Updated
CHAPTER 10
.
.
4 bulan berlalu...
Draco dan Hermione kembali hidup bersama di penthouse, kehidupannya hampir sama dengan kehidupannya pada saat mereka tinggal disana dulu. Hanya bedanya kini mereka sama-sama punya masa depan yang akan mereka bangun bersama—begitukah?
Hermione sempat tak sabar ketika Draco tak juga mengatakan bahwa ia melamar Hermione. Kata-kata 'Will you marry me' tak kunjung keluar dari mulut Draco.
"Awwhhh...shit! Hermione...I—I...ehm" Draco terengah-engah berada diatas Hermione, dia sedang memompa cepat kejantanannya di milik Hermione. Beberapa saat kemudian Draco terkulai lemas di atas Hermione, kepalanya menyeruak diantara leher dan telinga Hermione.
"I love you, love" bisiknya di telinga Hermione.
"I know. I love you too" jawab Hermione.
Draco menarik Hermione agar memeluknya, mereka bercinta setelah Draco kembali dari luar kota.
"love"
"hmm..."
"Besok, Mother mengundang kita makan malam di Manor. Kita menginap disana weekend ini—kau bisa?"
"Baiklah, besok sore kau jemput aku di Magpius Cafe—Ladies Lunch, kau ingat?"
"Ya. Besok aku ada keperluan di kantor, jam 4 sore, ok"
"Yes, Sir" Hermione mengecup pipi Draco.
"Now sleep"
.
.
xxxxxxx
.
.
At Magpius Cafe...
Ginny menurunkan majalah Witch Weekly yang memuat kabar tentang hubungan Draco dan Hermione yang sekarang menjadi headline.
Foto mereka bersama-sama terlihat dimana-mana—kebanyakan foto dari paparazzi. Banyak yang menulis bahwa mereka akan menikah dalam waktu dekat ini, kilatan asmara yang terlalu cepat pasca kematian Astoria membuat mereka berspekulasi bahwa sebenarnya mereka sudah menjalin hubungan lama semenjak di Hogwarts. Bahkan beberapa foto lama mereka muncul saat Draco dan Hermione berdansa mesra di Pesta Kelulusan Hogwarts. Mereka bergosip bahwa hubungan mereka putus sejak Draco menikah dan kemudian disambungkan dengan kabar hubungan Hermione dan Oliver yang kandas.
Cinta lama bersemi kembali—katanya.
"I dont know, Gin. Dia sama sekali belum melamarku. Demi gigi Merlin" keluh Hermione.
"Kau saja yang melamarnya" ucap Pansy sekenanya.
"Pans..." kata Hermione putus asa.
"Pansy benar—kau duluan saja yang making move" sela Ginny.
"Gin..." kata Hermione memelas.
"Oh come on, Mione. Berita kalian sudah tersebar dimana-mana—lihat! Dimana-mana!" Pansy menunjuk majalah Witch Weekly dan Harian Daily Prophet, bahkan Quibler pun ikutan bergosip tentang Draco dan Hermione.
"Demi Merlin, Mione. Aku juga yang mendesak Harry agar dia mau menikahiku. Kau tahu, Harry—orangnya canggung dan gugup. Bila aku tidak memintanya, kami akan terus begini—tidak akan memiliki James"
"Tapi Harry melamarmu, Gin"
"Iya, dengan bantuan dorongan semua orang. Aku meminta bantuan ibuku, kakak-kakakku agar terus menerus menyindir Harry agar dia panas—tahu kan maksudku?"
"Ron juga sama gugupnya, dia bahkan tidak percaya diri. Ron sangat insecure, ia tidak yakin padaku. Akhirnya setelah diseret Ginny membeli cincin untukku, dia melamarku" tambah Pansy.
"Draco bukan orang seperti itu, Pans, Gin. Dia penuh perhitungan dan pertimbangan"
"Wrong, Miss-know-it-all" tukas Pansy "Draco orang yang menyukai kejutan. Tanpa pertimbangan apapun dia selalu bertindak sesuai apa yang dipikirkannya, tidak memperdulikan pikiran orang lain"
"Jadi aku harus bagaimana? Menunggu?"
Ginny tertawa kencang. Hermione dan Pansy melongo heran. "Kalian lucu! Tak pernahkah kalian sadar bahwa kalian saling bertukar mantan kekasih? Pansy-Draco, Hermione-Ron lalu sekarang Pansy-Ron, Hermione-Draco"
"Twist love, hmm?" tambah Pansy.
"Kurasa tidak ada hubungannya, Gin" gerutu Hermione. "Apa aku harus meminta bantuan kalian termasuk Blaise dan Theo untuk mendesak Draco"
"Not working" saran Pansy "Draco bukan termasuk orang yang gampang terpengaruh, kadang kala sih, dia terpengaruh juga—tapi boleh juga dicoba, mungkin berhasil—Ah..aku tak tahu. Not sure" kata Pansy plin plan.
"Apa sih alasanmu ingin segera menikah, Mione?" tanya Ginny.
"Well...sederhana saja. Aku ingin punya anak secepat kalian punya anak. Oh come on, Gin. Kau dan Harry sudah punya James. Pansy dan Ron mungkin sebentar lagi akan memiliki bayi. Aku tak mau jika anak-anak kalian sudah besar, lalu aku membawa bayiku kemana-mana untuk hang out seperti ini. Lagipula kan lucu juga kalau anak-anak kita sebaya dan mereka sekolah di Hogwarts bersama-sama. Sepertinya mereka nanti saling mengawasi satu sama lain" papar Hermione.
Pansy dan Ginny berpandangan dan kemudian tertawa bersama.
"Sama sekali tak terpikirkan olehku, Mione. Sumpah, kau berpikir sampai sejauh itu?" tanya Pansy hampir saja tersedak winenya.
"Benar juga sih. Kalau begitu lamar saja Draco" kata Ginny.
