Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!
Dan maaf bagi yang ingin membashing harap membashing secara gentle dengan menggunakan akun resmi, jika hanya dalam bentuk nama tak resmi atau guest, anda hanya akan saya anggap sebagai pemuja rahasia saya, saya sudah kebal dengan berbagai macam hinaan, titik.
.
.
.
.
SUMMARY
Kim Jaejoong namja cantik yang berstatus sebagai janda dengan 3 anak, terdampar dikota kejam Jakarta harus berusaha sekuat tenaganya, berjuang mati-matian untuk bertahan hidup setelah sang suami meninggal dunia. Dapatkah ia bertahan?
.
.
Chap sebelumnya
Kebahagian Yunho, Jaejoong, Yoochun, Junsu dan Changmin saat itu sama sekali tak dirasakan sesosok makhluk yang sedari tadi telah memperhatikan gerak-gerik keluarga Jaejoong, Janda incarannya semenjak ditinggal mati suaminya.
Yah, tak jauh disana sosok mistis penuh misteri Syafei berdiri seakan diselubungi awan hitam melihat dengan mata kepalanya sendiri keakraban sibohay montok dengan seorang tampan dan kaya saingannya, Jung Yunho.
Dengan wajah sendu Syafei menghempas bungkusan nasi dan rendang jengkol yang sengaja dibawanya dari rumah, meminta sang Emak memasaknya spesial buat Mak Jujung pujaan hati.
Nasi dan Jengkol yang berhamburan seakan menggambarkan keadaan hati seorang Syafei saat itu, berantakan, hancur berserakan.
Syafei meremas kuat dada kirinya.
'Mak Jujung, sakitnya tuh disini…hiks.'
.
.
.
.
.
Jung Yunho tak dapat menahan senyum bahagianya saat melihat tawa canda Jaejoong dan anak-anaknya. Saat ini pemuda tampan dan kaya raya itu tengah bersantap siang bersama sang janda dan tiga anaknya disebuah restoran mewah kawasan Menteng.
Jung Yunho sengaja menyewa ruang khusus agar privasi-nya tidak terusik oleh umum, bisa saja ada rekan bisnis yang mengenalinya, apa yang akan dikatakan orang-orang jika melihat seorang Jung Yunho, pemilik perusahaan Korea berjalan dengan keluarga miskin yang entah apa hubungan mereka dengan dirinya.
Yunho menggeleng keras, mencoba mengusik pikiran nista yang sempat memenuhi otaknya, tak sadar jika tingkah lakunya barusan telah menjadi bahan perhatian sepasang mata bulat Jaejoong.
"Tuan…Tuan?"
"Y-Ye Jae?" Yunho sedikit tergagap menyadari suara halus Jaejoong yang memanggil-manggil dirinya.
"Tuan kagak makan? Aye perhatiin dari tadi Tuan melamun aje kayaknye, maapin kite ye, mungkin Tuan banyak kerjaannye ga…"
"Aniya Jae, aku memang sudah meluangkan waktu khusus hari ini untuk menemani kalian, lagian aku sudah lama tidak bertemu dengan anak-anakmu, jangan pernah berpikiran seperti itu."
"H-Habisnye, Tuan kayak bengong aje."
"Aniya, teruskanlah makan kalian…"
"N-Ne Tuan."
Kali ini gantian Jaejoong yang tergagap menyadari kedua musang namja tampan yang duduk persis disebelahnya tengah menatapnya dalam, penuh arti…hanya saja Jaejoong tak pernah bisa mengartikan tatapan tersebut, sedikit merasa jika didalam tatapan itu ada rasa ingin memiliki yang kerap ditunjukkan oleh pemuda-pemuda kampung terhadapnya.
Jaejoong meneruskan kegiatannya menyantap makanan dan menyuapi Changmin yang makan dengan lahap sekali, Jaejoong sampai kewalahan menyuapinya sampai-sampai tangan mungil Changmin mengambil sendiri makanan dari piring Umma-nya karena tak sabaran.
"Woaaa, perut aye kayak mau meledak, kenyang banget."
"Awas lu Cu, bise-bise lu melayang kayak balon gas, liat perut lu sampe bulet gitu."
Hahahaha
Junsu cemberut manyun lantaran dirinya jadi bahan ejekan Yoochun melihat perut gembulnya yang bertambah bulat karena kekenyangan sehabis makan di Restoran tadi. Saat ini keluarga Jaejoong sudah kembali berada didalam mobil mewah Yunho, hari sudah beranjak sore.
Changmin tampak sudah terlelap dipelukan Jaejoong, balita itu mengantuk karena kekenyangan, saat baru memasuki mobil ia langsung menagih jatah susunya kepada sang Umma yang dengan malu-malu menuruti keinginannya. Untung Jaejoong memakai kemeja yang memungkinkannya menyusui Changmin tanpa terlalu banyak mengumbar dadanya, meski masih terlihat juga.
Jangan lupakan sepasang mata musang yang selalu mencoba mengambil kesempatan untuk menikmati keindahan pemandangan dada mulus disebelahnya meski tak terlalu banyak terekspos.
Yunho merasa sangat beruntung hari ini.
"Tuan Prisdir, ape kite kudu pulang sekarang ye?" suara polos milik Junsu memecah suasana hening didalam mobil mewah yang mereka tumpangi, sekaligus mengacaukan pikiran mesum sang pengemudi akibat terlalu menikmati pemandangan indah disebelahnya.
"Kite kudu pulang Cu, Tuan Presdir pasti banyak kerjaan." Jaejoong langsung menimpali perkataan polos Junsu dan sempat memelototi anak keduanya itu yang langsung menunduk melihat mata besar emaknya yang seakan mau keluar dari sarangnya.
