THE PREGNANCY TEST

.

.

.

NOVEL BY ERIN MCCARTHY

REMAKE BY YOUNLAYCIOUS

.

.

CAST: HUNHAN AND OTHERS

.

.

GENRE: DRAMA – ROMANCE – GENDERSWITCH

RATE: M

LENGTH: CHAPTERED (FINAL CHAPTER)

WARNING: FF INI MERUPAKAN FF REMAKE DARI NOVEL KARYA ERIN MCCARTHY DENGAN JUDUL SESUAI NOVEL ASLINYA ^^ IMPROVISASI CERITA DILAKUKAN JIKA DIPERLUKAN….GENDERSWITCH UNTUK PARA UKE ^^

.

.

CHAPTER 7B

.

.

.

.

.

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu siang tadi," ujar Sehun sambil menggenggam tangan Luhan. Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran untuk makan malam. Seharusnya makan malam itu mereka lakukan beberapa hari lalu, tapi batal karena kepergian Sehun secara mendadak ke Jepang. "Tapi tadi kau begitu terburu-buru ke kantor, hingga aku tidak dapat berkata apa-apa saat kau mendorongku keluar pintu apartemenmu."

Sehun tersenyum lebar pada Luhan yang duduk di seberang meja, berpikir betapa ironisnya ketika ia ingin menghabiskan hari dengan tidur di ranjang tetapi Luhan malah sangat bersemangat pergi ke kantor. Yang akhirnya ikut memaksanya pergi ke kantor juga.

"Yah, tidak ada seorang pun yang mengharapkan kemunculanmu di kantor hari ini. Lain halnya dengan aku. Jika aku tidak muncul di kantor maka akan terlihat buruk. Seolah aku tidak masuk karena bosku sedang di luar negeri."

Sehun tahu Luhan benar, tapi sangat sulit menjauhkan diri dari wanita itu untuk pulang ke apartemennya sendiri dan berganti pakaian. Dan ketika ia sampai di kantor, Luhan bersembunyi darinya. Rasanya seperti hari yang panjang dan sangat menyiksa. Padahal ia sampai di kantor setelah jam makan siang. Seharusnya ia dan Luhan merayakan hubungan mereka, mungkin dengan libur satu hari. Akhirnya hari itu dilaluinya dengan berjalan mondar-mandir tiada henti di lantai delapan belas, sampai Jongin datang kemudian menahannya di ruangannya hingga jam pulang.

"Sehun, para eksekutif bisa melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan. Tetapi para sekretaris tidak. Semua orang bicara, menyaksikan, bergosip, dan mereka semua sudah mulai berpikir bahwa ada sesuatu di antara kita ketika aku ikut ke Saipan bersamamu. Dan mereka semua juga melihat bajuku mulai kesempitan."

"Dan juga cukup indah." Sehun tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke dada Luhan. Salah satu bagian favoritnya saat bercinta dengan Luhan.

"Hentikan! Kau mesum!" ujar Luhan, tertawa. Tak lama tawanya berhenti, raut wajahnya menjadi serius. "Aku rasa aku harus berhenti menjadi sekretarismu."

"Kenapa? Apa kau tidak senang bekerja denganku?"

"Tidak. Tentu saja aku sangat senang bekerja denganmu. Hanya saja sekarang hubungan kita adalah sepasang kekasih."

"Ya, kita memang pasangan kekasih." Tegas Sehun. "Lalu apa hubungannya dengan kau berhenti menjadi sekretarisku?" tanya Sehun dengan nada santai.

"Sehun...mmmmm...jika aku tetap bekerja sebagai sekretarismu...itu sangat tidak profesional. Aku tidak ingin mereka semakin membicarakanku."

"Kau bisa menjadi sekretaris orang lain. Jadi kau tidak perlu berhenti bekerja." Tawar Sehun. Ia tidak ingin menjadi alasan Luhan berhenti bekerja. Meski sesungguhnya ia tidak rela melepas Luhan untuk menjadi sekretaris orang lain. Namun ia juga tak ingin Luhan mengalami stress karena menjadi pengangguran, ya ia sangat tahu bahwa Luhan bukanlah wanita yang bisa tinggal diam di rumah. Wanitanya termasuk tipe yang aktif melakukan sesuatu. "Mungkin kau bisa menjadi sekretaris Jongin. Ku dengar sekretarisnya yang sekarang akan berhenti. Walau sangat berat bagiku, tapi ya...bukan tindakan profesional jika kita bekerja bersama. Seperti katamu."

Luhan tertawa. "Terima kasih Tuan Oh atas pengertianmu. Dan apakah kau akan melakukan perburuan Sekretaris Bintang lagi?" goda Luhan.

Sehun terlihat berpikir. "Mungkin lebih baik aku mencari seorang sekretaris pria kali ini."

"Sekretaris pria?"

"Ya. Dengan demikian aku tidak perlu lagi melihat hujan air mata dan melakukan perburuan kesekian kalinya."

Tawa Luhan semakin lebar. "Tadinya aku pikir karena kau tidak ingin aku cemburu pada sekretarismu. Atau takut tergoda dengan mereka."

"Kupastikan tidak ada wanita lain yang lebih menggoda darimu." Sehun mengerlingkan sebelah matanya.

"Wow! Semakin banyak sisi dirimu yang mulai terkuak Tuan Oh. Dan itu sangat menarik." Luhan balas mengerlingkan sebelah matanya dengan cara yang lebih menggoda.

"Sial!" umpat Sehun dalam hati. Hanya sebuah kerlingan nyaris membuatnya lepas kendali. "Omong-omong, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Sehun mengalihkan perhatiannya.

"Apa itu?" Luhan menyesap diet coke nya.

Sepertinya karena terlalu sibuk menatap dada Luhan dan mendapat sebuah kerlingan menggoda, membuatnya tidak menyadari apa yang dipesan wanita itu. "Apa tidak masalah bila kau minum itu?" Sehun menunjuk minuman Luhan dengan dagunya. "Aspartam diragukan keamanannya bagi ibu hamil."

Luhan menatap Sehun tajam. "Aku akan menggangap kau tidak pernah mengatakannya."

"Kau baca bukunya? Bukankah tertulis disitu?"

"Aku tidak akan berhenti minum diet coke." Jemari Luhan mencengkeram erat gelasnya. "Tidak ada buktinya ini berbahaya."

Sehun berusaha berkompromi. "Kalau begitu minum saja coke biasa, yang tidak mengandung aspartam."

"Tapi mengandung lima ribu kalori dan membuat bokongku terlihat mengembang."

"Bokongmu tidak mengembang." Sehun menyeringai.

Luhan mendengus. "Daripada membicarakan bokongku, apa yang mau kau bicarakan tadi?" Luhan mengalihkan topik.

"Kris tadi pagi datang ke apartemen saat kau sedang tidur."

"Apa?" nada suara Luhan sedikit tinggi. "Kau bertemu dengannya? Apa yang dikatakannya padamu?"

"Ya, kami telah bertemu." Sehun menggenggam tangan Luhan. Memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan pesan Kris pada wanita di depannya tanpa menyakitinya.

"Sehun..." panggil Luhan, menyandarkan Sehun. "Apa yang dikatakan Kris padamu?" ulang Luhan.

Sehun menarik napas. "Dia tidak mengatakan apapun begitu dia menyadari kalau kau dan aku...maksudku kita..." Sehun berdehem.

"Oh, astaga! Kau mengatakan padanya kalau kita baru saja bercinta?" Luhan hanya bisa membayangkan apa yang ada dalam pikiran Kris. Bahwa ia adalah wanita murahan, itulah pemikiran pertama yang terlintas di benaknya.

"Yah, sebenarnya semua terlihat jelas."

"Dan kau bukannya membangunkanku, malah menyuruhnya untuk kembali lagi nanti?"

"Well..." Sehun menarik napas lagi. "Mungkin sebaiknya kau bicara dengan Kris tentang apa yang dikatakannya."

Itu kedengarannya menjanjikan sekaligus mengganggu juga membuat frustasi. Luhan tidak bisa membayangkan apa yang telah dikatakan Kris pada Sehun. Ia sangat ingin tahu.

"Kau bisa mengatakannya padaku. Aku berjanji tidak akan memaki atau membunuhmu setelahnya."

Sehun mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Luhan. "Dia bilang dia lega kau berkencan denganku."

"Oh ya? Kenapa? Aku jadi penasaran." ujarnya dengan nada sarkatis.

"Karena katanya dia tidak sanggup jika harus mengurus dua wanita hamil secara bersamaan. Namun, dia tidak tega meninggalkanmu sendiri. Dia merasa kalau aku serius denganmu...dan memang benar begitu, maka dia bisa menyingkirkan bebannya dan meninggalkanmu pada ahlinya."

Luhan merasa seolah ada yang baru menendangnya. "Oh, benarkah begitu?" Suaranya bergetar dan ia mengerjab-ngerjabkan matanya untuk menahan air mata yang mulai tergenang tanpa peringatan. Seharusnya ia merasa senang Kris tidak akan lagi muncul di kehidupannya dan bayinya. Hanya saja, entah mengapa rasanya tetap menyakitkan.

Sehun meraih tangan Luhan, mengecupnya berulang kali, berusaha menenangkan wanita itu. "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengatakan semuanya padamu. Awalnya aku hanya ingin mengatakan kalau dia mampir dan kau bisa meneleponnya."

"Bukan kau yang seharusnya meminta maaf." Luhan memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun hati-hati. "Bodoh!" umpat Sehun dalam hati. Bagaimana dia bisa melontarkan pertanyaan seperti itu, padahal dia tahu jawabannya.

"Ya, aku baik-baik saja." Luhan memalingkan wajahnya menatap Sehun sambil memasang sebuah senyum palsu. Sadar jika dirinya akan benar-benar menangis yang dapat mempermalukan dirinya, Luhan segera berdiri. Sehun pun reflek ikut berdiri, menahan lengannya. "Aku mau ke toilet. Aku akan segera kembali. Dan kalau hanwoo ku masih belum terhidang saat aku kembali, maka aku akan menyerbu dapurnya." Kelakar Luhan. Ia pun segere pergi sebelum air matanya jatuh.

