Halo! *menghindari tatapan ingin membunuh SasuNaru's fans*
:: Gomen buat angst. Janji gak lagi deh.
:: Gomen buat Naru feminim. Janji diubah deh.
:: Gomen buat Lemon. Janji di sini ada deh.
:: Gomen kalo shi keren *ditimpuk orang2* ga janji dehh.. XD
Balez Review::
:: Kakaichi- First reviewer:: ==b *lempar kue* tangkep! Sasu emang gituh sehh! *ngejitak sasu-peluk pein*
:: Mendokusei Toushiro :: Ga boleh keluar malem2. Nenek bilang itu berbahaya… Owowo! –Gaje-
THUNDERNARUTO! Review ke 100! *lempar kue dan kue-kue-kue*
:: Light-Sapphire-Chan :: Nggak. Kakairu kok. Hihihi… Anak kecil ga bole baca lemon. Hahaha.
:: Mas Bruno *ngek* :: Belom sekarang mo ngerasain feel dengan lemon. XD
:: Nakama Luna :: Gomen. Hihihi.
:: Ao :: Kalo gue mati, lu mao ngelanjutin ini fic? *death glare* kidding! XD jangan timpuk gue pake kopaja!
:: Chiaki Megu-megu :: Bener! Dah round 9, Shi belom brani bikin lemon! =="
:: Iuki Kyoshi :: Gapapa, mau manggil papih juga bole. LHO!?
:: Baka. Mania :: Nyoro…. Dilimu.. sama dengan gue! DX laptop jadi ga ada MS word! Biarkan saja laptop itu pundung di balik tumpukan baju2 gue! HATE KARIN! XDDD
Nyoro-Nyoro-BEAM! Serangan-semangat lemoonn! Fluff? Rough? Hard?
AHAHAHA. FULL OF LOVE!!
Enjoy everyone!
.
Warnings:: Adult only. Nc-17. Yaoi. Lime-juice-Lemon-wtever. PWP? Ouh.
Disclaimer:: Ahh, thin' u know wu ist dats man rite? Not meeeeh! XP
Berdasarkan Serial TV 'Princess Hours' dan,
Manga Korea berjudul 'Goong' by Park, So Hee.
.
--------------------------Ai_Shirohime---------------------Presenta------------------------
------------------------------------------Palace_Story-----------------------------------------
.
Round 9. –Palace 2-
.
Bukankah ini yang dinamakan orang, pemerkosaan?
Dalam kamus di Dunia mana pun, pasti dan selalu tertulis perkosaan adalah tindakan pelecehan seksual berat di mana sang pelaku melakukan kegiatan tersebut tanpa seizin sang korban.
Jadi!!
Jadi! Penegasan harus dilakukan di sini, siapa sang korban dan siapa sang pelaku?
"Sasuke,.. Umn, Ah…"
Sang korban melakukan kesalahan, mendesah penuh kenikmatan… Itulah, faktor yang membuat sang pelaku tidak akan berhenti. Ini bukan saat yang tepat untuk memandang sang pelaku dengan mata yang tertutupi awan nafsu, ini juga saat yang tepat untuk melingkarkan kedua tanganmu di lehernya, dan pasti bukan saat yang tepat untuk duduk di pangkuannya, Naruto!!
-Hentikan… Siapapun, tolong hentikan aku!
Naruto berteriak di dalam hatinya berulang kali, ia sungguh tidak ingin menikmati kecupan basah yang mendarat sejak tadi, menghabiskan nafas di paru-parunya. Ia tidak ingin bernapas begitu dekat dengan hidung mancung pucat di hadapannya, tapi apa daya? Saat tubuh dan pikiranmu bertindak bertolak belakang dengan perintahmu, tentu bukan sebuah pilihan yang bagus untuk menolak. Lagi pula, kenapa harus menampik sebuah tawaran dari seorang pangeran?
