The Almighty : Rise of Humankind

Disclaimer : jelas bukan punyaku!,

Warning : Re-Make, OOC!, OC!, Little bit Romance, humor and gore, Super-Strong Naru!, Jinchuriki Gobi!, Fem Kokuo!, and Anymore...,

Summary : Akibat pertempuran Dashyat dengan Rivalnya di Valley of The End, menyebabkan retakan ruang dimensi yang menghisap Yondaime Uzukage, Uzumaki Naruto..., saat ia sadar ia sudah berada didunia yang penuh dengan Hal Supranatural dan diluar akal sehat...,

Chapter 03

Didalam Grand Cathderal, atau lebih tepatnya dibawah tanah Grand Cathderal, terlihat puluhan, tidak ratusan orang tengah berbaris dan mengayunkan sebilah pedang dalam irama yang sama...

Suara teriakan penyemangat bergema diruangan luas yang dapat menampung sekitar seribu orang dalam satu waktu, dengan penerangan yang begitu minim dan udara yang tipis tidak membuat para prajurit itu menurunkan semangat latihan mereka, bahkan terlihat beberapa orang memakai batangan besi seberat beberapa kilo pada tubuh mereka untuk menambah beban latihan mereka.

Dari beberapa orang itu terlihat seorang pemuda bersurai merah bata tengah mengayunkan sebuah Greatsword dengan semangat keringat membasahi setiap inchi tubuhnya bahkan itu sampai menetes kelantai dan menjadi sebuah genangan air menandakan seberapa kerasnya ia berusaha berlatih untuk menjadi kuat.

Emiya Shirou, ia adalah prajurit elit Gereja yang menempati peringkat ke 4 dalam jajaran kekuatan digereja, bisa dikatakan Emiya Shirou adalah seorang Manusia dengan kemampuan menyamai monster, baik kecepatan, kemampuan berpedang, dan pengamatannya akan situasi adalah nomer empat terbaik dari semua Prajurit elit milik Vatikan.

Sebagai orang terkuat nomer empat, Emiya Shirou tak jarang mendapatkan misi untuk berurusan dengan Makhluk supranatural, bahkan rekor yang ia pegang dalam penaklukan Makhluk supranatural adalah yang kedua terbanyak dari semua prajurit elit gereja.

Dimana ia berhasil membunuh 4 iblis dimana satu diantaranya adalah seorang Pure Blood, 6 malaikat jatuh, dan 17 vampire pure blood, dari beberapa penaklukan yang dilakukan Emiya Shirou hanya dua saja ia pernah gagal membunuh Makhluk supranatural yang pertama saat ia gagal membunuh The True Vampire, [Alucard] atau dikenal juga sebagai The Most Strongest Vampire, dikatakan Shirou dan tiga Exocist yang menempati peringkat diatasnya menerima laporan tentang kemunculan The True Vampire, [Alucard] disebuah desa ditransylvania, sebuah tempat dingin nan berkabut itu yang sangat cocok karakteristik Vampire yang membenci matahari.

Singkat cerita keempat prajurit elit itu ditugaskan untuk memburu dan membunuh The True Vampire itu, namun disaat pertemuan mereka dengan [Alucard] mereka digempur habis-habisa oleh [Alucard], The True Vampire itu memiliki kekuatan yang begitu besar dimana ia mampu beregenerasi jika ditebas dengan pedang yang telah diberkahi oleh Holy water, bahkan ia paling gila dari itu semua adalah kemampuan dari [Alucard]

[The Bloody Field]

Kemampuan gila yang menciptakan kubah darah yang menutupi seluruh desa, didalam kubah itu Alucard tidak hanya mampu menciptakan berbagai serangan dari jarak manapun tapi ia juga dapat dengan mudah menghapus daerah sejauh dua kilometer hanya dalam satu jentikan jari!.

Alucard berkata pada Emiya shirou dan ketiga Exocist yang lain untuk tidak menganggunya sebab bagaimanapun ia tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal jahat seperti membunuh dan menjadikan semua penduduk desa menjadi pasukan Vampire, awalnya mereka tidak percaya dengan perkataan The True Vampire itu karena bagaimanapun mereka tahu jika vampire hanya menjadikan manusia sebagai makanan dan tidak mungkin jika mereka tidak akan membunuh dan meminum darah manusia untuk makanan mereka, tapi mereka dipaksa percaya sebab Alucard mengancam mereka jika mereka masih menganggunya maka ia akan membawa badai kematian Vatikan.

