"Dobe..."
"Tidak mau."
"Naru—"
"Ssh!"
Sebelum kita meneruskan pembicaraan diatas mari kita lihat beberapa menit yang lalu...
Di sebuah kamar di suatu sudut Menara Hokage, Shizune sedang berdiri. Sebenarnya dia sedang berpikir. Dia menutup matanya dan meletakkan jarinya di dagu. Dia tidak tahu pasti apa masalah yang sedang terjadi sekarang. Tapi, setelah melihat anak laki-laki yang berambut gelap itu, sepertinya Shizune samar-samar tahu apa masalah mereka. Meski ia tidak tahu apa yang ia pikirkan benar atau tidak. Tapi, ia tahu ia harus berbuat sesuatu. Karena asisten Hokage itu tidak mau melihat keduanya seperti kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya, padahal apa yang mereka inginkan tepat berada di depan mereka. Yang satu terlalu keras kepala untuk menyadarinya dan yang lain terlalu tinggi harga dirinya untuk mengakui yang sebenarnya.
Shizune menghela nafas panjang, "Dasar laki-laki."
Mata asisten itu menatap ke arah lorong saat sesosok ninja berjalan mendekatinya. Sasuke tampak seperti biasa dengan wajah datar dan tangan yang ia masukkan ke dalam saku. Ia memakai baju Jonin-nya seperti biasa. Lelaki tegap itu memandang ke arah Shizune. Sebelah alisnya terangkat.
Shizune lalu merasa ingat dengan sesuatu, "Ha! Uchiha-kun! Kebetulan kau di sini. Aku ingin minta tolong."
"Hn?"
Shizune kemudian segera pergi dari tempat itu. Sasuke mengangkat bahu dan berdiri di situ. Ia bersandar pada seuah pintu kamar. Ia melirik ke dalam dari jendela kecil di pintu itu. Sosok pemuda berambut kuning cerah membuat pandangan Uchiha yang terkenal dingin itu melembut. Ia menghela nafas dan mencoba untuk tenang. Ia sudah bertekad akan bicara pada'nya' hari ini. Dia juga tidak ingin terus-menerus dibenci oleh Ryuu.
"Uchiha-kun!" panggil Shizune.
Sasuke menoleh dan melihat asisten Hokage itu membawa nampan berisi makanan. Entah kenapa Sasuke tahu apa yang ingin Shizune suruh untuk ia lakukan.
"Kau tidak akan menyuruhku menyuapi'nya', 'kan?" ujar sang Uchiha.
Shizune hanya tersenyum, "Sebenarnya aku yang harus melakukannya tapi—"
Shizune menyodorkan nampan itu kepada Sasuke,"Aku masih memiliki banyak tugas. Dan kau tahu sendiri bagaimana Hokage kita selalu tertidur di tengah pekerjaannya atau saat dia terlalu sering minum sake. Dan—"
"Baiklah," potong Sasuke.
Shizune tidak bisa menahan senyum saat pemuda itu masuk ke dalam kamar. Shizune menyamarkan Chakra-nya dan ia mengintip kedua ninja terhebat Konoha dalam satu kamar. Hmm, sepertinya menarik...
A/N: chapter 10! XDD okeh, nami ngerti kalian pegel banget nungguin ni chapter. Karena banyak hal terjadi selama chapter ini dibuat. Khusus chapter ini, perhatikan random quote-nya ^^ SasuNaru banget kan? Satu lagi, smua nama tetua Konoha, itu nami yg bkin, jadi, yah, OC. To the story!
Aku menyukaimu—tidak, itu bohong. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak ingin melukaimu. Tapi... Aku menyukaimu. Kau memberiku kasih sayang. Kita serupa tapi berbeda. Karena kita berbeda, kita serupa. Perasaan kasih sayangku untukmu akan terus bertambah.(Ai Kotoba-Hatsune Miku)
KIZUNA – chapter X – Life is silence, sing for it
Burung berkicau dengan riang, bahkan sang mentari bersinar terang. Dunia tampak begitu bahagia hari ini. Tapi, itu tidak bisa mengusir awan mendung yang mengelilingi seorang pemuda bermata biru cerah. Pemuda itu melipat tangannya dan membuatng pandangan tidak enak keluar jendela. Bahkan seekor burung yang tadinya bertengger di salah satu dahan pohon di dekat kamar itu terbang pergi saat Naruto menatap tajam ke arahnya.