-Aku punya alasan untuk menolaknya…
Hati kecilnya merintih penuh kesakitan, memang benar ia pernah beberapa kali bercumbu dengan pria baik wanita… Tapi, ia yakin akan tindakannya itu. Sebab, satu hal yang pasti dan penting… Dulu, ia merasakan rasa, entah suka atau cinta di kedua belah pihak. Namun, Sasuke… Putra Mahkota Negeri Hi, Sex God yang diinginkan setiap wanita bahkan pria, terlebih lagi tunangannya… Rasa apa yang dimilikinya untuk Naruto? Ia tidak ingin, melakukan semua ini hanya untuk memuaskan nafsu dan hasratnya (dan sasuke) belaka, sang pangeran bisa mencari Fuck Toys, tapi jelas itu bukan Naruto!
"Be-rhenti… Sas-" tangannya berhenti melingkar di leher sang pangeran, kini mendorong dada bidang yang menempel padanya, Sasuke merendahkan pandangannya menatap mata biru di wajah yang bersemu merah. "Kenapa?" ujarnya, membingkai wajah tunangannya dengan tangan kiri.
"Ke-kenapa? Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau lakukan ini?!" Naruto merasakan adrenalinnya menanjak hingga jantungnya berdegup, saling berlarian, ia berdiri meninggalkan Sasuke yang ternganga tak percaya.
Si Pirang menatap ke arah lain sementara tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang terasa panas akibat pegangan sang pangeran. Pipinya bersemu merah, bibirnya berkilat basah terkena sinar bulan, "Aku bingung! Selalu saja! Kau selalu saja berubah-ubah, sebentar baik, sebentar jahat, lalu mesum! Aku tidak mengerti, padahal aku-ak…." Poninya menjuntai menutupi mukanya yang menahan tangis, sampai tidak mampu bersuara.
Dari posisi duduk, Sasuke berubah menjadi posisi berlutut dengan satu kaki, ia mengambil tangan kiri Naruto yang bebas, mencium setiap jari dengan perlahan, Naruto mengigil saat merasakan nafas Sasuke di jari-jarinya. Si pirang makin kuat meremas lengan kirinya, Sasuke mendongak dan sedikit terkejut saat setetes air mata jatuh ke atas wajahnya.
"Duduk Naruto…" Katanya pelan.
-Namaku?... Dia tadi?
Naruto mematuhinya, ia duduk perlahan bertumpu di atas kedua kakinya, posisi duduk formal sementara tangan kirinya masih berada digenggaman Sasuke. Ia masih menolak bertemu pandang dengan sang Pangeran, "Tuh, kau membuatku bingung lagi…" sungut Naruto, mukanya semakin merah dan mengerucutkan bibirnya pelan, Sasuke masih memasang muka hampa dan menyapu pipi Naruto yang basah akibat air mata, menggunakan tangan kiri. "Aku juga bingung, Naruto… A-aku tidak tahu kenapa, kenapa set-setiap kali aku berpikir, yang keluar selalu tentang dirimu… Aku-cuma ingin memastikan. Kenapa sosokmu seperti menghantui dan tidak mau lepas dariku."
Entah kenapa, Naruto merasa dalam kegelapan malam ia melihat sebersit semburat kemerahan mendebui tulang pipi Sasuke. Tidak tahan dengan hawa panas yang bergejolak di dalam perutnya, segera saja Naruto melepaskan tangan kirinya dan memegang kedua sisi muka Sasuke.
"Kalau begitu ayo, berhenti berbicara dan rasakan…"
Mendarat di atas tatami dengan punggungmu bukanlah suatu hal yang menyenangkan, tetapi akan menarik saat seorang pria yang berlebel tunanganmu, bertubuh kecil ditutupi kulit coklat dan rambut pirang bervibrasi kemana-mana ketika ditimpa sinar, menindih badanmu. Juga akan begitu merangsang saat menatap matanya yang kini biru cerah dipenuhi hasrat, jika ini sebuah undangan… Kenapa tidak?