Ancaman yang sangat serius itu membuat mereka berempat mundur, dan itu menjadikan kegagalan pertama untuk mereka, dan kegagalan kedua terjadi saat ia bertemu dengan, Malaikat jatuh... Bintang perang, Kokabiel.

Dalam pertempuran sengit itu, Emiya Shirou berhasil memukul mundur Kokabiel dengan mengeluarkan semua kemampuan yang ia miliki, dan itu menambah catatan keajaiban geraja dimana salah satu prajurit mereka mampu menahan seorang petinggi Malaikat jatuh sekaliber Kokabiel... Namun Emiya Shirou berhasil menang bukan tanpa luka, ia bisa dikatakan hampir mati sebab luka yang diberikan Kokabiel sangat fatal...

Itulah rekor kekalahan Emiya Shirou melawan Makhluk supranatural, Dan sekarang, rekor kekalahan itu bertambah, ia kalah bukan melawan Malaikat jatuh, bukan pula iblis dan Vampire, Emiya Shirou... Ia kalah melawan seorang manusia, ya... Seorang Manusia yang memiliki kemampuan diatas-nya bahkan ia dapat dengan mudah mengalahkan prajurit elit peringkat pertama dalam bidang keahlian Prajurit elit itu...

Uzumaki Naruto...

Pemuda misterius yang ia temui didepan toko perhiasan, pemuda itu memiliki kekuatan besar yang sangat menakutkan, Emiya tahu itu, Emiya masih dapat merasakan sensasi menundukan dari orang itu setiap kali ia mengingat momen dimana Naruto melepaskan Nafsu membunuhnya, ia dengan mata kepalanya sendiri merasa seperti ia sedang berhadapan dengan pintu kematian, insting Emiya memperingatinya jika orang yang ada didepannya, Naruto adalah orang yang dapat membunuhnya dalam sekejap.

Dari situ Emiya tahu jika Naruto memiliki kemampuan yang luar biasa, itu semua jelaskan oleh nafsu membunuh yang ia keluarkan, hanya mereka yang memiliki kekuatan besar yang mampu mengintimidasi lawannya. Akhirnya Emiya sadar didunia ini ada seorang manusia yang jauh lebih kuat darinya, dan dari situ jugalah ia mulai giat berlatih dan menambah porsi latihannya menjadi dua kali lipat dari biasanya.

"Shirou!."

Shirou tersadar dari lamunannya ketika suara merdu mengetuk gendang telingannya, ia menghentikan latihannya dan menoleh kesamping dan ia melihat seorang perempuan cantik bersurai pirang pucat berjalan kearahnya, ditangan perempuan itu terdapat dua buah kantung air...

Perempuan itu melempar satu kantung air pada Shirou yang dengan refleks bagus menangkapnya dengan mudah, perempuan itu tersenyum pada Shirou yang menatap bingung kantung air ditangannya.

"Minumlah, kau pasti haus setelah berlatih tanpa henti seperti itu."

Shirou terdiam menatap perempuan itu sebelum ia tersenyum dan membuka sumbat pada kantung air itu dan meminum kantung air itu sampai habis, Shirou menikmati tenggorokannya disegarkan oleh air alam itu... Perempuan itu tersenyum melihat betapa hausnya Shirou.

"Fuaah! Segarnya..."

Shirou mendesah nikmat, ia membersihkan bekas air yang ada dimulutnya dengan tangannya, ia menatap perempuan didepannya dan tersenyum tipis.

"Terimakasih atas air-nya, Saber."

"Sama-sama Shirou."

Perempuan bernama Saber, atau Arthuria Pendragon tersenyum pada Shirou, ia melirik pada beberapa batangan besi yang menempel dibeberapa bagian tubuh Shirou sebelum ia megalihkan pandangannya dan menatap kearah Greatsword yang tertancap dilantai...

"Kau mulai berlatih keras lagi, Shirou."