"Yep, agree. Kau harus melamar Draco" angguk Pansy.
Hermione hampir menyemburkan winenya dan menggeleng keras. "Jika ditolak?" tanya Hermione kemudian.
"Cari cowo baru" celetuk Ginny.
"Ginny...!" Hermione memutar bola matanya.
"Oh..ok! Ok! Pria sekelas Oliver Wood saja ditolak olehmu kan? sangat mudah bagimu untuk mencari cowok baru. Kalau tidak mau, ya..kau harus berani melamarnya—Astaga, kau ini Gryffindor bukan sih? Tunjukkan jiwa Gryffindor-mu" Ginny menepuk dadanya.
"Atau kau menjebak Draco dengan kehamilan dan dia terpaksa menikahimu?" saran Pansy serius seakan idenya amat sangat cemerlang.
"Pans...!" hardik Hermione putus asa.
"Well...sebagai seorang Slytherin. Aku sarankan menggunakan Narcissa—Draco sangat menuruti saran ibunya" kata Pansy sambil mengangkat dagunya.
"...hmm...baiklah...aku akan mencobanya malam ini" putus Hermione lambat-lambat. "Kebetulan aku diundang Narcissa menginap di Manor"
"It's clever idea! As Ravenclaw" Pansy mengangkat jempolnya.
"Lalu apa pendapat Hufflepuff?" tanya Ginny.
"Draco as Hufflepuff—terkejut kemudian pasrah dan dengan berbesar hati terpaksa menerima" sela Hermione, mengangkat gelasnya sambil tertawa miris.
"Semangat untuk Hermione" Ginny mengangkat gelasnya.
"Untuk Hermione" Pansy mengangkat gelasnya juga.
Lalu mereka sama-sama melakukan toast.
"Aku menunggu live report, Mione. Jangan sampai aku penasaran" pinta Ginny.
"Benar, kalau kau tidak laporan. Maka aku akan menerormu, kebetulan aku menginap di The Burrow malam ini. Jadi kita bisa meneror Miss. Granger bersama-sama, Gin" kata Pansy
"Well done" Ginny setuju
Hermione hanya pasrah—melamar Draco? Wanita melamar seorang pria—It's getting me nerve.
.
.
xxxxxx
.
.
"Oh..dear. Welcome, welcome. Sudah lama sekali kau tidak datang kemari" sapa Narcissa basa-basi mengecup pipi Hermione.
"Apa kabar Cissy..Kau tampak cantik sekali" balas Hermione.
"Begitukah? Kurasa wajahku terlihat berseri-seri karena kedatangan tamu istimewa, benar bukan Son?"
"Absolutely, Mother" jawab Draco.
"Come dear" Narcissa meminta Hermione duduk disampingnya. Hermione menurut. "Son, maukah kau mengecek persiapan makan malam kita?" pinta Narcissa.
Draco mengerti bahwa ibunya mengusir dia secara halus. Narcissa ingin berbincang berdua dengan Hermione.
"Baiklah, Mother" Draco melangkah pergi.
Setelah meyakinkan diri bahwa Draco telah pergi, Narcissa menghadap Hermione.
"Apa Draco sudah melamarmu?" tanya Narcissa to the point.
Hermione terkejut, "Belum"
"Anak itu, selalu lamban. Wanita tak baik menunggu lama bukan" Narcissa berdecak. "Aku sudah tak sabar memakaikanmu mahkota pusaka Malfoy. Kau tahu dear—aku bahkan tidak memakaikannya pada Astoria—sepertinya aku jahat. Tapi bukan dia orangnya—sebagai Lady Malfoy. Maafkan aku Merlin, semoga dia tenang di alam sana" cerocos Narcissa anggun tanpa rasa bersalah.
"Mungkin Draco perlu waktu untuk meyakinkan diri dan menunggu saat yang tepat"
"Mana mungkin? Perjalanan kalian sudah sampai sejauh ini. Demi Merlin—begitu banyak penderitaan atas cinta kalian—kurasa. Draco tak boleh menyiksamu lebih lama lagi, aku tak akan mengijinkan"
"Cissy..." sela Hermione.
"Ah.. dear, dia hanya perlu sedikit dorongan—kau mengerti?"
"Jadi aku harus memancingnya, begitu?"
"Why not?" kata Narcissa tersenyum penuh arti. "Kau tahu aku selalu mendukungmu"
Hermione mengigit bibirnya, mencerna—apa artinya aku harus maju duluan? Hermione membatin.
"Mother, kurasa makan malam sudah siap" kata Draco. Dia mengulurkan tangan pada Narcissa untuk membimbingnya ke ruang makan.
"Love, come. Dinner's ready" ajak Draco pada Hermione.
.
.
Setelah hening beberapa saat pada makan malam yang kaku di Malfoy manor, Narcissa menyimpan garpu dan sendoknya.
"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Narcissa menatap tajam Draco.
"Secepatnya, Mother. Bagaimana menurutmu, love?" tanya Draco pada Hermione yang duduk di seberangnya.
"Aku tak tahu—kau bahkan belum melamarku" jawab Hermione acuh tak acuh.
"Kau bahkan belum mengatakannya, my Son? Rasanya kau sangat tidak peka terhadap perasaan wanita" protes Narcissa.
Draco tersenyum menenangkan Narcissa.
"Kukira akan lebih menarik dengan menyeretmu ke altar, love. Ketimbang berkata-kata 'Will you marry me?'"
"Kau hanya bercanda kan, Son?" Narcissa menggelengkan kepalanya—Draco dengan segala ke-ekstrim-annya.
"I'm serious, Mother" jawab Draco memberi tatapan menantang pada Hermione.
"Very well then... Will you marry me, Mr. Draco Malfoy?" sindir Hermione memicingkan mata pada Draco.
"Kau tidak bercanda kan, Hermione?" Narcissa menutup mulutnya—Hermione dengan segala keberaniannya. Ia menggengam tangan Hermione dan tersenyum puas.
