Disclaimer: Kubo Tite-sensei dan Yana Toboso.

Character: Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia.

Author: rukii nightray.

Genre: Tragedy, Angst dan Friendship.

P.S: latar tempat dalam fic ini adalah 'London dalam versi fiksi'. Latar waktunya sekitar tahun 1880-an. Cerita ini juga fiksi dan tidak berhubungan dengan kejadian atau tokoh yang sebenarnya.

Warning: OOC dan segala macam kekurangan di fic ini^^

...

"Karena... aku berbeda dengan manusia lainnya. Sebelumnya, ucapkan kata-kata itu pada dirimu sendiri. Kau juga... bukan manusia kan?"

.

.

.

Guillotine no Uta

Avenue: ten: "Nyanyian Tunggal yang Membelah Langit."

Ichigo menelan ludahnya. Ia mengepalkan jarinya kuat-kuat. Perkataan wanita itu menghujam tepat ke ulu hati. Membangkitkan beberapa kenangan masa lalunya yang ingin ia lupakan.

Wanita itu masih menatapnya dengan tajam dan dingin. Tatapan mata tersebut seolah menghisap Ichigo ke dalam dunia masa lalunya. Rumah kayu tua, cairan kimia di dalam tabung-tabung reaksi, jas berwarna putih yang dingin, warga kota yang mengamuk, api, dokter bertopeng hitam, dan... alasan hidup di dunia ini...

.

.

"Kau tahu? Kau butuh sebuah alasan agar kau dapat hidup di dunia yang kejam ini."

.

.

Kata-kata sang dokter kembali terngiang-ngiang di telinga Ichigo. Ichigo memang bukan manusia biasa. Ia sangat tahu hal itu. Setelah hari itu, setelah meminum cairan aneh buatan sang dokter. Ia memiliki kekuatan melebihi manusia biasa. Kekuatan yang telah menjadi alat pembunuh selama bertahun-tahun silam.

.

.

Ichigo kembali teringat pada suatu malam saat ia masih tinggal bersama sang dokter di rumah kayu tua. Malam itu hujan badai dan udara sangat dingin. Ichigo kecil diam-diam melihat ke dalam kamar sang dokter dari celah kecil pintu yang terbuka. Walau hanya samar-samar dari cahaya lilin yang redup, Ichigo kecil bisa melihat sang dokter sedang memegang sebuah bingkai foto. Foto seorang gadis kecil seumurannya dengan di sebuah taman bunga.

"Aku... ingin anak yang lebih kuat, lebih sehat, dan lebih sempurna... ia bisa selamanya menemaniku dan tidak pernah meninggalkanku..."

.

.

Ichigo melonggarkan kepalan tangannya dan kembali menelan ludahnya entah untuk yang keberapa kalinya, "Aku... memang berbeda dari manusia biasa. Itu semua adalah takdirku, alasanku untuk hidup. Tapi... itu dulu."

Wanita itu terkesiap. Tatapan matanya berubah. Kali ini Ichigolah yang menatap tajam kedua bola mata kaca milik wanita itu.

.

.

"Ada. Masih ada satu alasan."

Ichigo mengangkat kepalanya dan menatap lurus-lurus kedua bola mata violet Rukia yang penuh kejujuran.

"Kau harus melindungiku..."

.

.

"Aku sekarang mengerti... Kau... melakukan semua itu karena kau kesepian bukan?"

Wanita itu tersentak mendengar perkataan Ichigo. Matanya yang seperti gelas kaca terbelalak lebar. Ia berteriak hingga gemanya menyelimuti seluruh hutan. Lampu perak yang sedari tadi digenggamnya terjatuh ke tanah yang lembap. Dengan gerakan yang cepat, ia kemudian melempar dua buah pisau yang ia sembunyikan di balik gaunnya ke arah Ichigo. Ichigo tidak bisa menghindarinya. Pisau itu menancap dan menusuk bahu kiri serta paha kanannya.

"Hei! Tunggu!" teriak Ichigo pada wanita misterius itu. Wanita itu dengan cepat berlari masuk ke dalam hutan. Ichigo baru saja ingin mengejarnya saat ia mendengar suara Rukia yang memanggilnya dari kejauhan.

"Ichigoo!"

Rukia berlari menghampiri Ichigo bersama Nemu dan Renji di belakangnya. Ichigo tidak jadi mengejar wanita itu dan menunggu Rukia.

"Ru, Rukia? Kenapa kau bisa ada di sini?! Hutan di malam hari itu sangat berbahaya!"

