Disclaimer: Death Note milik Tsugumi Ohba & Takeshi Obata.
Pairing: KiraL, LightRyuuzaki, RaitoRyuga, YagamiLawliet
Warning: shounen-ai, OOC, AU (Alternate Universe), no Death Note. Don't like don't read.
A/N: Wah~ Chapter 10! Aku ga nyangka aku bisa nulis fic sampai sepanjang ini! Sungguh mengharukan... (?)
Arigato gozaimasu untuk kalian yang masih mau read and review fic ini. Makasih juga buat kalian yang sudah menominasikan The Love Note di IFA 2010. Sungguh suatu kehormatan fic super gaje ini bisa masuk nominasi IFA. TT^TT
Yah, walo ga masuk tahap polling aku tetep seneng kok. ^^
Yosh, enjoy~
The Love Note
by
Li Chylee
XoXoXoX
Detektif dengan rambut hitam pekat dan seakan tak pernah disisir itu berjalan dengan langkah agak lebar. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana jinsnya. Tangan yang satunya ia angkat menuju mulutnya. Kuku ibu jarinya hampir habis sebab ia tak berhenti menggigitinya sejak sepuluh menit yang lalu. Ia sedang berpikir dan menganalisa hal yang baru saja dialaminya.
'Kenapa Light-kun melakukan itu...?' pikirnya. 'Untuk meyakinkan saya bahwa ia mencintai saya? Atau untuk menunjukkan bahwa ia seseorang yang hebat dalam berciuman?'
Pipi Ryuuzaki yang awalnya pucat seketika memerah ketika ia memikirkan hal itu. Ia semakin keras menggigiti kuku ibu jarinya.
'Tidak mungkin Light-kun mempunyai tujuan sedangkal itu. Tetapi jika tujuannya adalah yang pertama...'
Ryuuzaki menghentikan langkahnya.
'Sepertinya saya harus mengurangi presentase saya...'
XXX
Light tengah berbaring santai di atas ranjangnya. Satu tangannya menyangga kepalanya, dan satunya lagi tidak henti-hentinya menggenggam sebuah benda. Light sudah berada dalam posisi seperti itu selama kira-kira dua puluh menit. Ia mendesah keras. Matanya terpejam dan bibirnya mengatup rapat.
"Sampai kapan kau akan terus menggenggam benda itu, Light?" tanya Ryuk memecah keheningan. Light tidak menjawab. Ia hanya menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi. Merasa diabaikan, Ryuk mengambil apel yang tersedia di meja dan mulai memakannya.
Akhirnya mata berwarna cokelat itu terbuka. Ia menatap benda yang tengah digenggamnya. Kondisi benda itu masih sama seperti sebelumnya, tidak sesuai dengan harapan Light.
'Kapan Ryuuzaki akan menelepon atau mengirimiku e-mail?' batin Light galau. Ponsel yang berada dalam genggamannya tidak berdering dari tadi. Padahal Light mengharapkan Ryuuzaki meneleponnya dan mengajaknya bertemu untuk memberitahu bahwa masa 'break' mereka sudah berakhir.
'Apakah aku yang harus meneleponnya duluan? Tapi aku tidak mau kelihatan terlalu mendesaknya...'
Baru saja Light berpikir begitu, ponselnya sudah berdering. Dengan kelegaan yang luar biasa, Light langsung melompat bangkit dan mengangkat telepon itu.
"Aku tahu apa yang akan kau katakan. Beritahu saja kau mau kita bertemu di mana. Atau aku yang menentukan tempat kita bertemu? Hotel XXX sepertinya bagus—" ucap Light dengan kecepatan cahaya(?).
"Light," potong suara di seberang sana. "Ini Misa. Kok Light tahu Misa mau mengajak Light bertemu sih? Kyaaaa, Light mau mengajak Misa ke hotel? Bagaimana ini~? Misa harus siap-siap nih! Hihihi... Misa tidak menyangka Light akan langsung mengajak Misa ke hotel~"
'What the f*ck?' pikir Light. Ia sama sekali tidak menyangka Misa yang akan menelepon. Dan dengan bodohnya ia langsung mengatakan hal seperti itu.
"Misa, maaf, tadi kupikir pacarku yang—"
"Baiklah, Misa tunggu di Hotel XXX ya~ Sampai jumpa, Light~ muaaach!" potong Misa lagi, dan dia langsung mengakhiri sambungan teleponnya.
