Disclaimer :

-All Naruto Chara inside is belong to Masashi Kishimoto

-The Story is belong to Ayame Yumi

Warning :

-Sasori dalam cerita ini warna matanya biru bukan coklat.

-OOC, TYPO, Gaje, DLDR

-Apabila masih banyak kekurangan mohon dimaklumi.

.

.

Enjoy Reading minna-san~

.

.

.

.

The Story of The Second Heir

Riuh tepuk tangan terdengar memenuhi aula ketika sang presdir baru, Haruno Sakura menyelesaikan pidato singkatnya di atas podium. Setelahnya MC acara menyebutkan agenda selanjutnya dari pesta perayaan ini. Tepuk tangan kembali terdengar riuh ketika seorang pelayan membawa masuk sebuah round cake dengan empat tingkat yang dilapisi krim putih dan garis merah di bagian bawah setiap tingkatnya, cake itu juga dihiasi dengan pink sugar flower yang dibentuk menyerupai bunga Sakura yang asli. Yup, sekarang saatnya untuk memotong kue.

Pelayan tadi memberikan sebuah pemotong kue ke arah Sakura dan Kizashi yang saat itu juga berada di atas panggung.

Sepasang ayah-anak itu memejamkan mata mereka sejenak membatin sebuah permohonan untuk kemajuan perusahaan mereka kedepannya. Setelah selesai para hadirin mulai menghitung mundur bersama.

"3!"

"2!"

"1!"

Dengan bersamaan mereka memotong cake itu dari bagian teratasnya hingga kebawah. Kizashi memberikan sepotong kue pertama kepada Sakura.

"Untuk putri kebanggaanku," ujarnya ketika memberikan sepotong kue itu kepada Sakura.

Sakura mulai memotong kue itu menjadi bagian-bagian kecil, lalu ia mengambil salah satu potongan itu untuk dimakan, tetapi tepat sebelum kue itu memasuki mulutnya seseorang terdengar berteriak mencegahnya.

"JANGAN DIMAKAN!"

Semua yang hadir di sana terkejut ketika seorang pemuda pirang tiba-tiba berteriak.

Kizashi memandang tajam sepasang mata yang senada dengan miliknya itu.

"Atas dasar apa kau menghentikan ini tuan Uzumaki Naruto ?" tanya Kizashi.

Naruto, yang saat itu sedang berada di pojokan sambil menikmati hidangan ramen yang tersedia tersedak kaget ketika mendengar suara yang begitu mengintimidasi menyebutkan namanya.

"Uhuk! Uhuk!"

Naruto memandang ke arah panggung dengan bingung, suara mengintimidasi itu berasal dari Kizashi tetapi apa yang telah diperbuatnya ?

"Seseorang yang mirip denganmu tadi menghentikan Sakura-sensei untuk memakan kue perayaannya," ucap Sasuke. Tunggu! Kapan dia berada di sana ?

.

Back to the Main Topic

Pemuda pirang itu memegang rambutnya, dan dengan perlahan menarik helaian pirangnya. Terdengar bisik-bisik ricuh ketika mengetahui pemuda itu sebenarnya menggunakan wig untuk menyembunyikan helaian merah batanya.

"Maaf tou-san aku bukan Uzumaki Naruto," Kizashi membelalakkan matanya ketika menyadari siapa yang kini berada di hadapannya.

"Ni-niisan," lirih Sakura, emerald-nya tak beralih sedikitpun dari sosok yang tengah melangkahkan kakinya ke atas panggung.

"Lama tidak berjumpa, tou-san,"

Kizashi menggeram. "Sebenarnya apa maumu ?!" tanyanya penuh penekanan.

"Aconitine," gumamnya.

Kizashi memandang pemuda di hadapannya dengan pandangan tak mengerti.

"Cake ini mengandung Aconitine," ucapnya sambil mengambil sepiring kue yang dipegang Sakura.

Terdengar desahan kaget dari para tamu undangan ketika pemuda berambut coklat itu menyebutkan nama salah satu racun yang bisa melumpuhkan saraf.

"Alasan apa yang membuatmu yakin kalau kue ini mengandung sejenis racun berbahaya seperti itu ?" tanya Kizashi.

