Disclaimer:

Naruto selalu milik Masashi Kishimoto, tapi fic ini milikku. Yah…, meskipun mungkin idenya udah pasaran.

Genre:

romance, family

pair: SasufemNaru

Rate: T

WARNINGS:

Typho tak terkendali, jalan cerita hancur, gak nyambung, OOC tingkat akut, gak jelas, dan masih banyak lagi.

Naruto, Sakura, Hinata, Kiba, Sasuke, Shikamaru: 16

Gaara, Neji, Suigetsu, Ino: 18

Deidara:19

Kyuubi, Itachi:22

a/n: dan tanpa maksud promosi, karena ff ini dah lama banget (chapter 9 aja update 12 bulan yang lalu) vi saranin baca dulu dari awal ya…

.

.

.

# # #

.

.

.

#Namikaze Naruto POV

Aku menunggu dengan gelisah, saat ini Sasuke sedang berada di dalam UGD, aku yang memang tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan hanya bisa berjalan mondar-mandir sambil menahan kegelisahan-ku, dan juga menahan diri agar tidak mendobrak masuk begitu saja pintu yang membuat aku tidak bisa melihat keadaan Sasuke.

"Duduklah Naru, apa kau tidak lelah terus berjalan seperti itu?" Ucap Kyuu-nii sambil mengisyaratkan agar aku duduk pada bangku kosong di sampingnya, sepertinya Kyuu-nii sudah agak kesal melihat aku terus menerus berjalan mondar-mandir.

"Tapi Kyuu-nii, Naru penasaran dengan keadaan Sasuke…," Ucapku keras kepala dan masih tidak mau duduk di kursi yang ditunjukan Kyuu-nii.

"Kau berjalan mondar-mandir pun tidak akan membuat dokter lebih cepat keluar." Aku hanya bisa cemberut mendengar nada sinis Kyuu-nii, dan dengan terpaksa aku duduk di bangku yang ada di samping Kyuu-nii.

Tapi, karena kegelisahan-ku yang memang sudah membuncah, bahkan saat duduk aku terus menerus mengetuk-ngetukan kakiku ke lantai dan tubuhku sama sekali tidak bisa diam. Kyuu-nii sendiri sepertinya sudah lepas tangan dan hanya mendengus pelan tapa menoleh ke arah-ku, yang sepenuhnya tidak aku pedulikan.

"Naru! Apa yang terjadi pada Sasuke?"

Aku langsung menengok ke arah Itachi-nii yang baru saja tiba dan di detik selanjutnya aku sudah memeluknya –dan sekali lagi, aku tidak mempedulikan Kyuu-nii yang mendengus dengan suara yang cukup keras-.

"Ita-nii maafkan aku, ini semua salah-ku…," Ita-nii membelai pelan rambut-ku dan mengelus-elus bahuku. Jujur, ini sedikit membuat diriku lebih tenang, tapi tidak berarti menghilangkan kegelisahan dan kekhawatiran-ku.

"Ceritakan pada Ita-nii, apa yang terjadi?"

Pelan-pelan Ita-nii membawa aku ke arah bangku yang tersedia dan mendudukkan kami berdua di sana tanpa melepaskan pelukan-ku. Dan setelah itu, aku menemukan diriku sendiri menceritakan semuanya pada Ita-nii, tapi suaraku sedikit tercekat saat aku menceritakan bagaimana aku melihat darah merembes keluar dari baju yang Sasuke kenakan.

"Sudahlah, ini bukan salah-mu. Sudah seharusnya Sasuke melakukan itu."

Aku tidak mengatakan apa-apa dan lebih memilih melepaskan pelukan-ku dan menunduk, menghindari tatapan Itachi-nii. Tapi, jujur, sebagian dari diriku bersyukur karena Ita-nii tidak membenci-ku karena telah membuat Sasuke seperti ini.

Selanjutnya kami menunggu kabar dari dokter dalam diam, tidak ada sedikit pun suara selain helaan napas dari aku, Kyuu-nii, Dei-nii, dan Ita-nii.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan pemeriksaannya. Dan tanpa menunggu lagi aku langsung menghampiri dokter tersebut yang kemudian disusul oleh Ita-nii.

