Kai menyesap Americano-nya perlahan, noda tipis di sudut bibir ia biarkan tercetak disana. Nikotin yang semula terapit jemari, kini mampir sebentar untuk dihisapnya kuat-kuat, baru kemudian batangan itu berakhir di asbak. Kai menikmati paginya di Mansion mewah keluarga Kim.

Ketenangan, ia mendapatnya saat duduk di gazebo seorang diri. Sembari memandangi tanaman hias hasil karya Ibunya, seraya mengukir senyuman kala mengingat malam kemarin—dia yang mengerjai Kyungsoo habis-habisan adalah dirinya yang paling bejat.

Kai tidak peduli. Ia suka—ia senang—ia bahagia—maka, semuanya berjalan sesuai rencana.

"Tuan, ada seseorang yang datang mencari Anda." Kai menoleh menuju belakang punggungnya, mendapati pelayan wanita sedang membungkuk hormat.

"Siapa?"

"Dia bilang namanya Luhan. Teman anda, Tuan." Kai mengangkat alis, meletakkan cangkir kopinya, kemudian menyeringai samar. Ia membalas tatapan si pelayan—lamat-lamat.

"Suruh dia kemari."

Dengan perintah itu, si pelayan mengangguk dan segera memanggil sang tamu. Kai tak perlu menunggu lama hingga sosok cantiknya itu berada didepan wajahnya. Xi Luhan, salah satu gigolo yang tak ingin kehilangan Kai, dia yang bisa melakukan segala cara agar Kim Kai bertahan bersamanya.

"Honey, darimana kau tahu Mansion-ku?" Kai bertanya ketika bibir Luhan meminta akses masuk. Setelah kecupan itu, Luhan tertawa kecil—sedikit bercampur tawa licik. Entahlah, mungkin hanya perasaan Kai, tapi Luhan terlihat berbeda sekarang. "Mmh—kau agresif sekali, Lu."

"Ya, bukan masalah aku tahu Mansion-mu darimana, Tuan Kim. Oh, aku hanya bertanya-tanya, mengapa kau jarang menemuiku? Kau tak lagi membutuhkanku, kau tak lagi ingin tubuhku—hum? Aku masih ingat kalau kau tidak pernah mencintaiku, kan?"

Deg.

Kai merasakan intimidasi Luhan agak-agak menegangkan suasana. Ia memang tidak benar-benar mencintai Luhan, toh si cantik itu hanya gigolo kesayangan yang selalu memuaskan hasratnya. Tapi, kenapa sekarang, omongan itu perlu Kau pikirkan lagi?

"Kenapa diam? Aku memang hanya mengejar uang, kau memang hanya mengejar servis. Tapi, belakangan ini kau melupakan aku, Kai. Meski umur kita terpaut jauh—aku tahu cinta cukup sulit ada dalam dirimu, kan? Apalagi untuk pria sejalang aku—dan—"

"Ssh. Buat apa—buat apa cinta, kalau aku dan kau bisa bersama-sama, Lu. Kenapa kita membahas cinta?" Kai berucap begitu enteng. Seakan tidak ada sisi lain yang tersakiti dalam hati Luhan. "Oh, jangan melebarkan matamu seolah kau terkejut, Lu. Kau tahu, kita melakukan ini tanpa dasar cinta, kan? Ini sudah perjanjian, rite?"

Luhan bungkam. Apa-apaan bocah Sekolah Menengah didepannya ini.

"Sesuai perjanjian, ya?" Luhan berdesis. "Aku kemari untuk meminta penjelasan, Kai, dan secara tersirat kau menjelaskannya begitu gamblang. Aku seharusnya tahu diri, ya." Luhan beringsut mundur, dua tangannya terlipat didepan dada.

Kai menatapnya tajam—lurus dan jeru.

"Kau mau apa? Kau mau, aku membalas perasaanmu?"

Luhan menggeleng, "Well, maaf. Aku ingat resiko pekerjaanku. Aku menyerahkan tubuhku, kau menyerahkan uangmu. Itu perjanjian kita, tanpa cinta. Aku yang salah, aku yang kelepasan—mencintaimu."

Kai terhenyak. Tangannya berusaha menggapai tangan Luhan, tapi gigolonya menolak.

"Baguslah kalau kau sudah ingat, Lu."

Luhan menyekat nafas, ia tak habis pikir Kai semudah ini menginjak harga dirinya. "Oh, kalau begitu, apa kau menemukan gigolo baru—dia yang lebih baik daripada aku?" Berundung tanya dari Luhan, tentu membuat Kai berupaya mencari pembelokan. "Siapa dia? Siapa si idiot itu? Siapa dia, Kai?"

Ini lebih-lebih menyentak Kai, obrolan mereka semakin menjurus pada apa-apa yang sengaja disembunyikan. Semenit, hanya semilir angin yang berembus disekitar mereka. Semenit, hanya ada kicau pipit yang bertengger di atap gazebo, dan semenit itu Kai hanya menumbuk tatapannya pada Luhan.

"Jadi?"

"Jadi—umh—"

"Dia Kyungsoo. Do Kyungs—"

"Kris. Berhenti ikut campur." Kai menajam saat Kris mulai memasuki areanya dan Luhan. Tapi, si pirang itu seolah tuli dengan ocehan adik sepupunya. Ia tetap maju dan kini berdiri diantara keduanya. "Kris, kuperingatkan kau untuk tidak ikut cam—"

"Namanya Do Kyungsoo, semalam Kai baru saja menggarapnya habis-habisan." Kris bisa melihat raut Luhan, terkejut—kaget bukan main. Matanya membelalak, dan sekujur tubuhnya terasa kaku. "Yah, dia bukan gigolo, sih. Dia korban tak berdosa. Uh, kau gigolo Kai—yang baru kulihat disini. Kelihatannya, hubungan kalian cukup rumit." Kris melirik Kai, dan menemukan si tan itu membuang nafas berat.

"Kris. Ini bukan masalahmu. Pergi dari sini." Kai menekankan. Kris berbalik beradu tatap dengan Luhan, tapi ia tak juga mengeluarkan suara. "Lu, lebih baik kau juga pergi. Kita tidak punya masalah, kan?"

Tidak punya masalah. Luhan memikirkan kalimat pahit Kai barusan, matanya masih mengarah pada Kris—lelaki ini membuka tabir pelanggannya bulat-bulat. Jadi, benar. Do Kyungsoo—si idiot itu berpotensi merebut Kai.

"Apa kau akan beralih pada dia—pada si idiot itu?"

Kai terpaku, kedikan bahunya membuat Luhan semakin terperangah. "Entahlah, rasanya aku mulai tertarik."

"Kau baru saja mencampakkanku, Kai? Kau—"

Kai menarik nafas, "Hei, hei, bukankah tidak ada cinta diantara kita? Hubungan kita hanya sebatas partnersex, Lu. Kau tidak berhak mengatur pada siapa aku menyalurkan nafsuku. Oh, dan lagi, suatu waktu aku akan menghubungimu—mungkin jika aku ingin menikmatimu lagi."

Luhan menggeleng-geleng tak percaya. Kai berlaku sebegini kejam padanya. Mereka telah bersama setahun—dan Luhan menyerahkan apapun yang Kai minta. Seharusnya ia sadar sejak awal, pekerjaannya ini mulai berbahaya jika sudah menyangkut cinta.

