Chapter 8 :
Iroh dan Sokka membicarakan tentang bagaimana pertempuran kemarin mengalami kegagalan. "Ada sekumpulan orang tua dari seluruh dunia yang mencintai sejarah dan mendiskusikan tentang pepatah, kebijaksanaan dan sastra. Aku sudah dengar apa yang kau lakukan dari Zuko. Dan menurutku, sudah saatnya bagi kami untuk beraksi."
Ada sesuatu yang tidak dimengerti oleh Sokka. "Tunggu dulu, Kami maksudmu siapa? Perkumpulan orang tua?"
Iroh tersenyum. "Kalau kau mau aku bisa membawamu berjalan-jalan ke padang pasir, tempat kami biasa berkumpul."
"Hmm.. kelihatannya menyenangkan. Tapi, setidaknya kau beritahu kami perkumpulan apa itu, yang kau maksud dengan kami." Kata Haru.
Iroh terlihat bangga. "Sayangnya, itu perkumpulan rahasia, dan aku tidak bisa memberitahukan namanya kepada kalian."
Pada saat yang sama, Zuko akhirnya muncul. Wajahnya terlihat sangat lelah. Seperti biasa, senyum tidak Nampak di wajahnya yang terlihat selalu bête.
"Ah, akhirnya kau muncul juga, Junior." Sapa Iroh. "Kau sembunyikan dimana balon itu?"
Zuko terlihat tidak suka pada panggilan itu. "Zaman dimana kita menjadi pelarian di Ba Sing Se sudah berakhir, Mushi!" lalu amarahnya mereda. "Aku tarik turun ke bawah… ku sembunyikan di ruangan terdekat dari tangga yang kutemukan."
"Tempat yang bagus." Puji Iroh.
Zuko langsung duduk bergabung dengan mereka yang sedang berdiskusi. "Jadi, paman, kau sudah katakan pada mereka bahwa kau akan memperkenalkan mereka dengan Order of The White Lotus di padang pasir?"
…
Namun keesokan harinya, Iroh mendadak sakit demam sehingga ia batal mengajak Sokka untuk pergi menemui Perkumpulan Teratai Putih. Sokka memutuskan untuk menunggu Iroh hingga sembuh. Katara merawat Iroh. Iroh cukup popular di kalangan para wanita dan gadis. Termasuk Aang Jr pun menyukainya.
"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Aang, sang avatar. Dimanakah dia?" tanya Iroh.
Katara menjadi sedih. Kemudian ia membelai rambut Aang Jr. "Ia sudah bereinkarnasi lagi…"
Melihat gerakan itu, Iroh tahu bahwa Aang sudah meninggal dan bayi yang baru berusia sekitar 2 bulan lebih ini pastilah Avatar berikutnya. Iroh tampak sangat menyayangkan hal itu dan prihatin. "Oh… apa yang terjadi?"
Katara diam, tidak berbicara. Ia hanya menunduk sambil melirik dengan ekspresi tidak suka ke kiri. Toph yang menggantikannya bicara. "Zuko membunuh Aang."
Iroh sangat terkejut sehingga ia bangun dari tempat tidurnya. Handuk yang digunakan untuk mengompres dahinya terjatuh kepangkuannya. "Hah..? bagaimana bisa?"
"Menurut cerita yang kudengar, Zuko mencuri pakaian dalam Katara dan Aang mau menangkapnya. Setelah itu Aang mencekiknya dan akhirnya Zuko tidak sengaja membunuhnya. Ia membakar organ dalam tubuh Aang." Kata Toph.
Iroh tidak percaya. "Ha? Pantas Zuko tidak bicara apapun saat kutanya soal Avatar. Tapi, mencuri pakaian dalam? Seperti bukan keponakanku … kalian pasti salah paham. Dan juga, … ia bisa melakukan hal itu .. itu adalah teknik tinggi pengendalian api. Membakar bagian dalam sebuah benda untuk membuatnya rapuh sehingga mudah dihancurkan. Bisa dilakukan pada apapun, dan tidak meninggalkan jejak bila bau hangus yang keluar dari …."
