Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 10 of

Genre : Romance

Summary :

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Seokjin terdiam. Ia hanya diam berdiri didepan pintu tanpa berniat melangkah mendekat ataupun membuka bibirnya. Ia hanya memandang kosong ke arah Namjoon yang masih berdiri ditempatnya. Namjoon masih sama, masih sosok yang sama dengan seminggu lalu terakhir kali mereka bertemu. Hanya saja rambutnya kini berubah, warnanya menjadi hijau mint tanpa poni yang membuat wajahnya terlihat sempurna. Dan sosok itu juga yang membuat dada Seokjin sesak.

Seokjin memang tidak membalas pesan maupun mengangkat panggilan Namjoon, tapi ia juga tidak meminta namja Kim itu berhenti menghubunginya.

Sejujurnya, ia menunggu Namjoon mendatanginya, ia sangat menunggu kehadiran sosok itu yang menyerah dan mendatanginya karena ia tidak membalas satupun pesan darinya.

Seokjin tidak lupa, ia tidak lupa pertemuannya dengan ayah Namjoon yang memintanya menjauhi Namjoon. Tapi, well, ia tidak berusaha mendekati Namjoon kan? Namja itu yang justru mendatanginya. Dan lagi, memang sejak awal ia tidak berusaha memenuhi permintaan ayah Namjoon.

Jika memang Namjoon menggunakannya sebagai pemuas nafsu semata, ia bisa memblas perlakuan Namjoon dengan menjadi namja itu objek afeksinya? Setidaknya ia bisa mendapatkan sedikit kasih sayang dari sentuhan Namjoon padanya.

Dan sebelum Seokjin memutuskan sikap apa yang harus ia lakukan, Namjoon sudah lebih dulu mengambil langkah mendekat dan memeluknya, memeluknya sangat erat seakan-akan ingin meremukkan tulang-tulangnya.

"Gosh, aku sangat merindukanmu."

Seokjin tak perlu berifkir untuk membalas pelukan Namjoon, bahkan lebih mengeratkan lagi pelukan mereka. ia menyembunyikan wajahnya pada bahu Namjoon, menarik nafasnya dalam-dalam, memenuhi rongga dadanya dengan aroma menenangkan milik Namjoon, "aku juga. Aku juga sangat merindukanmu."

Sudut-sudut bibir Namjoon terngkat, membentuk sebuah senyum simpul. Tangan kirinya melingkari pinggang Seokjin erat, dengan tangan kanannya yang mengusap punggung Seokjin lembut. Bibirnya mendarat di tengkuk Seokjin, memberikan kecupan seringan kapas.

Mata Seokjin memanas mendapati perlukan sebegitu lembut dari Namjoon. Ia merasa berharga, ia merasa mendapat sandaran bagi bahunya yang sangat berat seminggu ini. Dan tanpa sadar ia menangis, untuk pertama kalinya setelah hari dimana eommanya kecelakaan.

"nam – hiks – joon. Namjoon, hiks, Namjoon." Seokjin terisak hebat, berusaha berbicara ditengah tangisannya yang justru membuatnya tersedak air iurnya sendiri. "ssstt, sudah sayang, aku mengerti, aku mengerti."

.

.

.

"eomma kecelakaan."

Kini Seokjin tengah bergelung manja dipangkuan Namjoon, memeluk erat-erat pinggang namja itu dan menyandarkan kepalanya nyaman di sisi bahu Namjoon. Ia membiarkan Namjoon melingkarkan lengannya pada pinggangnya, bahkan membiarkan tangan namja itu mengusap punggungnya tak berhenti sejak tadi. Ia merasa nyaman, dan berada dalam rengkuhan Namjoon membuatnya merasa terlindungi.

"aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Eomma masih tak sadar seminggu ini. Tagihan rumah sakit semakin membengkak, dan aku berusaha untuk melunasinya. Aku selalu berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam. Aku sering menginap di rumah sakit, dan aku melupakan Joungkook. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir aku memasak untuk anak itu. Aku merasa sangat kacau, aku tidak tahu apa yang harus aku akukan."

Namjoon menundukkan wajahnya, mengecup sisi kepala Seokjin dan memejamkan matanya, "kau bisa bergantung padaku." Seokjin tertawa sarkatik, "bergantung pada bocah SMA yang bahkan masih perlu bantuan sang ayah untuk mengurusi hidupnya? Kau pasti bercanda."

