Tales Of Darkness And Light
By : Razux
.
.
.
.
Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana
Chapter IX
Kantor kepala sekolah Ernil sama sekali tidak seperti yang dibayangkan Ruka dan Tsubasa. Ruangan itu sama sekali tidak memiliki perabot sebagaimana sebuah ruang kantor. Ruangan itu sangat kosong dengan lantai tatami yang sangat luas.
Kepala sekolah Ernil duduk dengan santai melihat mereka bertiga. Kepala sekolah Ernil adalah seorang wanita cantik berambut hitam panjang gelombang dengan mata berwarna violet. Dia mengenakan kimono dan mengengam sebuah kipas.
"Mereka sudah tiba, putri." Ujar Shizune.
"Putri?" pikir Natsume, Ruka dan Tsubasa dalam hati sambil menatap aneh wanita di depannya itu.
"Aku adalah kepala sekolah Ernil, namaku Himemiya atau biasa dipanggil Hi-sama. Aku sangat menghargai pertolongan kalian yang membantu kami melawan naga itu dan aku akan lebih menghargai kalian lagi kalau kalian adalah wanita." Ujar kepala sekolah Ernil sambil menatap tajam mereka bertiga.
Natsume, Ruka dan Tsubasa hanya bisa menatap Kepala sekolah itu dengan pandangan tidak percaya, sepertinya dia itu pembenci pria.
"Kau pangeran dari Arathorn bukan?" tanya Hi-sama sambil menatap Tsubasa.
"I…iya.." Jawab Tsubasa terbata-bata, dia tidak menyangka Hi-sama mengenalnya.
"Aku sudah mendengar berita perang yang kini telah terjadi. Aku menerima surat dari ibumu, yaitu Ratu kerajaan Arathorn yang meminta bantuan pada perguruan sihir Ernil," ujar Hi-sama tenang "Dan dengan sangat menyesal, aku tidak bisa membantu kalian."
Tsubasa sangat terkejut mendengar jawaban Hi-sama, dia sama sekali tidak mengetahui ibunya meminta bantuan pada perguruan sihir Ernil untuk perang ini. Memang para murid di perguruan ini adalah penyihir, yang akan menjadi bantuan yang sangat besar jika mereka bersedia membantu. Namun, dia lebih terkejut lagi karena Hi-sama menolak.
"Apakah kau tahu selogan dari perguruan ini?"
"Eh…kalau tidak salah "Tiada batas usia dalam mempelajari sihir" kan?
"Benar. Tapi, masih ada satu lagi, yaitu "Tidak pernah ikut campur dengan masalah politik". Karena itu, kami menolak membantu." Senyum Hi-sama sambil menatap Tsubasa.
Tsubasa sama sekali tidak bisa membalas ucapan Hi-sama. Dia memang tidak mengenal Hi-sama. Tapi, begitu melihat senyum Hi-sama, dia tahu Hi-sama tidak akan mungkin mengubah keputusannya."Baiklah, aku mengerti.."
"Dan kau pangeran dari kerajaan Isengard, bukan?" tanya Hi-sama sambil menatap Ruka.
"Iya…" Jawab Ruka
"Sepertinya kau telah berhasil menguasai sihir mengendalikan binatang keluargamu itu." Senyum Hi-sama.
"Iya…."
"Kalian mencari orang di dalam gunung Ethin bukan? Dengan sihirmu itu kalian pasti bisa menemukan mereka."
Ruka dan Tsubasa sangat terkejut mendengar ucapan Hi-sama, bagaimana dia bisa tahu mereka mencari orang di dalam gunung Ethin.
"Kalian tidak perlu terkejut, aku memiliki sumber informasi tersendiri." Tawa Hi-sama seakan-akan bisa membaca pikiran mereka.
Ruka dan Tsubasa sama sekali tidak mengatakan apapun lagi, kepala sekolah Ernil ini jelas bukan orang biasa.
Hi-sama berhenti tertawa dan menatap Natsume yang dari tadi diam membisu. Dia mengangkat kipasnya menunjuk Natsume "Kau… ku dengar naga itu hanya menyerangmu seorang saja sejak melihatmu kan? Kau yang membunuh naga itu kan?"
Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hi-sama
Hi-sama tiba-tiba kembali tertawa sambil menutup wajahnya dengan kipas di tangannya "Dan kau.. kau juga kan yang berhasil mencabut pedang sihir Shire."
Natsume tetap diam membisu tidak menjawab pertanyaan Hii-sama.
"Kau bukan pemilik asli pedang itu. Tapi, kau berhasil mencabut pedang itu. Kuharap kau mau mengembalikan pedang itu pada pemilik aslinya saat kalian bertemu. Meskipun itu akan menjadi hal yang aneh sekali."
Ruka, Tsubasa dan Shizune sama sekali tidak mengerti ucapan Hii-sama.
"Hn" Balas Natsume cuek.
"Aku akan menganggap itu sebagai ya."
Natsume tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar tanpa mempedulikan Ruka dan Tsubasa yang memanggil namanya.
"Kami perguruan sihir Ernil ini berhutang padamu. Kelak, jika kau membutuhkan bantuan, kami akan dengan senang hati membantumu." Ujar Hi-sama tiba-tiba saat Natsume membuka pintu ruangan itu.
"Hn." Balas Natsume cuek dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Natsume, tunggu!" panggil Ruka dan berjalan keluar ruangan mengejar Natsume diikuti Tsubasa dari belakang.
"Shizune, tunjukkan tamu kita kamar mereka untuk malam ini." Perintah Hi-sama pada Shizune.
"Baiklah,putri." Ujar Shizune dan berjalan keluar.
Saat mereka semua keluar, Hi-sama membuka kipasnya dan menutup wajahnya "Ironis sekali… Dari semua yang ada, justru dia yang berhasil mencabut pedang itu."