Sehun menatap kepergian Luhan. Ia merasa bersalah. Ia sebenarnya tidak bermaksud untuk menceritakannya dengan cara yang begitu dingin, tapi memang seperti itu kenyataannya. Ia yakin Luhan tidak punya perasaan apapun terhadap si bajingan –jika dia boleh menyebut demikian- Kris, hanya tetap saja perkataan pria itu menyakiti Luhan.

Sambil menunggu Luhan kembali, Sehun menyesap coke nya. Menatap diet coke Luhan, kemudian cepat-cepat menukarnya. Ia bertindak seolah-olah sedang merapikan peralatan makannya ketika Luhan kembali. Wanita itu terlihat pucat namun rapi.

"Bagaimana jika makanannya dibawa ke apartemenku?"

"Ide bagus. Seberapa dekat kita dengan apartemenmu?"

Sehun memanggil pelayan. "Hanya satu blok." Itulah alasan kenapa ia memilih restoran ini. Ia berharap bisa memikat Luhan untuk mampir ke tempatnya, dimana ia memiliki ranjang king size yang nyaman, AC, dan dinding tebal yang mampu meredam jeritan-jeritan kenikmatan Luhan nanti.

"Sempurna!"

Luhan menyesap minumannya dan mengerutkan dahinya. Ia menatap gelasnya, matanya menyipit, kemudian menyesapnya lagi. "Kau mengganti minumanku?" Luhan menatap tajam Sehun. Ia mencoba meraih gelas Sehun, sayangnya pria itu menarik gelasnya menjauh. Yang mana merupakan tindakan bodoh sehingga membuatnya ketahuan. "Mungkin kau salah minum."

Luhan memutar bola matanya, ia tertawa. "Usaha yang bagus. Kau sangat beruntung aku mencintaimu kalau tidak kupastikan celanamu basah oleh diet coke."

Sehun tertawa mendengar ancaman Luhan. "Aku beruntung kau mencintaiku. Dan akan sangat beruntung jika kau mau membantuku melepaskannya, daripada hanya menyiramnya." Sehun mengerlingkan sebelah matanya.

Luhan membalas kerlingan Sehun dengan tatapan sensualnya. "Bawa aku pulang, Sehun, supaya aku dapat segera melepasnya."

.

.

The Pregnancy Test

.

.

Luhan berjalan di trotoar, sambil bersandar di pundak Sehun. Berjalan di malam musim panas yang indah bersama pria yang kau cintai sekaligus mencintaimu. Malam ini merupakan malam yang sempurna.

"Jangan sampai pingsan gara-gara kelaparan. Apartemenku ada di sebelah sini." Sehun menarik Luhan ke pintu masuk gedung apartemennya dan mengarahkannya ke dalam. Sepertinya karena terlalu menikmati perjalanannya, Luhan tak menyadari bahwa mereka telah tiba di gedung apartemen Sehun. Melihat Sehun yang terlihat benar-benar cemas, Luhan tersenyum untuk menyakinkan pria itu.

"Ketika aku mengalami morning sickness pada trisemester pertama, dokter Kim, maksudku dokter yang menanganiku bilang bahwa aku tidak perlu mencemaskan bayiku. Jika dibutuhkan, tubuhku akan memberikan makan terlebih dahulu untuk bayiku, dengan menghabiskan cadangan lemak, baru kemudian menggerogoti otot-ototku untuk mencukupi kebutuhannya.'

"Well, kedengaranya mengerikan sekali. Tapi itu semacam insting keibuan, kan?" Sehun berhenti di depan lift kemudian menekan tombolnya. Ia membuka kantong makanan yang dibawanya dan menyodorkan spring roll kepada Luhan. "Makanlah. Kita tidak ingin ototmu habis dimakan bukan."

Mereka masuk ke dalam lift, dan Luhan tertawa. "Jangan kuatir, aku punya banyak cadangan lemak, sebelum ototku yang jadi sasaran." Luhan tetap memakan spring roll itu, ia kelaparan.

"Lift, perut yang marah... jika saja aku punya kopi, maka itu semua akan mengingatkanku pada pertemuan pertama kita."

"Apa aku perlu membungkuk? Itu pasti romantis."

"Ya, memang." Alis Sehun terangkat, menyiratkan sesuatu yang berkecamuk di dalam pikirannya, kemudian matanya menggelap. "Mungkin kata menggairahkan lebih tepat daripada romantis."

Luhan langsung mengantupkan mulutnya. "Aku bercanda! Maksudku itu sama sekali tidak romantis, seperti saat pertama kali kita bertemu...oh, lupakan saja. Aku tahu persis apa yang sedang kau pikirkan, dasar mesum!"

Tak lama lift berhenti dan pintunya terbuka. Sehun mempersilahkan Luhan keluar lebih dulu, kemudian ia mengikuti wanita itu dari belakang. "Yang mana apartemenmu?"

"Di ujung sana. Pintu yang tepat berada di hadapanmu." Luhan berjalan sesuai petunjuk Sehun.

"Sepertinya kau sangat suka tempat yang berada di ujung." Luhan memandang area sekitar apartemen Sehun, sambil menunggu pria itu memasukkan password apartemennya. "Dan juga tinggi. Ini bahkan lebih tinggi dari letak ruanganmu." Luhan berjalan mundur, menghindari area balkon.

"Kenapa? Apa kau ada masalah dengan ketinggian?" Sehun membuka lebar pintu apartemennya. Mempersilahkan Luhan masuk.

"Sejujurnya ya. Aku takut ketinggian. Itulah sebabnya aku tidak suka naik pesawat. Beruntung saat ke Saipan, aku sedang mengalami morning sickness jadi rasa takutku teralihkan."

"Apa kau tidak masalah dengan rumah bertingkat dua? Jika kau keberatan dengan rumah bertingkat mungkin kita bisa memilih rumah tanpa tingkat dan luas. Bahkan jika kau mau aku bisa memindahkan ruanganku ke lantai dasar."

Sehun memberi isyarat pada Luhan untuk menunggunya di sofa, sementara ia menyiapkan makanan mereka. "Tidak. Aku tidak masalah dengan rumah bertingkat atau gedung bertingkat. Selama aku tidak melihat langsung seberapa tinggi tempat aku berpijak itu bukan masalah."

Sehun kembali dengan membawa makanan. "Setelah kita makan. Aku akan membawamu berkeliling apartemenku."

"Ide yang bagus. Kau tahu, kata orang tempat tinggal mencerminkan pemiliknya. Mungkin saja aku dapat menemukan hal lain tentang dirimu yang belum ku ketahui. Jadi bersiaplah, Tuan Oh!" ujar Luhan dengan nada menggodanya.

Sehun tertawa. "Apa ada tempat yang menarik minatmu, Nyonya Oh?"

"Cih! Jangan ganti marga orang seenaknya Tuan Oh. Aku masih kekasihmu, belum menjadi istrimu."

"Ya, tak lama lagi kau akan resmi menjadi Nyonya Oh."

Mereka pun memulai acara makan malam yang tertunda tadi. Hanya suara dentingan peralatan makan yang terdengar, tidak ada percakapan selama makan. Sepertinya mereka –lebih tepatnya mungkin Luhan, mengingat Sehun selalu makan dengan cepat- tidak sabar ingin segera menghabiskan makanan itu, kemudian secepatnya memulai acara berkeliling apartemen Sehun.

Tepat setelah Luhan menengguk habis minumannya dan Sehun selesai membereskan peralatan makan mereka beserta sisa-sisa makanan. Sesuai janji pria itu tadi. Sehun mengajak Luhan berkeliling apartemennya.

Penuh semangat pria itu menjelaskan setiap sudut apartemennya dan beberapa barang yang dimilikinya. Pria itu bersikap seolah-olah ia adalah agen properti dan Luhan adalah calon pembelinya.

"Apartemenmu bagus...dan juga tenang."

"Karena itulah aku pindah kemari." Sehun berhenti di pintu kamarnya. "Aku berencana untuk menghancurkan tembok ini dan membuat kamar ini menjadi lebih besar sehingga ruangan satunya lagi jadi semacam lemari yang bisa dimasuki, tetapi aku membatalkan rencanaku."

"Kenapa?" Luhan masuk ke kamar itu, melihat ke sekeliling ruangan sembari tangannya mengusap tempat tidur Sehun, kemudian mendudukan dirinya di atas tempat tidur itu.

"Karena sebentar lagi aku akan pindah dari sini."

Ucapan Sehun membuat Luhan mengalihkan perhatiannya dari tempat tidur milik pria itu. "Kau...kau akan pindah?" tanya Luhan lirih. Seketika berbagai bayangan buruk tentang Sehun yang meninggalkannya melintas dalam pikirannya. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya. "Kau akan pindah?" ulangnya lagi. "Kau...akan meninggalkanku?"

Melihat perubahan di wajah Luhan, pria itu ikut mendudukan dirinya di ranjang, di samping wanita itu. Luhan memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Tidak. Aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya pindah ke sebuah rumah. Rumah kita. Rumah yang luas dengan banyak kamar dan halaman luas. Rumah masa depan kita. Apartemen ini terlalu kecil untuk kita."

Luhan langsung menoleh pada Sehun, mengerjapkan matanya. Berusaha mencerna perkataan Sehun. "Kau barusan bilang akan pindah kemana?"

"Aku atau lebih tepatnya kita akan pindah ke sebuah rumah, rumah masa depan kita."

Luhan menatap ke dalam mata Sehun, berusaha menemukan pembenaran atas perkataan pria itu. Well, siapa tahu saja pria itu bermaksud membuat sebuah lelucon. Meski April Mop telah lama berlalu. Sayangnya, hanya sebuah kejujuran dan kesungguhan yang terpancar di mata pria itu.

Oke, ini menandakan bahwa Sehun memang serius dengan hubungan mereka. Meski dia tidak tahu kapan pernikahan itu akan terjadi namun fakta bahwa Sehun akan pindah dari apartemen ini ke sebuah rumah paling tidak sudah menunjukkan ke arah mana hubungan mereka akan berakhir nanti. Dan jika Sehun akan pindah, apa pria itu telah menemukan dan membeli rumah masa depan mereka?

Baru saja Luhan akan mengajukan pertanyaan ketika smartphonenya berdering di dalam tas. Ia menenteng tasnya daritadi untuk merapikan makeup nya saat Sehun menunjukkan kamar mandi padanya.