Di samping tempat tidur sang Uzumaki, Sasuke memegang nampan dan sendok. Sebenarnya dia juga tidak mau duduk di situ dan memegang benda yang ada ditangannya sekarang. Tapi, sepertinya tangan takdir sedag ingin melihatnya tersiksa. Karena dia bukan tipe orang yang suka merawat orang lain seperti yang ia lakukan sekarang.
"Kau harus makan, Do—Naruto," ujar Sasuke.
"Aku bisa makan sendiri."
"Yeah, dan kau akan membuang makanan ini dan mencari ramen."
Naruto semakin menekuk bibirnya mendengar itu, "Memang apa pedulimu?"
Sasuke menghela nafas mendengar itu, "Tentu saja aku peduli. Karena..."
Naruto menoleh ke arahnya dan menunggu apa yang dikatakan oleh orang di hadapannya. Belum selesai kata-kata itu keluar pintu kamar terbuka dan—
"Kaa-san!"
Hikari melesat masuk dan menerjang Naruto dalam pelukan mematikan.
"Hoaa, Hikari-chan—"
"Aku kangen kaa-san~" ujar anak perempuan itu dengan manja.
Yang bersangkutan hanya tersenyum dan mengelus kepalanya, "Benarkah? Bagaimana kau bisa di sini?"
Sepasang mata biru yang identik menatap ke arah Naruto, "Aku diantar sama paman bajak laut."
Naruto tersenyum kaku mendengar julukan itu, "Ohh..."
"Nee, nee, Kaa-san tidak apa-apa kan?"
Pembicaraan itu berlangsung cukup lama. Dan Sasuke tidak melakukan apapun selain duduk di situ dan menatap kedua orang yang sedang asyik berbicara. Ia membiarkan senyum tipis mengembang di wajahnya. Ia selalu menganggap Hikari mirip dengan Naruto. Dan berbicara dengan anak yang manis itu tidak sesusah Ryuu. Mungkin Ryuu mengambil karakternya. Pendiam dan susah untuk diajak bicara. Entah kenapa dia seolah menghadapi dirinya sendiri.
"Sasuke?"
Mata gelapnya berkedip, "Apa?"
Hikari menatap kembali ke arahnya, "Apa kau akan menyuapi Kaa-san?"
"Ya." "Tidak!" ujar kedua orang dewasa di kamar itu dengan bersamaan.
"Dobe..."
"Tidak mau."
"Naru—"
"Ssh!" kata Naruto sambil menatap tajam ke arahnya. Lagi.
Melihat Kaa-san dan Sasuke bertengkar entah kenapa membuat Hikari gemas dengan keduanya. Ia merasa melihat Sasuke menyuapi Kaa-san-nya adalah suatu hal yang menarik. Mungkin memang menarik, kalau seandainya bisa terjadi. Tapi, sepertinya Kaa-san terus menolak. Hmm...
"Kaa-san?"
"Kenapa Hika-chan?"
Hikari memasang pandangan 'mematikan' miliknya, "Aku ingin Kaa-san makan, kalau Kaa-san sakit bagaimana?"
Pemuda berambut kuning itu menelan ludahnya,"Iya, iya—"
"Yay! Disuapi ya? Ya?" ujarnya girang.
Tatapan 'mematikan' seorang anak pada orang tuanya sangatlah berbahaya. Terkadang itu menjadi kelemahan mereka. Dan setiap orang tua terutama seorang ibu tak akan bisa berkata 'tidak' jika mereka melihat anaknya memohon sesuatu. Dan itulah yang terjadi saat ini. Dengan helaan nafas panjang, Naruto hanaya bisa mengangguk kalah atas kemenangan Hikari.
Tapi, melihat senyum dan gelak tawa anak perempuannya selalu membuatnya bahagia. Meski sebenarnya ia sangat tidak mau disuapi oleh si brengsek yang duduk di sana. Ia menatap tajam ke arah Sasuke. Sedangkan yang di serang tatapan itu hanya menatap balik dengan pandangan yang aneh.
Hikari sangat senang sekarang. Melihat kejadian yang mungkin tak akan pernah terjadi. Kaa-san-nya mungkin tidak menyukai ide 'disuapi oleh Sasuke'. Tapi, setidaknya dia tidak akan menolak permintaan Hikari. Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka untuk ke sekian kalinya dalam pagi ini. Menunjukkan dua sosok familiar.
Naruto membuka mulut saat melihat dua orang itu,"Ran? Ageha-chan?"
Wanita berambut gelap itu tersenyum, "Jangan bicara saat kau makan."
"Aww! Kalian benar-benar menggemaskan!" tambah Ageha dengan girang.
"Huh?"