Kamar yang ditunjukkan Shizune untuk mereka cukup besar dan nyaman. Mereka akan melanjutkan perjalanan mereka besok pagi karena hari sudah mulai gelap dan juga mereka perlu beristirahat. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi mereka.
Ruka dan Tsubasa berbaring di atas tempat tidur, sedangkan Natsume berdiri di samping jendela menatap langit yang mulai gelap tanpa ekpresi. Namun, di dalam otaknya, dia terus memikirkan apa yang terjadi hari ini dan perkataan Hi-sama. Dia yakin Hi-sama tahu jati dirinya. Dia tidak boleh bertindak gegabah lagi sekarang, dia tidak boleh kehilangan kendali akan dirinya, tidak selama Mikan tidak berada di sampingnya. Dia beruntung bisa sadar dari kegilaannya tadi, suara Mikan yang tiba-tiba terlintas itu berhasil menyadarkannya. Dia tidak berani membayangkan apa yang terjadi jika suara Mikan tadi tidak berhasil menyadarkannya.
Natsume menghela napasnya. Dia sangat rindu pada Mikan, senyumnya, tawanya, pelukannya dan kehangatannya. Dia ingin bertemu dengannya, dia ingin sekali segera meninggalkan perguruan sihir ini dan segera mencarinya. Namun, dia memerlukan Ruka untuk mencari Mikan dan melihat kondisi Ruka yang masih lemah sekarang, itu tidak mungkin melanjutkan pencarian.
"Tok-tok-tok"
"Masuk." Ujar Tsubasa begitu mendengar suara ketukan pintu itu dan bangkit dari tempat tidurnya.
Pintu terbuka dan Yuu masuk sambil membawakan makanan untuk mereka bertiga.
"Aku membawakan makanan untuk kalian, Pangeran Tsubasa, Pangeran Ruka dan Natsume-sama." Senyum Yuu.
Ruka dan Tsubasa tersenyum melihat Yuu "Terima kasih. Maaf merepotkanmu."
Yuu mengeleng kepalanya "Tidak, justru kami yang seharusnya berterima kasih pada kalian."
"Apa yang kau bawakan untuk kami, Yuu?" tanya Tsubasa senang, dia sudah sangat lapar, dia sama sekali tidak memakan apa-apa semenjak tadi pagi.
"Ini masakan koki perguruan sihir Ernil dan kue queen banana miracle pie buatan Ana, murid perguruan ini. Semoga kalian menyukainya, pangeran." SenyumYuu.
"Ana? Oh, cewek barusan ya?" tanya Tsubasa sambil melihat kue yang dibawa Yuu dengan wajah pucat, Kue itu jelas sekali tidak kelihatan seperti semana mestinya kue. Lapisan atas kue itu berbentuk seperti gelembung busa berwarna pink yang terus bergerak.
"Benar, pangeran dan jangan khawatir, penempilan kue ini memang tidak menyakinkan. Tapi, percayalah dengan rasanya." Jelas Yuu melihat wajah Tsubasa yang sangat meragukan kue tersebut.
"Baiklah kalau begitu dan jangan panggil aku pangeran, Yuu. Cukup panggil aku kak Tsubasa." Balas Tsubasa.
"Tapi…"
"Benar Yuu, cukup panggil nama saja. Kau adalah teman kami, kau tidak perlu bersikap sopan seperti itu." Tambah Ruka sambil tersenyum.
Yuu tersenyum mendengar ucapan Ruka "Baiklah."
Tsubasa tertawa senang mendengar ucapan Yuu.
"Kalian semua besok akan meninggalkan Perguruan ini kan?" tanya Yuu.
Tsubasa dan Ruka mengangguk kepala, sedangkan Natsume tetap saja diam menatap keluar jendela. Dia sama sekali tidak mempedulikan Yuu.
"Iya. Kami sedang mencari teman kami." Jawab Tsubasa.
"Begitu ya…" ujar Yuu sambil menatap mereka dengan sedih. Dia memang baru mengenal mereka, tapi dia sangat tertarik dengan mereka, terutama kepada Natsume. Dia sangat penasaran dengan Natsume. Natsume sangat hebat dalam mengunakan sihir, terlebih lagi dia berhasil mencabut pedang sihir shire yang sama sekali tidak bisa dicabut siapapun selama ini. Sebagai seorang murid perguruan sihir Ernil yang terobsesi dengan sihir, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakannya kepada Natsume dan juga, dia ingin sekali meneliti pedang sihir shire yang berada di pinggangnya sekarang . Namun, dia tahu, dia tidak mungkin menghentikan mereka.
"Lebih baik kalian beristirahat saja. Kalian pasti sudah lelah, aku tidak akan menganggu istirahat kalian, selamat malam." Pamit Yuu sambil tersenyum.
"Selamat malam juga Yuu." Balas Ruka dan Tsubasa bersamaan sedangkan Natsume tetap saja cuek.
Sepeninggalan Yuu, Ruka dan Tsubasa mulai menyantap makanan mereka. Natsume sama sekali tidak menyentuh makanannya. Dia baru memakannya setelah Tsubasa memaksanya. Selesai makan mereka memutuskan untuk tidur secepatnya, hari telah menjelang malam, mereka perlu menyimpan tenaga untuk melanjutkan perjalanan mereka besok.
"Selamat malam Ruka, Natsume, aku tidur dulu…" Ujar Tsubasa sambil menarik selimut menutup wajahnya.
"Selamat malam, Kak Tsubasa." Balas Ruka sambil menatapnya dari atas tempat tidurnya.