"Bagaimana keadaan Sasuke? Dia baik-baik saja, kan dokter?"

"Kalian tenang saja, dia hanya terlalu banyak bergerak, sehingga jahitannya yang memang belum kering itu terbuka lagi, tapi sekarang kami sudah membereskan itu. Sekarang Sasuke sedang tertidur karena obat bius yang kami berikan."

Aku mengernyit bingung mendengar ucapan dokter tersebut, Jahitannya terbuka lagi? Sasuke melakukan operasi sebelumnya? Kapan? Dan, untuk apa? Aku menatap semua orang, dan aku sedikit terkejut saat melihat mereka sama sekali tidak bingung dan menanggapinya dengan tenang, terutama Ita-nii. Hal apa yang telah mereka ketahui tapi aku tidak?

Aku menarik lengan Ita-nii dan menatap tajam ke arahnya, meminta penjelasan.

"Apa maksudnya jahitan? Apa yang kalian ketahui?" Aku melihat raut wajah Ita-nii berubah menjadi sedikit cemas, seakan dia melupakan suatu hal yang penting sebelum akhirnya dia menghela napas pelan dan kemudian menatap-ku dengan mimik serius.

"Kita bicarakan di tempat lain."

Aku hanya mengangguk dan langsung mengikuti Ita-nii setelah berpamitan pada Kyuu-nii dan Dei-nii yang hanya di balas dengan anggukan.

.

.

.

.

.

Aku terisak sambil memegang lengan Sasuke yang masih tidak sadarkan diri, Kyuu-nii, Dei-nii, dan Ita-nii sudah cukup lama pergi dari rumah sakit. Dan sejak saat itu, air mata terus mengalir di wajah-ku. Betapa bodohnya aku yang masih saja ragu dengan perasaan Sasuke! Betapa bodohnya aku yang tidak pernah berpikir ke arah sana! Betapa bodoh dan tidak bergunanya aku!

Isakan-ku sedikit mereda saat merasakan seseorang membelai halus rambut-ku, aku mengangkat wajah-ku dan tepat saat melihat Sasuke yang sudah sadar, air mata mulai mengalir dengan deras lagi, sekuat tenaga, aku menahan agar tidak ada isakan yang lolos dari bibir-ku.

Aku langsung bergerak membantu Sasuke untuk mengambil posisi duduk masih dengan air mata yang mengalir di wajah-ku. Sasuke menangkup kedua belah pipi-ku dengan telapak tangannya dan mengusap air mataku. Tapi percuma, karena hanya dalam beberapa detik wajah-ku sudah kembali basah oleh air mata.

"Jangan menangis, aku tidak suka melihat orang yang aku cintai menangis." Aku bisa merasakan tangisan-ku sedikit mereda saat Sasuke mengecup pelan kelopak mataku, walaupun masih ada sedikit air mata keluar dari kedua bola mataku.

"Kenapa? Kenapa kau melakukan operasi itu?" Aku mengatakan itu sambil meremas kuat selimut Sasuke, aku membenci diriku sendiri yang sudah membuat Sasuke menjadi seperti ini. Aku hanya diam dan tidak memberontak saat Sasuke merengkuh tubuhku dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk-ku.

"Ssstt, aku bilang jangan menangis, Kau sudah tahu tentang operasi itu? Kau masih bertanya kenapa? Apakah Aniki tidak mengatakannya padamu?" Aku hanya terdiam saat mendengar ucapan Sasuke, aku tahu, tapi bagiku itu tetap bukan alasan yang bisa membuatnya melakukan semua ini.

"Ini karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Aku bisa merasakan jantung-ku berdegup kencang dan rona merah menjalar di wajah-ku saat Sasuke mengatakannya tepat di samping telingaku.