Draco hanya menyeringai. Hermione memandangnya sebal.
"Terus terang Cissy..aku tak mau diseret ke altar—kau tahu, itu akan merusak tatanan rambut, make up dan pakaian pengantinku" kata Hermione santai.
Draco tertawa kencang. "Kurasa seseorang telah melamarku, Mother. Dan kau harus bersiap mempunyai cucu"
"Exciting. Pernikahan kalian akan berlangsung 2 bulan lagi kalau begitu" kata Narcissa sambil bertepuk tangan tanpa suara.
Hermione tersenyum mengejek pada Draco.
"Jadikan 1 bulan lagi, Mother. Bila belum siap dalam jangka waktu sebulan. Aku bersumpah aku akan menyeret dia ke altar—siap atau tidak siap" Draco tersenyum licik.
"Brengsek kau, Draco" desis Hermione tanpa terlihat Narcissa tapi Draco membaca gerakan bibir Hermione dan dia menaikkan alisnya, mengoda Hermione.
Sekali lagi—sisi keromantisan Draco. Menyeretku ke altar? Draco memang sudah gila dan aku mengilainya, batin Hermione.
.
.
"Tak kusangka, kau berani melamarku, Love?"
"Aku seorang Gryffindor—kau lupa?"
Mereka sedang menikmati langit malam di sekitar Manor—duduk di bangku taman belakang. Taman yang sangat indah, taman kebanggaan Narcissa—taman yang dipenuhi aneka bunga mawar, tulip dan daisy berwarna-warni.
Draco tertawa renyah. Hatinya menjadi lebih ringan sekarang.
"Tampaknya aku keduluan langkah denganmu, the queen defeat the king—nyaris seperti permainan catur" kata Draco. Membelai rambut Hermione yang sedang merebahkan kepala di pundaknya.
"Kau selalu ketinggalan langkah, Draco. I'm already defeat you in many ways"
"Sounds like Malfoy—your pride, hmm..."
"I'm gonna be Malfoy anyway"
Draco berdecak sambil tertawa kecil.
"Hermione..."
"Hmm..."
"Kau ingat kau pernah memukulku di tahun ketiga kita di Hogwarts?"
"Ingat sekali—salah satu favoritku, rasanya menyenangkan saat itu" Draco merasakan Hermione menyeringai jahil.
"Heii... kau tampak preman sekali waktu itu. Astaga"
"Karena kau amat sangat menyebalkan"
"Ya..ya..aku tahu. Tapi tahukah kau, saat itu aku menyadari bahwa kaulah satu-satunya gadis yang kuperhatikan setelah kejadian itu"
Hermione duduk tegak menghadap Draco—tak percaya dengan pengakuan Draco. "How come?"
"Tidak ada seorangpun yang berani melawanku, dengan cara seperti itu terutama dari seorang gadis. Itu merupakan terapi shock bagiku. Aku sempat berandai-andai bagaimana cara menaklukanmu, kau menjadi suatu tantangan bagiku dan aku mencari cara untuk mendekatimu. Tapi Potter dan Weasley tak pernah membiarkanmu lepas—itu membuatku frustasi. Sebenarnya aku iri pada mereka, mereka selalu menjagamu, melindungimu dan tidak pernah membiarkanmu sendiri, kau tampak bahagia—Yah seperti itulah. Lalu aku mencari cara yang salah, dengan menganggumu. Cara yang aneh dan pengecut, bukan? Tapi dengan itu kuharap kau melihatku, memperhatikanku—bahwa aku ada. My pride and prejudice membuatku menjadi orang yang menyebalkan. Tapi sungguh jika aku bisa bertukar tempat aku memilih ingin menjadi Potter atau Weasley agar selalu dekat denganmu. Tidakkah kau sadari aku menyihir panjang gigimu karena aku tidak ingin kau kencan dengan Krum—dan mengagalkannya"
"Kau menyukaiku sejak saat itu?" Hermione tetap tak percaya.
"Bila kupikir lagi sekarang ini—ternyata iya, aku menyukaimu. Menyukaimu karena kau orang yang berani melawanku artinya kau berani bilang bahwa aku salah. Menyukaimu karena kau orang yang sepadan denganku—mampu menyeimbangiku, mampu mengendalikanku dan seandainya saja aku tak memilih jalan yang salah kemudian berani mendekatimu maka hidupku tak serumit ini"
"Draco...kau hanya bimbang atas semuanya. Aku memakluminya lagipula itu adalah masa lalu"
"Kau obsesiku, Hermione—kau tahu. Kau bisa menghancurkanku dalam sekejap dan aku akui bahwa aku lemah tanpamu" Draco terdiam sejenak lalu berkata "Jadi maukah kau menikah denganku?"
"Kau melamarku?" Hermione tersenyum.
"Tentu saja. Aku akan bertindak benar mulai dari sekarang. Kau pusat hidupku. Aku tak akan pernah lelah, bosan, dan puas akan dirimu. I will give and treat you properly, Hermione Jane Granger"
"Kau yang terbaik, Draco. Untukku kau selalu yang terbaik. You win, you're the winner all of me" Hermione mengusap pipi Draco dan menatap matanya penuh kasih sayang.
"Kau belum menjawab lamaranku, love"
Hermione meneteskan air mata haru "Of course, I will marry you, so stay with me until the end of time. Struggling the world together"
"Together" ulang Draco.
Draco menyihir udara dan muncullah sebuah kotak beludru hitam, dibukanya kotak itu dan mengambil 2 buah cincin didalamnya. Batu berlian hijau besar yang indah terpatri dalam lingkaran yang berelief ular. Batu cincin wanita berbentuk oval memanjang, sedangkan batu cincin pria berbentuk kotak.
Hermione wedding ring and Draco wedding ring.
