebenarnya rencanamu Kim Minseok" Dengan menyebutkan nama lengakpnya saja Minseok tahu jika kakeknya sangat serius dengan pertanyaannya.

"Aku tidak punya rencana apapun kek. Aku hanya mencoba membuat diriku nyaman dengan dunia baru yang akan aku jalani sebentar lagi." Minseok menjawab dengan nada tenang karena sebenarnya Minseok sudah menebak bahwa kakeknya pasti akan menanyakan hal itu.

"Jadi bagaimana? Deal?" Minseok mengulurkan tangannya pada sang kakek dengan senyuman diwajahnya.

Kakeknya menghembuskan nafas pelan tanda menyerah den menerima ukuran tangan Minseok. "Deal." Dan senyum Minseok makin lebar menampilkan gusi merahnya.

"Baiklah, karena aku sudah selesai membacanya. Aku akan menandatanganinya." Kata Minseok dengan nada mantap sambil mengambil bolpoin yang ada dihadapan sang kakek. "Oh ya, apa hanya kita berdua, maksudku biasanya penandatanganan kontrak dilihat oleh banyak pihak."

"Untukmu hanya kita berdua."

"Baiklah." Minseok mulai menandatangani kontraknya yang terdiri dari beberapa lembar kertas. "Selesai." Dan Minseok menyerahkan berkas kontraknya kepada sang kakek.

Kakeknya menerima berkas kontrak Minseok dan langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Minseok menerima jabatan tangan kakeknya dengan senang hati. "Senang bekerjasama dengan anda presdir." Kata Minseok dengan senyum lebarnya.

"Senang bekerjasama denganmu juga Kim Minseoksshi." Jawab kakeknya dengan nada formal.

Minseok keluar dari ruangan CEO SM itu dengan senyum lebarnya. Minseok belum merasa sepuas ini keluar dari ruangan kakeknya. Walaupun Minseok masih tidak suka karena akan segera debut tapi dia sangat puas karena rencananya berhasil. Sebenarnya rencana Minseok sangat sederhana, dia memang akan segera debut dan orang-orang akan mulai mengenalinya sebagai Xiumin anggota boy group baru bernama EXO K dan EXO M tapi dengan disetujuinya persyaratannya oleh kakeknya maka Minseok tidak terlalu memikirkan bagaimana dirinya nanti setelah dia debut. Dengan part bernyanyinya yang sedikit maka bisa dipastikan dia tidak akan menjadi member yang populer. Dan dengan menjadikan dirinya pribadi yang pendiam dan pemalu maka rencananya untuk tidak menonjol akan sempurna. Dia hanya perlu menjadi pelangkap dalam groupnya, melihat dari belakang, dan membernya yang lain akan mengambil alih sisanya yaitu popularitas. Dan pada akhirnya Kim Minseok hanya akan menjadi Xiumin EXO M yang biasa saja. Ya sesederhana itu, menjadi Xiumin yang biasa saja dan tidak menarik dengan bakat bernyanyi dan menari yang biasa-biasa saja.

Selama ini Minseok memang tidak menunjukan kemampuan bernyanyi dan menarinya dengan sungguh-sungguh. Sengaja membuat suaranya terdengar biasa-biasa saja dan tidak pernah menonjolkan kemampuan menarinnya yang luar biasa dan membiarkan member lainnya lebih menonjol karena memang diakuinya, para membernya memiliki bakat yang luar biasa dan Minseok lebih menghargai para membernya yang memang bertekad ingin menjadi seorang performance yang terkenal berbeda dengan dirinya yang terpaksa memasuki dunia bintang yang penuh gemerlap cahaya yang menyilaukan.

FLASH BACK OFF

.

.

MINSEOK POV ON

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan sekarang sudah mendekati comeback kedua kami. Aku tidak menyangka aku bahkan bisa bertahan sampai sejauh ini. Hubungan ku dengan para memberku juga semakin baik, aku sengaja mengurangi sifat pendiamku dan juga sifat pemaluku agar para member yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri tidak terlalu canggung saat bierinteraksi denganku dan walaupun perhatian mereka kadang berlebihan kurasa aku masih bisa menerimanya.

"Yo Minseok, lama sekali. Waktu istirahat hampir habis." Yifan berseru padaku saat aku baru saja memasuki kafetaria.

"Hehehe, aku terlalu asik mengobrol dengan ibuku sampai lupa waktu." Balasku sambil berjalan menuju counter yang berisi banyak makanan dan mengambil beberapa potong roti dan sekaleng soda.

"Minseok hyung kau bisa sakit lagi jika hanya makan itu." Sebelum aku duduk Yixing sudah mengingatkanku dengan menunujuk makananku dengan dagunya.

"Ini kan hanya makan siang, aku bisa makan nasi saat makan malam. Lagipula jika terlalu kenyang aku tidak bisa menari dengan maksimal." Elakku sambil menggigit sepotong roti. "Yang lain sudah kembali keruang latihan ya?" Tambahku saat tidak melihat beberapa member.

"Para vocal line sedang berada di studio rekaman. Kai, Tao dan Sehun kembali keruang dance. Dan Suho hyung sedang berbicara dengan manajer hyung." Chanyeol menjelaskan dengan suara bassnya.

"Kalian tidak kembali keruang latihan? Aku tidak apa-apa." Kataku sambil memakan rotiku.

"Tidak apa-apa, kami akan menunggumu." Yifan menjawab sambil meminum sodanya.

"Benar hyung, masih tersisa beberapa menit lagi. Hyung aaaa,,,"

Tiba-tiba kebiasaan aneh Chanyeol muncul lagi, dia sudah memegang rotiku dan mengarahkannya didepan mulutku yang masih mengunyah.

"Ayo hyung, say aaaa,,,"

Chanyeol tidak peduli dengan death glare ku dan terus mengarahkan roti didepan mulutku. Karena Chanyeol tidak juga menjauhkan tangannya dari mulutku aku terpaksa membuka mulutku dan memakan roti yang diberikan Chanyeol padaku. Dan jadilah kini mulutku penuh dengan makanan.

"Bagus, hyung memang pintar." Kata Chanyeol dengan nada yang menyebalkan ditelingaku.

Selesai istirahat kami semua termasuk vocal line juga Suho kembali melatih koreografi baru kami.