Jaejoong merasa tidak enak karena kepolosan sang anak. Terlihat dari gelagatnya Junsu belum ingin pulang, ia masih ingin bersenang-senang dulu, maklum Jaejoong sudah tak pernah lagi mengajak anak-anaknya bersenang-senang semenjak Ayah mereka meninggal.
"Apa kalian masih ingin berjalan-jalan lagi? kebetulan hari ini jadwal saya kosong."
Melihat sirat kekecewaan dari wajah Junsu yang tengah menunduk ketakutan akan pelototan mata Emaknya membuat Yunho tak sampai hati, ia berkata dengan santai, seolah memang sedang tak sibuk, siapa bilang, sampai saat ini saja ia harus membatalkan beberapa pertemuannya dengan partner kerja dari luar daerah, belum lagi arsip-arsip penting yang harus ditanda tanganinya, sepertinya ia mesti lembur hingga bermalam dikantor nanti.
"Aniya Yun, jangan sampai kami merepotkanmu, ini saja kami sudah sangat berterimakasih, kajja kita pulang saja." Suara halus Jaejoong berbahasa korea memohon agar Yunho mengindahkan keinginan anaknya, ia merasa sangat tidak enak kepada pimpinan perusahan besar tersebut.
"Gwaenchana Jaejoong ah, satu atau dua jam lagi tidak masalah." Yunho-pun segera mengarahkan laju mobilnya kesuatu tempat, kearah kawasan Kuningan tepatnya.
.
.
.
Jaejoong duduk disalah satu sudut game center sambil sesekali melihat keakraban ketiga putranya dengan pria yang tengah mecoba mengobati kegundahan hatinya, terselip rasa tidak enak karena sudah merepotkan pria tampan itu karena sudah mengorbankan waktunya.
Bibir merah merekah itu tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata ketiga anaknya, bahkan Changmin-pun terlihat sangat menikmati malam ini. Yunho menjaga Changmin yang tertawa keras saat pria tersebut mengajaknya bersama-sama menaiki permainan kuda pacu dengan mendudukkan Changmin didepannya, sebelah tangan Yunho terus memegang tubuh balita tersebut agar tidak terjatuh.
Sementara kedua bersaudara Yoochun dan Junsu sudah berlarian entah kemana, mereka terlihat sangat bersemangat karena Yunho telah membelikan mereka masing-masing kartu bebas bermain apa saja yang berlaku hanya untuk hari itu saja.
Jaejoong sangat terharu melihat wajah bahagia ketiga jagoannya, teringat masa dulu sewaktu Siwon masih berada ditengah-tengah mereka, Siwon kerap kali mengajak Yoochun dan Junsu bermain di game center dari mall ke mall, meski kehidupan mereka sangat sederhana, namun Siwon tetap mampu membelikan mereka barang-barang mahal, ahh…mengingat itu pikiran Jaejoong kembali pada pengkhianatan sang mendiang suami yang telah membohonginya sekian lama, tentu saja Siwon sanggup membelikan barang-barang mewah karena secara diam-diam pria tampan tersebut masih mengelola bisnis keluarganya.
Namun sekarang semua barang-barang mewah pemberian Siwon tak ada satupun yang tersisa, keperluan ekonomi keluarga yang mendesak membuat Jaejoong terpaksa menjual semua barang yang tersisa karena waktu itu Jaejoong belum dapat bekerja keras lantaran Changmin yang masih bayi berumur tiga bulan, masih sangat rentan. Jadi selama beberapa bulan Jaejoong menghidupi keluarganya dengan menjual barang-barang peninggalan Siwon hingga habis tak bersisa.
Hhhhh…
Jaejoong menarik nafas dalam-dalam tanpa menyadari seorang tampan telah mengamatinya sedari tadi.
"Ummaaa."
"Ahh, Changmin baby…umm, sejak kapan kalian sudah berada disini, mianhe aku melamun."
Jaejoong tergagap, cepat-cepat memperbaiki posisi duduknya, bergeser sedikit agar Yunho yang sedang menggendong Changmin dapat duduk disebelahnya, sementara Yoochun dan junsu masih asyik bermain.
"Sepertinya Changmin sudah capek, atau mungkin kehausan, ia mencarimu tadi." Jawab bibir hati seraya memindahkan Changmin kepangkuan Jaejoong yang tersenyum menanggapinya.
"Changmin emang gitu tuan, itu aje udah untung tadi mau dibawa main sama tuan, biasenye digendong orang lain aje kaga mau die, die udeh kebiasaan sama aye terus sih, die kan kaga punye bapak, jadi mungkin takut kalo aye juge ilang."
Bibir hati itu tersenyum mendengar ocehan Jaejoong, bibir merah Jaejoong terlihat begitu manyun menggoda dari samping, membuat jakunnya turun naik kepingin mengemut benda incarannya tersebut.
"Jaejoong ah."
"Ye t-tuan."
"Bisa tidak jika memanggilku tanpa sebutan 'tuan'? aku benar-benar tidak suka mendengarnya." Suara bass itu terdengar datar terkesan memerintah, membuat sipendengar tertunduk tergagap.
"Umm, ehh, i-iye t-tu…"
"Tuh kan mulai lagi." kali ini gantian bibir hati itu yang mengerucut (tidak) imut, mendengar Jaejoong tergagap dan hampir kembali memanggilnya dengan sebutan yang dirasakannya menciptakan jarak antara mereka, Yunho sangat ingin menghapus jarak tersebut.
"Mi-mian…" Jaejoong tertunduk malu.
"Gwaenchana." Yunho berkata sambil tangannya mengambil kesempatan untuk menggenggam jari jemari halus Jaejoong yang tengah memeluk Changmin.