"Biarkan saja." Nada suara Sehun terdengar kesal. Mengumpat dalam hati siapa saja yang telah mengganggu mereka.

"Mungkin saja ibuku. Atau Kris. Biar kulihat dulu." Luhan mengaduk-aduk tasnya dan mengeluarkan smartphonenya. Ia mengernyit saat melihat nomor apartemennya.

"Halo?"

"Luhan, ini kami." suara Baekhyun menyapanya.

"Hai, Baek. Bisa kau menelepon lagi nanti? Aku sedang sibuk sekarang." Luhan memandang ke arah Sehun. Wajah pria itu yang tadinya kesal, kini berganti dengan wajah kebingungan.

"Tidak! Dengarkan aku. Aku harus mengatakan sesuatu padamu tentang Sehun. Ini pasti menganggetkan, tapi kau harus tahu."

Luhan hanya setengah mendengarkan, menunggu momen di mana ia dapat mengatakan pada Baekhyun bahwa masalah itu bisa menunggu.

"Istri Sehun tewas dibunuh."

Luhan bangkit dari tempat tidur dan berjalan menjauhi Sehun. Ia sedikit kaget bahwa sahabat-sahabatnya telah mengetahui masalah Sehun dan Krystal. "Aku sudah tahu soal itu, Baek. Mmmm...ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa tahu?"

"Aku membacanya di internet. Di artikel itu dituliskan...Sehun dituntut sebagai pelaku. Ia menjadi tersangka atas kasus pembunuhan istrinya. Polisi Jepang sempat menahannya."

Luhan hampir menjatuhkan ponselnya. Sehun pernah ditahan? Oh, astaga. Luhan dapat merasakan gejolak dalam dirinya. "Kenapa kau mengatakan hal ini padaku?"

"Agar kau bisa menjauh darinya. Kau bisa pergi ke toilet lalu menyelinap keluar dari pintu depan restoran. Kami akan menjemputmu." Suara Baekhyun terdengar mendesaknya.

Luhan menelan ludah, hatinya terasa nyeri. "Aku sedang bersama Sehun di apartemennya. Aku akan menghubungimu lagi nanti." Luhan segera memutuskan sambungan.

.

.

The Pregnancy Test

.

.

Setelah Luhan memutuskan sambungan, Xiumin segera mengeluarkan suaranya. "Apa yang dia bilang? Apa dia ketakutan? Di restoran mana mereka berada? Kita perlu menjemputnya sekarang." Berondong Xiumin pada Baekhyun. Kyungsoo hanya memutar bola matanya melihat tingkah teman-temannya.

Baekhyun memandang Xiumin dan Kyungsoo bergantian, menggigit bibirnya, menunjukkan kalau dia sedang dilanda kecemasan.

"Demi Tuhan, Baek! Katakan pada kami. Apa Luhan baik-baik saja? Dimana dia sekarang?" bentak Xiumin tidak sabaran.

"Dia tidak sedang berada di restoran. Dia sedang berada di apartemen Sehun."

Xiumin membelalakan matanya. "Byun Baekhyun! Luhan sedang berada di apartemen Sehun dan kau mengatakan padanya bahwa Sehun seorang pembunuh?" pekik Xiumin. "Oh Tuhan! Ini benar-benar gila. Luhan berada dalam bahaya sekarang." Xiumin mulai berjalan mondar-mandir di depan kedua sahabatnya. "Aku yakin pria itu pasti sudah merencanakannya. Kita harus menyelamatkan Luhan. Apa kita harus menelepon polisi sekarang? Dan apa Luhan mengatakan sesuatu? Mungkin permintaan tolong." racau Xiumin.

Baekhyun memijit pelipisnya. Mendadak kepalanya terasa pusing. "Tidak ada. Dia meminta kita menunggunya memberi kabar, kemudian memutuskan sambungan."

"Menunggunya memberi kabar? Kabar kematiannya dan bayinya?" histeris Xiumin. "Kita tidak bisa diam saja. Kita harus menghubungi polisi." Tangan Xiumin sudah bersiap meraih telepon jika saja Kyungsoo tak membuka suara.

"Aku rasa kalian terlalu berlebihan. Luhan pasti baik-baik saja. Aku yakin Sehun tidak akan mencelakai Luhan dan bayinya. Sehun sungguh-sungguh mencintai Luhan."

"Demi Tuhan Kyungsoo...Sehun seorang pembunuh." Teriak Xiumin frustasi.

"Mereka tidak menvonis Sehun sebagai pelakunya, hanya mencurigainya sebagai pelaku. Ini berarti Sehun bukan pembunuh, Xiu." Jelas Kyungsoo

"Karena mereka tidak punya cukup bukti, bukan karena Sehun tidak melakukannya. Benar kan, Baek?" Xiumin memandang ke arah Baekhyun yang duduk di samping Kyungsoo sambil memijit pelipisnya.

"Sial! Aku rasa memang demikian." Erang Baekhyun. "Dan sekarang aku telah menempatkan Luhan dan bayinya dalam bahaya jika Sehun tahu Luhan mengetahui masalah ini."

Kyungsoo memutar bola matanya. "Ayolah! Hentikan sikap berlebihan kalian. Dan juga berhenti mencampuri urusan Luhan."

"Kyung, kita melakukan semua ini demi keselamatan Luhan dan juga bayinya." Xiumin masih memberikan argumennya.

"Aku rasa sebaiknya kita menghubungi Luhan lagi." Baekhyun meraih telepon di sampingnya.

"Tidak. Kita akan menunggu sampai Luhan menghubungi kita lagi." Kyungsoo menahan tangan Baekhyun.

"Menunggu sampai kematian Luhan dan bayinya yang menghubungi kita? Tidak! Kita tidak bisa menunggu, Do Kyungsoo!" kata Baekhyun keras kepala seperti Xiumin.

Kyungsoo mendengus. "Baiklah, kita hubungi Luhan." Senyuman terpatri di wajah Baekhyun dan Xiumin. "Tapi tidak sekarang. Kita tunggu hingga tengah malam. Dan kali ini tidak ada bantahan." Putus Kyungsoo. Seketika senyuman lenyap dari wajah kedua sahabatnya.

.

.

The Pregnancy Test

.

.

Ketika Sehun kembali ke kamarnya lagi setelah tadi ia meninggalkan wanita itu ketika menjawab telepon dari apartemennya, ia menemukan Luhan sedang duduk bersandar di ranjangnya dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan. Ia kemudian mendekati Luhan dan duduk di sampingnya.

"Kau baik-baik saja? Apa telah terjadi sesuatu?" pertanyaan Sehun berhasil membuat Luhan mengangkat kepalanya. Lama ia menatap Sehun. "Luhan, kau baik-baik saja kan?" kali ini suara Sehun terdengar cemas.

"Kenapa kau tidak mengatakan padaku?" lirih Luhan.

"Mengatakan apa?"

"Bahwa kau pernah ditahan karena kasus pembunuhan Krystal."

Keterkejutan terpancar di mata Sehun. "Siapa...siapa yang mengatakannya padamu?"

"Baekhyun. Baru saja. Mereka membacanya di internet."

Sehun memalingkan wajahnya dari Luhan, ia mulai berjalan mondar-mandir di kamar, suaranya terdengar pahit. "Dan menurutmu memang aku pelakunya?"

Pertanyaan Sehun itu mengejutkan Luhan. "Tidak. Tentu saja tidak. Hanya saja, kenapa kau tidak menceritakannya padaku saat kau membicarakan Krystal tadi malam? Pasti rasanya amat menyakitkan untukmu...begitu mengerikan karena menerima tuduhan sekeji itu."

Sehun mengepalkan tangannya, berusaha meredam gejolak perasaannya. Ia akhirnya berhenti mondar-mandir dan mengambil tempat di ujung tempat tidurnya, sedikit jauh dari tempat Luhan.

"Mengerikan? Oh, ya, rasanya amat mengerikan. Karena itulah aku tidak menceritakannya padamu, Luhan. Bagaimana caranya aku mengatakan padamu kalau polisi berpikir bahwa aku mengikuti istriku, marah karena istriku menghabiskan terlalu banyak uang, marah karena istriku menggoda laki-laki lain. Kemudian aku memperkosanya, lalu mencekiknya dan mencabut nyawanya." Suara Sehun bergetar.

"Sehun..." Luhan sendiri dapat merasakan nada iba dalam suaranya.

"Jangan!" Sehun mengangkat tangannya. "Tolong jangan mengasihaniku. Aku sering mendengar nada seperti itu pada awalnya, perasaan kasihan dari orang lain. Kemudian mereka mulai melihat dengan cara yang berbeda, mulai menduga, bertanya-tanya. Dan mengingat pertengkaran-pertengkaranku dengan Krystal. Keluhan-keluhan Krystal tentang suami yang pelit. " Sehun mengatupkan mulutnya agar bisa mengendalikan kata-kata yang keluar. "Aku tidak menceritakannya padamu karena tidak ada yang perlu diceritakan. Semuanya buruk, pahit, menyakitkan, dan syukurlah semua sudah berlalu. Tapi jika kau mau, aku akan menceritakannya padamu. Tentang kenapa mereka tidak memvonisku bersalah jika itu membuatmu lebih baik. Akan kuceritakan juga tentang bukti forensik dan bagaimana spermaku terdapat dalam tubuhnya. Atau kulitku pada kukunya, hanya karena sebelum bertengkar kami bercinta...maksudku betapa gilanya itu...Seorang suami yang bercinta dengan istrinya kemudian dituduh sebagai pembunuh istrinya..."

"Aku tidak butuh mendengarkan itu." Potong Luhan. "Aku hanya ingin mendengarkan apa yang ingin kau ceritakan, apa yang ingin kau bagi denganku. Namun jika kita akan menghabiskan seumur hidup kita bersama, yang dengan setulus hati kuharapkan demikian, maka kau harus mempercayaiku dengan segala keburukan dan kebaikan." Luhan mendekat ke arah Sehun dan menggenggam tangan pria itu.

Harga diri, ketenangan, dan suara Luhan yang terkendali, membuat Sehun tersentak dari kebimbangannya. "Demi Tuhan, Luhan, aku tidak pernah ingin menyeretmu dalam situasi seperti ini."