Helaan nafas panjang terdengar dari Namjoon, tangannya menyentuh sisi wajah Seokjin dan mengangkatnya, membuat keduanya saling bertatapan, "kau tak perlu mendengarkan ucapan orang tua itu, sayang. Ia hanya bercanda."

Seokjin mendengus, "candaan yang sangat tidak lucu."

Namjoon terkekeh dan mengecup ringan bibir Seokjin, "well, orang tua itu memang tidak bisa membuat lelucon yang lucu." Seokjin terdiam, dia menatap mata Namjoon yang juga tengah memandangya, "kau tahu?"

"tentu saja. Aku tahu semua yang terjadi padamu seminggu ini."

Kening Seokjin mengerut dalam, "dan kau baru muncul sekarang? Kau senang ya meihatku menderita?"

"well, sedikit banyak. Bahkan sejujurnya aku juga menunggumu menghubungiku dan memohon-mohon kepadaku – "

"tapi itu tidak akan terjadi." Potong Seokjin cepat. Namjoon terkekeh dan menggigit gemas hidung Seokjin, "kau memnag berbeda, sayang."

"hah~ aku jadi merasa jadi yang lebih muda jika seperti ini. Aku bahkan sering lupa kalau kau hanya bocah labil berumur 19 tahun."

Lalu keduanya diam. Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Ini yang ia butuhkan. Ia butuh sedikit ketenangan dan kenyamanan. Dan berada dalam rengkuhan Namjoon memberinya semua itu. Jadi ia hanya menikmati keadaan saat ini, menyamankan posisinya diatas pangkuan Namjoon dan memejamkan matanya. Mungkin, ia bisa mendapat sedikit tidur setelah satu minggu hampir terjaga sepanjang malam.

Namjoon memandang penuh kekaguman sosok Seokjin yang tengah terkantuk-kantuk dalam pelukannya. Meski wajah namja cantik itu berantakan – hidung memerah dengan mata bengkak – namun ia tetap mempesona. Ia menyadari tubuh Seokjin yang semakin kurus, melihat baagaimana keadaannya seminggu ini, tak heran jika berat badannya turun.

"kau pasti sudah sangat menderita sayang."

Namjoon menghela nafasnya panjang. Ia mengeratkan pelukannya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dibelakangnya. Seokjin sudah terlelap, sepertinya namja cantik itu benar-benar lelah. Namjoon ikut memejamkan matanya.

.

"sejak kapan appa mengurusi kehidupanku?"

"appa hanya berbicara dengan namja itu. Appa hanya ingin yang terbaik, ia berhak mendapat yang lebih baik, Namjoon."

"appa tahu apa soal diriku?!"

"Memang apa yang bisa kau berikan untuk Kim Seokjin? Uang? Kau lihat sendiri namja itu tidak menginginkan uangmu! Lalu apa yang akan kau berikan?"

"tapi appa menyakitinya! Ia menangis setelah bertemu denganmu, appa!"

"memang kau tak akan menyakitinya? Kau pasti sudah sadar jika Kim Seokjin mencintaimu. Dan appa paham bahwa kau tak akan memberikan cinta yang sama untuknya. Appa hanya ingin membuat namja itu tidak tersakiti semakin dalam."

"..."

"Dia berbeda Namjoon. Ia tidak seperti yeoja dan namja diluar sana yang sudah pernah kau tiduri. Dia tidak menginginkan uangmu. Kau bisa mneghancurkan masa depannya jika kau tidak bisa mencintainya sama besar seperti dirinya mencintaimu. Kau mungkin tidak pernah merasa bersalah telah mencampakkan partnermu sebelumnya, karena hanya dengan setumpuk uang mereka sudah puas dan bisa kembali melanjutkan hidupnya. Tapi Kim Seokjin berbeda. Kau tahu kan?"

"tapi aku – "

"disini appa berbicara sebagai ayahmu, Namjoon. Dia namja yang sangat sempurna untuk menjadi pendampingmu. Sejak awal appa tidak melarangmu berhubungan dengan siapapun. Tapi setelah bertemu dengan Kim Seokjin, sepertinya kau harus menghentikan kegiatanmu untuk meniduri siapapun yang kau temui. Kau harus mulai belajar untuk mencintaimu, Namjoon."