"Naruto…"
Sasuke mendesah putus asa saat si pirang tidak melakukan 'kegiatan' apapun, ia mencoba mendorong Naruto untuk menjauh dari badannya namun terhenti saat sebuah tangan menyusup di antara kemeja dan kulitnya. Sedikit membelalakkan matanya untuk sesaat, Sasuke mulai merenggangkan otot-ototnya, bersamaan dengan tangan itu menyentuhnya.
"'Suke…"
Panggilan itu membuat Sasuke mendongakkan kepalanya menatap lurus ke wajah Naruto, yang bersemu kemerahan. Sang pangeran terperangah menurusi raut wajah dihadapannya, alis pirang itu mengernyit yakin dan tak ada keraguan hanya nafasnya saja yang terlihat cepat menyentuh hidung Sasuke.
Pertama sentuhan antara hidung, menyusul kemudian dengan cepat pertarungan bibir yang sengit, saling mengigit lembut, seolah hilang kendali oleh nafsu yang membabi butakan akal pikiran mereka, entah siapa yang mendominasi karena semua itu tidak penting.
Tangan bertemu rambut, menjambak mengikuti birahi yang memanas, sang uke pirang memberikan lehernya yang jenjang untuk bibir tipis sang pangeran seme, mendesah hebat saat gigi putih rapi itu bertemu kulitnya. Membuatnya mabuk kepayang, tak lagi menghiraukan hati kecilnya yang berusaha menghentikan semua ini. Sang pangeran menyerahkan tanda kekuasaannya di setiap jejak leher itu, agar tak ada seorang pun yang menyentuh apa yang telah pangeran sentuh.
"Ah."
Lidah itu meminta izin masuk, seolah setuju bibir korban membuka perlahan-lahan, namun sang tersangka secepat kilat menyapu semua yang bibir itu miliki. Lagi-lagi keduanya lupa kondisi, meski sang korban yang memiliki kenangan bahwa ia tadi berada di atas sang tersangka kini tidak lagi sebab tanpa disadarinya, sang korban telah bertukar tempat.
"Nnh…"
Kimono putih tipis yang dikenakan Naruto, setapak demi setapak beranjak turun dari tempatnya, memberikan akses terbesar bagi Sasuke untuk memindahkan penyerangannya dari atas ke bagian tengah. Menjilati turun dari leher hingga dada, sang pangeran berusaha santai dan tidak terburu-buru agak tidak menakuti sang tunangan. Seperti yang diharapkan, Naruto mengeluarkan suaranya… Mendesah, menanggapi setiap serangan dengan menutup matanya rapat namun tetap menjaga bayangan akan Sasuke. Akan seorang pangeran yang kini menjamah tubuhnya, sensasi luar biasa menggerogoti sekitar perutnya bukan karena tempat itu kini dijilati, diciumi ataupun diraba Sasuke, namun ada perasaan dingin dan panas bercampur di sana.
"Sasuke…." Ia mengangkat tangannya menggapai ujung kepala sang pangeran, yang dipanggil menyahut pendek. "Hn?"
Naruto menoleh kearah lain dengan muka bersemu, "A-aku… merasa Aneh…. Um, maksud-maksudku bu-bukan tentang kamu, ta-tapi di sini… Aneh…" tangannya menyentuh bagian bawah perutnya perlahan, sambil mengembangkan seringai tajamnya Sasuke membelai pipi si pirang.
"Kau mau aku untuk menghilangkan perasaan itu… ne, Naruto?"
Yang ditanya hanya mengangguk lemah dengan memalingkan muka, menutupi wajahnya yang tersipu di balik bayangan hitam ruangan. Seringai Sasuke mengembang lagi di wajahnya yang tampan, membuatnya berubah menjadi serigala yang siap memangsa si tudung merah, tidak lain si Naruto. Ia membiarkan si tudung merah, tergolek di atas futon lembab akibat tetesahan keringat mereka, seperti sebuah santapan malam yang tak berdaya atas kelemahannya sendiri.