Ucap Saber membuat Shirou terdiam sebelum ia tersenyum tipis."Ya begitulah, kau tahu setelah melihat kehebatan dari orang 'itu' aku merasa jika kekuatanku masih lemah."ucap Shirou, Saber terdiam. Orang itu yang dimaksud Shirou, sudah jelas pasti Uzumaki Naruto. Saber sendiri mengakui jika orang itu memiliki kemampuan yang hebat, bahkan kemampuan berpedang dari Uzumaki Naruto bisa dikatakan beberapa tingkat diatasnya.

"Ya, Shishou... Dia memang benar-benar hebat, aku harus lebih banyak belajar darinya..."

Shirou tersenyum mendengar perkataan Saber, sejak Saber kalah dalam sparring melawan Naruto sejak saat itu juga ia mulai memanggil Naruto dengan Shishou, Saber menaruh hormat pada Naruto karena selain ia memiliki skill berpedang kelas tinggi tapi ia tidak ragu untuk membagikan kemampuan berpedang yang ia kuasai pada orang lain, Saber sendiri telah belajar dari Naruto...

"Ya, aku juga harus banyak belajar dari, Naruto-san."

Kedua orang itu saling berbincang-bincang menikmati waktu mereka berdua, jika dilihat sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih...

"Nee, Shirou..."

"Hmm?..."

"Toko Kue yang kita datangi kemarin mulai menjual kue baru!."

Shirou terdiam menatap wajah berbinar dari Saber, bukan aneh lagi bagi Shirou jika Saber atau Arthuria adalah seorang penggila kue, Shirou tersenyum tipis.

"Wah kebetulan, aku juga ingin memakan sesuatu yang manis hari ini, Saber... Bagaimana jika kita beli kue itu dan makan bersama, bagaimana? Apa kau mau?."

Ucap Shirou dengan senyuman lembut diwajahnya, Arthuria menatap Shirou dengan minat disana!

"Ummu! Ayo pergi!."

.

.

.

-The Almighty Re-

.

.

.

"Brrrr..."

Ditengah dinginnya kota Vatikan, Naruto terlihat tengah berjalan dengan pelan, disuhu kota yang begitu dingin, Naruto ditugaskan kembali untuk membeli bahan makanan untuk hari ini oleh Grayfia, dicuaca dimana orang yang menaruh secangkir diluar ruangan akan berubah menjadi es batu ini, Naruto berjalan sambil memperhatikan aktivitas yang ada dikota ini.

"Brr, kota ini dingin sekali..."

Naruto bergumam pelan seraya meniup kedua telapak tangannya dan mengosok kedua tangannya untuk mendapatkan kehangatan sesaat, Naruto mengeluarkan uap putih ketika ia menghela nafas. Iris shappire indah miliknya menatap keatas dimana ia melihat butiran-butiran putih berjatuhan.

"Musim dingin datang lebih cepat, huh~."

Ya... Keadaan super dingin ini disebabkan oleh musim dingin yang datang mengunjungi daerah Vatikan dan negara dibelah benua ini, Naruto menghela nafas, sebelum ia menoleh kebelakang dan mengulas senyuman tipis diwajahnya.

"Dia datang mengawasi-ku lagi ya..."

Selama beberapa hari belakangan ini Naruto sering merasakan ada seseorang yang tengah mengawasinya, dan kenyataan memang benar bahwa ia memang tengah diawasi sebab sensor deteksi Naruto menangkap pancaran aura tipis yang begitu lembut berada jauh dibelakangnya, menilik dari aura yang ia rasakan maka sudah jelas orang yang mengawasi pastilah...

"Ya ampun, surga sepertinya begitu memberkahiku hingga, salah satu malaikat utama mereka mengawasiku..."

Naruto tersenyum tipis sebelum ia mengangkat wajahnya dan menatap keatas Grand Cathderal dimana ia merasakan pancaran energi itu.

"Dikenal sebagai Malaikat tercantik dan terkuat diantara Malaikat perempuan yang lain, salah satu Archangel, [Annuciata*] atau lebih dikenal dengan nama Gabriel."

Naruto menatap puncak Grand Cathderal sebelum ia berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan dalam diam... Diatas Grand Cathderal seorang perempuan dengan paras wajah yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, surai pirang bergelombang panjang miliknya melambai ditiup angin, iris shappire indah miliknya menatap kepergian Naruto dalam diam, dengan tubuh terbalut sihir yang membuatnya tidak dapat dilihat, Gabriel terbang mengikuti Naruto.