Kai melirik Kris, ia lalu menyenggol bahu kakak sepupunya itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kemudian berlalu dari sana dan otomatis meninggalkan keterpurukan Luhan.

Kris maju, nuraninya tentu masih berjalan baik. "Namamu, Lu?" Ia memegangi bahu Luhan yang hampir oleng, membantunya menjaga keseimbangan. "Kau tidak seharusnya mengenal Kai."

Setiap Kris bertemu dengan siapapun yang disakiti Kai—hanya kalimat sesal itu yang ia utarakan.

Luhan berusaha kuat, bertahan. Tapi, yang namanya perasaan tetap perasaan. Tangisannya luruh juga. Ia menghindari tatapan Kris—Luhan tidak tahu siapa dia. "Coba sejak dulu kau mengingatkanku."

Kai memberi banyak pesakitan padanya, pada semua orang yang ia temui. Dengan ini, Luhan enggan lagi membiarkan dirinya ditenggelamkan pesona Kai—yang sebegini gilanya.

Don'tJudgeMeLikeYou'reRight

Proudly Present

"When Life Gets Hard"

Chapter Ten

Kim Jongin—Do Kyungsoo—Byun Baekhyun—Oh Sehun—Xi Luhan—Park Chanyeol—Wu Yifan—Kim Minseok | Angst—Hurt/Comfort—Romance | Chaptered | Mature

© 2015

Disclaimer : Stories are mine. But, not for the cast. Fiction, not real. Don't copas or plagiat it without my permission.

-ooo-

Tok—Tok—Tok.

Baekhyun terkesiap seketika saat ketukan di pintu kamarnya berulang. Itu pasti Ibunya, dan beliau tak perlu tahu apa yang terjadi disini. Maka, ia cepat-cepat mengunci dan suara yang timbul membuat Ibunya berteriak.

"Baekhyun, apa yang kau lakukan? Kenapa mengunci pintu? Ya, ya, kalian berdua harus sarapan. Lagipula, Umma perlu tahu semalaman kemarin kalian kemana saja. Ya! Byun Baekhyun, buka pintunya!"

Baekhyun menutup telinganya, ia menghimpit diri didekat dinding dan bersiap membalas amukan Ibunya. "Ahm, mm—sebentar, nanti kami akan turun. Oh, Kyungsoo bilang ia ingin sarapan di kamar saja, Umma." Ia tidak punya pembelotan lagi.

"Ya! Lalu apa yang terjadi? Kalian baik-baik saja, kan?"

"Uh—U—Umma—ngh." Itu suara lirih Kyungsoo. Baekhyun melirik kearah ranjangnya, dan menemukan Kyungsoo akan terbangun. Ya, semalaman dia tidak tertidur demi menemani Kyungsoo—siapa tahu dia melindur, dan ternyata tidurnya lumayan nyenyak. "U—Umma, ngh."

"Ya! Baekhyun, kau dengar Umma, tidak? Baek!"

Namun, Baekhyun melupakan suara-suara didepan kamarnya. Ia memilih mendekati Kyungsoo, berjongkok di lantai, memeriksa suhu tubuh sekaligus membelai sisian wajah yang penuh luka itu. Ini—terlalu menyesakkan untuk sekedar dilihat.

"Kyung, Kyungsoo. Buka matamu, tidak ada apa-apa, hanya ada aku." Baekhyun masih menunggu mata bulat itu mengerjap. Tapi, Kyungsoo tidak menampilkan reaksi apapun, selain gelengan kuat. "Kyung, hei, tenanglah."

"Hiks—" Sial. Kyungsoo yang menangis, semakin membuat Baekhyun hilang arah. "Kyung—hh—takut. Tidak usah membuka mata."

"Jangan, Kyungsoo. Aku bersumpah kau sudah aman, kau aman bersamaku disini. Kai tidak akan mengganggumu lagi." Kata siapa? Baekhyun sendiri tidak begitu yakin dengan ucapannya. Tapi, jika ia tak mengatakan itu, Kyungsoo bisa semakin merapatkan kelopaknya. "Ayolah,"

"Byun Baekhyun!" Gedoran Umma-nya didepan sana, lebih-lebih membuat Baekhyun kelimpungan. Ia harus menyembunyikan banyak hal dari orangtuanya, ia harus pintar-pintar mencari jalan keluar dari kejaran penasaran Ayah dan Ibunya—Demi Tuhan, Baekhyun benci disudutkan. "Buka pintunya, atau Umma akan menyuruh Appa mendobraknya!"

Sialan. Sialan. Baekhyun menepuk jidatnya berulang kali, bagaimanapun ia harus memberi penjelasan. Tapi—tidak sebenar-benarnya penjelasan. Baekhyun menutupi tubuh Kyungsoo dengan selimutnya, lalu merangkap lagi dengan dua selimut lain. Supaya Ibunya tidak curiga, Baekhyun membalik tubuh Kyungsoo agar membelakangi mereka nanti.

Ya, dengan begini—ia bisa bilang bahwa Kyungsoo masih mengantuk dan semuanya beres.

Baekhyun mengelus dada, membuang nafas tak serantan, baru melangkah maju dan memutar kunci. Setelah pintu dibuka, tampak Nyonya Byun yang benar-benar berang disana, berkacak pinggang dan meneliti wajah anak semata wayangnya ini. Tsk. Baekhyun benci ditatap intens seperti ini.

"Ya! Jadi, ken—"

"Sssh—Umma, Kyungsoo masih tidur. Dia sangat mengantuk saat kusuruh bangun tadi." Uh, begitu lancar kedok berbohongnya. "Umma jangan masuk kedalam, nanti Kyungsoo terganggu."

"Hm? Tumben sekali kau—"

"Ya, ya. Aku mencoba berubah, Umma." Setelah kalimat itu, tahu-tahu saja Umma-nya berseri senang. Ia menghambur demi memeluk Baekhyun seraya menggumamkan syukur. Ish. "Um, astaga. Umma apa-apaan, sih."

"Umma senang, Baek, akhirnya kau mau mengerti keadaan." Baekhyun menjauhkan Ibunya, wanita itu masih menatap dirinya begitu takjub. "Baiklah. Kalau begitu semalam kalian darimana?"

Crap.

Cari alasan, cari alasan. Baekhyun menggerakkan bola matanya liar, ia bingung. "Oh—um, itu—aku dan Kyungsoo sedang mencari udara segar. Dia terlihat bosan, jadi—jadi,"

"Jadi?"

Omong-kosong. Baekhyun benar-benar takut tertangkap basah sedang berbohong. "Ya, ya—kita pergi ke Game Center. Lalu, duduk-duduk di tepi Sungai Han—dan pulang sangat larut."

Setelah menyelesaikan sederet-pengakuan-berselimut-tipu itu, Baekhyun menghela nafas lega. Dan Ibunya nampak percaya-percaya saja dengan serentetan kalimat yang diujarkan anak laki-lakinya ini.

"Ya sudah. Sering-sering ajak dia jalan-jalan, Kyungsoo butuh—"

"Aaa~! Hiks~" Oh, tidak. Baekhyun menegak ketika lolongan Kyungsoo itu ikut menyentak Ibunya.