"appa, aku takut."

"Namjoon, tidak semua hubungan akan berakhir dengan pengkhiatan."

"tapi hyung – "

"kau sudah dewasa, memang takdir hyungmu berhenti pada saat itu, Namjoon. Kau tidak bisa menyalahkan yeoja – "

"yeoja yang sudah mengkhianati hyung dan membuat hyung bunuh diri. Aku tidak bisa melupakannya."

"tapi appa yakin Seokjin tidak akan mengkhianatimu."

"darimana appa yakin?"

"kau hanya harus mempercayai hatimu, Namjoon. Bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadap Kim Seokjin? Jangan sampai kau menyesal."

.

Namjoon membuka matanya. Sekelebat ingatan mengenai percakapannya dengan sang ayah seminggu lalu kembali berputar. Sejujurnya, seminggu ini ia juga berpikir mengenai perasaannya, hubungannya dengan Seokjin.

Tidak ada yang tahu kecuali sang ayah dan Park ahjussi bahwa ia memiliki trauma. Bahkan Hoseok juga tidak tahu. Ia sangat membenci yang namanya yang namanya cinta, apapun itu. Dulu, ia memiliki seorang hyung yang sangat dekat dengannya, ia anak dari Park ahjussi, yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.

Namun saat ia baru saja masuk SMP, sang hyung meninggal. Ia bunuh diri karena calon istrinya berselingkuh dan meninggalkan dirinya. Hal itu benar-benar membuat Namjoon depresi. Ia seminggu penuh menghindari semua orang, yang sangat sial karena saat itu Hoseok sudah kembali ke Korea, meninggalkan dirinya sendiri di New Zealand dengan sang ayah dan park ahjussi. Dan sejak saat itu ia gemar bermain wanita, ia tidak peduli, ia hanya ingin melampiaskan rasa bencinya kepada hubungan atas nama cinta dan mencampakkan partner ranjangnya kemudian hari. Ia tidak mau tunduk dan diperbudak orang lain hanya karena perasaan bernama cinta.

"kau benar-benar tidak akan meninggallkanku kan, Kim Seokjin?" dan pertannyaan Namjoon hanya dijawab dengan suara nafas Seokjin yang teratur. Begitu nyenyak tidur dalam pelukannya.

"karena kurasa, aku mulai mencintaimu."

.

.

.

Seokjin berlari kesetanan sepanjang pintu masuk rumah sakit menuju ruang operasi. Ia sudah tidak mempedulikan keadaan sekitar, berapa banyak orang yang ia tabrak sepanjang lorong rumah sakit, ia tidak memedulikan keadaannya yang hanya memakai piyama dengan mantel kebesaran Namjoon yang ia pakai asal. Bahkan ia melupakan eksistensi Namjoon yang ikut berlari dibelakangnya.

Ia baru saja selesai mandi saat tiba-tiba Joungkook menelpon dan mengatakan bahwa sang eomma dalam keadaan kritis dan dibawa ke ruang operasi untuk melakukan operasi darurat. Ia tidak bisa berpikir mengenai apapun selain segera ke rumah sakit saat itu juga. Namjoon yang mengatahui berita itu segera menyusul Seokjin yang sudah berlari keluar apartemen, dengan piyama dan rambut basah sehabis mandi. Namjoon menyempatkan membawa dua mantel dan kunci mobil Seokjin, berusaha mengejar namja cantik itu dan gantian menyeretnya menuju basement.

"Joungkook ah! Bagaimana?"

Joungkook dan Taehyung yang awalnya duduk didepan ruang operasi langsung berdiri begitu Seokjin dan Namjoon datang. "aku tidak tahu hyung. Tiba-tiba Kang Haeri ssi kejang, lalu aku memanggil dokter dan langsung dibawa ke ruang operasi. Aku hanya mengiyakan saat dokter meminta persetujuan melakukan pembedahan. Aku bingung. Aku tidak tahu hyung, maksudku – "

"hey, tidak apa-apa. Kau sudah melakukan yang benar. Kau sudah melakukan hal yang benar, Kookie"

Seokjin memeluk tubuh Joungkook yang bergetar, "kau pasti kaget sekali tadi. Maafkan hyung ya, seharusnya hyung tidak pulang malam ini."