Seolah terlatih lidahnya menjilat turun, melingkar di tengah perut Naruto, mengagumi tatto kemerahan yang membulat itu sesaat sebelum melancarkan aksinya membuka kain kimono yang menutupi bagian pria Naruto.
"Ahh… 'Suke."
Ia tersenyum tipis, menempelkan bibirnya di paha Naruto yang kecil, memulai kembali invasinya, menggigit, menjilat, mengisap, menciumi apa yang ada di depannya. Tangannya yang besar pucat memegangi bagian pria di depannya, terkikik pelan saat menyadari besar bagian itu tidaklah lebih besar dari sosis sapi. Naruto hampir berteriak saat Sasuke mencium 'sosis'nya, dalam hidup belum pernah ia merasa malu dan bahagia seperti sekarang ini. Naruto meremas selimut futon yang ada di sebelahnya, mendesah hebat saat lidah sang pangeran menjilati bagian atas dari penisnya.
"AH!!"
Bertindak seperti seorang anak 5 tahun yang mengisap lolipop, keluar dan masuk begitu bahagia, Sasuke mengisap benda di depannya itu, bahagia dan penuh rasa lapar. Hampir tertawa saat mendongakkan kepala, menemukan tunangannya menutup mata rapat dengan wajah merah, lalu kembali ke 'mainan' di depannya, yang mulai mengucurkan tinta putih keabuan.
-Oh, God… Dari mana Sasuke, mengetahui hal seperti ini? Apakah…
"AH!!"
-Apakah ia pernah melakukan ini dengan Karin?
Perasaan cemburu meresap di dalam hati Naruto, heran dan cemas, kenapa bisa ada perasaan seperti itu? Apakah… Apakah Sasuke akan merasakan hal yang sama jika Naruto juga mempunyai kekasih seperti Karin untuk sang Pangeran?
"NNnhh!"
-Apa… Apa? J-jari?!
Menyadari sang tunangan tidaklah fokus dengan apa yang mereka lakukan, Sasuke mengambil langkah besar. Setelah bermain-main bersama 2 bola di bawah 'lolipop'nya, ia menyusuri paha Naruto, tangannya yang besar dengan jari-jari panjang, basah akibat tinta putih mulai naik-sedikit demi sedikit, menyentuh kumpulan otot pink di bawah 2 bola tadi. Melakukan gerakan memutari lubang erat dan kencang itu, sementara mulutnya tetap pada lolipop kemerahan yang kini semakin banyak mengeluarkan tinta putih keabuan.
Satu jari.
"AH! Sas-sasuke? A-apa?"
"Ssshh… Diam dobe."
"!!Te-Teme… AH! Gross"
Saat jari itu semakin masuk dan dalam, ciuman Sasuke pada lolipop pink itu semakin hebat pula, menggigit permukaannya dengan cepat, Naruto merasa ia semakin dekat dengan klimaksnya. Pandangannya memutih, seiring jari yang keluar masuk dari bagian bawah tubuh kecoklatan itu, lalu tanpa disadari…
SPRUT!
"Ah! Sa-Sasuke!!"
Bersamaan dengan meloncatnya cairan tinta putih ke sekitar muka dan jasnya, ia memasukkan satu jari lagi, mengambil timing yang tepat hingga Naruto tidak merasa sakit sama sekali. Beberapa menit setelah klimaks, sang calon 'isteri' tergolek kepayahan mengumpulkan napas yang terengah-engah dalam kenikmat. Ia segera menaikkan punggungnya menemui muka Sasuke yang berlumuran cairan dari tubuhnya, "Ah! Go-gomen…" tangannya menggapai muka Sasuke, menyapu beberapa tetes cairan di sekitar bibir sang pangeran.
