Kelas 3: Min Yoongi | Kim Seokjin!GS

Kelas 2: Park Jimin!GS | Jung Hoseok!GS

Kelas 1: Jeon Jungkook | Kim Taehyung


BTS member belongs to their parents and agency

Story belongs to ORUL2

School!AU. OOC. Young romance. Friendship.

Rated: T


MELT

.

Ketika musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur

...bertemu.

.

Chapter 9: (Force) Date

[Jimin POV]


"K-kau?!"

Aku sial sekali sepertinya. Masa pagi-pagi begini sudah melihat si hoobae kurang ajar itu. Lagipula, mau apa dia di depan lokerku? Apa jangan-jangan, dia sengaja menungguku?

DEG.

Iiiih, hati! Apa-apan, sih, kok malah deg-degan?!

Si hoobae menyebalkan itu menoleh memandangku lalu tersenyum tampan. Eh, apa pula itu. Bisa-bisanya aku bilang dia tampan. Hih, dasar lidah bodoh! Untung saja aku mengatakan itu dalam hati. Kalau keceplosan, bisa besar kepala dia.

Karena senyumannya itu, keawasanku jadi goyah. Aku bertanya padanya dengan suara terpecah. Ugh, memalukan!

"M-mau apa kau di depan lokerku, hah?!"

"Mau ketemu kamu.", hoobae itu menjawab dengan begitu santai. Tapi efek ucapannya membuat hatiku tidak bisa santai.

Apa sih mau si Jeon Jungkook ini?! Kalau Yoongi sunbae lihat bagaimana?!

"Tenang saja, Min Yoongi tidak akan ada di sini. Ini kan loker kelas dua.", Jungkook bersuara lagi. O-oh. Apa dia dapat membaca pikiranku?

Aku mencari-cari alasan agar dapat marah padanya. "Maka dari itu! Kau kelas satu, untuk apa ada di sini?!"

"Kan sudah kubilang, Park Jimin—", Jungkook melangkahkan kakinya semakin mendekat padaku. TIDAAAK. Seseorang, tolong aku! Duh, pada ke mana semua orang? Kenapa hanya tinggal aku dan Jungkook saja di sini?!

Aku berjalan mundur, menjauh dari Jungkook, hingga akhirnya kaki-kaki bodohku menabrak loker. Kenapa, sih, selalu saja ada loker setiap kali aku berurusan dengannya?! Dan lagi-lagi, Jungkook memenjaraku seperti dulu di ruang basket.

"—aku mau ketemu kamu.", lanjut Jungkook.

MWORAGO?! APA-APAN ITU, ASTAGA?!

Aku memalingkan wajahku, karena sepertinya wajahku memerah. Aku tidak mau dia senang telah berhasil membuatku tersipu.

"M-mau apa kau bertemu denganku?"

"Hm.. aku bosan sekolah. Hari ini pelajarannya tidak kusuka semua. Bagaimana kalau kau temani aku membolos?"

"Mwo?! Tidak mau! Aku ada kuis!", sebenarnya aku tidak ada kuis apa-apa hari ini. Aku terpaksa berbohong untuk menolak ajakan Jungkook.

"Sekolah tidak perlu terlalu serius, lah, Park Jimin. Nanti saja seriusnya kalau kuliah, atau kerja, atau menikah, mungkin? Kita masih SMA, harus banyak bersenang-senang."

Aku tercengang. Hidupnya santai sekali. "Mindset macam apa itu?! Semuanya harus dipikirkan secara serius, lah!"

Jungkook tidak menjawabku. Dia malah menarik lenganku dengan paksa. Dia bahkan menyeretku, ya ampun, dasar bocah kurang ajar!

"Sudah, ikut saja.", kata Jungkook.

Aku memberontak. "Tidak mau!"

Ups. Jungkook menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan denganku.

"Park Jimin. Ikut, atau kucium?"

APA?! Kenapa dia senang sekali main cium-cium, aih.. Masih kecil juga!

Dengan sangat terpaksa, tolong digaris bawahi kata sangat dan terpaksa, aku mengangguk. Aku akan menemani dia bolos hari ini.

"Bagus. Jadilah anak baik, oppa akan mengajakmu bersenang-senang hari ini. Kajja!"


Jungkook membukakan pintu mobilnya untukku. Kok jadi romantis begini, sih? Aku kan jadi luluh.. sedikit.