Katara berdiri mendadak dan segera berlalu meninggalkan mereka semua. Iroh tertegun. "Apakah aku salah bicara?"
Toph menjelaskan. "Paman…. Katara adalah kekasih Aang. Kurasa dia takkan suka mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada Aang sehingga ia terbunuh."
Itu benar. Setelah keluar dari ruangan itu, Katara duduk di tepi air mancur dan memeluk Aang Jr dengan sedih. Aang Jr tidak mengerti apa yang dirasakan Katara, karena ia masih bayi tentunya. Ia memegang wajah Katara dengan polos. Dan kepolosannya membuat Katara akhirnya tersenyum.
Malam itu, Zuko menyeduhkan teh untuk semua orang. Ia dan Katara masih saling diam. Tapi bukan berarti ia mengabaikan Katara. Ia juga menawarkannya segelas teh, namun Katara tidak menerimanya. Ia memalingkan wajahnya dengan sedih. Saat Zuko sampai pada Sokka, Sokka mengajaknya pergi untuk bicara berdua dimana tidak ada orang yang akan mendengar mereka.
"Kau tahu tidak dimana orang Fire Nation biasa membawa para tahanan?" tanya Sokka.
Zuko langsung mengerti. "Biasanya tahanan paling penting, seperti pimpinan musuh, dipenjara ke Batu Rebus."
Sokka merasa puas dan kembali ke antara teman-temannya. Malam harinya, ia menyelinap diam-diam untuk menaiki Appa. Di atas sadel nya, ia terkejut saat melihat Zuko sedang duduk menunggunya. "Aku tahu kau pasti mau menyelamatkan ayahmu."
Karena sangat terkejut, Sokka terjatuh kembali ke lantai. "Oke, kau benar. Aku memang merencanakan hal itu. Senang?"
"Aku tidak pernah senang." Jawab Zuko singkat.
"Aku harus melakukan ini demi kehormatanku. Mereka ditawan juga karena kesalahanku." Kata Sokka.
"Kehormatan? Aku bantu kau. Tapi kita jangan naik Appa. Kita naik balon udaraku saja." Kata Zuko yang akhirnya membawa Sokka menuju tempat dimana ia menyembunyikan balon udaranya.
Mereka berdua menitipkan pesan pada orang-orang di kuil bahwa mereka sedang pergi memancing untuk beberapa hari.
Di tengah perjalanan, Sokka bercerita tentang kekasihnya. "Cewek pertamaku menjadi bulan."
Dan reaksi Zuko hanya "That's rough, buddy."
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau punya kekasih?" tanya Sokka.
"Tidak juga. Ada satu gadis. Katanya dia sudah menyukaiku sejak masih kecil." Kata Zuko.
"Wah. Boleh juga tuh."
Zuko tidak sependapat. "Tapi aku tidak mencintainya. Barangkali dia perduli padaku. Tetapi dia selalu salah paham dan akhirnya membuat masalah… setiap kali aku mengajak berbaikan, dia selalu mengambek dan marah-marah. Aku tidak bisa tenang bersamanya."
Di sana mereka tidak hanya menemukan Hakoda, namun menemukan Suki.
Karena kecerobohan Zuko, akhirnya terpaksa Sokka menangkap Zuko sehingga dipenjara. Mendengar bahwa penjara itu telah menangkap pangeran Zuko si pengkhianat, kepala penjara sangat bangga dan mendatanginya di penjara.
"Kau yang telah membuat keponakanku sakit hati kan?" katanya.
"Keponakan? Aku tidak biasanya dekat dengan perempuan." Kata Zuko.
"Keponakanku. Mai."