"Kyungsoo, kenapa? Kenapa dia berteriak seperti itu? Ada ap—"

Hampir saja Ibunya menerobos masuk, tapi Baekhyun lebih dulu menahan lengannya. "Ah, mungkin mimpi buruk. Biar aku yang mengatasinya, Umma. Sudahlah, percayakan padaku."

"Begitu?" Nyonya Byun masih tampak penasaran. "Mungkin dia merindukan Umma-nya. Nanti sore antarkan dia ke Rumah Sakit, ya. Oh, dan Umma sebentar lagi berangkat ke But—Ya! Byun Baekhyun!"

Karena Baekhyun baru saja berlaku tidak sopan. Ia menutup pintu kamarnya, menguncinya rapat-rapat dan itu terjadi tepat didepan wajah Ummanya. Baekhyun hanya tidak ingin ketahuan, ia tidak ingin menambah akibat dari sebab yang ia buat. Lebih-lebih, ia tidak ingin orangtuanya tahu semengerikan apa kondisi Kyungsoo.

Memar—bilur—luka. Baekhyun terburu menghampiri Kyungsoo, tiba-tiba ia teringat beberapa penggal masa lalu. Tentang dia yang selalu memarahi, membentak dan menyentak Kyungsoo, dimanapun dan kapanpun Kyungsoo mengikuti dirinya. Ia selalu malu setiap Kyungsoo ada didekatnya, ia selalu menghindar ketika Kyungsoo ingin menyapa atau sekedar berbuat baik padanya.

Ya, Baekhyun menolak semua itu dan sekarang, malah menjatuhi Kyungsoo dengan bom atom yang ia buat sendiri.

"Kyung," Baekhyun mengelus kening Kyungsoo, ia mengusap bulir keringat yang mulai membanjir. "Bangunlah, buka matamu. Semuanya sudah baik-baik saja, ada aku. Tidak ada Kai, tidak ada yang menyakitimu lagi."

"Hiks—dia pasti datang lagi." Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, berkali-kali. "Hiks. Kyungsoo takut—ssh. Aw!"

"Kyung, bagian mananya yang sakit? Biar aku beri salep ini, ya." Baekhyun berusaha sebisa mungkin merubah perangainya yang keras menjadi lembut. Ia lalu menuangkan air ke dalam gelas, "Minumlah, kau bisa dehidrasi. Sejak kemarin tidak ada cairan dalam tubuhmu, Kyung."

Kyungsoo tetap tidak mau membuka matanya, ia menolak pemberian Baekhyun. Sejujurnya, ia agak tak percaya—mengapa Baekhyun mau mengurusnya, dan tidak mengumpat lagi? Ah, Kyungsoo hanya malas meruntut setiap kejadian, ia tidak mau bertemu pada satu adegan dimana ia dan orang jahat itu bersatu membuat luka.

"Umma—hiks. Kyungsoo ingin bertemu Umma."

"Nde, setelah kau sehat, kita akan ke Rumah Sakit, ya."

"Umma—Kyungsoo ingin bertemu Umma, sekarang—hiks."

Dalam hal ini, Baekhyun tetap dituntut untuk bersabar. Ia tidak mungkin menyuarakan ketegasan, sementara Kyungsoo sangat anti dengan kekerasan. Tapi, hal ini tidak akan selesai jika tanpa gebrakan. Muslihatnya, Baekhyun harus memperlakukan Kyungsoo bak porselen yang mudah pecah.

"Kalau kau ingin bertemu Umma-mu, menurutlah padaku." Baekhyun, akhirnya memberi pengertian. "Minum obat, pakai salep—setelah jalanmu tidak tertatih dan tidak mencurigakan, kita bisa pergi. Ah, jangan ceritakan perihal kemarin pada siapapun, Kyung—ada aku yang akan menyelesaikannya. Ya?"

Jangan menceritakannya pada siapapun? Kyungsoo sudah membayangkan ia akan mengadu pada Umma-nya. Tidak, tidak—ia sendiri merasa malu, Kyungsoo ingat dia bukan tipe orang yang terbuka dan gemar mengobral omongan. Dia cenderung diam, memendam dan mengubur asa.

"Ky—Kyungsoo mau—hiks. Asal bisa bertemu Umma, dan tidak bertemu orang jahat itu—hiks."

Baekhyun tersenyum getir, ia lalu memeluk Kyungsoo sangat erat. "Maaf. Maafkan aku, Kyungsoo, semuanya salahku. Silahkan hukum aku, hiks—" Pelafalan maafnya disertai tangis, tapi Kyungsoo tetap tak paham. Ia hanya senang, Baekhyun bisa berbalik menyayanginya setelah sekian lama. "Aku janjikan kau akan bahagia, Kyung, aku akan membelamu didepan mereka yang ingin menyakitimu. Aku janji."

"Kyungsoo—hiks—hanya ingin bertemu Umma, hiks. Orang jahat itu, kenapa selalu menyakiti Kyungsoo—hiks—apa salah Kyungsoo?"

Orang jahat itu. Kyungsoo tahu namanya Kai.

-ooo-

Kai menemui Chanyeol. Bukan bermaksud apapun, tapi kini satu-satunya teman yang benar-benar buta tentangnya adalah dia. Baekhyun sudah tahu segalanya, Baekhyun sudah lama sadar, dan Kai tidak mungkin meminta pendapat pada orang yang telah ia sakiti itu.

Jadi, mereka di halaman belakang sekolah. Setelah pagi tadi Luhan menyerbunya ke Mansion, belum lagi Kris yang serba ikut campur—agak-agak membuat Kai kesal. Chanyeol memandangnya heran, tapi Kai malah memalingkan wajah. Masing-masing berkutat dengan alibi.

"Lalu, apa Luhan sudah tidak mau melayanimu lagi?" Chanyeol bertanya dengan suara kelewat pelan. Ia takut Kai tiba-tiba mengamuk dan kehilangan kendali, jadi ia berusaha menjaga mood-nya. "Bagaimana keadaan Kyungsoo?"

"Kami tidak benar-benar berpisah, maksudku, kau tahu seperti apa Luhan. Dia mencintaiku dan—"

"Kau mencintai Kyungsoo." Chanyeol memotong seolah ia telah membaca tulisan besar diatas kepala Kai. "Kau bukan mencintai, tapi kau menyakiti keduanya, Kai." Entah, ungkapan Chanyeol mungkin menjadi satu-satunya sesuatu yang bisa mendobrak kebekuan hatinya.

Sayang saja, tidak semudah itu Kai diluluhkan. Ia mungkin mau mendengar Chanyeol, tapi ia tidak mau melakukan apayang disuruhkan padanya.

"Menurutmu, aku menyakiti mereka? Aku dan Luhan memang hanya sebagai pemuas dan pelanggan, kan? Apa yang salah? Memang tidak ada cinta diantara kita, tapi Luhan menganggapnya serius, Yeol."

Chanyeol berdeham, "Yah, aku hanya membuka pikiranmu, Kai. Ah, Baekhyun tidak terlihat sejak kemarin, apa dia masih menemani Kyungsoo, ya?"