"Ini adalah cincin pengantin pusaka tua milik Malfoy. Dia akan tahu siapa yang akan menjadi pasangan Malfoy sejati" ucap Draco lalu menyematkan cincin di jemari Hermione—secara sihir cincin itu melingkar pas di jari manis kirinya.
"Dan ini adalah cincin pasangannya" lanjut Draco—ia memberikan cincin kepada Hermione untuk disematkan di jari Draco.
Kedua cincin itu terpasang di kedua jari manis mereka.
Ada perasaan aneh menyergap Hermione dan Draco, kala cincin-cincin tersebut selesai disematkan di masing-masing jari. Draco dan Hermione sama-sama menengadahkan kepalanya, sebuah cahaya samar berwarna hijau berpendar di sekeliling kedua cincin itu. Sebuah energi yang penuh cinta dan hasrat yang tinggi. Rasa hangat dan jutaan kupu-kupu menggelitik di perut masing-masing.
"Apa ini?" tanya Hermione menikmati sensasi aneh menjalari dirinya.
"Sihir pengikat cinta dan nafsu—sebuah sihir yang memaksa agar si wanita lebih mencintai pasangannya begitupun sebaliknya. Mother yang memberikannya padaku—untukmu, katanya dia bahkan tidak memberikannya pada Astoria saat kami menikah"
Hermione tertegun. "Kau tahu bahwa kita tidak memerlukan sihir ini, kita saling mencintai"
"Benar. Jika sebelumnya pasangan itu sudah saling mencintai maka sihir ini sebagai pelindung kita berdua. Masing-masing pasangan akan tahu jika pasangannya dalam bahaya dan mampu menuntun jalan kepada pasangan tersebut jika dia hilang dan tersesat. Mereka tidak akan terpisahkan"
"Beautiful—it's so beautiful, Draco" Hermione seakan ingin meledak dalam kebahagiaan.
"Berjanjilah kau tidak akan melepaskannya, Hermione. Ini pengikat sehidup semati kita"
"Aku berjanji tidak akan melepaskannya, forever and ever"
Draco merangkul kepala Hermione erat, menciumnya lembut penuh perasaan—sangat berbeda dari yang sudah-sudah.
Ciuman itu seolah menghisap jiwa mereka menyatu dalam gairah yang tak terkalahkan, membuat mereka sangat terbuai dan melayang. Ciuman tersebut bertambah basah dengan setetes air mata Hermione dan tak disangka-sangka, Draco turut meneteskan air mata—setetes dua tetes mungkin. Hermione merasakannya. Cincin itu bekerja berpendar hijau tipis terus menerus.
.
.
xxxxxxxxxxxxxx
.
.
The Wedding...
"Menyebalkan sekali! Calon suamimu itu" gerutu Pansy.
"Dia berusaha menerobos masuk lagi?" tanya Ginny menahan tawa.
"Kau serius tak memberinya sex selama satu bulan penuh, Mione?" tanya Pansy pada Hermione melongo tak percaya. "Dia jadi gila—kau tahu?" Pansy berdecak.
Hermione tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk.
"Ah.. pantas saja dia begitu emosi? Kukira Draco Malfoy tak tahan untuk mendapatkan sex walaupun hanya sehari" tukas Ginny. "Mengingat—yah well.. kau tahu semenjak di Hogwarts dia terkenal playboy dan dijuluki Sex God of Slytherin"
"Apa?" tanya Pansy. "kau percaya rumor itu?"
"Memang benar, kan?" Ginny menaikkan alisnya.
"Tidak—tidak! Draco sangat pemilih sebenarnya—dia membiarkan gosip itu begitu saja. Tapi untuk urusan sex, dia tidak memakai sembarangan orang. Hanya snogging dengan beberapa gadis Pureblood di sekolah. Tapi tidak untuk sex. Dia tidak membiarkan dirinya disentuh secara murahan—kau tahu, banyak yang ingin tidur dengannya, menggodanya—kadang aku muak dengan kelakuan centil mereka" papar Pansy.
"Tapi kau pernah jadi pacarnya, Pans" sela Hermione sambil memakai mascaranya.
"Kau harus tahu, Mione. Yah benar, Draco dan aku sama-sama melakukan untuk yang pertama kali. Aku memberikan keperawananku dan dia memberikan keperjakaannya. Tapi kemudian kita putus—ah..lucu sekali pada waktu itu, kami saling panas memanasi tapi hanya sebatas snogging –Not For Sex. Aku dan Draco sama-sama pemilih—walaupun kau tahu, reputasiku dan dia—cukup seram sih mendengarnya. Tapi kami tak perduli, itu hanya julukan"
"Wow... benarkah? Kukira kau banyak tidur dengan beberapa lelaki di Hogwarts" ujar Ginny.
Pansy mengernyit jijik "Eewww...dengan stigma pride dan prejudice-ku waktu itu? Sex dengan sembarangan orang sangat menjijikkan. Draco pun sama"
"Rupanya kita banyak kekurangan info, iya kan Gin?" tukas Hermione.
Ginny terbahak. "Kita banyak salah paham kalau begitu. Termakan gosip"
"So..jadi kalian mau membahas soal pengalaman sex masa lalu kami?" tanya Pansy malas.
"Tidak! Kupingku jadi panas" kata Hermione sambil ikut tertawa.
Mereka berbincang di kamar rias Hermione. Hermione tengah bersiap menghadapi hari terbesar dalam hidupnya—pernikahannya. Baginya penjelasan Pansy cukup menggambarkan bahwa Draco bukanlah player, seperti yang pernah dia duga selama ini.
Terkadang Hermione mengira kehausan Draco akan sex membuat dia harus tidur dengan beberapa gadis untuk memenuhi hasratnya. Pantas saja dia begitu hebat di ranjang, memuaskan rasa hausnya hanya dengan wanita yang dipilihnya—dan orang itu adalah dia, Hermione Granger. Hermione cukup menarik kesimpulan bahwa Draco termasuk pria yang setia.
Ginny menganggukan kepalanya sambil terkekeh.