Ruka menolehkan wajahnya menatap Natsume yang sedang berbaring di atas tempat tidur di sampingnya, Dia sama sekai tidak tahu Natsume sudah tidur atau belum, Natsume telah melepaskan kain yang mengikat matanya. Namun, matanya telah tertutup dengan rapat "Selamat malam Natsume…"
"Malam Ruka.." Balas Natsume tiba-tiba mengejutkannya.
Ruka tersenyum mendengar ucapan Natsume, dia menarik selimutnya menyelimuti badannya dan menutup kedua kelopak matanya untuk tidur, begitu juga dengan Natsume.
Seorang anak laki-laki berambut perak tertawa terbahak-bahak penuh kesenangan. Sekelilingnya, tubuh orang yang sudah tidak bernyawa tergeletak bersimbah darah, tidak peduli itu laki-laki, perempuan, anak kecil ataupun orang tua. Dia membalikkan badannya yang penuh tato melihat seorang pria yang berdiri dengan badan gemetar di belakangnya. Mata merah darahnya menatap pria itu penuh kegembiraan seakan-akan seperti menemukan mainannya yang hilang.
"Kumohon… jangan bunuh aku… maa…maafkan kami semua… jangan bunuh aku…" Ujar pria itu terbata-bata dengan wajah penuh ketakutan sambil berlutut.
Anak laki-laki itu sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan pria itu. Dia berlari mendekati pria itu dan mengangkat tangannya yang memiliki kuku panjang seperti cakar "BUNUH…. HANCURKAN…. BUNUH…. HANCURKAN… BUNUH DAN HANCURKAN SEMUA YANG ADA….."
Natsume membuka matanya dan bernapas terengah-engah, keringat mengalir turun dari dahinya. Dia melihat sekelilingnya, dia masih berada di dalam kamar perguruan sihir Ernil dengan Ruka dan Tsubasa yang tertidur nyenyak di sampingnya.
Natsume menghapus keringatnya dengan tangannya yang gemetar. "Mimpi buruk…itu cuma mimpi buruk…"
Seorang gadis kecil berlari menyusuri hutan mencari seseorang. Dia bisa melihat sekelilingnya dengan baik berkat bantuan cahaya bulan di atas langit malam itu. Rambut coklatnya terbang tertiup angin malam saat dia berlari dan mata coklatnya yang besar sama sekali tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang ada. Rasa tidak tenang, takut dan kegelisahan memenuhi hatinya.
Dia mendengar suara tawa seseorang dari kejauhan. Dia kenal sekali dengan suara tawa itu, itu adalah suara tawa dari orang yang dicarinya. Dia tersenyum dan berlari menuju sumber suara tawa tersebut. Semakin dekat dia dengan sumber suara tawa itu, dia sadar, suara tawa itu memang dikenalnya. Namun, entah kenapa terasa sangat aneh baginya.
Dia terus berlari sampai akhirnya dia tiba di tempat tujuannya. Dia berhenti berlari dan melihat seorang anak laki-laki seusianya berdiri mendongak kepalanya menatap langit malam dengan penuh tawa. Anak laki-laki itu memiliki rambut panjang berwarna perak, bajunya yang terkoyak memperlihatkan dengan jelas tato yang memenuhi seluruh tubuhnya, tangannya memiliki kuku yang panjang seperti cakar seekor binatang buas.
Gadis kecil itu sangat terkejut menatap anak laki-laki di depannya itu, matanya terbelalak dan dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa ataupun bergerak.
Anak laki-laki itu menyadari keberadaan gadis kecil itu, dia berhenti tetawa dan menurunkan kepalanya menatap gadis itu.
Gadis itu dapat melihat dengan jelas wajah anak laki-laki itu, wajahnya penuh dengan tato dan bola matanya berwarna merah seperti darah.
"Natsume…" Panggil gadis itu pelan.
Bola mata anak laki-laki itu membesar karena terkejut begitu melihat gadis itu. Dia mengangkat kedua tangannya dan menutup wajahnya "JANGAN MELIHATKU! JANGAN MELIHATKU! PERGI! PERGI DARI SINI, MIKAN!"
"Natsume…" Panggil gadis kecil itu lagi dan berjalan mendekatinya.
"JANGAN MENDEKAT! PERGI DARI SINI, MIKAN!" teriak anak laki-laki itu begitu melihat gadis itu berjalan mendekatinya.
Gadis itu sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan anak laki-laki itu, dia berjalan semakin cepat mendekati anak laki-laki itu dan megulurkan tangan untuk menyentuhnya.
Saat tangan kecil gadis itu hampir menyentuhnya, anak laki-laki itu meloncat mundur ke belakang dan berlari meninggalkan gadis itu.
"TUNGGU! NATSUME, TUNGGU!" teriak gadis kecil itu sambil mengejarnya, dia tidak tahu mengapa, dia merasa dia perlu mengejar anak laki-laki itu atau dia akan kehilangannya.
"TUNGGU! NATSUME!"
"NATSUMEEEE!" teriak Mikan membuka matanya.
"Jangan ribut, bodoh." Ujar Hotaru sambil memukul kepala Mikan.
"Aduh!" teriak Mikan kesakitan saat Hotaru memukulnya "Hotaru, jangan memukulku dan memanggilku bodoh terus."
"Aku akan berhenti memanggil mu bodoh, jika kamu bisa berhenti bertingkah bodoh." Balas Hotaru tanpa ekspresi.
Mikan melihat sekelilingnya, mereka masih berada di dalam hutan tempat mereka beristirahat tadi. Sebagian dari perampok yang ada sudah tidur, hanya ada beberapa perampok yang masih terjaga. Mikan mendongak kepalanya menatap langit malam "Sudah berapa lama aku tertidur, Hotaru?"
Mendengar pertanyaan Mikan,Hotaru cuma bisa menyempitkan dahinya. Sepertinya Mikan benar-benar lupa dengan apa yang terjadi "Kau bukan tidur, bodoh. Tapi, pingsan."