"Tapi bukan berarti kau harus melakukannya! Hal itu sama sekali bukan alasan yang cukup bagus untuk membuatmu melupakan impi-"

Aku reflek membulatkan kedua bola mataku saat Sasuke mengunci gerakan bibir-ku dengan sebuah ciuman, aku memindahkan tanganku yang semula meremas selimut rumah sakit dan meremas baju pasien Sasuke saat Sasuke meremas pelan tengkuk-ku dan memperdalam ciuman kami.

Aku mulai memukul pelan dada bidang Sasuke saat aku merasakan napas-ku sudah berada di ujung tanduk, dan untungnya Sasuke menyadarinya dan melepaskan ciuman kami. Begitu ciuman kami terlepas sempurna aku langsung menghirup napas sebanyak-banyaknya.

"Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi! Aku memang tidak diharuskan melakukan itu, tapi aku menginginkannya, aku butuh melakukan hal itu untuk menyelamatkan-mu. Dan bagiku melakukan hal itu bukan berarti melupakan impian-ku. Karena, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku hanya memiliki satu impian, yaitu hidup bersamamu, selamanya."

"Tapi-" dan sekali lagi, ucapan-ku terhenti karena ciumannya. Tapi kali ini dia hanya mengecup lembut bibir-ku, dan kemudian melepasnya lagi. Yang membuat aku menunduk menyembunyikan wajah-ku.

Tapi itu tidak bertahan lama, karena Sasuke mengangkat dagu-ku dan memaksa aku menatap tepat matanya yang menyorotkan sesuatu yang membuat tubuhku bergetar. Tatapan yang sangat hangat, tatapan yang memendam sesuatu yang tidak bisa aku ucapkan.

"Dengar, asal kau tahu. Aku tidak pernah menyesal telah melakukan ini semua. Ah…, Tidak! Ada satu hal yang membuat aku sangat menyesal-"

Aku tahu, aku tahu kalau Sasuke akan menyesal. Tapi entah kenapa, mendengar hal itu dari Sasuke langsung membuat sesuatu mendesak keluar dari bola mataku.

"-Aku menyesal, karena saat ini aku lemah dan tidak bisa melindungi-mu dengan baik. Tapi aku janji, aku akan menjadi lebih kuat dan aku berjanji akan melindungi-mu. Jadi, maafkan aku atas kekurangan-ku yang satu itu."

Aku sudah tidak tahan lagi, aku menyembunyikan wajah-ku di dada bidangnya dan semakin meremas kuat baju yang dia kenakan.

"Kau tidak seharusnya minta maaf, aku yang seharusnya memohon maaf padamu, maafkan aku."

"Kalau begitu, tidak ada yang perlu memaafkan dan dimaafkan. Sama sekali tidak ada." Secara perlahan aku bisa merasakan ketenangan menjalari tubuhku saat Sasuke mengusap-usap pelan punggungku.

"Sekarang kau sudah tahu alasan aku menghilang, kan? Jadi jangan pernah lagi kau berpikir suatu hal yang tidak masuk akal, mengerti?" Aku mengernyit mendengar kata-kata Sasuke dan hal itu membuat aku melepaskan pelukan kami berdua dan menatap Sasuke bingung.

"Apa maksudmu dengan 'sesuatu yang tidak masuk akal'?"

"Jangan pernah berpikir kalau aku akan kehilangan rasa cintaku padamu. Karena sampai kapan pun itu adalah suatu yang tidak mungkin dan tidak masuk akal." Dan tepat ketika Sasuke selesai berbicara, tatapan bingung-ku berganti dengan tatapan kaget.

"Ba-bagaimana…?" Sasuke tersenyum melihat-ku. Cih! Dia sepertinya senang melihat aku kaget seperti ini.

"Siapa lagi?"

'Sakura! Kau menyebalkan!'

.

.

.

# # #

.

.

.

#Haruno Sakura POV

Aku hanya bisa duduk dengan gugup dan salah tingkah. Ayo lah, walaupun aku memang seorang gadis yang tomboi dan cukup mengerti bela diri, tapi menghadapi Naruto yang sedang menatap tajam ke arah-ku adalah suatu permasalahan yang berbeda. Sungguh, rasanya aku ingin tenggelam ke dasar bumi saat ini juga.