"Kukira make-upmu sudah cukup. Sekarang kita bantu Mione untuk memakai gaunnya. Yuk, Pans" ajak Ginny.
Pansy segera menghampiri Hermione dan membantunya memakaikan gaun pengantin Hermione.
.
.
Narcissa menutup mulutnya—kagum "Oh..dear! Kau cantik sekali, anggun!" serunya. Dia menatap Pansy dan Ginny penuh terima kasih. "Kalian..oh..sangat berbakat. Excellent. Tinggal satu lagi yang kurang" ujar Narcissa dengan gaya dramatis seperti biasa.
Narcissa segera memasangkan tiara mewah milik keluarga Malfoy ke rambut Hermione yang ditata lurus diatas dan ikal dibawah mengembang—Ginny dan Pansy berpendapat bahwa rambut Hermione terlalu indah jika hanya dibentuk seperti sanggul. Dan pendapat mereka benar, Hermione tampil menakjubkan.
Gaun pengantin itu memiliki model bahu terbuka dengan butiran mutiara dan kristal swarovsky di bagian atasnya, lalu roknya mengembang dengan lapisan tile, lace dan satin sutra yang bertumpuk-tumpuk dan memiliki ekor yang memanjang di belakangnya ditambah dengan veil tile transparan, di lis bagian atas veil terdapat taburan berlian menyambung simetris dengan mahkota yang dipasangkan Narcissa.
"Sangat indah sekali, Cissy. Terima kasih banyak" ucap Hermione tak bisa berkata-kata lagi.
Narcissa pun sama—tak mampu bicara apa-apa. Ia hanya mengecup pipi Hermione tanda ia sangat menyayangi menantunya.
"Aku iri padamu Hermione. Sungguh. Tapi aku sangat bahagia" kata Pansy tulus.
"Oh..Ginny, Pansy. Tanpa kalian semua ini tak akan terwujud. Terima kasih banyak. Kalian teman terbaikku—I love you, girls" Hermione memegang tangan Ginny dan Pansy dengan senyum tulus.
"Kukira sebentar lagi aku akan merusak maskaraku. Damn you, Hermione! Kau membuatku sedih" gumam Pansy mengatupkan bibirnya.
"We are all family?" angguk Ginny.
"Family" ulang Hermione dan Pansy bersamaan.
Narcissa memandang mereka dengan mulut menutup—terharu. Dia ingat bahwa dirinya tak seberuntung dengan tiga wanita di hadapan matanya. Narcissa tak punya sahabat wanita yang tulus. Adik dan kakaknya tidak akur, dalam hati ia bersedih tapi ikut bahagia melihat mereka saling menyayangi sebagai sahabat. 'aku harus memperbaiki hubunganku dengan Andromeda' niatnya.
"Well..ladies. Ikut aku. Ginny dan Pansy, kita ke tempat pemberkatan. Biar kupanggil Mr. Weasley untuk mengantar Hermione ke altar" ajak Narcissa mengulurkan kedua tangannya.
Pansy dan Ginny menyambut uluran tangan Narcissa dan merekapun keluar kamar.
.
.
Rasa gugup dan campur aduk menyergap perasaan Hermione, dia mengamit lengan Arthur Weasley yang menjadi penganti ayah pengantin wanita untuk mengantarnya ke altar. Arthur sudah dianggap ayah baginya. Mengingat kedua orang tua Hermione sudah tidak mungkin lagi hadir disini, tak ada yang bisa dilakukan oleh siapapun untuk mengembalikan ingatan kedua orang tuanya. Mengembalikan ingatan mereka sama dengan membuat mereka mati—hidup tanpa memori. Hermione menguatkan dirinya agar tak bersedih akan hal ini. Tapi tetap saja, di hari terbesar dalam hidupnya, ia ingin diantar ayah kandungnya dan melihat senyum bahagia ibu kandungnya. Namun ini semua cukup, sekarang ia dikelilingi dengan orang-orang yang mencintai dan menyayangi dirinya—Hermione cukup bahagia.
Dia harus bahagia.
"Kau siap, putriku?" tanya Arthur tersenyum.
Hermione mengangguk. Menghela nafas dan mulai melangkah...
.
.
Draco berdiri disana menunggunya, tuxedo putih mewah putih bersih membalut tubuh atletisnya. Sangat tampan dan gagah, ia bagaikan pria tetesan dewa Yunani seperti di fim-film muggle. Draco tersenyum cerah dan terpesona kala melihat wanitanya berjalan menuju tempatnya berdiri. Wanita itu seribu kali sangat cantik, ia tidak dapat membayangkan bagaimana kelak rupa anak-anak mereka bila ketampanannya dan kecantikannya disatukan dalam sebuah telur di rahim wanitanya—membawa gen terbaik mereka.
Semua mata para undangan memandang terpesona.
Pesta pernikahan ini cukup diselenggarakan sederhana ala Malfoy di Malfoy Manor yang disihir gemerlapan di seluruh dinding Manor. Hermione dan Draco menyerahkan semua urusan pada Narcissa. Narcissa tentunya dengan senang hati mengurus segala sesuatunya, ia ingin memberikan yang terbaik untuk Draco dan Hermione.
Jadilah pesta sederhana (aku Narcissa) ini dihelat—dengan ratusan undangan, katering nomor satu se-Inggris raya, dekorasi yang membuat mata tercenggang dan terpesona, bunga-bunga yang tak henti bermekaran, peri-peri kecil terus menaburkan konfeti silver mengkilap—konfeti itu dapat berubah jadi bintang yang berkilauan dan box khusus untuk pers dan paparazzi. Pesta ini hampir menghabiskan setengah berangkas milik Narcissa—itulah pesta sederhana ala Malfoy.
Hermione dan Draco sempat membelalak tak percaya kala melihat mewahnya persiapan pernikahan mereka. Tapi Narcissa meyakinkan mereka bahwa ini sangat sederhana—iya sederhana. Terserah Narcissa saja, toh dia yang mengaturnya.
