TITLE : dimensions Araka

DISCLAIMER : Naruto milik Masashi kishimoto

AUTHOR : ^JeWon^

PAIRING : NaruHina , OC

GENRE : Fantasy , Romance

RATED : T

WARNING : OOC , TYPO , EYD , DLL

SUMMARY : (New Summary) Naruto di ramalkan menjadi pahlawan Dimensi 'asing'. Pertualangan seorang shinobi konoha itupun dimulai demi mengemban harapan warga dimensi itu. Bagaimana kisahnya? Apakah ramalan itu benar atau hanya bualan belaka/? Mind to RnR/?

Bad Summary^o^

Chapter 10

Di sebuah rumah tua, Naruto dan yang lain beristirahat di sana. Sakura berusaha mengobati paman yang di tolong Naruto dan Hinata. Sedangkan yang lain hanya butuh beristirahat karena mereka hanya menderita luka kecil.

"Naruto, sebaiknya kau juga di periksa.." Shikamaru duduk di samping Naruto

Laki2 bertambut pirang ini menoleh kearah shikamaru tanpa berniat menjawab.

"Monster." Gumam Naruto.

Shikamaru menoleh kearah Naruto tapi sang empu nya langsung beranjak dan pergi meninggalkan rumah tua itu.

"Ada apa dengannya?"Kiba ikut duduk di samping Shikamaru

"Hoam..entahlah.."Shikamaru ikut beranjak ke rumah untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.

Kiba hanya mengindikkan bahunya dan ikut masuk kerumah tua.

Kembali ke Naruto~

Laki-laki pirang itu berjalan menyusuri tanah yang sudah gersang. Tumbuhan-tumbuhan hijau di sekitar nya banyak yang layu akibat terbakar. Puing-puing rumah juga banyak yang berserakan dan tak sedikt dia menemukan darah kering yang tertempel di jalan ataupun bangunan-bangunan

"Dimensi yang mengerikan" gumam Naruto

"Oy naruto"

Tiba-tiba tempat pijakan Naruto berubah menjadi di genangan air dengan seekor rubah berekor sembilan di depan nya.

"Ada apa kurama?" Naruto tak memandang kurama, wajah yang sering ceria itu tertutup dengan poni pirang nya.

Kurama menatap diam 'patner' nya ini. Wajah konyol dan ceria yang sering menghiasi wajahnya tergantikan dengan wajah murung dan depresi.

"Kau masih memikirkan kekuatan itu..."

Naruto agak terkejut mendengar perkataan kurama buktinya dia langsung mendongak ke arah Kurama

"Ah tidak juga"

Kurama menghela napas pasrah. Menurutnya Naruto sudah terkena penyakit depresi stadium akhir.

"Menyedihkan.."

Naruto dan Kurama menengok ke arah suara berasal. Disana seseorang berdiri dan menyandarkan tubuh nya ketembok, rambut hitam 'agak' panjang nya bergerak. Mata hitam nya memandang remeh Naruto.

"Kau?"Naruto menatap tajam orang itu.

"Ada apa, Naruto? Sepertinya kau sangat terkejut?" Orang itu tersenyum sinis dan berjalan ke arah Kurama dan Naruto.

"Bagaimana kau bisa kesini?" Kurama menatap tajam orang itu.

"Jangan pernah remehkan aku, Kyuubi"

Orang itu memandang Naruto yang melebarkan matanya terlihat sekali dari sorot matanya bahwa dia sangat terkejut.

"Aku tak punya niat jahat pada kalian. Aku hanya ingin datang untuk menyapa kalian. Apa itu salah?"

Kurama menengok ke arah Naruto yang masih bertahan pada posisi semula dan beralih memandang orang itu.

"Oy kakek tua, seharusnya kau sudah mati. Kenapa kau masih disini, hah? Apa jangan-jangan kau mau melanjutkan rencana aneh mu itu?"

Muncul perempatan siku-siku di kening orang itu .

"Oy bocah, seharusnya kau berterima kasih. Sudah bagus aku pinjamkan kau kekuatan untuk melawan burung aneh itu dan sekarang kau memanggilku kakek tua?" Ucap orang itu sengit.

"E-eh? Itu em..ano..er..hei, memang aku pernah meminta bantuan mu, kakek tua" ucap naruto tak kalah sengit.

