Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. NaruHina. Rush.
Selamat membaca.
Stolen Moment
oleh VikaKyura
Naruto dan Hinata segera menyadari kondisi mereka sekarang. Terjebak di dalam kereta kuda berukuran sedang dengan bahu hampir berdempetan.
Hari sudah semakin terasa panas. Matahari tengah menggantung di pusat cakrawala.
Naruto telah memanggul tas berisi barang bawaan mereka.
"Oya, bawa ini." Sakura menyodorkan sebuah kertas pada genggaman Hinata.
"Apa itu?" tanya Naruto, melongok ke arah dua perempuan itu.
"Surat berisi pesan. Aku sudah menyiapkan sebuah kereta kuda yang telah menunggu di perbatasan negara ini. Kau pasti tahu tempatnya kan? Berikan surat itu pada kusirnya. Dia pasti akan mengantarkan kalian untuk pergi kemana pun."
Naruto merengut, membuat Sakura mendesah malas. Sudah diduganya, Naruto bukanlah tipe orang yang suka diberi bantuan.
"Kau tidak sedang berencana untuk terus berlari sambil menggendong Hinata-chan sepanjang jalan kan? Itu hanya akan memperlambat perjalanan kalian. Hanya akan membuat kalian menjadi lebih mudah dikejar dan ditangkap." Sakura bersikeras.
Ugh. Itu memang benar.
"Tidak, kami akan mengambilnya." Setuju Naruto.
Sakura menyeringai puas.
Hinata meraih satu tangan perempuan itu. "Terimakasih, Sakura-san, kau benar-benar telah menangani semua yang kami butuhkan. Kami berutang banyak hal padamu." Bisiknya, terharu.
Dokter perempuan itu tertawa kecil sambil menggoyangkan satu tangannya. "Tak masalah. Sekarang, pergilah."
"Umm, tapi aku tidak bisa pergi dengan tampilan seperti ini. Aku perlu berganti pakaian." Sela Hinata. Ia menarik kimononya yang berantakan serta sedikit kotor.
Sakura keheranan. "Loh, kenapa? Padahal kau terlihat cantik sekali!" protesnya.
Hinata tersenyum kecil. "Ini adalah gaun milik Toneri-san. Aku tidak mau mengambil apa pun darinya."
Naruto mengangguk-angguk setuju.
"Ah," Rasanya Sakura tidak dapat memprotes lagi.
"Tolong tunggu sebentar." Pinta Hinata. Ia segera memasuki pondok.
Angin semilir menyapu keberadaan dua orang yang kini sedang berdiri di luar bangunan sederhana itu.
"Well. Hinata-chan adalah gadis yang baik. Bahkan terlalu baik untukmu, Naruto." Komentar Sakura, menoleh ke arah Naruto. "Jaga dia dengan baik. Jangan biarkan dia diambil orang lagi." Ujarnya, serius.
Naruto mengangguk. "Itu pasti." Sanggupnya. "Lantas bagaimana denganmu?"
Sakura menautkan alis.
"Jika keluarga bangsawan itu melacak keterlibatan kalian, kau dan yang lain pasti akan berada dalam masalah. Ini bukan hal sepele, kita tahu pasti seberapa besar pengaruh dari keluarga bangsawan semacam itu." Ungkit Naruto lagi, kini lebih serius. "Kemana kalian akan pergi bersembunyi?"
Tapi Sakura malah mengedikkan bahu. "Mulai sekarang, fikirkanlah keselamatan dirimu sendiri. Posisi kalian lah yang lebih rumit, dan bahaya. Setelah ada orang yang mengetahui identitas Hinata-chan muncul secara tiba-tiba seperti ini, bukan tidak mungkin jika akan ada lebih banyak lagi orang yang mengejar gadis itu. Kau harus lebih hati-hati dan fokus untuk menyembunyikan diri kalian." Saran perempuan itu. "Kami akan baik-baik saja. Tak usah hiraukan kami lagi." Tegasnya.
Naruto menelan ludah. Benar apa yang dikatakan teman satu timnya itu. "Baiklah. Itu berarti aku tidak perlu repot-repot untuk mengkhawatirkan kalian. Meski terjadi sesuatu nanti."