"...Shit," umpat Light sambil melempar ponselnya ke tempat tidur. Tadinya dia mau melemparnya ke lantai, tapi sayang itu hape kreditan, kalau rusak kan mubazir.
Ryuk yang melihat tampang Light yang sudah depresi, frustasi, dan mirip terasi(?) langsung tertawa terbahak-bahak sampai keselek apel yang sedang ia kunyah.
"Diam, Ryuk. Ini tidak lucu," ucap Light ketus.
"Khu khu khu... Kurasa ini pantas dimasukkan ke Love Note. 'Jangan mengangkat telepon dengan terburu-buru kalau kau tidak ingin mengatakan hal yang salah pada orang yang salah.' Bagaimana kedengarannya?" ujar Ryuk sambil terkekeh-kekeh. Light tidak menjawab.
"Untuk apa Misa menghubungiku? Apakah itu keinginannya sendiri atau perintah dari Ryuuzaki?" gumam Light.
"Kalau kau menanyakan pendapatku, kurasa itu keinginannya sendiri. Ryuuzaki tidak akan menggunakan taktik yang sama dua kali, kan? Apalagi jelas-jelas kau sudah menolak gadis itu tempo hari. Tidak ada gunanya mengerahkan gadis itu lagi," kata Ryuk.
"Masuk akal. Kurasa aku akan tetap di sini, menunggu Ryuuzaki meneleponku."
"Kau akan membuat gadis itu menunggumu?"
"Salahnya sendiri tidak mendengar penjelasanku dan langsung menutup telepon begitu saja," ucap Light acuh tak acuh.
"Tapi aku berani bertaruh dia akan terus menunggu sampai kau datang, Light."
"Bagaimana kau tahu?"
"Sebagai Dewa Cinta, aku tahu dia sudah jatuh cinta padamu," jawab Ryuk sambil mengangkat bahunya dan mengambil lagi sebuah apel dari mangkuk besar di meja Light.
"Kalau begitu, apakah kau tahu bagaimana perasaan Ryuuzaki padaku? Apakah dia mencintaiku?" tanya Light.
Ryuk menyeringai lebar mendengar pertanyaan Light.
"Kau mulai tidak yakin dengan perasaannya, hm?" ia bertanya balik sambil menggigit apelnya.
"Aku tahu dia mencintaiku. Itu pasti. Siapa yang tidak akan mencintai pemuda setampan, sekeren, sejenius, segagah, sejantan, semenawan, dan semempesona aku?" ucap Light dengan kenarsisannya yang sudah mendarah daging.
"Kalau begitu tidak usah bertanya. Lagipula kalau kuberitahu kan jadi tidak menarik dan membosankan. Khu khu khu..."
"Kau ini... menganggapku dan Ryuuzaki hanya sebagai pengusir kebosananmu saja..." desah Light. Ia melempar pandangan pada ponselnya lagi. Masih tidak ada tanda-tanda ponsel itu akan berdering. Sambil menghela napas panjang, Light kembali berbaring dan menunggu.
XXX
L tengah duduk di kursi favoritnya dengan gayanya yang biasa. Ia sudah kembali ke markasnya beberapa saat yang lalu. Watari berdiri di sampingnya.
"Watari, saya minta dua loyang cake stroberi, puding coklat, pai apel, es krim vanila, dan biskuit Hello Panda. Siapkan dalam lima menit," kata L.
"Untuk apa semua itu, Ryuuzaki?" tanya Watari keheranan.
"Tentu saja untuk saya makan, Watari."
Watari langsung menggubrak dengan indahnya(?).
"Ya iyalah untuk dimakan. Maksudku kenapa kau butuh makanan sebanyak itu? Apakah kau sedang menghadapi kasus yang sangat sulit?"
"Ya, Watari. Ini kasus tersulit yang pernah saya tangani. Saya butuh tenaga ekstra untuk menyelesaikannya."
Watari akhirnya menganggukkan kepalanya dan berjalan ke luar ruangan untuk mengambil makanan-makanan manis yang dipesan L. Ia sudah bisa menebak bahwa kasus yang dimaksud L pasti ada hubungannya dengan Light Yagami.
