Jangan jadi silent reader ya gaaeeessss! Seperti daging ayam yang di proses sempurna... Review kalian sangat di tunggu!
Luv yu ma rider!
.
.
.
-(Sasuke pov)-
.
.
"Kau mau menelanjangiku honey?" Ucap Sakura-nee dengan nada cemas yang dibuat-buat. Aku mendengus remeh melihat tingkahnya itu.
"Maaf saja ya. Aku sudah kehilangan selera padamu." Sahutku asal. Tanganku menyingkap lengan bajunya ke atas. Aku mengernyit saat tak bisa melihat semua bagian memar di lengannya. "Buka." Tandasku tak mau dibantah. Dia sudah terlanjur menjadi aneki-ku. Membuatku tak bisa mengabaikannya.
"Kau benar-benar ingin menelanjangiku? Honey, kau bisa jatuh cinta padaku dalam sekejap." Meski mulutnya menjengkelkan, nyatanya dia membuka pakaiannya. Maksudku dia memakai tanktop di dalam kemeja panjangnya.
"Aaa terserah saja." Aku meraih salep dan mengoleskan di luka memarnya yang menyebar di area lengan dan bahu kanannya. Beberapa seperti luka karna bergesekan dengan aspal. Sebenarnya apa yang dia lakukan.
"Honey..." Panggilnya. Aku hanya bergumam menjawabnya. Sedikit bingung karna suaranya terdengar datar saja. Apa dia sama sekali tak merasakan sakit? "Kau terlalu baik."
"Aaa sepertinya itu memang aku." Sahutku acuh. Selesai berurusan dengan lukanya, aku membantunya memakai kemejanya lagi. "Jika aku bertanya apa yang kau lakukan diluaran sana hingga pulang membawa luka, apa kau akan memberikan jawaban?"
Sakura-nee terkekeh geli mendengar pertanyaanku. Mungkin itu jenis pertanyaan langka yang lucu. Tak memperdulikan tawanya, aku memilih membereskan peralatan kesehatan kembali kekotaknya.
"Ku pikir lebih menarik jika kau mencari tahu sendiri." Aku menghela nafas melihat Sakura-nee menopang wajahnya menatapku.
"Sayangnya aku tak berminat menjadi detektif."
"Hm hm tapi honey, terkadang keingintahuan bisa membawamu pada kenyataan." Aku menutup kotak dan menatap aneki-ku yang akhir-akhir ini bertingkah layaknya penjahat. Dia hanya mempertahankan senyuman manisnya mendapati tatapan menuntutku.
"Jadi, apa yang bisa ku dapatkan jika aku melakukan sesuatu berdasarkan ingin tahu?" Ucap ku menahan geram. Tingkahnya yang sok misterius membuatku ingin melemparnya ke kolam penuh piranha.
"Hm hm entahlah. Saranku, bersikaplah sedikit ramah pada teman lama." Aku berdecak sebal melihat cengirannya. Yakin jika dia akan tetap bertingkah sok misterius membuatku memutuskan beranjak keluar dari kamarnya. Setidaknya aku sudah memastikan anggota keluargaku merawat lukanya.
"Katakan padaku Sakura-nee... Kau itu monster atau hanya gadis hyperaktif?" Tanyaku saat berada di ambang pintu kamarnya. Dengan sabar aku menunggu kekehannya mereda.
"Aku Haruno Sakura." Sahutnya kalem namun bernada serius. Mengernyit sebentar, aku menghela nafas lagi.
"Setidaknya aku sedikit yakin jika kau aneki kami, bukankah begitu Sakura-nee?" Tanyaku memastikan.
"Tentu saja." Sahutnya yakin. Membuatku bisa menghela nafas lega dan meninggalkan kamarnya.
Sedikitnya aku bisa yakin jika tujuannya bukanlah mencelakakan kami. Aku tak tahu apa yang dilakukannya bersama Naruto, aku juga tak tahu apa yang menjadi masalahnya dengan Neji. Aku tak terbiasa mengusik privasi orang lain. Tapi bicara dengannya, melihat tingkah mencurigakannya, di tambah kekhawatiranku pada adik-adikku tentu saja aku mulai merasa ingin tahu. Dan dia mengatakannya, mengatakan jika seharusnya aku memang ingin tahu.
