[ LoveStory ]

#Drama

#Romance

#Action

#Adventure

#Martial arts weapon

#Shoujo

#Kingdom

Pair : SasuSaku.

Naruto Masashi Kishimoto.

Rate : M

Alur cerita tentang kerajaan nuansa China.

Chapter 10

[ Menma ]

Author Note : Hehe.. Baru sempat nulis lanjutannya semoga ada yang baca

Sekarang Senpai bakal jarang pake panggilan sopan dalam bahasa jepang khusus di akhir nama kayak : Kun, Chan, Senpai, Sama, Dono.

Biar gak bingung kan ada juga yang baca tapi gak ngerti basa jepang yang cukup simple ni nah mulai di ff yang baru aja.. alah kelamaan langsung aja ya?

Senpai gak pinter ngobrol/ngomong soalnya mohon dimaklumi ya!

Hari-hari menjadi pelayan di istana Uchiha sangat melelahkan

sampai-sampai aku tidak sempat untuk membalaskan dendamku. Kesempatan hanya ada waktu malam hari. Aku mengendap-endap keluar dari asrama menuju kediaman Madara dan ketika aku sedang terburu menuju tujuanku ada seseorang yang sedang berbicara dengan Madara. Seseorang itu adalah putra mahkota kedua

Sasuke Uchiha kelihatannya sedang membicarakan hal yang penting.

Mereka berdua masuk kedalam rumah dengan penjagaan yang ketat diluar rumah itu.

Untunglah aku sudah belajar bagaimana cara agar bisa tidak diketahui penjaga.

Aku membawa tali yang kuberi pengait besi yang kokoh. Kulemparkan tali yang kupegang sampai tersangkut diatas rumah kutarik beberapa kali untuk memastikan bahwa tali ini kuat agar membantuku memanjat keatas. Seluruh kekuatan kukerahkan di kedua tangan mengenggam erat tali dan sesekali dengan bantuan kaki yang memijak tembok.

Dengan hati-hati kupijak genteng sambil berusaha tetap tenang.

Saat membuka selah untuk mengintip dari selah genteng yang ku tarik pelan. Aku dapat melihat mereka berdua dengan jelas untunglah aku memakai pakaian berwarna hitam hampir diseluruh tubuh dan wajah ini sudah kupastikan tertutup dengan aman.

"Kau ingin menyerang kerajaan Hyuuga?"

"Iya paman. Apa kau bisa membantuku?"

"Tentu saja pamanmu ini bisa membantumu apalagi dalam hal yang paman suka ini."

'Sial aku tidak mendengar lanjutan pembicaraan mereka.'

Aku hanya diam sambil duduk melihat rembulan yang indah. Angin yang sangat sejuk begitu menenangkan hatiku yang selalu terbalut masalalu yang pahit. Saat aku melihat keadaan sekitar dibawah rumah, para penjaga mulai berpatroli dengan membawa obor sebagai penerangnya. Aku mencari sisi yang gelap agar tak terlihat oleh mereka.

"Jangan sekarang waktunya ketahuan.."

Cahaya dari obor mulai mendekat kearahku dengan sigapku melemparkan pisau yang kupegang melesat, menancap tepat dikepalanya.

"Gawat!"

"Ada penyusup!"

Salah satu dari temannya melihatku. Aku berlari dengan sekuat tenaga sampai harus melompat ke sebrang rumah.

Tak.

Tak.

Tak.

Tak.

"Siaaal! Hwaa!"

Brak!

Aku hanyalah orang bodoh yang berlari diatas rumah tanpa berpikir dulu yang kupijak adalah genteng yang kini beberapa disebelahku salah satunya sampai mengenai kepalaku.

Aku melanjutkan untuk belari walaupun di rusuk kananku sangat terasa nyeri, mungkin tadi terbentur sesuatu saat aku terjatuh tadi.

"Hei! Kau lebih baik menyerahkan diri! Atau mati!"

10 penjaga menghadangku. Benar-benar hebat pantas saja kerajaan ini selalu menang perang. Anak buahnya saja cepat sekali mengepungku.

"Wah-wah ada santapan malam hari.."

Madara dan Sasuke mereka menghampiri 10 penjaga itu. Madara mencabut pedang yang ia bawa sementara Sasuke menatapku sangat tajam seperti elang yang bersiap untuk menerkam mangsanya.

"Kenapa kalian diam! Serang dia!"

"Hwaaah!"

Suara teriakan serempak 10 penjaga itu saat menyerangku. Aku melirik kesegala arah sambil mengenggam kedua belati yang kubawa.

Trang!

Srek!

Walaupun keadaan tidak menguntungkan paling tidak belati yang kupegang berhasil menancap dan menyayat leher salah satu penjaga yang menyerangku.

Madara hanya bersiul dan sesekali tersenyum puas saat aku berhasil membunuh penjaganya. Nafasku terasa berat ketika para penjaga telah tergeletak tak bernyawa di dekatku. Pakaian berwarna hitam yang kupakai terasa sedikit basah karena darah penjaga yang kubantai seperti hewan ternak.

"Pestanya baru saja dimulai.

Kau akan kujadikan pajangan! Kepalamu itu pasti akan menjadi penghias gudangku!"

"BERISIK!"

Mereka berdua terkejut saat aku berteriak sambil menyerang Madara sebisaku.