Rukia sedikit terkejut. Baru kali ini ia dimarahi oleh Ichigo. Ia sadar, Ichigo pasti mengkhawatirkannya sejak peristiwa semalam. Tapi rasa bersalahnya hanya sesaat, "Apa ini?!" teriak Rukia ketika melihat dua buah pisau yang menancap di bahu dan paha Ichigo.

"Ah ini. Tidak apa-apa, hanya luka kecil."

"Luka kecil?!" protes Rukia sambil mencabut kedua pisau tersebut dengan sedikit kasar, membuat Ichigo sedikit meringis kesakitan, "Ah!"

"Apanya yang luka kecil?!"

"Tapi kau tidak perlu mencabutnya dengan cara seperti itu!"

Sambil terus berbicara dan memarahi Ichigo, Rukia merobek lengan gaunnya dan segera membalut luka Ichigo dengan robekan gaunnya itu. Baru kali ini Ichigo melihat Rukia dengan emosi yang tidak terkendali seperti ini. Berbeda sekali dengan topeng kepribadian Rukia yang tenang dan dewasa. Renji yang ikut menjadi kesal karena harus meninggalkan pos jaganya demi menjaga Rukia yang ingin menyusul Ichigo ke dalam hutan pun ikut memarahinya. Tapi Ichigo tidak dapat mendengar suara mereka. Entah mengapa yang terdengar adalah suara sang dokter...

.

.

"Ichigo, manusia itu adalah makhluk yang lemah jika ia sendirian. Sekuat apapun manusia itu, ia akan tetap menjadi lemah. Oleh karena itu, teruslah hidup Ichigo... berikan kekuatanmu padaku dan juga... pada seseorang yang sedang menunggumu..."

.

.

Tiba-tiba saja Ichigo menyentuh wajah Rukia dengan tangan kanannya yang tidak terluka. Hal tersebut membuat Renji terkejut, "Hei! Ap, apa yang—"

Nemu dengan cekatan segera menahan bahu Renji dan mencegahnya mendekati mereka berdua.

Fajar perlahan-lahan mulai menyingsing, cahayanya masuk melalui celah-celah kanopi dan menyinari tubuh mereka. Sinarnya terasa begitu hangat. Tidak terasa malam yang dingin dan panjang ternyata telah mereka lewati.

Orang inilah yang telah membawaku keluar dari kegelapan, ucap Ichigo di dalam hatinya.

"Rukia... jangan biarkan aku di tempat yang gelap itu lagi. Kumohon... tetap... bernanyilah untukku."

Mata violet Rukia terbelalak. Keheningan menyelimuti hutan dingin yang perlahan-lahan menghangat itu. Sama. Sama seperti perasaannya. Rukia kemudian tersenyum sambil menyentuh tangan kanan Ichigo dan kemudian menggenggamnya, "Apa kau sedang bercanda Ichigo? Lihatlah, buka matamu. Apakah tempat ini terlihat gelap bagimu?"

Ichigo terpana mendengar perkataan Rukia. Ia kemudian mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap kedua bola mata violet Rukia yang begitu menyejukkan hatinya. Cahaya matahari yang terbit di balik punggung Rukia membuat Rukia bercahaya dan terlihat seperti malaikat. Membuat Ichigo semakin silau akan senyum dan kehangatan yang diberikan oleh Rukia. Betapa bodoh dirinya, apalagi yang harus ia keluhkan?

"Aku akan bernyanyi untukmu karena bernanyi adalah alasanku untuk hidup."

Imaginer les anges chanter (Imagine the angels singing)
La voix du vent passer, passer (The voice of the wind passes, passes)
L'horizon argenté (The silver horizon)

Rukia mulai bernyanyi dengan suara seriosanya yang khas. Sebuah nyanyian tunggal yang seolah membelah langit. Suara yang lembut itu menggema keseluruh hutan dan menghangatkan setiap rongga-rongga kehidupan yang ada di dalamnya.

Imaginer le vent fredonner (Imagine the wind humming)
Penser et puis rêver, rêver (Think and then dream, dream)
Et puis se souvenir (And then remember)

Walau lagu yang dinyanyikan Rukia itu berbahasa Perancis dan Ichigo tidak mengerti artinya entah mengapa ia tetap dapat merasakan kehangatan pesan yang ingin disampaikan Rukia lewat lagu itu kepada Ichigo. Tidak. Tidak hanya kepada Ichigo, tapi kepada Renji, Nemu dan semuanya...