Mata Sapphire pemuda itu mengerling ke arah para hadirin- ah! Lebih tepatnya sepasang onyxyang kini tengah memandangnya tajam.

"Tadi aku tidak sengaja mendengarkan sebuah pembicaraan antara salah satu tamu dan juga seorang pelayan,"

Pemuda itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah sepasang sapphire yang kini tengah memandangnya dengan tatapan menyelidik.

"Awalnya aku tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan, jadi kuputuskan untuk mengikuti pelayan tersebut ketika mereka berpisah, aku melihat ia memberikan sebuah cairan ke arah krim kue yang belum dioleskan. Dan saat ia membuang botol itu aku mengambilnya dan melihat label Aconitine di botol kecil itu," jelas pemuda itu.

"Dan untuk membuktikan ucapanku, aku rasa tuan Saiga Yahiro bisa mencoba untuk memakan kue ini," terlihat seringai di wajah pemuda yang memiliki nama lengkap Haruno Sasori itu.

Yahiro membelalakkan matanya mendengar ucapan Sasori, namun dengan cepat ia mengendalikan keterkejutannya. Dengan penuh kepercayaan diri Yahiro melangkah ke arah panggung dan mengambil sepiring kue yang disodorkan oleh Sasori. Ia mengambil sepotong kecil kue itu dengan garpunya dengan perlahan diarahkannya ke mulutnya.

.

-o-

.

"Arigatou atas bantuanmu Konan-san," ucap Tenten sambil meletakkan beberapa tempat makanan yang sudah kosong di tempat pencucian.

"Tidak perlu berterima kasih, ini hal yang kecil," ucap Konan. Bagaimana dia bisa disini ?!

"Sepertinya tamu-tamu itu benar-benar kelaparan, hidangan yang disediakan habis dengan cepatnya, apalagi ramen, aku tidak tau apakah mereka bisa memakan dessert cake atau tidak nantinya,"

Deg Deg

Konan yang tak mendapat respon dari orang yang diajaknya bicara akhirnya mengalihkan pandangannya dari setumpuk cucian yang harus ia cuci.

"Kau kenapa ?" tanya Konan khawatir ketika melihat Tenten terdiam.

"Tidak, bukan apa-apa," ujarnya sambil menunduk.

Konan memandang Tenten dengan pandangan yang sulit diartikan.

.

-o-

.

"Demi Dewa Jashin, Kakuzu bisakah kau berhenti menghitung uangmu itu ditengah misi penting kita ?" tanya seorang pemuda berambut abu-abu seleher yang disisir rapi kebelakang, mata ungu khasnya terlihat memandang bosan partner-nya.

"Demi uang yang berharga, bisakah kau diam dan tidak menggangguku, aku sudah berulang kali menghitung ulang akibat kau yang memecah konsentrasiku,"

"Lagipula pekerjaan kita hanya menangkap si Yahiro dan sekongkolannya itu agar tak bisa melarikan diri, dan itu hal yang mudah jadi bersantailah sedikit sebelum bekerja,"

"Terserah kau saja," ucapnya bosan.

.

-o-

.

Sebuah mobil terlihat parkir tak jauh dari gedung Haruno Corp.

"Sepertinya Sasori sudah mulai terpancing ke permainanmu Orochimaru-sama," ucap Kabuto.

"Tentu saja, dia tidak akan mungkin bisa mengabaikan pesan yang berkaitan dengan keselamatan adik dan keluarganya," ucap Orochimaru sambil menyeringai.

"Orochimaru-sama, bolehkah aku bertanya apa sebenarnya alasan kau begitu membenci keluarga Haruno terutama Sasori dan juga Kizashi ?"

"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu ?" tanya Orochimaru.

"Aku hanya penasaran,"

"Kalau begitu simpan saja rasa penasaranmu itu dan tetap lakukan tugasmu,"

"Ha'i Orochimaru-sama,"

"Daripada itu apakah gadis bodoh itu mengetahui keberadaanmu di Jepang ?" tanya Orochimaru.

"Tidak, aku bisa menangani keadaan itu dengan cukup baik," ucap Kabuto, tangannya menunjukkan sebuah isyarat yang membuat Orochimaru menyeringai puas.

.

-o-

.