Sakura tertawa. "Tentu saja kau tak usah repot. Kau sudah banyak membantu kami, Naruto. Sekarang, lindungilah apa yang lebih penting bagimu." Ia menengok ke arah pintu pondok. "Kini aku tahu alasan mengapa kau selalu berusaha begitu keras untuk bertahan hidup. Itu karena Hinata-chan, benar kan?"
Naruto hanya menghela nafas, mengiyakan.
"Kau selalu tampak begitu manis saat bersama dengan gadis itu, apa kau sadar?" goda Sakura.
Pemuda berambut kuning itu menggaruk pipinya yang sedikit memerah. "I can't help it." Gumam Naruto. Lalu ia merogoh saku bajunya dan melempar beberapa keping logam emas ke arah Sakura. "Ambil ini."
Refleks, perempuan itu menangkapnya. Namun segera saja memprotes, "Apa ini? Kau tidak perlu membaya-"
"Aku tidak ingin berutang apa pun pada kalian." Potong Naruto. "Anggap saja itu sebagai pengganti kerugian kita selama aku menggalau belakangan ini." pemuda itu menyengir tanpa dosa.
"Geez." Sakura tahu ia tidak bisa menolak, sebab si Naruto itu memang keras kepala sekali. "Jadi, kau sudah mengungkapkan perasaanmu padanya kan?"
Kali ini Naruto yang mengedikkan bahu, masih memamerkan sederetan giginya. "Siapa yang tahu."
"Che." Sakura berdecak malas sambil memutar mata.
Beberapa saat kemudian, Hinata keluar dari dalam pondok. Ia sengaja meninggalkan kimono itu di dalam sana. Barangkali, jika suatu saat Toneri benar-benar datang ke pondok tersebut untuk mencarinya, lelaki itu bisa mendapatkan kembali gaun pernikahan tersebut.
Sekali lagi Sakura memeluk Hinata, kali ini mereka akan benar-benar berpisah. "Jaga dirimu."
Hinata mengangguk, manahan diri untuk tidak menangis.
x x x
Sementara itu, di lokasi pesta pernikahan.
Serangkaian upacara adat gagal dilaksanakan. Jatuhnya pengantin pria dari kudanya saja sudah menggemparkan, dan merupakan hal yang memalukan. Ditambah lagi dengan runtuhnya atap kelambu dan jeritan para tamu yang datang, membuat suasana riuh itu tak dapat terelakkan. Belum lagi keadaan alam yang berubah mendung dan perilaku hewan-hewan yang memperparah keadaan.
Pesta pernikahan yang seharusnya berlangsung sakral itu berubah mengerikan.
Orang-orang banyak yang berlarian meninggalkan tempat diselenggarakannya pesta pernikahan tersebut. Namun, masih cukup banyak juga yang tinggal meski atmosfir di sana telah berubah drastis, menjadi muram dan menakutkan.
Begitu juga dengan mood sang mempelai pria. Meski begitu, prosesi pernikahan harus dilaksanakan. Toneri segera memerintahkan para pelayannya untuk membawa Hinata keluar. Bermaksud untuk mempercepat upacara pengikatan mereka. Tidak apa-apa jika serangkaian upacara adat untuk memberkati kedua mempelai dilewat, yang terpenting adalah gadis Hyuga itu dapat terikat secara resmi padanya.
Namun, setelah ditunggu beberapa saat, tak ada sosok mempelai wanita yang keluar dari dalam kediamnya, alih-alih para pelayannya yang sedang panik berlarian.
Toneri menggeram. Firasat buruk mulai berdatangan. "Mana dia?"
Pelayannya membungkuk takut. "Kami telah mencari nona, namun ia tidak ada di mana pun, tuan."
Toneri berdecak. "Itu tidak mungkin!"
Ia segera berjalan cepat ke dalam ruangan tempat Hinata seharusnya menunggu. Namun ia benar-benar tidak menemukan keberadaan gadis itu di sana.
Toneri melangkah menuju pusat ruangan, lalu membungkuk untuk meraih sehelai kain tudung yang tertinggal di sana. Lelaki itu segera meremas keras kain putih tersebut. Hinata tidak akan bisa kabur sendirian. Pasti lelaki itu membantunya . .