Sudah beberapa hari Gabriel mengawasi Naruto dari kejauhan, mulai dari ia selesai bekerja membantu toko roti dan kue yang ada dikota sampai ia pulang kerumah.

Selama beberapa hari mengawasi Naruto, Gabriel mengetahui jika pemuda itu merupakan orang yang baik, dan ramah, pemuda itu selalu tersenyum dan menyapa orang lain dengan sopan, juga yang membuat Naruto mendapatkan kriteria baik dari Gabriel adalah karena ia tidak akan segan membantu orang yang kesusahan meskipun bantuan yang ia berikan tidak seberapa tapi ia akan puas jika setidaknya ia sudah dapat membantu meskipun itu hanyalah bantuan kecil, seperti yang dilakukan Naruto sekarang dimana ia membantu seorang wanita tua yang kelihatan kesulitan membawa barang belanjaan yang cukup banyak.

Gabriel menatap Naruto yang mengulurkan bantuan pada wanita tua itu, Naruto tersenyum dan mengangkat barang belanjaan milik wanita tua itu, meski tangannya tengah membawa barang belanjaan yang cukup banyak tapi Naruto masih mampu membawa banyak barang yang bisa dikatakan cukup berat untik ukuran pria dewasa...

Naruto sesekali tersenyum menanggapi percakapan dari wanita tua disebelahnya, ia juga terlihat mengatakan jika ia tidak merasa direpotkan oleh wanita tua itu malahan Naruto merasa senang dapat membantu orang yang kesulitan.

Gabriel mengepakan sayapnya dan mengikuti Naruto dan wanita tua itu, mereka berdua berjalan dan akhirnya sampai disebuah rumah yang cukup besar terbuat dari kayu dan terlihat agak sedikit tak layak.

Gabriel melihat dari dalam rumah itu keluar banyak sekali anak-anak yang berlarian dengan senyuman lebar kearah wanita tua itu yang menyambut pelukan anak-anak itu dengan wajah lembut, Naruto terdiam menatap kumpulan anak kecil itu, Gabriel terdiam ketika ia merasakan perasaan sedih terpancar dari iris shappire itu.

Berdasarkan perkataan wanita tua itu, ia mengatakan jika anak-anak ini merupakan seorang yatim piatu yang dititipkan panti asuhan yang ia kelolah, Naruto mendengarkan cerita menyedihkan dari wanita tua itu, diantara anak-anak itu ada yang tidak ingat siapa orang tuanya sebab ia dibuang sejak ia masih bayi, ada yang orang tuanya sudah meninggal, ada pula anak yang dibuang untuk mengurangi mulut untuk diberi makan.

Naruto menurunkan pandangannya dan menatap seorang gadis kecil yang terlihat menatapnya dengan pandangan bingung, Naruto merendahkan tubuhnya dan menatap gadis kecil dengan senyuman diwajahnya.

Gadis kecil itu dengan gugup menanyakan nama Naruto dan dengan senang hati Naruto memperkenalkan namanya, Naruto tersenyum tipis melihat gadis kecil didepannya kelihatan kesulitan mengucapkan namanya, tapi setelah beberapa saat akhirnya ia berhasil mengucapkan nama Naruto dan itu membuat Naruto senang dan mengelus kepala gadis kecil seraya memuji usaha dari gadis kecil itu membuat Gadis itu tersenyum bahagia.

Melihat gadis itu diperlakukan layaknya seorang adik membuat anak kecil yang lain mengalihkan pandangan mereka dan menatap Naruto yang langsung saja kesulitan karena tiba-tiba banyak sekali anak kecil yang mengerubuninya dan mengajaknya bermain.

Gabriel tertawa geli melihat Naruto yang tengah bermain kejar-kejaran dimana ia berpura-pura menjadi seorang monster yang akan memakan anak-anak yang nakal, dan itu sukses membuat anak-anak yang lain berlari kesegela arah, mereka semua terus bermain sampai suara perut berdemo membuat semua terdiam, Naruto menatap anak-anak kecil didepannya dalam diam sebelum ia tersenyum tipis.

