Beberapa hari setelahnya..
Baekhyun menginjakan kakinya kedalam rumah setelah pulang sekolah. Uhm, lebih tepatnya saat dia sudah sampai dirumah setelah pulang sekolah. Kebetulan hari ini ada rapat komite, jadi sekolah Baekhyun pulang lebih awal.
Orang pertama yang Baekhyun temukan didalam rumah adalah Kyungsoo, ibunya. Dengan ekspresi wajah yang sulit dimengerti dan tangannya yang lihai mengupas apel.
"Aku pulang." kata Baekhyun sembari melewati ibunya dari belakang, bermaksud hendak langsung naik ke lantai atas.
"Tunggu baek." Mendadak Baekhyun menghentikan langkahnya sembari menatap Kyungsoo bingung.
"Ada apa, Eomma?" tanya Baekhyun memastikan.
Sementara Kyungsoo meletakkan apel dan pisau diatas meja. Dia berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri Baekhyun. "Kau ingin kekamar?"
"Ne, wae eomma?"
"Eomma ikut. Ada yang mau Eomma tanyakan."
Baekhyun mengangguk, "Ne, aku mengerti."
Mereka berdua pun langsung saja menaiki anak tangga satu per satu. Dengan posisi Kyungsoo memimpin didepan sementara Baekhyun mengikuti dari belakang.
Kyungsoo membuka pelan pintu kamar Baekhyun, menyuruh putrinya lebih dulu masuk sebelum dia ikut masuk dan menutup pintu.
"Ada apa, Eomma?" tanya Baekhyun setelah meletakkan tas sekolahnya diatas meja.
Kyungsoo tidak menjawabnya. Dia langsung saja beralu pergi ke dalam kamar mandi Baekhyun. Kalian bisa menebak apa yang akan dilakukan wanita paruh baya itu?
"Eomma, ingin kau menjelaskan semua ini." Setelah Kyungsoo keluar, dia menyerahkan suatu benda yang tidak sengaja ditemukannya didalam tong sampah.
Perasaan Baekhyun langsung tercampur aduk. Tubuhnya sudah sangat tegang. Pikirannya kalut, dan terlebih lagi wajahnya menunjukan aura kaget yang sangat berlebihan.
Benda itu.. sudah dibuang Chanyeol beberapa hari lalu kan? B-bagaimana Kyungsoo bisa menemukannya? Aih.. apa si caplang itu membuangnya ditempat sampah Baekhyun? Boleh kubunuh?
"B-bagaimana..?"
-Flashback On-
Huh.. tugas bersih-bersih lagi.
Hari ini adalah dimana hari Kyungsoo harus membersihkan semua tempat sampah yang ada dirumahnya. Maklum saja, mereka tidak memakai jasa pembantu, jadi harus melakukan semuanya sendiri.
Tempat sampah pertama yang Kyungsoo bersihkan adalah yang ada di lantai 2. Lebih tepatnya tempat sampah yang ada dikamarnya bersama Jongin, kamar Taehyung dan juga kamar Baekhyun. Wanita ini memilih kamarnya untuk dibersihkan terlebih dahulu.
Setelah selesai, dia keluar lalu masuk kedalam kamar Taehyung.
Jika kalian pikir kamar lelaki itu berantakan, tidak untuk Taehyung. Lelaki berusia 21 tahun itu sangat maniak dengan kebersihan. Bahkan dia sering membersihkan kamar Baekhyun saat adiknya itu sedang sakit atau malas bersih-bersih kamar.
Karna tidak ada banyak sampah didalam kamarnya Taehyung, bersyukurlah Kyunhsoo sebab itu meringankan sedikit pekerjaannya hari ini. Lantas wanita itu kembali keluar dari kamar Taehyung setelah selesai lalu masuk kedalam tujuan terakhir dilantai 2.
Kamar Baekhyun.
"Dasar gadis ini! Kenapa anak laki-laki dan perempuanku memiliki sifat yang terbalik? Lihatlah bagaimana sampah makanan ini berserakan dimana-mana!" Kyungsoo bergumam sembari berkacak pinggang.
Dengan sedikit lelah, mau tidah mau Kyungsoo harus membersihkan dan memunguti sampah-sampah yang ada dikamar Baekhyun satu per satu. Dia janji akan memarahi habis anak gadis pemalasnya yang satu itu, benar-benar kelewatan!