Aku melirik malas Jungkook yang sedang melangkah menuju jok kemudi. Aku heran dengan sifatnya. Dia itu seperti ranjau, bisa meledak kapan saja. Selalu tiba-tiba.. dan penuh kejutan. Seperti sekarang ini, tiba-tiba saja dia memasangkan seatbelt untukku.

"Kalau tidak mau kupasangkan, pasang sendiri, dong. Kau yang mengundangku untuk melakukannya, kau tahu?"

Mengundang? Mengundang apa?

Dan kenapa wajahnya dekat sekali dengan wajahku, oh my god.

Dia benar-benar penuh kejutan. Tiba-tiba saja dia menciumku. Rasanya, bibirnya begitu pas denganku. Lidahnya juga seperti es krim, lumer di mulutku.

Eh, apa yang kupikirkan?! Kau sudah memiliki seorang kekasih, Park Jimin! Kendalikan dirimu!

Aku meronta. Kupukul Jungkook di mana saja agar dia menjauh dariku.

Jungkook melepas ciumannya lalu terkekeh. Hih, dia itu jago sekali dalam hal merasa tidak bersalah. Dia mengelap saliva yang tercetak di sekitar bibirku. Aku merasakan sensasi aneh ketika jemari Jungkook bersentuhan dengan kulitku. Tanpa sadar aku memejamkan mataku.

"Kau terlalu menggoda, aku tidak tahan, mian.", ucap Jungkook sambil tersenyum kecil. Hobi sekali, sih, dia senyum-senyum begitu. Kan aku jadi grogi.

"K-kau melanggar ucapanmu! Kau tadi menciumku, jadi, aku tidak perlu menemanimu bolos kan? Annyeong!", aku hendak melepas seatbelt-ku, tapi Jungkook menahanku.

"Eits. Tidak bisa. Kau sudah setuju, jadi, aku tetap akan menculikmu hari ini, Park Jimin."

Jungkook mengunci mobil, menyalakan mesin, lalu mulai melaju menjauhi area SOPA. Dia itu, ya.. selalu saja seenaknya.

"Tidak adil! Kau, bocah kelas satu menyebalkan!"

"Aku memang kelas satu, tapi kurasa kita seumur, Jimin."

Aku mengangkat alisku. Apa pula ini. "Maksudmu?"

"Kutebak, kau kelahiran 1996 kan?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Aku kelahiran 1997. Kita seumur? Lalu, kenapa kau baru kelas satu?"

"Ada masalah sedikit waktu aku masih kecil, makanya aku terlambat masuk sekolah. Jadi, ulang tahunmu kapan?"

"Aku 10 Juli.. Kau?"

"Yap, memang takdirmu untuk memanggilku oppa. Aku 5 September."

Ih, Jungkook itu bodoh atau apa. Jelas-jelas bulan Juli itu datang lebih dulu dari bulan September. "Kenapa? Aku kan dua bulan lebih tua darimu!"

"Aku kelahiran 1996."

"Mwoya?! Jadi, kau benar-benar lebih tua dariku? Dan dua tahun?"

"Sudah kubilang, panggil aku oppa."

"Iiih, ogah, ya! Tetap saja kau kelas satu, dan aku kelas dua. Aku sunbae-mu di sekolah!"

"Baiklah, baiklah. Kau sunbae dan aku hoobae, tapi di sekolah saja. Sekarang kita tidak ada di area sekolah, jadi... aku oppa-mu, Jimin."

"Kau ini..! Selalu saja seenaknya! Kau pikir kau siapa, hah?!"

"Aku? Aku namja yang akan merebutmu dari Min Yoongi."

"MWO?!", ternyata selain penuh kejutan, Jungkook orangnya blak-blakan. Sebetulnya aku agak senang mendengar pernyataannya. Rasanya aku seperti tokoh utama di drama-drama yang diperebutkan oleh dua pria tampan.

"Kenapa, sih, hobi banget teriak-teriak? Untung aku suka, kalau tidak, sudah kurunkan kau di pinggir jalan."

Aku yang sempat tersipu karena ucapannya barusan langsung berubah menjadi kesal lagi. "Ya sudah, turunkan saja!"

"Duh.. ngambek, ya? Aku tidak akan mengusirmu, kok. Untuk mendapatkan waktu berkencan denganmu saja susah setengah mati, masa iya aku membuang kesempatan ini begitu saja."

K-k-kencan?


'Kencan'ku dengan Jungkook dimulai di mini market.

"Aku belum sarapan. Kita makan dulu, yuk.", ajak Jungkook sambil menyeretku masuk ke dalam mini market itu. Sebenarnya dia mengajak atau memaksa, sih?