"Pingsan?" tanya Mikan bingung dan berusaha mengingat apa yang terjadi.
"Dasar bodoh." Ujar Hotaru dan mengalihkan wajahnya menatap api unggun di depannya itu.
"Ah! Hotaru! Natsume! Natsume!" teriak Mikan panik sambil menarik lengan baju Hotaru saat teringat dengan apa yang terjadi.
"Bisakah kau berhenti memanggil nama cowok buta itu? Aku merasa sangat terganggu." Balas Hotaru dingin.
Mikan tidak mempedulikan apa yang dikatakan Hotaru dan menenangkan dirinya. Dia ingat dengan jelas apa yang terjadi sebelum dia pingsan, dia ingat dengan perasaan tidak tenang, ketakutan dan kegelisahan yang tiba-tiba melandanya. Namun, perasaan itu sudah tidak dirasakannya lagi sekarang.
Mikan menghela napas dan tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Hotaru bingung begitu melihat senyum Mikan. Gadis di depannya ini memang aneh, dia bisa tiba-tiba panik dan tersenyum ataupun tertawa sedetik kemudian.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang karena sepertinya Natsume sudah tidak apa-apa." Jawab Mikan sambil tersenyum.
Hotaru tidak mengatakan apa-apa, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Mikan.
"Sepertinya kau sudah sadar, cewek bodoh?" tanya seseorang tiba-tiba.
Mikan dan Hotaru memalingkan kepalanya menatap sumber suara tersebut. Sumire, Koko dan Kitsuneme berdiri tidak jauh dari mereka sambil tersenyum.
"Apakah kalian mendapatkan informasi yang ku minta?" tanya Hotaru kepada mereka.
Sumire, Koko dan Kitsumene baru saja kembali dari kota terdekat untuk menjual beberapa barang jarahan mereka. Hotaru meminta mereka mencarikan informasi mengenai perang yang terjadi di Kota Radiata, walaupun mereka awalnya sama sekali tidak mau. Namun, setelah menawarkan sejumlah uang di luar uang tebusan mereka berdua saat mereka tiba di kerajaan Orthanc untuk informasi itu, perampok itu akhirnya setuju.
"Perang itu dimenangkan kerajaan Arthorn. Prajurit kerajan Theoden mundur karena Komandan mereka dikalahkan oleh salah satu prajurit kerajaan Aratorn dan juga karena bala bantuan dari Kota Cirrions yang tiba tepat pada waktunya. Keadaan kota itu sekarang dalam siaga perang, kemungkinan besar kerajaan Theoden akan kembali menyerang kota itu." Ujar Sumire.
"Begitu ya? Artinya Ruka dan Kak Misaki berhasil mencapai Kota Cirrions tepat pada waktunya. Apakah ada informasi lainnya lagi?" tanya Hotaru lagi sambil menatap mereka.
"Tidak ada. Informasi lainnya hanyalah mengenai prajurit tidak dikenal dari Arathorn yang berhasil mengalahkan komandan kerajaan Theoden." Jawab Koko.
"Prajurit tidak dikenal?" tanya Mikan dan Hotaru.
"Iya. informasi yang kami dengar mengatakan prajurit yang mengalahkan komandan kerajaan Arathorn adalah seorang prajurit baru yang direkrut oleh pangeran Tsubasa dari kerajaan Arathorn. Prajurit itu sangat kuat dan katanya dia buta." Jelas Kitsuneme
"Buta?" tanya Mikan dan Hotaru bersamaan.
Kitsumene mengangguk kepalanya "Katanya dia buta dan dia menutup kedua matanya dengan kain."
"Dia tidak buta, tidak salah lagi itu pasti Natsume." Senyum Mikan dengan penuh kegembiraan.
"Natsume, Natsume dan Natsume. Aku sudah muak mendengar nama yang terus kau panggil itu. Bisakah kau berhenti memanggil nama itu?" ujar Sumire kesal.
"Aku sependapat denganmu." Tambah Hotaru dengan wajah tanpa ekpresi.
Mikan sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan Hotaru, dia menatap Sumire tanpa takut "Aku tidak akan mungkin berhenti memanggil Natsume dan juga apa hakmu menyuruhku berhenti memanggil Natsume, Permy?"
"Permy?" tanya semua yang ada disana bersamaan menatap Mikan.
"Iya, Permy. Dengan model rambut seperti, itu lebih baik dipanggil Permy kan?" balas Mikan sambil berdiri.
"Beraninya kau memanggilku seperti itu!" teriak Sumire marah.
"Kurasa nama itu cocok sekali denganmu, Sumire." Senyum Koko.
"Benar, kurasa kami bisa memanggilmu Permy mulai sekarang." Tambah Kitsuneme menyetujuhi apa yang dikatakan Koko.
"Kalian juga berpikir begitu?" tanya Mikan gembira.
Koko dan Kitsuneme mengangguk kepala mereka.
"Beraninya kalian berdua!" ujar Sumire penuh kemarahan sambil menatap Koko dan Kitsuneme. Wajahnya yang penuh kemarahan sekarang membuatnya kelihatan sangat mengerikan sepeti sebuah topeng setan.
"Permy wajahmu kelihatan menakutkan sekali. Kalau seperti itu, kau kelihatan seperti setan saja..." Ujar Mikan sambil menatap Sumire dengan polos.
"Apa katamu!" balas Sumire sambil menatap tajam Mikan
"Benar sekali Mikan, kami setuju." Tawa Koko dan kitsuneme bersamaan.
"Terima kasih." Senyum Mikan gembira.
Sumire sama sekali tidak mempedulikan Koko dan Kitsumene lagi, dia berlari dengan cepat mendekati Mikan.