Setelah selesai memunguti sampah yang ada disekitar kamar, Kyungsoo masuk kedalam kamar mandi Baekhyun untuk mengangkat sampah didalam tong sampah gadis itu. Dia membuka lebar-lebar plastik besar yang sejak tadi dibawanya untuk langsung menuang sampah dari tempatnya kedalam kantung.
Sialnya, Kyungsoo gagal. Dia malah menjatuhkan beberapa sampah dan membuat sampah itu berserakan. "Besok aku akan minta Jongin untuk membersihkan sampah rumah!" gerutunya kesal.
Kyungsoo berjongkok, kembali memunguti sampah yang berserakan satu per satu (lagi) sampai..
"Testpack?"
-Flashback Off-
Baekhyun sudah menangis tersedu-sedu sembari menutupi wajahnya dengan tangan, sementara Kyungsoo masih setia menatap anak gadisnya dengan tatapan membunuh.
"Katakan pada Eomma, punya siapa ini Baek?!" Kyungsoo sedikit membentak. "Tolong katakan.. jika ini bukan punyamu!"
Langsung Baekhyun menurunkan tangannya dan menatap ibunya dengan tatapan bersalah, "M-mianhe Eomma, jongmal mianhe.."
"Kim Baekhyun, jelaskan pada Eomma!"
"Itu milikku Eomma, benda itu punyaku! Aku.. A-aku hamil."
PLAK!!
Dalam sekejap, pipi Baekhyun langsung memerah karna Kyungsoo tiba-tiba saja menamparnya dengan kencang. Baekhyun tidak mau marah dan kecewa pada ibunya, dia tahu semua ini kesalahannya dari awal.
"Sejak kau lahir sampai sekarang, aku selalu mengajarkanmu hal baik dan selalu menyayangimu dengan setulus hati. Apa ini balasanmu padaku, Kim Baekhyun?!" Kyungsoo sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Airmata Kyungsoo mengalir begitu saja dipipinya yang tembam. Terlebih lagi saat Baekhyun berlutut dan memeluk erat kaki Kyungsoo.
"Maafkan aku Eomma, aku mohon.. Hiks.. maaf Eomma.." mohon Baekhyun.
Karna sudah sangat lemas, Kyungsoo ikut terjatuh diatas lantai dengan airmata yang sudah bercucuran. Menepis tangan Baekhyun lalu mendorong anaknya menjauh.
"Jangan coba untuk memanggilku dengan sebutan ibu lagi, aku tidak sudi punya anak sepertimu!"
"Eomma.. hiks.. maafkan aku Eomma, kumohon.." Baekhyun berusaha meraih tangan Kyungsoo, tapi wanita itu buru-buru menarik tangannya dan menjauh.
"Kau.. Kau bukan anakku lagi, Baekhyun-ssi."
Bagaimana bisa kalimat pendek itu menjadi sebuah benturan yang sangat kencang untuk Baekhyun. Sakit sekali rasanya mendengar ibumu sendiri telah membuangmu. Memandangmu seperti sampah yang menjijikan. Bahkan rasanya lebih sakit dari saat kau kehilangan kekasih yang sangat kau cintai.
Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tubuhnya langsung melemah dan kesadarannya hampir hilang. Fikirannya sudah penuh dan makin berantakan setelah mendengar ucapan yang terucap dari mulut Kyungsoo, ibunya sendiri.
"Eomma.. m-maaf."
BRUK..
Pada kkhirnya, semua pengelihatan Baekhyun menjadi jadi kabur, semakin kabur, dan.. gelap. Dia ambruk tepat dihadapan ibunya.
~*Blu.. Blu.. Blu*~
Kyungsoo masih menangis kencang didalam pelukan Jongin yang sedang menatap anak gadis satu-satunya terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Tadi istrinya sudah menceritakan semuanya pada Jongin, dan tentu saja Jongin sangat marah dan kecewa.
Tapi dibalik itu semua, dia juga berusaha menahan emosinya agar keadaan tidak menjadi tambah kacau. Setidaknya, sebagai kepala didalam keluarga kecilnya, dia harus bisa menyelesaikan setiap masalah dengan kepala dingin. Begitulah prinsipnya.
"Hiks.. aku menyesal telah mengatakan hal itu pada Baekkie tadi, hiks.. itu karna aku tengah terbawa emosi." kata Kyungsoo samar-samar, namun dapat didengan oleh Jongin.
Lalu lelaki itu mengelus pundak istrinya dengan lembut sembari beberapa kali mengecup puncak kepala Kyungsoo dengan penuh kasih. Seolah dia meminta Kyungsoo untung lebih tenang.