Zuko terkejut. "Kau paman Mai?" tidak mirip… "Kalau begitu, langsung saja kau beritahu ayahku atau Mai bahwa aku di sini, agar kau mendapatkan hadiah."
"Sayangnya aku lebih suka menyiksamu dulu sebelum memberitahu Fire Lord bahwa putra pecundangnya ada di sini." Kata kepala penjara sambil meninggalkan Zuko di dalam penjara.
Sokka berhasil menemukan kamar dimana Hakoda di kurung. Diam-diam ia mendatangi selnya. Hakoda hampir saja menghajar Sokka bila Sokka tidak membuka helmnya. Kedua ayah dan anak itu bertemu kembali dan membicarakan siasat untuk kabur dari penjara Boiling Rock.
Siasat sudah disusun dan akhirnya mereka tinggal menunggu saat yang tepat. "Tidak baik mengulur waktu. Sebaiknya kita cepat bertindak."
Maka dari itu Sokka memberitahu Suki dan Zuko bahwa ia sudah merencanakan siasat melarikan diri bersama Hakoda. Namun saat ia hendak memberitahu Zuko, dua orang pengawal lain juga memiliki urusan dengan Zuko.
"Boleh aku menghajarnya dulu? Aku benci pada pengkhianat seperti dia!" kata Sokka dengan geram.
Untunglah kedua sipir penjara itu bersikap lunak "Yah… silahkan. 10 detik saja."
Sokka memukuli bantal yang dipegang Zuko sambil bersuara gaduh seperti orang sedang memukuli atau dipukuli. Sementara itu Sokka memberitahu Zuko bahwa mereka akan menggunakan kerusuhan penjara untuk melarikan diri. Namun belum selesai ia membeberkan siasatnya, pintu penjara sudah dibuka. "Sudah cukup!"
Zuko segera melempar bantalnya dan Sokka segera mengunci Zuko. Kedua sipir penjara itu melerai mereka dan membawa Zuko pergi. "Kalian mau bawa aku kemana?"
Semua pertanyaan Zuko tidak digubris dan mereka membawa Zuko ke ruang interogasi. Rupanya di sana ada Mai.
"Darimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Zuko. Menurutnya Mai masih terlihat cantik seperti biasa.
"Karena aku sangat mengenalmu." Kata Mai.
Terus terang, Zuko menjadi tersipu mendengarnya. Ia tersanjung ada seseorang yang mengerti dia. "Benarkah?"
"Ya." Kata Mai. Namun kemudian ia berkata lagi. "Tentu saja bukan begitu, bodoh! Pamanku kepala penjara!"
Zuko memukul dahinya. Ia sampai lupa. "Lalu, apa maumu?"
"Aku hanya ingin tahu kenapa kau memilih untuk kabur bersama gadis suku air itu daripada tinggal bersamaku!" kata Mai, sedikit tidak terima.
"Aku harus tinggal bersama dia…" kata Zuko.
Mai cemburu. "Aku tahu ia membawa serta seorang bayi. Apakah itu anakmu? Jadi karena itu kau tidak bisa bersamaku? Kapan kalian melakukannya?"
Zuko mengeluh. Tidak ada yang lebih melelahkan daripada saat seseorang memberondong pertanyaan tentang isi hatimu. "Bayi itu bukan anakku. Dia kakek buyutku. Aku melakukan itu bukan karena aku suka padanya…. err.. aku memang suka padanya. Tapi aku harus bersama dia demi Fire Nation!"
"Jadi kau memang suka padanya! apa yang bagus dari dia? Apakah dia lebih cantik daripada aku?" Mai akan terus memberondong Zuko dengan ribuan pertanyaan yang melelahkan.
Sementara itu, Sokka akhirnya memulai rencananya melarikan diri dari penjara itu. Pertama, ia berhasil membuat penjaga pintu untuk membuka semua pintu di penjara dan mengumpulkan para tahanan di lapangan. Kemudian dengan bantuan Cit Sang, tahanan yang merupakan teman mereka melarikan diri sebelumnya, mereka berhasil membuat kerusuhan di penjara.