Melihat Sumire yang berlari mendekatinya, Mikan merasakan pasti akan terjadi sesuatu yang buruk jika dia tertangkap. Karena itu, dia berlari meghindarinya sambil berteriak "Maaf! Maaf, aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Maafkan aku, Permy!"
"Jangan panggil aku Permy!" balas Sumire mengejar Mikan.
Koko dan Kitsumene hanya tertawa melihat adegan tersebut, mereka sama sekali tidak bermaksud menghentikan Sumire. Jarang sekali mereka melihat pemandangan seperti ini.
Hotaru yang melihat adegan itu sama sekali tidak berkata apa-apa, dia menatap Mikan berlari ke sana ke mari menghindari Sumire dengan penuh tanda tanya, walau tidak terlihat jelas karena wajahnya tetap tanpa ekpresi seperti biasanya. Mikan benar-benar gadis yang aneh, sikapnya yang polos dan kadang kelihatan seperti orang bodoh itu sama sekali tidak bisa dibenci oleh orang yang mengenalnya maupun orang yang baru mengenalnya. Sumire yang mengejarnya dan Koko serta Kitsuneme yang tertawa melihatnya sama sekali tidak kelihatan sebagai orang yang menyanderanya, mereka malah kelihatan seperti teman.
"Hotaru, tolong!" teriak Mikan.
"Diamlah, bodoh. Aku ingin tidur." Perintah Hotaru cuek.
"Baiklah, sudah saatnya kita berpisah. Kuharap kita bertemu lagi." Senyum Tsubasa kepada Yuu dan semua murid perguruan sihir Ernil di depan pintu gerbang perguruan itu.
"Sampai jumpa lagi, Yuu dan semuanya." Ujar Ruka sambil tersenyum, sedangkan Natsume tetap saja cuek dan tidak mengatakan apapun.
"Iya, sampai jumpa lagi..." Balas Yuu sambil tersenyum.
"Sampai jumpa lagi!" teriak para murid perguruan sihir Ernil begitu melihat mereka berjalan menjauh.
Yuu melihat mereka bertiga dengan wajah sedih.
"Kau ingin ikut dengan mereka bukan?" tanya Shizune tiba-tiba.
Yuu terkejut mendengar pertanyaan tersebut "Ti… tidak, aku hanya…"
"Tidak ya? Sayang sekali, tuan putri menyuruhku memilih salah satu dari murid perguruan untuk membantu mereka mencari teman mereka di Gunung Ethir. Padahal aku ingin memilihmu, tapi sepertinya kau tidak…"
"Aku bersedia! Aku bersedia!" potong Yuu dengan wajah penuh kegembiraan.
Shizune tersenyum melihat Yuu "Baiklah. Kau saja yang pergi dengan mereka. Kau akan dianggap cuti dari sekolah sampai kau kembali ke perguruan ini."
Senyum Yuu bertambah lebar begitu mendengar ucapan "Terima kasih, Kak Shizune."
"Iinchou, ini barang keperluan sehari-harimu," ujar Nonoko menyerahkan sebuah tas kepada Yuu "Aku dan Ana sudah memasukkan barang keperluan sehari-hari mu di dalamnya."
Yuu terkejut melihat Nonoko dan Ana yang berdiri di sampingnya itu "Kalian sudah tahu, ya?"
Nonoko dan Ana mengangguk kepala mereka sambil tersenyum.
"Iya." Senyum Nonoko
"Bantu penolong kita dengan benar ya? Iinchou.." Ujar salah satu murid perguruan sambil tersenyum.
"Jangan lupa pulang, ya?"
"Ingat pulang,ya?"
"Jangan merepotkan mereka ,ya?
Yuu tersenyum mendengar ucapan para murid perguruan tersebut "Terima kasih.."
"Cepat kejar mereka Iinchou, kau akan ketinggalan." Ujar Ana sambil tersenyum.
Yuu mengambil tas itu dan segera berlari mengejar Natsume, Ruka dan Tsubasa. Setelah berlari agak jauh dia tiba-tiba berhenti dan membalikkan badannya ke belakang menatap para murid Perguruan sihir Ernil "Aku berangkat!"
Di dalam gunung Ethir, Ruka membacakan sebah mantra sihir dan sebuah lingkaran sihir berwarna keemasan muncul di depannya. Beberapa ekor burung terbang mendekatinya. Dia menatap burung tersebut dan berkata "Tunjukkan padaku jalan menuju tempat persembunyian para perampok yang berada di dalam gunung ini."
Salah seekor burung tersebut tiba-tiba berkicau dan mengelilingi Ruka seakan menjawab perintah tersebut.
"Ketemu! Ayo kita pergi!" ujar Ruka senang karena sihirnya berkerja.
Natsume, Tsubasa dan Yuu mengangguk kepala mereka dan mengikuti burung yang terbang di depan mereka itu.
"Hebat sekali! Aku sama sekali tidak tahu sihir mengendalikan binatang keluarga kerajaan Isengard bisa digunakan seperti ini." Ujar Yuu sambil menatap burung yang terbang di depannya itu.
"Iya, kau hebat Ruka." Tambah Tsubasa sambil tersenyum.
Wajah Ruka memerah begitu mendengar pujian Yuu dan Tsubasa.
"Apakah sihir ini bisa mengendalikan Makhluk sihir juga?" tanya Yuu kepada Ruka.
Ruka mengeleng kepalanya "Setahu ku tidak bisa, sebab sama sekali tidak ada seorangpun dalam silsilah keluargaku yang bisa mengendalikan makhluk sihir."
"Makhluk sihir…" ujar Tsubasa sambil memikirkan sesuatu "Apa sih sebenarnya makhluk sihir itu?"