Yahiro menghentikan gerakan tangannya. "Siapa tau kau mencoba untuk meracunku dengan menyuruhku untuk memakan kue ini, lagipula kenapa harus aku ? Kenapa tidak kau sendiri saja yang membuktikannya ?"

"Sasori tidak pernah berniat untuk meracunmu Yahiro-sama," seorang gadis berambut coklat muncul dari belakang panggung dengan tiba-tiba diikuti oleh seorang gadis berambut ungu. Gadis bernama Konan itu tersenyum ke arah Sasori.

Tenten melangkahkan kakinya mendekat ke arah Yahiro dan Sasori.

"Dirimu dan Orochimaru-samalah dibalik semua ini,"

Terdengar desahan kaget dari para tamu undangan. Orochimaru, mereka cukup mengenal nama itu diakibatkan sebuah peristiwa beberapa tahun silam.

"Ck! Aku malas untuk mengelak dari semua hal konyol ini, jadi lebih baik..." Yahiro terlihat mengambil sesuatu dari dalam kantong jasnya.

"MATI SAJA KAU DASAR WANITA JALANG TAK BERGUNA!" Yahiro mengarahkan pistolnya ke arah Tenten dan...

DOR

"AKKHH!"

"SASORI!"

"NII-SAN!"

"Che, kau bahkan melindungi anak buah musuhmu sendiri eh, Sasori ?"

Tenten membelalakkan matanya melihat tubuh seseorang yang melindunginya.

'Kenapa ?' pertanyaan itu terngiang di kepalanya. Iris coklatnya memandang ke arah punggung tegap milik pemuda yang telah melindunginya.

'Kenapa dia melindungiku ?'

'Kenapa dia melindungi orang yang bahkan turut andil untuk mencoba menghancurkan keluarganya ?'

'Kenapa dia melindungi penjahat sepertiku ?'

'Kenapa ?'

'Kenapa ?'

Tubuh kekar itu jatuh terduduk, darah terlihat mengalir dari bahu kanannya yang terkena tembakan. Orang-orang mulai mengerubungi Sasori tak terkecuali Kizashi, Sakura dan juga Mebuki.

"Kau, cepat tolong panggilkan ambulans," teriak Sakura panik sambil menunjuk salah seorang tamu yang langsung bergegas menghubungi ambulans.

"Tenang nii-san ambulans akan segera datang kemari," ucap Sakura.

"Akkhh! Jangan memelukku terlalu erat imouto," walaupun begitu ia tersenyum sambil mengelus helaian merah muda adik kesayangannya.

"Maafkan aku," ucap Sakura.

Melihat semua orang yang terfokus kepada Sasori membuat Yahiro memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri. Itachi dan Sasuke yang melihatnya langsung saja mengejar Yahiro.

"Hei! Jangan kabur kau bajingan," teriak Sasuke.

Itachi terlihat mendekatkan jam tangan hitamnya ke arah bibirnya. "Hidan! Kakuzu! Persiapkan diri kalian, Yahiro sedang menuju ke arah pintu depan,"

Sasuke memandang Itachi kaget. "Kau mengetahui hal ini ?" tanya Sasuke.

"Tentu saja, aku sudah lama menyelidiki pria bernama Orochimaru dan sekongkolannya dan aku juga mengetahui kalau mereka akan melakukan percobaan pembunuhan hari ini," jelas Itachi.

"Kau terdengar seperti mata-mata," ucap Sasuke tanpa mengurangi kecepatan berlarinya sedikitpun.

Itachi tersenyum. "Aku memang mata-mata,"

.

Sementara itu di arah gerbang depan.

"Hidan! Kakuzu! Persiapkan diri kalian, Yahiro sedang menuju ke arah pintu depan,"

Hidan terlihat melemaskan otot-otot leher dan tangannya.

"Oiii... Kakuzu, tinggalkan benda-benda yang berbau aneh itu target kita sebentar lagi akan datang," seru Hidan.

Kakuzu menghela nafas, dengan ogah-ogahan ia memasukkan buku-buku kas dan setumpuk uang ke dalam tasnya. Hidan memandang ngeri Kakuzu.

'Dia ini gila akan pekerjaannya atau memang dia memang suka megang duit banyak kayak gitu ya,' batin Hidan bingung.