Menyadari sebelah tangannya tengah digenggam sang direktur membuat Jaejoong kembali tertunduk malu dan perlahan-lahan mencoba melepaskan tautan tangan mereka.
Melihat sang target yang sedikit lagi hampir klepek-klepek membuat Jung Yunho memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih ekstrim lagi. Tanpa malu-malu Yunho meraih dagu Jaejoong, mengarahkan kehadapannya, sepertinya ia tidak bisa menahan hasrat ingin mencicipi benda merah yang sudah menjadi incarannya sejak awal.
Tapi sepertinya lagi-lagi itu hanya khayalan Yunho semata, belum sempat ia mendekatkan wajahnya kewajah cantik memukau mak Jujung suara ribut Yoochun dan Junsu mendadak membuyarkan rencana mesumnya itu, dan Jaejoong buru-buru melengoskan mukanya membuat jarak antara mereka.
"Mak kite capek nih, pulang nyok…" Yoochun menghempas tubuh kecilnya disisi berlawanan dengan Yunho, disusul Junsu yang mengikutinya dari belakang.
"Apa kalian sudah puas bermain?" tanya Yunho kepada dua beradik tersebut.
"Ye Tuan, udeh puas banget malah, semue udeh kite cobain, cape nih…" Junsu menjawab cepat.
"Kalo udahan mainnye kite pulang aje, nih ari udeh beranjak malem ntar Tu-eh Yunho ahjussi masih banyak kerjaannye." Jaejoong duluan beranjak dari duduknya sambil menggendong Changmin yang mulai kembali akan tertidur, untung Changmin lupa jika tadi menagih minta diberi asi hingga Jaejoong tidak terlalu kerepotan membawanya.
"Baiklah kita pulang sekarang." Yunho-pun mulai beranjak dari duduknya diikuti Yoochun dan Junsu, mereka berjalan beriringan keluar dari Mall megah itu.
Tak lupa Yunho membelikan Yoochun dan Junsu air minum sebelum mereka benar-benar keluar dari Mall tersebut karena kedua bocah itu tampak sangat kehausan setelah puas bermain di game center tadi.
Baru saja akan melewati pintu gerbang Mall yang terletak di jantung kota Jakarta tersebut mendadak Yunho terkejut karena tiba-tiba sepasang tangan telah melingkar dilehernya membawanya ketepian sehingga dia menjadi kelabakan, takut jika terpisah dengan Jaejoong dan anak-anaknya, untung saja mereka dengan setia mengikuti kemana yunho 'terseret' meski dengan wajah heran mereka, terutama Jaejoong.
"Ihhh hanibanimyhubbyganteng, ga nyangka ketemu disindang, eh jali-jali kok ga ngajak-ngajak eke sihhhh, napaa? Takut ketawan tunangan rempong yey yeh? Ihh dasar tuh pere rempong, dari pagi tadi udah gasruk-gasrukin salon eke nyariin bebi aja, kata tuh nenek sihir bebi dari pagi udah ngilang aja dari kantor, emang bebi ga krejong?"
"A-anu Hyoje~ah." Yunho tergagap, dirinya terlalu kaget tak menyangka bakal bertemu dengan pemilik salon langganannya yang juga merangkap teman HTS nya. HTS (Hubungan Tanpa Status)
Lupakan keluarga mak Jujung yang tengah menganga-kan mulut mereka masing-masing secara bersamaan, demi melihat adegan yang bisa bikin mereka ga nafsu makan seminggu kedepan.
Hyoje yang tubuhnya tidak lebih tinggi dari Jaejoong terus bergelayutan pada tubuh tegap Yunho persis monyet-nya sibuta dari gua hantu.
Bola mata besar Jaejoong mengerjap-ngerjap berkali-kali melihat adegan Tuan Presdir dan Hairstylist-nya itu.
"Ihh eke bener-bener ga nyangka nemuin bebibalabala disindang, emang kata nenek eke kalo jodoh ga kemana, tubuh kita sudah seperti magnet yang akan selalu berkejar-kejaran dan akhirnya bersatu seperti ini." Hyoje terus nyerocos tanpa henti, mengacuhkan wajah tampan yunho yang memias pucat karena sangat malu dihadapan Jaejoong yang terus menatap mereka, bengong.
"Hyoje~ah, bu-bukan begitu."
"Aihhh, kenapa juga bebi ga ngajak eke kalo mo jali-jali? Biasa juga kalo bebi sutris eke dikurung disalon seharian, hihihihi." Hyoje tertawa nista tanpa melihat wajah Yunho yang merah padam menahan malu, apalagi melihat Jaejoong yang tampak tertunduk tanpa terlihat ekspresinya setelah mendengar ucapan Hyoje barusan.
Sedangkan Yoochun dan Junsu makin terbengong-bengong.
"Uchun hyung, ntu lebih parah nih dari mak kite…" Junsu berbisik kepada Hyung-nya.
"Huss, mak kite ga kayak dakocan gitu." Balas Yoochun ditelinga adiknya.
Terang saja persepsi kedua beradik tersebut sangat sadis terhadap Choi Hyoje, lihat saja penampilan pemilik salon laris yang tak jauh dari Mall tersebut berada, rambut merah menyala, kemeja pink terang, celana pendek putih serta sendal jepit yang terlihat harganya tidaklah murah, namun tetap menjadikan penampilannya sangat mencolok seperti rainbow cake kesukaan Changmin.
"Hyoje~ah, mianhe..aku kesini tidak sendiri." Barulah Yunho sempat mengeluarkan kalimat pertamanya setelah sabar mendengar cerocosan Hyoje.
Secepat kilat Hyoje melepaskan gelayutannya ditubuh Yunho dan mengedarkan pandangannya, sejenak kedua bola matanya menyipit ketika mendapati sosok Jaejoong beserta ketiga anaknya. Jaejoong hanya dapat tersenyum kaku mendapati tatapan mengintimidasi dari Hyoje yang menelusurinya dari ubun-ubun hingga jempol kaki.