L sudah berhenti menggigiti kukunya karena sudah tidak ada lagi kuku yang tersisa untuk digigiti. Sekarang ia beralih menggigiti pocky yang tersisa di atas mejanya. Punggungnya terlihat makin bungkuk saat ia berpikir.
'Ciuman itu... apa maksud Light-kun sebenarnya?'
Ia terus memikirkan hal itu. Walau ia sudah menurunkan presentasenya menjadi 70%, ia masih belum yakin apakah sebaiknya ia menurunkan atau justru menaikkan presentasenya.
Watari datang beberapa menit kemudian, membawa seluruh pesanan L dalam sebuah kereta dorong kecil. Ia meletakkan semua makanan itu di meja L tanpa banyak bicara. L langsung mencomot cake stroberi dan mengunyahnya.
"Ryuuzaki, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah Light melakukan sesuatu padamu?"
L hampir tersedak mendengarnya. Tapi untunglah dia berhasil menelan cake-nya dengan selamat.
"Jangan mengingatkan saya soal itu lagi, Watari..." gumam L.
"Soal apa?" Watari kembali bertanya. Dari nadanya, kelihatannya ia malah semakin tertarik, walau sebisa mungkin ia menutupinya.
Secara refleks L langsung menutupi bibirnya dengan telapak tangannya.
"Tidak ada apa-apa, Watari. Sungguh."
Watari memerhatikan telapak tangan L yang menutupi bibirnya dan berusaha menyembunyikan tawanya dengan batuk-batuk kecil. L menatapnya tajam.
"Ehem... Baiklah. Semoga kau berhasil menyelesaikan kasusmu," ujar Watari dan segera berbalik untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.
'Jadi begitu ya. Aku yakin Light pasti sudah mencium bibir L. Dasar anak muda zaman sekarang. Belum menikah saja sudah ciuman...' pikir Watari seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan prihatin. Kalau ia tahu rencana apa saja yang akan dilakukan Light pada L setelah mereka menghentikan 'break'-nya, bisa-bisa Watari langsung kejang-kejang dan terkena serangan jantung... sebab sudah bisa dipastikan Light akan melakukan lebih dari sekedar ciuman dan akan melibatkan 'barang-barang aneh' yang tidak pernah terlintas dalam benak Watari akan digunakan pada L.
Segera setelah Watari menutup pintu, L mengangkat telepon yang tergeletak di meja di depannya. Sesaat ia hampir menekan nomor telepon Light, tapi akhirnya ia menekan nomor lain. L mendekatkan telepon ke telinganya dan setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara seorang pria tua.
"Halo?" ujar pria tua itu.
"Roger, ini L."
Terdengar suara terkesiap dari seberang sana.
"L?" ulangnya, seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Ya. Saya ingin membicarakan sesuatu denganmu, Roger."
"A-apa yang ingin kau bicarakan, L?" ujar Roger gugup. 'Jangan bilang kau tak sengaja membaca surat cintaku untuk Wammy. Kumohon. Aku bisa mati karena malu,' ratap Roger dalam hatinya. Oh, ternyata... kakek-kakek seperti Roger juga seorang yaoi, suka sama Watari lagi. –sweatdropped seember-
"Ini soal penerus saya," ujar L.
"Oh," Roger mendesah lega sambil mengusap keringat di dahinya dengan sapu tangan.
"Tolong kirim Near ke Jepang. Dia harus sudah tiba dalam satu jam. Gunakan jet pribadi saya kalau perlu."
"Ada masalah segawat apa sampai kau meminta Near datang ke Jepang secepat itu, L?" tanya Roger penasaran.
"Saya ingin memberikan suatu misi padanya."
"Misi seperti ap—"
Tut tut tut...
Sambungan telepon sudah diputus.
XXX
"Kau bosan ya?" tanya Ryuk yang setelah satu jam tidak makan apel mulai mengeluarkan peralatan make-up-nya dan berdandan seperti biasa. Setelah memoleskan pelembab ke seluruh wajahnya, ia kini menepuk-nepukinya dengan bedak padat. Di kotak make-up-nya masih ada bedak tabur, maskara, bulu mata palsu, lipstik berbagai warna, lipgloss, deodoran, hand and body lotion, rollan rambut, lulur bengkoang, dan masih banyak lagi alat-alat kecantikan yang menunggu untuk digunakan Dewa Cinta gaje itu.