"Halangi mereka!" Terdengar teriakan dari arah menuju aula. Hidan dan Kakuzu melihat ke arah sumber suara itu dan terlihatlah segerombolan pria berkaca-mata hitam yang menghadang beberapa orang yang sepertinya mengejar Yahiro.

Hidan tertawa psycho melihat pemandangan di hadapannya. "Yosh! Tanganku sudah sangat merindukan untuk memukul wajah seseorang,"

Yahiro menyeringai ketika para bodyguard-nya telah menghalangi beberapa orang yang mencoba untuk mengejarnya.

"Che! Jangan berfikir kalian bisa menangkapku dasar payah,"

Ketika ia kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan ia dikejutkan oleh sebuah pukulan yang menghantam wajahnya.

"Jangan fikir kau bisa lolos dari kami dasar payah," ucap Hidan, seringai terkembang dibibirnya.

Yahiro membelalakkan matanya. 'Cih, sepertinya ia telah menyiapkan rencana yang cukup matang untuk ini, tapi aku tidak boleh tertangkap sekarang,'

"Oh... Kau yakin aku tidak bisa meloloskan diri ?" tanya Yahiro, ia memandang dua pria bertubuh lebih besar darinya tanpa rasa takut.

Hidan mendecih. "Che! Jangan sok kau bocah, 2 lawan 1 ? Kau pasti akan kalah!"

Yahiro memandang segerombolan orang di belakang Hidan dan Kakuzu. "Siapa bilang aku akan melawan kalian sendiri,"

Hidan dan Kakuzu memandang Yahiro bingung, namun sepertinya mereka menyadari sesuatu yang lain di mata Yahiro, segera mereka ikuti arah pandang mata Yahiro sebenarnya dan seketika sebuah pukulan menghantam wajah mereka dan sekali lagi Yahiro lolos.

Ia segera membawa kaki panjangnya menuju sebuah mobil Mercedes-Benz-S-Class yang terpakir tak jauh dari arah gerbang depan gedung perusahaan dan dengan segera ia melarikan diri dengan mobil itu.

Sementara itu beberapa orang yang mengejar Yahiro mendesah kesal ketika gagal mengejar target mereka.

.

-o-

.

Rumah Sakit Konoha

Setelah melalui operasi pengangkatan peluru yang bersemayam di bahu kanannya Sasori dipindahkan ke salah satu ruangan VIP yang tersedia di rumah sakit itu. Beberapa teman-teman Sasori dan teman dekat keluarga Haruno telah berpamitan pulang sejak beberapa menit yang lalu. Kini hanya ada Kizashi, Mebuki, dan juga Sakura yang menjaga Sasori.

Mebuki kini tengah duduk di samping putranya yang tengah terbaring tak berdaya, dipegangnya tangan kiri putranya yang bebas dari peralatan medis. Terlihat jejak-jejak air mata yang telah mengering di wajahnya yang masih terlihat awet muda.

"Cepatlah sadar nak, kaa-san sangat ingin menceritakan banyak hal tentangmu,"

"Tentang bagaimana Sakura kecil kita tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dan cerdas,"

"Tentang tou-san yang sebenarnya tak merelakan kepergianmu, dia hanya terlalu keras kepala untuk mencarimu,"

"Tentang restoran kaa-san yang kini semakin terkenal, dan masih banyak hal yang ingin kaa-san ceritakan kepadamu,"

Air mata mulai kembali menumpuk di kedua permata emerald-nya.

"Kaa-san juga ingin membuatkanmu muffin-muffin blueberry yang sangat kau dan Sakura sukai," Air mata kembali menetes di kedua permata emerald-nya yang terlihat sendu.

Mebuki terus meracaukan hal-hal yang pastinya tidak akan terdengar oleh Sasori. Kizashi hanya bisa mengelus pundak sang istri tercinta. Sedangkan itu Sakura kini tengah duduk di sofa yang tersedia, ia terlihat menundukkan kepalanya. Ia mengingat hal-hal yang sempat Itachi ceritakan kepada dirinya sebelum Itachi dan keluarganya pamit pulang.