Mendengar pertanyaan Tsubasa, Ruka berpikir kembali. Keberadaan makhluk sihir di dunia ini memang bukanlah sesuatu yang aneh. Makhluk sihir biasanya dianggap berbahaya dan dihindari oleh semua orang. Dia hanya pernah dua kali berhadapan dengan makhluk sihir selama enam belas tahun hidupnya ini, yaitu laba-laba raksasa di hutan terlarang dan naga di perguruan sihir Ernil. Sama sekali tidak ada yang mengetahui dengan pasti apa itu makhluk sihir.
"Makhluk sihir adalah makhluk yang bisa menggunakan sihir sebagaimana kita." Ujar Yuu tiba-tiba.
Tsubasa dan Ruka menatap Yuu dengan wajah terkejut.
"Kau tahu, apa itu sebenarnya makhluk sihir?" tanya Tsubasa
Yuu tersenyum malu-malu "Aku pernah membaca sebuah buku tentang makhluk sihir di pepustakaan perguruan sihir ernil."
"Buku tentang makhluk sihir? Setahuku sama sekali tidak ada buku seperti itu?" tanya Tsubasa binggung.
"Buku itu merupakan buku yang sudah lama sekali dan juga buku itu ditulis oleh murid perguruan sihir Ernil. Jadi kurasa buku itu sama sekali tidak pernah dipublikasikan." Jawab Yuu.
"Begitu ya?"
"Di buku itu tertulis. Makhluk sihir adalah makhluk yang bisa menggunakan sihir sebagaimana kita, manusia. Namun, Makhluk sihir sama sekali tidak memerlukan bakat sihir dalam menggunakan sihir seperti kita manusia. Itu disebabkan karena keberadaan mereka sendiri sudah merupakan sihir. Memang tidak diketahui dengan pasti dari mana asalnya makhluk sihir itu, menurut buku itu makhluk sihir dilahirkan oleh alam ini sendiri."
"Oleh alam? Maksudmu mereka sama sekali tidak memiliki orang tua seperti kita?" tanya Tsubasa lagi begitu mendengar penjelasan Yuu.
Yuu mengeleng kepalanya "Tidak. Buku itu memang menuliskan kalau makhluk sihir itu berasal dari alam, tapi itu tidak berarti mereka tidak bisa berkembang biak. Mereka bisa berkembang biak dan melanjutkan ras mereka. Mungkin Maksud dari buku itu adalah makhluk sihir pertama dari para makhluk sihir itu dilahirkan oleh alam."
Tsubasa dan Ruka berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Yuu, sedangkan Natsume tetap saja diam tidak mempedulikan apa yang dikatakan Yuu.
"Makhluk sihir berbeda dengan kita, mereka bisa hidup sangat lama, contohnya naga yang kita hadapi di perguruan sihir Ernil, dia bisa hidup sampai ribuan tahun."
"Apakah buku itu juga menuliskan sesuatu tentang naga?" Tanya Ruka penasaran.
"Iya. Karena itulah aku bisa mengetahui tentang kelemahan naga tersebut." Jawab Yuu tersenyum.
"Bisakah kau menjelaskan lebih banyak lagi mengenai naga?" tanya Tsubasa penuh semangat.
Yuu tersenyum "Baiklah. Menurut buku itu, naga adalah salah satu makhluk sihir yang sangat buas dan berbahaya. Naga akan menyerang dan menghancurkan apapun jika mereka marah. Namun, naga biasanya tidak akan sembarangan menyerang tanpa sebab, karena itu memancing kemarahan seekor naga merupakan suatu tindakan bodoh." Jelas Yuu.
Tsubasa dan Ruka cuma diam mendengar penjelasan Yuu.
"Naga adalah makhluk yang suka mengklaim daerah kekuasaannya. Jika ada makhluk sihir lain yang membahayakan daerah kekuasaannya, mereka akan menyerang makhluk sihir itu. Boleh dikatakan naga itu makhluk yang haus kekuasaan. Tapi, aku tidak mengerti, kenapa naga itu menyerang perguruan sihir Ernil? Apakah ada yang memancing kemarahan naga itu?"
"Mungkin naga itu sudah tidak waras lagi, karena itulah dia sembarangan menyerang. Dan sialnya adalah kau, Natsume," tawa Tsubasa sambil melihat Natsume. "Sepertinya naga gila itu menanggap kau ini makhluk sihir ya? Karena itulah dia hanya mengejarmu atau jangan-jangan naga itu jatuh cinta padamu."
Natsume tetap saja diam tidak mengatakan apapun.
Sedangkan Ruka dan Yuu cuma bisa tertawa mendengar canda Tsubasa.
"Makhluk sihir memang penuh misteri dan sama sekali tidak pernah ada yang bisa menjawab semua pertanyaan yang menyelimuti mereka. Keberadaan mereka sendiri yang sudah merupakan sihir menyebabkan mereka satu-satunya makhluk di dunia ini yang bisa menggunakan sihir tanpa mantra dan juga lingkaran sihir." Lanjut Yuu.
Mendengar ucapan Yuu, Ruka berhenti tertawa.
"Jika mereka menggunakan sihir yang kuat mereka akan memerlukan lingkaran sihir. Namun, mereka tetap saja tidak memerlukan mantra. Seperti naga itu, saat dia menyemburkan api dari mulutnya dia sama sekali tidak memerlukan lingkaran sihir. Namun, saat dia menyerang dengan sihir api biru dia menggunakan lingkaran…."
Ruka sama sekali tidak mendengar penjelasan Yuu lagi, dia mengalihkan matanya menatap Natsume yang berjalan di depannya. Dia menyadari sesuatu, dia pernah melihat Natsume menggunakan sihir tanpa mantra dan lingkaran sihir, dia juga pernah melihat Natsume menggunakan sihir yang sangat kuat dan menakutkan saat melawan laba-laba raksasa di hutan terlarang hanya dengan lingaran sihir. Dan juga naga yang hanya menyerangnya saja sejak melihatnya di perguruan sihir Ernil.
