Title : Prince Hours

Author : Parkyoonhra

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, and others

Genre : Family, Romance

Chapter : 9/?

Warning : Yaoi, MalexMale, Mpreg, Typos, Don't like Don't read

Happy Reading and Enjoy!

.

Istana Kerajaan Korea Tahun 2013…

Seluruh anggota keluarga kerajaan kini tengah menikmati teh hangat yang tersaji di hadapan mereka ditemani dengan beberapa potong cake yang telah disiapkan oleh para dayang istana. Raja terlihat sangat menikmati teh miliknya. Sebagai seorang wanita bangsawan, tentu saja sang Ratu dan Ibu Suri menyeruput tehnya dengan gerakan yang sangat anggun, Putera Mahkota tengah menikmati cake kelima miliknya, sedangkan sang Pangeran hanya menatap teh di hadapannya tidak berminat.

Kim Jaejoong atau biasa disebut Selir Kim tengah berdiri di pojok ruangan itu bersama para dayang seperti biasanya memperhatikan pergerakan setiap anggota kerajaan menghabiskan makanan penutup mereka setelah selesai sarapan tadi.

"Hwangteja," panggil sang Ratu pada Putera Mahkota yang terlihat masih sibuk menghabiskan cake-nya.

Dengan sangat tidak rela, Changmin menghentikan kunyahan mulutnya dan mengelap krim yang menempel di sudut bibirnya sebelum menjawab panggilan sang Ratu, "Ne, Mama."

"Bagaimana Nona Song menurutmu?" Changmin mengerutkan alisnya bingung. Song Victoria. Salah seorang Nona dikeluarga Bangsawan Song. Salah satu murid di sekolah kerajaan Cassiopeia School juga. Lalu kenapa ibunya menanyakan tentang gadis itu?

"Ehm … Dia cantik," jawab Changmin setengah asal. Changmin bisa mendengar Kyuhyun yang duduk di sebelahnya mendengus saat mendengar jawabannya.

Tapi ternyata jawaban darinya mengundang senyum lebar dari Ratu dan Ibu Suri.

"Sudah kukatakan padamu, Ratu. Putera Mahkota pasti menyukai Nona Song," ujar Ibu Suri penuh kemenangan.

Changmin semakin menautkan kedua alisnya. Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan ibu dan neneknya?

"Bagaimana pendapat anda, Yang Mulia?" tanya Ratu pada sang penguasa Korea saat ini.

Yunho menaruh kembali cangkir teh miliknya ke atas meja.

"Aku juga merasa kalau Nona Song merupakan calon yang cocok untuk Putera Mahkota. Jadi kurasa tidak ada alasan untuk tidak menerima perjodohan ini."

"Perjodohan?"

Changmin hanya bisa terdiam mendengar perkataan Raja dan tidak menghiraukan Kyuhyun yang terbatuk-batuk di sebelahnya. Ada apa dengan anak itu? Di sini kan ia yang baru saja diberitahu mengenai perjodohan sialan itu kenapa malah dia yang kaget sampai tersedak seperti itu?

Changmin bisa melihat dari ekor matanya kalau sekarang Kyuhyun tengah menatapnya tapi Cahngmin tidak ingin menolehkan kepalanya kearah Kyuhyun. Apa Kyuhyun akan mengejeknya sekarang karena ia akan dijodohkan? Changmin belum ingin menikah. Changmin masih ingin mencicipi semua makanan dari seluruh dunia… T.T

"Kau mengerti, hwangteja? Besok kau harus mengajak Nona Song ke acara pameran kerajaan."

Changmin hanya mengiyakan saja semua ucapan ibu dan neneknya. Sebenarnya ia tidak mendengarkan perkataan mereka. Changmin tau sebagai seorang Putera Mahkota akan tiba saat dimana ia harus meminang seorang yeoja, tapi apakah hari itu harus tiba secepat ini? Huft…

"Kau juga harus segera mencari calon pendamping, Pangeran Kyuhyun," ujar Ratu pada Kyuhyun yang terperanjat kaget karena tidak biasanya Ratu mengajaknya berbicara.

"Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu," jawab Kyuhyun singkat.

Jaejoong sudah mengepalkan tangannya yang gatal ingin menjitak Kyuhyun karena jawaban tak sopan yang dikeluarkan anaknya itu.

"Kau harus memikirkannya dari sekarang kalau begitu. Dengan gelarmu sebagai seorang pangeran bukankah akaan sangat mudah mendapatkan seorang yeoja yang paling tidak berasal dari kalangan menengah ke atas," ujar Ratu.

"Sepertinya tidak ada yang lebih dipikirkan Pangeran Kyuhyun selain game-game miliknya," tambah Ibu Suri.