Lalu si Uzumaki melihat apa yang dimaksud Ageha. Tanpa sadar badannya sedikit membungkuk ke depan. Membuatnya lebih mendekat ke arah Sasuke sedangkan pemuda Uchiha di hadapannya mengangkat sendok yang di genggamnya. Dan keduanya yang baru sadar posisi itu hanya bisa terpaku beberapa detik...
"HEEE!"
Naruto dengan spontan menjulurkan kakinya dan menendang Sasuke. Nampan makanan yang tadinya di pegang sang Uchiha melayang. Ran dengan sigap menangkap nampan itu. Sementara Sasuke sibuk merawat bagian samping perutnya yang nyeri. Ageha tertawa melihat reaksi temannya itu. Sayang sekali momen itu hanya sebentar. Sebenarnya ia ingin melihat bagaimana si tuan-tanpa-ekspresi menyuapi Naruto.
"Dobe!"
"Argh! Makanya aku tidak mau di-di-disuapi olehmu! Dasar kau brengsek!"
Ran menyeringai senang dan menoleh ke arah tuannya, "Misi berhasil."
Ageha mengangguk girang, "Yep!"
Semua orang di kamar itu terdiam saat sebuah suara mengerang, "Kaa-san?"
Naruto yang tadinya ingin tahu apa maksud Ran berhenti dan menoleh. Ia membuka tirai di sebelah tempat tidurnya. Ia berdiri dan mendekati Ryuu. Anak laki-laki itu mungkin terbangun karena suaranya tadi. Ia menyalahkan dirinya sendiri dan si Uchiha. 'Dasar kau Teme, akan kuhajar kau nanti.'
Ryuu mengusap matanya dan berusaha duduk, "Uhh."
"Ryuu-kun, lebih baik kau tidur saja."
Suara familiar itu membuatnya menengadah, "Kaa-san."
"Hey," sapa Naruto dengan senyum.
Mata biru anak itu melihat ke sekeliling. Ia bisa melihat Hikari, Ageha-san, dan gurunya, Ran. Ia juga melihat orang yang membuatnya merasa kesal. Ryuu mendengus keras dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Naruto melihat hal kecil itu dengan seksama. Ia masih tidak tahu apa yang membuat Ryuu seperti ini. Tapi sepertinya hal itu berhubungan dengan Sasuke. Dan ia tahu, Ryuu tidak sama dengan Hikari meski keduanya kembar. Terkadang sikap Ryuu mengingatkannya pada sang Uchiha.
Naruto menoleh ke arah Ran. Seolah mengerti tatapan Naruto, wanita bermata hijau itu mengangguk dan meraih lengan Sasuke.
"Ada yang mau jalan-jalan?" ujar Ran sambil tersenyum.
"Aku ikut!" jawab Hikari seraya melompat turun dari tempat tidur Kaa-san-nya.
Setelah semua orang pergi, Naruto duduk di tepi tempat tidur Ryuu. Ia mengelus lembut rambut panjang berwarna gelap itu. Ia bisa melihat Ryuu memejamkan matanya. Bahu kecil yang tadinya terlihat tegang itu perlahan menjadi lebih tenang.
"Ryuusuke, kenapa kau melakukan ini?" tanya Naruto .
Suara lirih Kaa-san-nya membuat Ryuu mengigit bibirnya. Ia sangat menyayangi Kaa-san-nya karena dia adalah orang yang merawatnya sejak lahir. Mungkin beberapa orang juga membantu. Tapi ia selalu merasa Kaa-san-nya memiliki sesuatu yang membuat Ryuu tidak bisa berkata tidak. Lagipula, Ran-san selalu berkata hubungan seorang ibu dan anaknya selalu yang lebih erat dari apapun. Ryuu menutup matanya sejenak sebelum menghela nafas.
Sejujurnya ia tidak tahu apakah harus jujur atau tidak. Tapi, ia tidak bisa meyalahkan orang yang sudah menjadi orang tua satu-satunya dari ia dilahirkan ke dunia. Sepasang mata biru menatap ke arah mata biru lainnya yang nyaris identik.
"Apa benar si ninja kepala bebek itu ayahku?"
Naruto terdiam mendengar itu. Ia berusaha menjaga supaya wajahnya tetap netral dan tidak menunjukkan reaksi apapun. Tapi, ia tahu ia tidak pandai melakukan itu.
"Kenapa kau berkata begitu? Tidak mungkin, Ryuu—"
Ryuu menatapnya tajam, "Lalu kenapa aku sangat mirip dengan orang itu?"