Namjoon terdiam memandang kakak beradik yang saling berpelukan itu. Seokjin yang berusaha menenangkan Joungkook yang shock padahal keadaannya tidak lebih baik. Bahkan ia bisa melihat bahu Seokjin yang bergetar, pasti namja cantik itu takut sekali tadi. Dan hal itu menambah daftar rasa kagumnya pada Seokjin, ia sosok kakak yang sangat luar biasa.

Namjoon berlalu dari sana, menuju mesin penjual minum tak jauh dari sana dan mencoba menarik nafasnya dalam-dalam. Mengikuti lari Seokjin cukup melelahkan. Ia membeli 4 kopi hangat untuk mereka, setidaknya bisa meredakan sedikit ketegangan. Ia kembali dan mendapati ketiganya sudah duduk. Joungkook kini berganti memeluk Taehyung, dan Seokjin yang tersenyum melihatnya.

"aku membeli kopi untuk kalian. Semoga kalian suka."

"gomawo, hyung." Joungkook mengambil dua untuknya dan Taehyung. Dan langsung ia minum saat itu juga. Namjoon tersenyum tipis dan memilih untuk duduk disamping Seokjin, melingkarkan tangannya disekeliling pinggang Seokjin dan membuat namja cantik itu bersandar didadanya. Ia mencium rambut Seokjin lama, "semua akan baik-baik saja."

Namjoon bisa merasakan Seokjin mengangguk dalam pelukannya, "ya, semoga semua baik-baik saja."

Dua jam sudah berlalu sejak sang eomma berada di ruang operasi, dan belum ada tanda-tanda akan selesai. Tadi salah seorang suster yang ikut bertanggung jawab akan operasi tersebut sempat keluar, mengataan bahwa paling cepat butuh waktu 4 jam untuk menyelesaikan operasinya. Dan ini sudah jam 9, bahkan kempatnya belum sempat makan malam. Seokjin sudah tertidur dipelukan Namjoon, sedangkan Taehyung dan Joungkook bahkan sudah memejamkan mata dalam pelukan masing-masing.

Namjoon mengeluarkan ponselnya, "Ahjussi? Bisa tolong ke rumah sakit? Aku membutuhkan bantuanmu."

Lalu tak sampai setengah jam ahjusii Park sudah datang, "ada apa, Namjoon?"

"aku ingin satu kamar kosong untuk Seokjin dan dua anak itu. Tidak mungkin mereka mau meninggalkan rumah sakit sebelum eomma mereka selesai di ruang operasi."

Ahjussi mengangguk, "baiklah. Tapi aku tak janji, Namjoon. Ini rumah sakit, bukan hotel."

"well, gunakan saja nama appa. Aku yakin akan ada satu kamar untukku."

Ahjussi park tersenyum, "kau selalu tahu kapan harus menggunakan nama appamu. Baiklah, tunggu sebentar."

.

.

.

Namjoon berdiri dengan Joungkook disampingnya. Keduanya berjalan dalam diam menuju meja administrasi. Joungkook bersikeras ikut Namjoon saat keduanya memindahkan Seokjin dan Taehyung ke salah satu kamar disana. Dan Namjoon hanya pasrah saja, lagipula ia memang membutuhkan Joungkook.

"Ada yang bisa kami bantu?"

Keduanya langsung disambut dengan senyum lebar dari petugas administrasi rumah sakit. Namjoon tidak balas tersenyum, ia memang tidak pernah tersenyum. Berbeda dengan Joungkook yang tersenyum lebar.

"kami ingin membayar administrasi atas nama Kang Haeri."

"baik, mohon tunggu sebentar."

Lalu suster tersebut sibuk dengan komputer didepannya, mengerjakan entah apa. Dan Joungkook menyempatkan untuk menyentuh pelan lengan Namjoon, "hyung yakin? Seokjin hyung tak akan marah kan?"

Namjoon mendengus, "kau ingin melihat Seokjin sakit atau marah? Kau tak lihat keadaanya yang sangat mengenaskan karena mati-matian mencari uang?"

Joungkook terdiam, ia menundukkan kepalanya, apa yang dikatakan Namjoon benar. Ia juga ingin membantu Seokjin, tapi kakaknya itu tidak memperbolehkannya bekerja. Dan ia juga tidak dikeadaan yang bisa membantu.