"Sepertinya begitu, Mama. Padahal akan sangat menguntungkan kalau Pangeran Kyuhyun mendapatkan pendamping seorang bangsawan, lalu ia bisa segera keluar dari istana ini." Ratu berkata dengan riangnya dan membuat semua orang di sana menahan napas.

Kyuhyun menggeram dalam hati. Yeoja sialan ini!

Kyuhyun sedikit menghentakan tangannya pada meja makan saat ia berdiri dan menimbulkan suara yang mengagetkan semua orang. Ia membungkuk sedikit dan berkata, "Aku sudah selesai, terima kasih," sebelum pergi keluar dari ruang makan.

Changmin menatap punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Ia merasa perkataan ibunya sedikit keterlaluan sekarang, walaupun ibunya memang sering menyindir Kyuhyun seperti tadi. Changmin jadi mengingat peraturan kerajaan lainnya 'Pangeran biasa yang sudah menikah tidak akan tinggal di istana utama'.

~.~.~.~.~ Prince Hours ~.~.~.~.~

"Saya benar-benar meminta maaf atas ketidaksopanan Pangeran Kyuhyun, Yang Mulia," ucap Jaejoong sambil membungkuk saat Yunho memasuki kamarnya malam itu.

"Apa yang kau lakukan, Boo? Kau tahu aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Kyuhyun mengingatkanku pada diriku sendiri saat masih muda. Hahahaha."

Jaejoong menatap namja yang dicintainya itu tengah tersenyum lebar kearahnya. Lalu mereka berbagi ciuman hangat yang selalu bisa membuat perut Jaejoong bergejolak bagai seperti ada ribuan kupu-kupu di perutnya.

Keduanya berakhir dengan berpelukan di atas ranjang. Yunho mencium pucuk kepala Jaejoong sayang. Betapa ia mencintai namja yang kini tengah berada dalam pelukannya.

"Aku juga harus meminta maaf atas perkataan Ratu yang tidak seharusnya, Jae."

"Kyuhyun masih 17 tahun, Yun."

"Aku tahu, aku tahu," Yunho mengusap helaian rambut halus milik Jaejoong. Boojae-nya memang sangat sensitive jika mereka sudah membahas tentang Kyuhyun.

"Apa ia benar-benar harus keluar istana setelah menikah?" tanya Jaejoong.

"Kau sudah pernah menanyakan hal ini, Boo. Kyuhyun memang harus keluar dari istana utama, tapi bukan berarti ia akan hidup seperti orang kebanyakan, ia akan tinggal di istana lain."

"Tapi kenapa? Kenapa harus Kyuhyun-ku?" Jaejoong mulai menumpahkan air matanya pada bagian dada pakaian Yunho. Yunho hanya bisa mengelus kelapa Jaejoong mencoba memberikan ketenangan.

Jaejoong tahu ia sangat cengeng sekarang. Tapi ia tidak bisa membayangkan ia harus dipisahkan dari anaknya. Selama ini ia bisa bertahan karena Kyuhyun, karena anaknya. Ia tidak yakin sanggup bertahan tanpa Kyuhyun-nya.

Bukan tanpa alasan Jaejoong merasa takut, tapi belakangan ini Jaejoong merasa Ratu ingin Kyuhyun segera mencari pasangan. Ia merasa kalau Ratu ingin segera mengusir Kyuhyun dari istana utama, entahlah mungkin firasat seorang ibu. Apa hanya perasaannya saja?

"Kenapa, Yun? Apa karena Kyuhyun hanya seorang pangeran biasa? Bukan Putera Mahkota?"

"Boo," Yunho menatap doe eyes yang berlinangan air mata di hadapannya. Ia tidak pernah bisa melihat sinar pada mata bulat indah itu kian meredup.

"A-apa kalau Kyuhyun seorang Putera Mahkota , ia akan tetap tinggal di istana utama apapun yang terjadi?"

"Apa yang ada di dalam pikiranmu, Jae? Kyuhyun seorang pangeran biasa dan tidak ada yang bisa merubah hal itu," Yunho menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Jaejoong, "apa yang kau risaukan?"

"Mianhae, aku hanya … aku …,"

Yunho memeluk Jaejoong erat, "Gwenchana. Semua akan baik-baik saja, percayalah."

'Kau hanya tidak tahu, Yun.'

~.~.~.~.~ Prince Hours ~.~.~.~.~

Kyuhyun menggeram kesal saat mengingat perkataan Ratu kemarin di meja makan. Yeoja itu selalu membuat dirinya naik pitam. Apakah ia memang berencana untuk segera mengusir Kyuhyun dari istana utama secepatnya, eoh? Teruslah bermimpi! Kyuhyun tidak akan meninggalkan umma-nya sendirian di tempat terkutuk itu, kalau perlu Kyuhyun tidak akan pernah menikah!