Gabriel melihat Naruto mengatakan pada wanita tua yang tak jauh ditempat itu untuk meminjamkan dapur, ia setidaknya ingin membantu pekerjaan dari wanita tua itu untuk memberi makan anak-anak itu, Wanita tua itu tersenyum dan menunjukan dimana Dapur, Naruto mengucapkan terimakasih dan menatap anak-anak kecil yang tengah menatapnya dengan bingung.

"Nii-san ingin membuat sesuatu yang lezat, tapi... Nii-san akan kesulitan, apa kalian ingin membantu Nii-san?."

"""""Ooouuu!"""""

Gabriel tersenyum lembut melihat para anak kecil itu berteriak dengan penuh semangat, sebelum ia mengembangkan keenam pasang sayapnya dan dalam satu kali hentakan ia melesat terbang menembus langit.

Naruto yang tengah tersenyum menatap anak-anak didepannya melirik kesamping ketika ia merasakan Malaikat yang mengawasinya telah menghilang.

"Nee! Nii-san! Mari kita mulai memasak! Kami sudah lapar!."

"Ha'i, Ha'i, Ha'i... Mari kita pergi menuju dapur."

.

.

.

-Heaven-

.

.

.

Ditempat yang bernuansa damai dan tentram Gabriel tengah berjalan dengan senang, ia bersenandung riang membuat para malaikat yang kebetulan lewat menatap bingung Gabriel yang tengah dalam suasana hati yang gembira.

Gabriel menatap kedepan dimana ia melihat tiga orang tengah duduk dimeja dan bersantai selagi mereka menyesap teh dengan tenang, Gabriel tersenyum lebar.

"Aku pulang! Michael-sama, Raphael-sama, Uriel-sama..."

Ketiga pria yang memiliki paras rupawan itu menoleh kesamping dan mereka tersenyum ketika melihat Gabriel berjalan kearah mereka dengan senyuman bahagia diwajahnya, Michael tersenyum ramah pada malaikat perempuan terkuat itu.

"Selamat datang, Gabriel."

Gabriel menerima sapaan dari sang pemimpin malaikat itu sebelum ia memutuskan duduk dan bergabung dengan ketoga Archangel didepannya. Uriel yang ada disebelahnya menatap Gabriel yang tersenyum lebar dengan satu alis terangkat.

"Gabriel... Ini hanya perasaanku saja atau kau saat ini tengah dalam keadaan suasana hati yang baik?."

"Um! Aku saat ini sangat senang, senang sekali."

"Hooh~ tidak biasanya, apa yang membuatmu sesenang ini, Gabriel."

Raphael bertanya pada Gabriel selagi ia tersenyum lembut, Gabriel tersenyum pada Raphael sebelum ia menceritakan jika ia bertemu dengan seorang manusia yang sangat unik, Gabriel menceritakan manusia unik itu dengan antusias yang begitu besar hingga tanpa sadar ia tidak melihat jika Michael, Uriel, dan Raphael tersenyum lembut melihat Gabriel yang bercerita dengan semangat.

Mereka bertiga tersenyum bukan tanpa alasan sebab bagaimana-pun mereka bertiga tahu jika sejak kepergian 'ayah' mereka, Gabriel yang dulunya sangat ceria berubah menjadi pemurung dan ia juga terlihat sering menangisi kepergian 'ayah' mereka disurga tingkat empat, taman eden tempat yang menjadi cerita dimana manusia pertama Adam dan Eve* menghabiskan waktu mereka disurga.

Mereka bertiga sudah mencoba menghibur Gabriel namun mereka sadar kesedihan yang dirasakan oleh Gabriel saat kehilangan 'ayah' mereka sangatlah dalam, dan sejak saat itu tidak ada seorangpun yang melihat Gabriel tertawa maupun tersenyum tulus... Namun lihatlah sekarang, Gabriel kembali menjadi dirinya yang dulu dimana ia menjadi ceria dan tak jarang ia akan tertawa kecil ketika ia menceritakan manusia unik yang ia temui.

'Uzumaki Naruto ya... Aku jadi ingin bertemu dengannya.'

Batin ketiga Archangel itu selagi mereka memperhatikan Gabriel yang terus bercerita tentang Naruto dengan semangat, sebelum ia menyudahi ceritanya dan menatap Michael, Uriel dan Raphael yang tersenyum padanya.