"Ini bukan kesalahanmu. Kau tidak melakukan apapun. Kau tahu kebenarannya disini." Luhan menaruh tangannya di dada Sehun. "Dan aku tahu kebenarannya. Aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang." Luhan mencium punggung tangan Sehun yang digenggamnya.

Melihat Luhan melakukan hal itu, membuat kesedihan yang tadinya menghiasi wajah Sehun berganti menjadi sebuah senyuman. Ia bisa melihat dan merasakan kemantapan hati Luhan. kekuatan dan keteguhan Luhan. Keyakinan Luhan padanya, membuatnya merasa kuat. "Aku minta maaf tidak menceritakannya padamu. Aku bukannya bermaksud untuk merahasiakannya darimu, tetapi rasanya begitu berat untuk membicarakannya..."

Luhan menekan bibir Sehun dengan jari telunjuknya. "Suatu saat nanti, ketika kau siap, kau akan mengatakannya padaku. Kau juga bisa bercerita tentang Krystal saat itu. Namun untuk saat ini, aku hanya ingin mendengar bahwa kau mencintaiku."

Sehun mencium jari telunjuk Luhan. "Kau tidak perlu meragukannya. Aku memang mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dalam cara yang kupikir tidak akan pernah bisa kulakukan lagi. Dalam cara yang lebih dewasa dan lebih kuat dibandingkan perasaanku terhadap Krystal."

Luhan menelusurkan ibu jarinya di wajah Sehun. Membuat Sehun memejamkan matanya untuk merasakan sentuhan jari Luhan pada wajahnya. Dari bibir bergerak turun ke rahang kokoh pria itu, kemudia ke pipi, mata dan dahinya. Perasaan nyaman menyelimuti Sehun.

Ketika jari Luhan berhenti bergerak, Sehun membuka matanya. Matanya dan mata Luhan saling bertemu. Mereka salin menatap cukup lama. Tiba-tiba Sehun memutus kontak mata mereka dengan sebuah pertanyaan. "Apa yang kau lihat ketika menatap mataku?"

Luhan tersenyum lembut, kemudian memejamkan matanya. "Aku melihat masa depanku di matamu. Aku melihat diriku menikah denganmu, di depan sebuah altar, sebelum aku tampak seperti balon. Aku melihat sebuah rumah yang besar dengan pencahayaan yang pas, suasana yang tenang dan halaman yang luas untuk bermain anak-anak kita kelak." Luhan membuka matanya dan menatap ke dalam mata Sehun. "Aku juga melihat seorang bayi perempuan bernama Oh Serin yang tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat mencintai ayahnya sama besarnya seperti rasa cintaku pada ayahnya."

Perkataan Luhan membuat pandangan Sehun mengabur, tanpa disadarinya kedua pipinya telah basah oleh air matanya. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. "Apa kau sungguh-sungguh menginginkan semua itu? Setelah kau mengetahui ada begitu banyak kekurangan dalam diriku."

Luhan belum pernah merasa begitu yakin dalam hidupnya. Namun untuk kali ini...ia merasa begitu yakin pada dirinya. Ia yakin bahwa ia dan Sehun ditakdirkan untuk bersama.

"Hey, aku juga memiliki kekurangan. Aku pelupa, aku orang yang ceroboh, aku memiliki masalah dengan keuanganku, dan aku payah di tempat tidur."

Sehun tertawa mendengarnya. "Apa kau bercanda soal payah di ranjang?"

"Tidak. Hanya ingin dipuji saja." Luhan menyandarkan kepalanya di dada Sehun, lengannya melingkari pinggang pria itu. "Dan...ya... untuk menjawab pertanyaanmu. Aku begitu menginginkan semua itu...karena aku mengetahui semua hal tentang dirimu...semua hal penting."

"Kau wanita yang luar biasa, Luhan." Sehun mencium sudut bibir Luhan. "Yang kebetulan begitu hebat di ranjang."

Cara Sehun menciumnya begitu penuh dengan kelembutan dan kekaguman. Membuat Luhan merindukan keintiman fisik untuk menyelaraskan kedekatan emosi yang sekarang dirasakannya. Ia butuh Sehun berada dalam dirinya.

"Ayo kita tes seberapa hebat aku di ranjang, sekedar memastikan saja." Luhan bisa mendengar tarikan napas Sehun yang perlahan berubah saat itu, dari cemas menjadi rileks sampai terangsang. "Tapi pertama-tama, ada baiknya kau memintaku menikah denganmu dulu."

Sehun menghirup aroma lembut mawar dari tubuh Luhan. Ia menatap ke dalam mata Luhan dan meraih tangan Luhan ke dalam genggamannya. "Well...ini memang tidak romantis. Namun, aku tetap harus melakukannya." Ada jeda sejenak sebelum Sehun melanjutkan perkataannya. Luhan telah memusatkan perhatian sepenuhnya pada Sehun, menanti kelanjutan dari perkataan Sehun. Pria itu menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. "Xi Luhan, menjadi istri dan ibu dari anak-anak kita kelak? Menghabiskan sisa hidup bersamaku. Aku sangat mencintamu dan aka selamanya mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?" Sehun mengakhiri lamarannya dengan sebuah ciuman lembut di bibir Luhan.

Mata cokelat Luhan tampak melembut dan membulat. Awalnya ia hanya bermaksud untuk menggoda Sehun, namun godaannya dianggap serius oleh pria itu. "Sehun, aku..." Luhan mengerjapkan matanya. "Kau...kau melamarku?"

"Ya, aku melamarmu. Aku mencintaimu dan ingin menikahimu. Apa kau menolak menikah denganku?"

Luhan mengerjapkan matanya lagi, ia menatap Sehun, membuat pria itu merasa cemas luar biasa. Ya meski Sehun yakin Luhan akan menerima lamarannya, namun tetap saja kediaman wanita itu membuatnya cemas.

"Aku sangat mencintaimu Sehun. Aku tentu saja mau menikah denganmu." Luhan memeluk Sehun.

"Terima kasih, terima kasih sayang." Sehun menghujani Luhan dengan ciuman. Dari ciuman mulai meningkat menjadi lumatan. Hingga akhirnya Luhan mendorong Sehun menjauh.

"Tahan dirimu, Tuan Oh. Urusan kita belum selesai." Sehun mengerutkan keningnya. Baru ia akan bersuara, Luhan sudah lebih dulu bersuara. "Kita belum menyelesaikan urusan bayi ini, Tuan Oh." Luhan meraih tangan Sehun dan meletakkanya di perutnya. "Bayi ini sudah menjadi bayi kita. Dia anakmu juga Sehun."

.

.

The Pregnancy Test

.

.

Sehun mencium Luhan setelah itu. Karena ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia butuh menuangkan semua hasrat, emosi, dan cintanya pada Luhan. Ada begitu banyak perasaan begitu banyak emosi, lebih dari yang mungkin diyakininya.

Sehun semakin memperdalam ciumannya. Kini ia mulai mengajak lidah Luhan saling bertarung, tangannya menahan belakang kepala Luhan agar ciuman mereka tidak terputus. Perang lidah itu baru berakhir saat Luhan mendorong kuat tubuhnya menjauh. Wanita itu nampak terengah-engah.

"Aku belum ingin mati sebelum hari pernikahan kita tiba, Tuan Oh." Wanita itu berusaha mengatur napasnya.

"Maafkan aku, Nyonya Oh. Aku tidak dapat menahan diriku. Kau sangat menggairahkan." Sehun menjilat bibirnya. "Bukankah tadi kau mengatakan akan membantuku membuka celanaku?" seringai Sehun.

Gairah Luhan yang tadinya hampir surut kini berkobar kembali. Ia tersenyum secara menggoda, perlahan-lahan bergerak mendekati Sehun, bibirnya mendekati telinga Sehun. "Tentu saja aku akan membantumu melepaskannya." Bisik Luhan seduktif. Tangannya mulai bergerak lincah membuka celana Sehun.

Tak mau kalah dengan pergerakan Luhan, Sehun kembali melumat bibir wanita itu sambil tangannya meremas kasar payudara Luhan dari luar dress nya, menyebabkan wanita itu melenguh. Setelah Luhan berhasil membuka celananya, wanita itu mendorongnya hingga berbaring di atas ranjang dan menahan tubuhnya agar tidak bangun.

"Hari ini biarkan aku yang menunggangimu, Tuan Oh." Ujar Luhan dengan nada menggoda.

"Tidak. Biar aku saja yang bekerja Nyonya Oh." Tolak Sehun.

"Ck...ayolah Sehun. Buku itu tidak menuliskan bahwa posisi woman on top berbahaya. Jadi, biarkan aku yang berada di atasmu."

Sehun mendengus. "Buku itu memang tidak menuliskan, tapi bukan berarti tidak berbahaya. Lebih baik kita ikuti saja saran dalm buku demi keamanan." Sehun berusaha bergerak untuk membalikkan posisi mereka, sayangnya Luhan justru mengunci pergerakannya.

"Aku pernah melihatnya di film. Wanita hamil bercinta dengan posisi woman on top. Bukan hanya satu film tapi di beberapa film. Lagipula saat di Saipan, kita juga pernah bercinta dengan posisi itu kan. Dan tidak ada masalah setelahnya."

Sehun menghembuskan napasnya kasar. "Baiklah...baiklah...lakukan sesuai keinginanmu. Hanya hari ini." Pasrah Sehun. Ia yakin Luhan tak akan mau mengalah hari ini, jadi lebih baik mengikuti kemauan wanita itu.

Luhan tersenyum senang. Ia menghujani Sehun dengan ciuman. "Betapa beruntungnya aku memiliki calon suami pengertian sepertimu, sayang."

"Jadi, apakah kita bisa memulai acara malam kita, Nyonya Oh?"

"Dengan senang hati, Tuan Oh."

Mereka kembali saling melumat. Tangan Luhan bergerak melucuti pakaian Sehun, sedangkan pria itu telah berhasil menurunkan dress Luhan sebatas pinggang sekaligus melepaskan branya.

Ketika Luhan berhasil membuka kemeja Sehun, ia tertegun melihat dada kanan pria itu. Sebuah tato "DeerLu" berukuran sedang terpampang di sana. Perlahan Luhan mengusap dada Sehun, pria yang tangannya sedang sibuk menari di atas payudara Luhan menggeram kecil.