Penjara berubah seperti arena gulat massal dan para fire bender menjadi sulit di kendalikan.
"Dengar, Mai .." Zuko mencoba memberi penjelasan.
Tapi Mai membuang mukanya dan menepis tangan Zuko. "Jangan pegang-pegang! Aku masih marah padamu!"
Seorang penjaga penjara masuk ke ruang interogasi dan berkata "Nona Mai, telah terjadi kerusuhan di dalam penjara, aku ditugaskan untuk melindungimu!"
"Aku tidak butuh perlindungan." Kata Mai.
"Percayalah. Dia tidak butuh perlindungan." Kata Zuko.
Namun penjaga itu masuk. "Sudah menjadi tugasku."
Zuko mendapatkan ide. Ia segera menembak lantai di depan Mai sehingga penjaga itu spontan melindungi Mai dari Zuko. Zuko segera menggunakan kesempatan ini untuk kabur keluar ruang interogasi dan mengurung Mai di dalam.
Kedua mata mereka saling tatap melalui lubang kecil pada pintu.
Tatapan Mai penuh dengan rasa terkhianati, sedih, patah hati karena sekali lagi ia ditinggalkan Zuko. Zuko juga sesungguhnya merasa bersalah pada Mai. Ia mengakui bahwa Mai satu-satunya gadis yang paling gigih mengejar cintanya. Sejak kecil ia seperti itu.
Tapi kali ini sungguh tidak bisa.
Zuko meninggalkan Mai untuk sekali lagi bergabung dengan Sokka. Suki telah memanjat ke atas dengan lincah sehingga ia berhasil menangkap kepala penjara. Mereka segera memanjat ke atas gondola. Sebagai satu-satunya bender diantara mereka, Zuko melindungi teman-temannya dari serangan para fire bender lainnya.
Namun ada perbedaan kekuatan antara Zuko dengan para fire bender lainnya.
Inner fire.
Inner fire para bender di sana adalah demi kekuatan, mengunjuk kekuatan fire nation. Keserakahan. Sementara Inner Fire Zuko berasal dari ajaran para Dragon, api adalah kehidupan. Symbol dari kegigihan dan semangat juang.
Maka dari itulah fire bending Zuko sudah menjadi lebih kuat sekarang.
Dengan menyandera kepala penjara, mereka berhasil naik ke atas gondola dan kabur.
Namun baru setengah jalan, Azula dan Ty Lee sudah menghadang mereka. Terjadi pertarungan di atas gondola. Zuko dan Sokka melawan Azula, sementara Ty Lee beradu kelenturan melawan Suki.
Zuko melindungi Sokka dari serangan api Azula, sementara Sokka menekan Azula. Mereka saling melindungi.
Akhirnya kepala penjara berhasil bebas dan berteriak pada anak buahnya "POTONG TALINYA!"
Rupanya ia lebih suka mati daripada rekornya dipecahkan. Maka para tentara fire nation itu menyumbat gerigi gondola sehingga kereta itu berhenti di tengah jalan. Azula dan Ty Lee menggunakan kesempatan ini untuk kabur.
Setelah tali berhenti bergerak, para sipir segera menggergaji tali gondola.
Nyawa mereka berada dalam bahaya. Mereka akan jatuh ke dalam air mendidih di bawah sana saat kemudian para sipir penjara itu diserang seseorang dengan menggunakan belati kecil.
"Hei, siapa itu? Dia menyelamatkan kita!" kata Sokka.
Zuko menjadi penasaran dan melihat. Ia terkejut dan berkata. "Mai!"
"Jadi itu pacarmu?" tanya Sokka.
"Dia bukan pacarku." Kata Zuko. Mereka memang belum pacaran.