"Jelaskan padaku, Sakura! Kenapa kau mengatakannya pada Sasuke? Apa kau tidak tahu seberapa malunya aku?"

Ugh, jika Naru-chan sudah memanggil aku dengan cara seperti itu, itu artinya Naruto memang benar-benar kesal padaku, dan itu bukan sesuatu yang baik.

"Uhm…, jika kau terus menatap-ku seperti itu, aku tidak mungkin bisa menjelaskannya…,"

Aku melihat Naruto memejamkan mata dan menghela napas. Dan aku reflek ikut menghela napas tenang saat tatapan Naruto sedikit melunak. Sekali lagi menarik napas dan…,

"Ayo lah Naru, aku rasa itu memang yang terbaik. Sudah berapa lama kalian melakukan itu? Terus tarik ulur waktu."

Bukannya bermaksud menggurui, tapi mereka memang terus membuang waktu. Jika memang mereka saling mencintai kenapa harus ragu? Aku yakin, Kyuubi-nii dan Deidara-nii juga akan menyetujui hubungan mereka jika melihat ketulusan Sasuke

"Tapi tetap saja kau tidak seharusnya mengatakan itu pada Sasuke!"

"Iya, iya. Maafkan aku. Dari pada membahas itu, bagaimana? Apa kau sudah memberi jawaban pada Sasuke?"

Aku melihat Naruto terdiam dan membuang muka. Sudah ku duga, dia pasti belum mengatakan jawabannya dan kembali membuang-buang waktu.

"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Naru. Mau sampai kapan hubungan antara kau dan Sasuke terus berjalan tanpa status?"

"…"

"Kau harus cepat memberi kejelasan sebelum kau benar-benar kehilangan Sasuke. Mungkin dia bilang akan terus menunggu-mu atau apa, tapi kau harus ingat Sasuke tetap laki-laki normal!"

Well, setelah semua yang terjadi, aku memang percaya kalau sama sekali tidak ada kemungkinan jika Sasuke akan berpaling pada wanita lain. Tapi, jika aku mengatakan yang sebenarnya da kemungkinan Naruto tidak akan pernah memberi jawabannya dan membuat Sasuke terus menunggu.

.

.

.

# # #

.

.

.

#Namikaze Naruto POV

Aku terus menerus memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Sakura. Yang dia katakan memang benar, aku tidak bisa terus menerus mengulur waktu seperti ini, aku harus memberi kepastian untuk Sasuke secepatnya. Tapi, bagaimana? Sudah seharian sejak aku berbicara dengan Sakura, dan sampai sekarang aku sama sekali tidak mendapat bagaimana caranya aku memberikan kepastian pada Sasuke.

'Tok Tok Tok'

"Naru, Dei-nii masuk ke kamarmu, ya?"

Ah, aku pikir Dei-nii bisa membantu-ku menyelesaikan masalah ini.

"Tentu, Nii-chan."

Aku tersenyum senang melihat Dei-nii memasuki kamar-ku, dan dengan segera aku menepuk sisi ranjang di samping-ku, meminta Dei-nii duduk di sana. Dan tanpa perlu waktu lama Dei-nii langsung duduk di tempat yang aku tunjukan dan merapihkan rambut-ku yang sudah aku acak-acak karena frustasi sejak tadi.

"Kau berdiam di kamar begitu lama, dan sekarang rambutmu acak-acakan seperti ini. Apa yang mengganggu pikiranmu?"

"Nii-chan, kau yang terbaik! Aku sedang bingung."

"Karena?" Dei-nii berhenti merapihkan rambut-ku dan menatap serius ke arah-ku.

"Aku…, aku memutuskan untuk menerima Sasuke." Aku merunduk, tidak berani menatap langsung ke arah Dei-nii. Tapi, Dei-nii membuat-ku terkejut dengan meraih dagu-ku dan membuat aku menatap langsung ke arahnya.

"Kau sudah cukup dewasa untuk memilih keputusanmu sendiri. Nii-chan akan selalu mendukungmu." Senyum langsung terkembang di wajah-ku mendengar ucapan Dei-nii. Tapi senyum itu langsung hilang dari wajah-ku begitu aku mengingat satu hal yang menjadi rintangan-ku untuk menerima Sasuke.