"Cih..dasar bocah uzumaki tak tau diri.."

"Dasar kakek tua aneh, uchiha madara!"

...

"Bagaimana keadaan hinata, sakura-san?" Ucap Lee

Sakura menyeka peluh di kening nya dan menengok ke arah lee.

"Dia baik-baik saja sekarang. Mungkin sebentar lagi dia akan sadar" ucap sakura tersenyum

"Yokatta.." Ucap lee lega.

Sasuke mengalihkan pandangan nya ke arah paman yang di selamatkan Naruto.

"Bagaimana dengan paman itu, sakura" tanya Sasuke.

Sakura ikut memandang paman itu, gadis berambut pink itu menghela napas sesaat.

"Dia terluka parah tapi syukurlah di baik-baik saja sekarang. Soal kapan dia siuman aku tidak tau" ucap sakura.

"Paman itu hebat juga bisa selamat dari moster-monster sialan itu. Mungkin dia pengendali yang hebat." Ucap kiba.

Tsubaki ikut memandang paman itu, mata hitam nya meneliti tiap lekuk tubuh laki-laki tua itu. Tubuh nya yang di penuhi luka sekarang ditutupi dengan perban.

"Eukh.."

Sakura dan yang lain nya mengalihkan pandangan kepada Hinata, gadis berambut indigo itu akhirnya membuka mata indah nya, dia sedikit mengerjapkan-ngerjap kan mata perak nya membiasakan cahaya masuk.

"Hinata" "hinata-san"

Hinata menolehkan kepalanya ke arah teman-teman nya yang memandang kelegaan pada dirinya. Dia tersenyum manis menandakan bahwa dia baik-baik saja.

Mata perak meneliti sekitar mencari sesosok laki-laki berambut pirang tapi nihil, laki-laki itu tak ada di antara teman-terman nya yang mengubrungi nya.

"Naruto sedang keluar, mungkin sedang mencari angin." Shikamaru yang seolah tahu maksud dari hinata langsung memberitahu.

Hinata mengangguk kecil.

Naruto, kurama dan seorang kakek tua yang sudah kita ketahui bernama Madara memberikan kekuatan nya kepada Naruto yaitu untuk bertahan hidup

Laki-laki tua licik itu berniat memamfaatkan tubuh Naruto untuk mengisi ulang kekuatannya.

"Hei kakek tua, jangan ganggu hidup kami lagi! Sudah cukup peperangan panjang mu membuat kami menderita" teriak Naruto.

"Bukankah peperangan itu ada untung nya juga bagimu. Karena perang itu kau berteman dengan Kyuubi, kau juga bertemu dengan ayahmu dan dapat membawa kembali teman mu itu."

Naruto menggaruk kepalanya.

"Ta-tapi kerugian para aliansi cukup banyak. Kematian, ya kematian."

"Itu kan bukan salahku. Itu adalah rencana Obito dan kabuto."

Kurama sweetdrop melihat pertempuran argumen 2 orang di hadapan nya. Dia menghela napas lelah. Rubah itu menoleh ke arah Madara, dia cukup terkejut bahwa roh laki-laki itu belum di akhirat. Apa mungkin karena dosa nya terlalu banyak sampai-sampai neraka pun enggan menerima roh nya. Sungguh tragis..

"Urusai pak tua! Berhentilah mengganggu kami dan kembali ke alam mu, sekarang!"Bentak Naruto.

"Aku tak akan kemana-mana. Lagipula ini adalah tempat tinggalku sekarang." Madara duduk bersila.

"Na-nani?"

"Sekarang roh ku hampir menyatu denganmu, bocah. Jadi mungkin kita bisa berbagi tubuh nanti." Madara menyeringai.

"Semakin kau menggunakan kekuatan ku maka semakin cepat roh ku bersatu denganmu."

"Ja-jangan bercanda! Bersatu denganmu? Hei, sudah cukup aku berbagi tempat dengan kurama disini, dia bahkan juga sering mengambil alih tubuhku dan sekarang kau juga?"

"Itu benar" jawab Madara santai.

"Kau berniat hidup kembali menggunakan tubuh anak ini?" Tanya Kurama.