Mengurungkan niatku masuk ke kamar, aku memilih mengetuk pintu kamar Naruto. Tak butuh satu menit untuk Naruto membuka pintu. Wajahnya langsung tertekuk saat melihatku.
"Apa?" Ketusnya.
"Ayo bicara." Aku menerobos masuk ke kamarnya setelah berdecak sebal. Harusnya aku terbiasa dengan sikap sialan Naruto kan?
"Apa maksudmu bicara? Aku mau tidur!" Aku mendengus melihatnya berkacak pinggang. Dengan memar dan luka diseluruh tubuhnya ternyata tak membuat seorang Naruto menjadi kalem.
"Jawab aku, apa yang dilakukan Sakura-nee sampai kalian terluka?" Aku menyamankan dudukku ditepi ranjangnya. Menatapnya tajam, berusaha agar dia tahu jika aku tak main-main. Aku mulai mencemaskan dia juga dua adikku yang lain. Sakura-nee terlalu aneh!
"Tak ada hubungannya denganmu! Lagi pula Sakura-nee sudah memberi kompensasi yang bagus. Bahkan Sui dan Kiba tak protes lagi." Celotehnya membuatku mengerutkan dahi. Apa maksudnya teman-temannya juga ikut mengalami luka-luka? Bukankah ini sudah kelewatan sebagus apapun kompensasinya?
"Kau yakin akan mengikuti permainan Sakura-nee begitu saja? Tak curiga? Siapa tahu suatu saat kau bisa terbunuh." Aku tak menakuti-nakutinya. Aku hanya ingin dia lebih waspada sedikit. Bukankah dia yang mengawali sebutan monster untuk Sakura-nee? Aku tak mengerti jalan pikiran si pirang ini.
"Itu tak masalah lagi saat aku bisa menunggangi Veyron dan Hanney. Kau tahu? Dalam mimpi pun aku tak akan bisa mendapatkan dua mobil itu. Dan Sakura-nee memberikannya padaku cuma-cuma. Dia memang yang terbaik!" Naruto cengengesan. Terlihat jika dia teramat girang. Lagipula apanya yang cuma-cuma? Apa dia tak menyadari seberapa parah kondisi tubuhnya? Ku rasa teman-temannya pun tak lebih baik darinya! Dia terlalu mudah dimanipulasi!
"Oke. Terserah saja. Dan otouto, jika kau sekarat karenanya kau boleh meminta tolong padaku." Aku menepuk bahunya dan keluar dari kamarnya.
"Teme sialan!" Jeritnya yang ku acuhkan.
Ini tidak mudah. Sakura-nee seolah menciptakan situasi di mana kami tak bisa berhubungan. Hanya Sakura-nee dan Naruto, Sakura-nee dan Sasori, Sakura-nee dan Neji... Setidaknya harus ada celah yang bisa membuat kami saling terbuka. Saling tahu apa saja yang dilakukan gadis itu bersama salah satu dari kami.
Teman lama ya... entah kenapa ucapan Sakura-nee mengingatkanku pada si pemalas itu. Bagaimana dia sekarang?
Pagi hari berlalu seperti biasa, Sasori yang bertandang ke kamarku, Naruto dengan ketidakteraturanya, neji dengan sikap acuh tak acuhnya dan Sakura-nee yang entah kenapa bersaing dengan Sasori untuk menyusahkanku di pagi hati.
Setibanya di sekolah, aku langsung menghampiri Juugo. Dia memiliki nomor ponsel orang yang bisa dikategorikan sebagai teman lamaku. Dia anggota Taka yang masih aktif hingga sekarang. Yah meski aku baru mengetahuinya beberapa bulan lalu.
"Ya...?" Terdengar sahutan bernada malas diseberang sana. Mau tak mau hal itu membuatku mendengus kesal. Orang ini dari dulu sampai sekarang tak ada perubahan.