"Ryuu—"
"Aku mau kaa-san beritahu aku. Kau bilang ayah kami sudah meninggal. Kalau memang iya kenapa orang itu bilang kalu kepala bebek itu ayahku?" senyum kecut Ryuu menunjukkan ia sedang tidak senang saat ini. Dan Naruto tahu benar jika sudah seperti ini, Ryuu sedang dalam keadaan 'terburuk'.
Naruto mengerutkn keningnya, "Orang itu?"
Ryuu tampaknya tidak mau menjawab nada tanya Naruto. Ia tetap terdiam dan melipat tangannya. Pria muda itu hanya bisa menghela nafas melihat kekeras kepalaan Ryuu.
"Sejujurnya au tidak ingin menceritakan ini Ryuu, kau masih terlalu kecil—"
"Aku tidak peduli," ujar anak laki-laki itu tegas.
"Hmmh, baiklah. Semuanya berawal sejak aku masih menjadi bagian dari desa Konoha ini..."
I am mother Gothel line break. You know... Mother... Knows Best...
Ninja bertopeng hewan itu melangkah cepat. Lorong-lorong tempat para tetua Konoha sangat gelap di bawah sini. Suara percakapan yang samar-samar sampai di telinga ninja itu. Menunjukkan bahwa tempat yang ia tuju sudah semakin dekat. Ia menambah kecepatannya sedikit lagi dan berdiri di samping salah satu dewan.
"Ada apa?"
Ninja pesuruh itu membungkuk sedikit dan berkata, "Ada berita yang tidak bagus, tuan."
"Hoo, apa itu?"
"Begini..." dia membisikkan informasi yang baru saja dia dapat.
Mata yang tadinya sipit itu membuka sejenak dan suara mendesis keluar dari mulutnya. Tangannya tergenggam dalam kepalan yang erat ia menghentakkan kepalan itu di atas meja keras. Tetua lain berhenti berbicara dan kini pandangan mereka berpusat pada satu orang.
"Ada apa, Yoshizawa-san?" tanya salah seorang dari mereka.
Wajah setengah baya itu menyipitkan mata abu-abunya, "Sepertinya kita kedatangan 'tamu'."
Beberapa anggota dewan berbisik-bisik, "Tamu?"
"Siapa?"
"Seseorang yang sangat kita kenal, wahai para dewan. Uzumaki Naruto." ujar Yoshizawa.
"Apa?"
"Tapi bukannya anak itu sudah menghilang?"
"Kenapa..."
Bisik-bisik dan dengungan kata-kata para dewan di ruangan itu terus berlanjut. Mereka tampaknya sedikit terkejut dengan berita kedatangan pembawa Kyuubi itu.
"Tenang- harap tenang. Kita yang berkumpul di sini adalah yang masih tersakiti oleh tragedi yang melibatkan anak itu, bukan?" kata Yoshizawa.
Para dewan melihat satu sama lain dan Yoshizawa melanjutkan, "Saya pikir si Kyuubi itu sudah lenyap dari Konoha. Ternyata dia kembali."
"Dia hanya akan menimbulkan masalah!" ujar salah satu orang.
"Ya! Usir saja dia!" sahut yang lain.
Senyum Yoshizawa Kenichi melebar mendengar itu, "Jangan khawatir, para dewan. Saya sudah memiliki rencana untuk Kyuubi itu."
I am Darren Shan. I am the youngest and half blood vampire prince.
Seorang anak laki-laki berlari menyusuri jalan kota Konoha yang ramai. Ia tidak melihat ke belakang. Ia terus berlari sekuat yang ia bisa. Segerombolan orang yang terkena dan hampir menabraknya hanya mengeluarkan ocehan-ocehan yang hanya lewat begitu saja di telinga anak itu. Mata birunya tertuju ke arah tanah dan kakinya yang telanjang. Ia tidak peduli dengan kasarnya tanah dan batu-batu kecil yang tertanam menyebar di jalan itu.
BRUK!
"Ouch!"
"Aww!"
Mata biru cerah dan ungu bertemu pandang. Tunggu dulu ungu? Anak perempuan di hadapannya mengenakan yukata. Mungkin keluarganya adalah keluarga yang cukup berada. Motif bunga sakura dan kupu-kupu menghiasi bagian bawah dan lengan yukata itu. Warna biru muda dan merah jambu terlihat cocok dengan mata ungunya yang tidak biasa. Rambutnya lurus dan berwarna coklat tua terikat di kedua sisi kepalanya.
"Sumimasen," ujar anak itu.
Ryuu segera berdiri, "A-ah, tidak. Harusnya aku yang minta maaf."