"Kau saja yang makan.", ucapku tanpa ekspresi.

Jungkook berbalik menghadapku. "Kenapa?"

"Aku sudah sarapan di rumah."

"Masak sendiri?"

"Eomma."

"Aah, eomma.."

"Hm."

Jungkook mengambil satu paket bibimbab dan satu sandwich lalu berjalan ke arah microwave. Dia menekan tombol 3 pada microwave, yang berarti menghangatkan selama 2 menit (biasanya digunakan untuk menghangatkan lasagna).

"Bibimbab itu tombol 2, asal kau tahu saja.", kataku sinis sambil menunjuk arahan menggunakan microwave.

"Asal kau tahu saja, kalau pakai tombol 2, bibimbab-ku akan tetap dingin pada tengahnya. Nanti jadi kurang enak."

Uh. Jungkook berbicara seperti dia sering makan di sini saja.

"Aku sering ke sini. Asal kau tahu saja."

Yap, ternyata memang benar dia sering kemari. Tapi kenapa? Memangnya ibunya tidak memasak untuknya? Dan kenapa kok dia seperti bisa membaca pikiranku?

Saat waktu pada microwave menunjukkan satu menit sebelum makanan siap, Jungkook memasukkan sandwich ke dalamnya. Apa dia selapar itu hingga membeli dua makanan sekaligus?

TING.

Aku melamun hingga tidak sadar kalau makanan Jungkook telah siap. Dia mengajakku duduk di bangku taman yang tepat berada di belakang mini market.

Kami duduk berhadapan, tapi aku sama sekali tidak berniat melihat dirinya, jadi aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain, sampai..

"Ini."

Jungkook menyodorkan sandwich-nyapadaku.

"Aku tidak suka makan sendirian. Jadi, kamu tetap makan."

Aku tertegun. Sebenarnya aku bisa, sih, makan lagi. Aku memang mudah lapar. Apalagi jika ada makanan gratis di depan mata. Jadi, aku terima saja sandwich itu.

"Gomawo."

"Gomawo, oppa.", ralat Jungkook.

Aku berdecih pelan. "Oppa."

Jungkook tersenyum senang. Dia mulai mengaduk bibimbap-nya dan melahapnya. Dari cara dia makan, sepertinya dia sangat menikmati makanan itu. Aku juga mulai membuka pembungkus sandwich dan memakannya.

"Bagaimana, enak tidak?", tanya Jungkook.

Aku mengangkat kedua bahuku malas. "Not bad, tapi masih lebih enak buatanku."

Jungkook menyimpan sumpitnya dan memandangku tertarik. "Kau bisa memasak?"

"Hm. Tentu saja, perempuan harus bisa masak."

"Ah, benar-benar calon istri idaman."

"Maksudmu?"

"Iya, kau calon istri idaman. Pasti kau akan menjadi istri yang baik kelak. Sudah cantik, bisa memasak, ciumannya juga nikmat."

BLUSH.

A-apaan, sih, si Jungkook ini?!

"Tapi kau masih agak kaku. Apa jangan-jangan, aku yang pertama?"

BLUSH.

Aku merutuki Jungkook di dalam hatiku dengan segala kata-kata kotor yang ada dalam kosakataku.

"Aigooo, melihat reaksimu, sepertinya memang aku yang pertama. Hahaha. Aku senang."

"S-senang kenapa?!", duh.. Aku jadi salah tingkah.

"Berarti aku selangkah lebih depan dari pada Min Yoongi."

"Itu hanya kecelakaan."

"Ya, kecelakaan yang terus berulang.", balas Jungkook. "Dan kau selalu nampak menikmati ciumanku."

"I-itu karena aku terkejut."

Tiba-tiba saja sandwich terasa seperti kardus. Sulit sekali untuk ditelan. Aku butuh minum, karena sepertinya aku akan tersedak. Jungkook nampaknya tahu kalau aku harus minum. Dia menyodorkan botol air mineralnya padaku. Sebelum itu, dia membuka botolnya terlebih dahulu, jadi aku tinggal minum.

Apa kalian tahu rasanya tersedak di hadapan seseorang yang tidak kau sukai? Memalukan.

Jungkook tertawa pelan. "Jangan berbohong, Park Jimin. Aku tahu kau menikmatinya. Kau hanya tidak mau mengaku."

Sial. Jungkook sepertinya selalu bisa membaca pikiranku.