"Diana sapose?" tanya Hyoje melirik tak suka kepada Jaejoong.
"Dia Kim Jaejoong." Jawab yunho menyebutkan nama lengkap Jaejoong.
"Korea? Namja ya?" Hyoje tambah mendelikkan matanya semakin mengamati Jaejoong yang sudah menundukkan wajahnya.
"N-Nde." Jawab Jaejoong pelan.
"OMIGOT!"
Hyoje terlihat meneguk ludahnya setelah terlonjak kaget mendapati kenyataan jika makhluk yang diakuinya melebihi kecantikan(?) dirinya sendiri itu adalah seorang namja, sejenis dengan dirinya. Namun melihat anak-anak yang berada didekat Jaejoong membuatnya kembali berpikiran positif. Tak mungkin Yunho berhubungan dengan orang yang sudah berkeluarga.
"Jaejoong seorang janda, suaminya meninggal belum genap setahun yang lalu."
Dan kini Hyoje sempoyongan, ucapan Yunho barusan yang memberitahu jika Jaejoong seorang janda membuatnya semakin cemburu buta kepada sicantik yang baru dikenalnya itu.
Hyoje tidak terlalu aneh dengan kenyataan jika laki-laki bisa melahirkan dari rahimnya sendiri, pasalnya di negara asalnya hal tersebut sudah banyak ditemukan, hanya saja kenyataan jika Jaejoong seorang janda-lah yang mengusik sanubarinya, jelas posisinya sebagai 'teman' dekat Jung Yunho bakal terancam, karena janda satu ini kecantikannya begitu memukau meski dia orang miskin sekalipun.
Perlahan Hyoje mendekati Jaejoong dengan penuh percaya diri hingga berada tepat dihadapannya sekarang. Mata sipit Hyoje menatap Jaejoong nyalang, seolah-olah hendak menerkam janda bohay tersebut saat itu juga.
"Hei jendes…lu tau eke sepong huh?" Hyoje berucap pedas sembari telunjuk buntetnya menoyor-noyor dada putih Jaejoong, mata sipitnya bertambah nyalang saat mendapati dua kancig kemeja bagian atas makhluk cantik dihadapannya terbuka, salahkan Jaejoong yang lupa menutup kemejanya saat tidak jadi menyusui Changmin tadi. Hyoje pasti berpikir Jaejoong memang sengaja untuk merayu Yunho.
Jaejoong menggeleng takut-takut. Meski ia tidak mengenal makhluk seperti gantungan kunci itu, namun tatapan Hyoje dirasa semakin menyudutkannya.
"Mollaseyo." Jawab Jaejoong pelan, sekilas diliriknya Yunho yang menatap iba kepadanya, tetapi lelaki tampan itu seolah kehilangan kewibawaannya dihadapan Hyoje. Jaejoong tidak mengerti.
"Disini ga usah sok pake-pake bahasa negara situ, gue dari lahir udah disini, ga ngerti tau!" Jaejoong terkaget mendengar suara Hyoje yang meninggi. Tentu saja Hyoje berbohong, ia masih ingat seratus persen bahasa negeri nenek moyangnya.
"I-Iye, ng-ngerti." Jaejoong hanya dapat tertunduk."
"Lu sapanya Jung?" tanpa tedeng aling-aling Hyoje langsung ke inti permasalahannya.
Jaejoong semakin tertunduk, entah ia tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan mengintimidasi dari pria jadi-jadian yang berada dihadapannya, kedua tangannya bertambah erat memeluk Changmin digendongannya.
Pandangan Hyoje yang terlihat begitu meremehkan disadari oleh kedua saudara Yoochun dan Junsu, mereka sudah cukup mengerti jika makhluk yang lebih cocok disebut orang-orangan sawah tapi elegan(?) itu sedang memandang emak mereka dengan sebelah mata, alias merendahkan.
Melihat Jaejoong tersudut, perlahan Yunho melangkah mendekati, dipegangnya bahu Hyoje dengan lembut. Yunho hanya ingin menenangkan teman tapi mesranya(?) itu. Sedang Jaejoong masih betah tertunduk.
"Hyoje~ah, aku bisa menjelaskannya nanti, sekarang lebih baik kau kembali kesalon, kami harus pulang, hari sudah semakin malam, kasihan anak-anak ini, mereka sudah mengantuk." Yunho berkata sangat lembut, mata besar Jaejoong mengerjap-ngerjap mendengar ucapan membujuk Yunho kepada Hyoje yang sedang mengerucutkan bibirnya, mengerikan.
"Nononoooo…ayangbebi jadi sedari tadi jali-jali sama nih jendes? Oh no! dan ini malem-malem mau nganterin pulang lagi? no no no! BIG NO! suruh mereka naik taksi aja sono, ayang bebi pulang bareng eke! Titit, eh titik!" Hyoje mencak-mencak sambil menghentak-hentakkan kakinya, membuat Yoochun dan junsu berpelukan saking takutnya jika si dakocan ngamuk.
Melihat Hyoje sudah mulai mengamuk, tentu saja Yunho kelabakan, ia sangat takut jika hubungannya dengan pemilik salon centil itu tercium Jaejoong.
"A-Ah Hyoje~ah, tenanglah, oke aku akan kesalon, tapi setelah mengantar Jaejoong dan anak-anaknya." Yunho mencoba membujuk.
"NO! YEY GA KEMANA-MANA!" Hyoje mulai meradang, menunjukkan wajah yang semakin mengintimidasi. Jaejoong segera memutuskan sesuatu.