"Jangan tanya. Dan melihatmu menggunakan berbagai benda menjijikan itu semakin membuatku merasa bosan dan muak," jawab Light.
"Kalau begitu jangan lihat aku berdandan."
"Bagaimana aku bisa tidak melihatmu berdandan kalau setiap dua menit sekali kau bertanya apakah pelembabmu sudah rata, apakah bedakmu terlalu tebal, warna lipstik mana yang cocok untuk busanamu, dan model rambut apa yang menurutku bagus?" raung Light habis kesabaran.
"Sssst... ibu dan adikmu bisa dengar. Kau tidak mau kan disangka teriak-teriak gaje sendiri?" ujar Ryuk kalem. Ia meletakkan bedak padatnya dan mulai asyik memilih lipstik yang jumlahnya bisa membuat Ryuk memecahkan rekor dunia sebagai 'pengkoleksi lipstik terbanyak'(?).
"Hhhh... Ryuuzaki membuatku gila," desah Light sambil mengusap rambut cokelatnya ke belakang. Ia menatap ponselnya dengan tatapan membunuh, seakan berkata 'kalau kau tidak berdering dan memberitahuku Ryuuzaki meneleponku, aku akan membantingmu dari gedung lantai seratus!'
Tampaknya tatapan membunuh itu manjur karena beberapa saat kemudian ponsel Light berdering, di layarnya tertera nama 'My Lovely Honey Bunny Sweetie Panda Ryuuzaki'. Light hampir tidak memercayai penglihatan dan pendengarannya. Ia sampai meneteskan obat mata dan mengorek-ngorek telinganya untuk meyakinkan bahwa ia tidak berhalusinasi.
"Ryu-Ryuuzaki meneleponku! Akhirnya!" jerit Light girang sambil lonjak-lonjak gaje di kasur dan membekap ponselnya yang masih berdering itu di dada. Setelah bercermin, bersisir, merapikan baju, dan berpose seksi untuk meyakinkan bahwa penampilannya sempurna—yang sia-sia karena toh L tidak bisa melihatnya—Light menekan tombol 'OK'.
"Light-kun?"
Suara bariton Ryuuzaki itu terdengar bagai nyanyian surga bagi Light. Ia sudah sangat merindukan suara Ryuuzaki.
"Ya, Ryuuzaki?" Light menjawab dengan suara selembut sutra(?).
"Saya ingin bertemu Light-kun. Apakah Light-kun ada waktu?"
"Aku selalu punya waktu untukmu, Ryuuzaki," jawab Light sambil memamerkan senyum cemerlangnya yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi—yang lagi-lagi sia-sia karena L tidak bisa melihat senyuman itu.
"Saya ingin membicarakan sesuatu di kafe yang biasa. Saya harap Light-kun cepat bersiap-siap."
"Tentu saja, Ryuuzaki! Aku akan segera ke sana!"
"Baiklah. Sampai jumpa, Light-kun."
L menutup teleponnya. Light menoleh pada Ryuk yang sedang memakai lipstik merah berkilau dan berkata dengan penuh semangat, "Kau dengar itu, Ryuk? Ryuuzaki mengajakku bertemu di kafe! Akhirnya dia pasti akan menghentikan 'break'-nya!"
"Oh ya? Selamat," jawab Ryuk pendek dan kembali berkonsentrasi memakai lipstiknya. Light memutarkan bola matanya melihat tingkah Ryuk.
"Kau boleh tetap di sini, berdandan sesukamu, dan aku akan menemui Ryuuzaki, oke? Aku tidak mau pertemuan kami diganggu olehmu," ucap Light sambil menyambar jaketnya dan memakainya cepat-cepat.
"Oh~ Tidak bisa~," ujar Ryuk ala Sule OVJ. "Aku harus terus mengikutimu. Lagipula aku sudah selesai berdandan kok. Khu khu khu..."
"Ck," Light berdecak sebal. "Asal kau tidak merecokiku saja."
Light bergegas turun ke lantai bawah dengan Ryuk mengikuti di belakangnya. Ia berpapasan dengan Sachiko di lorong.
"Kaasan, aku akan segera memeperkenalkan pacarku padamu," ujar Light. "Setelah aku berhasil baikan dengannya. Kaasan pasti akan menyukai pacarku."