"Jangan bahas Baekhyun dulu, Yeol. Kau berhadapan denganku, jadi—yang perlu kau bahas adalah aku. Aku tidak tahu apa ini cinta atau bukan, tapi aku menyukai Kyungsoo ada didekatku. Melihat wajah polos dan tingkah lugunya saja—sudah membuatku gila."

Chanyeol menerka apa yang ada dikepala Kim Jongin. Kenapa dia memintanya untuk tak membahas Baekhyun? Mereka teman, kan? Namun, mengingat sifat otoriter dan sikap pembangkang Kai—yang selalu ingin dituruti—Chanyeol akhirnya mengalah.

"Sepertinya aku harus menemui Baekhyun. Kalian berdua terlihat aneh—aku tahu ada masalah diantara kau dan Baekhyun."

Maka, Kai reflek menggeleng berulang, mencegah dan menahan Chanyeol. "Jangan." Satu kata itu terlontar bersama delikan tajam. "Jangan dengarkan apa yang Baekhyun katakan padamu, Chanyeol."

Karena Kai ingat, semalam Baekhyun bilang untuk tidak membiarkan Chanyeol menjadi budaknya. Hei, tanpa teman, Kai bisa apa?

"Kenapa? Apa yang kau sembunyikan? Apa yang terjadi?"

Namun, Kai hanya mengulum kalimatnya. Ia bungkam, tatapannya beralih menuju pot-pot tanaman yang tak terurus. Ia—hilang kepercayaan dari semua orang sekarang.

-ooo-

Xiumin bertemu Luhan dan Sehun didepan sekolah Kyungsoo. Tadinya, Xiumin ingin mengecek apakah Kyungsoo sudah masuk atau belum. Namun, saat melihat raut sedih Luhan dari jauh—Xiumin mulai mempertanyakan beberapa hal. Maksudnya, kalau ia sedang sedih, kenapa ia malah menghampiri Sehun—yang tak mengerti apa-apa?

"Lu," Xiumin memanggil dan mendapat tolehan dari Luhan—yang matanya telah sembab. Ya, Xiumin mengakarkan tebakannya, ia pikir ada hal yang tak beres disini. "Apa yang kau lakukan, Hun?"

Tidak. Xiumin salah menuduh. Sehun menelengkan kepalanya, tapi Luhan lebih dulu berucap.

"Bukan Sehun. Aku kemari ingin mencari—Kyungsoo." Xiumin sadar bahwa nada Luhan saat menyebut nama Kyungsoo, siratkan benci. "Jadi, aku bertanya padanya. Ini jam pulang sekolah dan ternyata Kyungsoo belum hadir."

Xiumin mengangguk sekali, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Ia beralih menatap Sehun, "Hun, uh—kau tahu dimana Rumah Sakit dan kamar Ibu Kyungsoo dirawat?"

Sehun diam. Ia tidak mengatakan apapun selain menyodorkan selembar kertas pada Xiumin—kertas itu pemberian Saemnya. Itu nomor kamar, lantai berapa dan dimana Rumah Sakit tempat Ibu Kyungsoo. Nah, bukankah Kyungsoo pasti ada disana?

Xiumin mengantongi kertas itu, tentu setelah ia membaca sekilas. Ia berpaling pada Luhan. "Lu, ke—kenapa kau ingin menemui Kyungsoo?"

"Lu kan sepupu Kyung." Sehun mengatakan itu tanpa dosa, dan sesegeranya malah membuat Xiumin mendesak Luhan.

"Kau tidak pernah bilang, kau sepupunya dan—waktu itu, Ibu Kyungsoo seperti tidak mengenalmu, saat kita makan di Kedai Ramen miliknya." Xiumin menemukan apa yang menjadi biang disini. "Jadi, kau siapa—Luhan-ssi?"

Luhan tidak berpikir panjang saat menyatakan dia sepupu Kyungsoo pada Sehun. Tidak seharusnya mereka bertiga bertemu disini, Sehun menguak kebohongannya dan Xiumin mempertanyakan siapa dia.

"Xiumin," Luhan mengambil alih. "Ak—Aku—" Tergantung. Sehun dan Xiumin sama-sama menunggu, meski Sehun sama sekali tak menaruh atensinya. "Aku Xi Luhan, orang yang berhubungan dengan Kai—dia yang memperkosa Kyungsoo di gang malam itu."

Deg.

Jadi, Xiumin ada sangat dekat dengan objek yang tega menyakiti Kyungsoo? Tapi, ia malah terbuai, ia malah terpana. Luhan sudah menghipnotisnya dan membalik fakta seolah ia manusia tak tahu apa-apa. Ia—pembual.

"Terserah kau mau membenciku atau tidak. Maafkan aku, tapi niatku bertemu Kyungsoo bukan niat baik." Baru setelah ini, Sehun menggeram tidak terima. Luhan hanya sengaja mengabaikan, Xiumin pun berpura-pura acuh. "Aku harus menemuinya, karena dia—merebut pelangganku."

"Pelangganmu?" Xiumin bisa melihat Luhan ingin berkelit, tapi selalu gagal.

"Kai adalah pelangganku dan aku adalah—gigolonya."

"Gi—gigolo? Apa?" Xiumin lebih tidak percaya lagi. Ia menggeleng-geleng kuat.

Xiumin pikir, wajah Luhan sama sekali tidak mencerminkan pekerjaan kotor itu sama sekali. Ia pikir, Luhan adalah orang baik—yang segalanya baik-baik saja. Nyata bertemu nyata, Luhan benar-benar pandai menukar topeng.

"Kau tidak akan mengerti jika aku menjelaskan keseluruhannya, Xiumin." Luhan bersikeras memaksa Xiumin untuk paham—tapi, tak mungkin. Ia lalu melirik Sehun, "Hun, antarkan kami ke Rumah Sakit, ya. Kau harus ikut."

Xiumin bisa menyaksikan Sehun tidak menolak, saat tangannya digandeng Luhan. Akhirnya, ia enggan pusing dan lebih memilih mengekor dua punggung yang mulai menjauh itu. Samar-samar, Xiumin mendengar kalimat Sehun pada Luhan.

"Jangan sakiti Kyung—dia temanku."

Tapi, disela tangis Luhan, Xiumin mennagkap balasannya.

"Aku hanya menaruh dendam padanya, Hun, dia merebut milikku yang paling berharga."

Crap. Ya, dan Xiumin tidak bisa mempersilahkan orang jahat masuk kemudian menyakiti Kyungsoo—sebagai janjinya untuk selalu ada disaat anak itu kesulitan. Di Rumah Sakit, Xiumin harus tahu kejelasan masalah yang ia terjuni kini.

-ooo-

Lorong Rumah Sakit di lantai delapan menyerap kegaduhan yang ditimbulkan mereka. Chanyeol datang sendiri dengan derap langkah yang tak bisa diredam, lalu rombongan Luhan—ada Xiumin dan Sehun yang datang dengan wajah ekstra bingung.

Chanyeol menyapa Luhan, ia bertanya-tanya mengapa Luhan memerah—malu atau sesuatu yang buruk telah terjadi? "Luhan. Kau—sedang apa disini?" Luhan mendongak dan mendapati Chanyeol—setinggi tiga jengkal dari dirinya—sedang menatap aneh. "Kau mengenal Ibu Kyungsoo?"