"Ah, ngomong-ngomong Michael-sama tidak biasanya kalian bergumpul seperti ini? Apa yang sedang kalian bahas?."

"Ah, kau mengingatkanku... Kami sedang mendiskusikan untuk mengangkat seorang manusia menjadi seorang malaikat."

Gabriel memiringkan kepalanya dengan bingung dengan ide dari Michael."Michael-sama ingin mengangkat seorang Manusia menjadi malaikat seperti Sandalphon dan Metatron?."tanya Gabriel dengan bingung, diantara para malaikat disurga ini, ada beberapa malaikat yang dahulunya adalah seorang manusia namun karena kebaikan yang mereka lakukan mereka diangkat menjadi Malaikat oleh 'ayah'. Sebagai contoh ada Sandalphon dan Metatron... Kedua Archangel itu dikatakan dahulunya mereka adalah manusia namun kemudian mereka menjadi malaikat.

Uriel mengangguk pelan."Ya, sama seperti Sandalphon dan Metatron yang menjadi malaikat atas kuasa Ayah, kami juga bermaksud melakukannya."ucap Uriel mendapatkan tatapan bingung dari Gabriel.

"Hmm... Tapi mengangkat manusia menjadi malaikat itu terdengar seperti kita mencoba untuk meniru apa yang dilakukan ayah, bukankah itu akan menyebabkan kita jatuh karena mencoba melakukan apa yang ayah lakukan?."

Ya, melakukan seperti apa yang dilakukan oleh ayah mereka akan membuat mereka terjatuh dan menjadi Fallen, sama hal dengan Lucifer yang berusaha menjadi tuhan hanya karena dia diciptakan dengan wujud paling menawan disurga membuatnya menjadi terlalu bangga dan dengan seenak jidatnya menganggap jika dirinya adalah tuhan dan duduk diatas singgasana ayah. Raphael tersenyum pada pertanyaan Gabriel.

"Ya memang kita akan jatuh jika kita melakukan sama persis seperti yang ayah lakukan tapi bagaimanapun kita berusaha untuk melakukan seperti yang ayah lakukan tetap mustahil dilakukan karena bagaimanapun, Ayah adalah keberadaan yang mustahil untuk ditiru oleh kita..."

"Lalu bagaimana cara kalian akan mengangkat manusia menjadi Malaikat."

Michael tersenyum atas pertanyaan Gabriel, ia melipat tangannya dan menatap lurus Gabriel.

"Kita akan menuangkan sedikit kekuatan gabungan dari kau, aku, Uriel dan Raphael kedalam sebuah fragment, lalu kita akan menanamkan fragment itu kedalam tubuh orang yang akan kita angkat menjadi malaikat..."

"Begitu... Itu masuk akal, dengan menanamkan fragment yang berisi sedikit gabungan kekuatan kita semua kedalam sirkuit sihir milik Manusia maka itu secara tidak langsung akan membuatnya menjadi Malaikat... Tapi bukankah itu akan terlalu ber-resiko, bagaimana jika tubuh Manusia yang dimasukan Fragment itu menolak?."

"Ya, itu akan menjadi masalah karena itulah kami memutuskan untuk mengangkat Manusia yang memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan tinggi untuk menjadi seorang Malaikat... Dan kami memiluh empat manusia yang akan menjadi Malaikat."

Uriel meletakan tangannya kemeja dan seketika lingkaran sihir dengan lambang malaikat tercipta disana, Lingkaran Sihir itu menampilkan empat manusia yang terlihat tengah melakukan kegiatan mereka masing-masing, dua orang tengah bersilang pedang dan dua orang lain tengah melakukan kegiatan yang terlihat layaknya kencan. Gabriel mengerutkan dahinya melihat empat orang itu...

"Knight pemilik pedang suci Durandal, Roland. Dan Sahabatnya pemilik pedang Hauteclere, Oliver... Dan..."

Gabriel menatap dua orang yang kini terlihat tengah memasuki tokoh kue, Gabriel tahu siapa mereka karena bagaimanapun kedua orang itu menjadi trending topic disurga selama beberapa tahun belakangan ini...

"Emiya Shirou... Orang yang menjadi [Servant] karena memiliki Berkah suci ayah yang hanya muncul beberapa ribu tahun sekali, Nobles Phantasm. Arthuria Pendragon, pemilik sesungguhnya dari pedang Excalibur..."