Benar. Instingnya mengatakan, pelarian calon pengantinnya itu pasti ada hubungannya dengan 'kakaknya'.
"Naruto." Geram Toneri.
Tak perlu lama, lelaki itu segera mengerahkan pasukannya untuk mengejar kedua orang tersebut.
Namun niatnya terhalau oleh kehadiran iring-iringan seorang wanita berambut silver panjang dengan mata keperakan.
Toneri membelalakan mata.
"Apa maksud semuai ini?" tanya wanita itu, dingin.
"Ibunda . ." gumam Toneri, segera membungkukkan badan, berlutut di depan wanita itu.
Kaguya Otsusuki, nyonya besar keluarga bangsawan itu, menunduk sambil memicingkan mata. "Kau memberi kabar untuk memintaku datang, namun apa yang kudapatkan ini? Upacara pernikahan yang kau gelar ini kacau dan pengantin yang kau pilih tanpa sepengetahuanku itu kabur. Ini penghinaan bagi keluarga. Kau paham?"
"Maafkan hamba, ini sungguh diluar rencana. Pasukan yang dikerahkan untuk mengejarnya akan sege-"
"Tak usah dikejar. Hentikan pernikahan ini." Titah Kaguya.
Toneri mendongak, ia segera berdiri. "Tapi ibunda, kita tidak bisa membiarkan satu-satunya keturunan Hyuga itu pergi begitu saja. Ini adalah kesempatan un-"
"Kau bahkan tidak becus untuk menahan gadis lancang itu." potong Kaguya. "Dan kau masih bersikeras menyebutnya sebagai keturunan Hyuga?"
"Saya yakin bah-"
"Sudah cukup." Dikte si wanita. "Dari awal aku sudah tidak setuju dengan rencanamu ini. Aku bahkan sangsi masih ada yang tersisa dari klan itu. Klan Hyuga telah musnah, itu kenyataannya. Jelas dia hanya seorang gadis penipu."
Toneri ingin membantah, namun dominasi sang bunda melarangnya.
"Sungguh menyesal aku mendengar ambisi konyolmu mengenai klan itu selama bertahun-tahun ini. Beruntung kabar mengenai identitas gadis itu sebagai Hyuga palsu belum tersebar." Kaguya membuang nafas. Lalu ia menengadah ke arah langit, serta mengedarkan manik keperakannya pada sekitar tempat tersebut. "Lagipula ini adalah pertanda buruk menjelang pernikahan. Sungguh jarang terjadi. Jelas sekali bahwa semesta tidak merestui pernikahan ini." komentarnya. "Bersyukurlah kau masih dilindungi leluhurmu."
Kemudian, tanpa memandang putranya lagi, Kaguya segera memutar badannya. Hendak melangkah pergi meninggalkan tempat itu, diikuti para dayangnya.
"Hentikan pernikahan ini." perintahnya sekali lagi. "Pulang ke istana. Kau harus menjelaskan semua ini pada ayahmu. Ingat, jangan pernah sekalipun menyebut nama Hyuga di depannya, atau dia pun akan murka. Meminta maaflah atas tercemarnya nama baik keluarga kita yang hampir goyah di sepenjuru ibu kota, serta segera memohon pada paduka raja untuk mengampunimu." pungkasnya.
Toneri menghela nafas barat, masih memandangi kepergian ibundanya. Paham sekali ia harus menuruti perintah nyonya besar itu. Si lelaki mengepalkan tangan dan menghentakannya kuat-kuat. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meluapkan emosinya.
Rencananya telah gagal berantakan. Apa ia benar-benar harus melepaskan gadis itu semudah ini?
Toneri sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
x x x
Naruto dan Hinata tiba di perbatasan. Mereka akhirnya bertemu dengan pria yang dimaksud Sakura, lalu memberikan surat berisi pesan dari perempuan itu sebagai penanda. Pria pemilik kereta kuda tersebut langsung setuju untuk mengantar keduanya.
Hinata senang karena pada akhirnya Naruto bisa beristirahat.
Pemuda itu telah menggendongnya sepanjang jalan, meski Hinata berkali-kali minta untuk diturunkan.