"ini tagihan dan beberapa data yang harus dilengkapi. Pananggung jawab dari Kang Haeri Kim Seokjin dan Jeon Joungkook. Kami butuh tanda tangannya. Silahkan."

Namjoon mengambil selebar kertas itu dan menggesernya kedepan Joungkook, "kau harus mengisinya Joungkook ah." Suara Namjoon sedikit melembut, bahkan tangan namja itu tanpa ragu mengusap sekilas kepala Joungkook.

Namja Jeon itu mengangguk dan mengisi beberapa hal serta membubuhkan tanda tangannya disana. Well, ia belum 19 tahun, namun ia sudah didaftarkan kakaknya sebagai wali dari kang haeri, dan ia berhak.

"mohon maaf sebelumnya. Tapi kami membutuhkan nomor penduduk dari saudara Kim Seokjin. Karena Jeon Joungkook ssi belum cukup umur untuk menjadi penanggung jawab tunggal dari pasien Kang Haeri." Joungkook memandang Namjoon, ia tidak mungkin hafal nomor penduduk Seokjin, dan ia juga tidak membawa kartu penduduk kakaknya.

Namjoon dengan tenang mengambil dompetnya, menegluarkan kartu penduduk dengan foto Seokjin disana, "ini."

"mohon tunggu sebentar."

"darimana hyung mendapatkan kartu Seokjin hyung?" tanya Joungkook. Namjoon mengangkat kedua bahunya, "well, bahkan aku membawa dompet Seokjin. Kakakmu itu sangat panik saat kau menelponnya tadi. Dan beruntung aku masih sempat membawa dompetnya."

Joungkook mengangguk paham, ia tak mau ikut campur. Biarkan saja, lagipula jika nanti Seokjin marah, ia serahkan seluruhnya pada Namjoon. Namja Kim itu yang mengusulkan membayar tagihan administrasi.

"anda ingin membayar dengan uang cash atau kartu?"

"kartu." Lalu Namjoon mengulurkan sebuah kartu berwarna hitam dengan ukiran emas berbunyi namanya. Dan Joungkook terdiam, tidak menyangka bahwa sunbaenya ternyata sekaya itu hingga memiliki kartu hitam bertuliskan emas.

"terima kasih. Ini bukti pembayarannya."

Joungkook tersenyum dan segera berlalu dari sana, Namjoon memberikan bukti pembayaran itu padanya, "simpan ini." Dan Joungkook membulatkan matanya terkejut melihat nominal angka yang tertera disana.

"hyung, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membayar sejumlah nominal disini."

Namjoon tersenyum kecil, ia menghentikan langkahnya dan berbalik, berhadapan dengan Joungkook yang kini juga menatapnya tak percaya.

"kau hanya harus menjaga Seokjin dan memastikan kakakmu itu tidak akan meninggalkanku."

Entah kenapa kalimat aneh itu justru membuat mata Joungkook memanas. Kakak kelas dihadapannya ini entah kenapa terlihat seperti pahlawan sekarang, bersikap sok keren yang membuatnya kagum.

"Gomawo, hyung." Dan Joungkook tiba-tiba menangis, tersedu dibalik lengannya. Hal itu justru membuat Namjoon tertawa, melihat betapa menggemaskannya adik Seokjin yang tengah berusaha menghentikan tangisnya dengan mengusap kasar wajahnya dengan lengan bajunya.

Namjoon entah bagaimana memutuskan untuk melangkah mendekat dan memeluk bahu Joungkook, menepuk pelan punggungnya, "sudahlah, kau tak perlu menangis, brat. Aku melakukan ini untuk kakakmu, bukan untukmu."

Dan untuk pertama kalinya Joungkook memeluk erat-erat dan menangis di pundak orang lain selain Seokjin dan Taehyung. Rasa kesalnya kepada orang yang sudah meniduri kakaknya itu menguap entah kemana. Teranyata Kim Namjoon jauh lebih baik dari yang ia bayangkan.

.

.

.

Seokjin tahu sejak awal bahwa kisah hidupnya bukan sebuah kisah bahagia dengan akhir yang dipastikan bahagia. Bahkan sejak awal hidupnya sudah hancur. Namun sang eomma bukanlah pihak antagonis yang akan meninggalkan setting cerita dalam kisah hidupnya. Bahkan sang eomma adalah salah satu pemeran penting dalam hidupnya, bukan pihak antagonis yang harus kalah.