"Kau cantik sekali, love. Aku sampai harus mengucek mataku—apakah ini kau atau bidadari dari surga?" gumamnya kala Arthur menyerahkan Hermione berdiri di sampingnya.
"Kau juga sangat tampan, Draco. Apakah Draco-ku tertukar dengan dewa di langit?" balas Hermione.
Mereka saling melemparkan senyum memikatnya.
Aberforth Dumbledore yang jadi pemimpin penikahan mereka "Tak disangka aku berdiri disini untuk menikahkan kalian. Cinta memang sederhana, bukan? Setelah mengalami lika liku perjalanan cinta kalian semasa di Hogwarts sampai akhirnya berada di altar suci ini. Oh..jangan kalian pikir aku tak tahu semuanya" katanya sambil mengedipkan mata penuh arti.
Draco tersenyum tipis dan Hermione tersenyum lebar.
"Mari kunikahkan kalian" ajaknya. "Mr. Malfoy, you first"
"Dear Hermione Jane Granger, bersediakah kau menjadi istriku? menerima segala kekurangan dan kelebihanku, menemaniku hingga masa tuaku, menjadi pendampingku kala susah dan senang, selalu setia padaku, menghiasi rumah kita dengan cinta dan kasih sayang bersama, memberikanku keturunan yang banyak, mendukungku kala aku kesulitan, mengatasi pertengkaran kita dengan dewasa dan bercinta sesudahnya, menjadi lawan seimbangku di ranjang yang panas dan menerima sehidup semati denganku?" tanya Draco.
"Miss Granger, your turn" kata Dumbledore.
"Dear Draco Abraxas Malfoy, aku bersedia jadi istrimu yang menerima segala kekurangan dan kelebihanmu, menemanimu hingga masa tuamu, menjadi pendampingmu kala susah dan senang, akan sangat setia padamu, menghiasi rumah kita dengan cinta dan kasih sayang bersama, memberikanmu 3 orang keturunan yang tampan sepertimu dan cantik sepertiku, mendukungmu kala kau kesulitan, mengatasi pertengkaran kita dengan dewasa dan bercinta gila-gilaan sesudahnya, menjadi lawan seimbangmu di ranjang yang panas hingga aku tak bisa berjalan dan menerima sehidup semati denganmu" jawab Hermione.
Sekilas terdengar hadirin terkekeh dan tertawa geli mendengar jawaban Hermione.
"Dengan nama Merlin The Great Wizard dan Seluruh dunia sihir, aku resmikan Draco Abraxas Malfoy dan Hermione Jane Granger sah sebagai suami istri!" seru Dumbledore.
"Kau boleh mencium istrimu"
Tepuk tangan pun bergemuruh, kilatan blitz dan bunyi jepretan menghujani, kembang api dengan tulisan 'DM & HG' dalam bentuk cinta lalu berubah menjadi 'Draco & Hermione' kemudian beberapa tulisan ucapan selamat dipatri di langit di atas kebun manor yang luas, diakhiri dengan tulisan 'Welcome Malfoy heirs' lengkap dengan emblem klan Malfoy.
Kala bibir Draco mendarat di bibir Hermione, menciumnya penuh kebagiaan dan kelegaan. Kini Draco dan Hermione telah saling memiliki. Harapan masa depan yang dibayangkan Hermione dilunasi penuh oleh Draco.
Mereka larut dalam suasana pesta yang 'sederhana' ini. Narcissa teguh dengan pendiriannya bahwa ini adalah pesta 'sederhana' tapi mata hadirin memang tidak bisa berbohong pesta ini sungguhlah amat mewah dan meriah. Hermione belum pernah seumur hidupnya hadir dalam pesta yang sangat menakjubkan, membuai mata dan membuatnya terpesona berkali-kali—ini pestanya, pesta dia dengan Draco.
Hermione dan Draco sampai merasakan pegal di rahangnya karena senyum terus-terusan. Bibir mereka mulai membengkak karena berciuman terus menerus kala ada kesempatan. Terasa letih namun menyenangkan.
.
.
The Honey Moon...
Berikutnya Hermione dan Draco tak tahu bahwa semua media menayangkan mengenai berita pernikahan ini dalam seminggu penuh karena mereka mengasingkan diri untuk berbulan madu. Di kepulauan Karibia ini mereka menempati villa yang cukup mewah walaupun luas villanya kecil. Villa yang desain arsitekturnya khas karibia, didominasi kaca dan batang kayu sebagai pilarnya. Bila semua pintu dan jendela lebar yang terbuat dari kaca dibuka maka semuanya menghadap ke lautan lepas.
"Astaga...kita benar-benar berada di tengah lautan berdua saja, husband?"
"Kenapa? kau takut dimakan hiu?"
"Tidak. Aku lebih takut dimakan olehmu" gurau Hermione.
"Aku akan memakanmu, love dan hanya ada kita"
"Aku akan pasang ward"
"Untuk apa?"
"Kau mau di tengah aktifitas kita tenyata datang penyusup?"
"Dan apakah aktifitas yang akan kita lakukan, love?" Draco menyeringai mendekati istrinya.
"Uh...seperti...memancing ikan" Hermione mengikat rambutnya tinggi asal-asalan dengan gaya menggoda.
"Lalu..." Draco duduk santai di sofa menikmati Hermione yang berdiri di depannya.
"Menyelam di bawah laut..." Hermione melepaskan blouse outer tipis yang kebesaran hingga sebelah bahunya terbuka dan melemparkannya ke arah Draco.
"Lalu..."
"Mencari beberapa mutiara" Hermione meloloskan celana pendek putihnya dan melemparkannya ke arah Draco.
"Lalu..." Draco manahan nafasnya memperhatikan istrinya meloloskan satu persatu pakaiannya.
"Berenang dengan lumba-lumba" Hermione melepaskan branya dengan gaya seduktif dan melemparkannya ke arah Draco.