Keduanya mulai memasuki badan kereta yang tertutup itu. Di dalamnya tampak nyaman. Hinata segera mendudukan diri dan meregangkan badan. Ia tersenyum ke arah Naruto yang bergabung dengannya tak lama kemudian.
Kaki kuda mulai melangkah, membawa mereka pergi ke tempat baru. Naruto paham mereka harus mempertahankan kecepatan agar tidak mudah terkejar. Ia masih mencermati pemandangan sekeliling.
Hinata memilih untuk tetap diam, bermaksud untuk membiarkan Naruto beristirahat dengan tenang. Gadis itu sering kali menengok ke arah luar jendela selama perjalanan itu. Menyapu berbagai pemandangan yang datang silih berganti namun kian menghilang. Ia masih tidak percaya akhirnya tiba waktunya untuk mereka pergi meninggalkan negeri itu setelah bertahun-tahun lamanya. Kembali dalam pelarian. Entah sampai kapan.
Naruto telah selesai membereskan barang bawaan mereka, yang memang tidak begitu banyak. Ia dapat menyadari sorot tatapan sendu gadis di sampingnya, dan ia segera paham. Itu cara Hinata berpamitan dengan tempat tinggal mereka, tanpa ada kata yang keluar.
"Pasti ada tempat yang lebih baik dari pondok di tengah padang padi itu yang bisa kita tinggali." Ujar Naruto.
Hinata menoleh. Pemuda itu benar-benar telah membaca pikirannya. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum lembut. "Kemana kita akan pergi?"
"Kemana pun oke." Jawab Naruto, menyeringai. "Asalkan bersamamu."
Hinata langsung merona. Pemuda itu memang selalu blak-blakan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
"Tentu." Jawab Naruto tanpa ragu, memandang gadis itu dengan tatapan meyakinkan. "Kali ini kita sudah berpengalaman, ini akan lebih mudah." Tuturnya.
Hinata tersenyum. Sebenarnya, pemuda itu lah yang benar-benar mempunyai pengalaman. Sedangkan Hinata hanya perlu berusaha untuk tidak menyusahkan Naruto saja.
"Bagaimana dengan rekan-rekanmu? Sakura -san, dan yang lainnya . ."
"Mereka akan baik-baik saja." Jawab Naruto enteng. "Mereka itu sungguh cekatan dan licik. Licin bagai ular."
Hinata terkekeh, namun kemudian rautnya berubah sendu. "Apa kau sedih berpisah dengan mereka?"
"Jika ditakdirkan, kami bisa bertemu lagi." Jawab Naruto. "Namun untuk sekarang, jalan ini lah yang terbaik."
Hinata tersenyum tipis memandangnya.
"Kau jangan menyalahkan dirimu lagi. Kami memilih jalan masing-masing sesuai dengan keinginan sendiri." Tambah pemuda itu. "Seperti halnya aku yang memilih untuk pergi bersamamu."
Gadis itu mengangguk. "Terimakasih, Naruto-kun . ."
Perjalanan ini akan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Memberi waktu yang cukup banyak pada Hinata untuk merenungkan berbagai hal. Memori tentang saat pertama Hinata dan Naruto kecil datang ke desa itu, kehidupan mereka yang sederhana, pertemuan singkatnya dengan Sakura dan Toneri. Pernikahannya yang hampir terlaksana, pelarian mereka . . juga perkembangan hubungan mereka . . Hinata berkedip. Berbagai rangkaian kejadian itu akhirnya mengarah pada ingatan tentang ciuman pertamanya dengan Naruto.
Hinata tiba-tiba tersipu sendiri. Ia menyembunyikan wajahnya ke samping. Apa pemuda itu benar-benar telah menyambut perasaannya? Bagaimana pun Hinata belum sempat mengungkapkan perasaannya sendiri. Ia pun belum menanyakan mengenai hal tersebut secara langsung pada Naruto.
Bukannya, saat ini kesempatan bagus untuk membicarakan itu?
Hinata berkedip lagi.
Omong-omong, ini kali pertama Hinata terjebak duduk berdampingan dengan Naruto di tempat sesempit ini dan selama ini. Tiba-tiba saja Hinata merasa canggung.
Naruto menoleh. Ia bisa merasakan gadis itu mendadak tegang. Apa Hinata sedang mabuk perjalanan? Si pemuda melongok mendekat ke arah Hinata untuk mengecek.