Seandainya dirinya lah yang menjadi Putera Mahkota … Ia tidak harus meninggalkan istana utama …

'Ck… yang benar saja," Kyuhyun mencibir pemikirannya barusan.

Kyuhyun tengah membawa nampan yang berisi makan siangnya dan sedang mencari tempat duduk di kantin sekolahnya saat melihat sahabatnya dengan senyuman lebar tengah melambaikan tangan ke arahnya.

"Di sini, Kyu~ aku sudah menjaga tempat duduk ini untukmu," teriak Eunhyuk dari kejauhan.

"Aku akan membunuhmu nanti, Lee Hyukjae," Kyuhyun merasa dirinya sudah menjadi tontonan seluruh orang di kantin gara-gara teriakan sahabatnya yang memalukan. Jadi, daripada mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan tempat duduk untuknya, Kyuhyun lebih memilih untuk menghajar sahabat yang telah mempermalukan dirinya di hadapan semua orang itu.

Walaupun begitu tetap saja namja manis berambut ikal itu tetap melangkah kearah sahabatnya yang tengah tersenyum lebar.

Tapi belum sempat Kyuhyun menyentuh kursinya, sesorang sudah terlebih dahulu menempatinya.

"Ya! Itu kursi milikku," teriak Kyuhyun.

Sesorang yang telah merebut kursi Kyuhyun hanya tersenyum mengejek, "Kurasa tidak ada namamu yang tercetak pada kursi ini. Jadi, siapa yang cepat dia yang dapat."

Kyuhyun menguatkan pegangan tangannya pada nampan makan siangnya, mencoba untuk tidak melemparkan makan siangnya ke wajah seseorang yang sangat menyebalkan di hadapannya ini.

"Pergi dari kursiku, Jung Changmin," desis Kyuhyun berbahaya, "lagipula kau tidak akan makan di tempat seperti ini."

"Siapa bilang? Aku mau makan, kok. Jadi, cepat ambilkan makanan untukku," perintah Changmin.

BRAAAK. Kyuhyun membanting nampan makan siangnya ke atas meja. Namja manis itu terlihat sangat kesal sekarang.

"Aku. Bukan. Pelayanmu."

Kyuhyun menatap Changmin tajam, tapi namja berwajah cute itu hanya menatap Kyuhyun santai.

"Ambilkan makanan untukku, Pangeran Kyuhyun," sekali lagi Changmin memberi perintah.

Kyuhyun mendesah frustasi. Ia lalu menggeser nampan makanannya ke hadapan Changmin.

"Ambil itu. Aku jadi tidak berselera makan karenamu," Kyuhyun jadi berpikir kalau Changmin sama menyebalkannya dengan ibunya. Kyuhyun sudah akan melangkah pergi sebelum tangannya ditahan oleh Changmin.

"Duduk," Changmin menyuruh Kyuhyun duduk di kursi di seberang kursinya – tempat Eunhyuk tadi duduk sebelum namja gummy smile itu beringsut menjauh.

"Ini makananmu, jadi kau yang harus memakannya," Changmin menggeser nampan makanan Kyuhyun mendekati empunya lalu ia menolehkan pandangannya kearah Eunhyuk, "Eunhyuk-sshi, bisakah kau mengambilkan satu porsi makanan untukku?"

Eunhyuk gelagapan mendapat perintah dari sang Putera Mahkota tapi ia tetap melaksanakannya juga.

"Jangan memerintah sahabatku seperti itu," kata Kyuhyun.

Changmin hanya mengendikkan bahunya cuek.

Kyuhyun hanya menatap makanan di hadapannya tidak berselera.

"Cepat habiskan makananmu. Jangan buat aku menyumpalkannya ke dalam mulutmu," ancam Changmin di tengah kunyahannya.

"Kenapa aku harus makan denganmu?" tanya Kyuhyun tidak suka. Namja manis itu memulai acara makannya sedangkan Changmin sudah mulai makan sedari tadi.

"Karena aku tahu kau lapar. Dan, habiskan sayuran hijaumu," Changmin memberikan peringatan pada Kyuhyun yang mulai memisahkan sayuran hijau dari piring miliknya.

Kyuhyun memandang sayuran itu jijik, "AKu tidak meyukainya."

"Makan semuanya atau aku yang akan memaksamu untuk memakannya."

Kyuhyun membanting sumpitnya, "Aku tidak mau. Lagipula kenapa aku harus mengikuti perintahmu?"

"Kalau kau lupa sesuatu, Pangeran," Changmin mengelap sudut bibirnya dengan serbet yang tersedia, "karena aku adalah Putera Mahkota."