"...dan lalu..." Draco mulai tak bisa mengontrol dirinya karena miliknya mulai ber-ereksi melihat Hermione topless.
"Berjemur sampai gosong" Hermione meloloskan g-stringnya dan melemparkannya ke arah Draco.
Hermione completely naked.
Draco tak kuasa menahan matanya agar tak berkedip. Tubuh wanita itu sempurna, tanpa sehelai benangpun menempel di badannya—Draco menunggu pertunjukkan apa lagi yang akan dipertontonkan.
Alih-alih mendekati Draco—seperti yang Draco harapkan. Hermione berbalik memperlihatkan bokongnya yang indah lalu melangkah ke balkon villa dan segera lompat ke dalam air laut yang berwarna biru kehijauan jernih.
Draco merasa tertipu
"Love! Heii—you're fool me. Damn it!" serunya segera menyusul Hermione.
Hermione tertawa tawa. "Aku akan mencari lumba-lumba" serunya sambil berenang menjauhi villa.
"Shit! This woman completely insane..." umpat Draco. Hermione selalu melakukan hal yang tak disangkanya.
Draco segera melepaskan semua pakaiannya hanya menyisakan boxer hijau botolnya lalu melompat ke laut menyusul Hermione.
"Hello dolphin" sapa Hermione menyeringai kala Draco mendekat ke arahnya.
"Kau harus membayar perbuatanmu, love"
"Perbuatan apa?" tanya Hermione sok polos.
Draco berdecak , Hermione mencibir.
"Ayo berlomba" ajak Hermione.
"Apa taruhannya?"
"Kalau aku menang maka biarkan aku menikmati relaksasi tanpa gangguan di jacuzzi"
"Kalau kau kalah?"
"Aku mengijinkan kau bergabung denganku di jacuzzi tapi tanpa megangguku"
"Hei, taruhan macam apa itu?"
"Kau tak mau berlomba? Jika kau menolak maka no sex tonight"
"Oh..come on! It's not fair. Aku sudah puasa sex sebulan dan kau makin menambah penderitaanku?"
"Take it or leave it" tantang Hermione.
"Kalau aku menang maka aku akan mengarapmu habis-habisan tanpa ampun"
"Ooww...so cruel Mr. Malfoy" Hermione mengigit bibirnya mengoda. "Kalau kau kalah?"
"Aku tak akan kalah. Kau payah dalam olah raga—kau tahu"
"Heiiii..." protes Hermione.
Draco tertawa mengejek.
Kemudian mereka mengambil garis start dan mulai berlomba. Hermione tahu Draco akan menang. Dia berencana tidak serius dalam taruhan—hanya ingin menggoda suaminya saja.
Setelah Draco mencapai garis finish dengan senyum kemenangan, Hermione membelokkan arah renangnya kembali menuju villa dan menaiki tangga lalu menyeringai mengejek.
Draco tertipu untuk yang kedua kali.
"Fuck this woman...why I should love her?" umpatnya kala melihat Hermione tertawa-tawa masuk ke dalam villa.
Draco menyusul Hermione berenang menuju villa dan menyusul Hermione.
Hermione tengah membasuh air laut di tubuhnya dengan shower kala Draco memeluknya erat dari belakang. Draco segera menyerang Hermione dengan menciumi kasar leher Hermione dan menghisap kulitnya sejauh yang bisa dijangkau mulut Draco, sementara tangannya meremas payudara Hermione gemas dari belakang.
"Kau mempermainkan aku, Mrs. Malfoy. Naughty lady" bisik Draco dan mengigit kecil telinga Hermione.
"Punish me then" kata Hermione ditengah erangannya kala Draco mencubit keras putingnya.
"I will" geram Draco.
Draco mematikan shower lalu membalikkan badan Hermione menghadapnya. Menatap tajam mata Hermione sok sadis. Lalu menekan pundak Hermione agar berlutut—wajah Hermione menghadap kejantanannya.
"Give pleasure to your victim, dear" perintah Draco.
Hermione segera memegang batang milik suaminya dan memasukkan ke mulutnya—dikulum, dihisap kuat, dijilat liar.
"Yess...shit it's good" Draco menunduk ke bawah memperhatikan Hermione memanjakan miliknya.
"Like it?" goda Hermione menatap mata Draco sambil sengaja memamerkan lidahnya mempermainkan kepala kejantanan Draco.
"gsshh...so sexy, wife" Draco meremas rambut Hermione dan menjambaknya lembut.
Milik Draco sudah sepenuhnya tegang tegak mengacung tapi Hermione belum puas, ia mengesek gesek batang keras ke pipinya kemudian memutar-mutarkannya di nipple Hermione.
"Hard and good" desis Hermione kembali mulut Hermione melumat ganas kejantanannya sedalam rongga mulutnya, tangan Hermione menggelitik buah zakar Draco. Draco makin menikmati sensasi nikmat.
Hermione's blow job so fucking good.
Draco tak tahan lagi dipermainkan seperti itu beberapa lama akan membuat pertahanannya jebol, Draco mencoba mengangkat Hermione naik tapi Hermione keras kepala, ia belum puas dengan milik suaminya. Ia ingin cairan Draco lumer di mulutnya.
"Love, ...I fucking need you now..." Draco frustasi.
"Come to my mouth" Hermione sengaja meniupkan nafasnya membuat urat milik Draco semakin terukir jelas disana. Hermione mengurut dan mengocok cepat, kepala milik Draco masih dikulum mulut istrinya. Tubuh Draco akhirnya bergetar hebat, ia tak kuat lagi. Tangan Hermione makin mengurut cepat...
"Ahhhh...shit...Ican't—hold it anymore...eerghhh" Draco meracau. Tangan Draco mencengkram pundak Hermione erat, jejak telapak tangan Draco memerah di kulit pundak Hermione.