"Kau menyukai tatoku?" Sehun menahan gerakan tangan Luhan.

"Ya, aku menyukainya. Sangat cocok denganmu. Tapi kenapa "DeerLu" dan berada di dada kanan?"

Sehun tersenyum. "DeerLu" jika kau membacanya akan terdengar seperti "DearLu", "Lu" dari namamu. Artinya seperti Luhan sayang. Dan soal kenapa letaknya di dada kanan, karena dada kanan adalah tempat jantungku berada. Bagiku...kau adalah jantungku Luhan, kau adalah segalanya dalam hidupku. Aku mencintaimu Luhan." Sehun memajukan badannya ke arah Luhan. Mencium kening wanita itu.

"Aku juga mencintaimu Sehun." Luhan balas mencium kening Sehun. "Lalu bagaimana dengan tato di lenganmu?" Luhan meraih tangan Sehun.

"Awalnya aku bingung. Akan merekonstruksinya dengan gambar apa. Tiba-tiba saja seoran pengirim bunga lewat di depan tempat tato, dan aku teringat akan aroma tubuhmu. Aroma mawar." Sehun meletakkan kepalanya di leher Luhan, menyesap aroma mawar yang menguar.

"Ck...dasar mesum!" suara tawa Luhan menyapa telinga Sehun.

"Setelah tato itu selesai. Aku merasa ada yang kurang, makanya aku meminta untuk ditambahkan akar yang terbentuk dari kalimat dalam bahasa Latin...C'est pas moi qui te cherche, mais le destin que nous retrouve. Bukan aku yang mencarimu, tapi takdir yang mempertemukan kita, itu artinya."

"Cih! Sepertinya Jepang telah merubahmu menjadi seorang perayu."

"Bukan Jepang yang merubahku. Tapi kau yang merubahku. Merubah hidupku. Terima kasih, Lu." Sehun menyesap leher Luhan kuat.

"Ahhhh..." erangan pembukaan dari Luhan. Segera wanita itu mendorong Sehun hingga kembali berbaring di tempat tidur.

"Bukankah kita telah sepakat bahwa aku yang bekerja hari ini?" Luhan menatap Sehun tajam.

"Maafkan aku, Madam." Sehun mengangkat kedua tangannya. "Aku tak sabar memulai acara kita." Sehun mengedipkan matanya.

"Sebelum acara dimulai, bisakah kau membantuku membebaskanku dari semua penghalang ini?" Luhan menggerakkan pinggulnya, sehingga kejantanan Sehun dan vaginanya yang masih tertutup celana dalam bergesekan.

"Uggghhhh...kau bertambah nakal Nyonya Oh. Dan dengan senang hati Nyonya."

Secepat kilat mereka berusaha saling menelanjangi. Ketika mereka telah sama-sama telanjang, Luhan mulai menyerang Sehun. Ia mulai mengecupi dada bidang kekasihnya. Sedangkan sang tangan kekasih kembali memainkan payudara Luhan. Meremasnya, mengusap kasar putingnya. Erangan mulai terdengar memenuhi kamar Sehun.

Puas bermain dengan dada masing-masing, sekarang mereka saling melumat. Tangan Sehun yang semula bermain di dada Luhan, telah berpindah ke vagina Luhan. Ia mengusap lembut vagina Luhan.

"Ennnggghhhh..." erang Luhan. Tak tinggal diam, tangan Luhan yang tidak sibuk bermain dengan rambut Sehun, bergerak menuju kejantanan pria itu. Ia kemudian meremas kuat kejantanan pria itu.

"Arrrrggghhhh..." erang Sehun, sekaligus mengakhiri sesi melumat mereka dan permainan tangannya pada vagina Luhan.

"Aku baru sadar...bukan hanya payudaraku yang berubah bentuk tetapi kejantananmu juga sayang." Luhan menggerakan tangannya.

"SSshhhhh..." desis Sehun. Ia memejamkan mata, menikmati permainan tangan Luhan pada kenjantanannya. Ia tidak dapat bergerak akibat dari kenikmatan melandanya.

"Kita harus mempersiapkannya untuk pertempuran sayang." Luhan mempercepat gerakan tangannya. Tangannya yang bebas meraih tangan Sehun, menaruhnya di atas payudaranya dan menekan kuat payudaranya. "Oooohhhhh..." erang Luhan.

Setelah yakin kejantanan Sehun telah tegak sempurna, Luhan mengangkat bokongnya, memposisikan vaginanya tepat di atas kejantanan Sehun. Perlahan ia bergerak turun.

"Aaakkhhhh/Ougghhhh..." erang keduanya bersamaan.

Luhan tidak langsung bergerak. Ia menatap Sehun. Dapat dilihatnya Sehun juga tengah menatapnya, tatapan pria itu telah diselubungi kabut gairah.

"Bergeraklah, sayang!" perintah Sehun.

Luhan tersenyum. Ia mulai menggerakan pinggulnya perlahan-lahan.

"Akkkhhh...akkkhhhh..." erang Luhan.

Sehun memegang pinggul Luhan, membantu wanita itu bergerak. "Ooooohhhh...kau selalu tahu...membuatku gila Nyonya Ohhhh..."

"Occchhhh...oooccchhh...Ohhhh...Seeehhunnn..." Luhan mendesahkan nama Sehun.

"Yeesshhhh...Call...Me...Babyyy...yessshhh..." balas Sehun.

Gerakan Luhan bertambah cepat, menyebabkan erangan mereka meningkat.

"Akkhhhh...occchhhh..."

Sehun berusaha bangun, beruntung perut Luhan meski mulai membesar tetapi tidak menghalangi Sehun melumat bibir Luhan. Kini posisi mereka bukan lagi woman on top, melainkan posisi duduk dengan Luhan tetap sebagai pemegang kendalinya.

"Ooccchhhh...mmmppphhhhhh..." erangan Luhan terhalang bibir Sehun.

"Grrrgggghhh...hhhhh" geram Sehun di sela-sela ciuman mereka.

"Mmppphhhh...mpphhhh...mmpphhhh..." Luhan menepuk dada Sehun.

"Ohhh...Luhhh...jangan menjepitnyaaa..." Sehun membebaskan bibir Luhan.

"Ahhhh...ahhhh...kuuu...tidak...ahhhh...menjepitnya..." Luhan memutar pinggulnya.

"Uggghhhh...ughhhh..." Sehun membenamkan kepalanya tempat favoritnya.

"Ooocchhhh...occchhhh...Oocchhhh..." Gerakan Luhan meningkat dan tidak teratur, tubuhnya mulai menegang. Ia juga menekan kepala Sehun yang sedang sibuk mengulum putingnya.

"Kenapa...payudaramu tak mengeluarkan susuhhh...sayang?" tanya Sehun ditengah aksi mengulumnya.

"Hnnggghhh...aahhhh...ahhhh...akkhhhh" Luhan sibuk mendesah. Tanda orgasmenya semakin dekat. Dinding vaginanya semakin menjepit kenjantanan Sehun.

"Sayangggghhhh...ahhhh..." Sehun semakin gencar bermain di payudara Luhan.

"Hmmmm….ahhhh…ahhggghhh…" erangan Luhan lebih intens merasakan kenikmatan bertubi-tubi.

"Sayanggg...kauuhhh...menjepitnyaaa..."

"Sehunnn...akuuu...akuuuu...orgassshhhhmee...ku akan...datanggg." kata Luhan tersenggal-senggal.

"Kau luarr biasa...Luhhh..." Sehun mengecup leher Luhan membuat jejak lainnya.

"Oogghhh...ahhhhh...ahhhhh...Akhhhh..." Luhan mencengkeram pundak Sehun.

"Kau sangatttt nikmaatttt sayang...ggrrrhhhh..."

"OHHHH...SEEEHHH...HHUUUNNNN..." erang Luhan panjang dan keras. Orgasmenya datang. Wanita itu berhenti bergerak, matanya terpejam menikmati masa-masa orgasmenya. Ia mengalungkan lengannya di leher Sehun. Mencari topangan. Tubuhnya terasa lemas pasca orgasmenya.

Sehun mencium Luhan, kemudian dengan cepat ia menarik tubuh Luhan, berganti posisi tanpa mengeluarkan kejantanannya dari vagina Luhan. Kini Luhan telah berada di bawahnya, dalam keadaan lemas pasca orgasmenya.

"Aku tahu buku itu tidak menyarankan posisi ini. Tetapi kita perlu menyelesaikannya segera." Perlahan Sehun mulai menggerakan pinggulnya dalam tempo lambat.

"Ahhhh...ahhhh..." erang Luhan lagi. Wanita itu tersenyum pada Sehun dengan tatapan sayunya.

"Ohhhh...akuuu...mencintaimu sayang."

"Akkkhhhh...akhhhh...akhhhh." Luhan mengerang sebagai jawaban, matanya terpejam menikmati gerakan Sehun.

"Akuhhh...akan membuatmu...orgasssmeeehhh berkali-kali sayang." Sehun mempercepat gerakannya.

"Akkhhhh...occchhhh...occchhhh...Seehhh...uuunnnnn...akkkhhh..."

"Call meee...babyyyy...Aku suka...kau mendesahkan namaku..."

"Occhhhh...aaakkkhhhh aakkkhhhh...akhhhhh..." Sehun menyodok tajam vagina Luhan.

"Oouuggghhhh...kita...sudah membuktikan kehebatanmu...Luhhhh..."

"AAAkkhhhhh...oooohhhhh...oohhhh...kejantananmu luar biasaaaa...ahhhh..."

"Aku akan datang...Luhannnn...ggrrggg..." Sehun menarik keluar kejantanannya, kemudian memasukannya kembali dalam sekali sentakan.

"AAAKKKKKHHHHH..." Hujaman kejantanan Sehun menghantarkan Luhan pada orgasmenya yang kedua.

Tahu Luhan telah meraih orgasme keduanya, Sehun tidak menghentikan gerakannya. Ia bahkan semakin tajam menyodok vagina Luhan. Kejantanannya pun mulai membesar.

"Tahannnn...sedikit lagi...Luuu..."

"Ahhhh...akhhhhh...akhhhh...kubunuhhh kauuu ohhhhh..." Luhan mengerang, sambil memaki Sehun.