"Kau wanita ternyata. Menarik!"

Traang!

"Madara! Kau akan mati di tanganku!"

Dugh.

"Cerewet."

Sekali pukulan di perut. Dia berhasil membuatku hanya bisa tergeletak pasrah.

"Hahaha... Kau cantik juga, hmm lebih baik ku nikmati dulu tubuh jalangmu ini."

"Paman, lebih baik

kau bunuh saja dia."

Aku hanya bisa tergeletak dengan kedua tangan yang tergenggam erat. Aku melirik Sasuke dengan tatapan murka karena ucapannya itu sangat biadap.

"Hn, dia kelihatannya marah?"

"Marah karena dia akan mati terlalu cepat."

"Kalian berdua benar-benar sampah! Cuh!"

"Pintar sekali kau meludah, jalang!"

Plak!

Aku benar-benar hancur karena untuk pertama kalinya ditampar habis-habis oleh seseorang yang amat menikmati apa yang dilakukannya. Keinginan balas dendamku seperti jalanku untuk pergi menyusul yang meninggalkanku untuk selamanya.

"Ah!"

"Suara mu lucu sekali" ucap Madara sembari menjambak.

"Cih!"

"Kau mau kemana Sasuke?"

"Aku bosan melihatnya" ucap Sasuke yang pergi meninggalkanku dan si brengsek Madara.

Madara membawaku ke kamar baginda raja. Baginda raja hanya diam dengan menatap tegas ke arahku. Aku hanya diam berlutut dengan keadaan yang menyedihkan.

"Pelacur bodoh ini mata-mata. Baginda raja kau harus memberi hukuman pancung pada si pelacur ini."

"Dia mata-mata?" gumam Itachi bersamaan dengan tatapan tegasnya.

Tap.

Tap.

Tap.

Tap.

"Sakura, kau kelihatan menyedihkan sekali."

"Baginda raja mengenalnya?"

"Dia pelayan disini, Paman."

"Mm, pelayan? Tapi aku seperti pernah melihat si jalang ini entah di mana."

"Paman bisa biarkan aku berdua dengannya? Aku ingin menanyainya dan apa tujuannya."

"Baiklah. Paling tidak besok pagi dia akan mati haha..."

Setelah Madara keluar dari kamar. Itachi baginda raja yang disegani ini membimbingku untuk berdiri.

Dia membuka ikatan tali di tangan ku dan melihat keadaanku sangat detail.

"Apa tujuanmu?"

"Balas dendam."

"Hn, balas dendam?"

Itachi menuang teh di cangkir kramik berwarna putih.

Dia menyuruhku untuk duduk dan meminta untuk menjelaskan semuanya tapi aku menolak dan berkata 'ini adalah sesuatu yang pribadi.'

"Apa kau ingin membunuh Pamanku? Kau menyelinap ke rumah Paman Madara?

Aku yakin kau punya tujuan yang sedang kupikirkan?"

"Kalau itu benar apa Baginda raja akan membunuhku sekarang?"

Srpth.

"Minumlah teh mu."

"Aku tidak haus."

"Sakura, kau besok akan mati. Minumlah dulu."

Aku hanya bisa diam tak menjawab dan mengikuti permintaannya.

Di istana Hyuuga. Naruto sedang melamun melihat rembulan dari jendela kamarnya, Naruto sedang merasa mengawatirkan sesuatu yang sulit dimengerti olehnya sendiri.

"Kenapa perasaanku tidak enak ya?"

Naruto bergumam dan mondar-mandir di kamarnya ia sampai memutuskan untuk push-up 100 kali agar perasaan yang menganggunya cepat menghilang dan alhasil gelisah mulai menjadi-jadi sulit dipahami karena apa dia gelisah?

Naruto keluar dari kamar dan berjalan menuju taman belakang istana. Dia memilih untuk duduk di bangku kayu yang tersedia di taman itu. Naruto melihat dengan pandangan sayup sambil mencoba mengingat kenangannya yang hilang tak tersisa sedikitpun.

"Menma, apa itu kau?"

Naruto menoleh kebelakang saat mendengar panggilan dari seorang gadis remaja yang bekerja sebagai pelayan di istana.

"Shion?"

"Ternyata benar ini kau, aku pikir oranglain."

"Duduklah. Kau belum tidur?."

"Aku belum bisa tidur.

Menma, rambutmu kau warnai hitam ya? Tadi kukira oranglain."

"Hehe.. Cocok tidak?"

"Sangat cocok."

Mereka duduk berdua, besama menikmati indah bulan dimalam hari. Sepoi-sepoi angin malam menyisiri surai Naruto yang kini ia warnai hitam.

"Malam ini ada sesuatu yang mengangguku."

"Apa itu?" Shion bertanya sambil menoleh.

"Entahlah, aku juga tidak tau. Sepertinya akan ada sesuatu buruk akan terjadi."

"Semoga saja tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi.

Menma, kau sudah menjadi jendral yang kuat jika ada sesuatu yang buruk di istana ini. Kau tidak akan diam itu pasti kan?"

"Hah, tentu saja. Percuma usahaku selama ini jika hanya bisa diam."

Naruto tersenyum kepada Shion yang ikut tersenyum juga.

#BERSAMBUNG

#NEXT

#Chapter 11

[ Dewi Kematian ]