"Ma-maaf Tuan, biar kite balik naik busway aje, diajak makan ame maen aje kite udeh makasih banget, kajja Uchun, Uncu kite pulang ye nak." Jaejoong langsung bergegas pamit, ia melewati Yunho dan Hyoje begitu saja sambil menarik pergelangan tangan Yoochun yang langsung menarik pergelangan adiknya, Junsu.
Melihat Jaejoong akan segera meninggalkan tempat itu membuat Yunho semakin panik, tanpa menghiraukan Hyoje yang ada dihadapannya ia mengejar Jaejoong yang untungnya baru beberapa langkah saja menjauh.
"Jaejoong~ah, chakkaman!" Langkah Jaejoong terhenti. Yunho telah berada tepat disebelahnya.
Jaejoong tersenyum tulus, menatap kedua mata musang milik Pria yang pernah memakai jasanya sebagai Joki three in one itu dengan polos.
"Tuan kaga perlu khawatir, kite udeh biase kok naik kendaraan umum, pasti nyampe dirumeh, tenang aje." Suara lembut Jaejoong berusaha meyakinkan, kemudian mulai melanjutkan langkahnya lagi.
"Tapi Jaejoong~ah, akan semakin malam tiba dikampung kalian." Yunho belum berhenti mengikuti Jaejoong, diikuti juga oleh Hyoje yang melipat kedua tangannya didada melihat adegan kejar-kejaran YunJae.
"Kalo udeh nyampe kampung mah aman Tuan, kan Bang Fei ame temen-temennya tugas siskamling, kite pasti dianterin sampe kerumeh."
"ANDWAE!" Sontak Yunho memekik histeris disertai tatapan tajam musang khas diktatornya, membuat keluarga mak Jujung beserta Hyoje kaget bukan kepalang.
Hyoje sangatlah heran, seumur-umur perkenalannya dengan Presiden direktur itu tak pernah melihat sekalipun Yunho membentak dengan penuh emosi seperti ini , meski pria tersebut memang terkenal bersifat dingin dan kaku.
Mendengar Jaejoong menyebutkan nama ketua karang taruna kampung itu entah mengapa membuat tiba-tiba darah Yunho mendidih sampai keubun-ubun, bayangan akan Jaejoong yang diantar pulang kerumah oleh Syafei, belum lagi keadaan kemeja Jaejoong yang terbuka tanpa sadar, ahhh Yunho menjadi semakin tidak rela.
"Kajja aku akan mengantarkanmu sekarang juga."
Yunho mencekal pergelangan tangan Jaejoong dengan sedikit menyeretnya menuju tempat parkiran mobil, tak memedulikan keadaan Jaejoong yang kesusahan karena menggendong Changmin dengan sebelah tangannya saja, masalah Hyoje, Yunho seolah menulikan telinganya akan jeritan histeris Hyoje yang ditinggal begitu saja olehnya.
"HEYYYY…Ayang Yunoh, kok jadi eke yang ditinggalin? EH JENDES JADI-JADIAN, awas lu yeh, mentang-mentang miskin lu pinter banget akting minta kasihani, Eh Jung, stoppppp, eke bilang berentiiiii!"
Yunho lebih tidak rela untuk menyerahkan begitu saja janda incarannya ini kepada saingannya, Syafei. Dibiarkannya saja Hyoje meraung-raung liar memanggil-manggil namanya dipelataran Mall, toh pengunjung Mall tersebut sudah mulai sepi juga, paling-paling Hyoje dianggap orang tidak waras.
Yoochun dan Junsu merinding ngeri melihat kelakuan Hyoje yang sangat brutal saat mengamuk, menyeruduk siapa saja yang lewat, benar-benar berbahaya dan mengancam nyawa siapa saja yang melewatinya.
Mobil mewah Yunho perlahan menjauh menerobos keramaian kota Jakarta meski hari sudah beranjak semakin malam.
Hyoje menatap nyalang mobil pria yang sering menumpahkan curhat kepadanya itu. Hatinya sakit melihat tatapan Yunho yang begitu sangat berbeda saat menatap pria cantik bernama Jaejoong tersebut. Hyoje tak pernah mendapati mata musang yang begitu teduh dan penuh rasa ingin memilikii saat menatap dirinya bahkan terhadap tunangan dan 'mainan-mainannya' yang lain.
Sebut saja Yunho player disini, tapi pesona marga Jung itu begitu memukau sehingga tanpa ia minta-pun siapa saja akan rela menyerahkan dirinya tanpa diminta sekali-pun.
'Dasar janda kampungan, kau pasti akan dicampakkannya setelah dia berhasil mendapatkanmu.' Batin Hyoje gusar. Namun seraut kegusaran tercetak diwajah absurbnya. Hyoje juga berjanji dalam hati akan menyelidiki dan mencari tahu siapa Kim Jaejoong yang mampu membuat Jung yunho berpaling darinya.
Kim Jaejoong berbeda. Sorot matanya kosong, tidak terlihat sedikitpun ambisi untuk mendapatkan seorang jung Yunho disana. Tentu saja, Hyoje tidaklah tahu jika Jaejoong tengah berduka dan sakit hati lantaran baru mendapat pengkhianatan dari mendiang suaminya, tentu saja hati dan pikiran Jaejoong masih kosong belum memikirkan mencari pengganti suaminya apalagi berniat menggoda Yunho agar jadi miliknya.
Hyoje benar-benar tidak tahu.
.
.
.
Sementara itu dikediaman Heechul…
Wajah cantik bermata overdosis itu terus melotot, memandang penuh amarah sesosok makhluk yang duduk dihadapannya dengan penuh intimidasi.