Gadis itu mencuri pandang dan segera memalingkan muka lagi ketika matanya menangkap tubuh Naruto sedang tercondong ke arahnya.
"Kau tidak apa-apa, Hinata?" cemas pemuda itu. Ia segera mengangkat satu tangan untuk memalingkan wajah si gadis, lalu tangannya yang lain menangkup dahi Hinata. Memeriksa suhu gadis itu. "Apa kau sakit?" tanyanya khawatir.
Hinata menahan nafas.
"Wajahmu hangat." Ujar Naruto, agak panik. Hembusan nafasnya menyapu wajah gadis itu.
Hinata menelan ludah. Ia mulai bergerak tidak nyaman dalam duduknya. "U-um, Naruto-kun . ." gumamnya pelan.
Pemuda itu menunduk.
"Dekat," cicit Hinata.
"Hm?" Naruto menaikkan alis ketika melihat warna merah mulai meredam wajah elok gadis itu.
"W-wajahmu, telalu dekat." Ucap Hinata gelagapan. Ametisnya di arahkan ke bawah.
"Aah," Naruto segera meringsut mundur dan melepaskan wajah Hinata. "U-um," Ia segera menyadari kondisi mereka sekarang. Terjebak di dalam kereta kuda berukuran sedang dengan bahu hampir berdempetan.
Kini keduanya sama-sama terduduk canggung. Tetapi tidak lama.
Naruto mengusap-usap kepala belakangnya sambil tertawa-tawa tidak jelas. Berusaha mencairkan suasana. Tetapi pandangannya masih diarahkan ke depan. "J-jadi Hinata,"
Si gadis mendongak perlahan.
"Rasanya dari tadi, aku yang terus bilang ingin hidup bersamamu." Ujar si pemuda, menurunkan tangannya. "Tapi, apa kau juga ingin tinggal bersamaku?" tanyanya, menengok pada gadis di sampingnya. "Aku bukanlah siapa-siapa. Bukan orang hebat. Hidup bersamaku tidak akan semewah itu. Sedangkan kau ad-"
"Aku ingin tinggal bersamamu." Ungkap Hinata segera. "Naruto-kun saja sudah cukup. Aku tidak membutuhkan apa pun dan siapa pun lagi. Jadi . . tolong bawa aku kemana pun kau pergi." Aku si gadis. "Itu pun jika aku tidak memberatkanmu." Tambahnya cepat. "Apa boleh . . aku hidup bersamamu?"
Naruto segera menggenggam tangan gadis itu. meremas jemarinya. "Hinata kau tahu," ia memulai. Safir biru cerahnya menatap lekat manik keperakan milik si gadis. "Aku tak pernah membayangkan bagaimana hidup tanpamu. Selama ini hanya ada kita berdua. Bagiku itu adalah hal yang wajar. Yang kulakukan hanyalah bekerja, berfikir untuk mencari uang sebanyak mungkin. Selebihnya kau yang selalu mengurus segala kebutuhanku. Karena itu saat kau pergi, rasanya kacau sekali." Jeda sejenak saat Naruto mengangkat satu tangannya untuk membelai rambut indigo gadis itu. "Kau sudah menjadi bagian dari hidupku. Jangan pernah pergi kemana pun lagi." Bisiknya.
Hinata memandanganya haru. Iris violetnya mulai tergenang. Namun air matanya tak bisa jatuh karena kini Naruto tengah membelai sebelah pipinya. "Aku juga, Naruto-kun. Kau penting bagiku."
Pemuda itu tersenyum. Ia memandang wajah Hinata lekat-lekat. Dandanan sebelumnya masih samar-samar melekat di sana. Naruto menurunkan tatapannya, pada bibir plum Hinata. Sisa merah dari warna lipstik masih tersisa di sana. Cantik sekali, gadis di hadapannya ini. Tanpa sadar jarinya membelai pelan bibir itu.
Hinata sedikit terkejut, membuatnya mengeluarkan erangan pelan.
Naruto agak tersentak tapi ia tidak mau melepaskan tangannya dari gadis itu. Hinata yang sedang merona seperti itu tampak menggemaskan. Selalu berhasil membuatnya hilang kendali.