Uluran tangan Ryuu dibalas dengan senyuman, "Aku juga salah. Harusnya aku lihat kemana aku berjalan."
"Namaku Tsuki, kau?"
"Ryuusuke."
Ryuu mengamati 'teman baru'nya. Entah kenapa Tsuki mengingatkannya pada Kaa-san. Mungkin karena untuk anak seumuran itu, Tsuki sangat sopan. Ryuu merasa bersalah meninggalkan rumah sakit tepat setelah Kaa-san pergi untuk mencari Hikari. Dia hanya tidak ingin berurusan dengan siapapun. Terutama, tidak ingin bertemu dengan 'ayah'nya itu. Manusia macam apa yang tega seperti itu? Ah, jawabannya hanya satu. Hanya Uchiha Sasuke yang bisa. Lagipula orang itu memang robot sempurna.
"Ryuu-san?"
"Ah?" Ryuu menoleh.
"Sepertinya Ryuu-san sedang ada masalah?"
Ryuu menghela nafas mendengar itu, "Jika aku marah kepada orang tuaku karena mereka bodoh, apa itu tidak boleh?"
Mata berwarna ungu itu menatap ke arahnya. Senyuman Tsuki masih tetap di sana, sepertinya memang dia sangat suka tersenyum? Ryuu tidak tahu, tapi entah kenapa teman barunya ini bisa membuatnya merasa nyaman seperti bersama adik atau Kaa-san. Mungkin, berteman baik dengan orang lain terkadang membuatmu merasa memiliki 'rumah' kedua.
"Hmm, apa mereka membuat Ryuu-san sebal?"
Ryuu mengangkat bahu, "Mereka lebih dari itu, kurasa."
"Oyaji-sama* pernah berkata padaku, ada masalah yang seharusnya aku ketahui dan tidak boleh diketahui. Seburuk apapun Oyaji dan Okaa-sama, mereka sangat menyayangi Tsuki."
Mata biru Ryuu tertuju ke arah Tsuki, "..."
"Jadi, aku rasa, meski Ryuu-san menganggap mereka menyebalkan, mereka pasti punya alasan. Dan alasan itu tidak ingin mereka beritahu pada Ryuu-san. Mungkin, jika mereka beritahu itu hanya akan membuat Ryuu-san bingung."
"Menurutmu begitu?"
Tsuki tertawa kecil, "Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan apa yang ada dipikiranku. Tapi, bukankah akan sangat sedih kalau seandainya keluarga kita membenci kita?"
Anak laki-laki itu menggigit bibirnya, "Aku harus minta maaf pada Kaa-san."
Ryuu berbalik dan berlari. Ia menengok di belakang dan melihat Tsuki tersenyum, "Terima kasih!"
Anak laki-laki itu berlari kearah yang berlawanan saat dia datang. Saat tiba di sebuah jalan yang sepi dia terdiam sejenak. Jalan kecil itu begitu sepi. Dia tahu pasti ada sesuatu yang tidak menyenangkan di jalan itu. Dia berbalik dan baru saja akan mengambil jalan lain ketika dua orang figur berdiri di hadapannya. Dua orang itu menutupi wajah mereka dengan kain. Baju mereka hitam dan tidak ada tanda yang bisa dikenali.
"Oh, jadi ini anak si rubah itu?" ujar salah satu dari mereka.
"Bodoh, kita dilarang bicara. Kerjakan saja tugas yang diberikan oleh tuan," jawab yang lain.
Mata biru Ryuu menyipit, "Apa mau kalian?"
"Kami hanya akan membawamu ke suatu tempat."
Ryuu bisa menebak senyum licik dibalik kain itu, "Tidak akan."
Ryuu berlari sekuat tenaga. Tanpa sadar ia memfokuskan chakra dikakinya dan melompat. Ia tersenyum saat melihat dua orang yang mengejarnya membisikkan kata-kata kutukan. Dengan segera dua orang itu melompat dan mengejarnya.
"Tch, ternyata bukan orang biasa," bisik Ryuu.
Kejar mengejar itu sudah agak lama berlangsung saat sepasang mata biru lain memandangi kejadian itu. Sementara itu, Ryuu berusaha menghindari beberapa kunai dan tali yang dilemparkan kearahnya. Sayangnya dia bukan tandingan dua orang asing yang mengejarnya. Ryuu berhasil menghindari kunai lain yang dilempar. Tapi, kunai itu mengenai kaki dan lengannya.
"Ugh."