Changmin tersenyum puas mendengar rutukan yang keluar dari bibir Kyuhyun. Selalu terasa menyenangkan menggoda pria manis yang lebih pendek darinya itu. Changmin bersiap pergi dari kantin.

"Aku tidak mau melihat sayuran hijau tersisa di atas piringmu, Jung Kyuhyun. Atau aku akan melaporkan hal ini pada 'umma'. 'Umma' pasti tidak akan suka kau tidak memakan sayuranmu," bisik Changmin tepat di telinga Kyuhyun sebelum pergi.

"Dasar Jung Sialaaaaan."

"Kau juga seorang Jung, Kyuhyun-ah," ucap Eunhyuk yang telah berada di sampingnya.

"Diam kau, Monyet."

~.~.~.~.~ Prince Hours ~.~.~.~.~

Kyuhyun baru pulang dari sekolahnya dan mendapati umma-nya tengah mendapat seorang tamu. Choi Dongwook. Sepupu dari Raja. Sudah menjadi rahasia umum kalau Choi Dongwook ingin mendapatkan posisi Raja sejak dahulu walaupun ia sebenarnya memang tidak berhak mendapatkannya. Tapi sudah beberapa kali ia kedapatan sedang mengincar posisi orang nomor satu di Korea. Ia tidak tinggal di dalam istana utama, tapi masih sering berkunjung untuk melaksanakan rencana-rencana liciknya tentu saja. Apa yang dilakukan orang itu di kediaman umma-nya?

Umma-nya selalu mengajarinya sopan santun, tapi tidak akan menjadi masalah bukan kalau ia menguping pembicaraan umma-nya dengan seseorang yang cukup berbahaya di istana?

"Kita berdua tahu kalau Pangeran Changmin tidak berhak menduduki posisi Putera Mahkota," ucap Choi Dongwook.

"Apa maksudmu?" suara umma-nya terdengar tercekat.

"Kita berdua tahu siapa yang lebih berhak menduduki posisi Raja selanjutnya."

"Aku tidak mengerti ucapanmu," suara ibunya terdengar semakin lirih di telinga Kyuhyun.

"Kau tidak tahu? Benar-benar selir raja yang polos. Apa kau tidak mau menjadikan anakmu Putera Mahkota?"

Jaejoong dan Kyuhyun sama-sama menahan napas mendengar ucapan Kyuhyun.

"Kalau Pangeran Kyuhyun menjadi Putera Mahkota, tidak ada lagi orang yang akan berani mencela kalian berdua. Tidak akan ada lagi yang memperlakukan kalian dengan tidak adil. Kalian akan mendapatkan apa yang seharusnya kalian dapatkan," ucap Dongwook menghasut Jaejoong.

"Apa yang kau inginkan?"

"Aku hanya menginginkan posisiku di Kerajaan."

Sebuah suara membuat Kyuhyun segera menegakkan tubuhnya dan tidak bisa mendengar percakapan mereka lagi.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Changmin yang melintas dan bingung menatap Kyuhyun yang sedang melakukan gerak-gerik mencurigakan.

"Sssst … bisa tidak kau kecilkan suara tenormu itu?" ucap Kyuhyun kesal.

Pintu kediaman jaejoong terbuka dan keluarlah namja cantik itu dengan seorang Choi Dongwook di belakangnya.

"Pangeran …," Jaejoong terkut mendapati anaknya dan Putera Mahkota berada di depan kediamannya.

"Ah, Kedua keponakanku yang sangat kurindukan," Dongwook sudah membuka tangannya lebar siap memberikan pelukan pada Kyuhyun dan Changmin namun keduanya terlihat malas membalas keinginan paman mereka itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Changmin tajam.

"Tentu saja mengunjungi keluargaku yang lain," jawab Dongwook dengan senyum yang tak pernah luput dari wajahnya.

"Sekarang, sebaiknya aku pergi. Terima kasih karena anda telah meluangkan waktu anda yang sangat berharga, Selir Kim. Senang bisa berbicang dengan anda. Saya berharap anda bisa mempertimbangkan penawaran yang saya berikan."

Ketiganya masih terdiam setelah kepergian Dongwook. Jaejoong menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya saat merasa resah.

"Apa yang dibicarakan orang itu?" tanya Changmin, tidak menyukai kenyataan bahwa Dongwook berbicara dengan Jaejoong.

"Bukan sesuatu yang penting, Hwangteja."

Changmin tahu Jaejoong tengah berbohong. Tapi ia diam saja.

"Apakah anda membutuhkan sesuatu hingga datang kemari, Hwangteja?" tanya Jaejoong sopan.

Kyuhyun memutar matanya bosan. Ia lalu pergi meninggakan Changmin dan ibunya.