Namun kenyataan bahwa Joungkook yang membangunkannya paksa di rumah sakit mematahkan khayalannya. Nyatanya, eommanya memang dikisahkan pergi dari hidupnya. Karena saat seorang laki-laki dengan jas putih kebanggan dokter itu melangkah keluar dari ruang operasi, menampilkan sebuah senyum tipis penuh kesedihan, Seokjin sudah tahu akhir dari kisahnya.

"maafkan kami, kami tidak bisa mempertahankan Kang Haeri lebih lama lagi. Terdapat pendarahan yang cukup parah di otaknya, dan kami tidak mampu menanganinya. Sekali lagi maafkan kami." Dokter dengan dua suter dibelakangnya menunduk dalam, yang dibalas oleh Joungkook dan Taehyung. Sedangkan Seokjin hanya diam, menatap kosong ke arah perginya dokter dan suster tersebut, menghilang dibalik tikungan lorong rumah sakit.

Kaki Seokjin seakan kehilangan kekuatannya, ia hanya bisa berdiri dengan bersandar penuh pada Namjoon, membiarkan namja itu memeluk pinggangnya erat.

"Namjoon, ini hanya mimpi kan? Pasti saat ini aku masih tidur dan menunggu didepan ruang operasi. Namjoon! Kumohon, bangunkan aku! Ini semua mimpi kan? Ya! Semua ini pasti impi. Eomma sekarang pasti masih di busan. Eomma tidak kecelakaan di seoul kan? Ini semua tidak mungkin kan?"

Namjoon dengan segera memeluk Seokjin, menenggelamkan wajah namja itu didadanya, mencoba menghentikan semua ocehan yang keluar dari bibir namja cantik itu. Ia biarkan Seokjin memukul punggungnya berkali-kali, bahkan menangis hingga membasahi bajunya untuk kesekian kalinya.

Taehyung yang melihat itu langsung memeluk Joungkook, menyembunyikan pandanganya dari pemandangan mengenaskan Seokjin dan Namjoon didepannya. Joungkook terdiam, ia tidak tahu apa yang tengah ia rasakan sekarang.

Apa ia sedih?

Namun bukankah selama ini ia juga tidak mau mengakui Kang Haeri sebagai eommanya?

Tapi apa nama perasaan yang menghimpit dadanya hingga terasa sesak?

"Kookie ya? Tak apa menangis, aku disini." Bisikan halus Taehyung dengan tangan yang memeluk lehernya erat membuat Joungkook mengalah. Ia pillih memeluk erat-erat pinggang Taehyung dan menangis, membiarkan air matanya keluar demi menghilangkan rasa sesak yang ia rasakan.

Namjoon mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya pada Joungkook dan Taehyung yang masih berpelukan. Ia bisa melihat bahu Joungkook yang naik turun tak teratur, ia tahu, namja jeon itu tengah menangis. Sekeras apapun anak itu menyangkal kehadiran yeoja itu sebagai eommanya, tetap saja ia adalah yeoja yang sudah melahirkannya. Dan perasaan yang lumrah jika ia merasa sedih kehilangannya.

Senyum tipis mampir di bibir Namjoon saat merasakan Seokjin yang mencengkeram erat baju dipunggungnya, ia yakin, bagian itu pasti sangat kusut sekarang. Apalagi isakan namja cantik dalam pelukannya itu juga belum berhenti. Juga usapan lembut dipunggung Seokjin yang ia berikan.

Namjoon menunduk, menempelkan hidung dan bibirnya pada pelipis Seokjin, ia ikut memejamkan matanya, "tak apa, sayang. Aku disini, aku selalu disini."

.

.

.

Namjoon berjalan cepat keluar dari rumah duka yang sudah penuh dengan tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir untuk eomma Seokjin. Kebanyakan adalah teman kerja Seokjin dan juga Joungkook. Kedua kakak beradik itu duduk berlutut dengan jas berwarna hitam dan dua garis hitam dilengan kanan, penanda keluarga.