"Tapi aku punya satu masalah, aku tidak tahu bagaimana caranya aku mengatakan jawabanku ke Sasuke." Aku menatap berharap pada Dei-nii, berharap dia punya penyelesaian untuk masalah-ku yang satu ini.

"Dengarkan Nii-chan. Temui dia, Jangan terlalu banyak berpikir cukup ungkapkan saja apa yang kau rasakan saat bersamanya kau tidak perlu memikirkan bagaimana mengungkapkannya dengan baik, cukup katakan apa yang kau rasakan dan biarkan kata-kata keluar begitu saja dari dalam hatimu. Sasuke akan mengerti."

"Eum, baiklah, akan aku coba." Aku menjawab dengan tidak yakin. Aku tidak yakin aku bisa melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Dei-nii.

"Tidak ada yang kau perlukan dari nii-chan lagi, kan? Nii-chan keluar kalau begitu…,"

"Ne, terima kasih banyak sarannya, Nii-chan yang terbaik."

Dei-nii tidak mengatakan apa-apa dia hanya tersenyum dan mengacak rambut-ku lagi –aku bingung, untuk apa dia merapihkan rambut-ku kalau pada akhirnya dia membuat rambut-ku kembali berantakan- sebelum akhirnya dia keluar dari kamar-ku.

.

.

.

Sementara itu Tepat setelah Deidara menutup pintu kamar Naruto Deidara langsung melempar seringaian pada Kyuubi. Ya, Kyuubi mendengar semua pembicaraan Deidara dan Naruto dan kini terlihat wajah Kyuubi yang tertekuk sempurna di samping pintu kamar Naruto.

"Sudahlah, Naru sudah dewasa. Sudah seharusnya kau membiarkan dia memiliki kekasih." Dan ucapan dari Deidara tersebut hanya dibalas dengan dengusan tidak peduli dari Kyuubi.

.

.

.

#Namikaze Naruto POV

Aku sudah menghubungi Sasuke untuk dapat datang menemuiku di sebuah café di dekat rumahku, dan aku sangat bersyukur saat Sasuke langsung menyetujui permintaanku begitu saja tanpa banyak pertanyaan. Aku memang mengatakan pada Sasuke untuk datang jam tiga sore ini, tapi aku sudah datang sejak setengah jam sebelumnya. Walau bagaimana pun aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Aku masih dalam keadaan gugup dan mempertimbangkan untuk membatalkan janji-ku pada Sasuke saat aku melihat dia memasuki pintu café membuat aku secara reflek melihat ke arah jam tangan yang sedang aku gunakan, masih sekitar dua puluh menit lagi sebelum jam tiga tepat.

"Hai, Sasuke…," Aku langsung menyapanya begitu dia sudah berada di hadapanku dan duduk begitu saja di kursi di hadapanku.

"Kau juga datang lebih awal rupanya." Aku hanya tersenyum –aku rasa senyum-ku agak kaku- untuk menjawab pertanyannya.

Sudah sepuluh menit sejak Sasuke datang, tapi aku hanya diam sambil meremas jari tanganku di bawah meja tanpa berani membuka mulut atau pun menatap Sasuke sedikit pun. Aku merasa otak-ku kosong dan aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Sasuke, rasanya sekarang aku menjadi orang bodoh dalam artian sebenarnya.

"Kau terlihat tegang, Naru." Aku bisa merasakan jantung-ku berdegup kencang saat merasakan tangan Sasuke di dagu-ku dan membuat aku menatap langsung wajahnya yang kini sangat dekat dengan wajah-ku. Dan saat Sasuke tersenyum aku bisa melihat dengan jelas di matanya pantulan wajah-ku yang memerah.

Aku menarik napas dan meraih tangan Sasuke dan menjauhkan wajah-ku dari wajahnya. Mengingat kembali apa yang dikatakan Dei-nii, 'Jangan terlalu banyak berpikir, ungkapkan apa yang aku rasakan.'