"Ch, Dobe."
Baru Naruto sadar, 2 buah jari panjang berada di dalam dirinya, bergerak lincah seiring seringai Sasuke mengembang, menatap ia begitu tajam. Muka Naruto memerah, dan matanya berkilat marah, bersiap meneriaki Sasuke sebelum…
"Sa-UMP!!"
Bibir Sasuke menabrak bibir Naruto, mungkin ada darah sebab rasa kecut dan asin bercampur di dalam nafsu, mengiringi gerakan keduanya yang seolah kehilangan akal sehat. Kelaparan dan kasar, beringasan mencari kepuasan, berbagi oksigen dan bersatu dalam satu ritme.
Gerakan jarinya semakin dalam, dalam, mencari sesuatu yang membuat si pirang menjerit pasrah, Sasuke hampir jengah saat menatap muka Naruto yang menahan sakit sambil bersedekap di bawah tubuhnya yang kini tinggal bertank-top putih, lembab akibat peluh. Namun sang Pangeran tersenyum kecil sewaktu ujung jarinya menemukan sesuatu di dalam si Pirang, membuatnya mengerang penuh kepuasan, nikmat dan menginginkan lagi tekanan itu di sana.
"Ah!"
Entah sejak kapan ia merasa begitu panas, rasanya ingin berteriak saking tipisnya oksigen untuk bernafas, namun semua yang ia terima dari pria di atas tubuhnya itu membuat semua kata-kata terkunci rapat dalam mulutnya, sehingga yang keluar hanyalah erangan yang tidak bisa diartikan sebagai baitan kata.
Sedikit membuka kelopak matanya, melihat untaian rambut hitam memagari masing-masing rahang sang pangeran dengan indahnya. Beberapa helai rambutnya terlihat berterbangan sementara yang lain menempel pasrah akibat basah. Bibir tipis itu terbuka perlahan, mengeluarkan hawa panas yang serta merta menemui permukaan kulitnya, Mata setengah terbuka itu menatap lurus ke miliknya, seolah dapat membaca apa yang ada di pikirannya sekarang. Meski enggan mengakuinya, ia tidak memikirkan apapun sekarang sebab semuanya dibutakan oleh kepuasan milik ia dan pria itu. Hanya milik mereka berdua, tidak ingin membaginya dengan siapapun.
"Sakit 'kah?" Tanya pria itu, Naruto mengernyit penuh kebingungan, meremas lengan Sasuke pelan lalu berkata dengan nada mencibir, "Tentu saja… Cepat buat rasa sakit itu hilang, Teme…" Entah kenapa perasaan malu tidak lagi menyergap dirinya, ia tersenyum bangga seraya mengarahkan matanya berani menatap bola mata kehitaman itu, yang kini menampakkan keterkejutan.
"Hn, dobe."
Terlalu cepat, pikirnya, berusaha menekan tekanan berputar di dalam kepalanya. Tangan menggapai bundelan pirang di atas kepalanya, menakan-nekan kulit kepala, berharap rasa pusing itu hilang. Ia tidak ingin merusak moment saat ia kehilangan 'keperjakaan'nya.
"Huh? Kenapa?" Ujar sang pria di atasnya, suaranya rendah dan menggoda namun kedengaran seperti mendesis.
Ia mencoba mengumpulkan suara dari dalam tenggorakan keringnya, menemukan bahwa kata-kata yang tadi disimpannya kini telah hilang tak berbekas, meninggalkan sebait kata pendek, "Pusing… Ku-kurasa, kau mendorongnya masuk terlalu cepat…" Well, cukup panjang jika dihitung perhuruf, namun itu sudah tepat untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Baiklah, akan kulakukan lebih lambat." Ia mencium kening si pirang itu pelan, bersama seiring doa agar pusing itu hilang dan dapat fokus pada apa yang mereka lakukan sekarang. Sudah cukup fore play, tukas Sasuke dalam hatinya, tanpa perlu ia atau pria di bawahnya berkata, mereka ingin sesuatu yang lebih jauh lagi. Menempatkan miliknya, yang sering orang katakan sebagai setan yang membawa kemaksiatan itu ke depan lubang surga, masuk pelan-pelan sesuai pinta si pirang.