"Aku hanya tak puas dengan kekalahan ku pada peperangan waktu itu. Mungkin aku bisa menggunakan tubuh anak ini untuk memusnahkan kembali dunia shinobi. Bukankah aku mendapatkan dua keuntungan, pertama aku bisa menggunakan kekuatan mu sebagai jinchiruki dan yg kedua kekuatan anak ini akan menjadi milikku seutuhnya."

"Kau gila.."

"Aku memang sudah gila." Madara menghilang dari hadapan mereka berdua.

"Arghhhhh...kenapa cobaan ku seperti ini." Naruto menjambak rambutnya.

"Aku akan pergi, jaa na Kurama" Naruto ikut menghilang dari hadapan kurama.

"Tadaima.." Naruto membuka pintu rumah.

"Okaeri.." Hinata berlari dan memeluk Naruto.

"E-eh?"

"Kenapa lama sekali? Aku mengkhawatirkanmu."Hinata memeluk erat Naruto.

"Hinata-chan" Naruto mengelus pelan rambut hinata.

"Baiklah, acara romantisme nya nanti di lanjutkan lagi. Sekarang ayo makan."Sindir kiba

Kedua orang tersebut melepaskan pelukan mereka dan berjalan canggung ke arah teman-teman.

"Jadi kau kemana tadi, Naruto?"

"E-eh? Itu..aku berbicara dengan kurama" Naruto menyuap nasi dengan pelan.

"Waaahhh.. Sudah lama aku tak merasakan makanan rumah" Kiba memakan makanan nya dengan lahap.

"Ittadakimasu" ucap Lee.

Mereka makan dengan lahap, Naruto terlihat melamun, dia menyuap pelan makanan nya, tak berselera.

'Bagaimana jika Madara berhasil mengambil alih tubuhku?' Naruto menoleh ke arah teman-teman nya yang tertawa.

'Aku mungkin dengan cepat akan menghabisi bogos tapi aku juga bisa menyakiti mereka semua.' Naruto meletakkan mangkok nasi nya.

"Naruto-kun" Hinata menggengam tangan Naruto.

"Jangan khawatir, kita pasti menang."Ucap Hinata

Naruto tersenyum ke arah Hinata.

"Arigatou"bisik Naruto.

Sementara itu di tempat kurama.

"Kau yakin ingin mengambil alih tubuh Naruto?" Ucap Kurama pada seseorang yang duduk di hadapan nya.

"Tentu saja" Madara menyeringai.

"Aku harap ada kebaikan di hatimu walau sedikit saja" ucap Kurama bijak.

Madara tertawa dan menatap tajam Kurama dengan dua mata hitam nya.

"Tak ada namanya kebaikan. Yang lemah pasti kalah dan yang kuat pasti menang. Tergantung apakah anak ini akan kuat menahan kesadaran dan emosi nya. Jika dia lengah sedikit saja, sudah pasti aku yang menang"

Kurama mendengus.

'Aku akan membunuhmu jika membuatku harus bersatu dengan roh madara, Naruto' batin Kurama.

Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk beristirahat saja di rumah tua itu sambil menunggu kesadaran dari pak tua yang di selamatkan Naruto.

"Eugh,." Erang seseorang.

Naruto menoleh..

"Pak tua itu sudah sadar." Mereka semua segera mendekat pada pak tua.

"Bagaimana keadaan anda?" Sakura segera memeriksa.

"Dimana aku?"Pak tua itu menoleh ke arah para rookie.

"Anda ada di tempat kami. Beberapa hari yang lalu, anda ditemukan teman kami dalam keadaan terluka."Ucap Hinata.

"ah, aku mengingat nya." Pak tua itu bangun.

"Terima kasih telah menyelamatkan ku."Pak tua itu tersenyum tulus.

"Pak tua, apakah kau warga asli disini?"

"Ya"

"Bagaimana kau bisa selamat? Ya em.. Maksudku.."

"Itu mungkin keberuntungan ku."

Pak tua itu tertunduk. Air mata mengalir deras dari sudut matanya.

"Monster-monster sialan.. Mereka membunuh keluargaku kecilku disaat kami sudah bahagia. Mereka..mereka.."

Hinata mendekat. Dia mengelus punggung pak tua seolah meminta pak tua itu berbagi cerita pada mereka.

"Saat itu..."

Tbc