"Aku bukan mencari Ibunya, aku ingin bertemu Kyungsoo."

Chanyeol tentu tidak tahu apa yang menjadi masalah, tapi aksen Luhan terdengar sangat menyeramkan. "Oh, aku juga mencari Kyungsoo sekaligus bertemu Ibu Kyungsoo. Hei, darimana kau mengenal Ibu Kyungsoo dan—" Chanyeol melihat dua orang asing dibalik punggung Luhan, "—mereka pelanggan barumu?"

Luhan mengibas tangannya didepna wajah Chanyeol, "Kai tidak sengaja menyebut nama itu saat bercinta denganku, dan setelah aku menyelidikinya—sialan, ia merebut Kai." Chanyeol telah menarik lengan Luhan yang sembarangan membuka pintu rawat Ibu Kyungsoo. "Apa? Ya, dan mereka bukan pelangganku."

Chanyeol membalik tubuh Luhan, "Kenapa? Kenapa kau seperti ini? Ya, sejauh mana kau terjerumus mencintai Kai? Jangan salahkan Kyungsoo, bukan dia yang salah. Hanya Kai—tetap Kai, pelangganmu itu yang salah, Lu."

Sejak tadi Xiumin dan Sehun hanya memperhatikan interaksi mereka. Tapi, Xiumin sadar ia membawa seorang bocah autis—jadi, ia tidak boleh membiarkannya begitu saja. Xiumin hendak mengajak Sehun untuk memojokkan diri, tapi anak itu sudah lebih dulu maju mendekati Chanyeol dan Luhan. Tunggu, apa dia mengerti pembicaraan mereka?

Chanyeol melirik Sehun yang tahu-tahu saja ada disamping Luhan. Kemudian ia bersuara agak tidak kentara, "Kyung—Sehun ingin bertemu Kyung—" Tapi, Chanyeol merasa seperti ia pernah bertemu dengan Sehun. Dimana tempat dan bagaimana situasi, itu yang ia lupakan.

Sehun malah menarik-narik kemeja yang dikenakan Luhan. Ia menunduk guna menemukan seraut wajah yang memandangnya jengah. Xiumin bergabung, ia tiba ditengah ketiganya dan suasana canggung tahu-tahu saja mendera.

"Sehun, lebih baik kau disana denganku, ya. Mungkin sebentar lagi Kyungsoo akan menemuimu." Xiumin hendak berpamitan pada Chanyeol—karena merasa bersalah dengan kedatangan Sehun—namun, saat ia membungkuk, Chanyeol malah menahan lengannya. "Ya?"

"Kau siapa?"

"A—Aku—mungkin tidak ada hubungannya dengan kalian. Bukan seseorang yang penting. Tapi, aku pernah menjanjikan pada Kyungsoo, kalau aku selalu ada bersamanya. Aku hanya tidak mau mengingkarinya."

"Janji? Oh, baiklah. Aku mengerti."

Chanyeol mengawasi gerak-gerik Luhan, pemuda cantik itu nampak gusar sekarang. Sebelum suaranya membelah kerumunan, "Kai, Kai—apa dia tidak kesini?" Sungguh, Luhan sedang patah hati dan itu membuat Chanyeol kegelian. Sebegitunya, kah?

"Kurasa tidak."

Baru setelah itu, hening menyergap. Beberapa menit berlalu dengan aksi saling diam keempatnya, hanya ada Sehun yang masih menarik-narik kemeja Luhan—ini merupakan rekor terlama dan terbaru, ia bisa pergi bersama orang asing, tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Namun, ada langkah-langkah tergopoh yang saling bersahutan. Keempat kepala itu segera menoleh ke asal suara dan disana mereka menemukan—Baekhyun dan Kyungsoo. Baekhyun memapah Kyungsoo, sedang Kyungsoo bertopang penuh pada Baekhyun.

Mereka terlihat akur, dan bagi Chanyeol ini asing. Apalagi, cara berjalan Kyungsoo agak mencurigakan. Ia tertatih, sebelah tangannya memegangi selangkangan dan mantel super tebal itu menutupi dirinya hingga leher. Lalu Baekhyun memberi Kyungsoo masker?

Ada yang disembunyikan.

"Chanyeol!" Tapi, belum sempat Chanyeol mengulas apa yang terjadi, Baekhyun malah berlari meninggalkan Kyungsoo. Baekhyun memeluknya begitu erat, dua tangannya menggantung di bahu Chanyeol. "Yeol, kumohon percaya padaku—Kai berbahaya. Jangan, jangan menjadi pesuruhnya lagi. Dia tidak menganggap kita teman, Yeol."

Chanyeol memicing, tidak mengerti makna dari kalimat Baekhyun. "Aku sudah lama tahu Kai berbahaya. Tapi, kau memintaku untuk tidak menjadi pesuruhnya? Dia tidak menganggap kita teman? Ah, Baek, kurasa aku sudah tahu hal ini lebih dulu darimu." Chanyeol melepas pelukan Baekhyun, dan menatap matanya dalam-dalam.

"Ka—Kalau begitu jangan berurusan lagi dengannya."

"Tidak bisa, Baek, dia selalu mengintai kita. Maksudku, dia sudah mengikat kita dengan aura maniaknya." Baekhyun diam sambil menyimak penuturan Chanyeol. "Lagipula, bukankah kau yang terlalu memuja Kai?"

"A—Aku mengakui ini semua salahku. Kai menyakiti Kyungsoo jauh lebih parah, Yeol."

Chanyeol tidak bisa membalas apapun.

Kyungsoo merasa dirinya menjadi pusat perhatian. Setelah Baekhyun berlari tadi, tiga wajah lain yang memandanginya terasa familiar—Sehun, Xiumin dan Luhan. Saat Kyungsoo masih terpasung ditengah lorong, Sehun sudah lebih dulu menghambur pada dirinya.

"Kyung—ah. Kemana saja tiga hari ini? Sehun—Sehun merindukanmu." Kyungsoo ingin membalas pelukan itu, tapi tangannya malah gamang dan terjangan Sehun barusan malah menambah nyeri dilubangnya. "Kau meninggalkan aku untuk duduk sendirian."

Xiumin terenyuh menyaksikan interaksi dua anak berkebutuhan khusus tersebut, di sisi lain Luhan malah hadir dengan wajah menahan amarah dan kini hendak merusak momen Sehun serta Kyungsoo.

Tapi, Xiumin cekatan untuk mencegat langkahnya. "Apa yang mau kau lakukan? Lu, kau tidak pantas cemburu dengan anak idiot, Demi Tuhan. Apa hanya si Kai itu saja pelangganmu? Kau bisa mencari yang lebih manusiawi di luar sana." Ya, dan kalimat Xiumin tadi bukan suatu hal yang mudah diterima pikiran Luhan. "Hanya—lihat dulu apa yang selanjutnya terjadi."

Xiumin mengajak Luhan berdiri disandingnya, mereka masih memperhatikan pelukan Sehun yang tak berbalas dari Kyungsoo. Si mata bulat hanya diam, tak bereaksi apapun. Xiumin bisa lihat seberapa sulit Kyungsoo menahan beban tubuhnya saat berdiri begini.