"Di mana aku bisa menemuimu?" Tanyaku tanpa basa-basi.
"Maaf, jadwalku padat." Jawabannya seperti yang aku duga.
"Baiklah. Sepertinya kau lebih senang aku menghancurkan 'peony' mu." Ucapku ringan. Aku menyeringai senang mendengar erangan diseberang sana.
"Harusnya kau tetap menghilang saja. Kenapa harus menggangguku lagi setelah dua tahun?!"
"Sampai jumpa di Taka." Ucapku mengabaikan kejengkelannya. Setelah itu aku langsung memutuskan sambungan bertepatan dengan bel masuk yang berbunyi.
Seharusnya aku tak begini, tapi entah kenapa aku mensyukuri Naruto yang penuh luka. Dia jadi lumayan pendiam. Meski memilih tidur daripada memperhatikan pelajaran, setidaknya tidak ada kekacauan yang dirancang dikepalanya.
"Honey!" Aku mendongak melihat Sakura-nee yang melambai-lambaikan tangannya diluar kelasku saat jam istirahat tiba.
"Kenapa dia menggunakan panggilan-panggilan menyebalkan?" Gerutu Naruto sembari menghampiri Sakura-nee yang terlihat ceria seperti biasa. Dibelakangnya Neji terlihat ogah-ogahan berdekatan dengan gadis itu.
Lagipula dibanding Naruto yang heran dengan panggilan gadis itu untuk kami, aku lebih heran padanya yang selalu menggerutui hal-hal remeh. Atau seperti Neji yang bereaksi berlebihan pada setiap masalah.
"Hari ini aku akan dijemput sepupuku, jadi kalian bisa pulang sendiri kan?" Aku mendengus malas. Sedangkan disampingku Naruto jelas menyuarakan erangan jengkelnya. Dan aku yakin jika Neji sudah membuat beberapa kali putaran dengan bola matanya. Memangnya dia pikir kami bayi yang tak bisa lepas darinya?
"Aku bahkan lebih senang jika kau tak kembali." Tandas Neji yang membuat Sakura berdecak.
"Jika aku tak kembali, kau akan kehilangan semangat hidup baby boy." Tanpa peduli dengan caci maki Neji, Sakura justru mengempit kepala adik termudaku itu diketiaknya. Itu pemandangan yang sungguh lucu.
"Brengsek! Lepas!" Jeritan Neji menarik perhatian orang-orang.
"Bwa ha ha ha kau benar-benar anak bawang. Melepaskan diri dari seorang gadis saja tak bisa." Ejek Naruto.
"Brengsek!" Maki Neji lagi seolah tak bosan menggunakan kata itu.
"Kau mau mencoba juga dear?" Tanya Sakura yang sudah melepaskan Neji dan bersiap menjadikan Naruto korban selanjutnya.
"Wow wow no Sakura-nee. Aku pass." Naruto mengangkat kedua tangannya menyerah dan tertatih berlari ke arah kantin.
"Kau! Lain kali aku yang akan menginjakmu dibawah kakiku!" Jerit Neji menunjuk wajah Sakura. Setelah itu dia mempercepat langkahnya menyusul Naruto ke arah kantin.
"Ck, mereka terlalu sensitif." Gumam gadis disampingku. "Uhm kau bisa duluan honey, aku yang akan memanggil My sweetie."
Aku melirik ke dalam kelas Sasori, sepertinya anak itu sedang berbicara dengan teman sekelasnya. Melihat perawakan teman sekelasnya yang jauh berbeda dengannya, aku khawatir jika dia sedang di bully atau apa. Meski begitu aku hanya mengangguk membiarkan Sakura masuk ke kelasnya, sedangkan aku menyusul Naruto dan Neji.