Yoongi dan Taehyung ikut duduk disamping kakak beradik itu, dengan mata dan hidung yang ikut memerah. Sedangkan Jimin dan Hoseok ikut membantu dengan membawakan makanan dan mium untuk tamu yang semakain banyak. Berbeda dengan Namjoon, yang tadinya duduk disamping Seokjin, kini ia tengah berdiri diluar rumah duka. Bertemu dengan ahjussi Park yang tadi tiba-tiba menghubunginya.

"ada apa ahjussi?"

Namja paruh baya itu menyerahkan amplop coklat pada Namjoon, "aku sudah mendapatkan beberap informasi mengenai kejadian sebelum kecelakaan eomma Seokjin, dan penyebab asli kejadian kecelakaan tersebut. Dugaanmu benar, Namjoon ah, eomma Seokjin memang sempat dianiaya sebelum kecelakaan. Bahkan mungkin, keadaan eomma Seokjin sudah pingsan saat kecelakaan tersebut terjadi."

Penjelasan singkat dari ahjussi Park itu ditanggapi dengan sebuah geraman samar dari Namjoon, ia merasa perlu turun tangan untuk masalah ini. Apalagi Seokjin sangat menghormati yeoja itu sebagai eommanya.

"gomawo, ahjussi. Ahjussi ingin memberi penghormatan untuk eomma Seokjin?"

Ahjussi tersenyum lalu menggeleng, "tidak Namjoon. Sampaikan saja salamku untuk Seokjin. Semoga kau bahagia dengannya, Namjoon. Lupakan mengenai Jungsoo, kau pasti mendapat seseorang yang lebih baik dari yeoja itu. Jungsoo pasti juga menginginkanmu bahagia dengan pasanganmu."

"ahjussi." Namjoon memandang tak percaya pada ahjussi park, dibalas dengan senyum lembut oleh namja itu, "Tak apa, Namjoon. Semua akan baik-baik saja. Kim Seokjin tak mungkin mengkhianatimu."

Namjoon melangkah mendekat dan memeluk sosok tersebut, "gomawo, ahjussi. Maafkan sifatku yang sangat menyebalkan."

"sudah, sana cepat kembali kedalam. Sebelum ada yang mencarimu."

Namjoon mengangguk dan melepas pelukannya. Ia menunduk sekilas dan kembali berjalan memasuki rumah duka, menghampiri Seokjin dan kembali duduk disampingnya.

"kau darimana?" tanya namja cantik itu. Namjoon menggeleng, "aku hanya keluar sebentar, menemui ahjussi Park."

Seokjin terdiam, ia menatap Namjoon lama, membiarkan Joungkook dan Yoongi serta Taehyung yang menunduk membalas sapaan tamu yang hadir. Ia sedikit menggeser duduknya membiarkan bahunya bersentuhan dengan bahu Namjoon.

Tangan Seokjin terangkat dan menggenggam tangan Namjoon erat, "jangan tinggalkan aku Namjoon. Aku tidak akan meminta apapun darimu. Tak apa jika kau tak mencintaiku, tak apa jika kau hanya memanfaatkanku, hanya jangan tinggalkan aku." Seokjin memandang Namjoon dengan matanya yang berkaca-kaca.

Namjoon memeluk Seokjin, merengkuh erat tubuh rapuh namja cantik itu, "aku tidak akan meninggalkanmu, sayang. Tidak akan."

"karena aku juga tidak ingin kau meninggalkanku."

.

.

.

TBC

Yuhuuu~ ada yang merindukanku? Kkk aku update! Chapter sebelum end, chapter depan END! U yeah!

Tahan dulu ya, satu chapter lagi sebelum bener-bener end! Dan mengenai kehidupan Namjoon sudah terkuak kan? Tinggal membereskan beberapa masalah untuk mengakhiri fic ini.

Dan well, selamat ulang tahun buat eomma Jin, Kim Seokjin tercinta. Wkwkkw, telat banget sih, tapi yah nggakpapa lah. Wkwkwkkw

Gomawo yang sudah mengikuti fic ini sampai sekarang, dengan tulisanku yang sangat berantakan dan cerita yang semakin absurd, yang monoton tanpa drama, yang apalah ini. Gomawo semuanya~ muah!

Nantikan chap akhirnya secepatnya! Aku juga berusaha menuliasnya agar bisa update segera! Gomawo chingudeul! Muah!