Sesuatu yang salah semakin ditonjolkan.

"Hun—Hun. Kyungsoo mau menemui Umma."

Chanyeol dan Baekhyun bergabung dengan Xiumin dan Luhan. Mereka berempat terpekur sejenak. Hingga Kyungsoo melepas pelukan Sehun, Baekhyun sigap menuntunnya kembali. Tapi, tatapan tajam Luhan senantiasa menyertai kepergian dua tubuh mungil itu.

"Kyung, biar aku antarkan. Perhatikan jalanmu, bersikap normal."

Baekhyun menawarkan diri dan segera membawa Kyungsoo menemui Umma-nya. Ia benar tidak tahu mengapa ada Luhan disini—karena waktu tak memperbolehkannya bertanya. Namun, tanpa ada permintaan, Sehun malah menghampiri Luhan seolah ingin mengadu.

"HanHan—kenapa Kyungsoo tidak mau bicara padaku?"

Luhan mengiba ketika airmata dari pelupuk Sehun mulai berjatuhan, ia menghapus beberapa yang telah mengalir ke pipi. "Sssh—mungkin Kyungsoo sedang banyak pikiran." Luhan berkata begini demi Sehun. Selebihnya, dendam masih bersisa dalam lubuk hati.

"HanHan—tapi, Sehun merindukan Kyungsoo."

Sehun terlalu akrab dengan Luhan. Biar saja mereka baru saling mengenal beberapa hari, tapi keduanya seolah siratkan ketulusan. Luhan bukan tipe orang yang mau repot-repot berurusan dengan orang rendahan seperti Sehun—tapi kenyataan selalu berbanding terbalik dengan harapan.

Siapa tahu, dengan hadirnya Sehun—yang meski tak sesuai taraf—mampu menggantikan pesakitan di dalam Luhan.

Ya, Chanyeol, Xiumin, dan Luhan bahkan belum sempat menegur sapa dengan Kyungsoo. Uh, apalagi ketiganya memiliki tujuan yang berbeda. Namun, kelegaan lebih menyoroti Xiumin—karena Kyungsoo terlihat baik-baik saja.

-ooo-

"Apa masih sakit?" Baekhyun berbisik pada Kyungsoo saat keduanya sudah ada didalam ruang rawat.

Kyungsoo mengangguk sekali, "Sakit—sakit—masih sakit. Ssh—" Ia memegang tangan Baekhyun, hampir meremasnya. Namun, seketika rautnya berubah tatkala mendapati Ibunya sedang terbaring lemah disana. Tidak ada Ayahnya disini. "Kyung—hh, mau kesana, Baek."

"Ya, jalannya pelan-pelan saja." Baekhyun menuruti Kyungsoo, sesekali ia mengedarkan pandang.

Tabung oksigen ada di sisi ranjang Nyonya Do. Mulutnya tertutup masker perekat. Selang infus tertancap di dua tangannya. Ini mengerikan. Hingga Kyungsoo mulai menangis, dan Baekhyun paling benci jika tangisan itu mengingatkan ia pada memori yang sudah-sudah.

"Baekkie," Kyungsoo memanggil dengan nama yang paling tidak disukai Baekhyun. "Umma sakit apa? Kenapa dia tidak mau menyapa Kyungsoo?" Bahkan Kyungsoo sudah mengguncang tubuh Ibunya, tetap tak ada balasan.

Ibu Kyungsoo masih memejam dan suhu tubuhnya mendingin.

"Mungkin Ibumu sedang lelah. Jadi, tidak bisa kau ganggu." Kyungsoo tidak semudah itu percaya. Ia tahu, apa yang dialami Ibunya sangat parah. "Kyungsoo, biarkan Ibumu beristirahat, ya. Nanti kalau ia sudah bangun, kita bisa menem—"

Kyungsoo membulatkan matanya ketika jemari itu bergerak, "Umma," Ia melirih, genggaman tangannya di tangan wanita itu mengerat seketika. Ia meminta lepas dari rangkulan Baekhyun dan berlutut didekat ranjang—tak peduli lagi bagaimana lubangnya seperti disayat pisau tajam.

Wanita itu nampak tak berdaya kala tangannya mengelus puncak kepala Kyungsoo. baekhyun beringsut mundur, memberi celah bagi Ibu dan Anak itu membagi kerinduannya. Kyungsoo menangis semakin kencang, ia tercekat ketika Ibunya ikut menangis pula.

"Kalau—uhuk, Ayahmu tidak mau menerima Kyungsoo, cari kerabat Umma yang lain—uhuk. Atau tinggal dengan Baekhyun, hidup bahagia, Sayang." Entah apa maksud perkataan itu, tapi Kyungsoo menangkap gelagat aneh disini.

"Umma mau kemana? Jangan meninggalkan Kyungsoo sendirian—hiks—Kyungsoo takut, Umma." Kyungsoo mengamati mata Ibunya yang mengarah ke langit-langit, menerawang jauh sekali. "Umma—jangan pergi—jangan tinggalkan Kyungsoo. Appa jahat—Appa jahat, semua orang jahat, hiks—"

"Tidak, Umma tidak kemana-mana, Sayang. Umma akan selalu bersama Kyungsoo. Percayalah. Umma ada disini." Telapak tangan wanita itu mendarat lama di dada kiri Kyungsoo—hati. "Uh, jangan takut, Umma pasti selalu menjagamu, Kyungsoo-ya."

Kyungsoo menggelengkan kepalanya berulang, "Umma harus berjanji, ya?"

"Ya. Umma janji. Asal Kyungsoo juga mau berjanji untuk—selalu sayangi Appa dan hidup bahagia. Selamanya, Kyungsoo tetap anak Umma yang terbaik, anak Umma yang paling membanggakan. Tetap tersenyum meski banyak orang menyakitimu. Kyungsoo anak pintar, kan?"

Kyungsoo menarik nafasnya yang semula tertahan, "Kyungsoo janji, Umma."

Senyuman Nyonya Do nampak dipaksakan, ia lalu memanggil Baekhyun agar mendekat padanya. "Baekhyun, bolehkah aku menitipkan Kyungsoo bersamamu? Buat dia bahagia, ya. Buat dia bahagia, aku mohon." Baekhyun menyanggupi dengan anggukan kecil.

Buat dia bahagia.

Baekhyun disana—lebih merasa jika Nyonya Do barusan memberi pesan terakhir.

-ooo-

Kris mengantar Kai menggunakan Veneno hitam mengkilatnya. Kris menyetir sedang Kai termangu. Mereka menuju Rumah Sakit—Kai bilang, ia butuh obat pereda sakit kepala, maka Kris begitu saja menyanggupinya. Toh, tidak ada siapapun selain mereka berdua di Mansion mewah kediaman Kim.

"Uh, tumben sekali kau mencari obat pereda sakit kepala hingga ke Rumah Sakit?" Kris menoleh sebentar untuk menemukan Kai hanya menyambut lalu. "Biasanya, kau juga meminta Yixing atau pergi ke Apotek."

"Turuti saja, Kris." Kai memijit pelipisnya—entah berpura atau memang benar. "Jadi, berkonsentrasilah pada jalanan."