Se laisser bercer (Let yourself be rocked)
Par l'immensité (By the vastness)
S'endormir dans les rêves (Fall asleep in the dreams)
Voler vers le ciel (Fly towards the sky)
S'endormir dans les rêves, rêves (Fall asleep in the dreams, dreams)

Regarder les papillons voler à la lune (Look at the butterflies flying to the moon)
In Arabesque whirls (En arabesques tournoyer)

Renji yang baru pertama kali ini mendengar suara nyanyian Rukia hanya bisa diam tidak bergerak. Suara Rukia seolah menghipnotisnya. Semua kata-kata pujian seolah tidak cukup untuk menggambarkan keindahan intens yang sedang dirasakannya saat ini. Suara Rukia bagai gelombang supersonik yang mampu menembus ruang di hatinya dan bergema di dalamnya. Menari-nari indah di dalam telinganya. Sungguh, Renji telah jatuh cinta pada Rukia.

Se laisser bercer (Let yourself be rocked)
Par l'immensité (By the vastness)
S'endormir dans les rêves (Fall asleep in the dreams)
Et (And)
Se souvenir que l'on aime la vie, la vie, la vie... (Remember that one loves life, life, life...)

Ichigo bersyukur bisa merasakan seperti ini... perasaan manusia...

"Terimakasih Rukia."

...

"Hh... Hh... Hh..."

Wanita itu terus berlari membelah hutan yang sunyi. Rambut peraknya yang panjang berkibar-kibar, membuatnya terlihat bagai sebuah kilat di kegelapan. Ranting-ranting pohon yang melukai dirinya tidak ia hiraukan. Ia terus berlari. Rasa sakitnya belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang jauh ada di dalam hatinya.

Sebuah kereta kuda telah menunggunya di ujung hutan. Kereta kuda itu ditarik oleh dua buah kuda berwarna hitam. Terlihat oleh dirinya seseorang berdiri di samping kereta kuda itu. Orang itu menundukkan tubuhnya ketika sang wanita mendekatinya.

"Selamat datang. Silakan naik My La-"

DOR!

Sebuah peluru menembus kepala sang pelayan dengan begitu cepat. Tubuhnya seketika jatuh ke tanah. Wanita itu terdiam beberapa saat sambil tetap mengacungkan pistol revolvernya pada pelayan yang telah mengabdi pada keluarganya puluhan tahun itu.

"Jangan salahkan aku..."

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

"KUBUNUH! KUBUNUH! KUBUNUH! Pasti akan kubunuh! Makhluk itu! Aku tidak kesepian! Jangan bercanda!" ucap wanita itu sarkastik sambil terus menembaki pelayan terakhirnya yang sudah tidak bernyawa itu hingga peluru revolvernya habis.

Perlahan ia kemudian menghampiri tubuh yang berlumuran darah itu dan berbisik di telinganya, "Aku sungguh-sungguh mencintainya. Jika memang aku harus membunuh semua manusia di bumi ini maka akan aku lakukan..."

...

"Rukia! Darimana saja kau?! Pergi mengejar pembunuh?! Sudah kubilang kan ada saat-saatnya dimana kau harus bisa menahan diri!" teriak Kaien begitu Rukia muncul di hadapannya. Ia begitu kesal dan cemas melihat tingkah Rukia yang selalu membahayakan dirinya sendiri. Walau Rukia telah selamat sampai di Manor House keluarga Matsumoto, Kaien tetap saja khawatir padanya.

Rukia memeluk Kaien, "Lihat... aku tidak apa-apa kan?"

Sejak kecil, Kaienlah yang selalu menjaga Rukia dan Nemu. Nemu memang tidak pernah membuat masalah seperti Rukia yang keras kepala. Jika amarah Kaien sudah memuncak seperti ini, Rukia akan selalu langsung memeluknya untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Cara itu selalu bisa untuk meredakan amarah Kaien.

"Maaf Kaien... aku selalu mengkhawatirkanmu. Maaf... aku juga mencemaskan Ichigo."

Kaien mengusap-usap kepala Rukia, "Dasar, kau ini selalu saja begitu sejak dulu. Sudah kukatakan berulang kali kan? Jika kau membahayakan dirimu sendiri itu berarti akan menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi orang lain yang ingin melindungi keegoisanmu. Lihat luka Ichigo,"

Mendegar namanya disebut, Ichigo yang lukanya sedang diperban oleh Shuhei langsung tersentak kaget dan berdiri, "Tidak Kaien-san, luka ini bukan salah Rukia. Sungguh!"

"Hahahaha kau tidak usah kaget seperti itu Ichigo. Aku tahu... kau itu spesial bagi Rukia kan?" kata Kaien menggoda Ichigo sambil menghampirinya dan mendudukkan kembali Ichigo ke kursi untuk diobati. Tentu saja, semburat merah muda muncul di wajah Ichigo.