"Di saat seperti ini, saat aku sedang bersamamu. Entah kenapa rasanya jantung-ku ingin meledak." Wajah Sasuke terlihat begitu terkejut saat mendengar ucapan-ku.

"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Tapi, saat aku berbicara dengan Sakura dan dia mengatakan kemungkinan kau yang akan meninggalkanku dan menemukan gadis lain membuat aku marah dan sedih di saat yang sama. Aku tahu aku tidak seharusnya merasakannya, tapi aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau kau tertarik pada gadis lain."

Sasuke sudah membuka mulutnya saat aku menggeleng, memintanya untuk diam dan membiarkan aku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan.

"Aku tahu ini sudah sangat terlambat untuk berkata aku juga mencintaimu. Aku tidak tahu apa kau masih memiliki perasaan yang sama padaku tap-"

"Diam."

Aku tidak tahu sejak kapan, tapi saat ini Sasuke sudah berdiri di samping-ku dan kini dia sedang membekap mulutku dengan sebelah tangannya, dia membungkuk dan menempelkan dahinya pada dahi-ku . Wajah Sasuke sedatar biasanya tapi saat aku melihat matanya aku bisa melihat kebahagiaan yang sangat membuncah di sana dan kenyataan itu membuat aku tiba-tiba merasakan banyak kupu-kupu di dalam perutku tanpa bisa aku jelaskan bagaimana.

"Diam, jangan bicara lagi. Aku sudah mengerti –sangat mengerti. Dan asal kau tahu sekarang belum terlambat dan tidak pernah ada kata terlambat bagimu untuk mengatakannya. Dan ku mohon, jangan meragukan perasaan-ku, aku tidak tahu apa yang Sakura atau siapa pun itu katakan padamu. Tapi aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun."

Satu detik setelah dia mengatakan hal itu aku sudah berada dalam pelukannya, membuat aku berdiri dan tanpa pikir panjang membalas pelukannya dengan erat, menumpahkan semua yang aku rasakan.

.

.

.

.

.

Setelah kejadian di café itu kami langsung kembali, Sasuke memaksa mengantar-ku pulang walaupun aku sudah melarangnya. Entah kenapa aku merasa ada perasaan buruk tentang Sasuke yang mengantarku pulang.

Dan ternyata perasaanku terbukti, saat kami mencapai rumahku aku bisa melihat Kyuu-nii yang sudah menunggu kedatangan kami dengan wajah penuh amarah –untuk sesaat aku bisa merasakan de javu akan kejadian ini- dan sebelum aku bisa melangkah mendekatinya satu langkah pun, Kyuu-nii sudah memasuki rumah dan membanting pintu rumah. Dan seketika itu juga aku bisa merasakan kesedihan yang memenuhi tubuhku.

Aku harus berdebat cukup panjang dengan Sasuke sebelum bisa membuat dia pergi dari rumahku tanpa menemui Kyuu-nii hari itu juga.

Setelah aku yakin Sasuke sudah pergi, aku langsung berjalan memasuki rumahku dan tidak dapat menemui Kyuu-nii di mana pun, aku yakin saat ini dia sedang berada di kamarnya. Alih-alih aku menemukan Kyuu-nii aku justru dihampiri oleh Dei-nii yang mengajak aku pergi ke halaman belakang rumah dan mengajak aku duduk di gazebo rumah kami.

"Apa kau tahu, Kyuubi marah besar padamu?" Aku mengangguk pelan tanpa menatap ke arah Dei-nii.

"Aku pikir Kyuu-nii tidak hanya marah padaku, tapi murka."

Dei-nii tidak membalas ucapan-ku, tapi aku sadar saat ini Dei-nii sedang menatap ke arah-ku, dan hal ini membuat aku merasa bersalah. Apa kini Dei-nii juga marah padaku? Apa Dei-nii juga tidak setuju dengan hubunganku dengan Sasuke?

"Nii-chan sama sekali tidak marah padamu, kau tidak perlu khawatir. Tapi aku tetap tidak bisa menolongmu untuk menghadapi Kyuubi, kau harus berbicara langsung padanya." Aku langsung mengangkat kepala-ku da menatap Dei-nii yang sedang tersenyum ke arah-ku. Sungguh, aku ingin memeluknya, dan aku memang memeluknya saat itu juga.