Ya, dengan peringatan itu, Kris membisu sesaat. Ia menginjak rem dan gas bergantian, Veneno-nya membelah Seoul di malam hari. Begitu menyita perhatian, begitu berkelas. Kendaraan siapa lagi jika bukan Kai atau Kris? Setelah duapuluh menit perjalanan tanpa obrolan, Kris memarkirkan mobil kebanggaannya di pelataran parkir dan meminta Kai turun segera untuk menunggunya di lobi.

"Mau kuantar ke specialist atau—" Kris menawarkan diri ketika Kai malah tegas menggeleng.

"Aku bisa sendiri. Kau bisa menungguku disini." Kai berjalan mendului Kris, tapi si pirang itu terburu mengekori si tan. "Kenapa? Aku bukan anak kecil yang butuh diantar kesana dan kemari. Kris, aku bisa pergi sendiri."

Kris hanya menyimpan suaranya, ia mempersilahkan Kai tetap berjalan kemanapun. Kai tidak mau ambil pusing dengan kenekatan Kris, hingga mereka menaiki lift menuju lantai delapan. Hell, seingat Kris, praktek Dokter Umum ada dilantai paling bawah, lalu untuk apa Kai kemari?

"Kai,"

"Hm?"

"Kau mau menemui siapa, Kai?" Kris mengerjap bingung ketika Kai menggiring di lorong yang penuh orang. "Si—Siapa yang sakit?" Hingga ia tergagap, dan tetap tak ada tanggapan.

Kai menepuk bahu Chanyeol yang sesegera itu berdiri menyambutnya. "Yeol," Lalu ia bisa merasakan tatapan menusuk seolah melubangi punggungnya—Luhan disana. "Kenapa kau bisa ada disini?"

"Kau mencari Kyungsoo?" Luhan tahu-tahu saja menghadap Kai. Ia menuding, "Tolong, jangan anggap aku sampah, Kai." Kemudian, Luhan menarik pakaian Kai, menariknya bersama kesal.

"Tapi, aku tidak butuh bicara denganmu, Lu. Aku belum membutuhkanmu, kita selesai." Luhan malah merasa dirinya ditarik kebelakang. Bukan Kai pelakunya, hanya seorang Oh Sehun. "A-ha, dia pacar barumu? Syukurlah, kalau dia tidak akan menggampangkan—tunggu, Yeol, sepertinya kita pernah bertemu dengan dia."

Sehun hanya menjalankan nalurinya, untuk melindungi Luhan. Entah kenapa, tapi ia merasa bahwa pemuda cantik itu perlu pertolongan. Tatapan Kai serasa mempertanyakan dirinya ada disini, Luhan menukar pandangan antara menuju Kai dan Sehun.

"Aku akan—Aku akan belajar dari mencintaimu, Kai. Aku siap melupakan semua kekejaman, kebengisan dan kekejianmu." Luhan tersengal, "Tapi, aku tidak bisa sedikit melonggarkan cemburuku pada gigolo barumu."

"Oh, kau disini untuk melakukan sesuatu pada Kyungsoo? Aku kesini untuk menemuinya, omong-omong." Kai masih memperhatikan Sehun yang terus saja menarik kemeja Luhan. Ia pikir, Sehun tidak beda jauh dengan Kyungsoo. "Yeol, apa Sehun teman Kyungsoo yang menemukan kita dibelakang sekolah waktu itu?"

Ah, pantas saja Sehun memandang tidak suka akan kehadiran Kai dan Chanyeol sejak tadi.

"Kurasa begitu, dan aku bahkan baru mengingatnya." Chanyeol ikut meneliti raut Sehun secara seksama.

Namun, disana ada seorang lagi yang asing dengan pengenalan Kai. Lelaki berpipi gembul itu menatapnya dengan sorot lain—seolah ia pemburu bayaran yang siap mencabik-cabik targetnya. Xiumin terduduk di bangku panjang, seperti pikiran Kai—bahwa ini dia penyebab Kyungsoo begitu keranjingan trauma saat itu.

"Dia Xiumin, teman Luhan dan teman Kyungsoo dan teman Sehun juga. Aku tidak tahu apa hubungan mereka, tapi terlihat sangat akrab." Chanyeol bak informan ketika Kai kebingungan.

Luhan sudah cukup tersakiti dengan segala omongan kurang ajar dari Kai. Melawan akan semakin membuatnya jatuh. Jadi, Sehun menariknya semakin mundur—bocah autis itu ternyata mengerti situasi.

"Xiumin-ssi." Kai berucap sopan ketika menyapa Xiumin.

"Aku bisa menuntutmu beberapa hal, Kai-ssi." Xiumin menahan emosinya sedemikian rupa.

"Oh, ini mengenai Kyungsoo, ya?" Kai berujar lagi ketika senyap menguasai Xiumin disana.

Kris dan Chanyeol sebatas penonton setia, sedangkan Sehun belajar menenangkan Luhan yang terus saja menangis—ia tidak tahu mengapa si mata rusa ini begitu sedih sejak sesiangan tadi, dalam pikirannya pasti penyebabnya si tan yang dulu menyakiti Kyungsoo. Kris dan Chanyeol tak henti menyatroni Kai disana.

Sebelum mata tajam Kris menangkap sosok Baekhyun didepan pintu kamar, "Baekhyun."

Kai secepat kilat menoleh, tak memberi kesempatan bagi Xiumin untuk mengutarakan kebenciannya. Bukan Baekhyun yang ia lihat, tapi Kyungsoo ada disana. Kai terburu menghampiri Kyungsoo yang tengah berlindung pada Baekhyun, ia menarik lengannya dan seketika si mungil itu terebut paksa.

"Kyungsoo-ya." Ketika Kai menekan Kyungsoo dalam pelukannya, Kris dan Baekhyun sama-sama memekik. "Baekhyun, kau sudah mengatakan pada Chanyeol, kalau aku berbahaya?"

Baekhyun membata, "Kai, lepaskan Kyungsoo."

"Kau mau lepas dariku, Sayang?" Kai terkikik ketika Kyungsoo kehilangan suaranya. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengganggu malam kita. Ayo, aku kemari untuk menjemputmu."

"Ba—mmp—Baek." Kyungsoo jelas terkejut, lagi-lagi ia ditemukan Kai dan ini mimpi buruk.

Kyungsoo berusaha melepaskan tangan Kai yang membekap mulutnya, Baekhyun terus menarik lengan Kyungsoo meski tanpa hasil. Luhan dan Sehun sama-sama terkesiap—bedanya, Sehun sempat meloloskan larangan. Ada Chanyeol yang hanya mampu terpaku seraya memperhatikan Kris yang mengejar Kai.

"Kai! Kai!" Kris berteriak kencang, tapi Kai tetap membawa Kyungsoo bersamanya. "Baek, tenanglah. Aku akan mengembalikan Kyungsoo kemari."

Baekhyun hanya mengangguk, sedang Chanyeol mulai merengkuhnya dalam pelukan. Mereka biarkan Kris menyelesaikan Kai.

-ooo-

Kris mengikuti Kai yang setengah menyeret Kyungsoo menuju Taman Rumah Sakit. Ia sebatas mengintip, Kai mengajak Kyungsoo duduk di bangku di bawah pohon. Malam-malam seperti ini, tentu membuat penglihatan Kris agak mengabur. Tapi disana, Kris bisa melihat Kai mulai memeluk Kyungsoo—erat sekali.