"Tidak mungkin…tidak mungkin… Makhluk sihir…." Pikir Ruka tidak percaya dengan apa yang dipikirkannya sekarang.
Natsume menyadari mata Ruka yang terus menatapnya. Namun, dia tetap diam tidak mengatakan apapun.
Begitu pagi tiba, para perampok itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mikan, Hotaru, Sumire, Koko dan Kitsuneme duduk di dalam kereta kuda yang melaju dengan cepat.
"Masih lamakah kita baru akan mencapai kerajaan Orthanc?" tanya Mikan tiba-tiba sambil mengintip dari jendela.
"Perlu waktu sekitar dua minggu untuk mencapai kerajaan Orthanc dan kita juga perlu melewati kerajaan Rohirrim." Jawab Koko dengan wajah tersenyum.
"Apakah tidak bisa lebih cepat lagi?"
Semua yang ada disana terkejut mendegar pertanyaan Mikan. Sejak awal, dia sama sekali tidak mau meninggalkan kerajaan Arathorn . Tapi, sekarang, dia malah ingin mencapai kerajaan itu lebih cepat lagi.
"Bukannya kau tidak mau meninggalkan kerajaan Arathorn?" tanya Sumire bingung.
"Aku memang tidak mau meninggalkan kerajaan Arathorn, karena aku akan terpisah lebih jauh lagi dari Natsume. Tapi, semakin cepat aku mencapai kerajaan Orthanc, semakin cepat juga aku bisa memberitahu Natsume keberadaan ku. Hotaru sudah berjanji pada ku, setiba di kerajaan Orthanc, dia akan mengirimkan pesan kepada Natsume di kota Cirrions mengenai keberadaan ku." Senyum Mikan.
"Tidak bisakah kau berhenti menyebut nama Natsume?" ujar Sumire kesal.
"Tidak bisa, Permy." Balas Mikan tanpa takut.
"Natsume itu orang yang seperti apa, Mikan?" tanya Kitsuneme penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Mikan tersenyum lebar "Natsume memiliki mata berwarna merah yang sangat indah seperti warna buah jujube dan berambut hitam. Dia sangat kuat, pintar dan penuh perhitungan. Dia memang kelihatan sangat dingin, cuek dan tidak peduli dengan sekelilingnya. Tapi, sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik."
Hotaru sama sekali tidak mengatakan apapun saat mendengar jawaban Mikan. Dia sama sekali tidak berpikir seperti apa yang dipikirkan Mikan. Di matanya, Natsume memang sangat kuat, pintar dan penuh perhitungan. Tapi, baik? Dia meragukan itu, dia sama sekali tidak merasa Natsume adalah orang yang baik, dia merasa Natsume adalah orang yang sangat mengerikan. Dia teringat akan saat Natsume melawan dan membunuh laba-laba raksasa di hutan terlarang, jelas sekali dia sama sekali bukan orang biasa. Tapi siapa dia sebenarnya?
"Apakah dia kekasih mu, Mikan?" tanya Koko.
"Eh! Apa kata mu?" tanya Mikan begitu mendengar pertanyaan Koko.
"Kau kelihatan sangat gembira saat menceritakannya. Apakah dia kekasihmu?"
"Kekasih?" ujar Mikan bingung sambil memikirkan pertanyaan Koko tersebut.
"Sama sekali tidak ada gunanya kau menanyai si bodoh itu hubungan mereka berdua. Sebab, dia terlalu bodoh untuk menjawabnya dan kurasa dia juga tidak tahu apa itu kekasih." Ujar Hotaru tiba-tiba.
"Hotaru, aku sama sekali tidak bodoh!"
"Seperti yang ku duga, cewek bodoh dan kekanakan seperti kamu mana mengerti maksud dari kata kekasih." Tawa Sumire.
"Aku tahu apa itu kekasih, Permy!" balas Mikan penuh kemarahan.
Mendengar ucapan Mikan semua yang ada di dalam kereta itu mengalihkan mata mereka menatapnya.
"Kalau begitu, apa itu kekasih?" tanya Sumire.
"Eh! Em…. Kekasih itu…. kekasih itu…" Jawab Mikan terputus-putus, dia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Kau sama sekali tidak tahu apa itu kekasih, dasar anak kecil." Tawa Sumire mengejek Mikan.
"Benar, dasar anak kecil." Tambah Koko dan Kitsuneme sambil tertawa.
Wajah Mikan memerah karena malu, dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa lagi dan duduk di samping Hotaru. Hotaru sama sekali tidak mentertawai Mikan karena dia sudah tahu, Mikan itu sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Hotaru..," panggil Mikan sambil menatapnya "Kekasih itu apa?"
"Orang yang kau sayangi." Jawab Hotaru singkat.
"Orang yang aku sayangi? Kalau begitu kau, Ruka, Kak Tsubasa dan Kak Misaki juga kekasihku dong. Sebab aku juga sayang dengan kalian." Balas Mikan binggung.
"Bukan seperti itu, bodoh. Kekasih adalah orang yang paling kau sayangi, orang yang paling kau cintai. Kekasih itu adalah dua orang yang saling menyayangi dan mencintai."
"Sayangi…. cinta…. aku semakin bingung Hotaru…" Balas Mikan sambil mencerna apa yang dikatakan Hotaru dalam pikirannya.
Hotaru menghela napas, gadis di depannya ini benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Hal ini pasti disebabkan karena dia sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan siapapun kecuali Natsume selama ini. Hidup berdua tanpa pernah keluar dari hutan terlarang itu pasti merupakan faktor terbesar yang membentuk Mikan seperti ini.