Ryuu mendesis saat melihat luka di kakinya, lebih dalam dan membuatnya terjatuh saat itu juga. Dia terduduk di salah satu atap dan menatap tajam dua orang di hadapannya.
"Kita tidak boleh membunuhnya."
"Ya ya ya, aku tahu. Kita harus membawanya hidup-hidup."
I am author line break. Huwooooo, finally! I'll be going home this december!
Hikari berlari sekuat tenaga. Sebenarnya dia tersesat beberapa saat lalu sebelum akhirnya dia melihat dua orang aneh mengejar kakaknya. Air mata yang terus mengalir ia hapus dengan kasar. Dia tidak boleh menangis. Menangis itu tidak akan membawa membuahkan hasil apapun. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah menemukan Kaa-san atau paman bajak laut atau Sasuke? Ya! Dia harus menemukan salah satu dari mereka. Karena Hikari tahu, jika Ryuu tidak bisa lari dari dua orang aneh itu, dia sendiri tidak akan bisa bertahan lebih dari satu menit. Bagaimanapun juga, Ryuu masih lebih cerdik dan kuat daripada Hikari.
Nafasnya memburu. Hikari tidak yakin apa dia berlari ke arah yang benar. 'Tolong, siapapun, tolong Ryuu—'
BUK!
"Ahh!"
"Hikari?"
"Sasuke-san!"
Alis mata sang Uchiha terangkat melihat wajah Hikari, "Ada apa?"
Hikari segera menarik Sasuke, "T-tolong, Ryuu hiks, Ryuu!"
"Ryuu?"
"A-ada orang aneh... hiks... Dia dikejar..."
Wajah datar itu berubah serius, "Ryuu? Orang aneh? Ryuu dikejar seseorang?"
Hikari mencoba untuk tidak menangis seraya melanjutkan, "D-dua orang... Disana-"
Sasuke segera menggendong anak kecil itu di punggungnya, "Tunjukkan tempatnya."
Sasuke melompat ke atap rumah terdekat dan mendengarkan kata-kata Hikari. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa seseorang mengejar Ryuu. Lagipula dia hanya seorang anak kecil. Kecuali... kecuali orang itu tahu bahwa Ryuu adalah anak Naruto?
'Semoga tidak begitu,' pikirnya.
Sudah cukup buruk baginya Naruto masih susah untuk mempercayainya. Kalau dugaannya benar, ini benar-benar akan membuat orang yang paling penting baginya menjauh dan lebih membencinya.
"Di situ," ujar Hikari lirih.
Sasuke tahu bagaimanapun dilihat di tempat itu tidak ada apapun. Yang terlihat hanya atap rumah penduduk. Dia menurunkan Hikari di sebelahnya. Mata gelapnya melihat sekeliling. Seandainya ada petunjuk...
Pencarian hari itu tidak membuahkan hasil. Hikari sangat sedih saat Sasuke berkata mereka harus mencari Ryuu keesokan harinya. Ia mendengar dari Suzune, Naruto sangat khawatir dan sempat menghilang dari tempatnya dirawat. Hal itu sampai membuat Tsunade turun tangan, tentunya dengan bantuan Ran. Setelah berbicara dengan Ageha, Naruto menjadi agak tenang. Tapi, kemarahan dan kekhawatirannya tetap ada. Sasuke masih ingat saat Ran menarik kerah bajunya dengan kasar...
Satu mata hijaunya menatap tajam. Suara yang ia keluarkan begitu berat dan penuh dengan nada ancaman. "Jika kau dibalik ini, Uchiha, bersiaplah berkata selamat tinggal pada dunia."
Lawan bicaranya tetap diam. Sasuke hanya bisa memasang wajah tanpa ekspresinya. Karena ia masih ragu, apakah dugaannya benar atau tidak. Sebelum semuanya memburuk, ia harus mencari tahu.
Sasuke memijit keningnya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tubuhnya masih sedikit basah setelah mandi. Handuk di tangannya ia lempar ke tempat tidur. Ia berbaring menatap langit-langit putih seraya menggunakan lengannya untuk bantal. Nafas panjang keluar dari mulutnya. Dia tahu dia tidak seharusnya tetap disini dan berbaring. Tapi, mencari seseorang dengan membabi buta tanpa ada strategi bukanlah style-nya.
Tiba-tiba ketukan terdengar dari jendelanya. Sasuke segera bangun dan membukanya.
"Nara, ada apa malam-malam begini?"
Shikamaru menghela nafas panjang, "Ahh, seharusnya aku memang tidak usah datang. Merepotkan—"
Sasuke melipat lengannya, "Katakan sesuatu yang penting, kalau tidak aku akan memaksamu pergi."