Semua penjaga penjara tahu bahwa gadis itu adalah keponakan kepala penjara. Ini membuat mereka heran kenapa Mai menyerang mereka. "Apa yang kau lakukan?"
"Menyelamatkan si brengsek yang selalu mencampakkan aku!" kata Mai. Ia kembali menyerang para petugas yang hendak mengamankannya. Mai menendang benda yang menyumbat gondola sehingga gondola kembali bergerak.
Baru setelah Azula dan Ty Lee membekuknya, Mai berhasil dihentikan. Namun saat itu tiba, Sokka dkk sudah selamat sampai di seberang.
Cit Sang melempar kepala penjara seperti boneka kembali ke gondola dan mengejeknya. "Hei, rekormu sudah pecah tuh!"
"Zuko, kenapa kau diam saja?" Sokka berseru pada Zuko yang sepertinya sedang berpikir.
"Adikku ada di sini.." kata Zuko.
"Ya, benar. Maka dari itu kita harus cepat pergi dari sini!" kata Sokka.
"Bukan begitu. Maksudku, bila dia ada di sini, maka berarti kita bisa kembali menggunakan balon udara." Kata Zuko. Dan mereka menemukan balon udara Azula di bawah.
Saat mereka kembali ke kuil udara barat, Katara kembali bereuni dengan Hakoda. Mereka semua tampak bahagia. Toph masih mengira bahwa Sokka benar-benar pergi memancing dengan Zuko.
Zuko tersenyum melihat kehangatan keluarga suku air itu, dan ia masuk ke kamar Iroh untuk melihat keadaannya.
"Habis darimana kau? memancing?" tanya Iroh.
"Ya.." Zuko duduk di sebelah Iroh.
"Dimana Avatar Aang? Kenapa aku tidak melihatnya dari kemarin?" tanya Iroh, memancing.
Zuko tampak terkejut dan pucat. "Aku …." Akhirnya ia memutuskan untuk jujur. "….Aku tidak sengaja. Ia mencekikku sangat serius dan aku hanya menyelamatkan diri."
Iroh mendiamkannya.
"Paman, apa aku harus mati saat itu?" tanya Zuko.
"Kenapa kalian bisa sampai bertengkar seperti itu?" tanya Iroh.
"Ini semua gara-gara… pakaian dalam…" kata Zuko agak malu.
"Pakaian dalam?" Iroh ingin mengorek informasi lagi. Ingin tahu apakah cerita yang didengarnya sama dengan cerita yang dialami Zuko.
Zuko menceritakan apa yang terjadi. "Entah bagaimana, ada pakaian dalam perempuan di dalam tumpukan pakaianku. Dan saat aku sedang mencari Katara yang biasanya bertugas mencuci pakaian, Aang melihatku dan langsung mengamuk.
Setelah aku membakarnya … tanpa sengaja… gantian Katara yang mengejarku. Setelah itu aku baru tahu kalau itu ternyata pakaian dalam Katara."
Iroh menghela nafas. "Hhhh … lalu .. sudah ketemu avatar yang baru?"
Zuko mengangguk. "Kau lihat bayi aneh yang memanggil Katara dengan sebutan "Papa" ? Dia avatar baru nya."
"Apakah kau yakin?" tanya Iroh.
"Menurut penduduk setempat begitu. Dan aku juga sudah mengujinya. Dia memang si avatar yang baru." Kata Zuko.
"Kau? Bisa mengetes avatar?" Iroh meremehkannya.
"Hei! Aku menunjukkan padanya pakaian dalam Katara dan bayi itu langsung marah-marah padaku! Siapa lagi yang seperti itu kalau bukan Aang?" kata Zuko.
"Dasar….. ngomong-ngomong, ada yang aneh dengan bayi itu. Umurnya masih 2 bulan tapi sudah bisa bicara. Ia bahkan menyebutku "nenek"." kata Iroh.