"Tenang dulu sayang, jika kau menangis terus seperti ini, bukan hanya Baekkie yang akan diinfus, tapi kau juga." Jelas Jongin lembut.
Dia dapat merasakan Kyungsoo mengangguk dalam dekapannya, dan pelukan hangat sang istri mengerat.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara serak lain ditelinga mereka. Wah.. itu Baekhyun. Gadis itu mulai tersadar meski matanya masih terpejam.
"Eomma.. maaf.. Eomma.."
"Jongin, cepat panggil dokter!" Tidak butuh hal lain lagi, Jongin langsung berlari keluar meninggalkan Kyungsoo yang sedang memegang tangan anaknya erat.
"Ne Baekkie-ah, Eomma sudah memaafkanmu. Bangunlah nak." ucap Kyungsoo lembut tapi terdengar masih gemetar.
Tidak lama dari itu, Jongin kembali. Dia bersama dokter serta beberapa perawat yang ikut bertugas merawat Baekhyun. Oh, jangan lupaka Taehyung yang sepertinya baru saja sampai disana.
"Eomma, ada apa dengan Baekkie?" tanya Taehyung, kekhawatiran tersirat jelas dalam iris hitamnya.
Kyungsoo masih belum menjawab dan malah menatap sang dokter dengan penuh harapan. "Bagaimana?"
"Dia baik-baik saja soo . Syukurlah, Baekhyun sudah sadar dan keadaanya kembali normal." jawab sang dokter, yang tak lain adalah Jongdae, sahabatnya.
"Lalu, kandungannya?"
"KANDUNGAN?!"
DUGH!
"Awhhss.." Taehyung mengaduh sembari menatap horor Jongin yang berdiri disampingnya.
"Tenanglah dulu, kau hanya membuat suasana semakin kacau!" omel Jongin pada Taehyung.
Lantas lelaki itu hanya mencebikan bibirnya karna kesal lalu kembali melihat kearah adiknya yang masih terbaring itu.
"Eomma.. " Sahut Baekhyun tiba-tiba. Sembari membuka matanya perlahan, mengimbangi cahaya yang masuk kedalam kornea matanya.
"Ne baekkie-ah, Eomma disini." kata Kyungsoo cepat sembari mengelus lembut kepala anaknya.
"Eomma mianhe.. hiks.. hiks.."
"Baekhyun-ah, jangan menangis dulu. Keadaanmu belum stabil." Lerai Jongdae mengingatkan. "Ah iya, soal pertanyaanmu tadi Kyung, aku.. minta maaf."
"Maksudmu terjadi sesuatu pada kandungannya?!" sela Jongin cepat.
"Sebelumnya aku minta maaf, tapi Baekhyun harus.. kehilangan satu bayinya didalam sana, Sungguh kai, aku sangat menyesal. Padahal, kandungannya sudah hampir dua setengah bulan." jelas Jongdae.
Kyungsoo yang masih belum mengerti arah pembicaraan Jongdae,hanya mampu mengerutkan keningnya dan menatap Jongdae bingung. Lebih tepatnya dia belum mengerti maksud perkataan Jongdae.
"Maksud paman, harusnya aku memiliki anak kembar? Tapi sekarang hanya sisa satu?" Baekhyun membuka suaranya lagi.
Jongdae menggeleng. "Sisa tiga."
"TIGA?!"
Entah kenapa Jongdae langsung ingin tertawa kencang melihat keempat orang diruangan ini terkejut. Apalagi saat melihat wajah terkejut Jongin, yang paling buruk diantara keempatnya.
"Entah kenapa aku sangat senang melihat kalian terkejut." Jongdae tertawa. "Aku menemukan 4 kantung rahim didalam perut Baekhyun, tapi sayangnya yang satu tidak dapat bertahan. Aku harap kau bisa menjaga sisanya dengan baik baek."
Dengan refleks Baekhyun menyentuh perutnya dan mengusapnya pelan, "Kalian benar bertiga?" katanya dalam hati.
"Tapi tunggu Baek, kita sudahi dulu kabar bahagia ini." Wajah Taehyung langsung berubah menjadi sangat serius.
"A-ada apa Oppa?" balas Baekhyun pelan.
Lalu Taehyung menyipitkan matanya dengan menatap nanar sang adik, "Siapa ayahnya?"
DEG.
#tbc
gak jadi hiatus, tapi bawa chapter baru yang kagak jelas macam ini! sedih aja, merasa gagal jadi penulis dan ngecewain banget.