Tidak terlalu lama kemudian Sakura dan Sasori datang. Aku menyadari perbedaan tingkah adikku ini. Sepertinya terjadi sesuatu. Dia bahkan seolah tak menyadari di mana tempatnya berada sekarang. Sasori hanya sibuk dengan pemikirannya sendiri. Yang bisa ku lakukan saat ini hanyalah menghela nafas. Aku akan mencari waktu untuk memaksanya bicara nanti. Apa sebenarnya yang Sakura lakukan padanya. Oh apa aku mulai menjadi aniki yang mencemaskan adik-adiknya sekarang?
Pulang sekolah aku mengantarkan Naruto ke rumah sebelum membawa mobil Sakura-nee pergi ke Taka. Neji sedang menemani Sasori ke tempat kerjanya. Adik manisku itu memiliki jadwal yang cukup padat sebagai model lolipop candy. Dan Sakura... seperti yang dia bilang, dia pergi bersama sepupunya yang bahkan aku tak kenal. Memangnya kapan aku mengenalnya selain sebagai Haruno Sakura? Itu berarti aku tak mengenal siapapun yang berhubungan dengannya selain ayah Kizashi dan para adikku.
Aku membunyikan klakson saat sampai di Taka. Mungkin karna berisik, salah satu orang yang berada di situ menghampiriku. Menurunkan kaca jendela, aku menghadapi pria yang memasang raut sebal itu.
"Bisakah kau lebih tenang?" Ketusnya.
"Maaf." Aku mengangkat bahuku acuh. Membuatnya semakin merengut. "Suruh siapapun membuka pintu kanan, aku harus menemui seseorang."
"Kau pikir kau siapa bisa memerintah seenakmu!" Geramnya.
"Buka saja!" Tandasku tak mau kalah. Hei aku hanya tak kesini dua tahun, kenapa tempat ini memperlakukanku seperti orang asing? Sangat tidak adil.
"Kau...!"
"Ada masalah?" Aku sedikit menjulurkan kepalaku agar bisa melihat orang yang memotong kemarahan pria didepanku. Ah Kakashi. Baguslah, ada orang yang masih ku kenali.
"Bisa tolong bukakan pintu kanan, Kakashi-nii?" Tanyaku yang sekaligus permintaan. Kakashi menaikan alisnya menatapku. Dia masih hobi menggunakan masker seperti dulu.
"Lama tak jumpa Sasuke. Butuh sesuatu?" Aku tahu dia tersenyum dari matanya yang menyipit.
"Ya. Aku butuh pintu kanan terbuka." Sahut ku malas-malasan.
"Dia tak sopan sekali." Gerutu pria yang masih betah berdiri didepanku.
"Buka pintu kanan lee." Perintah Kakashi sambil berlalu.
"Tapi senpai..."
"Dia bukan orang asing, oke." Potong Kakashi tak mau dibantah. Pria bermasker itu mengedipkan sebelah matanya padaku lalu kembali sibuk dengan para pelanggan nya.
Pria yang di panggil Lee itu terus menggerutu meski dia membuka pintu kanan untukku. Tak mau ambil pusing, aku menjalankan mobil masuk melalui pintu kanan. Menyusuri lorong hingga tiba di aula luas penuh mobil sport dengan berbagai macam modifikasi.
Taka adalah bengkel mobil untuk anak-anak orang kaya yang hobi memodifikasi kendaraan mereka. Dan pintu kanan yang ku masuki biasanya hanya bisa digunakan oleh anggota Taka saja. Dan aku? Tentu saja aku bukan anggota Taka. Aku bukan anak orang kaya yang mampu bermain-main dengan mobil bagus. Setidaknya itu sebelum aku menjadi Haruno. Aku sering kemari karna diajak teman sekelasku yang super kaya dan jenius. Tapi dia pemalas luar biasa. Maksudku dua tahun yang lalu.
"Kau datang?" Itu dia. Si pemalas Shikamaru.
"Tentu. Aku sedang ingin menendang peony mu." Sahut ku acuh dan menendang mobil sport berwarna tosca yang bentuknya sudah jauh dari awal saat baru keluar dari pabrik. Aku bahkan bingung kenapa si pemalas itu memberi nama mobilnya peony.