"Ap, apa—"

"Orang sakit harus disembuhkan. Perban yang baik ya Shuhei."

"Baik, Tuan."

"Hahahaha iya Ichigoo kau itu spesial bagiku," ucap Rukia sambil ikut-ikutan menggoda Ichigo. Lucu sekali melihat reaksi Ichigo yang seperti itu, pikir Rukia. Perlahan-lahan Rukia mulai melihat banyak sisi lain dari Ichigo yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. Begitu manis dan hangat.

"Cih!," tidak begitu jauh dari mereka berempat, Renji dan Nemu berdiri berdampingan dan hanya bisa terdiam menatap mereka dari jauh. Nemu memang sudah biasa melihat suasana seperti itu dan ia lebih memilih untuk tidak merepotkan dirinya sendiri bergabung dengan mereka. Sedangkan Renji? Ia yang baru pertama kali melihatnya terlihat begitu kesal. Mungkin itu hanya rasa cemburu.

"Hei, anak itu... anak yang dipungut Rukia di East End kan? Mengapa sepertinya Rukia sangat... menyayanginya? Jika Lord Kaien aku tidak heran karena mereka sudah berteman sejak kecil."

Nemu yang merasa bahwa pertanyaan itu ditujukan untuknya menoleh ke arah Renji. Ia kemudian menatap lurus-lurus kedua mata Renji tanpa menjawab pertanyaannya. Renji yang kemudian sadar karena ditatap seperti itu menjadi gugup, "Eh, eh bukan maksudku seperti yang kau pikirkan, itu—"

"Karena mereka berdua sama."

Mendengar Nemu berbicara Renji kemudian terdiam sesaat. Apakah itu menjawab pertanyaannya?

"Apa maksudmu dengan sama? Apa yang sama?"

Nemu tidak menjawab dan kembali diam. Matanya menatap kosong mereka berempat. Seandainya... kami juga sama, pikirnya di dalam hati.

"Hei! Aku tidak mengerti jawabanmu, apa maksudmu?" protes Renji pada Nemu yang selalu memberikan jawaban abstrak seperti itu. ia tidak pernah bisa membaca maksud dan jalan pikiran Nemu. Namun Nemu tidak terusik. Ia kemudian memejamkan matanya.

"Tidak apa. Kau tidak perlu mengerti... karena semuanya sebentar lagi akan terjawab seiring dengan datangnya badai..."

...

-tsuzuku-

*insert song Odin Sphere's Theme by Noriko Kawahara

Uwooooh padahal tadinya saya sudah bertekad untuk melanjutkan fic ini tanpa berlama-lama sampai tuntas tas tas, tapi... lagi buntu nih idenya mampet hehehhe, jadi maaf kalo ceritanya tambah aneeh :')

Oh iya kemarin saya tidak membalas review ya, huhuhu maaf lupa :p #faktorU nah, sekarang inilah jawaban review chapter 7 sampai 9 :)

Rukianonymous, hahaha maaf saya bingung mau pakai pair apa, habis yang jadi wanitanya itu harus yang kesannya 'Lady' banget gituu. Iyaa pasti dilanjutin koo :') kalau saya ga buntu ide yaa hehehe #canda hayooo siapa? :p saya ngga akan jawab lhooo :)

Nakamura Chiaki, Maaf juga updetnya selalu lama~~ T^T hayoo hayooo main tebak-tebakan yaa :D

Nanamori Chan, arigatooou :DD

Reiji m, Terimakasih :)

Sisi Shirayuki, iyaa maaf ya telat huhuhu T^T doakan saja otak saya kembali normal :p hehehe

Va Der Flohwalzer, nggak apa-apa va-chan :) saya juga kadang-kadang suka lupa balas PM kooo :p eeh hontou ni? Hahaha pasti diupdate kooo terimakasih ya udah selalu review dan support :D

Naruzhea AiChi, wah... maaf ya ini fic bikin sakit kepala hahaha, arigatou :)

Nine, chapter ini udah tentang Ichigoo loh sesuai request kamu :) hehehe nggak semua sih :p

Terimakasih untuk readers yang selalu setia menunggu cerita ini :') Huhuhuhu T.T hontou hontou hontou ni arigatouuu

Seperti biasa saya ucapkan terimakasih kepada semua reader dan author yang telah mem-fave ataupun selalu me-RnR cerita ini.

Bagaimana cerita chapter 10 kali ini? Ini akan mendekati akhir lho tapi belum berakhir, hehehe, tetap ditunggu reviewnya ya :DD. Kritik boleh~, asal jangan flame.

Sekali lagi, keep RnR ya!

AYO REVIEW :D

Jaa mata nee... (/-o-)/