Mereka berempat adalah orang yang menjadi Top Four dalam pasukan elit Gereja, dan Emiya Shirou adalah orang yang diistimewakan sebab didalam tubuhnya tersimpan kekuatan yang besar, kekuatan besar yang disebut sebagai [Nobles Phantasm]. Melihat empat orang itu Gabriel mengangguk, mereka mungkin adalah orang yang cocok untuk diangkat menjadi Malaikat.

"Lalu? Siapa yang akan kita angkat menjadi Malaikat?."

Tanya Gabriel membuat Michael, Uriel dan Raphael tersenyum tipis, dengan lembut Michael menunjuk gambar orang yang akan dipilih menjadi Malaikat.

"Setelah berunding cukup lama kami sepakat akan menjadikan dia sebagai kandidat kita."

Gabriel menatap orang yang ditunjuk Michael sebelum ia tersenyum dan mengangguk pelan.

"Aku setuju, mari pilih dia...,"

.

.

.

"Ini dia pesanan anda... Silahkan datang lagi."

Naruto tersenyum ramah pada pembeli yang telah meninggalkan toko dengan wajah tersipu merah, Naruto menatap pembeli itu yang berjalan keluar dan ketika sudah tidak melihat pembeli itu Naruto menghela nafas lelah.

"Hah~..."

"Kerja bagus..."

Naruto yang baru saja meregangkan tubuhnya menoleh kesamping dan ia melihat seorang wanita tua tengah berjalan kearahnya dengan senyuman diwajahnya yang dipenuhi kerutan itu.

"Owh, Owner? Anda kembali, bagaimana istirahat anda?."

Naruto bertanya dengan sopan pada wanita tua didepannya yang merupakan pemilik dari toko roti dan kue dimana ia sekarang bekerja, wanita tua itu tersenyum kearah Naruto.

"Ya, berkat kau yang bekerja disini, beban pekerjaanku terasa lebih ringan, terimakasih untuk itu, Nak..."

"Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih karena Bibi menyelamatkanku. Disaat aku tidak memiliki uang sedikitpun, Bibi dengan baik hati menerimaku, seorang yang tidak dikenal oleh Bibi untuk bekerja membantu toko kue bibi."

Naruto mengucapkan itu dengan senyuman secerah mentari yang menunjukan betapa ia sangat bersyukur pada Bibi pemilik tokoh kue itu, karena berkat kebaikan hatinya Bibi itu Naruto sudah bisa memenuhi kebutuhan untuk hidup sehari-hari... Pemilik itu tersenyum.

"Kau memang pemuda yang baik, Naruto-chan..."

Pemilik itu menatap Naruto dengan senyuman tipis sebelum ia mengalihkan pandangannya ketika suara lonceng dari Grand Cathderal bergema...

"Ara, sepertinya waktu kerjamu telah usai, Naruto-chan."

"Ya sepertinya begitu... Kalau begitu aku ijin pulang, Owner..."

"Ya, ini upahmu hari ini, dan hati-hati dijalan."

"Terimakasih, Owner... Sampai jumpa besok."

Naruto menerima upah kerjanya hari ini sebelum ia berpamitan dan meninggalkan tempatnya bekerja, diluar Naruto meregangkan tubuhnya dan menghirup udara kedalam paru-parunya... Naruto tersenyum tipis dan langsung melilitkan syal merah melingkari lehernya.

"Well, saatnya membeli bahan makanan..."

Naruto berguman pelan lalu melangkah menuju tempat dimana ia bisa mendapatkan bahan makanan, namun ketika ia baru saja akan melangkah tiba-tiba sebuah suara membuat Naruto menghentikan langkahnya.

"Ara, sebuah kebetulan, lama tidak bertemu, Naruto-kun."

Naruto terdiam ditempat mendengar suara yang begitu merdu dibelakangnya, dengan pelan ia menoleh kebelakang dan ia sedikit melebarkan matanya melihat siapa orang yang menyapanya...

"Kau..."

And Cut~

Aku tidak bisa banyak berkata-kata lagi, Ajian Up kilatku telah dicabut!? so nikmati ssja dan nantikan next Chapter!?

Next Chapter: Kencan berdarah!?

Phantom Out!