Seiring dengan kedutan di setiap garis uratnya akhirnya Draco memuntahkan cairan putih kental miliknya, menyembur banyak di mulut Hermione. Hermione membantu Draco dengan mengurut pangkal miliknya dan menghisapnya kuat.
Hermione menelan semua sperma Draco rakus—tanpa sisa. 'This woman completely outrageous' pikir Draco. Ia menengadahkan kepalanya mencari oksigen yang dapat mengisi paru-parunya yang seakan hilang karena orgasme di mulut Hermione.
Hermione berdiri lalu mencium bibir Draco ganas sama rakusnya dengan kesenangannya tadi, bau khas cairan Draco bercampur disana. Draco yang masih belum mampu mengumpulkan energinya kembali, membalas ciuman Hermione lemah.
"It's that you, love?" tanya Draco menatap Hermione tak percaya, tapi ia merasa puas.
Hermione menyeringai "Of course it's me, silly. I give you pay back twenty nine times more, since you've got nothing in one month"
"Are you sure?" kekeh Draco.
"Don't ask me! Lihat dirimu sendiri nampaknya kau yang butuh istirahat...hmm"
"Give me just a minute"
"Take your time and I'll waiting. I want my relaxing moment on jacuzzi. And don't disturb me"
Hermione meninggalkan Draco di shower dan menuju jacuzzi yang menghadap ke laut lepas, mengisi airnya dan menuangkan foam wangi vanilla dan cherry blossom lalu menikmati acaranya sendiri.
Draco menggelengkan kepala melihat ulah Hermione. Stateginya berhasil, ia terpaksa membiarkan Hermione sendiri untuk mengembalikan energinya. 'this woman is more Slytherin than I am' batin Draco.
.
.
Hermione menyelesaikan acara jacuzzinya dengan damai, ia membebat tubuhnya dengan handuk. Lalu melangkah ke kamar yang berjarak hanya 6 langkah. Villa bulan madu mereka yang berukuran kecil, hanya 1 ruangan terbuka tanpa sekat permanen, penghalang setiap ruangan hanyalah untaian kelambu tipis.
Hermione melihat Draco sedang bersandar di kepala ranjang sambil menyesap Fire Whisky, hanya selimut putih yang menutupi bagian perut bawahnya, sementara anggota tubuhnya yang lain terbuka polos. Draco tersenyum melihat Hermione muncul.
"Lama menunggu?" tanya Hermione sambil membuka lemari mungil mencari lingerie yang akan dipakainya.
"Don't" cegah Draco kala Hermione mengambil sebuah lingerie satin putih.
"What?"
"Don't wear anything—no clothes, love" pinta Draco menyimpan Fire Whiskynya di nakas "Come here. I want my twenty eight now"
Hermione tersenyum dan membuka balutan handuknya dan naik ke ranjang. Dan Draco segera memerangkap tubuh Hermione.
Draco benar-benar membuat Hermione lemas.
twenty seven
twenty six
twenty five
twenty four
twenty three
Kali ini Draco pun menyerah.
Ok. Saatnya tidur dengan keadaan yang porak poranda di ranjang mereka yang sudah tak beraturan. Posisi merekapun tidak tertib—tidur malang melintang seenaknya, dengan kaki saling tumpang tindih.
.
.
Mereka bangun saat matahari benar-benar terang.
"Hei.. morning, wife" sapa Draco dengan suara parau.
"Hei...afternoon, husband" balas Hermione dengan suara serak.
"I love you" Draco mengecup kening istrinya.
"I love you more" Hermione mengecup dagu suaminya.
"Aku lapar"
"Kau lapar? We have to get brunch"
"Ok. We'll find something to eat"
"I'll make a sandwich then" Hermione bangkit dari ranjang.
"Not yet, wife" cegah Draco menahan pinggang Hermione.
"Why?"
"Enjoy my morning glory" Draco membuka selimut yang menutup area kejantanannya, dengan senyum mesum "I want my twenty two"
"Only twenty two. ok. I'm so hungry"
"I'm hungry too, so make it quick"
"Right then" Hermione segera naik menduduki milik Draco yang tegak menjulang.
"Aaahhh...very nice...move now, love" mata Draco terpejam menikmati.
.
.
"Bagaimana kalau hari ini kita memancing. Fish for dinner?" saran Draco menyudahi 4 potong sandwichnya. Nafsu makan Draco sangat besar pagi ini sebesar nafsu sexnya.
"Good idea" angguk Hermione sambil meminum susu coklatnya.
"Aku akan mentransfigurasi rakit dan kita akan memancing di tengah laut"
"Rakit berikut kanopinya, aku tak mau kulit kita terbakar matahari"
"Your wish is my command, wife"
"Aku akan menyiapkan bekal makanan ringan kalau begitu"
Draco mengangguk. "Kau sudah menyelesaikan makanmu?"
Hermione mengangguk.
"Good" Draco merangkul Hermione dan mencium bibirnya, menempatkan Hermione di atas meja pantry dapur.
"I guess you want your twenty one?" tebak Hermione sambil menekuk lututnya dan mengangkang lebar di atas meja.
"Ahh...you know me very well" Draco mengusap kewanitaan Hermione yang tak tertutup cd dan memasukkan jari tengahnya ke lubang milik istrinya dan mengaduknya disana.
"..ohh...Draco..." Hermione memberi Draco ciuman panas.
.
.
Seminggu berlalu dan mereka telah menyelesaikan bulan madu berikut janji Hermione memberikan Draco 30 kali orgasme. Berbagai kegiatan mereka lakukan disana. Mereka menyewa yatch menghabiskan 2 hari penuh di dalam yatch, menyelam, mencari mutiara, berenang bersama ikan-ikan di dalam laut, berjemur di atas yatch, jalan-jalan di kota kecil terdekat dengan lokasi bulan madu mereka dan menikmati suasana disana. Refreshing dan tibalah saat mereka pulang ke Manor.
.
xxxxxxxx