"Maaf atas ketidaksopanan Pangeran, Hwangteja."

Changmin terkekeh kecil mendengar dengusan Kyuhyun, "Bukan masalah, umma. Tadi aku yang membuatnya …," Changmin menghentikan perkataannya saat menyadari ia telah salah bicara. Rupanya kebiasannya memanggil Jaejoong dengan sebutan umma semenjak berlibur di rumah Kim halmoni masih melekat pada bibirnya.

"Mian, aku tidak bermaksud– "

"Saya mengerti, Hwangteja," Jaejoong hanya tersenyum maklum melihat Changmin yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kebiasaan yang sama seperti ayahnya.

Changmin tidak bisa lagi menahan dirinya untuk memeluk tubuh Jaejoong, "Umma," panggilnya.

Changmin merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Jaejoong. Entahlah, mungkin karena ibu kandungnya tidak pernah memeluknya seerat ini, jadi ia merasa sangat senang sat Jaejoong memeluknya seperti ini.

Jaejoong mengelus rambut Changmin sayang, "Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Jaejoong.

Changmin mengangguk dalam pelukan Jaejoong, "Aku ingin makan samgyetang buatan umma."

Jaejoong terkekeh mendengar nada manja dari Changmin, mengingatkannya pada Yunho.

"Baiklah, umma akan membuatkannya untukmu. Nanti umma akan mengantarkannya ke tempatmu."

Jaejoong melepaskan pelukan mereka, "Aku ingin melihat umma memasak," pinta Changmin.

Jaejoong menggerakkan telunjuknya di depan wajah Changmin, "Tidak boleh. Aku akan dimarahi Dayang Utama kalau ia sampai tahu aku membiarkanmu masuk ke dalam dapur istana."

"Baiklah," ujar Changmin enggan.

Changmin mencium pipi Jaejoong sebelum beranjak pergi tanpa menyadari seseorang tengah memperhatikan keduanya sejak tadi sambil menahan amarahnya.

"Kim jaejoong …," desis Ratu bagaikan seekor ular yang tengah mengintai mangsanya.

~.~.~.~.~ Prince Hours ~.~.~.~.~

Sebelum memasak makanan pesanan Changmin, Jaejoong menyempatkan diri untuk mengunjungi anaknya.

Kyuhyun sedang berbaring di atas ranjangnya sambil memainkan PSP barunya.

"Bukankah satu jam lagi kau akan ada pelajaran berkuda dengan Putera Mahkota?"

Kyuhyun hanya menjawab pertanyaan umma-nya dengan gumaman tidak jelas. Jaejoong merasa Kyuhyun sedang tidak mood.

"Apa yang terjadi? Apa kau bertengkar lagi dengan Putera Mahkota? Kau harus bisa menjaga sikapmu, Kyuhyun-ah. Kau tidak boleh berperilaku kurang ajar lagi dengan beliau ya."

Kyuhyun merasa sangat kesal saat umma-nya terus memperingati dirinya mengenai perilakunya. Bukan salahnya kan kalau Jung Changmin itu sangat menyebalkan, kan?

Kyuhyun mengendikkan bahunya, "Dia tampan, pandai, dan seorang Putera Mahkota. Bagaimana aku bisa berperilaku kurang ajar padanya?"

Jaejoong memeluk tubuh anaknya erat. Walaupun bersikap tidak peduli dan cuek, Jaejoong tahu Kyuhyun tengah terluka.

Istana bagian Timur (Kediaman Putera Mahkota) …

Changmin terlihat bersemangat saat pintu kediamannya terbuka, ia berpikir itu kedatangan Jaejoong yang membawa samgyetang untuknya. Namun, senyum yang terpatri di wajahnya harus ia simpan kembali karena itu ternyata kedatangan Ratu, ibunya.

"Kau terlihat tidak begitu senang dengan kedatanganku, Hwangteja."

Changmin membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada ratu, "Bukan begitu, Hwanghu Mama. Hanya saja, tidak biasanya anda datang berkunjung."

"Changmin-ah,"

Changmin tersentak mendengar sang ratu yang memanggil namanya. Changmin bahkan sudah lupa kapan terakhir kali yeoja itu memanggil namanya.

"Changmin-ah, kemarilah."

Dengan sedikit ragu Changmin berjalan mendekati Ahra. Dan kemudian yeoja itu memeluk Changmin, anaknya.

"Umma sangat menyayangimu."

Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak Changmin, ibunya yang selalu menjunjung tinggi tradisi keluarga kerajaan akan memanggil namanya dan memeluknya seperti ini. Tapi rasanya aneh, rasanya berbeda saat Jaejoong yang memeluk tubuhnya. Tidak ada kehangatan yang selalu Changmin dapatkan saat berada dalam pelukan Jaejoong.