"Kau! Jangan berani-berani menyentuh peony ku! Atau aku tak akan mau bicara padamu!" Lihat. Si pemalas itu akan menjerit seperti gadis yang akan di perkosa jika menyangkut peonynya. Padahal biasanya dia hanya akan menguap dan tertidur.
"Maka aku akan lebih kejam lagi. Aku butuh otak jeniusmu Shika." Ucap ku sembari menaiki tangga menuju ke tempatnya berada.
"Jangan merepotkanku." Gerutunya tak senang.
"Sayangnya itu yang sedang ku lakukan." Aku mengikutinya menyusuri selasar lalu menaiki tangga lagi menuju atap gedung.
"Ku pikir kau mati. Dua tahun kau hidup nyaman menjadi Haruno dan melupakanku. Lalu sekarang kau datang membawa masalah?" Aku hanya terkekeh menghempaskan tubuhku di sofa. Menikmati pemandangan kota karna atap gedung ini di kelilingi dinding kaca. Mungkin bisa dibilang rumah kaca?
"Maaf tentang itu. Dan aku ingin kau mencari tahu tentang Haruno. maksudku, jenis keluarga macam apa Haruno itu." Aku diam mendengar Shika yang tertawa. Padahal aku yakin tak ada yang lucu dari ucapanku.
"Kau memintaku mencari tahu tentang keluargamu?" Tanyanya dengan raut tak percaya.
"Tepatnya semua yang berhubungan dengan Haruno Sakura." Aku mengangguk meyakinkan.
"Kau bermasalah dengannya?" Tanya Shika lagi. Kini dia berbaring di sofa seberangku setelah memberiku sekaleng minuman dingin.
"Tidak juga. Lebih tepatnya mungkin aku yang sedang mencari masalah."
Kami terdiam. Aku memberi waktu pada Shika yang sedang mengotak-atik laptopnya sambil berbaring. Meski terlihat sederhana, sebenarnya laptopnya sudah tersinkronisasi dengan peralatan canggih di ruangan khusus miliknya di Taka. Ah apa aku belum bilang jika Shika adalah salah satu dari tiga pemilik Taka?
"Tak ada yang aneh. Selain tingkah aneh tuan Kizashi yang beristri empat, bisnisnya, dan lingkup pergaulannya biasa-biasa saja. Layaknya konglomerat biasanya. Hanya saja..."
Aku mengerutkan keningku menunggu kelanjutan ucapan Shikamaru. Tangannya terlihat menggerak-gerakkan kursor perlahan. Lalu mengetikkan sesuatu, mengernyit, mengetikkan sesuatu lagi, mengernyit lagi dan berakhir dengan mendesah.
"Ada sesuatu yang salah?" Tanyaku tak sabar.
"Sepertinya begitu." Shikamaru menyingkirkan laptopnya dan menatapku.
"Tak ada yang bisa ku dapatkan tentang istri pertamanya selain namanya Haruno Mebuki. Bahkan aku tak menemukan nama gadisnya dengan cara biasa."
Ini aneh. Meski Shika bilang cara biasa, bukan berarti dia hanya mencari di situs-situs pencarian biasa. Karna Shika tak akan memberikan informasi apapun tanpa menghack sumber informasi akuratnya. Dan dia bilang tak menemukan nama gadis seorang Haruno Mebuki? Apakah ada sesuatu yang salah?
"Bisakah kau memastikannya?" Tanyaku. Shika adalah yang terbaik yang aku kenal di bidang ini.
"Tentu. Hanya saja sepertinya hal merepotkan ini butuh sedikit waktu." Ucapnya dengan kilat keingintahuan yang besar. Aku mendengus. Shika dan hobinya melanggar privasi orang. Setidaknya itu berguna untukku.
Baiklah. Kita lihat, siapa kau sebenarnya Haruno Sakura. Dan mungkin dengan mengetahui siapa kau, aku juga bisa tahu tujuanmu.
.
.
.
.
...tbc
.
.
.
.
Coba baca ceritaku yag lain ya...
Keyikarus
16/7/2017