Sebenarnya aku juga bingung. Kenapa aku tidak bisa tegas menolak namja ini. Dan aku pasrah-pasrah saja dicium olehnya. Dan sejujurnya ciumannya memang sangat berkesan untukku. Mungkin karena dia adalah orang pertama yang pernah menciumku.

Aku meneguk air mineral hingga separuh botol.

"Jangan terlalu percaya diri. Kau tahu Narcissus mati tenggelam karena terlalu mengagumi bayangan dirinya yang terpantul di danau?"

Jungkook tertawa keras sekali. Untung saja di sini tidak ada orang. "Aku tidak bodoh seperti dia. Setidaknya bukan dengan cara seperti itu aku akan mati."

"Lalu? Memangnya kau dewa kematian, bisa mengatur seenaknya."

"Aku akan mati kalau kau tidak jadi milikku."

IDIH. "Cukup, Jungkook. Kau membuatku mual."

"Kok sudah mual? Aku kan belum melakukan apa-apa padamu.", ucap Jungkook sambil tersenyum miring.

Aku mengepalkan bungkus sandwich hingga berbentuk bola lalu membantingnya ke tempat sampah yang ada di sebelah bangku taman yang kududuki. "Aku selesai."

"Hey, tunggu aku!"

Aku meninggalkan Jungkook yang masih belum menyelesaikan bibimbap-nya. Mungkin aku bisa kabur darinya.


Aku hendak pergi ke halte bis, tapi mau ke mana? Rumah? Nanti ibuku pasti bertanya kenapa aku sudah pulang lagi. Ini baru pukul sembilan, astaga! A

ku belum pernah membolos sebelumnya. Aku jadi bingung dan rasanya hatiku deg-degan tidak jelas. Memang hari ini aku tidak ada kuis sama sekali, tapi kenapa hatiku tidak tenang? Ah! Aku lupa mengabari Yoongi sunbae!

Aku membuka aplikasi chat dan menemukan satu message dari Yoongyoong Sunbae.

Morning, sunshine. (07.10 AM)

Bisa-bisanya aku melupakan Yoongi sunbae! IJP-ku sudah separah itukah? Apa aku perlu mengonsumsi obat penguat ingatan? Karena demi dewa dewi, masa aku lupa kalau aku punya pacar?!

Aku baru saja mengetik "Morning too, sunb—" saat Jungkook merebut handphone-ku.

"Ya! Kembalikan!"

Jungkook mengangkat handphone-ku tinggi-tinggi. Aku yang hanya 158 cm ini bisa apa?

"Menghubungi siapa, sih?", Jungkook menengadah dan melihat aplikasi LINE yang menunjukkan obrolanku dengan Yoongi sunbae. "Ah, Min Yoongi."

Jungkook menekan tombol lock lalu memasukkan handphone-ku pada saku.

Sakunya.

"Kembalikan, Jungkook!"

"Oppa."

"Cih, Jungkook oppa, kembalikan! Cepat!", seruku sambil berusaha meraih ponselju yang ada di saku kemeja seragam Jungkook.

"Tidak. Kau tidak kubiarkan menghubungi Min Yoongi."

"Nanti dia khawatir aku tidak masuk! Kau menyebalkan sekali, jinjja!"

"Memang.", ucap Jungkook seraya berjalan meninggalkanku.

"Ya! Kau mau ke mana?!"

Aku mengikuti Jungkook dari belakang. Mau kabur juga bagaimana, handphone-ku ada padanya. Kalau dia macam-macam bagaimana? Untung saja handphone-nya kuberi password.

Jungkook masuk ke kursi kemudi. Hisss. Tadi saja membukakan pintu untukku. Sekarang aku diacuhkan!

Aku membuka pintu lalu membanting tubuhku ke kursi penumpang dengan penuh amarah.

"Pasang sabuk pengamanmu."

Aku menurut. Nada bicara Jungkook agak menyeramkan. "Kau mau apa lagi sekarang?"

"Aku?", Jungkook melakukan smirk yang tampan sekaligus mengerikan. "Aku akan membuatmu melupakan Min Yoongi."

.

.

TBC

.

.


Orul2 says

Haiii. Ini dia kelanjutan kookmin~

(Yungi belum tau jimin diculik cowo ganteng)

Next chap masih kookmin moment~

Anyway mv blood sweat tears daebak banget ga sihhhhh. Terus terus liriknya juga hmm berani banget buakakak

Dede kuki kan masi kecil tapi liriknya begitu buahahahaha

Tapi aku suka huayahahah

Semuanya ganteng2. Apalagi v ama hope unch banget. Jadi ingin memiliki/?