"Baiklah, Uchiha. Terserah padamu. Padahal aku ingin memberi tahumu tentang tetua dan bisik-bisik diantara mereka. Kalau kau tidak ingin tahu, ya sudah."
Shikamaru sudah bersiap pergi saat Sasuke memotongnya, "Tunggu. Apa maksudmu dengan itu?"
"Hhh, kau tidak tahu? Aku dengar mereka akan mempercepat pernikahanmu dengan Sakura."
"Per—apa? Mereka pikir siapa mereka?" ujar Sasuke mendengus.
"Mereka Dewan Konoha," jawab Shikamaru mengangkat bahu.
"Nara..."
"Haah, merepotkan... Oke, oke. Masalah yang terpenting bukanlah itu."
Sasuke memandang Shikamaru heran, "Kenapa?"
Kali ini Shikamaru memandangnya serius, "Mereka membicarakan sesuatu tentang Naruto."
"Apa?"
Ninja jenius itu mengangguk dan melanjutkan, "Sebenarnya aku hanya ditugaskan untuk menyelidiki penyalahgunaan wewenang mereka sebagai Dewan untuk beberapa kasus politik dan keuangan. Juga beberapa kasus yang bersangkutan dengan ANBU yang bekerja di bawah mereka. Salah satunya juga masalahmu dengan mereka menyangkut Sakura. Tapi, ada informasi tentang Naruto. Seseorang berbicara tentang Naruto."
Sasuke terdiam. Dia tidak tahu bagaimana harus menyikapi ini. Dia tidak akan kaget kalau Shikamaru sudah mengetahui bahwa Naruto ada di Konoha. Dan Sasuke semakin yakin bahwa hilangnya Ryuu ada sangkut pautnya dengan orang-orang licik itu.
"Aku tahu Naruto ada disini, di Konoha. Tapi, aku ingin tahu kenapa mereka membicarakan Naruto. Sesuatu mengatakan padaku saat ini ada suatu masalah yang sedang terjadi."
"Kenapa aku harus memberitahumu?" ujar Sasuke.
"Karena aku akan membantunya."
"..."
"Aku sudah menebak apa yang sedang kau coba kerjakan saat ini. Tapi, apapun yang aku lakukan bukan untuk membantumu, Uchiha. Aku hanya ingin menolong temanku, seperti yang selalu Naruto katakan pada kami semua beberapa tahun yang lalu."
Mata gelap Uchiha itu melebar sejenak. Tapi tak lama saat Shikamaru berkata ia harus pergi. Sasuke masih merenung saat bel dirumahnya berbunyi. Ia menuruni tangga dan membuka pintu. Seseorang yang ada dihadapannya adalah orang yang tidak ingin dia lihat sekalipun dunia sudah diujung kehancuran.
"Haruno," ujarnya datar.
"Sasuke-kun."
Sasuke melipat tangannya, "Mau apa kau kesini? Aku sedang tidak ingin menerima tamu."
"Sekalipun calon istrimu?"
Sasuke serasa ingin memecahkan kepalanya sendiri saat itu juga, "Dengarkan aku, Sakura. Perjanjian itu dibuat hanya untuk aku bisa tinggal di Konoha. Alasanku untuk tinggal karena aku harus mencari Naruto. Aku akan meninggalkan desa ini, segera. Karena aku sudah menemukannya dan aku tidak butuh tempat disini."
Mata emerald itu berapi saat mendengar jawaban Sasuke, "Tidak bisa! Kau harus mempunyai anak! Itu perjanjiannya! Kau tidak bisa pergi!"
"Aku memang memiliki anak, Haruno."
"A-apa? Tidak mungkin! Maksudmu—"
"Aku yakin, mereka adalah anakku," jawab laki-laki itu dengan menatap langit malam.
"...tidak ada bukti tentang itu. Kalau kau tidak memenuhi perjanjian itu, anak itu akan mati."
Sasuke menatap tajam ke arah Sakura, "Apa? Apa kau bilang?"
Sakura tersenyum melihat ekspresi Sasuke, "Aku tahu dimana anak laki-laki itu berada."
Sasuke berdiri tegap dan mendekatkan wajahnya. Sharingan berputar dengan liar dikedua matanya, "Aku hanya akan tanya sekali, Haruno. Dimana Ryuu sekarang?"
"Aku akan memberitahumu dimana anak itu. Tapi kau harus menikah denganku," balas Sakura dengan tenang.
Sasuke terdiam sejenak, "Baiklah."