"Pikirkan saja pelan-pelan dengan otak bodoh mu itu, bodoh."
"Baiklah..," balas Mikan dan tiba-tiba dia berteriak begitu teringat dengan apa yang dikatakan Hotaru "Jangan panggil aku bodoh, Hotaru!"
Hotaru sama sekai tidak mempedulikan teriakan Mikan, dia memalingkan wajahnya dan berdiskusi dengan Sumire, Koko dan Kitsuneme tentang jalur perjalanan mereka.
Mikan yang sama sekali tidak dipedulikan mereka hanya bisa duduk diam di samping Hotaru dan memikirkan apa saja yang dikatakan Hotaru.
"Orang yang aku sayangi….." gumamnya pelan.
Mikan menutup matanya memikirkan orang yang disayanginya. Wajah Hotaru, Ruka, Tsubasa dan Misaki muncul di dalam pikirannya.
Mikan membuka matanya dan berpikir kembali "Hotaru, Ruka, Kak Tsubasa dan Kak Misaki adalah orang yang aku sayangi."
"Dan orang yang paling aku sayangi…" gumamnya lagi dengan pelan.
Mikan menutup matanya kembali memikirkan siapa orang yang paling disayanginya dan wajah Natsume pun muncul di dalam pikirannya.
"Natsume.." ujarnya pelan sambil membuka kedua kelopak matanya dan tiba-tiba dia teringat lagi dengan pertanyaan yang pernah ditanyakan Hotaru padanya "Apa hubunganmu dengan cowok buta itu sebenarnya?"
Mikan sama sekali tidak pernah berpikir apa hubungannya dengan Natsume. Sejak pertama kali dia membuka mata, Natsume telah ada di sampingnya. Saat dia masih kecil, saat dia baru sadar dan tidak tahu apa-apa, Natsumelah yang mencarikannya makanan untuknya, mencarikannya tempat untuk berteduh saat hujan maupun beristirahat pada malam hari, menemaninya saat dia ketakutan dan menyalakan api serta memeluknya saat dia kedinginan. Usia Natsume saat itu sama dengannya, masih sangat kecil. Memenuhi kebutuhan mereka berdua di dalam hutan itu tidaklah mudah. Namun, Natsume sama sekali tidak pernah mengeluh, dia tetap berada di sampingnya meskipun yang bisa dilakukan Mikan hanyalah merepotkannya.
Seorang gadis kecil berambut coklat memandang ke atas sebatang pohon apel besar. Seorang anak laki-laki berambut hitam seusianya berada di atas dahan pohon tersebut sedang memetik apel. Kain putih menutup mata anak laki-laki itu. Namun, dia dapat dengan mudah memanjat dan memetik apel yang ada di pohon itu.
"Natsume! Natsume!" panggil gadis kecil itu.
Natsume memalingkan wajahnya menatap gadis kecil itu dan meloncat turun ke bawah "Jangan teriak terus, idiot."
"Natsume, namaku Mikan, bukan idiot." Balas gadis kecil itu sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Hn." Natsume melemparkan apel yang ada ditangannya ke arah Mikan
Mikan menangkap apel yang dilemparkan Natsume kepadanya dengan kedua tangannya yang kecil.
"Makanlah. Kau sudah laparkan?" ujar Natsume.
Mendengar ucapan Natsume, Mikan tersenyum. Dia berlari ke arah Natsume dan memeluknya "Terima kasih, Natsume."
Natsume sama sekali tidak mengatakan apa-apa, dia tetap saja berdiri diam di tempatnya.
Mikan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Natsume. Dengan tangan kirinya yang kecil, dia menarik turun kain yang menutup mata Natsume dan menatap mata merahnya "Natsume, saat aku mengucapkan terima kasih padamu, kau harus menatapku."
"Hn"
Mikan menggengam apel yang diberikan Natsume dengan kedua tangannya dan tersenyum dengan manis kepadanya "Terima kasih, Natsume."
Melihat senyum Mikan, bibir Natsume terangkat dan sebuah senyum terlukis di wajahnya yang tampan.
Mata Mikan membesar begitu melihat senyum Natsume "Natsume! Kau tersenyum! Kau tersenyum!"
Mikan tersenyum mengingat senyum Natsume saat itu. Itu adalah senyum pertama yang diperlihatkan Natsume padanya. Dia masih bisa mengingat dengan jelas kegembiraan dan kebahagiaan yang dirasakannya pada saat itu. Senyum Natsume adalah sesuatu yang paling disukainya melebihi apapun di dunia ini. Di dalam hutan terlarang itu, mereka hanya hidup berdua saja. Namun, dia sama sekali tidak pernah merasakan kesepian karena Natsume selalu berada di sampingnya.
"Kenapa kau tersenyum seperti seorang idiot, bodoh?" tanya Hotaru tiba-tiba.
Dengan senyum yang masih terlukis di wajahnya, Mikan menatap Hotaru "Aku teringat Natsume, Hotaru."
Hotaru menghela napas dengan wajah penuh kebosanan "Cowok buta itu lagi."
"Hotaru ada yang ingin aku tanyakan?" tanya Mikan kepada Hotaru.
"Apa?"
"Kau mengatakan kekasih itu adalah orang yang paling kau sayangi bukan? Saat aku berpikir siapa orang yang paling kusayangi, wajah Natsumelah yang muncul. Apakah itu artinya Natsume adalah kekasihku?"
Hotaru memalingkan wajahnya menatap Mikan yang bertanya dengan begitu polosnya "Apakah kau mencintainya? Dan bagi cowok buta itu, kau itu apa?"
"Eh! Cinta… dan bagi Natsume aku ini…. aku ini…" jawab Mikan terputus-putus, dia sama sekali tidak tahu jawaban dari pertanyaan Hotaru tersebut