Kamarudin alias Udin yang suka dikamar ternyata adalah makhluk yang tengah tertunduk dihadapan Heechul yang terus memelototinya. Entah kesalahan apa yang telah diperbuat pemuda kampung tersebut terhadap sicantik nan judes yang terhitung sudah sekitar 3 minggu menjadi kekasihnya.
"Bang Udin selalu ngecewain aye, kemaren janji mau ngajak jalan-jalan ke pasar malem malah batal, aye kan jadi bete ma abang, sebenernya abang bener-bener serius kaga sih sama aye, bang?" Mata belo Heechul melotot sementara bibirnya terus nyerocos memarahi pacarnya.
"Aye serius, sejuta rius malah sama mpok Chulie, bener-bener dah mpok, pokoknye demi mpok semua abang jabanin dah, biar hujan, badai, petir, angin ribut, gempa bumi, gunung meletus pokoknye cinte abang tetep buat mpok Chulie seorang, ga ade nyang laen." Udin-pun nyerocos meyakinkan cintanya akan Heechul, sementara heechul diseberang-nya bertambah menajamkan tatapannya.
Heechul menyilangkan kedua tangan didepan dadanya, menatap Udin penuh kecurigaan.
"Yakin ame ucapan abang?"
"Yakin mpok, dua ribu persen." Udin mencetak wajahnya seserius mungkin, sementara Heechul memicingkan salah satu bola matanya, menatap wajah abstrak Udin lamat-lamat.
"Yakin walaupun disamber petir kilat geledek, diterjang badai, diguyur aer kencing, eh ujan, masih tetep mau ma aye nih bang?" Heechul memasang seringai berbahayanya.
"Ya-yakin, mpok." Udin menjawab tergagap.
"Kalo gitu nape kemaren abang ga dateng?" Dagu Heechul terangkat, sinis.
"A-anu...gerimis soalnye mpok, hehehe."
Wat de hek…
Sepertinya Heechul sendiri sekarang yang akan menjelma menjadi hujan badai petir kilat gunung meletus dan bencana alam lainnya demi mendengar jawaban simpel dari Udin.
Gerimis…
Jawaban simpel tapi bisa menciptakan bencana bagi kelanjutan hubungan Udin dan heechul yang baru seumur taoge. Poor Udin.
Hhhhh…
Heechul menarik nafas panjang…
Hhhhh…
Menghirup udara sebanyak-banyaknya…
Hhhhh…
"Mpok? Nape? Kok kayaknye ngos-ngosan gitu?" Udin yang tak paham situasi benar-benar tak mengerti melihat dada Heechul yang turun naik menahan emosinya.
"Bang Udin sayang…" Heechul berkata pelan, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan emosinya.
"Ye mpok cinta…" jawab Udin kege-eran.
"Bang, mule sekarang abang istirahat dulu ye."
"Istirahat? Istirahat nape mpok? Abang kan kaga cape, kaga sakit juge." Udin bingung akan perkataan Heechul, bukan hanya dahinya saja berkerut, seluruh wajahnya ikut berkerut, mata, hidung, mulut serta lobang hidungnya-pun ikut berkerut.
"Maksud aye, abang istirahat jadi pacar aye bang." Nada bicara Heechul mulai terdengar meninggi.
"Wooo? Ma-maksudnye ape mpok?" Udin begitu kaget mendengar ucapan Heechul barusan, bola matanya melotot hampir keluar dari sarangnya, begitu juga hidungnya yang kembang kempis hampir melorot jatuh dari posisinya, untung saja giginya masih berada ditempatnya, tidak sampai rontok.
Ucapan Heechul barusan benar-benar membuat jiwa dan raga Udin bagai terlepas saat itu juga. Meski begitu Udin berusaha untuk tetap kuat, siapa tahu Heechul hanya salah ngomong saja, maklum mulut Heechul memang suka ceplas ceplos asal bicara.
"Kuping abang budeg ye bang? Udeh jelas aye mau hubungan kite, PUTUS!" Heechul mempertegas kata putus yang dimaksudkannya agar otak lelet Udin mengerti.
Heechul benar-benar sudah tidak bisa mentolerir sikap Udin yang seenaknya saja, mempermainkan janji, bahkan sampai bersumpah yang kerap kali dilanggarnya.
Tubuh Udin lunglai bagai tak bertulang, sungguh nasib sial yang tidak pernah diduganya sama sekali, diputuskan oleh kekasihnya tanpa belas kasihan, dan tanpa alasan yang jelas. Udin benar-benar tidak mengerti kalimatnya yang mana yang telah membuat Heechul begitu emosinya.
Udin melangkah lunglai saat Heechul mempersilahkannya keluar dengan memberitahu posisi dimana pintu rumahnya berada, dia diusir. Akhirnya pemuda tersebut hanya dapat menyesali hubungan percintaannya bersama Heechul, tetangga baru dikampung yang membuat banyak pemuda-pemuda kampung berebut ingin menjadi pacarnya meski sicantik itu bermulut cadas.
Sayangnya, jangankan mencium atau bermesraan, memegang tangan Heechul-pun belum sempat Udin lakukan meski hubungan mereka sudah berjalan 3 minggu, itu semua karena Udin takut, ia merasa Heechul selalu memelototi-nya disaat mereka berdekatan.
Padahal mata Heechul memang selalu melotot, kan?
Sepeninggal Udin Heechul hendak menutup pintu rumahnya, hari sudah lumayan malam, sekitar jam setengah sepuluh malam, namun kegiatannya mendadak berhenti saat ia hampir menutup pintunya, sekonyong-konyong tampak sebuah mobil mewah yang tidak asing menlintasi depan rumahnya dan memasuki pekarangan rumah Jaejoong tetangga sebelah rumahnya.
Perlahan Heechul keluar rumah, beruntung ia lupa menghidupkan lampu terasnya, sehingga bayangannya sama sekali tidak terlihat saat ia merapatkan telinganya dibalik temboknya.