Mendengar itu Sakura tersenyum lebar padanya, "Oh, pilihan bagus! Aku akan beritahukan padamu segera."
Sasuke melihat wanita berambut merah jambu itu menghilang dibalik malam. Ia punya rencana untuk dijalankan. Seseorang yang sudah berhasil mengalahkan Akatsuki bukanlah orang yang mudah ditipu. Seorang Uchiha tidak akan jatuh dengan perangkap semacam itu. 'Lihat saja, Haruno, aku akan menyelamatkan Ryuu tanpa bantuanmu.'
'Aku bukanlah Uchiha jika aku tidak bisa menemukan anak itu dan menyelamatkannya. Kalian yang terlibat akan mendapat 'bayaran' dariku,' pikirnya seraya menyeringai.
I am paper line break. The author always use me to draw many things.
Dua orang figur saling berhadapan di atas atap salah satu rumah penduduk. Mata keduanya saling berhadapan. Salah satu dari keduanya menggunakan jubah penutup. Di wajahnya menunjukkan senyum yang ramah. Terlalu ramah. Matanya nyaris sama seperti Kakashi, hanya saja itu bukan senyum yang hangat dan ramah tapi dipenuhi teka teki. Apapun yang ada dalam pikiran orang itu sepertinya sesuatu yang tidak baik.
"Kenapa kau memanggilku kesini?" tanya figur lain kepada si pemakai jubah.
"Ahh, ada apa? Hanya ingin membuat perjanjian denganmu."
"...jika aku lakukan seperti yang kau tuliskan, apa kau akan menepati janjimu juga, padaku?"
"Tentu saja," balasnya.
"Hmmh, baiklah. Aku pegang kata-katamu."
Senyum figur itu semakin lebar mendengar lawan bicaranya menyetujui kesepakatan.
"Senang bisa mencapai kesepakatan... Naruto-kun."
Random facts:
*) Yoshizawa Kenichi: OC (Original Character) salah satu dewan konoha. Pemimpinnya BUKAN Danzo ato si Yoshizawa ini. Tapi, karakter ini khusus nami buat utk memimpin mereka2 yg membenci Kyuubi n Naru.
*) Danzo disini nami buat udah meninggal. Soalnya karakter dia emang ga terlalu cocok utk masuk ke dalam cerita ini. Jadi, yah, nami 'delete' aja dia... T_T
*) Tsuki: OC juga. Mata ungu, rambut lurus, dan berwarna coklat. Hoho, anak siapa ini? Yang jelas pairingnya bukan dari 'Naruto'. Sengaja nama keluarganya ga nami masukin. :3
*) Oyaji-sama: artinya ayah, biasanya dipake utk kalangan bangsawan, karena mereka sangat menghormati kepala keluarga, makanya juga dipake '-sama' dibelakang 'oyaji'. Jaman sekarang sudah jarang digunakan.
Q: sepertinya Naru lebih sayang ke Ryuu daripada Hikari?
A: ah, ternyata ada juga pertanyaan ini. Sebenernya bukan lebih sayang ke Ryuu, hanya saja Ryuu itu yang lbih bnyk punya masalah. Dia kakak yg baik, ga terlalu banyak bicara, n biasanya Naru rada bingung juga harus bersikap gimana karena Ryuu mirip banget ma Sasu. Jadi, sbnernya dia sayang dua2nya kok, cuman karena sedang ada masalah aja Ryuu jadi kelihatan lbih dket n lbih disayang ma Naru.
To Kitsune-chan: Hey there. I don't know what to say anymore. I just wanna say, don't lose your gift. I wish you could go here as soon as possible. So, I can treat you like I promised.
Yeah. Nami sudah rencanakan chapter depan adalah chapter terakhir dan chapter 12 adalah epilog. Tapi, entah akan jadi seperti itu ato nggak. Yg jelas nami bakal lebih sibuk lagi. Dan mungkin akan lebih banyak begadang lagi –sigh–. Tugas dan Ujian Semester menanti di depan... okeh, dan sekarang waktunya Iruka-sensei.
Iruka: Konnichiwa, minna-san.
Me: Konnichiwa, sensei. Bagaimana keadaan anda?
Iruka: Sebenarnya saya rindu dengan anakku satu-satunya... [mother hen mode]
Me: Err, yeah... ^^" jadi—
Iruka: Naru-chan—dimana kau berada?
Me: Sensei—
Iruka: Naru—
Kakashi: [hold his mouth] yah, begitulah para reader. Harap maklum dengan kondisi Iruka saat ini dan review-lah sebagai reader yg baik. n_n