"Benarkah?" tanya Sachiko setengah senang, setengah kecewa. Rupanya Sachiko sudah terlanjur termakan rayuan Light waktu itu. (baca kembali chapter 3)
"Ya. Sekarang aku akan segera bertemu dengannya. Aku harus segera pergi," kata Light dan melanjutkan perjalanannya ke pintu depan. Light memakai sepatunya dan membuka pintu.
Pemuda bertubuh agak bungkuk, berambut hitam kelam, dan berkantong mata seperti panda adalah hal pertama yang dilihat Light ketika ia membuka pintu.
"Hai, Light-kun," ucap pemuda itu, yang tak lain dan tak bukan adalah L. "Aku menjemputmu."
"Ryuuzaki..." ucap Light pelan.
'Rupanya kau sudah tidak tahan ingin bertemu denganku ya? Kau begitu merindukanku sampai menjemputku begini... Ah, akupun sangat merindukanmu, Ryuuzaki...' batin Light berbunga-bunga.
Dengan langkah pelan karena efek slow motion Ryuk, Light melangkah mendekati L dan merentangkan tangan untuk memeluk pemuda itu. Light bisa mendengar ada musik India mendayu-dayu yang diputar Ryuk untuk semakin mendramatisir suasana. Dan rasanya Light bisa melihat kelopak mawar beterbangan entah dari mana mengiringi setiap langkahnya... diikuti hembusan angin lembut yang menerbangkan rambut cokelat Light dan rambut hitam L.
Light sudah tinggal berjarak sepuluh senti dari L. Mereka bertatapan dengan syahdunya.
Namun baru saja Light benar-benar akan memeluk L, tiba-tiba terdengar suara yang sama sekali tidak disangka Light akan muncul.
"Light! Sedang apa kau di sini?"
Light menatap ke arah sumber suara dan di situ berdiri seorang gadis pirang yang balas menatap Light. Gadis itu berlari-lari riang ke arah Light, tidak memedulikan tatapan horor Light yang ditujukan padanya.
"Misa sudah menunggumu lama sekali di Hotel XXX! Misa khawatir sekali terjadi sesuatu pada Light, makanya Misa memutuskan untuk menjemput Light!" kata Misa. Ia memeluk salah satu lengan Light yang terulur pada L.
"...hotel?" desis L dengan nada berbahaya.
"Ryuuzaki, aku tidak... dia yang..." Light berkata terbata-bata, mencoba menjelaskan.
Misa yang baru menyadari keberadaan L, menatap L tajam.
'Ryuuzaki, walau Misa tahu Ryuuzaki berpacaran dengan Light, tapi Misa tidak akan menyerah! Misa akan membuat Light berpaling pada Misa!' pikir Misa. Gadis itu mengeratkan pelukannya pada lengan Light sampai Light merasa lengannya mati rasa.
"Waktu Misa menelepon Light tadi, Light bilang akan mengajak Misa ke hotel, kan? Iya, kan?" tanya Misa pada Light seraya menekankan kata 'hotel'.
Light mengalihkan tatapannya dari L pada Misa. Sebagian wajahnya menggelap karena kemarahan yang luar biasa.
'Baru kali ini dalam hidupku aku merasa ingin memukul seorang wanita...' pikir Light. Tangannya mengepal erat. Giginya mengertak. Tatapannya sedingin es. Tapi Misa tampaknya sama sekali tidak menyadari aura membunuh Light yang ditujukan padanya.
"Sebaiknya kita tunda pembicaraan kita, Light-kun."
Suara datar itu membuat Light menoleh dari Misa.
"Ryuuzaki, kau salah paham! Biarkan aku menjelaskannya dulu!"
Tapi L sudah berbalik. Dan saat itulah Light menyadari bahwa L tidak datang sendiri. Ada seorang bocah berambut putih yang sejak tadi berdiri di belakang L. Bocah itu tidak pernah Light lihat sebelumnya. Entah mengapa ada perasaan tidak enak menyelimuti Light saat bocah albino itu tersenyum pada Light. Jelas senyumnya bukanlah senyuman ramah, karena senyumnya terlihat sangat ganjil.
"Kau tidak pantas untuk L-niisan," bisik bocah itu dengan nada menyebalkan.