Changmin merasakan setetes air menetes ke tangannya. Umma-nya menangis.

"U-umma?" panggil Changmin penuh keraguan.

Ahra menangis dalam diamnya dan menciumi wajah anaknya, "Umma mohon, jangan panggil orang lain dengan sebutan itu, Changmin-ah. Karena kau anak umma."

Changmin tersentak.

"Jangan memanggil namja jalang itu dengan sebutan umma."

Changmin melepaskan pelukan Ahra paksa.

"Apa? Kau tidak suka umma memanggilnya seperti itu? Demi Tuhan, Changmin-ah. Dia telah merebut semua perhatian appa-mu dari umma, merusak pernikahan kami, menjerat appa-mu dalam cinta palsunya dan sekarang ia ingin merebutmu dari umma, Changmin-ah. Tidakkah kau berpikir ia sangat jahat?"

Changmin hanya terdiam mendengar curahan hati ibunya. Changmin tidak bodoh untuk menyadari umma-nya tersiksa dengan kedekatan appa-nya dan selirnya. Tapi bukankah itu konsekuensi seorang ratu yang rajanya memiliki selir? Bukankah itu hal wajar di dalam kerajaan? Changmin hanya tidak menyukai ibunya mengatakan hal yang buruk tentang Jaejoong karena menurut Changmin, Jaejoong sangat baik.

"Dia mengincarmu, Changmin-ah," Ahra menggenggam tangan Changmin, "Umma sangat menyayangimu. Tidakkah kau menyayangi umma?"

"Aku menyayangimu, umma," tentu saja Changmin menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.

"Kalau kau menyayangi umma, berjanjilah untuk tidak mempercayai perkataan manis tapi palsu yang keluar dari mulut Kim jaejoong. Dia berusaha mencari simpati darimu dan bisa saja menikammu dari belakang. Berjanjilah pada umma. Ini juga demi keselamatanmu."

Changmin menatap mata umma-nya yang bergelinangan air mata. "Aku berjanji."

~.~.~.~.~ Prince Hours ~.~.~.~.~

Jaejoong bersama beberapa dayang membawakan makanan pesanan Changmin, namun namja cantik itu menyadari bahwa putera mahkota-nya makan dengan kurang semangat, tidak seperti biasanya.

"Apa ada yang salah dengan masakan saya kali ini, Hwangteja?" tanya Jaejoong hati-hati.

Changmin mengangkat kepalanya untuk memandang wajah cantik yang terlihat sedikit mencemaskan dirinya. Apakah benar wajah yang bagai seorang malaikat ini berniat jahat padanya? Changmin selalu berpikir kalau Jaejoong benar-benar menyayanginya seperti anak kandungnya. Haruskah ia mempercayai kata-kata ibunya? Changmin jadi teringat kunjungan Dongwook ke kediaman Jaejoong tadi. Apa jangan-jangan…?

Otak Changmin masih sibuk berspekulasi tanpa menyadari jaejoong yang sudah terduduk di sampingnya dan tengah menatapnya khawatir.

"Anda baik-baik saja, hwangteja? Anda terlihat sedikit pucat," Jaejoong menyentuh tangan Changmin pelan namun Changmin segera menghempaskan tangannya, menolak sentuhan Jaejoong.

"Aku baik-baik saja. Kau boleh pergi sekarang, Selir Kim."

Butuh beberapa detik ekstra bagi Jaejoong untuk menyadari perintah Changmin karena selama ini Changmin tidak pernah memerintah dirinya, kali ini ia merasa sedikit terkejut.

"Mianhamnida, Hwangteja. Saya mohon diri," Jaejoong membungkukkkan tubuhnya sebelum menutup pintu kediaman Changmin.

Jaejoong menggigit bibirnya keras, menahan setiap bulir air mata yang siap meluncur dari matanya. Astaga, kenapa dadanya terasa begitu sesak?

Changmin sendiri merasa sangat bersalah telah bersikap seperti itu pada Jaejoong. Changmin menatap samgyetang yang masih tersisa banyak di piringnya, ia sangat menyukai masakan buatan Jaejoong tapi sepertinya saat ini bukan waktunya untuk makan karena ia harus meminta maaf pada Jaejoong, mungkin nanti.

~.~.~.~.~ Prince Hours ~.~.~.~.~

"Kau yakin akan berkuda dengan kondisi tubuh yang menyedihkan seperti itu?" tanya Kyuhyun sedikit mengejek Changmin.

Tapi Kyuhyun ada benarnya juga. Changmin merasa lemas sekarang, kepalanya pusing dan tenggorokannya terasa sangat panas. Ia dan Kyuhyun tengah bersiap di pinggir lapangan pacu kuda kerajaan, bersiap untuk berkuda seperti biasanya jika Changmin merasa sedang tidak sehat sekarang.