"Ahhhh...kauuu...tak akan sanggup melakukannya."

"Ouuccchhh...ooouuuccchhh...jika...hingga orgasmeku yang ketiga kau tidak datang juga. Akan kukebiri kejantanannnnn...muuuu..." kata Luhan bercampur dengan desahannya. Ia juga ikut menggerakan pinggulnya. Berharap dengan demikian orgasme Sehun akan segera datang.

"Sedikit lagi..." Sehun menahan pinggul Luhan.

"Aaaakkkkhhhh...Ouuuccchhhh...aakkhhhhh..."

"Hngggghhhh...hhnnggghhhh..."

"Ohhhh...aku akan datanggggg...lagiiii..." Tubuh Luhan kembali menegang.

"Yaaa...aku juga sayangggg..."

"Cepatlahhhh...ahhhh...akkkhhhh...bergeraklahhhh lebih cepattt..."

Sehun tersenyum mendengar permintaan Luhan. "Tidak...kitahhhh...tidak bisa bergerak lebih cepat lagi..."

"Ohhhh...siiiaaallll...akhhhh...kauuuu...OOOOHHHH SEEHUUUNNNN." Maki Luhan bersamaan dengan orgasme ketiganya, sekaligus orgasme pertama Sehun.

"AAARRRGGGHHHH..." Sehun menggeram kuat. Akhirnya orgasmenya datang. Ia mengatur napasnya, sambil menatap Luhan.

Ditengah masa orgasme Sehun, Luhan dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya segera saja mendorong Sehun dari atas tubuhnya. Ia khawatir Sehun akan melanjutkan aksinya. Hal ini menyebabkan sperma Sehun yang belum berhenti keluar, muncrat mengenai tangannya ketika kejantanan Sehun keluar dari vaginanya.

"Ohhhh...astaga...kenapa kau tidak menunggu hingga selesai." Pekik Sehun kaget.

Luhan tidak menjawab. Ia justru meraih selimut Sehun kemudian menyelimuti tubuh polosnya. Dan segera memejamkan mata dengan posisi memunggungi Sehun.

"Apa kau marah karena aku tak kunjung orgasme?" Sehun ikut masuk ke dalam selimut. Memeluk tubuh polos Luhan dari belakang. "Maafkan aku! Mungkin karena hari ini kita bercinta tanpa beban dan dalam suasana mendukung, jadi aku bertahan lama." Sehun mengecup pundak Luhan. Berharap ada reaksi dari Luhan.

"Tidak. Aku tidak marah. Hanya lelah dan mengantuk." Jawab Luhan tanpa berbalik menghadap Sehun. "Kau juga istirahatlah." Katanya lagi.

.

.

The Pregnancy Test

.

.

Samar-samar, dari sudut otaknya yang masih mengambang, Luhan mendengar smartphone nya bergetar.

"Mungkin sebaiknya kau mengangkatnya. Smartphone mu terus bergetar dalam waktu satu jam belakangan ini."

"Pasti dari sahabat-sahabatku. Mereka mencemaskanku." Jawab Luhan masih dengan mata terpejam.

"Aku akan mengangkatnya." Sehun menjangkau smartphone Luhan. "Halo?" ujar Sehun, suaranya rendah dan serak akibat aktivitasnya dan Luhan tadi.

Pekikan seorang wanita terdengar hingga ke telinga Luhan. Padahal jaraknya dengan smartphone nya agak jauh.

"Apa-apaan ini?" Sehun menjauhkan telinganya dari smartphone Luhan.

Akhirnya Luhan mengambil smartphone nya dari Sehun. "Kyung? Ada masalah apa?"

"Luhan?"

"Ya?" Mungkin seharusnya ia menjawab teleponny daritadi sehingga tidak menimbulkan kehebohan di apartemennya.

Kyungsoo menghela napas, lalu tertawa. "Ketika Sehun yang menjawab teleponmu, Xiumin yakin sekali kalau dia sudah membunuhmu."

Butuh waktu sejenak bagi Luhan untuk mencerna perkataan Kyungsoo. Ia kemudian memutar bola matanya. "Aku baik-baik saja. Malah bisa dibilang luar biasa. Sehun telah melamarku tadi dan aku menerimanya."

"Sungguh?" Nada suara Kyungsoo terdengar bersemangat. "Wow, itu sangat luar biasa, Lu. Aku sudah mengatakan pada Baekhyun dan Xiumin bahwa kau akan baik-baik saja. Bahwa kalian saling mencintai, dan Sehun adalah pria yang tepat untukmu."

Luhan menyeringai. "Terima kasih, Kyung. Ngomong-ngomong sekarang aku dan Sehun sedang berada dan akan istirahat. Bisakah kututup teleponnya sekarang?"

"Oh, tentu saja! Kami akan menunggumu hingga besok. Bye, Lu."

Luhan meletakkan smartphone nya di tempat semula. Matanya bertemu pandang dengan mata Sehun. "Mereka sedikit cemas setelah menemukan artikel itu, ditambah aku yang tidak mengangat teleponku."

Sehun tersenyum sekilas. "Aku rasa mereka benar-benar peduli padamu."

Luhan mengangguk. "Mereka sahabat-sahabat yang baik."

"Aku tidak sabar bertemu mereka dan memberikan kesan yang lebih baik daripada yang ada di artikel-artikel itu." Sehun kemudian menarik Luhan mendekat ke arahnya, memeluknya. "Tapi aku tidak bertemu mereka malam ini. Atau besok. Atau bahkan minggu depan."

"Kenapa tidak?" Luhan berusaha membuat suaranya terdengar polos.

"Karena kita akan sibuk dengan pernikahan kita di Saipan. Itulah sebabnya." Sehun mengecup kening Luhan.

"Sehun, kau sungguh brilian." Luhan mengecup bibir Sehun sekilas.

"Aku mencintaimu Luhan." Sehun mengeratkan pelukannya.

"Aku sangat mencintaimu, Sehun." balas Luhan.

"Tidak. Aku lebih lebih mencintaimu." Balas Sehun lagi.

Luhan menatap Sehun. "Apakah kita harus berdebat juga soal ini?" Sehun pun menatap Luhan. Mereka saling menatap dan tertawa bersama.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bonus...EPILOG...

.

-1 tahun kemudian-

"Aku mau kau mengosongkan semua jadwalku untuk minggu depan." Perintah Sehun pada sekretarisnya. Sekretarisnya saat ini bukan lagi Luhan, yang kini telah menjadi istrinya. Wanita itu berhenti bekerja saat kehamilannya memasuki usia tujuh bulan dan setelah dia melahirkan, Sehun melarangnya untuk bekerja.

"Maaf Tuan Oh. Mmmmm...apa anda akan cuti minggu depan?" tanya sekretarisnya.

"Ya. Jadi tolong kosongkan semua jadwalku selama seminggu." Sehun memijit pelipisnya. Kepalanya pening. Mungkin efek dari jam tidurnya yang kurang. Ini sudah berlangsung selama minggu ini. Jadi tidak heran jika sekarang penampilannya terlihat berantakan. Sudah seminggu ini pula ia menginap di kantor, membuatnya bukan hanya berantakan tapi tidak terawat.

Semua ini dilakukannya demi Luhan. Demi pernikahan mereka yang akan berusia setahun. Ia berencana mengambil cuti untuk merayakan ulang tahun pernikahannya dengan Luhan. Oleh sebab itu ia memilih menginap di kantor, menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum cuti. Tentu saja ia tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Luhan. Ia beralasan harus pergi ke Gwangju selama seminggu untuk memantau perkembangan proyek barunyanya disana. Dan beruntung Luhan sangat mempercayainya sehingga tidak curiga sedikit pun.

"Apa ada lagi yang harus saya kerjakan?" tanya sekretarisnya sambil mengumpulkan semua dokumen yang telah diperiksa Sehun, kemudian merapikan meja sang bos.

"Tidak ada. Kau bisa kembali ke tempatmu." Sekretarisnya pun meninggalkannya begitu Sehun menyerahkan dokumen terakhir padanya.

Sehun menghembuskan napasnya lega. Semua pekerjaannya berhasil ia selesaikan, dengan demikian maka rencananya merayakan ulang tahun pernikahannya dengan Luhan bisa segera dilakukan.

Ia pun bersiap-siap untuk pulang. Baru saja ia akan membuka pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dan Jongin muncul di hadapannya.

"Kau mau kemana?" tanya pria itu, melihat Sehun akan meninggalkan ruangannya.

"Tentu saja pulang."

"Kau yakin akan pulang...?" Jongin tidak menyelesaikan ucapannya, ia justru mengamati penampilan sahabatnya. "Kau yakin akan pulang dengan penampilan seperti ini?"

"Memang apa yang salah dengan penampilanku?"

"Oh, dude, kau...kau sangat berantakan. Lebih baik kau rapikan dirimu baru pulang. Luhan bisa curiga jika kau pulang dengan penampilan seperti ini."

"Aku bisa mengatakan padanya bahwa setelah urusanku selesai aku langsung pulang karena terlalu rindu padanya sehingga tidak sempat untuk mengurus penampilanku." Sehun tersenyum membayangkan reaksi istrinya melihat penampilannya.

"Cih! Sejak kapan kau bisa menggombal? Sepertinya kehadiran Luhan benar-benar mengubahmu."

Sehun tertawa mendengar perkataa Jongin. "Ngomong-ngomong ada apa kau ke ruanganku?"

"Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang. Tapi karena kau akan pulang mungkin lain kali saja. Dan sampaikan salamku pada Luhan dan Serin."

"Jika ada waktu datanglah ke rumah. Serin pasti senang paman hitamnya mengunjunginya." Cibir Sehun.

"Yah! Aku ini paman kesayangannya. Katakan saja kau cemburu padaku."

Sehun memutar bola matanya malas. "Ngomong-ngomong, aku akan cuti selama seminggu. Semua urusan kantor ku serahkan padamu." Sehun menepuk bahu Jongin.

"Kalian jadi pergi bulan madu?" Tiba-tiba Jongin menjadi bersemangat. "Aku harap sepulangnya kalian dari bulan madu, Serin akan mendapatkan seorang adik." Giliran Jongin yang menepuk pundak Sehun.