"Nnnh…" Entah suara siapa itu, Sasuke tidak peduli, pandangannya kabur saat merasakan otot-otot di bawah sana berkelejotan, meremas batangan setan itu seperti ingin mengenyahkannya. "Relax.. Relax…" Lagi-lagi ia bingung, kata-kata itu ditujukan pada siapa, dan sekali lagi Sasuke tidak terlalu peduli.
"Bergerak… 'Suke."
Sedikit gusar, pria itu bergerak keluar, menemukan ekspresi kecewa si pirang membuat perasaannya sedikit senang, itu artinya mereka sama-sama membutuhkan. Meletakkan secercah keinginan akan kenikmatan ia memasukan 'setan' itu lagi ke lubang surga itu, kering namun basah. Ia mendapat bayaran setimpal atas usahanya barusan, "Uwah… Ah!" Setiap erangan yang terdengar bagaikan dorongan untuknya, melaju lebih liar lagi.
Menjorokkan badannya maju, menemui wajah kecoklatan yang berpeluh itu, kemerahan dan terengah-engah semakin membuatnya bernafsu. Menangkap bibir kemerahan dan membengkak itu dengan miliknya, bergerak cepat, membuka bibir si pirang tanpa permisi, mengeksplorasi bagian dalam mulut itu, kehausan. Tangannya memegangi punggung pria di bawahnya, seolah ingin mengangkatnya namun bukan itu tujuannya, ia menyergap leher jenjang itu, mulai dari rahang yang tegas sampai tulang dada yang kuat itu.
"Ahhh… 'Sukeeee~" seperti meongan seekor kucing, Naruto membalas serangan Sasuke dengan proposi yang sama. Jejak-jejak mereka tinggal di tubuh dan ruangan , udara semakin berat akibat seks, Sasuke semakin meningkatkan frekuensi kecepatannya, meraih cahaya di dalam lorong hitam yang kini ia tapaki.
"Lebih cepat… Ah, AH!!" Rintih Naruto, memeluk punggung lebar Sasuke, dengan putus asa. Hatinya terasa begitu penuh, paru-parunya berteriak marah meminta udara yang dari tadi tidak bisa didapatkannya. Pahanya yang panjang, melingkar erat di sekeliling pinggang Sasuke. Bibirnya semakin terasa sakit akibat menahan teriakan, mengucurkan setetes darah ke atas bahu Sasuke. Bukan malam pertama yang lembut, pikir Naruto dalam hati.
"Jangan tahan suaramu…" Suara Sasuke terdengar marah, namun tidak membuat Naruto takut malah tertawa kecil. Ketegangan yang sempat ia rasakan tadi, mencair sampai terlupakan. "Ah! Unnhh… Hu-Ah!" Mata biru itu bersinar tertimpa cahaya bulan yang mengintip di balik awan dengan malu-malu, bersembunyi di bawah kelopak mata berbulu keemasan.
Pandangannya memutih, seluruh tubuhnya terasa kosong dan hampa kecuali dorongan dari Sasuke. Kuku-kuku jarinya menancap dalam, ke garis punggung Sasuke, sementara mulutnya ternganga mengeluarkan teriakan demi teriakan putus asa.
Waktu terlewat tak terhitung lagi, setiap gerakan dari keduanya begitu bersemangat, membara, hingga peluh mengucur begitu deras. Sasuke mengarahkan miliknya, menghantam sweet spot milik Naruto, membuat si pirang mendesah, melenguh, merintih dan menjerit. Si pirang merasa, perutnya semakin mengejang dan lengan serta pahanya kesemutan. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluh, pikirnya pendek.