"Kau yakin tidak ingin istirahat di dalam kamarmu yang hangat?"

Walaupun terselip nada khawatir dalam kalimatnya, Changmin tetap saja merasa Kyuhyun sangat cerewet sekarang. Tidak bisakah namja imut itu diam sebentar saja?

"Uhuk … uhuk …," kini tenggorokannya terasa sangat gatal sekaligus panas, panas sekali seperti ada bara api di dalam tenggorokannya!

Changmin tidak berhenti batuk dan memegangi lehernya. Kyuhyun dan beberapa pengawal mulai cemas dengan keadaan Changmin saat namja tinggi itu menekuk lututnya dan membungkuk sambil terus terbatuk seperti tengah merasakan rasa sakit yang teramat sangat.

"Hey, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Kyuhyun memegangi tubuh Changmin yang limbung lalu matanya membulat kaget saat melihat cairan kental berwarna merah keluar dari sela-sela jemari Changmin yang menutupi mulutnya.

"Changmin-ah! Changmin-ah!" Kyuhyun semakin panik saat Changmin berhenti terbatuk dan berhenti melakukan pergerakan, Changmin kehilangan kesadarannya.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat panggil dokter, bodoh!" teriak Kyuhyun pada beberapa pengawal di sana.

~.~.~.~.~ Prince Hours ~.~.~.~.~

"Putera Mahkota keracunan," ucap dokter istana.

"Bagaimana bisa Putera Mahkota keracunan? Siapa orang yang bertanggung jawab atas hal ini?" teriak Yunho pada para dayang, pengawal, dan petinggi istana. Jaejoong yang berada di pojok ruangan tidak berhenti berdoa untuk keselamatan Changmin.

Keadaan Changmin sudah membaik, dan namja tinggi itu masih terbaring di ruangannya ditemani Kyuhyun yang tidak mau melepaskan genggaman tangan Changmin yang juga menggenggam tangannya erat.

Ratu yang duduk di dekat Raja terus menangis dan Ibu Suri berada di sampingnya menenangkannya.

"Ampuni saya, Yang Mulia. Tapi saya sudah memeriksa setiap makanan Putera Mahkota terbebas dari segala macam racun. Saya berani menjaminnya, Yang Mulia," ujar Kepala Dapur Istana.

"Kalau begitu kenapa Putera Mahkota bisa sampai keracunan, eoh? Kau mau kepalamu yang menjadi taruhannya?"

Yunho menenangkan emosinya yang menggelegar. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa anaknya memakan racun?

"Saya sudah mencari tahu darimana racun itu berasal sesuai perintah anda, Yang Mulia," ujar Sekretaris Jang.

"Lalu?" setiap orang dalam ruangan itu menunggu jawaban sekretaris Jang.

"Saya menemukan racun pada sepiring samgyetang yang disisakan Putera Mahkota sebelum beliau pergi berkuda hari ini," sekretaris Jang terlihat sedikit ragu saat menjelaskan masalah racun itu.

"Samgyetang? Aku ingin semua dayang yang terlibat pembuatan samgyetang itu dijebloskan ke dalam penjara," perintah Yunho.

"Tapi, Yang Mulia, itu bukan buatan para dayang yang bertugas di dapur istana," lanjut sekretaris Jang.

Pria berusia diatas setengah abad itu melirik Jaejoong yang sudah sangat pucat di pojok ruangan, "Itu buatan Selir Kim."

Setiap pasang mata kini mengarah ke seorang namja cantik yang tengah menundukkan wajahnya dan menggigit bibirnya.

"Boo?" bisik Yunho pelan tidak percaya.

"Aku tahu kau pelakunya! Kau ingin membunuh Putera Mahkota! Kau meracuninya agar Pangeran Kyuhyun bisa menjadi Putera Mahkota!" teriak Ratu marah sambil menunjuk Jaejoong.

Jaejoong menggeleng, "A-aku … aku tidak …,"

"Aku tahu kau ingin Kyuhyun yang menjadi Putera Mahkota tapi apakah kau harus meracuni puteraku?" Ratu tidak bisa menahan tangisnya lagi, ia menutup wajahnya dan terisak keras.

Jaejoong menatap mata Yunho yang kini menatapnya kecewa.

'Yun? Apa kau tidak mempercayaiku?' bisik Jaejoong dalam hati.

"Tidak mungkin Selir Kim berniat untuk meracuni Putera Mahkota," ujar Ibu Suri.

Ratu tidak percaya Ibu Suri malah membela namja (yang menurutnya) jalang ini padahal jelas-jelas semua bukti sudah mengarah pada Jaejoong.