"Kyungsoo, kau tidak merindukanku?" Kai bertanya sesaat setelah Kyungsoo berupaya melepaskan diri. "Kenapa terlalu munafik? Oh, maaf. Kau tidak mengerti apa itu munafik, ya."

"Hiks—lepaskan. Kyungsoo—hiks—Umma." Kyungsoo ketakutan, tentu saja. Ia serasa diterjunkan dalam pusaran maksiat yang terus berulang—dan terjadi lagi sekarang. "Baek—Baek, tolong—mmph."

Karena Kai sudah lebih dulu meraup bibir merah Kyungsoo—menciumnya. Lima menit, Kyungsoo kehilangan nafas. Lima menit, Kai bersilat lidah meski tak berbalas.

"Kyungsoo, mmp—mmph. Ini namanya berciuman," Penjelasan Kai sama sekali bukan hal yang pantas. Ia mengangkat dagu Kyungsoo agar mata mereka bertemu. "Jadilah milikku, Sayang."

"Hiks—Hiks. Pergi! Pergi!" Setelah ada jarak sejengkal, Kyungsoo memukul-mukul dada bidang Kai. "Kyungsoo mau kau pergi! Hiks—menjauh! Jangan dekati Kyungsoo lagi, hiks—hiks."

Bersamaan itu, Kai malah semakin mendekatkan diri. Ia melingkarkan kedua lengannya demi mengunci pergerakan tubuh Kyungsoo. "Aku ingin lagi, Kyungsoo, kita lakukan seperti kemarin, hm?" Kyungsoo terang menolak permintaan itu. Ia menggeleng, mendorong dan menjejak Kai—meski yang terkena tendangannya adalah udara. "Aku membutuhkanmu, Kyung, ayolah—aku ingin."

Nada memohon Kai selalu bersarat nafsu. Kyungsoo tidak mengerti atas apa yang Kai lakukan padanya. Tapi, malam kemarin dan malam tempo hari itu—terlalu menyakitkan baginya. Hanya ada kasar dank eras, kejadian berulang—dan Kyungsoo benci diperlakukan seperti itu.

Ia ingin disayangi. Ia ingin dicintai.

"Aku mencintaimu, Kyungsoo, dan ingin tidur lagi denganmu. Selamanya?"

Ini bukan cinta—Kai hanya belum paham benar bagaimana ketulusan adalah hal mutlak bagi Kyungsoo.

"Aku mencintaimu, Demi Tuhan. Kyungsoo, tinggalah bersamaku. Ya? Ya?"

Ini bukan cinta—Kyungsoo memang idiot. Tapi ia tahu, mana yang benar dan mana yang salah. Kai tidak mencerminkan keduanya.

"Kai," Itu bukan panggilan yang bermula dari Kyungsoo. Melainkan dari seorang lelaki yang berdiri tegap didepan keduanya. "Banyak orang mengkhawatirkan Kyungsoo jika ia denganmu, Kai."

Kris—ia menjulang dan sorot matanya melembut saat melihat Kyungsoo. Ia merebut Kyungsoo dari cekalan Kai, mendadak si mungil itu merasa sedikit aman dalam dekap asing yang ia rasakan secara tiba-tiba.

"Ya! Kris! Kyungsoo akan pulang denganku!" Kai hendak menarik lengan Kyungsoo lagi, tapi Kris lebih sigap menyembunyikan Kyungsoo dibalik tubuhnya. "Dan siapa orang yang kau bilang khawatir tadi? Tidak ada yang mengkhawatirkan anak idiot sepertinya."

Kris bisa merasakan gemetar dan gigil keras dari Kyungsoo. Kyungsoo terus bergetar dengan bibir basah yang memucat, Kyungsoo bahkan merasakan kakinya tidak bisa berhenti bergerak. Tapi, orang asing ini—memeluknya begitu erat. Seakan berkelakar siap melindunginya dari terjangan Kai, seolah salurkan kehangatan yang menenangkan ketika aura jahat Kai datang.

Siapa dia? Kyungsoo belum mau mencari tahu.

"Cih, jangan membuatnya seperti drama roman picisan, Hyung."

Hyung? Kyungsoo tidak salah dengar. Kai memanggil orang ini dengan sebutan Hyung, Kyungsoo juga tidak sebodoh itu—orang ini adalah kakak Kai?

"Kau yang membuatnya seperti itu, Kai. Berhentilah menjadi Kai yang tak pernah kukenal."

Kai maju selangkah demi selangkah, tapi Kris menarik Kyungsoo mundur bersamanya. Ia menghalangi laju Kai, ia memberi tameng untuk Kyungsoo.

"Oh, kita memang belum benar-benar mengenal, Kris."

Kris hampir-hampir meluapkan amarahnya disini, tapi ia sadar—Kyungsoo menjadi acuan penting diantara ia dan Kai. "Jangan sakiti siapapun, jangan sakiti Kyungsoo lagi. Cukup, Kai. Kendalikan dirimu."

"Kendalikan diriku? Tsk. Apa urusanmu mengaturku seperti ini?" Kai setengah berteriak setengah mendesis. "Lagipula, jangan harap aku merasa kasihan padanya." Ia menuding Kyungsoo.

Kris berdecak, merasa percuma mendebat adik sepupunya. "Kyungsoo bukan dirimu, Kai. Dia makhluk lembut yang halus. Karena Kyungsoo butuh kasih sayang, Kai, bukan kekerasan atau bentakan."

"A-ha, tapi aku merasa Kyungsoo adalah mutiara yang selama ini kucari. Dia hanya tersembunyi ditumpukan jerami hangus, Kris." Kai mengangkat rahangnya tinggi-tinggi. Terunggul. Ia mengibaskan tangan didepan wajah. "Minggir. Aku mau membawanya pul—"

Terhenti, ketika sosok Baekhyun menghampiri mereka bertiga dengan raut cemas, nafas terengah, dan tubuh berkeringat. Ia memandang satu-persatu manusia disana, termasuk Kai dan Kris. Tapi, Baekhyun memandang dalam-dalam pada manik mata bulat itu—milik Kyungsoo.

"Baek—?" Kris menanggung heran, tapi Baekhyun menyetop dengan angkatan tangan.

"Kyungsoo, hah—" Baekhyun mengatur pernafasannya. "Ibumu—Ibumu—kritis."

Deg.

Seketika itu dunia Kyungsoo diruntuhkan bertubi.

-ooo-

To Be Continue.

Author's Note:

Everyone met each other, oh god. Yah, mereka dipertemukan semuanya, hahaha~ Ada Kai, Kyungsoo, Sehun, Luhan, Chanyeol, Baekhyun, Xiumin~ Everything getting so complicated.

Gimana Kaisoo vs Krisoo-nya?

—Uhuk—

Meski dikit banget, semoga kerasa deh, ya.

Review. Review. Review.

Rencananya, aku mau mentamatkan ff ini. Jadi, aku kebut pake update cepet.

Review. Review. Review.

I need more response and comment.

Sincere,

-Don'tJudgeMeLikeYou'reRight-

SEE YA ON NEXT CHAPTER!