Jemari Naruto turun perlahan untuk mengusap garis leher Hinata, kemudian tangannya ditempatkan di pundak gadis itu.
Hinata selalu hangat, dan lembut. Naruto mengutuk kebodohannya. Gadis cantik seperti ini telah hidup satu atap dengannya selama bertahun-tahun, namun pemuda itu selalu menahan diri untuk tidak berada dekat-dekat dengan Hinata. Memberi jarak diantara mereka. Memberi batas pada interaksi mereka. Bagaimana bisa pemuda itu sampai tahan untuk tidak menyentuh Hinata?
Naruto menggeleng. Apakah ia bodoh?
Meninggalkan gadis itu sendirian dengan alasan pekerjaan. Membuatnya kesepian. Padahal kenyataannya ia hanya melarikan diri saja.
Hinata menatap pemuda itu penasaran. Naruto tiba-tiba saja terdiam. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mulai bicara.
"Aku menyukaimu, Naruto-kun." Ucap Hinata. "Aku menyayangimu."
Dua kalimat itu membuat Naruto mengerjap.
"Selama ini kau selalu menjadi penyelamatku. Terimakasih." Ujar Hinata lagi.
Dilihat Naruto, gadis itu tersenyum lembut.
Naruto berkedip. Lelaki macam apa ia, membuat gadis itu mengatakannya duluan?
Sambil balik tersenyum, si pemuda menggeleng. Perlahan ia merengkuhkan kedua lengannya pada Hinata, menarik gadis itu mendekat.
"Aku juga menyayangimu." Naruto mulai menyondongkan wajahnya." Akulah yang harus berterimakasih padamu . . Hinata." Bisiknya, sesaat sebelum mulai mengecup bibir Hinata.
Gadis itu sedikit malu-malu di awal, namun setelah beberapa detik, Hinata pun menyambutnya. Ciuman itu.
Sekali. Dua kali. Naruto ingin terus menghujani gadis itu dengan kasih sayang. Mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam. Meyakinkan Hinata bahwa ia selalu dibutuhkan.
Keduanya terus berbagi ciuman manis tanpa peduli seberapa jauh kereta kuda itu membawa mereka pergi ke tanah yang baru. Kehidupan baru.
.
.
.
Tamat.
Semua teori yang ada disini berasal dari imajinasi author semata. Kaguya kubuat berperan menjadi ibu dari Toneri demi kepentingan cerita. Semoga kisah ini berakhir manis XD
-balasan review reader yang tidak login-
ana : sudah beres haha semoga ini cukup manis~
DiTa : gapapa, makasih udah kasih repiyu yaa
Sun : hmm, maafin yaa lama wkwk naru kuat kok, apasih yang ngga buat hina~~ siipoo makasih juga sudah baca sampai chap akhir ini hehe
Eru-nii : iyaa gak ada bank sumur pun jadi wkwkwk cerita SasuIno udah lumayan banyak kok coba tengok *malahpromo* ehehe bukannya kamu udah ngikutin ceritanya mereka yaa? *soalnya name guestnya sama*
Durarawr : makasiih yaa ini udah apdet chap terakhir~
Blackscreen : siip
Thanks for reading.
Yattaaa!
Satu kewajiban terpenuhi! Akhirnya fanfic ini rampung juga.
Terimakasih banyak kepada teman-teman yang telah bersedia mampir ke fenfik ini dan membacanya sampai habis.
Makasiiiiiii~h banyak buat kalian yang sudah meninggalkan komentar, yang sudah menandai cerita ini dan yang sudah menunggu sampai akhir.
Vika ga bisa ucapin dan sebutin satu-satu pokoknya special thanks buat kalian yang sudah menemani dan memberi support dari awal sampai Stolen moment ini beres.
Hontou ni arigatou!
Hore sudah selesai!
Gak bosannya bilang gini dari sejak nulis Simplest :
NaruHina adalah pair canon yang paling aku restui sejagad anime!
Gak terasa sudah suka mereka sejak zaman Naruto season 1 sampai akhirnya kapal mereka resmi berlayar~~
Silahkan beri komentar/kesan dan pesannya di kolom review.
Updated : 26/12/16