"Aku rasa masih terlalu cepat." Sehun tersenyum. Meski ia dan Luhan belum berencana memberikan Serin seorang adik. Tapi perkataan Jongin sedikit membuatnya terbayang akan kehadiran anggota keluarga baru.

"Aku rasa sudah saatnya kau memikirkannya. Memiliki anakmu sendiri. Darah dagingmu, Sehun." kata Jongin hati-hati.

Sehun menatap Jongin tajam. "Serin anakku, Kim Jongin."

"Serin memang anakmu, tetapi..." Sehun masih menatap Jongin tajam. Sehingga Jongin tidak meneruskan ucapannya. "Baiklah-baiklah kita tidak akan membahas itu. Lebih baik kau segera pulang. Aku yakin istri dan anakmu sudah merindukanmu." Jongin mendorong-dorong tubuh Sehun agar segera bergerak.

Sehun mendengus. "Itu yang sudah akan kulakukan sejak tadi, jika kau tidak menahanku." Sehun pun berjalan meninggalkan Jongin menuju lift.

"Jangan lupa pesanku Tuan Oh. Aku berharap kau pulang membawa keponakan laki-laki untukku." Teriakan Jongin masih dapat di dengarnya sebelum menghilang bersamaan dengan pintu lift yang tertutup.

.

- The Pregnancy Test -

.

Siang ini Luhan dan Serin, hanya tinggal berdua di rumah. Sudah seminggu ini mereka menghabiskan waktu siang mereka di rumah. Biasanya saat siang seperti ini, mereka akan pergi ke kantor Sehun untuk makan siang bersama. Tapi karena adanya tuntutan pekerjaan yang mengharuskan sang kepala keluarga, Oh Sehun, meninggalkan mereka ke Gwangju maka mereka pun melewatkan acara makan siang bersama itu.

Tampak pasangan ibu dan anak ini sedang bersantai di ruang keluarga. Luhan menidurkan dirinya di atas sofa dan mendudukkan Serin di atas perutnya.

"Pa...pa...appapapa...papapa." celoteh bayi perempuan itu. Satu-satunya kata yang bisa diucapkannya saat ini. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Berharap dapat menemukan sosok sang appa yang sudah seminggu ini tak dilihatnya.

Sehun dan Serin begitu lengket. Ini membuat Luhan terkadang merasa cemburu. Ketika suami dan anaknya sudah bersama mereka akan mengabaikan Luhan, membuatnya tampak seperti orang asing berada di antara mereka. Namun, Luhan juga bersyukur atas kelengketan Sehun dan Serin meski pada saat-saat seperti ini kelengketan itu menyebalkan.

Jika tidak mengetahui kisah kehadiran Serin, tidak akan ada yang percaya bahwa Serin bukanlah darah daging Sehun. Pasalnya, meski wajah Serin bisa dibilang sebagian besar mewarisi Luhan, namun juga mewarisi Sehun meski hanya sedikit. Bahkan Kris yang merupakan ayah biologisnya -sekarang katanya menetap di Kanada- tidak meninggalkan warisan apapun pada wajah putrinya. Sehingga tak heran orang-orang yang tak mengetahui yang sebenarnya, mengira Oh Serin anak kandung Oh Sehun dan Xi Luhan. Hal ini tentu saja membuat Luhan sangat-sangat bersyukur. Terdengar kejam memang, tetapi Luhan memang tidak mengharapkan adanya warisan Kris pada wajah putrinya.

"Appamu belum pulang dari Gwangju, sayang." jawab Luhan lirih. Seminggu mereka tidak bertemu membuatnya rindu. Apalagi selama seminggu ini Sehun jarang menghubunginya. Membuat kerinduannya membuncah.

Bayi perempuan itu merenggutkan wajahnya. Tidak terima dengan jawaban yang diberikan sang eomma.

"Appapapapa...papapaaaa..." Serin mulai merenggek, melonjakkan badannya di atas perut Luhan. Membuat sang eomma kewalahan.

"Oh Serin, berhenti bergerak sayang. Kau bisa terjatuh." Luhan berusaha menahan tubuh putrinya.

"Papapapapapa...apppaaapaaaaa...hiksss...hiksss...hiiikkkksss" ia mulai menangis. Luhan memijit keningnya. Ia tidak mengerti kenapa siang ini Serin lebih rewel dari biasanya.

"Baiklah, kita akan menelepon ayahmu." Luhan meraih smartphone nya. Melihat eommanya mengambil benda yang dapat membuatnya mendengarkan suara sang appa, seketika tangisannya langsung berhenti, dan telah berganti menjadi sebuah tawa.

"Appapapapa...papapapappa..." celotehnya lagi. Sedangkan sang eomma sedang berjuang menghubungi sang appa.

"Ck...kemana kau Oh Sehun?" gerutu Luhan, karena Sehun tak mengangkat teleponnya. Setelah mencoba beberapa kali dan tak kunjung mendapat jawaban. Luhan meletakkan lagi smartphone nya. "Appamu sepertinya sedang sibuk sayang. Jadi kita tunggu saja telepon darinya. Oke?" Luhan kemudian menghujani putrinya dengan ciuman. Tawa Serin memenuhi ruang keluarga. Sepertinya karena serangan ciuman dari Luhan membuatnya lupa dengan sang appa.

"Appapapapa...Huhh...huhhhh." celotehan Serin menyebabkan Luhan membelalakkan matanya. Meski hanya semacam celotehan khas bayi, Luhan sadar anaknya sedang berusaha menyebutkan nama Sehun. Walaupun yang keluar dari bibir mungilnya hanya "huh huh".

"Kau mengatakan apa sayang?" Luhan mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar.

"Appapapapa...huhhh...appapapapapa...huhhh." celoteh bayi itu lagi. Tubuhnya bergerak-gerak senang.

Luhan mengerucutkan bibirnya, tanda merajuk. "Kau bahkan belum bisa memanggilku eomma. Tapi sudah mulai memanggil nama appamu." Serin tertawa melihat ekspresi Luhan. Ia memang tidak mengerti perkataan eommanya. Namun ekspresi Luhan, baginya sangat lucu. "Serin~ah. Coba kau ucapkan eomma." Luhan mencoba mengajar Serin.

"Appapapa..." jawabnya.

"Bukan appa. Eomma...eomma." Tekan Luhan pada kata eomma.

"Appaaa...apppaaa." Serin memanggil sang appa sambil bertepuk tangan senang.

"Eommaaa...katakan eomma...eomma...mama." Luhan belum menyerah mengajar putrinya.

"Appapapa...Huhhh...Appapapapa...Huhhhh..." Lagi-lagi bayi ini melonjakkan badannya sambil bertepuk tangan. Matanya memandang ke arah tangga yang berada di belakang Luhan.

Luhan mendengus. "Ya...ya...panggil saja terus appamu. Kau memang lebih sayang padanya daripada eomma." Rajuknya.

"Tapi appa mencintaimu eomma." Dapat Luhan rasakan sebuah bibir mendarat di keningnya. Sontak Luhan memekik dan segera bangun dari posisinya.

"Astagaaa...kau membuatku kaget. Kapan kau sampai? Aku tidak mendengar suara mobil atau pintu rumah terbuka." Berondongnya pada sang suami.

Sehun tidak langsung menjawab pertanyaan Luhan. Ia segera mengambil Serin dari gendongan Luhan. Menghujaninya dengan ciuman. Membuat tawa Serin terdengar lagi memenuhi ruang keluarga, sekaligus kerucut di bibir Luhan.

"Rupanya kau lebih rindu pada putrimu daripada istrimu. Kalian berdua sama saja." Luhan menghempaskan lagi tubuhnya ke sofa.

Sehun tertawa mendengar perkataan sang istri. Ia pun segera menyudahi hujan ciumannya pada Serin. Ikut mendudukan dirinya disamping Luhan, kemudian menaruh Serin di tengah-tengan mereka.

"Tentu saja aku merindukan istriku." Sehun mengecup kilat bibir sang istri. "Berada jauh darimu selama seminggu. Membuatku rindu, sangat rindu." Sehun kali ini melumat bibir Luhan. Beruntung putri mereka sedang sibuk bermain dengan tangan Sehun yang bebas sehingga tidak memperhatikan aktivitas orangtuanya.

Luhan mendorong tubuh Sehun, menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Ck...kau ingin menjadi duda lagi?"

Sehun tertawa, ia mencium kilat bibir Luhan, lalu segera berdiri. "Aku akan membersihkan diri dulu. Aku berantakan dan bau."

"Cih! Akhirnya kau sadar." Dengus Luhan. Wanita itu menyipitkan matanya saat melihat penampilan suaminya yang sedang berjalan menuju kamar mereka. "Tunggu!" Sehun menghentikan langkahnya.

"Kenapa? Kau ingin membantuku bersih-bersih?" ucapnya dengan nada menggoda.

"Ck! Dasar mesum." Luhan tengah berjalan ke arahnya sambil menggendong Serin. "Kau benar dari Gwangju?"

"Ya." Jawab Sehun bingung dengan pertanyaan Luhan.

"Lalu ada apa dengan penampilanmu? Kau tidak sedang membohongiku kan Tuan Oh?" Luhan menatap tajam suaminya. "Kau tidak dari apartemen wanita hamil lain kan?" tuduh Luhan. Sehun pun tertawa keras.

"Hanya kau wanita hamil yang kukenal...ahhhh...mungkin sekarang bertambah dengan Baekhyun. Tapi aku tidak berminat dengan wanita hamil lain. Hanya kau wanita hamil yang mampu menarik perhatianku dan menggodaku." Sehun mengedipkan matanya.

"Ck! Selain mesum kau juga gombal." Luhan masih menatap tajam Sehun.

"Baiklah! Aku mengaku. Aku tidak ke Gwangju! Selama seminggu ini aku menginap di kantor. Membereskan semua pekerjaanku karena minggu depan aku akan pergi ke Saipan dan Bora-bora selama seminggu."

"Apa?" pekik Luhan. Serin yang kaget menepuk bibir Luhan, melayangkan protes.

"Sayang, kau membuat putri kita kaget." Sehun mengambil alih Serin.

"Untuk apa kau kesana? Bersama siapa?"