Telinga tajamnya mulai mencuri dengar percakapan antara Jaejoong dan Yunho yang telah keluar dari mobil menuju pintu rumahnya.
Tak ada yang menyadari jika Heechul bukanlah satu-satunya makhluk penguntit disana, nun tak jauh disana diantara semak belukar sesosok makhluk mistis telah dengan setia menunggu kedatangan sang pujaan hatinya, setelah siang tadi telah kecewa melihat pujaannya pergi tanpa bekas meninggalkannya bersama rendang jengkol bawaannya.
Syafei, makhluk tersebut, mulai memasang mata dan telinganya setajam silet, demi memperhatikan gerak-gerik Mak Jujung dangan saingannya.
Tampak Jaejoong berjalan beriringan dengan tubuh tegap Yunho sambil memeluk Changmin dalam gendongannya, namun Jaejoong terus menundukkan kepalanya. Semenjak mendengar gelegar suara Yunho yang membentaknya dan mencengkeram pergelangan tangannya hingga memerah, Jaejoong benar-benar tidak berani mengangkat kepalanya sepanjang perjalanan.
Sementara kedua saudara Yoochun dan Junsu berjalan terseok-seok lantaran selama perjalanan pulang mereka telah tertidur dimobil, hingga tiba keduanya terpaksa bangun dan berjalan sendiri menuju kamar mereka untuk melanjutkan mimpi mereka masing-masing.
Jaejoong-pun masuk kekamar merebahkan Changmin yang juga sudah tertidur pulas. Yunho menunggu diruang tamu Jaejoong tanpa melepas sepatunya, ia harus segera berpamitan karena pekerjaannya yang tertunda sudah menunggunya dikantor.
Jaejoong keluar membawa secangkir air putih yang langsung disambut Yunho dan meneguknya sedikit demi sedikit.
Masih menggenggam cangkir minuman, Yunho melangkah keluar diikuti Jaejoong dibelakangnya, sepertinya Jaejoong hendak mengantar kepulangan Yunho meski wajah Jaejoong masih menyiratkan ketakutannya, mungkin dengan memberi air minum Yunho sedikit tenang, ahh lihatlah wajah direktur tampan tersebut, begitu tegang dan datar, padahal dalam hatinya ia sangat menyesalkan tindakannya terhadap Jaejoong tadi.
"Tuan, aye makasih banyak ye, udeh buat anak-anak aye seneng banget hari ini, makasih…" Jaejoong memberanikan diri membuka suara duluan.
Yunho yang sudah akan melangkah masuk mobilnya menghentikan langkahnya seketika, membalikkan tubuh tegapnya demi mendengar suara halus Jaejoong yang mengucapkan terimakasih sambil membungkukkan badan kepadanya.
Masih dengan sebelah tangan menggenggam cangkirnya, Yunho perlahan mendekati jaejoong hingga berdiri dihadapan sicantik bak boneka barbie itu.
"Jongmal mianhe, mengenai yang tadi Jaejoong~ah, aku tak pernah menduga akan terjadi seperti itu, jongmal mianhe." Yunho menatap kedua manik doe eyes milik Jaejoong yang hanya beberapa detik lamanya, pasalnya Jaejoong dengan cepat menundukkan wajahnya kembali, ia tak sanggup bertatapan langsung dengan kedua mata musang Yunho yang seolah ingin menelannya hidup-hidup saat itu juga.
Melihat Jaejoong yang tampak tak nyaman, kedua sudut bibir hati itu tertarik membentuk senyuman, wajah dingin itu berubah menghangat seketika.
Dengan sebelah tangan yang lain Yunho meraih pergelangan tangan Jaejoong yang terlihat memerah, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih porselen.
"Apa sakit?" Jaejoong menggeleng dengan posisi wajahnya masih tertunduk berhadapan dengan Yunho yang belum mengalihkan tatapannya sama sekali.
"Gwaenchana, jangan terlalu dipikirkan." Jaejoong berbahasa korea dengan fasih.
"Mianhe." Kali ini suara bass itu melemah menyerupai sebuah bisikan.
Jangan lupakan dua makhluk yang sedang menguntit pasangan YunJae, baik Heechul maupun Fei berusaha menahan nafas mereka demi melihat adegan didepan mata yang sepertinya akan mengarah ke adegan intim, pasalnya saat ini Yunho sedang berusaha mengangkat dagu Jaejoong agar mau menatap wajahnya, sedangkan posisi mereka kian mendekat saja.
Heechul menutup mulutnya saat dilihatnya perlahan Yunho telah mempertipis jarak antara ia dan jaejoong yang masih menutup kedua matanya.
Dan Fei, darahnya mulai mendidih saat menyadari keselamatan bibir merah delima milik janda pujaannya akan terancam. Secepat kilat tangan cekatan Fei memungut batu kerikil yang banyak terdapat disekitarnya.
PLETAK!
"Auuhhhh."
Byurrrr~
Yunho melolong panjang saat dirasakan bagian kepalanya terkena lemparan benda keras yang bernama batu akibat ulah Fei yang terbakar api cemburu, bersamaan itu tak sadar cangkir berisi separuh minuman yang berada digenggamannya tadi terbalik, tertumpah mengenai Jaejoong yang berada didekatnya.
Naas-nya lagi tumpahan air itu membasahi bagian depan tubuh Jaejoong, entah apakah itu bisa disebut naas ataukah keberuntungan bagi Yunho yang dalam keadan panik tak enak hati karena telah membuat Jaejoong basah.
Reflek saja, setelah meletakkan cangkir diatas kap mobilnya, kedua telapak tangan Yunho mengusap-usap bagian tubuh Jaejoong yang terkena siraman airnya tadi. Tangannya terus mengusap-usap bagian tubuh tersebut sementara bibirnya terus mengucapkan kata maaf berulang-ulang.