"Terima kasih Nii-chan." Aku bisa merasakan Dei-nii balas memeluk-ku, dan pelukannya membuat-ku tenang.

"Kau tahu kenapa Kyuubi marah padamu?"

"Aku tahu, karena hubungan-ku dengan Sasuke, dan aku pikir sekarang Kyuu-nii tidak hanya marah padaku, aku pikir sekarang dia membenci-ku."

Walaupun aku sendiri yang mengucapkannya tapi itu sangat menohok hati-ku, dan dalam sekejap air mata berkumpul di mataku dan mengalir keluar, membashi baju yang dikenakan oleh Dei-nii.

"Hei jangan menangis, kau mungkin benar jika Kyuubi saat ini marah karena hubunganmu dengan Sasuke, tapi pernyataan-mu jika Kyuubi membencimu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah Nii-chan dengar. Kau tahu seberapa cintanya kami padamu, kan? Kyuubi saat ini memang tidak menyukai Sasuke, tapi tidak dengan-mu, kau tetap adiknya tersayang."

Perlahan air mataku berhenti, aku tahu ucapan Dei-nii benar. Tapi kenyataan Kyuu-nii tidak menyetujui hubunganku dengan Sasuke tetap membuat hatiku sakit.

"Hei, Naru-chan. Apa kau tahu alasan Kyuu-nii tidak menyetujui hubunganmu dengan Sasuke –ah, tidak. Tepatnya dengan semua orang?" Aku mengernyitkan alisku, berfikir.

"Karena Kyuu-nii tidak mempercayai mereka?" Ucapku sambil menatap Dei-nii, dan aku bisa melihat senyum mengembang di wajahnya.

"Untuk orang selain Sasuke itu memang salah satu alasannya, tapi asal kau tahu, sekarang dia sudah percaya dengan Sasuke-"

"Lalu, kenapa dia marah dan tidak menyetujui hubunganku dengan Sasuke?"

"Karena dia tidak ingin kehilanganmu. Selama ini Kyuubi selalu berpikir kau akan melupakan dia jika kau memiliki kekasih."

"ITU TIDAK MUNGKIN! –maksudku, Kyuu-nii adalah kakak-ku, dan apa pun yang terjadi itu tidak akan berubah. Aku tidak mungkin melupakan kakak-ku!" Aku bisa merasakan Dei-nii mengusap rambutku, dan senyuman itu tetap ada di wajahnya. Saat ini aku gelisah, bagaimana mungkin Kyuu-nii berpikir seperti itu?

"Nii-chan dan Kyuubi tahu itu, tapi jujur bahkan untuk Dei-nii rasa takut itu tetap ada, tapi Dei-nii percaya kau takkan melupakan Dei-nii, tapi jika suatu saat nanti kau ternyata melupakan Dei-nii, maka akan terjadi 'sesuatu' pada penyebabnya."

Aku cemberut mendengar ucapan Dei-nii, itu berlebihan. Mereka adalah kakak tersayang-ku, dan aku yakin Sasuke tidak akan berani membuat aku melupakan mereka –mengingat betapa menyeramkannya mereka-, malah menurutku lebih mungkin yang terjadi adalah kebalikannya, mereka yang akan berusaha membuat aku mengacuhkan Sasuke.

"Jangan cemberut, lebih baik sekarang Naru-chan mengatakan hak tadi pada Kyuubi, dan buat dia mengerti."

Ah, Ucapan Dei-nii benar! Tanpa mengucapkan apa pun lagi aku langsung berlari menuju kamar Kyuu-nii.

.

.

.

Saat ini aku sudah berdua saja dengan Kyuu -nii di dalam kamarnya, dan jujur sekarang aku sedikit gugup, Kyuu-nii sama sekali tidak ingin menatapku dan membiarkan aku duduk di sofa kamarnya sedangkan dia hanya tidur-tiduran di atas kasur dengan sebuah buku-yang-tidak aku mengerti di tangannya.