"Apa ini yang kau rencanakan bersama Choi Dongwook, Kim Jaejoong?" tanya Ratu sinis.

"Choi Dongwook?" Yunho bingung kenapa nama sepupunya yang berkhianat dibawa-bawa.

"Hari ini Choi Dongwook datang mengunjungi Kim Jaejoong, Yang Mulia. Mereka pasti sudah merencanakan semua ini. Apa yang anda tunggu? Cepat hukum dia, Yang Mulia."

Yunho dilemma. Ia tahu Jaejoong tidak akan berniat untuk membunuh seseorang apalagi itu anaknya dengan orang lain, tapi jika ini memang rencana yang disusun oleh sepupunya? Dan jika Jaejoong melakukannya untuk Kyuhyun? tidak ada yang tidak mungkin.

Astaga, apa yang barusan ia pikirkan? Jaejoong memiliki hati yang sangat lembut tidak mungkin ia bisa melakukan hal sejahat itu pada Changmin.

"Yang Mulia, saya rasa kita harus mengamankan Selir Kim sampai ia benar-benar terbukti bersalah," ujar salah seorang petinggi kerajaan.

Yunho tahu, ia seorang Raja dan sekarang ia harus memberikan sebuah perintah. Semua orang menantikan perintah darinya. Tapi apakah ia harus menghukum Boojae-nya?

Yunho menatap doe eyes indah yang selalu menghanyutkan pikirannya. Yunho bisa melihat raut permohonan di wajah cantik Jaejoong. Jaejoong-nya yang cantik tengah meminta tolong padanya…

Tapi keadilan harus tetap ditegakkan.

"Masukkan ia ke dalam penjara," perinta Yunho. Namja tampan itu membalikkan tubuhnya menolak memandang raut sedih dan kecewa dari seseorang yang dicintainya. Ia mengepalkan tangannya erat merasa dirinya tidak berguna sekarang karena tidak bisa menolong kekasih hatinya.

Ia seorang raja dan ia harus berlaku adil serta tidak memihak. Ia membenci dirinya yang seperti ini.

Jaejoong menatap punggu Yunho tidak percaya. Yunho menjebloskan dirinya ke dalam penjara? Yunho-nya? Apakah Yunho tidak mempercayai dirinya?

Yunho mengangkat kepalanya memandang langit-langit istana, mencegah air mata yang menyeruak keluar. Ia harus kuat.

'Mianhae, Boo.'

.

.

.

TBC

Ada yg bingung :D? Saya tau ini sudah lama sekali sejak saya mengapdet ff ini, saya benar-benar meminta maf kpd teman2 yg menantikan kelanjutan ff Prince Hours ini. Saya kehilangan ide cerita ff ini, jadi mian kalo terasa ada yg krg pas di chapter ini. Saya sendiri merasa sedikit 'maksa' di chapter ini tapi itu saya lakukan agar ff ini cepat rampung jadi saya gak ada beban pikiran lagi XDAh, saya suka adegan jeje dipenjara sebenarnya tapi saya simpan utk chapter2 depan haha. Trus saya udah lama gak nulis adegan changkyu yg berantem, rasanya kangen deh hehehe. Baiklah, pertanyaan teman2 yg terus kalian tanyakan dari awal ff ini akan terjawab di chapter depan (semoga saja). Gimana chapter ini menurut kalian? Mian kalo byk typo ya~

.

Thanks to:

Park Seuri, riekyumidwife, Kyungie Jae, YunHolic, 3kjj, Mily1909, shanzec, Vic89, ifa. , Dipa Woon, hanasukie, nunoel31, PandaMYP, leeChunnie, , gothiclolita89, azahra88, hexsaa, mita changmin, Casshipper Jung, yoon HyunWoon, Hana - Kara, Clein cassie, .1272, henry'swife, Himawari23, I was a Dreamer, devil meet demon, dyayudya, FiWonKyu0201, haruko2277, zhe, runashine88, nickeYJcassie, Youleebitha, vampireyunjae, magnaeris, , Angel Muaffi, JungJaema, Dennis Park, Ovie Ovi, anastasya regiana, .5, KJhwang, aoi ao, SungJinRin, Uchiha Tachi'4'Sora, Minhyunni1318, hi-jj91, jaena, Ria, tiikka, min, Kitukie, imeka, Elzha luv changminnie, shiro20, Yoo, Rama, rinda, D, De, BooBear, Choi Min Gi, diyas, princess yunjae, DBSJYJ, Que, BooMilikBear, ChoiMinhoANAE, ravenremnant, hatakehanahungry, akiramia44, Nee-chan CassieBigeast, maichannie26, fuyu cassiopeia, changdola, Ristinok137, guest, dan para SR~