"Tu-tuan.."
"Mianhe, mianhe, mianhe…aku sudah membuatmu basah Jaejoong~ah, mianhe."
Jaejoong yang mendapat perlakuan Yunho tersebut hanya dapat tergagap tanpa tahu harus berbuat apa, pasalnya Yunho mungkin benar-benar tidak sadar jika yang tengah diusap-usapnya secara brutal itu adalah bagian vital Jaejoong, properti milik Changmin anaknya.
Namun kesalahan masih milik Jaejoong sepenuhnya, salahkan ia yang lupa jika dua kancing teratas kemejanya masih terbuka mengekspos sebagian daging putih dadanya yang kerap dihisap Changmin, hingga air yang tumpah dari dalam gelas Yunho membasahi seluruh permukaan dada putih bersihnya.
Dan dengan tanpa sadar Yunho yang merasa bersalah masih berusaha menggosok-gosok dada Jaejoong agar cepat kering, pemilik bibir hati itu baru tersadar jika seruan Jaejoong sedari tadi sudah berubah menjadi desahan pelan akibat aksi kedua tangannya yang terus mengusap-usap dadanya.
"Tu-Tuan…aahhh."
Kali ini Mak Jujung hanya dapat mengigit pelan bibir bawahnya, menahan suaranya agar tidak terdengar lebih keras lagi. Tindakan Yunho seakan membuatnya lupa segalanya, meski Yunho melakukan itu tanpa sengaja, hanya gerakan reflek, namun membuat efek besar terhadap tubuhnya.
Melihat perubahan pada wajah jaejoong membuat Yunho tersentak dan langsung menyadari apa yang sedang dilakukannya. Wajah dingin dan datar itu langsung merah padam, sungguh ia sangat malu sekali.
Secepat kilat Yunho menarik kedua tangannya.
Dalam hatinya Yunho merutuki kebodohannya, ia takut jika Jaejoong jadi membencinya, menganggapnya telah melecehkannya, padahal ia benar-benar tidak menyadari.
"Mianhe, mianhe, mianhe, mianhe…"
Yunho meminta maaf sambil membungkukkan tubuhnya berulang-ulang kali dihadapan Jaejoong yang tampak lemas dengan nafas tidak beraturan, apa yang dilakukan Yunho barusan berhasil membuatnya lemas tak berdaya.
"Jaejoong~ah, jeongmal mianhe, aku tak bermaksud…" Kali ini Yunho meminta maaf sambil berusaha mengancingkan kemeja Jaejoong yang terlihat semakin lebar mempertontonkan dada basahnya akibat tindakan Yunho tadi, dan lagi-lagi tindakan yunho yang reflek ini membuat jari jemarinya kembali menyentuh daging empuk dada montok Jaejoong.
"Tu-Tuan, ja-jangan…"
Yunho sontak melepaskan tangannya kembali, oh Tuhan, ia benar-benar merasa tak ada muka sekarang, ia merasa seperti pria cabul yang berusaha memperkosa seseorang, padahal semua tindakannya tanpa disengaja.
Yunho dan Jaejoong tampak terdiam dengan nafas keduanya yang menderu, seolah mereka telah melakukan sesuatu yang menguras tenaga.
"Jaejoong~ah mianhe, sebaiknya aku pulang saja, masuklah nanti masuk angin, b-bajumu basah." Yunho berusaha menormalkan suaranya meski tak berhasil, suaranya terdengar bergetar, apalagi saat melihat dada Jaejoong yang basah masih terbuka lebar, rupanya tadi ia tak sempat mengancingkan kemeja Jaejoong.
Jaejoong yang menyadari arah tatapan Yunho cepat-cepat meraih kancing dan menutup kemeja bagian atasnya.
"Ne Tu, eh Yunho."
"Arrasso, aku pulang," Yunho bergegas masuk kedalam mobilnya.
"Yun~ah…"
Gerakan yunho sekeika terhenti saat didengarnya suara merdu Jaejoong memanggilnya dengan panggilan yang sangat manis ditelinganya.
"Ne?"
"Berhati-hatilah mengemudi."
"Arraso, gomawo, Jaejoongie."
Dan wajah barbie itu tersipu hingga memerah mendengar manisnya sang Presdir gagah saat memanggil namanya sebelum mobil mewahnya melaju meninggalkannya seorang diri dengan keadaan bagian depan tubuhnya yang basah.
Seorang diri?
Jaejoong tak menyadari jika ada dua makhluk yang tengah menunjukkan ekspresi berbeda saat melihat kejadian usap-mengusap, remas-meremas yang dilakukan Yunho tanpa sengaja terhadap dirinya.
Meski tanpa sengaja, kejadian tersebut sanggup membuat Heechul menahan tawanya, ia terguling-guling menahan tawa dihalaman rumahnya demi melihat adegan tak senonoh Yunho terhadap Jaejoong.
Sementara, keadaan Fei berbanding terbalik dengan Heechul yang tengah mati-matian menahan tawanya, lihatlah ketua karang taruna kampung itu kini tengah terguling terkapar menahan emosinya, ia menyesali tindakannya melempar batu mencelakai saingannya, karena tindakannya malah membuat keuntungan pada saingannya itu sendiri, kapan lagi bisa merasakan dada Mak jujung yang begitu mengoda iman.
Kali ini Fei benar-benar terkapar tak berdaya meratapi kekalahannya.
.
.
.
End (?)
.
.
Thanks for reading
Saya berhutang banyak kepada readers semua,
Semua cintaku, untuk kalian semua^^
.
Twitt : peya_ok
Ig : peya_mano
Palembang, 4/21/2015