"Nii-chan." Tak ada sahutan, dan itu membuat hatiku sakit. Aku tidak pernah diacuhkan oleh Kyuu-nii selama ini, ini adalah pertama kalinya.

"Nii-chan, kau tahu? Aku sangat menyayangimu. Aku tahu kau tidak setuju aku berhubungan dengan Sasuke, tapi aku mencintainya." Aku bisa melihat genggaman Kyuu-nii pada bajunya semakin kuat, emosinya tersulut.

"Tapi bukan berarti aku berhenti menyayangimu. Kau adalah kakak-ku, tidak peduli siapa orang yang aku cintai, Nii-chan tetap kakak-ku yang paling hebat, yang paling bisa Naru andalkan, kakak yang sangat Naru sayangi. Tidak ada yang bisa merubah itu. Apa pun yang terjadi, Naru tidak tahu apa yang Nii-chan rasakan, aku adalah anak bodoh, aku tidak bisa mengerti hal itu, tapi Naru tahu kalau apa pun yang terjadi tidak akan merubah perasaan Naru pada Nii-chan-" Aku terdiam saat sepasang lengan yang hangat merengkuhku kedalam sebuah pelukan. Pelukan yang sangat aku sukai.

"Berhentilah bicara, kau membuat Nii-chan menjadi kakak yang jahat. Nii-chan mengerti maksudmu, jadi berhentilah." Aku tersenyum bahagia, sungguh saat ini aku sangat bahagia.

"Terima kasih, Nii-chan."

"Bodoh, kau tidak perlu berterima kasih."

.

.

.

#Namikaze Kyuubi POV

Aku menatap datar pada anak ayam yang saat ini sedang berada di dapur bersama Naruto, anak ayam itu terus menerus datang kemari sejak pengakuanku atas dia sebagai kekasih Naruto.

Jujur, kedatangannya membuat aku kesal dan bahagia di saat yang sama, aku tidak perlu menjelaskan alasan kesalku kan? Dan aku bahagia, karena setiap dia datang aku bisa melihat Naruto tersenyum lebih lebar dari biasanya, dan setidaknya itu membuat aku lega, dan mau tidak mau percaya, Naruto akan bahagia.

"Kau bukan yang menceritakan semuanya pada Naruto." Ucap-ku sambil menengok ke arah Deidara yang saat ini sedang duduk di sampingku. Aku bisa melihat dia menyeringai, dan sungguh aku sudah tahu jawabannya tanpa dia perlu bicara.

"Cih," aku kesal, dan aku lebih kesal lagi karena sadar apa yang dilakukan Deidara adalah hal yang tepat. Dan kekesalanku langsung surut saat aku teringat sesuatu.

"Hei, Dei. Kapan kau akan mulai mendekati Sakura?" Aku tersenyum senang saat melihat tubuh Deidara yang menegang, dan iblis di dalam kepalaku berbisik 'I got you'. Aku bisa melihat dia menatap sinis ke arahku, sebelum aku bisa melihat dia kembali menyeringai, dan membuat aku mengernyit bingung.

"Setelah kau resmi berpacaran dengan Uchiha Itachi."

'SHIT!' ternyata dia lebih iblis dari yang aku duga.

.

.

.

End!

a/n: yang bisa aku akatkan hanyalah, AKHIRNYA! Terserah ada yang review atau gak, tapi yang jelas vi seneng bgt nih ff dah tamat!

Terima kasih buat semua yang baca dan yang review di chap-chap sebelumnya, kalau bukan karena banyak review yang tetep datang padahal ff ini dah berjamur, ff ini gak bakal pernah tamat. Kkk~

Dan vi gak yakin sejak kapan (vi pikir sejak vi suka bigbang) vi jadi makin sombong.

Menurut vi chap ini chap terbaik dari semua chap di ff ini, vi suka banget bagian Naruto sama Sasuke di café, yang waktu sasuke baru sadar juga bagus. Kalau readers? Menurut kalian mana yang bagus? Atau gak ada yang bagus? wkwkwk