"Kakimu, ke pundakku… Dobe!" Sang pangeran merebahkan Naruto ke atas futon yang lembab, menatap tajam dalam gelapnya malam, sementara si Pirang melepaskan helaan nafas panjang dan berat seraya menjawab,
"Kaki dan lenganku kesemutan, Teme…"
"Che!"
Dengan kasar dan tak mengindahkan keadaan Naruto, Sang Pangeran meraih kedua kaki Naruto. Mengistirahatkannya ke atas pundaknya, Naruto berterima kasih pada kesemutan yang melanda dirinya, sebab ia tahu bahwa mengangkat kaki setinggi itu akan menyebabkannya keseleo dan nyeri. "Bergerak, Teme… Bergerak…"
Tangan si pirang meremas permukaan futon, menemukan bahwa kegiatan itu membantunya untuk lebih dapat melepaskan nafsu serta birahi yang menjerit-jerit di dalam dadanya.
Sesuai permintaannya, Sasuke bergerak maju mundur, kasar dan begitu berhasrat, tak memiliki irama sama sekali. Cahaya di balik kelopak matanya semakin mendekat, semakin ia berlari di dalam lubang gelap itu, semakin ingin ia berteriak dan menggapai setitik cahaya berpendar di ujungnya. Saat ia hampir mencapai titik itu, Sasuke meraih ciuman terakhir dari si pirang.
"Nnnh…."
Sungguh tak disangka, keduanya datang secara bersamaan. Cairan keabu-abuan, bertebaran di mana-mana, berkilauan tertimpa sinar rembulan. Udara di sekitar mereka mulai mendingin akibat angin malam, selimut berat yang tadinya ada di atas futon, menghilang entah kemana. Perlahan Sasuke keluar dari Naruto, menimbulkan bunyi 'pop' pelan, sementara si Pirang masih terengah-engah. Menutup matanya erat, mengumpulkan nafas-nafas yang hilang dari paru-parunya, kakinya masih membentang lebar memberikan pertunjukkan panas bagi siapa saja yang melihat. Jika tidak berpikir, besok akan ada pertemuan penting, sang Pangeran tentu saja akan meminta ronde kedua. Ia menarik sisa-sisa kekuatannya, memakai kembali celana panjang dan T-Shirt yang bertebaran di atas tatami, lalu menatap si pirang dengan seksama sebelum membuka mulutnya,
"Dobe…"
"Emm?"
"Kurasa aku menyukaimu."
"Butuh waktu lama untukmu menyadari hal itu, Teme…"
"Baka."
"Ya, aku juga menyukaimu…"
"Tentu saja, jangan salahkan aku… Semua orang menyukaiku."
"Bah, sombong."
"Fakta berbicara, Dobe" Dengus Sasuke.
"Haha… Lucu sekali, Teme" ejek Naruto.
"Kenapa kau menyukaiku, Dobe?"
"Hah? Katamu tadi semua orang menyukaimu…" Sasuke kalah telak kali ini.
"Serius, Dobe!" Tangan Naruto menggapai ujung dengkul Sasuke yang mengarah padanya, lalu tersenyum kecil. "Aku menyukaimu, itu saja… Tidak ada alasan khusus…"
Mata hitam itu sedikit terkejut, lalu melemah di balik bulu mata hitam panjang, mendesah pelan lalu berkata pendek. "Ya…"
Terkadang beberapa hal memang lebih baik tidak dikatakan.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
Jam 23:58 waktu Palembang.
Puassss?! *nangis*
Sebulan ga update ya? Hehehe…
Okeh! Lemonnya berat ga? Bawaan baca twilight ceehh…
Bagus ga? Apa terlalu hard? Emm… Ngga juga 'kan?! *putus asa*
Kalo direview, pasti update cepet! XD
Jaa!