'Siapa bocah ini? Berani-beraninya berkata begitu padaku!' batin Light marah.
"Ayo, Near. Kita pulang ke markas," ucap L dari dalam mobil Roll Royce-nya yang diparkir di depan rumah Light. Bocah bernama Near itu berbalik dari hadapan Light dan masuk ke dalam mobil L yang pintunya terbuka. Light menatap tidak percaya saat tangan mungil Near menggenggam tangan L. Lalu pintu mobil ditutup dan mobil itu melaju pergi.
Light melepaskan pelukan Misa di lengannya dengan kasar dan berlari mengejar Roll Royce L.
"Ryuuzaki!" teriak Light. Ia berlari secepat yang ia bisa, mengejar mobil itu.
"Lebih cepat, Watari," ucap L datar.
"Kau yakin tidak mau mendengar penjelasannya dulu?" tanya Watari sambil memerhatikan Light yang masih berlari mengejar mobil dari kaca spion.
"Watari, L-niisan bilang 'lebih cepat', kan?" timpal Near.
Watari memilih diam dan mempercepat laju mobilnya, membuat jarak Light dan mobil L makin jauh. Namun Light tidak menyerah, ia terus berlari dan berlari, walaupun tahu mobil itu tidak akan berhenti.
"Ryuuzakiiiiiiiii!" teriak Light keras-keras. Napasnya terengah-engah dan keringatnya bercucuran. Setelah berlari sejauh satu kilometer akhirnya dia berhenti. Wajahnya memerah, campuran marah dan lelah.
"Khu khu khu... sepertinya perjalanan cintamu masih panjang ya, Light?" ujar Ryuk. Ia malah kelihatan senang melihat keadaan ini. Menurutnya ini menarik.
"Andai... andai aku bisa terbang sepertimu..." Light berbicara sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
"Kau akan bisa terbang kalau kau jadi Dewa Cinta atau Shinigami. Tapi tentu saja penampilanmu akan jadi sepertiku. Khu khu khu..." ucap Ryuk. Jarinya yang panjang memainkan rambutnya yang sudah dibentuk ikal dan diwarnai pirang.
"Lupakan kata-kataku tadi," ujar Light cepat-cepat. Lebih baik ia tidak bisa terbang daripada harus berpenampilan seperti Ryuk. Membayangkannya saja sudah membuat seluruh rambut di tubuh Light berdiri.
"Aku penasaran siapa bocah albino yang dipanggil 'Near' itu..." gumam Light. Hatinya panas saat ia ingat tangan Near yang menggenggam tangan L.
"Light, kau tidak apa-apa~?" Misa berteriak dari kejauhan sambil berlari-lari kecil. Ia menenteng sepatu high heels-nya agar lebih mudah berlari.
Light melirik Misa.
'Walaupun gadis itu menyebalkan, tapi dia pernah mempunyai hubungan kerja dengan L. Sepertinya aku bisa memanfaatkannya...' pikir Light.
Dan Light pun melancarkan senyuman ala iklan pasta giginya pada Misa, walaupun dengan sangat terpaksa...
"Misa, kau mau membantuku, kan?"
~TBC~
Yosh, setelah sekian lama kena WB akhirnya aku bisa update~! *sujud syukur*
Maaf apdetnya lama banget. Aku jarang bisa dapet waktu, mood, dan ide dalam saat bersamaan sih. T.T *ngeles* *digiles*
TBC-nya cliffhanger... =.=
Sengaja kok biar readers penasaran dan mau nungguin apdetan selanjutnya. :D *BUAGH*
Presentase L turun jadi 70%, dan dengan kejadian ini seperti akan jauh lebih turun lagi. *evil laugh* *ditulis di DN ma Light*
Near muncul dan perannya jadi antagonis. Yah, entah kenapa aku agak sebel sih sama Near, dan sepertinya cocok aja kalo dia jadi karakter antagonis. *tepar dihajar FG Near*
Review kalian masih ditunggu. Review ya! Kalo nggak, aku hiatus nih! *PLAK*
Maaf kalau humornya garing. Sense of humor-ku lagi turun nih. T.T
Thanks untuk yang sudah mengikuti fic ini dari awal sampai sekarang. I love you~ Saranghae~ Aishiteru~ Wo ai ni~ Aku cinta kalian~ ^3^