"Selama ini Sasori selalu memantau keadaanmu lewat diriku, Sasori menyadari bahwa ia meninggalkan perusahaan dalam keadaan memiliki banyak musuh dania mengetahui ada salah satu musuhnya yang beraksi cukup berani dengan membalaskan dendamnya melalui dirimu,"

"Kau ingat hal-hal tak wajar yang menimpamu, salah satunya kejadian di perpustakaan Konoha University ? Itu adalah ulah Orochimaru, seseorang yang memiliki dendam khusus dengan keluarga Haruno, terutama Sasori dan juga Kizashi-jisan,"

"Selama memegang kekuasaan di salah satu cabang Haruno, Sasori telah menuai kemajuan yang cukup pesat. Ia melakukan tindakan cukup ekstrim dengan mem-PHK orang-orang yang tidak berkompeten, ia juga memecat beberapa pegawai yang telah diselidikinya terlibat dalam kasus korupsi, Orochimaru adalah salah satu dari koruptor itu,"

"Sasori tidak menindak lanjuti kasus ini melalui pengadilan, dengan kekuasaan yang ia miliki saat itu ia merampas semua asset kekayaan mereka, membuat nama mereka di black list di beberapa perusahaan besar, saat itu karena stress istri dari Orochimaru memutuskan untuk bunuh diri dan meninggalkan suami dan juga putrinya yang tengah sakit parah,"

"Ia mencoba mencari biaya untuk pengobatan anaknya, namun tak satupun perusahaan menerima dirinya, bahkan untuk menjadi OB-pun dia tak bisa, sampai akhirnya ia mencoba untuk melakukan pekerjaan kasar, saat ia menerima gaji pertamanya ia memutuskan untuk membawa putrinya menuju rumah sakit, namun semuanya sudah terlambat ajal menjemput gadis itu duluan,"

"Semenjak saat itu ia memiliki tekat untuk membuat Sasori dan Kizashi-jiisan merasakan penderitaan yang ia rasakan,"

"Ia mendapatkan beberapa dukungan, termasuk dari seorang Saiga, selama ini Yahiro lah yang selalu mendanai kejahatannya,"

"Kau tau walaupun berwajah sepolos bayi tapi dia sangat disiplin akan pekerjaan yang diembannya, maka dari itu dulu Kizashi-jisan tidak merelakan keputusan Sasori untuk pergi,"

Sakura mengalihkan pandangannya ke arah Sasori yang tengah terbaring lemah. "Kau memang mengangumkan dan juga kejam... nii-san,"

.

-o-

.

"Muahahahaha..." suasana mobil yang awalnya hening kini dipenuhi oleh evil laugh dari Orochimaru.

Kabuto melirik tuan-nya yang baru saja mengeluarkan tawa yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Apa yang begitu membuatmu senang Orochimaru-sama,"

"Kalian tau kejadian tadi itu sangat diluar dari harapanku, kau tau Yahiro ? Walaupun kau gagal menjalankan misimu, tapi kau menggantinya dengan memberiku sebuah hadiah kecil," ucap Orochimaru, seringai tercetak jelas di wajah pucatnya.

"Apa maksudmu ?" ketus Yahiro.

Orochimaru mengabaikan nada ketus dari putra keluarga Saiga itu.

"Melukai Sasori secara langsung, well sebenarnya aku menginginkan dia tertembak di bagian vitalnya dan mati, tapi semua itu akan membuat rencanaku sia-sia,"

"Lalu kapan kau akan mengambil alih Haruno Corp ?" tanya Yahiro.

"Secepatnya, aku masih harus melakukan beberapa hal lagi,"

"Khususnya terhadap gadis pengkhianat itu,"

.

-o-

.

-TBC-

[REVISED 7/23/2016]

.

-o-

.

A/N :

Yo! Ayame kembali lagi nih membawa chapter 10

Gimana ? Gimana ? Apakah sesuai harapan para readers ? Apakah kependekan ?
Feelnya dapet gak ? Hehe... hounto ni gomenasai kalau feelnya kurang dapet dan rada maksa, karena Ayame bukan ahlinya buat feel sad *muka polos*

Oh ya bagi kalian yang punya saran untuk plot cerita ini di next chapnya silahkan bilang aja ke Ayame lewat review atau PM. Akan Ayame pertimbangin ide kalian ^^

Ayame sadar typo dan kekurangan lainnya gak pernah luput dari setiap chap yang Ayame ketik, jadi mohon kritik dan saran dari para readers ya ^_^ *nunjuk kotak review*