"Emmmm...aku kesana untuk sebuah proyek khusus. Dan aku pergi bersama sekretarisku." Sehun menatap Luhan, melihat reaksi istrinya.

"Kau...pergi bersama sekretarismu? Berdua?"

"Ya. Hanya berdua. Ini kan proyek khusus." Jawab Sehun mantap.

"Kau!" geram Luhan. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung mengambil Serin dan segera masuk ke kamar.

Sehun tertawa melihat tingkah istrinya, kemudian nenyusul istri dan anaknya. Saat ia masuk ke kamar, ia menemukan Luhan sedang berbaring di tempat tidur mereka dengan posisi membelakangi pintu.

"Apppaaaapapapaa." Panggil Serin saat melihat dirinya.

"Jangan panggil appamu. Eomma lagi sebal padanya." Ujar Luhan.

Sehun mendekati tempat tidur, berbaring di belakang istrinya, dan memeluknya.

"Tak usah memelukku. Bukankah sudah ada sekretarismu?" Luhan menghempaskan lengan Sehun dari pinggangnya.

"Sayang, aku belum selesai bicara. Aku..."

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Luhan memotong perkataan Sehun.

Sehun menarik napasnya. Mengabaikan perkataan Luhan. "Aku memang akan pergi ke Saipan dan Bora-bora bersama sekretarisku...tepatnya mantan sekretarisku yang telah menjadi istriku." Luhan membalikkan badannya menghadap Sehun. "Kita akan pergi bulan madu sayang." Sehun mengecup bibir Luhan cepat.

Sedangkan sang istri sedang memproses perkataan suaminya. Sehun menyerahkan sebuah amplop putih dan pasport Luhan. "Bukalah!"

Luhan mengambil amplop itu dan segera membukanya. Mengamati tiket yang diberikan Sehun padanya. Sekedar memastikan bahwa benar namanya yang tertera disana.

"Inilah yang membuatku harus menginap di kantor selama seminggu. Apa kau suka sayang?" Sehun memeluk Luhan. Tidak ada reaksi dari Luhan. Raut wajah wanita itu justru nampak sedang berpikir. "Apa ada masalah?" Sehun menatap Luhan.

"Bagaimana dengan Serin? Tidak bisakah kita pergi bertiga? Aku tak yakin sanggup jauh darinya selama seminggu." Luhan balas memeluk Sehun. Sepertinya kekesalannya pada Sehun telah berganti menjadi kekhawatiran akan putrinya.

"Soal itu kau tak usah khawatir. Ibuku akan menjaganya selama kita bulan madu, sayang."

"Tapi bagaimana jika dia mencariku? Kau tahu kan dia masih menyusu padaku."

"Kalau begitu nanti aku yang akan menyusu padamu."

Luhan memukul pinggang suaminya. "Kalau kau aku tidak akan khawatir...Serin belum terbiasa minum susu formula, itu masalahnya."

"Kalau begitu kita akan membiasakannya hingga hari keberangkatan kita." Sehun melepaskan pelukannya pada Luhan, bergerak cepat menyambar putrinya yang nyaris jatuh. Sepertinya karena keasyikan mereka membuat mereka lengah mengawasi Serin. Ia meletakkan Serin di tengah-tengah mereka. "Jadi bagaimana?"

"Kau penuh dengan kejutan Tuan Oh. Dan aku mau pergi bulan madu denganmu. Mungkin sudah saatnya aku belajar dan membiasakan diri juga berpisah dengan Serin." Jawab Luhan, kemudian menghujani putrinya dengan ciuman.

"Sempurna." Sehun pun bergabung dengan Luhan menghujani Serin dengan ciuman. Lagi-lagi tawa Serin bercampur dengan tawa mereka memenuhi kamar tidur mereka.

"Ngomong-ngomong, proyek khusus apa yang kau maksud tadi?" Luhan mengakhiri serangannya pada Serin, membiarkan suami dan putrinya melanjutkan acara mereka.

"Ahhh...kau akan tahu nanti disana, sayang." Sehun dengan cepat menyambar bibir Luhan, wanita itu terpekik sebentar lalu membalas ciuman suaminya. Mereka saling melumat. Menyalurkan kerinduan dan kebahagiaan mereka. Lagi-lagi mengabaikan putri mereka yang hanya bisa mengerjapkan matanya melihat aksi orangtuanya.

.

.

.

.

.

.

.

THE PREGNANCY TEST OFFICIAL END

.

.

.

.

.

.

Annyeonggggg readerdeul sekaliaaaannnnn *lambai-lambai bareng Hunhan*

The Pregnancy Test udah resmi END *ketok palu*

Maap ya kalo selama ini FF ini lama banget updatenya XD Termasuk chapter 7B nya ini...Readerdeul miaaaannn *deep bow*

Btw, gimana kah chapter terakhir ini? Mengecewakankah? XD

Apa semua pertanyaan dan requestan kalian udah terpenuhi di chapter ini?

NC...NC nya gimana? Apa masih kurang hot? Youn saranin klo kurang hot bisa baca di sauna, deket kompor ato perapian kekekekkekeke *V*

Dan sehubung dengan berakhirnya FF ini...Youn mengucapkan banyak sangat banyak terima kasih buat kalian yang telah mendukung FF ini dari awal hinggan akhir...duhhhh...Youn terharu dgn support kalian *peyuk+cium atu2*

Juga buat para reader disini yang mungkin juga mengikuti FF Youn yang sedang on going, maaf sebesar-besarnya semua FF itu belum bisa Youn selesaikan dalam waktu dekat. Ga usah kuatir pasti Youn selesein kok FF nya :D Tapi nanti setelah Youn kelar dengan segala urusan skripsi (pengumpulan, sidang, revisi, percetakan). Jeongmal mianhe! *deep bow* and gomawo atas pengertiannya XD

Okelahhhh...daripada Youn kebablasan ngobrolnya mending pamit ajalah kekekkke

Kalo kalian mau ngobrol atau sekedar tanya2 gitulah bisa PM Youn...mention twitter/LINE mjjeeje *numpang endorse hahahahahha* mau tau wajah Youn kali aja masih ada yg penasaran Youn cewe or cowo silahkan maen2 ke ig Youn natanazyx (mention for folback, jgn lupa jg sebutin uname FFn kalian ya biar Youn tahu kekekekeke)

PENUTUP...REVIEW JUSEYO! ^^

.

.

.

.

.

JEONGMAL GOMAWO:

Nisaramaidah28 – OhByunSoo – Odult Maniac – noVi1Guest – Luhan Oh – AmeChan95 – 8286_ShoYun – AmeChan95 – BoraSISTARK – xiaolu odult – artiosh – lisnana1 – Oh SeRa Land – exindira – DijaminMasihPerawan – niasw3ty – ThehunLuhanieYehet – ruixi1 – Rury0418 – kioko2121 – zoldyk – monic maniz – jdcchan – mellamolla – HunHanCherry1220 – Xopeceye77 – hea – Oh Juna93 – luhannieka – Hohoho61noVi2pinzame – Rly C JaeKyu – Oh LuYan – ohsehawnn – Kiela Yue – lovely auntumn – oh chaca – HUNsayHAN – sehunsdeer – sandrimayy88 – karwurmonica – kimsaera61 – deva94bubeteaPrincess Hyuga – BLUEFIRE0805 – pinkupinku00 – lu mami jungkook – Thunderlight21 – Favoriters – Alerters – Followers – Semua reader yang belum nampak

*noVi1: Gomawo...gomawooo...Tapi tembok kamar km jd kotor dong chapter ini udah finish Maap ya updatenya suka lama dan mungkin cepet(?) finishnya XD

*Guest: Wkwkwkkwkwk drpd dicopotin giginya mending copotin bajunya aja –ehhhh- Untung kontraknya d FF ini udah end duluan jd g bakal ngeliat(?) gigi majunya lg kekekkke...

*8286_ShoYun: Sebenarnya chapter kmrn mw aq bwt lgsg tamat eonn cm ada bbrp pertimbangan jd g jd lgsg tamat kekekkekekkeke...semoga aja chapter ini dah cukup panjang dan endingnya g mengecewakan

*hea: Youn punyanya heels 12cm kekkekekke 20cm terlalu tinggi XD Maap ya updatenya lama

*Hohoho61: Kemarin rencananya pas Luhan ultah tp krn ada problem jd batal deh Maap ya slow update XD

*noVi2: Chapter ini end wahhh Youn cuma bisa kasih sepenggal epilog bikinan sendiri wkwkkwkwk...Klo sequel belum kepikiran nih

*pinzame: Mungkin km yg membayangkannya terlalu hot kekkekkeke mungkin masih efek boxer Sehun (btw, klo ada pikunya boleh dong bagi2 ke Youn ;D) Pastinya kado Sehun k Luhan lbh ISTIMEWA dibandingkan ke tante MiKer hohohoho

*oh chaca: Tentu aja dong kekekkeke kan demi kebahagiaan Luhan Akhirnyaaa mereka udah nikah...YEHET!

*deva94bubetea: chapter kemarin emang pendek karena merupakan part 1 hehehhehe apakah chapter ini udah cukup panjang? Maap ya lum bisa update kilat

*Princess Hyuga: Annyeong ching...wkwkkwkwk Sehun kan berhati lembut terhadap wanita *plakkk* buat nangis itu yg paling parah hahahahha...Wahhh...sayang pemenangnya si Serin, Oh Serin kekekkeke Kris kan emang nyebelin chingu...ga konsisten –jadi nostalgia EXO Showtime Ep 1...baper kan jd nya - Luhan udah santai soalnya ada Sehun d sampingnya cieeeeee...padaha menurut dokter sex saat usia kandungan stlh masa trisemester sangat dianjurkan dan kata bagi yg menjalankan lbh nikmat –plakkk-

*lu mami jungkook: Wkwkkwkwkkwk mungkin udah reflek lu kali tan...tiap abis baca klik review hahahahaha Ati2 tan lu jd move on ke Sehun kekekkeke banyak bgt loh yg jatuh cinta ma karakter Sehun disini dan pengen ngelempar Kris jauh2 XD NC chap kmrn ilham gw kurang tan...diburu waktu soalnya kekekkeke klo yg chapter ini gmn? XD

PS: Bagi yang merasa udah review tapi nama tidak disebutkan bisa PM ato lapor ulang saat review lagi :D